<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405</id><updated>2012-02-01T07:47:41.907-08:00</updated><category term='Matius'/><category term='Titus'/><title type='text'>Journey to His words</title><subtitle type='html'>Blog ini semula adalah blog meditasi pribadi, sejak Paskah 2008 saya buka untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi. Sementara ini sesuai dengan namanya "Perjalanan menelusuri kata-kataNya" lebih mengarah ke pendalaman iman lewat meditasi kitab suci, tapi dengan masuknya kontributor lain terbuka kemungkinan bentuk posting yang berbeda.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>170</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5862663048189025530</id><published>2012-01-30T14:26:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T14:27:06.820-08:00</updated><title type='text'>Kuasa Kasih</title><content type='html'>Kalau hari Jumat merupakan hari Meditasi Kristiani, maka hari Senin merupakan hari Lectio Divina bagi saya. Walaupun masih gamang, tapi sedikit demi sedikit saya mulai mampu mengusir kegelisahan karena perbedaan pola antara dua metode doa ini. Saya masih merasa kehilangan keakraban Lectio Divina yang lama, tetapi saya juga sudah belajar untuk berkawan dengan keheningan pikiran. Saya percaya Tuhan akan membantu saya dalam menemukanNya melalui jeruji-jeruji doa yang kugunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan hari Jumat kemarin dan bacaan yang kami gunakan hari Senin ini kebetulan sama, diambil dari Injil hari Minggu yakni Markus 1:21-28. Hari Jumat kemarin ayat yang sangat memikat saya adalah ayat 22; "Mereka takjub mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat," Ketika itu saya terutama ingin sekali mengenal wibawa Yesus, bagaimana Ia mengajar, mengapa pengajaranNya berbeda dengan para ahli Taurat. Seperti biasa, bila melakukan Meditasi Kristiani maka kejernihan itu tidak pernah langsung muncul. Seperti sirup yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air dan diaduk-aduk, maka butuh waktu sejenak agar tampak jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat itu saya memperoleh betapa Yesus tidak mempertunjukkan kuasaNya dengan sok kuasa. Hari itu saya sungguh ingin tahu bagaimana resep mengajar untuk menghadapi anak-anak di rumah, dan anak-anak di sekolah. Bagaimana mengajar tanpa sok kuasa, tanpa sok otoriter tapi mereka bisa sungguh-sungguh bisa belajar dengan disiplin pribadi. Kemudian, pada homili hari Minggu di gereja, saya kembali diberikan pencerahan bahwa Yesus bukan sekedar mengajar saja. ia mengajar dengan perbuatan. Hal ini yang membedakanNya dengan para ahli Taurat. Para ahli Taurat mengajarkan isi kitab Taurat tapi tidak melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Yesus mengajarkan tapi melaksanakannya. Hari Senin ini semuanya itu dilengkapi dengan &lt;i&gt;sharing&lt;/i&gt; dari suster pembimbing Lectio Divina yang kami peroleh melalui surat elektronik. Yesus mengajarkan dengan Kuasa Kasih. Yesus mengajarkan cinta kasih dan tidak sekedar mengajarkannya, melainkan melaksanakan ajaran kasihNya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster mangatakan bahwa Yesus menunjukkan kuasa kasih. Ia berusaha membebaskan kita dari kuasa jahat. Kita semua masih terbelenggu dengan pelbagai kuasa dalam hidup sehari-hari misalnya:&lt;br /&gt;menbanggakan diri karena berhasil berkat kepandaian, kecerdasan, popular, disanjung umat, dsb. Intinya, percaya diri yang berlebih-lebihan sehingga tidak menyadari adanya kuasa yang melebihi kuasaku sebagai manusia, yaitu kuasa Tuhan. Kuasa yang Tuhan lakukan adalah kuasa kasih, ingin membagikan bahagia dan damai pada kita yang berbeda dengan konsep duniawi&amp;nbsp; yang lebih mengutamakan materi; kekuasaan, uang, keserakahan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Senin ini hampir semua peserta meditasi Kitab Suci terpanggil untuk aktif. Seorang teman membuka perbincangan kami dengan mengajukan ayat 21 sebagai ayat yang menyentilnya. Sabat mulai Yesus segera masuk ke rumah ibadat dan mengajar. Ia merasa diingatkan untuk tetap setia dalam melakukan meditasi harian. Seringkali menyediakan waktu khusus untuk diam dalam kehadiranNya merupakan hal yang sangat sulit kami sediakan. Kemajuan zaman bahkan seringkali menjadi kuasa jahat yang menggapai. Begitu bangun tidur maka yang dijangkau adalah Blackberry. Ada yang mungkin memeriksa &lt;i&gt;chatting &lt;/i&gt;anaknya, ada yang memeriksa jadwal sehariannya nanti.... Akhirnya pagi sudah menjadi terlalu siang untuk meditasi. Doa singkat atau doa sembari berjalan kembali menjadi jalan keluar. Menyadari godaan dan kuasa-kuasa gelap yang rajin menggoda kami merupakan satu hal penting yang akan membantu di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari percakapan mengenai memeriksa &lt;i&gt;chatting&lt;/i&gt; anak, kami masuk ke dalam pemikiran akan makna berserah pada Allah. Sebenarnya sudah sewajarnya kami memberikan keleluasaan pribadi bagi anak-anak remaja kami. Begitu juga perasaan was-was yang terkadang memenuhi batin karena situasi zaman ini yang jauh begitu berbeda dari situasi di masa kami dahulu. Ketika kami harus tugas semalam suntuk di rumah teman, maka kami hanya akan mengerjakannya di rumah teman itu. Anak zaman ini terkadang tidak lagi sekedar bekerja di rumah teman, tetapi mengungsi ke tempat umum yang menyediakan Wifi. Kekhawatiran ibu-ibu akan pergaulan dan keamanan anak menjadi mencuat. Melalui ayat 27 kami diingatkan bahwa kuasa Yesus lebih besar daripada kuasa kegelapan. Dan bila kita mengingat betapa Yesus mengingatkan kita bahwa dengan iman yang sebesar biji sesawipun kita akan mampu membuat mukjizat seperti diriNya, maka dengan iman kepadaNya kita pasti sanggup mengusir roh jahat itu keluar dari tubuh kita. Roh kecemasan, roh keragu-raguan, roh ketidak-percayaan, roh ketakutan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari meditasi kali ini saya merasa terpanggil untuk membaca kitab Yesaya 31:1-9 yang intinya mengatakan bahwa Tuhanlah penolong yang satu-satunya. Seringkali kita kehilangan kekuasaan duniawi, artinya kita tidak memiliki kekuasaan, tidak memiliki uang atau ketenaran yang cukup untuk mengubah situasi secara duniawi. Tetapi bila kita senantiasa berserah kepadaNya maka kita akan mengerti betapa kuasa Tuhan adalah satu-satunya penolong bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama kami barangkali hanya sederhana, memperbaiki hubungan doa kami denganNya. Bila kami merasa kurang memberi prioritas bagi waktu khusus bersamaNya, maka akan kami usahakan. Bila kami merasa memerlukan banyak percakapan singkat denganNya melalui setiap aktivitas harian kami, maka kami akan selalu mengundangNya hadir. Kemudian kami ingin belajar untuk berserah sepenuhnya kepada kerahimanNya, memasrahkan suami, anak-anak, dan keluarga lainnya kepada Tuhan, karena Ialah satu-satunya penolong kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih atas kasihMu,&lt;br /&gt;atas contoh dan ajaranMu yang penuh kuasa,&lt;br /&gt;yang memampukan kami mengusir kegelapan dari diri kami,&lt;br /&gt;dan memberi cahaya pengharapan bagi kehidupan kekal.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5862663048189025530?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5862663048189025530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2012/01/kuasa-kasih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5862663048189025530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5862663048189025530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2012/01/kuasa-kasih.html' title='Kuasa Kasih'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-7010227283326677147</id><published>2012-01-26T19:55:00.000-08:00</published><updated>2012-01-26T22:16:32.794-08:00</updated><title type='text'>Mamon Modern</title><content type='html'>Hari ini saya tertarik untuk berbagi renungan yang berhubungan dengan Lukas 16:13, "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pergumulan yang terjadi dalam proses perkenalan dengan Meditasi Kristiani, saya belajar lebih mengenal diri sendiri. Kalau selama ini saya menganggap tidak memiliki Mamon karena merasa tidak mengejar materi, kedudukan, maupun nama, ternyata saya masih salah. Ada satu hal yang rupanya menjadi Mamon tanpa saya sadari... Kehausan akan ilmu pengetahuan bisa jadi menjadi Mamon yang bisa menjatuhkan. Tadi pagi tiba-tiba terpikir betapa tidak jauh posisi saya dengan Hawa. Hawa menginginkan buah yang dilarang untuk dimakan karena ia mengira dengan memakannya ia akan mendapatkan pengetahuan, pengertian tentang baik dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika harus meninggalkan semua pikiran dalam proses meditasi hening dengan kalimat mantra Marantaha, maka terjadi kekacauan dalam kehidupanku. Bayangkan saja, bagaimana seorang yang ikut menganut pandangan, "Saya berpikir karena itu saya ada,"  harus melepaskan semua pikiran yang datang silih berganti mengganggu. Pikiran yang sangat aktif tiba-tiba harus berhenti walau hanya dalam waktu yang sangat singkat sebenarnya, tetapi menjadikan waktu begitu terasa berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar disiplin untuk setia dalam perkara kecil. Setia mengadakan waktu untuk diam dan tinggal di hadapanNya tanpa memunculkan "diri" merupakan hal yang terasa berat. Inilah Mamon modern bagi saya. Keinginan untuk mengetahui banyak hal dan mengerti banyak hal. Padahal seperti yang dikatakan oleh St. Agustinus dalam kisahnya mengenai anak kecil yang menimba air laut untuk dipindahkan ke lubang pasir di tepi pantai, otak manusia tidaklah memiliki kemampuan untuk menyerap kebesaranNya. Belajar untuk menerima kehidupan apa adanya, merupakan suatu karunia yang diajarkanNya melalui keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa,&lt;br /&gt;Biarkan saya setia kepadaMu saja,&lt;br /&gt;dan senantiasa sadar memandang wajahMu semata,&lt;br /&gt;membiarkan tanganMu menuntunku,&lt;br /&gt;dan langkahMu membawaku ke jalanMu.&lt;br /&gt;Membuka hatiku untuk merasakan kasihMu,&lt;br /&gt;dan dengan suka rela membagikan kasihMu kepada sesama.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-7010227283326677147?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/7010227283326677147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2012/01/mamon-modern.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7010227283326677147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7010227283326677147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2012/01/mamon-modern.html' title='Mamon Modern'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-7886256212832103421</id><published>2011-12-27T01:18:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T06:14:18.317-08:00</updated><title type='text'>Belajar dari Perjalan Seorang Hamba</title><content type='html'>Saya baru selesai membaca buku "Perjalanan Seorang Hamba", kisah perjalanan hidup Romo FX Pranataseputra, Pr. Baru pertama membuka buku ini saya sudah merasa akrab dengan isinya. Sungguh berasa bertemu dengan Romo Frans Pranata sendiri. "Lebih baik salah membaptis daripada salah tidak membaptis," ungkapan ini secara langsung menjawab bagaimana Romo membaptis suamiku dulu. Waktu itu beliau mengingatkan bahwa tanggung jawab baptisan berada di tangan orang yang dibaptis. Menurutnya Romo hanya membantu memperdekat dengan Tuhan sesuai dengan keinginan pacarku. Saya sendiri masih ingat ikut berkata tidak mau terikat karena benar-benar menginginkan bahwa baptisan itu berasal dari keinginan hati pacarku, bukan karena hubungan kami. Romo Frans waktu itu mengatakan bahwa setiap orang memiliki jalan tersendiri untuk bertemu dengan Tuhan. Bagaimana Tuhan memanggil adalah jalan setiap orang. Saya sangat percaya pada perkataan beliau mengingat saya mengetahui betapa berliku jalan yang dilaluinya hingga ke pentahbisan imamatnya. Karena itu membaca kutipan perkataan Romo membuat saya sungguh kembali mengingat beliau, "Lebih baik salah membaptis daripada salah tidak membaptis; lebih baik kalah uang daripada kalah orang; lebih baik salah memberi daripada salah tidak memberi; lebih baik mengalah di hadapan manusia daripada dipersalahkan di hadapan Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Antonius Didit Soepartono, Pr. mengingatkan dalam Apa Kata Mereka, bahwa spiritualitas HAMBA adalah hangat, andal, misioner, bahagia, abdi. Buku ini mengingatkan akan sosok Romo Frans Pranata yang senantiasa tersenyum. Dalam Sekapur Sirih, Mgr. Ignatius Suharyo; Uskup Keuskupan Agung Jakarta; mengatakan bahwa rupanya rencana Allah bagi Rama Pran memang seringkali berbeda dibandingkan rencana Rama Pran sendiri. Beliau mencontohkan Bunda Maria yang sepenuhnya membiarkan Allah menentukan jalan hidupnya, Kemerdekaannya seutuhnya sama dengan ketaatannya. Dicontohkan juga nabi Yeremia yang dituntun, bahkan dipaksa Tuhan untuk berjalan sesuai dengan jalan yang diinginkanNya. Saya sendiri secara langsung teringat pada kisah nabi Yunus yang melarikan diri dari tugasnya di kota Niniwe, dan bagaimana Tuhan tetap melaksanakan kehendakNya. Romo Frans (saya lebih terbiasa memanggil beliau Romo Frans daripada Romo Pran) tidak melarikan diri, tetapi seringkali dia dipaksa untuk pergi dan meninggalkan tugas yang sedang dijalankannya. Tuhan memberi jalan untuk melihat dari jauh, dan bila sekarang dibagikan melalui buku bisa jadi menjadi inspirasi bagi kita untuk mengenali bentuk ketaatan yang diminta Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya buku ini disusun oleh Romo Frans untuk peringatan ulang tahunnya yang ke 70 di bulan November 2011. Pada awal bulan Agustus flash disk berisi bahan buku ini diberikan kepada Mgr. Ignatius Suharyo untuk dibuatkan catatan pengantar. Tidak disangka akhir bulan Agustus itu beliau dipanggil kembali ke rumah Bapa. Jalan Tuhan seringkali tidak sama dengan rencana manusia, tetapi ketaatan yang merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai imamatnya sangat jelas tertera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal menarik yang saya catat dari buku ini. Pertama, pelayanan beliau yang tulus, dan dengan suka hati menyetir sendiri datang untuk melayani ternyata dibagikan pada banyak orang. Kemudian kebingungan saya mengenai kehadiran beliau di Facebook dan BBM terjawab juga dengan adanya catatan Romo mengenai sosial media (juga tentang kesenangan masa kecilnya mengutak-utik benda elektronik). Dunia maya dipandangnya sebagai tempat saling mendukung dan saling menghargai. Beliau tetap lebih menghargai kedatangan atau perjumpaan yang langsung daripada perjumpaan di dunia maya. Itu suatu hal yang sukar kupenuhi. Tetapi bagaimanapun, Tuhan telah memberikan kesan yang mendalam bagiku karena secara kebetulan pada tanggal 20 Agustus 2011 karena kesalahan teknis semua teman di BB saya mendapat pesan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;test contact&lt;/span&gt;. Dan Romo Frans menjawab "test juga," sehingga saya pun minta maf mengganggu malam-malam, tapi kemudian mengirimkan tautan blog ini. Belum ada kabar atau tanggapan mengenai tulisan saya, ketika saya mendengar bahwa Romo sudah berpulang tanggal 21 Agustus 2011 petang. Kaget...tentu saja. Tuhan mengajak saya mengingat Romo melalui cara yang tidak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah anugerah Tuhan. Mari kita saling membantu, saling mengisi, dan saling melengkapi. Mencari dan memberi arti bagi kehidupan ini. Mengembangkan talenta yang diberikanNya dan menghargai setiap detik yang diberikanNya. Mari menghargai setiap perjumpaan yang kita lewati dan bersikap taat dengan spiritualitas hangat, andal, misioner, bahagia, abdi...HAMBA yang senantiasa menghargai berapapun talenta yang diberikanNya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-7886256212832103421?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/7886256212832103421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/12/belajar-dari-perjalan-seorang-hamba.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7886256212832103421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7886256212832103421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/12/belajar-dari-perjalan-seorang-hamba.html' title='Belajar dari Perjalan Seorang Hamba'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-9147625395602690134</id><published>2011-12-04T16:52:00.000-08:00</published><updated>2011-12-04T17:46:51.839-08:00</updated><title type='text'>Tuhan Senantiasa Menyertai Kita</title><content type='html'>Bacaan harian hari ini adalah Lukas 5:17-26, tetapi judul tulisan ini kuambil dari renungan harian yang ditulis Deddy Kusbiyanto untuk Cafe Rohani edisi Desember dimana dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sering kita lupa bahwa Tuhan selalu campur tangan dalam setiap peristiwa hidup kita sehari-hari. Tuhan senantiasa menyertai kita (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bdk&lt;/span&gt;. Mat 28:20). Itu berarti, dalam segala keadaan hidup kita: suka, duka, untung, malang, sehat maupun sakit, Ia selalu menyertai kita. Kita merasa bahwa Tuhan tidak ada, manakala hati tertutup bagi kehadiranNya.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Renungan di atas sangat berharga karena baru beberapa hari yang lalu saya diberi kesempatan untuk merasakan betapa Ia ikut bekerja dalam pilihan-pilihan yang kubuat tanpa kusadari. Masa depan memang tidak terbaca oleh kita manusia, dan campur tanganNya yang tidak kita sadari terkadang memang membawa kita pada jalan yang kita pilih sekarang untuk kebaikan kita. Terkadang dalam jalan pilihan ini juga ada onak dan duri, tetapi justru kemampuan untuk melaluinya yang membuat kita lebih tangguh. Bila kita tidak melepaskan pandangan padaNya maka onak dan duri itu justru akan mendekatkan kita lebih dekat kepadaNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan Injil hari ini (Lukas 5:17-26) mengenai orang lumpuh yang disembuhkan, membawa saya pada refleksi diri yang berbeda-beda. Di satu sisi saya bisa merasakan menjadi orang lumpuh yang sangat rindu bertemu dengan Yesus tapi tidak memiliki kemampuan untuk mendekatiNya. Beruntung bahwa ada teman-teman yang begitu setia dan begitu kreatif yang berhasil membawanya kepada Yesus. Orang-orang dalam kehidupan kita terkadang adalah orang-orang yang membawa kita lebih dekat kepada Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi berbeda, saya juga bisa merasakan menjadi teman-teman orang lumpuh yang diajak menjadi kreatif dalam mendekatkan orang lumpuh itu pada Yesus. Dalam memperkenalkan Tuhan kepada suami dan anak-anak memang terasa betapa perlunya menjadi lebih kreatif dan cerdik. Kecerdikan dan kreativitas itu hanya akan hadir bila kita juga tidak memalingkan wajah daripadaNya. Ia yang memberikan kekuatan, inspirasi, dan semangat untuk tidak menyerah dalam perjuangan mendekatiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang Farisi dan Ahli Taurat yang terlalu sibuk dengan kebenaran dan pikiran mereka bisa jadi menjadi batu sandunganku yang terbesar. AnugerahNya bagiku adalah pikiran kritis yang senang bermain dengan analisa. Kekuatan adalah juga kelemahan bila tidak bisa dikuasai dengan nurani yang bening. Dunia yang semakin melaju ke dalam globalisasi dan tuntutan teknologi tinggi seringkali memudarkan kehadiranNya dalam pandangan yang tidak fokus padaNya (masih ingat &lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/10/melihat-wajah-yesus.html"&gt;kisah melihat wajah Kristus&lt;/a&gt;?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang mengerumuni Yesus dan kehilangan kepekaan untuk memberi jalan bagi orang-orang yang membawa orang lumpuh itu adalah kelemahan lain yang bisa menjebak kita untuk tidak merasakan hadirNya. Terlalu terfokus pada kebutuhan diri sendiri, walaupun itu untuk mendekatkan kita pada Yesus, terkadang bisa membuat kita melupakan untuk memberi pelayanan termudah bagi orang lain...memberi jalan bagi orang lain yang ingin bertemu denganNya juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal terakhir ini sebenarnya bersumber dari satu hal, kesombongan diri. Terkadang dengan melayani kita juga bisa terjatuh ke dalam kesombongan diri. Seperti ahli Taurat yang merasa paling pandai, atau orang-orang dalam kerumunan yang merasa paling pantas untuk dekat dengan Yesus. Belajar untuk rendah hati merupakan pembelajaran utama yang kita terima dari Yesus pada saat malam Kamis Putih menjelang perjamuan terakhir, dengan rendah hati Ia melayani murid-muridNya dengan membasuh kaki mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, terima kasih &lt;br /&gt;Engkau memberi begitu banyak kasih&lt;br /&gt;tanpa pernah kusadari &lt;br /&gt;Engkau menyertaiku dalam setiap pilihan hidupku&lt;br /&gt;tanpa pernah kulihat&lt;br /&gt;Engkau membisikkan kata-kata penguatan&lt;br /&gt;tanpa pernah kudengarkan&lt;br /&gt;Kau tempa diriku&lt;br /&gt;Kau bentuk kekuatanku &lt;br /&gt;Semoga kesabaran dan kerendahan hatiMu&lt;br /&gt;menjadi teladan yang memberiku kehidupan&lt;br /&gt;dalam namaMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-9147625395602690134?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/9147625395602690134/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/12/tuhan-senantiasa-menyertai-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/9147625395602690134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/9147625395602690134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/12/tuhan-senantiasa-menyertai-kita.html' title='Tuhan Senantiasa Menyertai Kita'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-7983322959561833719</id><published>2011-11-30T05:41:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T04:07:15.417-08:00</updated><title type='text'>Malaikat-malaikat Dalam Kehidupan</title><content type='html'>Entah mengapa belakangan ini berbagai buku yang kubutuhkan terasa seperti disodorkan ke hadapanku. Sudah cukup lama saya mengetahui terbitnya buku "Guruku, Malaikat Jiwaku" dari seorang teman yang pertama kali kukenal melalui kegiatan jurnalisme warga. Tetapi terus terang kesibukan harian membuat saya tidak sempat mencari buku ini. Tiba-tiba seorang teman menyodorkannya padaku untuk dibaca. Setelah tersimpan beberapa lama, pada saat saya berada di persimpangan dengan penuh kebingungan tiba-tiba buku ini menarikku untuk membacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak inspirasi yang kudapat dari buku ini. Pertama, buku ini memberiku inspirasi dalam pengambilan keputusan untuk terus menjadi guru sekolah atau memberikan pelayanan yang berbeda. Sejujurnya kakiku masih terus berada di persimpangan, belum juga mengambil langkah yang pasti, tapi banyak pencerahan kuperoleh dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang sangat dalam tergores ada di halaman 344 buku ini, ketika penulisnya mengatakan bahwa menjadi guru bukan sekedar profesi, menjadi guru sudah mendarah daging dan menjadi panggilan hidup. Kebetulan pagi ini saya membaca Injil harian yaitu Matius 4: 18-22 dimana murid-murid itu langsung meninggalkan jala, perahu, dan keluarganya untuk mengikuti Yesus. Kemantapan, dan tiada ragu merupakan hal yang sangat terkesan. Dan buku dari Romo A. Mintara Sufiyanta SJ ini mengingatkan aku akan Injil Yohanes 15:16 "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi guru bagi anak-anak yang dititipkanNya kepadaku merupakan satu pilihan yang kubuat, tetapi menjadi guru bagi murid-murid yang pernah belajar padaku sama sekali bukan pilihanku. Kalau dipikir-pikir ya sungguh terasa bahwa Dia yang memilihkan jalan itu, bukan aku yang memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak catatan yang ingin kubuat dari buku itu, termasuk juga bahwa sebaiknya aku membacanya sekali lagi dengan menggunakan pertanyaan refleksi sebagai bahan meditasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lectio divina&lt;/span&gt;. Tapi, hal utama lain yang ingin saya bagikan di sini adalah malaikat-malaikat dalam kehidupanku. Baru beberapa hari yang lalu kita merayakan Hari Guru Nasional, dan hari itu aku tersadar bahwa guru bukan hanya guru yang ada di kelas tetapi juga orang tua, keluarga, bahkan anak-anak ataupun murid-murid bisa menjadi guru bagi seorang manusia pembelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beda waktu yang tidak terlalu lama, tiga orang gembala yang dekat dengan kehidupan saya berpulang ke rumah Bapa. &lt;a href="http://paroki-stignatius.org/2011/08/in-memoriam-romo-fx-pranataseputra-pr/"&gt;Romo FX Pranataseputra Pr&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://parokiku.org/content/mengenang-romo-oey-goan-tjiang"&gt;Romo Marinus Oei Goan Tjiang SJ&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.sesawi.net/2011/11/24/rip-romo-rudolpus-kurris-sj-meninggal-di-nabire/"&gt;Romo R. Kurris SJ &lt;/a&gt; Mereka adalah guru-guru kehidupan bagiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Kurris lebih dekat dengan masa kecil hingga remajaku, yang paling teringat adalah gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan wajahnya yang mudah memerah. Karena saya suka membaca, maka novel yang ditulisnya dengan nama R. Sukri Kaslan sempat saya komentari dengan membandingkannya dengan novel Romo Mangun. Tampaknya Romo Kurris malu dibandingkan dengan Romo Mangun karena wajahnya memerah, dan percakapan digantinya ke buku mengenai gereja Katedral yang juga dituliskannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Frans dan Romo Oei adalah bagian dari masa remaja hingga dewasaku. Romo Frans lebih kukenal karena ia juga guru di lingkungan sekolahku Tarakanita. Walaupun tidak pernah diajar olehnya tetapi beliau sangat dekat dengan anak-anak Drum Band, dan kemudian ketika kembali menjadi frater tentunya kedekatannya dengan kami lebih erat daripada frater-frater lainnya. Saya masih ingat ketika beliau sudah menjadi pastur, saya meminta tolong untuk mengadakan misa bagi mahasiswa di daerah Bintaro yang waktu itu masih dianggap hutan nan jauh di sana. Beliau menyanggupi datang sendiri dengan mobilnya. Beliau juga tidak marah ketika banyak dari kami yang terlambat tiba (karena nyasar di daerah antah berantah itu), bahkan beliau kemudian mengembalikan stipendium yang kami berikan agar digunakan bagi kepentingan kegiatan unit kerohanian kami. Tentunya hal itu merupakan suatu berkah besar bagi kami mahasiswa yang terkadang harus susah payah mengumpulkan dana untuk kegiatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pacar saya tertarik untuk belajar agama Katolik tapi mentok dengan program katekisasi di gereja yang memiliki jadwal tetap (karena terkadang waktu kerjanya tidak memungkinkan ia hadir), entah bagaimana awalnya (terus terang saya lupa) Romo Frans bersedia memberi kami jadwal khusus pembelajaran hari Minggu di Jatibening. Terkadang kami yang tidak bisa hadir, terkadang Romo Frans yang berhalangan, tapi akhirnya pacar saya dibaptis juga, baptisan awal Paroki St. Leo Agung (18 Oktober 1992). Mungkin Romo berpikir kalau kami ingin segera menikah, padahal masih lima tahun kemudian kami menikah. Ketika kembali ke Paroki Leo Agung pada akhir tahun 1996 untuk mempersiapkan surat-surat kelengkapan bagi pernikahan di awal tahun 1997 maka kami menyaksikan beberapa foto dari peristiwa pembakaran Paroki Leo Agung serta mendengar &lt;a href="http://www.pratama-online.com/leoagung/sejarah.php"&gt;kisah-kisah kejadian&lt;/a&gt; saat itu. Tampaknya Romo Frans cukup terpukul dengan kejadian itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya sibuk dengan kehidupan berkeluarga dan baru sempat terhubung lagi dengan Romo Frans melalui media sosial seperti facebook dan Blackberry messenger. Anehnya sehari sebelum Romo berpulang saya sempat mengirimkan tautan blog ini kepadanya. Sayangnya beliau tidak sempat membacanya. Mungkin itu cara Tuhan mengingatkan saya untuk berdoa bagi Romo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Oei lebih saya kenal sebagai kepala paroki, tapi saya senang bertanya-tanya padanya karena selain ular (yang tidak pernah saya lihat, kalaupun ada pasti saya takut hehehe) beliau juga koleksi kerang. Walaupun berbeda benda koleksi (saya mendapat kebiasaan koleksi perangko dari zaman KKS Romo Wolf SJ), tetapi sebagai sesama kolektor saya senang melihat-lihat katalog yang dimilikinya. Ketika saya kebingungan dalam mengambil komitmen untuk menikah maka Romo Oei dan Romo Danu (FX Danuwinata SJ) yang memberikan saya nasehat. Nasehat Romo Oei sangat sederhana, hanya membuat catatan refleksi baik dan buruk dari pilihan itu. Nasehat yang sebenarnya berlaku untuk semua keputusan penting dalam kehidupan itu menjadi sangat berguna karena catatan itu saya tuliskan dalam buku harian. Ketika hari-hari menjadi sulit dalam bahtera pernikahan maka catatan itu menjadi pengingat akan pilihan yang telah dibuat. Lucunya bukan poin-poin negatif yang menjadi penyebab masalah, terkadang justru poin yang dahulu terlihat positif bisa menjadi sumber masalah. Itulah gunanya menuliskan catatan refleksi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain nasehat dalam proses pengambilan keputusan itu, Romo Oei juga sempat memberitahukan satu hal yang menurut saya sangat penting. Menurut beliau kalau berziarah ke tempat seperti Lourdes seharusnya doa dan ziarah dilengkapi dengan sakramen ekaristi dan sakramen tobat. Kalau sakramen ekaristi tentunya saya ikuti, tetapi sakramen tobat tidak saya lakukan karena kebingungan mengenai bahasa pengantarnya (saya ketika itu datang sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;back-packer&lt;/span&gt;), padahal keinginan untuk memasuki ruang pengakuan dosa sebenarnya sangat besar dan sebenarnya saya bisa memilih bahasa Internasional yang ada. Masalahnya hanya karena saya tidak terbiasa melakukan pengakuan dosa dalam bahasa asing. Satu pelajaran lagi untuk lebih peka mendengarkan nurani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Romo Middendorp SJ yang pernah saya kenang dalam tulisan &lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/04/sakramen-tobat-sebuah-kenangan.html"&gt;"Sakramen Tobat, Sebuah Kenangan..."&lt;/a&gt;, maka Romo Martosudjito SJ yang mempersembahkan misa kudus pada saat saya dan suami menerima sakramen pernikahan juga mempunyai kenangan khusus bagi saya. Kepergian mereka bukan berarti berhentinya pembelajaran yang saya peroleh dari mereka. Terkadang dalam satu fragmen kehidupan saya teringat kembali pada teladan yang mereka berikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus, Sang Guru sejati,&lt;br /&gt;Terima kasih sudah mengirimkan malaikat-malaikatMu,&lt;br /&gt;menemani dan membimbing aku melangkah,&lt;br /&gt;Terkadang perjalanan bersama kami tidak panjang,&lt;br /&gt;tetapi cintaMu yang Kau titipkan lewat mereka,&lt;br /&gt;mampu mengubah kehidupanku.&lt;br /&gt;Berkati kami ya Tuhan dengan Roh KudusMu,&lt;br /&gt;agar kami juga mampu menjadi malaikat-malaikatMu bagi sesama kami.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-7983322959561833719?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/7983322959561833719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/11/malaikat-malaikat-dalam-kehidupan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7983322959561833719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7983322959561833719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/11/malaikat-malaikat-dalam-kehidupan.html' title='Malaikat-malaikat Dalam Kehidupan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6798522987632145215</id><published>2011-11-22T02:59:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T07:56:57.587-08:00</updated><title type='text'>Memberi tanpa menanti upah</title><content type='html'>Bila dilihat dari bahasa Indonesia maka judul di atas sedikit aneh. Memberi tentunya bukan menjual. Orang yang menjual barang atau jasa yang mengharapkan upah. Tapi bacaan Injil hari Minggu, Matius 25:31-46 dan bacaan hari Senin, Lukas 21: 1-4 membawa saya pada refleksi ini. Seringkali kita manusia memberi karena menginginkan upah di balik pemberian itu. Ketika kita memberi kepada orang yang membutuhkan, tidak jarang kita meminta upah atau imbalan dari mereka, bisa berupa penghormatan, bisa berupa jasa, atau bisa juga berupa imbalan dari Tuhan berupa lahan masa depan di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Injil Matius 25:31-46 kedua macam orang yang berbeda itu sama-sama tidak mengerti kapan Tuhan datang pada mereka sebagai orang yang sakit, susah, maupun lapar. Bila orang yang pertama membantu dengan tulus, maka tipe orang yang kedua tidak membantu karena tidak mengenali Tuhan. Apakah saya sudah bisa masuk ke dalam tipe orang yang pertama? Yang membantu walaupun tidak tahu bahwa bantuan itu adalah untuk Tuhan? Atau saya masih terkungkung dalam tipe nomor dua? Yang hanya membantu karena mengetahui keberadaan Tuhan di balik sesama saya? Ketulusan itu yang penting, dan itu hanya datang dari hati yang penuh kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan ini juga kembali mengingatkan kepada janda yang memberikan 2 talenta yang dimilikinya, seluruh uang yang dimilikinya, tanpa memikirkan resiko masa depannya. Ia juga tidak memberikan dua talenta itu untuk meminta lebih banyak lagi talenta dari Tuhan. Tidak, dua talenta itu semata-mata tanda terima kasihnya atas semua kemurahan Tuhan yang telah dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih sudah begitu mencintai kami,&lt;br /&gt;Berikan kami hati yang mampu bersyukur,&lt;br /&gt;Hati yang memiliki iman walaupun hanya sebesar biji sesawi&lt;br /&gt;Tetapi mampu menguatkan hati kami agar tetap tulus dalam pelayanan kami.&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih karena mau bersabar mengingatkan daku,&lt;br /&gt;Betapa rapuh dan tak berartinya pelayanan yang menantikan upah,&lt;br /&gt;Betapa indahnya penyertaanMu dalam kehidupan kami ya Bapa,&lt;br /&gt;Semoga semuanya menjadi indah pada waktuMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6798522987632145215?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6798522987632145215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/11/memberi-tanpa-menanti-upah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6798522987632145215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6798522987632145215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/11/memberi-tanpa-menanti-upah.html' title='Memberi tanpa menanti upah'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-3887757835659302620</id><published>2011-11-12T08:41:00.000-08:00</published><updated>2011-11-13T14:08:21.058-08:00</updated><title type='text'>Keberanian Mengambil Resiko</title><content type='html'>Hari Jumat kemarin, sebelum melakukan Meditasi Kristiani, kami membaca Injil Matius 25:14-30 mengenai perumpamaan tentang talenta. Kitab Suci yang hidup kembali terasa bagi saya dan juga bagi seorang teman lain. Kali ini ayat yang berbicara bagi kami terasa berbeda dengan ayat yang biasanya menarik perhatian kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat tertarik pada perkataan sang tuan kepada hamba-hambanya, baik yang berhasil menggandakan 5 talenta, maupun yang menggandakan 2 talenta. Tuan tersebut berkata; "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Perkataan itu sama persis. Tidak ada perbedaan hanya karena yang satu menghasilkan 5 talenta sementara yang lain hanya membawa 2 talenta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku "Jalan Menuju Kehidupan", pater Gerry Pierse CSsR mengatakan bahwa hamba yang hanya memiliki satu talenta tidak berani mengambil resiko. Hal ini mengingatkan saya akan pencarian saya akan kehendakNya. Seringkali saya tidak berani membuat pilihan karena merasa takut tidak mengikuti kehendakNya. Padahal sebenarnya yang paling penting bagiNya adalah keberanian kita mengambil resiko bersamaNya. Talenta yang dipertaruhkan adalah talentaNya. Ketika kita kehilangan talenta itu, maka Ia tidak akan marah. Ia akan tetap ada di sisi kita untuk menguatkan dan menghibur kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang menarik perhatian saya itu mengajarkan saya betapa seringkali saya membesar-besarkan masalah. Lima talenta atau dua talenta bagi Tuhan hanyalah perkara kecil. Hamba dengan satu talenta itu memandang satu talenta yang dimilikinya sebagai perkara besar, padahal bagi tuannya hal itu hanya perkara kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang lain merasakan sengatan dalam perkataan yang terdapat dalam Injil Matius 25:26 "Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur, dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?" Perkataan "hamba yang jahat dan malas" memang terasa sangat keras. Mengapa hamba itu dikatakan jahat? Tampaknya karena ia menuduh tuannya dengan tudingan yang tidak benar. Ia memilih mempersalahkan orang lain untuk pembenaran dirinya. Bila sebelum mendengar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sharing&lt;/span&gt; teman ini saya tidak terlalu merasakan pentingnya ayat ini, maka setelah mendengarnya berbagi refleksi saya baru merasakan betapa sering saya juga mempersalahkan orang lain, mempersalahkan keadaan, bahkan mungkin juga pernah mempersalahkan Tuhan untuk situasi yang sedang dihadapi. Sebenarnya apa yang terjadi pada diri kita adalah akibat dari pilihan-pilihan yang kita ambil sebelumnya. Sama seperti hamba yang hanya memperoleh satu talenta, kemalasan membuatnya memilih menanam talenta itu. Tetapi ketika ia melihat orang lain menggandakan talentanya, dan ia tidak, maka ia memilih berlindung di balik alasan yang menghujat tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum meditasi saya sempat bertemu dengan guru agama yang mengajar saya di bangku sekolah menengah dahulu. Ketika saya mengemukakan kebingungan dalam mencari kehendak Allah, maka jawabannya sederhana, "Diamlah dalam keheningan. Biarkan segalanya mengendap, karena dalam kebeningan dan kejernihanlah semua bisa terlihat jelas." Menjadi seperti Martha yang sibuk melayani memang penting, karena ladang luas dan hanya sedikit yang melayani. Tetapi, ketika pelayanan itu menjadi fokus utama, bukan lagi Tuhan yang menjadi fokus kita, melainkan karya dan hasil pribadi. Kita memerlukan waktu untuk diam, memandang dan mendengarkanNya seperti Maria agar kita mampu melihat dengan jelas kehendakNya dan kebutuhanNya dalam pelayanan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa Yang Maha Baik,&lt;br /&gt;Terima kasih atas penyertaanMu,&lt;br /&gt;saat pilihan yang salah berbuah resiko,&lt;br /&gt;Engkau tidak meninggalkan putriMu.&lt;br /&gt;Engkau hadir dalam keteduhan dan kedamaian yang menyejukkan jiwa&lt;br /&gt;Engkau menghapus air mata dan kecemasan dengan kasihMu.&lt;br /&gt;Bapa, aku ingin lebih mengenal kehendakMu,&lt;br /&gt;Ingin lebih pantas menjadi putriMu,&lt;br /&gt;Bimbing dan tuntun langkahku Bapa,&lt;br /&gt;Beranikan aku mengambil resiko bagiMu,&lt;br /&gt;Kuatkan aku dalam melangkah di persimpangan jalan,&lt;br /&gt;jangan biarkan kutersesat&lt;br /&gt;jangan padamkan cahayaMu di hatiku.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-3887757835659302620?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/3887757835659302620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/11/keberanian-mengambil-resiko.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3887757835659302620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3887757835659302620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/11/keberanian-mengambil-resiko.html' title='Keberanian Mengambil Resiko'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5906111776094088809</id><published>2011-11-12T07:39:00.000-08:00</published><updated>2011-11-12T08:40:44.179-08:00</updated><title type='text'>Tegur dan Ampunilah</title><content type='html'>Bacaan Lectio Divina kami beberapa waktu yang lalu adalah Injil Lukas 17:1-6. Suster pembimbing kami memberikan tema "Mengampuni itu menyembuhkan". Bacaan ini agak sedikit berat bagi kelompok kami. Yang menonjol bagi kami pada hari itu adalah pesan, "tegurlah dan ampunilah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukas 17:3 "Jagalah dirimu! Jika saudaramu berbuat dosa tegurlah dia, dan jikalau dia menyesal, ampunilah dia." Ayat ini tampaknya paling banyak menarik perhatian anggota kelompok kami. Ada yang menekankan pada penggal akhir kalimat, "jikalau dia menyesal, ampunilah dia." Apakah kita perlu menunggu orang menyesal baru memaafkan? Bukankah kita diajarkan untuk senantiasa memaafkan orang? Bukankah kita diminta untuk memaafkan tujuh puluh kali tujuh kali? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat, "Jika saudaramu berbuat dosa tegurlah dia,...," juga sangat menarik. Bukankah kita tidak boleh melihat selumbar di mata saudara sementara di mata kita sendiri masih ada balok? (Lukas 6: 41-42) Bagaimana kita bisa mengatakan orang lain berdosa sementara kita sendiri juga pernah berbuat dosa? (Yohanes 8:7 "...Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari renungan dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sharing&lt;/span&gt; kelompok kami merasa bahwa seringkali ketika seseorang bersalah pada kami, maka bila orang itu bukan orang dekat, kami akan cenderung untuk menjauhi orang tersebut agar sakit hati itu tidak terulang lagi. Mungkinkah ini yang dimaksudkan dengan "tegurlah"? Beritahukan, komunikasikan... karena belum tentu orang itu mengetahui kesalahannya. Mendiamkan kesalahan apalagi membiarkan orang terus hidup dalam dosa bisa menjadi dasar pengulangan kembali kesalahan atau dosa itu. Kita memang perlu belajar memberikan saran perbaikan dengan lebih bijaksana agar dapat mencapai tujuan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukas 17:4 "Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Walaupun kami tahu benar mengampuni bagi Yesus adalah tujuh puluh kali tujuh kali, tetapi tetap saja perkataan mengampuni satu orang tertentu yang dalam satu hari melakukan tujuh kali kesalahan, dan setelah setiap kesalahan selalu datang untuk meminta maaf, merupakan hal yang luar biasa bagi kami. Ketika pertama kali ia datang meminta maaf, pasti dengan tulus mampu dimaafkan. Ketika ia datang lagi pada hari yang sama untuk kedua kalinya, bisa jadi agak kesal tapi masih memaafkan. Hanya saja bila tujuh kali hal itu berulang, pikiran yang paling mungkin adalah keraguan akan ketulusan permohonan maaf orang tersebut, dan kemungkinan hati menjadi tertutup untuk bisa memaafkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga, hal seperti ini yang paling sering terjadi. Suatu kesalahan yang sudah dimaafkan kemudian kembali terulang. Luka yang sudah mulai mengering kembali terbuka dan perih. Perasaan yang sudah mulai naik bagaikan yoyo yang dihempaskan kembali ke bawah. Dalam posisi seperti ini sungguh kami membutuhkan iman kepadaNya dan penyertaanNya agar mampu senantiasa memaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaafkan itu menyembuhkan. Ketika rasa sakit masih hadir ketika kita membicarakan orang yang bersalah pada diri kita, maka bisa jadi kita belum mampu sungguh-sungguh memaafkannya. Ketika rasa sakit itu sudah tidak hadir lagi, maka saat itu pastilah kita sudah benar-benar mengampuni kesalahannya. Doa dan meditasi menjadi sarana pembantu kami untuk menghadirkanNya dalam diri kami, dan merasakan rahmatNya yang besar yang memampukan kami untuk mengampuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Engkau maha rahim dan maha baik,&lt;br /&gt;Berkati kami agar selalu mampu mengampuni&lt;br /&gt;Mengampuni sesama, maupun mengampuni diri kami sendiri,&lt;br /&gt;Jadikanlah kami pembawa damaiMu,&lt;br /&gt;Sembuhkan luka-luka batin yang mendera kami&lt;br /&gt;yang mencegah kami untuk mengampuni dengan tulus,&lt;br /&gt;Bantu kami menyinarkan kerahimanMu&lt;br /&gt;dengan mampu mengampuni setulus hati.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5906111776094088809?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5906111776094088809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/11/tegur-dan-ampunilah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5906111776094088809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5906111776094088809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/11/tegur-dan-ampunilah.html' title='Tegur dan Ampunilah'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-1963905312915839977</id><published>2011-09-21T09:02:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T15:49:33.857-07:00</updated><title type='text'>Antara Emmaus Journey dan Getsemani Talks</title><content type='html'>Beberapa teman lebih senang dengan metode Lectio Divina, jadi kami kembali mengadakan meditasi Kitab Suci walaupun tidak setiap minggu. Pertemuan Meditasi Kristiani (MK) akan terus dilangsungkan setiap minggu. Saya sendiri setelah rekoleksi MK kemarin, sudah mulai lebih mantap dengan MK walaupun tetap kehilangan perjumpaan denganNya melalui Lectio Divina.  Suster yang dahulu membimbing kami dalam Lectio Divina mengirimkan usulan bahan renungan yaitu dari Lukas 24: 13-35, Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak yang kami peroleh dari pertemuan hari itu. Rasa frustrasi dua orang murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus (ayat 13-19) tidak jauh berbeda dengan rasa frustrasi yang kita rasakan ketika merasa jauh dari Allah. Ketika kita mencariNya dalam doa tetapi tidak merasakan sentuhan dan cintaNya. Benarkah Ia tidak menyertai perjalanan kita? Ataukah Ia berjalan bersama kita tetapi sesuatu menghalangi mata kita dan tidak menampakNya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentakan Yesus (ayat 25) mengingatkan, “ Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” Bukankah kita juga serupa dengan para murid itu yang seringkali membutuhkan bukti baru bisa mempercayai apa yang kita dengarkan dariNya? Para murid sudah tinggal demikian lama dengan Yesus, tapi mereka belum juga mengenaliNya dan perutusanNya. Bukankah tidak jarang kita juga telah dibaptis dari kecil tetapi sampai sekarang masih juga belum sungguh-sungguh mempercayai sepenuhnya apa yang kita imani? Iman yang hanya di bibir, tapi tidak teraba di kedalaman hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat 29 murid-murid itu menahan agar Yesus mau tinggal bersama mereka. Yang menarik bagi saya adalah mengapa murid-murid itu menahan agar Yesus mau tinggal, sedangkan bagi teman lain yang menarik adalah dituliskannya bahwa Yesus berpura-pura mau meninggalkan murid-murid itu. Betapa pentingnya bagi kita untuk mengundangNya tinggal bersama-sama dengan kita. Walaupun Ia sebenarnya tinggal bersama dengan kita, tetapi Ia menginginkan kita untuk meminta kesediaanNya hadir bagi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat 32 berkata, “Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” Ayat ini mengingatkan saya pada perbedaan yang saya rasakan ketika Lectio Divina dan Meditasi Kristiani. Ketika meditasi Kitab Suci saya bisa merasakan kegembiraan berjalan bersamaNya. Itulah perjalanan kami bersama ke Emaus. Dalam Meditasi Kristiani saya merasakan kesepian dan keheningan Getsemani. Seperti istilah yang digunakan Pastor John Main dalam bukunya “Getsemani Talks”. Kebimbangan saya ketika memasuki keheningan MK adalah kehilangan gandengan tanganNya yang saya rasakan dalam perjalanan ke Emaus. Dalam keheningan malam di Getsemani, murid-murid Yesus belum mampu berjaga bersamaNya, mereka jatuh tertidur. Beberapa bacaan yang saya baca membantu menuntunku untuk mengerti betapa dalam keheningan itu saya menemani perjalananNya di taman Getsemani. Keduanya begitu berbeda, suasananya juga berbeda. Ia tampaknya terus membimbingku untuk keluar dari kebingunganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat 30-32 yang menceritakan bagaimana tindakan Yesus yang memecah-mecahkan roti itu mengingatkan murid-murid akan diriNya. Memiliki kebiasaan intim denganNya akan sangat membantu kita dalam mengenali hadirNya. Bukan hanya dalam sakramen Ekaristi, melainkan juga dalam doa. Secara khusus menyediakan waktu bagiNya untuk bisa membangun kebiasaan bersama yang mendekatkan kita padaNya merupakan suatu hal yang sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat elektroniknya suster memberikan sedikit panduan renungan sebelum sharing. &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kita pun pernah mengalami situasi frustrasi seperti rasul-rasul itu; entah kehilangan seorang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan beruntun-runtun dalam usaha/pekerjaan.  Dalam situasi seperti itu kepada siapa kita pergi? Apakah Yesus teman seperjalanan hidup kita?  Di kala sedih/menderita curahkanlah beban batin kepada-Nya maka hati akan diubah, mungkin beban belum hilang namun batin kita dikuatkan oleh rahmat Tuhan untuk mampu menanggungnya. Mt.11:28: ”Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak yang mengalami kesepian, berbeban berat, sedih dan gelisah, mereka membutuhkan teman. Biasanya dalam keadaan seperti itu sulit mencari teman, lalu mereka mencarinya di tempat yang kurang kondusif. Inilah peran lingkungan/kelompok bisa menjadi “alter Christi” roti yang dipecah-pecah bagi sesama, ibarat Tubuh Kristus yang dibagikan, atau contoh menjadi tangan-tangan Hati Kudus Yesus yang menjangkau sesama yang sedang butuh. Injil Yoh. 21:15-18 – sampai 3x Yesus bertanya kepada Petrus:”Apakah Engkau mengasihi Aku? “ Jawabnya: Engkau Tuhan  tahu segala sesuatu , Engkau tahu bahwa aku mengasihi engkau. Jawab Yesus “Peliharalah domba dombaKu. Gambaran kita: (siapa Tuhan bagi kita masing-masing?) ini sangat penting untuk menentukan penghayatan  hidup agama/iman kita kepada Yesus-Allah Tritunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami, istri, ketua lingkungan/kategorial adalah gembala. Untuk mewujudkan tugas kegembalaan ini kita perlu menjalin relasi yang akrab dengan Yesus, Relasi yang bukan berdasarkan untung-rugi melainkan relasi tanpa pamrih karena mencintai Yesus yang memberi dan memelihara hidup (life) kita masing dengan penuh kasih sampai menyerahkan hidupnya sendiri pada kayu salib demi kita, agar kita dibebaskan dari belenggu dosa lewat rahmatNya.  Murid di Emaus setelah makan bersama Yesus hati mereka berkobar-kobar. Juga sekarang Yesus menguatkan kita dalam mengarungi peziarahan hidup ini lewat Sakramen Ekaristi. Inilah sumber kekuatan dalam hidup kita kalau kita terus menyadari dan menerimanya sebagai perjumpaan denganNya. Yesus teman seperjalan hidup kita yang setia. Dengan mengenali tindakan Yesus (lewat bacaan Injil) kebaikan,kepedulian, pemeliharaan hidup kita, penyembuhan baik rohani maupun jasmani (penyembuhan) kita mencintaiNya.  Lewat doa kita menjalin relasi akrab denganNya sebagaimana Yesus sendiri selalu berdoa kepada BapaNya di surga. Lewat doa kita semakin mengenalNya dan mencintaiNya, kita tidak mencintai yang tidak kita kenal/tahu.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan memang beberapa dari kami pernah merasakan bahwa mendekat kepadaNya akan membantu meringankan beban di hati. Beban memang tidak hilang, namun batin kita dikuatkanNya untuk mampu menanggung beban itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang membuat Meditasi Kitab Suci ini sangat berharga bagi kami, ibu-ibu yang mengikutinya, adalah penguatan batin tersebut. Beban kami bermacam-macam, dari sakit penyakit diri sendiri, keluarga, dan orang tua, masalah pendidikan anak-anak, sampai masalah-masalah lainnya di seputar rumah tangga. Beban itu tidak hilang, tetapi dengan berbagi kita mengetahui betapa orang lain juga memiliki masalah masing-masing. Setiap kuk yang dipasangNya tidak melebihi kemampuan orang yang harus mengangkatnya. Terkadang kami jadi melihat permasalahan dengan lebih jernih. Terkadang kami belajar dari pengalaman teman lain. Yang terutama adalah kami merasakan betapa hidup penyertaanNya dalam Kitab Suci, dan kami belajar bersyukur karena itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meditasi Kristiani tidak secara langsung memberikan perasaan batin yang berkobar-kobar itu, yang ditawarkan justru ketenangan dalam menghadapi masalah. Emosi yang biasanya lebih cepat tercolek tampaknya menjadi lebih mudah dikendalikan. Kesabaran untuk menantikanNya, ketekunan untuk menanti bersamaNya walaupun hasil yang dituju tidak langsung tampak (atau bukan suatu "hasil" dalam ukuran mata manusia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membutuhkan keseimbangan antara keduanya, penguatan yang mengobarkan semangat dari perjalanan ke Emaus, dan penguatan yang menenangkan batin dari kecemasan dan ketakutan yang sedang menghadang seperti yang dialami Yesus di Taman Getsemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa,&lt;br /&gt;Engkau menuntun kami, anakMu, dalam setiap langkah kami,&lt;br /&gt;Menemani kami ketika kami jatuh terpuruk&lt;br /&gt;Mencari kami ketika kami tersesat dalam kehidupan,&lt;br /&gt;Menguatkan kami ketika kami lemah dan ketakutan.&lt;br /&gt;Adakalanya suaraMu tak terdengar. &lt;br /&gt;Ada masanya kami harus belajar percaya saja,&lt;br /&gt;Bahwa semua akan berlalu, dan semua akan indah pada waktuMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-1963905312915839977?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/1963905312915839977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/09/antara-emmaus-journey-dan-getsemani.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1963905312915839977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1963905312915839977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/09/antara-emmaus-journey-dan-getsemani.html' title='Antara Emmaus Journey dan Getsemani Talks'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-286410038688968984</id><published>2011-09-21T08:10:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T15:41:51.705-07:00</updated><title type='text'>Belajar jeruji-jeruji doa "meditasi"</title><content type='html'>Saya merasa beruntung karena Tuhan menuntun dengan buku-buku yang mencoba menjawab seribu satu tanya dan kebimbangan di benakku. Ketika menghadiri acara Rekoleksi Meditasi Kristiani bersama Sr. Pia Sawir OSU saya melihat sebuah buku milik teman yang berjudul “The Prayer of the Priest” (William F. Eckert, dkk.). Ternyata buku ini memberikan banyak penguatan yang menjembatani kebimbangan saya antara Meditasi Kitab Suci dan Meditasi Kristiani.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Renungan Pastor William Eckert yang menyentil saya mengatakan, “Terlalu mudah kita beranggapan bahwa pekerjaan kita adalah doa kita, sehingga keheningan dianggap sebagai kemewahan yang tidak dapat kita peroleh dalam hidup kita.” Ya, seringkali pekerjaan harian bagi saya adalah sebuah doa, tetapi saya melupakan bahwa saya membutuhkan waktu tenang untuk mengisi batere tenaga yang akan saya gunakan untuk pelayanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang memberatkan bagi saya dalam perjalanan dari meditasi Kitab Suci memasuki meditasi Kristiani adalah kebingungan karena bedanya jeruji doa yang dijalani. Semua orang mengatakan bahwa keduanya berbeda, dan kita perlu memilih yang paling cocok. Terkadang saya merasa seperti seorang yang sudah menggenggam mutiara(lectio divina)dan mau melepaskannya karena memimpikan mutiara yang lebih indah(MK). Kesaksian para pastor yang terdapat di buku ini membantuku melihat dengan lebih jernih. Bagaimanapun pengalamanku dengan meditasi masih sangat dangkal,sehingga kebingungan itu sungguh mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain beberapa sharing pastor dari Australia yang sedikit menyinggung meditasi diskursif ataupun meditasi Ignatian, sharing dari Pastor Brian V. Johnstone (Roma, Italia) sangat membantu saya mengenali perbedaan antara metode diskursif dengan meditasi hening MK. Beruntung sebagai awam saya tidak banyak mendapat hambatan untuk membayangkan adegan Kitab Suci, ataupun membayangkan mengambil peran di dalam kisah itu. Sebagai orang yang tidak mempelajari sejarah penulisan Kitab Suci, buat saya bagaimana para penulisnya menuliskannya bukan masalah. Yang penting suasana itu nyata dan bisa terjadi pada diriku sendiri. Ketika Petrus berjalan di atas danau menuju Yesus dan tiba-tiba keragu-raguan menerpanya, bukankah saya juga seringkali begitu? Awalnya percaya bahwa jalan pilihanku adalah kehendak Tuhan, tetapi ketika di tengah jalan situasi tidak seindah yang kudambakan, maka keraguan apakah saya sudah membuat keputusan yang benar mulai datang. Berarti keraguan akan hadirNya juga mulai timbul. Sangat nyata bagiku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan Pastor Brian sangat bermanfaat terutama ketika ia menerangkan bahwa ketika meditasi MK kita tidak merenungkan isi Kitab Suci. Dengan buah dari ketenangan batin yang kita peroleh dari meditasi hening ini, kita akan lebih terbimbing untuk peka akan makna sebuah kutipan di saat yang lain (bukan pada saat meditasi). Hal inilah yang merupakan kehilangan saya. Berbeda dengan Pastor Brian, saya sangat menikmati metode diskursif itu. Melalui meditasi Kitab Suci saya menemukanNya. Meditasi Kitab Suci memampukanku mendengarkan suaraNya yang membimbingku dalam pergumulan kehidupan harian. Yang paling berkesan adalah ucapan Pastor Brian berikut ini, "Bermeditasi itu sendiri merupakan tanggapan atas kehadiran rahmat Allah. Tetapi cara kita menanggapi rahmat itu berbeda-beda,...Allah dapat memilih untuk hadir dalam kesadaran kita melalui teks, imajinasi, pengertian intelektual atau dengan tidak memakai konsep sama sekali." Itulah jeruji doa berbeda yang setiap orang berhak mencari melalui jeruji mana ia ingin bertemu dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Bernie Owens (Michigan, USA) bahkan secara jelas menerangkan mengenai meditasi yang diajarkan oleh St. Ignatius Loyola yang tampaknya merupakan gaya meditasi yang kami gunakan dalam meditasi Kitab Suci kami. Pastor Bernie menggambarkan bagaimana Meditasi ini semakin lama akan semakin mengurangi kata-kata dalam doa, melainkan menjadikan doa kita semakin sederhana, dan kita terpusat untuk menjadi semakin hening. Sebenarnya peran seorang pembimbing meditasi sangat kami butuhkan untuk mampu bertekun dan memetik buah-buah meditasi kami. Kehadiran seorang pembimbing bukan untuk mengkultuskan seorang individu, melainkan kehadiran seorang pembimbing yang mampu hadir tanpa menonjolkan dirinya sendiri merupakan rahmatNya yang terbesar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kami sedang belajar mencari jeruji doa yang paling sesuai dengan diri kami masing-masing. Bukan untuk menonjolkan diri, ataupun menonjolkan kemampuan berdoa melainkan untuk dimampukan semakin dekat denganNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa yang maha baik,&lt;br /&gt;Terima kasih atas berkatMu,&lt;br /&gt;yang memampukan kami mencariMu,&lt;br /&gt;menemukan hadirMu di hati kami.&lt;br /&gt;Bukakanlah hati kami untuk terus menerima berkatMu,&lt;br /&gt;memampukan kami memandang wajahMu,&lt;br /&gt;dan berjalan dengan menggenggam tanganMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-286410038688968984?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/286410038688968984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/09/belajar-jeruji-jeruji-doa-meditasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/286410038688968984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/286410038688968984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/09/belajar-jeruji-jeruji-doa-meditasi.html' title='Belajar jeruji-jeruji doa &quot;meditasi&quot;'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-3070972372529122070</id><published>2011-09-01T21:31:00.000-07:00</published><updated>2011-09-01T21:55:03.540-07:00</updated><title type='text'>Pentingnya menjadi gadis yang bijaksana</title><content type='html'>Gadis-gadis yang bijaksana senantiasa bersiap dengan minyak dan pelitanya (Matius 25:1-13). Tulisan terakhir yang kutuliskan di blog sedikit terendap daripada biasanya, sehingga bisa jadi sudah terjadi tambahan pemikiran yang lain di luar apa yang sebenarnya kudapatkan pada waktu itu. Keinginan untuk menuliskan tentang ayat yang menarikku berpikir tentang reinkarnasi telah membawaku melintasi dunia maya untuk mencari pandangan agama Katolik tentang hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua bacaan yang menarik yang kuperoleh dari portal &lt;a href="http://katolisitas.org/"&gt;Katolisitas.org&lt;/a&gt;, yang pertama adalah mengenai kehadiran New Age Movement yang terdapat dalam &lt;a href="http://katolisitas.org/2008/12/27/tanggapan-tentang-new-age-movement-reiki-yoga/"&gt;tulisan satu ini&lt;/a&gt;. Lalu ada sebuah lagi mengenai Gereja Katolik Bebas yang bisa dibaca di &lt;a href="http://katolisitas.org/2010/01/02/tentang-sspx/"&gt;tulisan yang ini&lt;/a&gt;. Tulisan-tulisan seperti ini berguna untuk menjadi peringatan dalam perjalanan kita agar tidak salah dalam mendengarkan dan mengartikan kehendakNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi gadis yang bijaksana harus senantiasa membawa pelita hati yang menyala dengan kebenaran FirmanNya, dan tetap siap sedia dengan minyak untuk mempertahankan nyala pelita itu. Membaca kedua tulisan di atas membuatku lebih berhati-hati dengan apapun yang kualami dan kuperoleh melalui pengalaman seharianku agar minyak yang kubawa adalah minyak yang benar untuk menyalakan pelitaNya. Terkadang keingin-tahuan dan keinginan berlebihan untuk dekat denganNya juga bisa mengandung jebakan setan yang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, temani kami putra putriMu,&lt;br /&gt;dalam perjalanan kehidupan,&lt;br /&gt;berikan kami minyak yang Kau berkati,&lt;br /&gt;agar mampu menyalakan pelita hati kami,&lt;br /&gt;dengan sinar kebenaranMu,&lt;br /&gt;agar sanggup kami memuliakanMu,&lt;br /&gt;menyambut kedatanganMu&lt;br /&gt;untuk masuk bersama-sama denganMu&lt;br /&gt;ke dalam ruang perjamuanMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-3070972372529122070?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/3070972372529122070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/09/pentingnya-menjadi-gadis-yang-bijaksana.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3070972372529122070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3070972372529122070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/09/pentingnya-menjadi-gadis-yang-bijaksana.html' title='Pentingnya menjadi gadis yang bijaksana'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-4689880744425154505</id><published>2011-09-01T19:53:00.000-07:00</published><updated>2011-09-01T21:21:08.942-07:00</updated><title type='text'>Menyangkal diri, mengenal kehendakNya.</title><content type='html'>Bacaan Kitab Suci dari hari Minggu biasa XII adalah dari Injil Matius 16:21-27, tetapi dalam bacaan sebelum meditasi kami menggunakan buku Jalan Menuju Kehidupan dimana digunakan Injil Matius 16:21-28. Secara pribadi ada dua ayat yang menarik perhatianku pada hari Jumat itu. Ayat yang pertama adalah ayat 24 dimana Yesus bersabda," Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku." Sesungguhnya dari ayat 23-26 semuanya mengingatkan akan satu hal yaitu betapa manusia perlu mengenal kehendakNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan dengan meditasi mengajarkan aku akan satu hal yang penting, yaitu mengosongkan diri. Menyangkal semua keinginan pribadi yang mungkin muncul karena tuntutan duniawi manusia. Seringkali kita berpikir bukan dalam kerangka pikir Allah, melainkan lebih dalam kerangka pikir manusia. Pergumulan itu terus berlangsung karena seperti yang disimpulkan oleh dalam pemikiran Kierkegaard, pergumulan manusia untuk terus membuat pilihan-pilihan hidup akan berlanjut terus hingga mereka dipanggil kembali kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meditasi juga mengajarkan bagaimana berdoa dari hati. Seperti yang diingatkan oleh Nabi Yeremia dalam bacaan pertama di hari Minggu XII ini, ketika ia tidak mau mengingatNya dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya, maka dalam hatinya ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangnya, dan tiada sanggup ia menahankannya (baca Yer 20:9). Ia hadir di dalam hati kita, karena itu kembali ke dalam hati dan berbincang denganNya dalam keheningan dan kebeningan hati merupakan hal yang paling mendasar untuk mampu menyangkal diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (Rm 12:1-2) mengingatkan agar kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah. "Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Seringkali kita terikat pada cara pandang dunia, melihat kesuksesan dan keberhasilan hidup dengan mata manusiawi yang dibesarkan dunia. Tetapi bersama persembahan yang hidup, kehidupan kita, maka Tuhan akan mengajarkan untuk mengenali kehendakNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan bacaan ini datang pada saat rekan-rekan Muslim sedang menjalankan ibadah puasa. Pada saat bulan suci ini, mereka menjaga tubuh dan hati mereka agar terarah sepenuhnya kepada Allah. Seringkali saya terkagum-kagum kepada kemampuan mereka menahan hawa nafsu, baik dari godaan makanan dan minuman jasmani maupun dari goda amarah dan nafsu lainnya. Kalau saya perhatikan, maka semuanya itu juga tidak bisa dilalui tanpa pembelajaran dan tekad yang kuat. Berani menyangkal diri, tidak mengikuti keinginan dunia melainkan memilih hadirNya akan menguatkan perjalanan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeremia mengingatkan kita bahwa di luar kandungan ibu, kita akan berhadapan dengan kesusahan dan kedukaan (Yer 20:18). Kita bisa mengurangi kesusahan dan kedukaan itu bukan dengan meniadakannya, melainkan dengan hadirNya yang menutupi semua rasa duka dan susah itu. Iman yang teguh memampukan rekan-rekan saya yang muslim untuk sanggup menahan rasa lapar dan haus. Kesulitan duniawi yang dengan sengaja dimasukinya tidak menjadi beban dalam perjalanan mereka. Iman yang besar menyelamatkannya dari penderitaan atas rasa lapar dan haus. Saya bisa melihat bagaimana orang-orang yang sungguh-sungguh beriman mampu menjalankan puasanya walaupun harus tetap hidup di dalam dunia dimana orang lain ada yang tidak berpuasa. Ibu-ibu yang berpuasa mampu tetap berpuasa walaupun ia menyuap makan anaknya yang masih kecil dan belum mampu berpuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu ayat lain yang menarikku pada hari Jumat lalu itu, tapi tidak mampu kucernakan. Mat 16:28 "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam kerajaanNya." Entah kenapa ayat ini seakan mengingatkan aku akan adanya reinkarnasi. Tetapi ini hanya datang bagai selintas komet yang bercahaya dan menghilang. Entah akankah menjadi lebih jelas dalam perjalanan yang lainnya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;banyak hal yang tidak kumengerti,&lt;br /&gt;kepadaMu kukembali mencari,&lt;br /&gt;di dalam Engkau kepenuhanku meruah,&lt;br /&gt;dan kedangkalanku digali lebih mendalam&gt;&lt;br /&gt;Bagai rusa haus yang mereguk di mata airMu,&lt;br /&gt;jiwaku memuliakan kehangatan cintaMu Tuhan,&lt;br /&gt;Bimbing perjalanan kami dalam lintasan perjalanan jiwa,&lt;br /&gt;hingga berakhir di hadiratMu yang maha kasih dan pengampun.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-4689880744425154505?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/4689880744425154505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/09/menyangkal-diri-mengenal-kehendaknya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4689880744425154505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4689880744425154505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/09/menyangkal-diri-mengenal-kehendaknya.html' title='Menyangkal diri, mengenal kehendakNya.'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-7445172420074817640</id><published>2011-08-20T02:20:00.000-07:00</published><updated>2011-08-20T05:27:15.118-07:00</updated><title type='text'>Siapakah Aku ini?</title><content type='html'>Dari Injil Matius 16:13-20 mengenai pengakuan Petrus kepada Yesus, saya sangat tersentuh pada dua ayat. Ayat 15; Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Pertanyaan yang sama, kalau diajukan pada diriku dalam keadaan yang sedang galau, akankah sanggup kujawab dengan lantang, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Ataukah mungkin, justru dalam kondisi senang tidak kuingat siapakah Mesias?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat lain yang menyentuhku adalah ayat 17 ketika Yesus berkata kepada Petrus, "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga..." Ayat ini menyentuhku karena sesungguhnya itu adalah gambaran pertemuanku dengan Tuhan melalui meditasi Kitab Suci. Aku mengenal Kitab Suci dari kecil, dari orang tua, dari para rohaniwan dan rohaniwati yang kukenal, dari sekolah dan dari guru-guruku. Tapi Ia menyatakan FirmanNya yang hidup itu melalui perjumpaan kami di dalam kelompok meditasi Kitab Suci. Ia datang, menyentuh kami satu per satu sesuai dengan kebutuhan kami masing-masing. Satu ayat yang sama tidak selalu menyapa dengan sapaan yang sama ke setiap anggota kelompok. Satu ayat yang sama bisa menyapa orang yang sama di waktu yang berbeda dengan sapaan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakui Yesus sebagai Mesias, sebagai penyelamat ketika sedang terpuruk dan tidak bisa bangkit bisa jadi bukan hal yang mudah. Tapi bila kita mampu menjadikanNya Mesias dalam keterpurukan itu, niscaya pertolonganNya akan datang. Bukan dengan meniadakan kesulitan itu, tetapi dengan menguatkan kita untuk melaluinya seperti unta yang mampu lolos dari lubang jarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang sudah menanti di rumah Bapa pernah mengingatkan bahwa tidak ada hal yang kebetulan. Setiap perjumpaan bukan hal yang kebetulan. Setiap peristiwa bukan hal yang kebetulan terjadi. Walaupun mencoba untuk mencariNya melalui meditasi, tetapi hadirNya tidak selalu terasakan. Seperti Nabi Elia yang mencariNya di tengah kemegahan, seringkali tidak mampu kutemukan hadirNya.  Tetapi Ia hadir. Ia menuntunku tanpa bunyi genderang dan sangkakala kedatanganNya. Kemarin saya menerima dari seorang teman yang juga masih tetanggaku sebuah buku dari Romo Thomas Hidya Tjaya, SJ. Ph.D. berjudul "Peziarahan HATI". Buku itu bagaikan menjawab beberapa pertanyaan, dan kebimbangan yang sedang kugumuli. Ia yang dahulu kutuding diam, ternyata sekarang begitu rajin menjawab pertanyaanku. Rupanya dahulu aku selalu bertanya dalam keriuhan pikiranku, tidak kubiarkan keheningan membawaNya mendekat padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari halaman 45 buku itu kutemukan pertanyaan yang sebenarnya juga menggangguku, "Apakah yang sesungguhnya kita cari?" Penulis buku itu mengatakan bahwa kita lupa kalau tujuan hidup kita yang sebenarnya adalah untuk percaya dan mengasihi Tuhan dalam melakukan setiap kegiatan yang kita lakukan, dan bukan pertama-tama melakukan kegiatan yang sebanyak mungkin. Tentunya juga bukan untuk menjadi yang terbaik di dalam setiap kegiatan yang saya ikuti. Itu adalah nilai-nilai yang kupelajari dari dunia, bukan dariNya. Hal ini memperkuat bisikanNya dalam menjawab kegalauanku mengenai talenta yang sudah kutuliskan di tulisan "&lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/06/membaca-talentanya.html"&gt;Membaca TalentaNya.&lt;/a&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semula sebenarnya aku sudah tahu bahwa aku mencariNya. Tetapi ketika berhadapan denganNya akankah aku sanggup dengan tegas menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup"? Dari halaman 88 buku Peziarahan HATI, aku menemukan satu kalimat penting, "Hati sebagai kunci penerimaan segala pemberian." Ketika kita tidak membuka hati untuk menerima pemberianNya, bagaimana pemberian itu bisa kita terima dan miliki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 100 saya menemukan penguatan atas perjalanan meditasi Kitab Suci yang selama ini menguatkanku. Katanya, &lt;blockquote&gt;Kitab-kitab suci ditulis pertama-tama bukan untuk dihafalkan sampai ke detail-detailnya, melainkan untuk digunakan sebagai semacam peta perjalanan rohani dan untuk menyadarkan kita betapa Tuhan mengasihi dan menyayangi kita sepanjang zaman. Orang yang mengetahui seluruh isi Kitab Suci, bahkan sampai detail terkecilnya sekalipun belum tentu mengalami perjalanan tersebut, sama seperti orang yang tahu betul peta daerah tertentu belum tentu pernah mengunjungi dan mengelilingi sendiri wilayah tersebut. Demikian pula, orang tahu dari Kitab Suci mengenai karya-karya besar Tuhan pada orang-orang zaman dahulu belum tentu mengalami sendiri karya besar Tuhan dalam dirinya. Untuk mengalami semuanya itu, manusia harus membuka hatinya pada Tuhan. Pada akhirnya hati manusialah yang harus menapaki perjalanan rohani ini. Di sinilah Anda diajak untuk mengalami sendiri perjumpaan pribadi Anda dengan Tuhan melalui hati. Melalui perasaan-perasaan hati, Anda diundang untuk merasakan langsung kasih Tuhan yang memang tersedia bagi semua makhlukNya. Pengalaman seperti ini akan membuat Anda mengenal Tuhan secara langsung karena memang itulah yang Tuhan kehendaki.&lt;/blockquote&gt;Inilah pengalaman batin yang kelompok meditasi Kitab Suci kami alami. Pengalaman itulah yang membuat kami merasakan kehadiran meditasi Kitab Suci menjadi kebutuhan yang mendasar bagi kami. Tanpa meditasi terasa bagai batere yang perlu diisi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;charge&lt;/span&gt;). Pengalaman ini yang belum terasa melalui meditasi kristiani. Bisa jadi apa yang dikatakan dalam halaman 110-111 buku Romo Thomas ini merupakan jawabannya. Aku belum mampu berdoa menggunakan hati. Ketika berdoa seringkali kita ingin agar doa kita cepat selesai supaya kita dapat melakukan kegiatan-kegiatan lain yang sudah menanti. Ketika kita berdoa dengan hati maka kita berdoa bukan lagi karena keharusan dan kewajiban, juga bukan karena kita membutuhkan hiburan dan bantuan mengingat banyaknya kesusahan yang kita alami, melainkan karena kita rindu pada Tuhan yang mengasihi dan menyayangi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapakah Aku ini?" Bagiku Ia adalah Guru, Sahabat, dan Mesias.  Dan aku tidak ingin di akhir perjalanan nanti Ia menjawabku, "Kapan engkau mendengarkan ajaranKu? Kapan engkau menjadi sahabatKu? Mengapa engkau tak mau kuselamatkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa,&lt;br /&gt;temani perjalananku,&lt;br /&gt;temani pergumulanku,&lt;br /&gt;bukakan hatiku bagi hadirMu,&lt;br /&gt;dan biarkan hatiku mengenalMu,&lt;br /&gt;dan mengenal jalan kebenaranMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-7445172420074817640?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/7445172420074817640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/siapakah-aku-ini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7445172420074817640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7445172420074817640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/siapakah-aku-ini.html' title='Siapakah Aku ini?'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-918216206143132971</id><published>2011-08-12T16:06:00.000-07:00</published><updated>2011-08-12T18:06:55.880-07:00</updated><title type='text'>Iman yang Benar, Pengharapan yang Teguh, dan Kasih yang Sempurna</title><content type='html'>Perjalanan meditasi kami Jumat yang lalu menggunakan Injil Matius 15: 21-28 tentang perempuan Kanaan yang percaya. Hal yang sangat menyentuh hatiku adalah kerendahan hati perempuan Kanaan itu. Bagiku, perkataan Yesus kepada perempuan itu sangat keras dan kejam, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Alih-alih tersinggung disamakan dengan anjing, perempuan itu menjawab, "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus akhirnya menjawab, "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki." Seketika itu juga anaknya sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui meditasi hari ini saya diingatkan kembali akan pentingnya untuk mengetahui apa yang kita kehendaki. Terkadang saya salah menerjemahkan arti perkataan Bunda Maria, "Terjadilah padaku menurut kehendakMu." Perkataan Bunda Maria itu seringkali kuterjemahkan dengan meniadakan kehendakku. Seperti sungai yang mengalir saya berjalan menelusuri kehidupan ini. Satu-satunya muara yang kuketahui hanyalah Tuhan. Kapan kutiba di muara itu hanya Ia juga yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi seperti juga perumpamaan talenta (Matius 25: 14-30) dan orang yang bekerja di kebun anggur (Matius 20: 1-16) Tuhan ingin kita menghasilkan sesuatu dalam kehidupan ini. Sebagai sahabatNya, bukan hambaNya yang senantiasa menantikan perintah. Gandakanlah talentamu, adalah perintah yang diberikanNya tanpa secara khusus memberitahukan apa yang harus dilakukan. Dalam perumpamaan tentang uang mina, penulis Injil Lukas menggunakan perkataan, "Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali," tetapi berdagang punya banyak cara dan juga bisa memilih banyak macam barang atau jasa yang diperdagangkan. HambaNya bukan lagi sekedar budak yang harus menuruti perintah tuannya, melainkan manusia merdeka yang boleh memiliki kehendak dan keinginan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi manusia merdeka harus mengetahui kehendak pribadi kita, yang tetap dalam restu dari Tuhan. Mengenali keinginan pribadi membuat kita mampu meminta kepadaNya. Perempuan dari Kanaan ini seperti yang dikatakan Yesus dalam Injil Lukas 11:8 "Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak tahu malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu kita sadari adalah seringkali kita menginginkan hasil yang instan. Apa yang kita harapkan ingin kita peroleh hari ini juga. Tuhan memiliki jalan dan caraNya sendiri dalam mengabulkan permohonan umatNya. Berlian perlu diasah untuk memperlihatkan kilaunya, demikian juga Ia mengasah kita untuk mendapatkan hasil kilau yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya iman yang besar yang kita butuhkan, melainkan juga iman yang benar. Seorang rekan membagikan permohonan St. Fransiskus Asisi akan iman yang benar, pengharapan yang teguh, dan kasih yang sempurna. Perempuan dari Kanaan itu telah memiliki iman yang benar, dan ia teguh dalam berharap kepada Yesus. Bahkan sesungguhnya permohonan itu disampaikan oleh perempuan dari Kanaan itu karena kasihnya kepada anaknya yang menderita karena kerasukan setan. Mungkin itu adalah juga bentuk kasih yang sempurna, yang membuat dia dengan tabah menerima penghinaan sebagai anjing yang menginginkan rempah-rempah yang jatuh dari meja. Kasih yang tidak memikirkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penutup kali ini saya ingin ikut dengan doa St. Fransiskus Asisi yang saya dapatkan dari portal &lt;a href="http://http//ofm.or.id/butir-renungan-transitus-doa-fransiskus-di-hadapan-salib-san-damiano/"&gt;OFM&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Doa di Hadapan Salib&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Allah yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan,&lt;br /&gt;terangilah kegelapan hatiku&lt;br /&gt;dan berilah aku&lt;br /&gt;iman yang benar,&lt;br /&gt;pengharapan yang teguh,&lt;br /&gt;dan kasih yang sempurna&lt;br /&gt;berilah aku, ya Tuhan,&lt;br /&gt;perasaan yang peka&lt;br /&gt;dan budi yang cerah,&lt;br /&gt;agar aku mampu melaksanakan perintah-Mu&lt;br /&gt;yang kudus dan yang takkan menyesatkan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-918216206143132971?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/918216206143132971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/iman-yang-benar-pengharapan-yang-teguh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/918216206143132971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/918216206143132971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/iman-yang-benar-pengharapan-yang-teguh.html' title='Iman yang Benar, Pengharapan yang Teguh, dan Kasih yang Sempurna'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-4424867005988053896</id><published>2011-08-09T14:02:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T14:43:52.204-07:00</updated><title type='text'>"Jangan takut, datanglah kepadaKu"</title><content type='html'>Perayaan Misa Kudus hari Minggu, 7 Agustus 2011 menjadi istimewa bagiku sekeluarga karena hari itu adalah peringatan 45 tahun pernikahan orang tuaku. Dari bacaan I, Kitab I Raja-raja 19:9a, 11-13a, yang paling menarik dari bacaan ini adalah pertanyaan Tuhan kepada Nabi Elia, "Apakah kerjamu di sini, Elia?" Elia merasa bekerja hanya demi Tuhan, tetapi apa yang dikerjakannya bukan apa yang Tuhan inginkan ia kerjakan. Kata Tuhan kepadanya, "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan Tuhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu angin besar dan kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit batu. Tidak ada Tuhan di situ. Lalu datanglah gempa, tetapi tidak ada juga Tuhan di situ. Kemudian muncullah api, dan tetap tidak ada Tuhan di situ. Ketika angin sepoi-sepoi basa berhembus, Elia bisa merasakan kehadiranNya. Kita seringkali mencari Tuhan dalam perbuatan yang besar dan menakjubkan, tetapi seperti Elia, kita tidak akan menemukanNya di sana. Ia datang dalam hal-hal yang tampak sederhana, tidak bombastis, dan terlihat biasa. Angin sepoi basa yang berhembus itu membawa rasa nyaman, begitulah hadirNya membawa rasa nyaman di hati. Bagaimana kita mengenali kehendakNya, bagaimana ketakutan kita disirnakan merupakan karunia dariNya. Tetapi kita perlu memiliki kemauan untuk datang padaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Injil Matius 14:22-33 menceritakan bagaimana Petrus dengan imannya mampu berjalan di atas air menuju pada Yesus. Di tengah jalan kebimbangan menggayutinya dan memberatkan langkahnya. Tiupan angin kemudian membuatnya tenggelam sehingga ia berteriak, "Tuhan, tolonglah aku!" Iman kita terkadang seperti Petrus yang mengalami kebimbangan dan kehilangan kepercayaan dalam menjalankan perintah-perintahNya. Padahal Ia memanggil dengan sangat menguatkan, "Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!" , lalu disambungNya, "Datanglah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua kesempatan yang berdekatan ini saya diberikan penguatan dengan ucapanNya, "Jangan takut!" Kehidupan di zaman ini terkadang memang penuh dengan ketakutan. Kehadiran kehidupan modern yang canggih dan serba cepat membuat hidup terasa semakin kencang berlari. Tuntutan kehidupan seakan menghabiskan waktu dan energi kita yang berlari di dalamnya. Kekhawatiran akan masa depan, terutama bagi anak-anak yang dipercayakanNya. Kekhawatiran akan ketidak mampuan menyenangkan orang tua yang sudah menghidupi dan membesarkan. Kekhawatiran akan kehabisan waktu tanpa pernah melakukan sesuatu apapun yang berarti. Semua itu terkadang mendera kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bacaan di atas menyapaku dengan mengingatkan betapa Tuhan tidak selalu hadir dalam kemegahan, kebesaran, dan tindakan-tindakan yang luar biasa. Ia hadir dengan sederhana tapi menyejukkan. Menjadi berarti bisa jadi menjadi orang yang tidak berarti tetapi mampu membagikan rasa nyaman pada sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan takut, datanglah kepadaKu," merupakan penguatan bahwa Ia yang memanggil dan Ia akan membantu kita menjalani perjalanan itu, semustahil apapun tampaknya, selama kita senantiasa percaya kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa Yang Maha Baik,&lt;br /&gt;Besar kasihMu bagi kami,&lt;br /&gt;manusia yang senantiasa meragu dan ketakutan,&lt;br /&gt;Indah cintaMu yang menguatkan,&lt;br /&gt;menghalau keraguan dan ketakutan,&lt;br /&gt;Tumbuhkanlah terus iman kami,&lt;br /&gt;agar tiada tenggelam kami karena kurang percaya&lt;br /&gt;hapuskan kebimbangan kami&lt;br /&gt;ulurkan tanganMu dan bimbing kami,&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-4424867005988053896?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/4424867005988053896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/jangan-takut-datanglah-kepadaku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4424867005988053896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4424867005988053896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/jangan-takut-datanglah-kepadaku.html' title='&quot;Jangan takut, datanglah kepadaKu&quot;'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5060060650179232946</id><published>2011-08-05T15:50:00.000-07:00</published><updated>2011-08-05T16:20:30.780-07:00</updated><title type='text'>"Berdirilah, jangan takut!"</title><content type='html'>Injil Matius 17:1-9 menceritakan tentang Yesus dimuliakan di atas gunung. Ayat emas yang menyentuhku hari ini ada di ayat 7 ketika Yesus berkata, "Berdirilah, jangan takut!" Petrus dan murid-murid lain yang menyaksikan Yesus dalam kemuliaan sedang bercakap-cakap dengan Musa dan Elia menginginkan agar kebahagiaan itu tidak berlalu. KemuliaanNya yang bersinar membawa kedamaian yang nyaman di hati murid-murid itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa damai itu pula yang kucari dalam perjalanan mencariNya. Tetapi kehidupan senantiasa memiliki kebahagiaan dan kesedihan, sementara manusia senantiasa memiliki kekhawatiran. Manusia seringkali jatuh ke dalam kesedihan karena terlalu memperhatikan kekhawatirannya. Pikiran yang khawatir akan mengakibatkan pilihan tindakan yang salah. Seorang teman mengirimkan renungan harian yang mengatakan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Menganggap kegembiraan itu kekal akan menjadikan manusia menjadi sombong dan lupa diri. Sebaliknya, bila mengira kesedihan itu langgeng maka iri hati, putus asa, dan tidak berpengharapan menjadi teman seperjalanan. Dalam kebahagiaan kita bisa jatuh, dalam kesedihan kita juga bisa terpuruk. Yesus datang menawarkan kekuatan, "Berdirilah, jangan takut!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia seringkali kita terjatuh ke dalam dosa, baik yang tidak sengaja maupun yang sengaja. Rasa bersalah, rasa takut, kekhawatiran, semuanya dihapuskanNya dengan ajakan untuk berdiri kembali. Berdirilah, tinggalkan ketakutan itu, bersiaplah melangkah kembali. Bukan kebahagiaan semata yang dijanjikanNya, karena Ia sendiri berkata bahwa Anak Manusia akan menderita, tetapi penyertaanNya dalam kehidupan kita akan menemani dan menguatkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu yang mempunyai anak kecil sangat tahu arti perkataan ini, "Berdirilah, jangan takut!" Ketika anak baru mulai belajar berdiri, mereka sangat ketakutan akan jatuh. Ibu biasanya membantu memberi semangat, terkadang membantu menopangnya. Ketika anak itu mulai belajar berjalan, sekali lagi ia takut terjatuh. Kembali lagi pengasuhnya memberi semangat untuk berdiri dan mencoba lagi, terkadang membantu menitahnya. Lalu, anak itu mulai belajar naik sepeda...dan jatuh kembali menjadi momok yang menakutkan. Semangat untuk bangkit kembali dan mencoba lagi menjadi sumber kekuatan untuk meneruskan pembelajaran bersepeda hingga mahir. Hampir semua keahlian memerlukan kegagalan sebelum mencapai keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SentuhanNya yang menguatkan, dan ajakanNya untuk kembali berdiri menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk senantiasa bangkit kembali. Dalam perjalanan ke bukit Golgota, Yesus juga terjatuh tiga kali, tetapi Ia tidak membiarkan kesakitanNya menghentikan langkahNya yang sudah direncanakan Bapa. Ketika kita jatuh, ingatlah bahwa tanganNya senantiasa ada di sana, menawarkan bantuan sambil menguatkan, "Berdirilah, jangan takut!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa yang Maharahim,&lt;br /&gt;terima kasih atas pengampunanMu,&lt;br /&gt;atas kekuatan dan bantuan yang senantiasa Dikau berikan&lt;br /&gt;atas contoh dan ketabahan yang luar biasa dari PutraMu,&lt;br /&gt;temani kami anakMu...&lt;br /&gt;agar berani dan mampu untuk senantiasa bangkit kembali,&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5060060650179232946?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5060060650179232946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/berdirilah-jangan-takut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5060060650179232946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5060060650179232946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/berdirilah-jangan-takut.html' title='&quot;Berdirilah, jangan takut!&quot;'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5230605342224198842</id><published>2011-08-04T23:30:00.000-07:00</published><updated>2011-08-05T00:11:19.802-07:00</updated><title type='text'>Apakah yang kamu cari?</title><content type='html'>Dari bacaan Injil Yohanes I: 35-39, saya terkesan pada dua orang murid Yohanes Pembaptis yang pergi mengikuti Yesus. Yohanes hanya berkata, "Lihatlah Anak Domba Allah!" Kedua murid mendengar apa yang dikatakannya dan mereka pergi mengikuti Yesus. Hal yang pertama saya jadikan catatan adalah suara hati. Yohanes tidak menyuruh kedua orang itu mengikuti Yesus, tetapi mereka tergerak untuk pergi mengikutiNya. Suara hati merupakan sesuatu yang sangat penting dalam mencari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;discernment&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yesus menengok ke belakang dan melihat mereka mengikutiNya, Ia bertanya: "Apakah yang kamu cari?" Pemimpin meditasi hari ini membacakan sepenggal catatan Romo Siriakus Maria Ndolu, OCarm. yang diambil dari bukunya "Meditasi Kristiani, Jalan Sederhana Menjumpai Allah." Renungan dari Romo Siriakus kebetulan mempertegas pertanyaan yang sebelumnya sudah menjadi pemikiranku, "Apa yang aku cari dalam kehidupan ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kutipkan tulisan Romo Siriakus yang menarik perhatian saya pagi ini. &lt;blockquote&gt;"Apakah yang kamu cari pagi ini?" Tidak mudah memang untuk dijelaskan dengan kata-kata. Tetapi ini adalah pertanyaan yang mengosentrasikan kita; pertanyaan yang memfokuskan perhatian kita - yang membuat Anda berefleksi, yang membuat Anda bertanya diri, tentang nilai-nilai Anda, tentang jalan hidup Anda, tentang bagaimana Anda menggunakan waktu atau uang Anda atau relasi-relasi Anda. Apakah itu adalah nilai-nilai yang real, prioritas-prioritas yang nyata di dalam kehidupan Anda? Jadi pertanyaan Yesus ini bukanlah pertanyaan yang Anda jawab satu kali untuk selamanya. Ini adalah pertanyaan yang perlu Anda dengarkan setiap hari.&lt;/blockquote&gt;Yohanes Pembaptis tahu siapa yang dicarinya ketika ia bertemu dengan Yesus. Ia tidak mempermasalahkan bahwa muridnya kemudian pergi menjadi murid Yesus. Ia tidak terjebak pada kebanggaan diri yang berlebih. Ia yang membaptis Yesus dengan air, tetapi Bapa di surga yang membaptis Yesus dengan Roh Kudus, "Lihatlah Anak Domba Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang kamu cari?" Itu adalah pertanyaan yang akhir-akhir ini juga terus menjadi pemikiranku. Ketika manusia lebih mengukur segala sesuatu dengan keberhasilan duniawi, maka tidak jarang benturan antara idealisme dan kebutuhan menjadi sesuatu yang lazim. Keinginan melayani melalui pendidikan, seringkali berbenturan dengan nilai penghargaan yang diberikan sekolah bagi guru-gurunya. Kehadiran blog yang membantu untuk berbagi, terkadang juga menyimpan jebakan dengan keinginan untuk dikenal, atau bisa juga untuk mendapatkan manfaat ekonomi. Bagaimanapun manusia tidak hanya membutuhkan Roti yang Hidup, melainkan juga membutuhkan roti harian yang duniawi. Ketika kita memiliki sebuah keluarga, maka kebutuhan pribadi yang masih bisa ditekan terkadang tertutupi oleh kebutuhan anak-anak yang sulit untuk ditolak. Belum lagi kebutuhan akan eksistensi diri merupakan sesuatu yang manusiawi tetapi tidak jarang merupakan batu sandungan dalam ketulusan pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan bagi lingkungan yang seringkali hanya memunculkan wajah  pengurus lingkungan yang itu-itu saja, tidak lepas dari benturan  kebutuhan waktu untuk keluarga. "Apa yang kamu cari?" Ketika pelayanan  di rumah belum juga sempurna, apakah kita perlu melayani ke luar? Adakah  kesempurnaan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencariMu Bapa,&lt;br /&gt;Mencari kedamaian di pangkuanMu,&lt;br /&gt;Ketika rasa haus dan lelah mendera....&lt;br /&gt;Aku mencariMu,&lt;br /&gt;Ke seberang benua daku mencari,&lt;br /&gt;Ke balik lembar-lembar buku daku menelisik,&lt;br /&gt;HadirMu&lt;br /&gt;Bagai mata air yang menyejukkan jiwa,&lt;br /&gt;Ada di balik hati terdalam&lt;br /&gt;Di seberang detakan jantungku,&lt;br /&gt;dalam keheningan diam....&lt;br /&gt;Ketika kepasrahanku membuatMu membelai dan menyapaku...&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5230605342224198842?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5230605342224198842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/apakah-yang-kamu-cari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5230605342224198842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5230605342224198842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/08/apakah-yang-kamu-cari.html' title='Apakah yang kamu cari?'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5608338137677113413</id><published>2011-07-29T15:05:00.000-07:00</published><updated>2011-07-29T16:14:29.205-07:00</updated><title type='text'>Marta, Maria, Lazarus, dan Yesus</title><content type='html'>Melalui Injil Yohanes 11:19-27 kami diajak untuk menghadiri peristiwa duka dalam keluarga Marta dan Maria. Lazarus, adik mereka tercinta, berpulang dalam usia yang masih cukup muda. Yesus pada saat itu sangat terkenal sebagai penyembuh. Marta dan Maria sudah mengirimkan kabar sakitnya adik mereka dengan harapan Yesus datang menyembuhkannya. Anehnya, Yesus justru menunggu dua hari sebelum berangkat ke Yudea. Ia berangkat justru ketika Ia mengatakan bahwa Lazarus sudah tiada. (Latar belakang lengkap ada di Yoh 11:1-44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama perjalanan Yesus kembali ke Yudea, bukan perjalanan tanpa resiko. Para murid merasa cemas akan kemarahan orang Yahudi yang ingin menghakimi Yesus. Tetapi Yesus tetap pergi. Perjalanan itu memakan waktu dua hari lamanya sehingga Yesus baru tiba empat hari setelah Lazarus meninggal. Lazarus sudah berada di dalam kuburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal menarik yang saya peroleh dari meditasi hari Jumat ini. Marta dan Maria kedua-duanya menyatakan hal yang sama ketika mereka bertemu dengan Yesus, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." Menarik sekali melihat pribadi Marta yang aktif, yang dari bacaan Lukas 10:38-42 seakan melupakan bagian terbaik dalam kehidupan yaitu sabda Allah, justru tampak lebih mantap dengan iman dan kepercayaannya pada Yesus. Hal yang manusiawi timbul dari perbedaan makna perkataan Marta, "Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepadaMu segala yang sesuatu yang Engkau minta kepadaNya." dengan pernyataannya setelah Yesus memastikan bahwa Lazarus akan bangkit, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Ketika ia percaya bahwa apapun yang Yesus minta akan dikabulkan Tuhan, tetap saja segi manusiawinya mendorong untuk lebih mempercayai hal yang masuk akal, kebangkitan pada akhir zaman. Suatu hal yang benar sesuai iman walaupun secara logika belum terjamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat emas yang sangat kuat adalah perkataan Yesus, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Marta menjawab, "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekali lagi menyatakan kepercayaannya pada Yesus, Marta pergi menemui Maria dan mengatakan bahwa Yesus memanggil Maria. Dari segi manusia, rasanya ini adalah salah satu caranya untuk meminta pada Yesus. Bagi Marta, ucapan Yesus yang mangatakan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil darinya, menunjukkan bahwa Yesus berkenan pada tindakan Maria. Bagi saya, ada perasaan bahwa Yesus lebih mengasihi Maria daripada Marta, sehingga ia meminta Maria menemui Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan Marta ini seakan menguatkan permintaanNya untuk berdoa dan meminta kepadaNya. "Mintalah maka akan engkau peroleh selama engkau percaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi manusia Yesus juga tampil dalam kisah ini. Walaupun Ia dengan sengaja memperlambat kedatanganNya agar dapat membangunkan Lazarus dari "tidur"nya, tetapi ketika melihat Maria yang menangis masygullah hatiNya. Kemudian ketika ada dari orang Yahudi yang mencela karena Yesus tidak mampu menyembuhkan Lazarus sehingga ia tidak perlu meninggal, sekali lagi masygullah hatiNya. Padahal sebelumnya Ia menyatakan, "...syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya." Ia juga pernah mengatakan bahwa, "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." Ia sudah mengetahui tujuan dan akhir dari kisah ini, tetapi tetap saja hatiNya masygul karena manusia yang tidak percaya. Selama perjalanan bersama kelompok meditasi saya melihat bagaimana musibah seringkali merupakan jalanNya untuk membentuk manusia. Ketika masalah dan pergumulan hidup menempa dan membentuk kita menjadi lebih sabar, dan lebih pasrah kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan kelompok doa yang juga mejadi sarana untuk saling menguatkan memang merupakan salah satu faktor pendorong kami untuk kembali datang dalam keheningan bersamaNya. Terkadang tidak mudah untuk menyediakan waktu untuk berkumpul bersama, tetapi bagaimanapun dalam persekutuan itu lebih mudah untuk diam dalam keheningan bersamaNya daripada dalam kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lain yang saya peroleh dari perjalanan kelompok meditasi kami, suatu pesan yang pernah disampaikan oleh seorang teman yang kini sudah bahagia di rumahNya, bahwa tidak ada pertemuan yang kebetulan. Tuhan ingin memakai kami menjadi alat bagiNya untuk memuliakan namaNya. Sama seperti Lazarus yang dalam kisah ini sangat pasif, hanya menjadi obyek yang tertidur dan kemudian dibangunkan, ada kalanya peran kita sangat kecil, ada kalanya sangat aktif seperti Marta. Mencari keseimbangan dalam kehidupan kita, menyeimbangkan antara tuntutan kehendak bebas dengan kepasrahan kepadaNya, antara keaktifan pelayanan dengan penyerahan diri dalam doa hening. Keseimbangan Marta yang melayani dan Maria yang diam mendengarkan sabdaNya merupakan tantangan dalam mencari kehendakNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih atas keluarga yang menjadi bagian kehidupan kami,&lt;br /&gt;Terima kasih atas teman-teman yang Kau hadirkan dalam hidup kami,&lt;br /&gt;Terima kasih atas pergumulan dalam keluarga yang menguatkan iman kami,&lt;br /&gt;Terima kasih atas pergumulan dalam pertemanan yang menempa kesabaran dan kerendahan hati kami,&lt;br /&gt;Terima kasih karena Engkau selalu perduli,&lt;br /&gt;Engkau senantiasa hadir dan mengetahui keadaan kami,&lt;br /&gt;Tetapi pertolonganMu akan datang pada waktuMu,&lt;br /&gt;untuk menguatkan iman kami,&lt;br /&gt;untuk menyatakan kemuliaan Allah.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5608338137677113413?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5608338137677113413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/07/marta-maria-lazarus-dan-yesus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5608338137677113413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5608338137677113413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/07/marta-maria-lazarus-dan-yesus.html' title='Marta, Maria, Lazarus, dan Yesus'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-8419477096692663099</id><published>2011-07-22T00:44:00.000-07:00</published><updated>2011-07-22T16:40:33.460-07:00</updated><title type='text'>Arti Kerajaan Allah</title><content type='html'>Mulai hari Jumat ini saya tidak ingin dibuat bimbang oleh metode meditasi. Biarlah Roh Kudus yang membimbing perjalanan kelompok kami. Peringatan untuk ingat meminta pertolongan kepadaNya kembali menguat. Satu hal yang terbersit dalam keheninganku hari ini adalah kalimat "Kamulah sahabat-sahabatku, kamu bukanlah hamba lagi." Sebagai hambaNya saya senantiasa menantikan perintah dan petunjuk. Sebagai sahabatNya, saya diminta untuk berkehendak bebas tanpa merugikan Sahabat saya itu, dan senantiasa mencariNya dalam setiap kelemahan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bersitan perkataanNya yang kuat menyentuhku itu, ada juga sebuah pertanyaan yang diberikan oleh pemimpin meditator hari itu yang membuat kami menjelajah ke dasar hati kami. "Apakah arti kerajaan Allah bagimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata semua peserta meditasi menyatakan hal yang hampir serupa. Menurut kami, kerajaan Allah adalah kedekatan dengan Tuhan yang memberikan rasa damai, tenang, dan bahagia. Saya pribadi pernah sekali merasakan kebahagiaan penuh yang mengalahkan derita dunia ketika hening berpasrah kepadaNya, justru ketika saya belum mengenal istilah meditasi. Hal ini juga yang menguatkan dalam perjalanan pencarianNya bersama meditasi kristiani walaupun kesegaran instan dari meditasi ini tidak langsung terasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi ini ketika membaca Matius 13:24-30 maka sekali lagi terbaca mengenai hal kerajaan sorga seumpama orang yang menabur benih yang baik di ladangnya, tetapi musuh-musuhnya datang menebarkan benih ilalang di sana. Benih ilalang bisa tumbuh bersama dengan benih yang baik, bisa juga mematikan benih yang baik. Kita yang ditanami benih yang baik, sepatutnya memperkuat akar dan mengambil air kehidupan dariNya untuk terus tumbuh dan berbuah banyak. Semoga akhirnya benih yang baik bertumbuh di dalam kita dan ilalang yang mengganggu itu tidak mempengaruhi kelimpahan buahnya. Semoga akhirnya ketika saat panenNya tiba, kita memperoleh lebih banyak tunaian daripada ilalang. Dengan tunaian berlimpah kita memasuki kerajaanNya dan duduk bersamaNya sebagai sahabatNya, sebagai putra dan putriNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih telah menerima kami sebagai sahabatMu,&lt;br /&gt;kami manusia lemah karena daging,&lt;br /&gt;yang senantiasa membutuhkan dukungan kekuatan dariMu,&lt;br /&gt;yang senantiasa membutuhkan curahan air hidupMu.&lt;br /&gt;Berkati perjalanan kami ya Bapa,&lt;br /&gt;Temani kami dalam kekhawatiran dan pergumulan di dunia,&lt;br /&gt;Agar benih yang Kau tanam bisa terus bertumbuh dan berbuah.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-8419477096692663099?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/8419477096692663099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/07/arti-kerajaan-allah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8419477096692663099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8419477096692663099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/07/arti-kerajaan-allah.html' title='Arti Kerajaan Allah'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6387109878610641509</id><published>2011-07-21T03:17:00.000-07:00</published><updated>2011-07-21T04:04:41.541-07:00</updated><title type='text'>Berbuah dari FirmanNya</title><content type='html'>Renungan harian hari ini dari Matius 13: 10-17 yang berkisah tentang perumpamaan seorang penabur. Saya terpikat dengan Matius 13:16 "Tetapi berbahagialah matamu karena melihat, dan telingamu karena mendengar." Mengikuti meditasi dengan merenungkan firmanNya membantu saya untuk melihat dan mendengar kebenaran sabdaNya. Satu hal yang saya sadari benar adalah perlunya menggali ke dalam diri. Hal ini yang sudah saya peroleh melalui meditasi dalam tuntunan firmanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bacaan Injil di atas dilanjutkan, maka kita bisa membaca mengenai arti perumpaan tentang tanah tempat benih ditaburkan. Tanah yang berbatu-batu merupakan orang yang menerima firman dengan gembira tapi tidak membiarkan firman itu berakar di dalamnya, sehingga mudah mati. Tanah yang bersemak duri merupakan orang yang mendengar firman itu tapi dilumpuhkan oleh kekhawatiran dunia sehingga tidak mampu berbuah. Yang terakhir adalah orang yang menerima sang Firman dan berbuah di dalamNya. Meditasi ini membantuku untuk menyiangi tanah yang kusediakan untuk pertumbuhan buah-buah dari benih yang ditanamNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja, ketika ingin menuliskan renungan tadi pagi di atas, saya tidak sengaja membuka surat Yakobus 4: 13-17, "Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan." Itu adalah gambaran diriku dahulu yang membuat semua perencanaan kehidupanku. Menghadap kepadaNya untuk meminta restu, tetapi melupakan membaca kehendakNya. Mencoba mengetahui kehendakNya tapi tidak menyediakan cukup waktu hening untuk mendengar kehendakNya. Yakobus 4:14 mengatakan, "...sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah waktu berlalu bagaikan berlari. Usia bertambah, dan kehidupan berputar terus. Anak bayi menjadi besar, lalu remaja, lalu dewasa, kemudian tua... Apa yang kita lakukan hari ini akankah berarti untuk masa depan? Terkadang rasa hati ingin mengisi kehidupan dengan kegiatan yang berguna, tetapi apakah itu sungguh berguna? Bagi siapa? Menghabiskan waktu semata untuk keluarga, apakah itu kehendakNya? Bukankah itu juga bisa menjadi egoisme semata? Melayani ke luar keluarga, apakah itu yang menjadi kehendakNya? Tidakkah kebanggaan diri untuk berguna bagi banyak orang juga merupakan batu sandungan egoisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon hanya bisa bertumbuh dan berbuah bila dijaga dan diberi air. Air kehidupan sudah  disediakanNya, tanah yang baik sudah dipersiapkanNya, bagaimana menjaga pohon agar mampu berbuah melimpah membutuhkan keaktifan dari kita untuk mendekati sumber air kehidupan dan memberi kesegaran bagi pertumbuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;bagai rusa yang letih dan berbeban berat,&lt;br /&gt;anakMu mencari air kehidupan yang menyegarkan,&lt;br /&gt;yang menguatkan di kala terpuruk,&lt;br /&gt;tatkala tak mengerti pilihan yang harus dibuat,&lt;br /&gt;tatkala lelah bertubi mendera dalam pergumulan kehidupan.&lt;br /&gt;Bapa,&lt;br /&gt;yang penyayang dan pengampun,&lt;br /&gt;terima kasih atas air kehidupan yang menyegarkan ini,&lt;br /&gt;bantulah keluarga-keluarga yang membutuhkan air hidup ini&lt;br /&gt;agar mampu berbuah melimpah-limpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6387109878610641509?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6387109878610641509/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/07/berbuah-dari-firmannya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6387109878610641509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6387109878610641509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/07/berbuah-dari-firmannya.html' title='Berbuah dari FirmanNya'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-8763469917929715050</id><published>2011-07-19T03:41:00.000-07:00</published><updated>2011-07-20T04:04:07.582-07:00</updated><title type='text'>Yesus Sumber Air Hidup</title><content type='html'>Hari Senin kemarin kami berkumpul membaca Injil Yohanes 7: 37-39, Air sumber hidup. Hanya tiga ayat yang di"mamah biak", tapi intinya begitu dalam menyentuh kami. Kalimat yang banyak menyentuh peserta meditasi kami adalah "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum!" Rasa kekeringan dan kehausan akan cintaNya seringkali melanda kami terutama di saat-saat kami dipenuhi dengan kesibukan sehari-hari. Secara pribadi, saya merasa semakin sibuk melayani semakin kering terasa. Jadi, saya tersadarkan betapa Yesus sendiri yang memberikan kekuatan untuk melayani sesama. Ketika kita sibuk menjadi Marta yang melayani dan tidak ingat untuk menjadi Maria yang mendengarkan firmanNya, maka kekeringan itu bisa menghabiskan tenaga kita dalam melayani. Ada juga teman yang merasa haus ketika masalah menimpa. Biasanya memang ketika masalah menimpa, kita jauh lebih membutuhkan pegangan, dan saat itulah Air Hidup yang mengaliri relung-relung hati membawa kesegaran yang menguatkan. Beberapa teman merasakan bahwa semakin kita dekat denganNya, semakin banyak masalah yang menyapa. Mungkin memang iblis tidak senang kalau kita aman dan damai dalam kebersamaan denganNya. Tetapi bagaimanapun kita, yang mencari jalan keselamatan abadi, perlu selalu mendekatiNya dan bertumbuh di dalamNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah masalah yang paling penting dalam kehidupan manusia. Bagaimana kita menyediakan waktu bagiNya dalam segala kesibukan yang seakan tidak ada habisnya, merupakan kebutuhan utama bagi kami semua. Terkadang tugas dalam lingkungan yang harus merangkap sana sini membuat kami justru semakin jauh dariNya. Aneh bahwa tugas pelayananNya malah membuat kita kering dan jauh dariNya. Tapi itulah kenyataan, bahwa kita harus menyeimbangkan karya dan doa. Kami harus pandai memilah antara kepentingan rumah tangga dan kepentingan di luar rumah tangga tanpa menjadi korban egoisme pribadi. Doa menjadi sumber kekuatan kami. Sama seperti mata air yang menyegarkan, begitulah adalah kasihNya menyegarkan kami. Yesus menjadi sumber air hidup bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian saya pada metoda meditasi yang paling cocok sedang dalam puncak kegalauan. Jumat yang lalu, sebelum meditasi kristiani, saya meminta pencerahanNya agar tahu harus berbuat apa. Selasa sampai Kamis dalam agenda saya sudah penuh karena harus mengajar. Karena sementara ini sulit untuk mendapatkan asisten rumah tangga, maka jadwal dengan asisten pulang hari juga harus dipikirkan. Karena itu jadwal meditasi di pagi hari pada saat lowong mengajar merupakan sebuah beban yang agak mengganggu. Gairah untuk datang mendengarkan firmanNya juga jauh lebih kuat ketika saya menjalani metoda meditasi lectio divina yang memamah biak firman itu daripada sekarang. Tapi di samping itu keinginan untuk belajar disiplin dan fokus membuat saya masih terus bertahan pada meditasi kristiani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, terus terang, kebutuhan akan hadirNya yang lebih terasa dalam kehadiran rekan-rekan ketika meditasi model lectio divina menjadi semacam kehausan yang membutuhkan air hidup. Berkumpul satu kali dalam sebulan untuk meditasi dengan metoda lectio divina terasa masih kurang menyegarkan. Karena itulah saya terpikir untuk memilih, dan memohon pencerahanNya. Tidak dinyana seorang peserta Meditasi Kristiani yang sudah senior memberikan perumpamaan tentang orang yang sibuk memindah-mindahkan pohon yang ingin ditanamnya karena ingin mencoba tanah yang lebih bagus, hasilnya tidak ada pertumbuhan yang signifikan yang terjadi. Saya merasa tercolek, karena sebelumnya saya sempat ingin mengikuti meditasi bersama Romo Sudri untuk mengetahui model meditasi tanpa obyek yang dipimpin Romo. Sebenarnya memang lebih baik kembali ke akar yang sudah menyegarkan dan menguatkanku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdoa secara khusus untuk satu ujud tertentu memang merupakan hal yang seringkali aku abaikan. Kupikir Bapa selalu tahu kebutuhan anakNya, sehingga aku seringkali lalai untuk menyediakan waktu dan meminta secara khusus padaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster yang membimbing kami jarak jauh (terima kasih suster), memberikan beberapa poin penting untuk kami renungkan:&lt;br /&gt;* Yesus peduli pada kita - kita diberi tempat dalam hati-Nya&lt;br /&gt;* Kita diterima apa adanya&lt;br /&gt;* Kita dimengerti oleh-Nya&lt;br /&gt;* Kristus mengerti kesulitan/ permasalahan hidup kita lebih daripada kita mengertinya.&lt;br /&gt;* Kristus hadir ditengah keluarga kita, selama kita juga memberi tempat kepada-Nya, maka&lt;br /&gt;AIR HIDUP itu pun akan mengalir dan mengairi hidup kita&lt;br /&gt;AIR HIDUP itu adalah ROH KUDUS, ROH KRISTUS sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat menyentuh saya adalah perkataan bahwa Kristus hadir di tengah keluarga kita, selama kita juga memberi tempat kepadaNya. Bagaimana kita memberi tempat kepadaNya, dan bagaimana kita mengajarkan anak-anak untuk menyediakan tempat bagiNya, itulah yang paling penting saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KehadiranNya merupakan hal yang paling kami butuhkan, terutama di saat kami merasa letih, lelah dan berbeban berat. Setiap orang memiliki masalah yang berbeda, tapi Dia mengerti kelelahan kami semua, dan Dia menyediakan air kehidupan bagi kami semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan Yesus,&lt;br /&gt;Engkaulah Sumber hidupku,&lt;br /&gt;aku mencari-Mu hari hari ini secara lebih mendalam.&lt;br /&gt;Bersabdalah,&lt;br /&gt;sentuhlah pribadiku agar sumber air hiodupMu tetap dan terus mengalir dalam hidupku&lt;br /&gt;sehingga memancar lagi kepada sesamaku.&lt;br /&gt;Terima kasih ya Tuhan atas kebaikanMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Suster Jeanne, terima kasih untuk panduan renungan dan doanya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-8763469917929715050?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/8763469917929715050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/07/yesus-sumber-air-hidup.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8763469917929715050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8763469917929715050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/07/yesus-sumber-air-hidup.html' title='Yesus Sumber Air Hidup'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-8160142649323845850</id><published>2011-06-04T09:11:00.000-07:00</published><updated>2011-06-25T00:38:43.609-07:00</updated><title type='text'>Membaca talentaNya</title><content type='html'>Pada pembukaan Novena Roh Kudus kemarin saya mendapatkan pencerahan tentang talenta. Kebetulan pagi harinya ketika mengikuti Meditasi Kristiani, saya juga mendengarkan renungan awal yang membicarakan asas salah tempat. Para rasul yang secara profesional adalah nelayan tampaknya menjadi orang yang salah bila ditempatkan dalam pelayanan yang membutuhkan kothbah dan pelayanan rohani. Tetapi Tuhan memilih mereka untuk menjalankan tugas itu. Apakah Ia salah pilih? Yudas Iskariot mengkhianatinya, Petrus menyangkalnya, Thomas meragukan kebangkitanNya. Apakah mereka bukan orang yang tepat dalam pekerjaanNya? Tetapi Gereja sudah berkembang menjadi sedemikian besar melalui tangan-tangan nelayan yang sama sekali tidak mengerti rincian Kitab dan aturan-aturan Taurat selain pengajaran yang mereka peroleh melalui Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah mengenai talenta sebenarnya sudah pernah saya bagikan di &lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/08/mencari-wajahnya-dalam-meditasi.html"&gt;tulisan yang lain ini&lt;/a&gt;, tapi kali ini saya terhenyak karena memperoleh pengertian baru lagi mengenai talenta dariNya. Ketika Romo memberikan homilinya, tiba-tiba terbersit dalam pikiranku betapa salah saya memandang talenta itu. Selama ini saya merasa memiliki lima talenta yang tidak kukembangkan, yang tersimpan karena ketakutan tidak mampu menggandakannya. Ternyata saya disadarkan bahwa Ia menagih satu talenta yang diberikanNya padaku pada beberapa bidang tertentu. Ia tidak menagihkan lima talenta yang diberikanNya karena sama seperti para rasul bisa jadi aku akan menjalaninya secara profesional. Tetapi Ia menagih satu talenta yang diberikanNya padaku, dan tidak terlihat olehku karena kupandang sebelah mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama mengenal jurnalisme warga, saya belajar mengenali begitu banyak orang dengan berbagai latar belakang. Saya juga belajar mengenai profesionalisme dalam pekerjaan.  Perdebatan antara pekerjaan amatir atau profesional dalam jurnalisme warga membuat saya lebih memperhatikan arti kata profesional. Hal ini membuat saya lebih tersentuh atas karya-karya yang sungguh-sungguh dihasilkan secara profesional. Bukan dari profesionalisme yang setara dengan bayaran yang diterimanya, tetapi profesionalisme yang menonjolkan hasil yang terbaik dari diri sang profesional. Pekerjaan yang dikerjakan secara profesional terlihat dari hasil yang dibuahkannya. Pekerjaan yang dilaksanakan dengan hati sungguh-sungguh akan terlihat bedanya dengan pekerjaan yang dikerjakan hanya sekedar memenuhi kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan menjadi ibu rumah tangga terkadang membuatku merasa tertahan di rumah dan tidak mampu mengembangkan talenta yang diberikanNya. Ketakutan akan ketidak-mampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan di luar rumah dengan pekerjaan di dalam rumah membuat saya merasa menelantarkan talenta-talentaNya. Tetapi malam itu tiba-tiba saya tersadar bahwa bisa jadi talenta yang ditagihNya justru adalah talenta yang tidak pernah kuanggap sebagai talenta. Dalam kelemahankulah kuasaNya menjadi sempurna (baca 2 Kor 12: 1-10). Sama seperti para nelayan yang pasti merasa tidak memiliki talenta untuk mengajar dan berkothbah, tetapi ditempatkanNya di dalam tugas itu, aku juga ditempatkan dalam tugas yang semula sama sekali tidak terlihat sebagai bagian dari pengembangan talentaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pengembangan lima talenta itu hanya akan berbuah kesombongan pribadi? Bisa jadi... Dalam kelemahanku aku baru bisa tersadar betapa aku membutuhkanNya dan membutuhkan sesamaku manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Bapa,&lt;br /&gt;Engkau memberiku pencerahan&lt;br /&gt;Engkau mengajariku makna akan talenta yang Dikau tagihkan,&lt;br /&gt;Bapa,&lt;br /&gt;betapa besar cintaMu,&lt;br /&gt;betapa besar sabarMu,&lt;br /&gt;sehingga kesombonganku akan lima talenta itu tidak membuatMu marah&lt;br /&gt;justru Engkau memberikan aku pelajaran akan makna satu talenta,&lt;br /&gt;Satu talenta yang tidak dipandang manusia,&lt;br /&gt;yang terkadang membuat manusia menggugat bijaksanaMu,&lt;br /&gt;atau meragukan keadilanMu.&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;ampuni kami umatMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-8160142649323845850?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/8160142649323845850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/06/membaca-talentanya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8160142649323845850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8160142649323845850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/06/membaca-talentanya.html' title='Membaca talentaNya'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-1404866066927550870</id><published>2011-05-09T05:17:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T03:53:46.458-07:00</updated><title type='text'>Yesus Menyapa Thomas (Didimus)</title><content type='html'>Bacaan yang kami baca hari itu adalah Injil Yohanes 20: 19-31, sayang sekali tulisan panjang lebar yang sudah saya ketik ternyata tidak tersimpan oleh komputer. Ada beberapa hal menarik yang saya ingat dari pengalaman meditasi Kitab Suci hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mengapa Yesus masuk melalui pintu yang tertutup. Yang amat menarik bagi saya adalah sebuah renungan bahwa Yesus bisa masuk tanpa melalui pintu, tanpa mendapat undangan dari tuan rumah. Betapa sering kita ingin memaksakan kehadiranNya kepada orang lain, dalam kasus saya mungkin terutama kepada suami, tetapi ternyata Ia akan hadir ketika orang membutuhkanNya. KehadiranNya tidak terduga, dan tidak melalui jalan yang masuk logika manusia. Itu sebabnya saya terkejut ketika seorang teman yang tadinya cukup aktif dalam kegiatan agamanya ternyata pindah masuk Katolik. Ketika saya menanyakan alasannya, jawabannya sederhana, "Saya merasakan panggilanNya." Tidak terduga, tidak terpikir sebelumnya, dan tidak masuk dalam hitungan logika.....urusan hati memang biarlah urusanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman pribadi saya juga sama, ketika saya berseru-seru memohon kehadiranNya tidak juga terasakan hadirNya. Tetapi ketika saya terpuruk, tidak sanggup lagi menggunakan logika dan rancangan pribadi, tiba-tiba terasakan dengan kuat hadirNya. Ia hadir menemani pergumulanku. Ia hadir dalam kehadiran teman-teman dan saudara-saudaraku. Ia hadir tidak dalam kemegahan yang kurindukan, tapi Ia hadir dengan rasa damai yang menutupi segala kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang menarik perhatian adalah ketidak percayaan Thomas akan kehadiran Yesus yang dijawabNya dengan hadir kembali dan menunjukkan luka di tangan dan di lambungNya. Ketika Yesus menyuruh Thomas memasukkan jarinya ke dalam luka Yesus, ia tidak melaksanakannya melainkan langsung berseru memanggil "Tuhan". Betapa sering kita tidak mempercayai kehadiranNya dan tetap berlaku bodoh meminta bukti akan hadirNya. Thomas langsung tersadar dan bertobat. Adakah kita juga bertobat? Pada masa kini, zaman segala teknologi instan ini, kehadiran Tuhan seringkali menjadi tanda tanya lagi. Perbedaan antara teori penciptaan dengan teori evolusi membuat orang juga mempertanyakan kehadiran Tuhan. "Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya." Kita sungguh tidak pernah melihat Yesus secara langsung. Pengalaman bersama Yesus yang pernah dialami murid-muridNya juga tidak kita jalani. Kalau murid-murid biasanya mengenali Yesus ketika Ia memecah roti untuk dimakan bersama (seperti pada kisah perjalanan ke Emaus), maka pengalaman kita adalah perkenalan dengan Yesus melalui Gereja. Orang tua merupakan jembatan pertama yang mengantarkan kita masuk ke dalam Gereja. Tetapi tidak jarang kita memutuskan untuk memotong jembatan itu. Semuanya itu juga kembali ke dalam hati dan panggilanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus datang ke pada murid-murid yang ketakutan dan menyendiri. Betapa seringnya kita mengalami perasaan yang sama, kesendirian dan ketakutan, tetapi ingatkah kita kepadaNya? Murid-murid mengingatNya, dan Ia hadir. Ia kemudian juga menjanjikan penghibur dan penguat yakni Roh Kudus. Adakah kita membiarkan Roh Kudus menghibur dan menguatkan diri kita? Ataukah kita mencari kekuatan lain yang bisa dengan segera memberi kepastian dan jalan keluar, walaupun semu dan sementara sifatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan Thomas adalah keraguan manusia. Thomas atau Didimus yang juga berarti kembar, bagai menunjukkan sifat kembar manusia yang percaya namun juga peragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas kemudian menjadi murid yang paling jauh perjalanannya dalam menyebarkan kabar gembira. Kekuatan dari keraguan yang terjawab membantunya untuk tetap tegar dan berjuang ke tempat-tempat yang baru. Terkadang pergumulan dalam kehidupan ini bagaikan kehadiranNya di hadapan Thomas. Ketika terjatuh dan menatap mataNya yang letih terjatuh saat memanggul salib, merupakan jawaban akan hadirNya yang senantiasa hadir menemani perjalanan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Engkau memberikan nafas kehidupan kepada kami,&lt;br /&gt;Engkau juga yang mengambilnya kembali pada akhir waktu kami,&lt;br /&gt;Tolong kuatkan kami,&lt;br /&gt;Bantu kami belajar dari pengalaman Thomas,&lt;br /&gt;untuk tetap percaya walaupun tidak melihat,&lt;br /&gt;untuk tetap setia karena Engkau akan hadir di saat yang tepat.&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan,&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-1404866066927550870?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/1404866066927550870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/05/yesus-menyapa-thomas-didimus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1404866066927550870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1404866066927550870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/05/yesus-menyapa-thomas-didimus.html' title='Yesus Menyapa Thomas (Didimus)'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-1017170226226943613</id><published>2011-05-07T17:26:00.000-07:00</published><updated>2011-05-07T18:00:30.531-07:00</updated><title type='text'>"Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera."</title><content type='html'>Sengaja kutipan perkataan Yesus di atas kujadikan judul tulisan ini. Kutipan dari Injil Yohanes 13:27 sangat menarik perhatianku; Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang pertama, Yudas sudah menerima roti. Bagi kita sekarang ini, menerima rotiNya berarti menerima roti kehidupan, lambang tubuhNya yang dikorbankan bagi manusia. Ekaristi suci merupakan sumber kekuatan iman bagi kita. Tetapi Yudas justru kerasukan iblis  setelah menerima roti. Hal yang kedua, Yesus meminta Yudas untuk segera melakukan apa yang hendak diperbuatnya. Bila dilihat dari keMahatahuan Tuhan, maka hati Yudas bukan lagi rahasia bagi Yesus. Tetapi bila mengingat pemenuhan kehendak Allah, yaitu pengorbanan Yesus di salib, maka perbuatan Yudas merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari. Ayat di atas memang selalu menarik hati saya karena sedikit banyak juga berhubungan dengan takdir (baca juga &lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2007/04/apakah-saya-mengkhianati-tuhan.html"&gt;tulisan yang ini&lt;/a&gt; dan yang&lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2007/03/god-is-your-priority-in-life.html"&gt; ini.&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kisah ayat di atas, saya maupun beberapa orang di sekitar saya yang saya perhatikan seringkali merasakan dorongan yang kuat dari hati untuk berbuat sesuatu. Terkadang kesibukan harian membuat kami menundanya. Contohnya Ibu saya, seringkali ia merasakan keinginan yang kuat untuk menjenguk temannya yang sudah lama sakit. Karena kesibukannya terkadang ia tidak dapat segera menengoknya. Ada beberapa kali terjadi temannya berpulang sebelum dia sempat menjenguk. Karena itu perkataan di atas menjadi menyentuhku dari sisi positifnya, "Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera." Apa yang dikatakan oleh hati terkadang menjadi suatu tuntunan dari Tuhan. Bagaimana menjaga agar hati ini tetap bersih dan bebas dari kehendak pribadi yang bertentangan dengan kehendak Allah merupakan tantangan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang dibandingkan dengan Meditasi Kristiani, maka Meditasi Kitab Suci Lectio Divina masih jauh lebih membantu kehidupan rohaniku. Bisa jadi hal ini karena aku belum mampu sungguh-sungguh masuk dalam keheningan itu, bisa juga karena aku belum mampu untuk disiplin dalam meditasi. Kerinduan akan Firman yang hidup masih menjadi sebuah panggilan yang memenuhi batinku saat ini. Semoga akan tiba saatnya aku mampu mengenali kehendakNya dan menjadikan hal itu sebagai bagian dari hal yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa,&lt;br /&gt;terima kasih atas penyertaanMu selama ini,&lt;br /&gt;semoga apa yang akan aku perbuat&lt;br /&gt;adalah apa yang Dikau inginkan daku lakukan.&lt;br /&gt;Semoga aku senantiasa bersegera melaksanakan kehendakMu,&lt;br /&gt;dan tidak memberi waktu kepada iblis untuk memasuki hatiku.&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;kasihanilah kami,&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;datanglah,&lt;br /&gt;kami menantimu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-1017170226226943613?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/1017170226226943613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/05/apa-yang-hendak-kau-perbuat-perbuatlah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1017170226226943613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1017170226226943613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/05/apa-yang-hendak-kau-perbuat-perbuatlah.html' title='&quot;Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera.&quot;'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-4042150690279310810</id><published>2011-04-18T05:46:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T15:29:46.977-07:00</updated><title type='text'>Di antara lambaian palma</title><content type='html'>Sebelum memulai Meditasi Kristiani bacaan yang kami baca adalah Matius 21:1-11, Yesus dielu-elukan di Yerusalem. Kali ini waktu yang diberikan untuk sharing sebelum meditasi cukup lama, tetapi seperti peserta meditasi lama yang berasal dari kelompok Lectio Divina, saya kesulitan untuk segera masuk ke dalam sharing tanpa melalui proses meditasi kitab suci. Dalam saat hening setelah membaca kitab suci itulah bersitan-bersitan pikiran muncul dan membimbing kami untuk melihat kembali ke pojok-pojok kotor di hati kami. Masalah yang mungkin ada timbul ke permukaan dan berelasi dengan FirmanNya. Karena itulah kami bisa merasakan betapa hidup Kitab Suci ini, betapa isinya tetap sesuai untuk masa kini, bahkan untuk permasalahan yang sedang kami hadapi. Jadi meniadakan meditasi Kitab Suci dan menggantikannya dengan meditasi hening yang berbasis mantra Maranatha membuat kami merasa tercabut dari Kitab Suci yang "hidup" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya sendiri dalam proses perjalanan memahami meditasi. Yang menjadi panduan utama saya hanya satu; Tuhan adalah pusat dari Doa saya. Memahami meditasi dengan bermacam-macam metoda yang ada tampaknya akan membutuhkan waktu yang lebih panjang. Yang saat ini ingin saya lakukan hanya menuliskan proses yang berlangsung dalam perjalanan pencarian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hening dalam Meditasi Kristiani timbul sebersit pikiran mengenai ironi antara orang banyak yang ikut melambai-lambaikan daun palma dan orang yang bertanya, "Siapakah orang ini?" Keharusan untuk kembali ke pada mantra Maranatha membuat saya tidak bisa mengunyah pikiran ini. Tetapi setelah sesi meditasi berakhir tetap saja pikiran ini kembali lagi. Ketika melambaikan daun palma sambil menantikan air suci untuk memberkati daun palma yang tahun depan akan menjadi abu tanda pertobatan pada hari Rabu Abu, saya sekali lagi teringat akan pikiran itu. Juga kenyataan bahwa bisa jadi saya berada di antara orang-orang yang melambai-lambaikan daun palma mengelu-elukan Yesus, tetapi sesungguhnya saya hanyalah satu dari umat yang tidak berani jujur bertanya, "Siapakah orang ini?" Sungguh sudah kenalkah saya kepadaNya? Walau sejak bayi sudah menerima pembaptisan, sungguh tahukah saya apa yang saya ikuti dan elu-elukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yesus memasuki pintu gerbang Yerusalem, orang banyak mengikuti dan mengelu-elukan Dia. Kota menjadi heboh karena kehadiran seorang sederhana yang menaiki keledai betina (yang diiringi oleh anak keledainya). Yesus tidak hadir sebagai Panglima atau Raja yang gagah perkasa dengan kuda yang tampak kuat dan kokoh, Ia tidak hadir dengan segala kemewahan. Ia hadir dalam langkah pelan sang keledai, di bawah lambaian daun palma orang-orang yang menyambut kehadiranNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kehadiranNya melalui Tri hari Suci, umat Katolik menyiapkan tempat yang layak bagiNya dengan puasa secara Katolik dan membersihkan batin melalui Sakramen Tobat. Ketika menantikan giliran untuk masuk ke dalam kamar pengakuan, saya merasa kehilangan panduan refleksi batin yang seingat saya dulu ada di dalam buku Puji Syukur (mungkin waktu itu masih bernama Madah Bakti). Ketika menanti ini, kutipan Injil di atas juga teringat. Apakah saya menjadi seperti orang yang melambaikan daun palma tanpa benar-benar mempersiapkan hadirNya? Lambaian daun palma itu sekedar ikut meramaikan, sekedar memamerkan kepada publik bahwa saya menyambutNya? Saat itu terlontar satu hal; perlunya berhati-hati terhadap kesombongan rohani.  Kesombongan rohani merupakan jebakan yang mengerikan dalam pelayanan. Sisi manusiawi kita menginginkan pujian, tetapi pujian yang tidak dikelola dengan rendah hati bisa mengubah kita menjadi sombong. Betapa menakutkannya bila pujian dan kebanggaan yang sudah kita terima menjadi upah final yang kita terima. Markus 10:31 mengingatkan, "Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." Menerima baptisan sejak bayi tidak menjadi jaminan bahwa masa pertemuan yang panjang itu akan berbuah kalau tidak dipupuk, sementara kesombongan pribadi boleh jadi hanya akan menampakkan penampilan yang kokoh dan kekar tanpa menghasilkan satu buahpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan yang Maha Baik dan Maha Rahim,&lt;br /&gt;Terima kasih atas bimbinganMu,&lt;br /&gt;sehingga kami diberi kesempatan untuk terus memperbaiki diri,&lt;br /&gt;senantiasa Dikau didik untuk menjadi anakMu yang lebih pantas,&lt;br /&gt;dan Kau pupuk agar berbuah bagi kemuliaanMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-4042150690279310810?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/4042150690279310810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/04/di-antara-lambaian-palma.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4042150690279310810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4042150690279310810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/04/di-antara-lambaian-palma.html' title='Di antara lambaian palma'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-1628599127608790627</id><published>2011-04-12T09:13:00.000-07:00</published><updated>2011-04-14T23:27:44.115-07:00</updated><title type='text'>Komunikasi</title><content type='html'>Kelompok kami kembali berkumpul untuk Lectio Divina. Renungan Injil yang kami pakai dari Injil harian adalah Yoh 8: 1-11, Perempuan yang berzinah. Dari buku Retret Agung Umat "Mari Berbagi" kami mendapatkan panduan akan perlunya keberadaan manajemen konflik. Yang dicuplik buku panduan ini dari bacaan Injil tersebut adalah ayat 11, "Akupun tidak menghukum engkau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita melupakan betapa Tuhan tidak menghukum kita, melainkan kita sendiri yang menghukum sesama kita. Kita menjadi seperti orang Farisi yang merasa penuh dengan kebenaran dan meminta Tuhan menghukum orang dengan azab dan sengsara karena kesalahan mereka. Kita lupa bahwa balok di mata kita bisa menutupi pandangan jernih dalam permasalahan tersebut. Ketika kita menyerahkan semua permasalahan kita pada Tuhan, maka Ia akan berbicara dalam hati kecil kita mengingatkan kembali, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia orang pertama yang melemparkan batu kepada perempuan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa ayat yang menarik perhatian peserta doa kami hari itu. Ada yang menggaris bawahi pesan terakhir Yesus, "Aku pun tidak akan menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Yesus memberikan pengampunan dan menawarkan hidup baru yang bersih dari dosa, tinggal bagaimana manusia menyikapi pengampunan yang diberikanNya. Apakah kita akan bertobat dan kembali ke rumah Bapa seperti si anak bungsu, atau kita akan meneruskan hidup dalam kelam dosa yang membenamkan kita ke dalam gerbang neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengamati betapa Yesus memperhatikan ketidak adilan yang dilakukan masyarakat ke pada wanita. Betapa dalam Taurat itu hukuman hanya diberikan ke pada pihak perempuan sementara perselingkuhan senantiasa menjangkau dua belah pihak. Sebenarnya dalam hal ini Ulangan 22: 22-24 dan Im 20:10 lebih detail dalam merinci hukuman yang berlaku dalam perzinahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang seringkali wanita digambarkan sebagai makhluk yang lemah secara fisik, tetapi memiliki kekuatan yang tersembunyi. Tidak heran bila kitab Amsal 31:10-31 semuanya berisi puji-pujian untuk istri yang cakap. Sebenarnya bacaan dari kitab Amsal ini pernah membuat saya tercenung memikirkan betapa berat beban seorang istri, betapa timpang tanggung jawab jender yang ditampilkan dalam bacaan itu (atau bahkan dalam Kitab Suci). Tetapi memang dalam kenyataannya seorang istri yang kuat, terutama secara rohani, sangat berharga bagi sebuah keluarga. Seringkali tiang kehidupan sebuah rumah tangga bukan terutama dari kaum lelaki melainkan lebih kepada kemampuan pengelolaan konflik dan kesabaran dari pihak perempuan. Kalau kita mau berbicara tanpa memandang perbedaan jender, maka sebenarnya tanggung jawab tersebut berada pada kedua belah pihak. Tapi, seringkali, terutama di Asia, pihak wanita jauh lebih berat bebannya. Pola paternalistik yang ditanamkan sejak kecil membentuk keberpihakan jender yang kurang adil. Perempuan yang lebih sering bersinggungan dengan masalah pendidikan anak dalam pola ini sebenarnya bisa lebih berperan dalam membentuk budaya kesetaraan jender ataupun penghargaan terhadap kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula seorang teman yang mengomentari betapa Yesus mengambil waktu untuk diam (dan menulis di tanah) sebelum menjawab pertanyaan orang-orang Farisi itu. Teman itu lalu menarik hubungan antara kondisi emosional seseorang ketika langsung menjawab sebuah konflik atau masalah yang dihadapinya. Mengambil waktu untuk tenang atau berdoa sejenak dalam hati akan memampukan kita untuk menghadirkanNya sebagai penahan ucapan yang sia-sia. Sebuah pandangan lain juga muncul dari pemikiran yang melihat kesabaran Tuhan dalam menghadapi umatNya yang terus menerus jatuh ke dalam kelamnya dosa. Perempuan itu tahu dirinya berdosa, tapi tidak berusaha keluar dari dosa itu. Alih-alih marah dan kesal karena perempuan itu melanggar perintah Allah yang terdapat di dalam hukum Taurat, Yesus justru memberi kesempatan kepada orang-orang Farisi untuk interospeksi diri, dan kepada perempuan itu untuk merasakan kebebasan dari belenggu akibat dosanya. Setelah itu Ia mengeluarkan perintah untuk meninggalkan dosa-dosa yang membenamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perempuan dan laki-laki memiliki pola pikir dan karakter berbeda memang sungguh unik. Bagaimana Tuhan menciptakan pasangan yang berbeda karakter juga sangat unik. Boleh dikatakan bahwa Tuhan memang memberikan manusia pasangan yang sangat berbeda dengan dirinya agar mereka saling melengkapi, saling mendidik satu sama lain sehingga terlaksanalah kehendakNya. Masalah komunikasi antara suami istri menjadi sebuah topik yang menarik hari itu. Banyak hal yang bisa menjadi batu sandungan sebuah pernikahan. Seorang ibu yang sudah pernah ditinggal suaminya kembali ke rumah Bapa di surga di saat usia masih cukup muda, dan anak-anak masih cukup kecil, berpesan kepada teman-teman lainnya agar menikmati waktu yang diberikan Tuhan dalam keluarga. Sekesal apapun kita pada pasangan, pada akhirnya ketika kita ditinggalkan maka rasa kehilangan akan menyadarkan betapa sepele masalah yang menjadi sumber kekisruhan dalam hubungan rumah tangga. Demikian pula memiliki pasangan pengganti tidak akan menuntaskan masalah, karena pada dasarnya setiap orang itu berbeda dengan keinginan yang berbeda-beda. Setiap pasangan itu unik dan mereka memiliki permasalahan masing-masing yang unik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman yang lain memiliki masalah rumah tangga yang berbeda. Usia anaknya yang sudah memasuki masa remaja dan mulai terlibat dalam kisah percintaan remaja membawa dinamika lain lagi dari masalah komunikasi ini. Setiap orang memiliki pandangan berbeda untuk pendekatan komunikasi antara orang tua dan anak, atau antara orang tua dan pacar anak. Sebenarnya memang sulit untuk memberikan satu rumusan baku dalam manajemen komunikasi karena setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda, serta pola pikir yang berbeda. Orang tua, terutama ibu, sepatutnya lebih jeli mengenali pola pikir anaknya dan membantunya membangun komunikasi yang hidup dengan orang tuanya. Kehidupan zaman sekarang yang cukup memprihatinkan memang perlu diantisipasi. Bagi saya sendiri mencoba untuk tetap berkomunikasi dengan anak, dan menyerahkan semuanya ke padaNya merupakan jalan keluar yang terbaik. Saya membantu Tuhan menabur, semoga benihNya tumbuh dalam hati anak-anak saya dan akhirnya bisa berbuah bagiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus menyelesaikan masalah perzinahan tersebut dengan membuka komunikasi. Begitu jugalah yang perlu kami laksanakan dalam kehidupan rumah tangga, pekerjaan, lingkungan dan masyarakat kami. Tapi satu hal terpenting dalam menunjang komunikasi yang baik dengan sesama secara horisontal adalah komunikasi vertikal yang baik antara kita dan Allah, walaupun sesungguhnya kata "vertikal" ini tidak selalu berarti jauh ke atas, karena Ia ada di dalam hati kita. Bukalah pintu hatimu dan biarkan Ia bersemayam di sana, membantumu memilih kata dan komentar yang sesuai dengan kehendakNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih atas kesadaran akan pentingNya hadirMu&lt;br /&gt;dalam komunikasi dengan sesama,&lt;br /&gt;Engkau memberikan ketenangan dan kesabaran,&lt;br /&gt;menipiskan sikap emosional dan egoisme diri kami,&lt;br /&gt;Biarkanlah komunikasi dalam hatiku denganMu tetap hidup senantiasa,&lt;br /&gt;dan memberi penyejuk dalam komunikasiku dengan sesama,&lt;br /&gt;memberi bahan untuk memulai komunikasi dengan sesama,&lt;br /&gt;memberi kekuatan untuk mempertahankan komunikasi yang bermakna bagiMu,&lt;br /&gt;dan memperbaiki semua kelemahan kami dalam menyampaikan diri kami,&lt;br /&gt;karena Engkau Maha Tahu,&lt;br /&gt;Engkau mengenal diri kami lebih dari kami mengetahui kedalaman hati kami,&lt;br /&gt;Bimbing kami ya Tuhan,&lt;br /&gt;Ajarilah kami untuk setia berkomunikasi denganMu,&lt;br /&gt;agar kami dimampukan untuk berkomunikasi dengan baik kepada sesama kami.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-1628599127608790627?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/1628599127608790627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/04/komunikasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1628599127608790627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1628599127608790627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/04/komunikasi.html' title='Komunikasi'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6043200678579424174</id><published>2011-03-30T09:07:00.000-07:00</published><updated>2011-04-12T09:12:56.812-07:00</updated><title type='text'>Pusat Roda Doa Adalah Tuhan</title><content type='html'>Ini adalah catatan pendek dari Program Pengajaran 6 minggu Meditasi Kristiani. Tidak semua yang kudapat dari acara ini bisa kutuliskan. Satu hal yang menarik bagiku dari belajar meditasi kristiani ini adalah kehilangan kemampuan untuk merangkai kata. Aku seperti ditarik dalam keheningan, terkadang kehilangan kata dalam berdoa lisan. Mungkin juga semua ini adalah bagian dari proses yang harus kulalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendapatkan materi Roda Doa, maka satu hal yang menentramkan adalah kenyataan bahwa pusat roda doa itu adalah Tuhan Allah. Meditasi kristiani hanya salah satu dari cara berdoa yang juga berpusat kepada poros utama yaitu Allah. Jadi baik Lectio Divina, Meditasi Kristiani, maupun cara berdoa lainnya semuanya perlu berporos pada satu titik pusat: Tuhan. Cara doa seperti apa yang cocok bagi diri kita selama itu berpusat pada Tuhan, maka akan memberi kekuatan untuk bergulir dan berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melepaskan ego merupakan satu hal yang tersulit bagi manusia. Terkadang ego begitu kuat mencengkeram diri manusia. Pengalaman indah bertemu denganNya dalam keheningan malam di kala aku terpuruk dalam kesedihan yang mendalam merupakan hiburan yang sangat menguatkan bahkan walaupun tahun-tahun sudah lama berlalu. Kerinduan untuk kembali bersamaNya yang membawa aku mencari komunitas doa yang menggunakan meditasi sebagai doa. Sekarang aku menyadari ada satu hal yang menjadi penghalang kuat untuk bertemu kembali denganNya, yaitu ego manusiaku. Ketika aku merasakan hadirNya, saat itu aku benar-benar terpuruk, tidak tahu bisa berbuat apa, tidak tahu harus berkata apa. Satu-satunya yang kutahu adalah lari kepada Bunda Maria dan memohon dikuatkan oleh Sang Putra. Pasrah dan tidak memiliki kehendak apa-apa lagi, hanya ingin beristirahat dalam damaiNya. Hanya membutuhkan air kehidupanNya untuk menyegarkan hati. Tidak mudah untuk bisa kembali ke dalam kondisi pasrah yang serupa. Kondisi yang terbentuk ketika terasa semua pintu telah tertutup, semua asa sudah menguap, dan kelelahan jiwa hanya menginginkan untuk bersandar padaNya. Semoga tanpa harus berada dalam situasi serupa kepasrahan dan imanku tetap hanya bersandar padaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran bersama komunitas doa Lectio Divina yang sudah bertahun-tahun kami jalani juga merupakan suatu wadah komunitas yang menjadi tempat berbagi. Kalau dalam materi pengajaran 6 minggu disebutkan kegunaan komunitas doa adalah untuk saling menguatkan dan untuk berbagi dalam jatuh bangun membangun doa melalui meditasi, maka hal itu sudah kurasakan selama ini. Kebutuhan untuk berkumpul bersama dan merenungkan kitab suci sudah bagaikan kebutuhan sebuah batere untuk diisi kembali sebelum mampu bekerja kembali dengan optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini yang menjadi pertanyaan utama saya sebenarnya adalah kembali ke Lectio Divina atau meneruskan Meditasi Kristiani seperti yang diajarkan oleh Pater John Main OSB ini. Ada hal-hal menarik dari Meditasi Kristiani yang sebenarnya mungkin merupakan pelengkap dari hal-hal yang kuterima dari Lectio Divina, tetapi bila berpindah cara maka saya masih merasa gamang. Tatkala Lectio Divina malah mencari keheningan total, tetapi ketika mencoba Meditasi Kristiani malah kesulitan menghalau "monyet-monyet" pengganggu yang berkeliaran di pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lectio Divina membantu aku mengolah masalah kehidupan sehari-hari yang ada, sementara Meditasi Kristiani membantuku untuk melepaskan masalah itu dan meletakkannya ke dalam pangkuanNya. Sementara ini saya juga kebingungan dengan kemampuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;multi tasking &lt;/span&gt;yang menipis, sepertinya saya dipaksa untuk mencoba fokus satu demi satu hal. Beberapa teman dari komunitas merasakan hal yang sama, tetapi kami sedang mencoba untuk menjalani proses ini terlebih dahulu dengan tetap berpusat pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Engkau adalah pusat dari kehidupan kami,&lt;br /&gt;Pusat dari doa-doa kami,&lt;br /&gt;Terima kasih atas semua berkat yang Kau berikan,&lt;br /&gt;yang melalui Lectio Divina&lt;br /&gt;memampukan kami untuk mengenali betapa hidup sabdaMu&lt;br /&gt;dan melalui doa kontemplatif&lt;br /&gt;mengajarkan kami untuk hening dan menghadirkan diri di hadapanMu.&lt;br /&gt;Memampukan kami untuk mengerti betapa dekat keberadaanMu,&lt;br /&gt;Dikau senantiasa menemani di dalam hati kami,&lt;br /&gt;semoga kami mampu menjaga keputihan hati ini....&lt;br /&gt;dan memusatkan roda doa kami pada diriMu saja.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6043200678579424174?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6043200678579424174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/03/pusat-roda-doa-adalah-tuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6043200678579424174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6043200678579424174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/03/pusat-roda-doa-adalah-tuhan.html' title='Pusat Roda Doa Adalah Tuhan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6874387433076418616</id><published>2011-03-22T10:01:00.000-07:00</published><updated>2011-03-27T02:58:56.399-07:00</updated><title type='text'>Pencobaan</title><content type='html'>Sebenarnya sejak mengikuti meditasi Kristiani (yang sekarang ini) saya agak kehilangan gairah menulis. Takut memanjakan kemalasan, saya memaksakan diri menulis apa yang bisa teringat. Ketika lebih teratur mengikuti Lectio Divina saya merasakan bagaimana kata-kata mengalir begitu saja setelah saya selesai dengan meditasi kitab suci itu. Tetapi saat itu juga ada ketakutan bahwa saya menjadi tidak disiplin dalam meditasi karena begitu merasa inspirasi memenuhi kepala dorongan untuk menulis menjadi sangat besar. Membiarkan semangat menulis itu mengambil alih waktu meditasi saya rasanya juga bukan sebuah solusi yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-oVbNaMTymxo/TYjgdMpLVfI/AAAAAAAAAws/SSZ6d-x8NT8/s1600/wccm_logo.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 125px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-oVbNaMTymxo/TYjgdMpLVfI/AAAAAAAAAws/SSZ6d-x8NT8/s400/wccm_logo.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586962129967863282" /&gt;&lt;/a&gt; Dalam Seminar Meditasi Kristiani yang ke tiga, saya sangat tertarik pada lambang mereka yang menggunakan gambar dua ekor burung merpati. Dijelaskan bahwa kedua burung itu melambangkan sikap kontemplatif Maria dan sikap aktif Marta. Saya selalu tertarik pada karakter Maria dan Marta dalam Kitab Suci. Setidaknya tulisan &lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/membaca-kehendaknya.html"&gt;"Membaca KehendakNya"&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/01/kehadiran-lebih-penting-daripada.html"&gt;"Kehadiran lebih penting daripada perbuatan"&lt;/a&gt; menggambarkan pergumulan saya dengan kedua karakter ini. Dalam penjelasan mengenai logo tersebut dikatakan bahwa kedua karakter itu hadir di dalam diri kita, dan kita perlu menjaga keseimbangan antara bersikap sebagai Maria dan bersikap sebagai Marta. Hal ini sebenarnya sudah juga saya peroleh sebelumnya dan saya tuliskan di &lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/08/mencari-wajahnya-dalam-meditasi.html"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan kehilangan Lectio Divina membuat kami kembali berkumpul secara khusus untuk memasuki meditasi yang diskursif walaupun hanya sebagai selingan dari Meditasi Kristiani yang sedang kami coba pahami ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan yang kami pakai sebagai pengantar adalah bacaan Hari Minggu Prapaskah I, Matius 4: 1-11, mengenai godaan. Ayat yang sangat berkesan pada hari itu bagi saya adalah ayat 7 yaitu: "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman tertarik pada ketiga godaan yang ada. Memang pada dasarnya ketiga godaan itu masih hadir sampai saat ini juga. Demikian juga kenyataan bahwa Iblis menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk menyesatkan manusia. Yesus digoda dalam aspek kemanusiaannya. Godaan itu menunjukkan betapa Yesus sungguh tahu apa yang sesungguhnya dihadapi oleh manusia. Sebagai manusia Dia juga digoda, dan Ia menunjukkan bagaimana caranya menghadapi godaan itu. Baik Yesus maupun Iblis sama-sama menggunakan ayat-ayat Kitab Suci. Bagaimana mengenali yang benar tentunya tidak sukar, Yesus mendasarkan ucapanNya pada kemuliaan Allah, sesuai dengan kehendak Allah. Iblis memberikan saran menggunakan kalimat Kitab Suci tetapi untuk tujuan memuaskan diri, memuaskan ego. Inilah yang kiranya perlu kita cari dalam kehidupan ini untuk menemukan Firman Yang Hidup itu. Lakukanlah semua pelayanan untukNya, bukan untuk diri pribadi atau kelompok kita saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan saya sangat tertarik pada ayat 7 tersebut karena seringkali saya bersikap pasrah kepada Tuhan, tetapi ada kemungkinan dalam kepasrahan itu ada terselip keinginan untuk melihat kebesaranNya. Bukankah itu bukti dari lemahnya iman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini seorang teman melalui akun Facebooknya menyarankan untuk menyumbang dana bagi seorang penulis yang cukup punya nama. Penulis itu ingin membeli tanah guna memperbesar taman bacaan yang sudah dirintisnya sejak lama. Kebetulan himbauan itu dituliskan ketika akhir bulan sudah di depan mata. Tentunya kantong pribadi juga sudah sangat menipis. Saya tersentuh akan permintaan sumbangan melalui transfer sebesar Rp. 10.000,-. Sumbangan tersebut sangat kecil, kalau untuk jajan anak-anak saya yang tiga orang saja cuma dapat jajanan pinggir jalan yang satu kali makan sudah habis. Kalau untuk makan di warteg, cuma bisa untuk satu orang sekali makan (normal). Ketika mentransfer dana tersebut sebenarnya terbersit keinginan untuk melebihkan dari jumlah sepuluh ribu itu, tetapi saat itu juga terpikir betapa kantong sendiri sedang kacau, dan kewajiban lain yang masih harus dibayarkan. Jadilah transfer terlaksana sambil menantikan keajaiban dari Tuhan. Keajaiban, karena penulis itu sebenarnya masih membutuhkan dana yang besar sekali untuk uang muka yang hampir tujuh puluh lima juta rupiah, dan waktunya tinggal satu hari untuk mengumpulkan uang muka itu. KeajaibanNya, karena sepuluh ribu itu tidak ada apa-apanya di antara bilangan puluhan juta...Dan keesokan harinya di layar Facebook yang ada berita konfirmasi bahwa keajaiban itu terjadi, sumbangan yang mengalir memungkinkan jumlah uang muka itu terkumpul. Di satu pihak saya senang karena mukjizatNya terlaksana, di lain pihak saya tiba-tiba merasa menjadi Thomas Didimus yang meminta bukti kepada Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan yang muncul itu, ditambah ayat yang menghentakkan saya ini menjadi dasar refleksi diri dalam perjalananku dari sekarang. Saya berharap tidak akan mencobai Tuhan walaupun dengan tidak sengaja. Mencoba untuk percaya sepenuhnya dan tidak akan mencobaiNya dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Saya tahu Ia mencintai domba-dombaNya, dan tidak akan dibiarkan satu dombapun hilang. Tetapi cinta yang sejati harus senantiasa bersifat timbal balik, saya juga perlu mencintaiNya dengan sepenuh hati dan dengan segenap akal budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Jauhkanlah kami dari yang jahat,&lt;br /&gt;Bebaskanlah kami dari pencobaan,&lt;br /&gt;karena lemahlah kami,&lt;br /&gt;terkadang daging lebih kuat daripada roh,&lt;br /&gt;dan kegelapan lebih membuai tidur daripada Sang Surya yang bersinar membangunkan,&lt;br /&gt;godaan adalah bagian dari kehidupan manusia,&lt;br /&gt;jadikanlah kami kuat dan bijaksana dalam menghadapi godaan,&lt;br /&gt;karena hanya Engkau yang memampukan kami,&lt;br /&gt;hanya Engkau yang menguatkan dan membimbing kami dalam kegelapan,&lt;br /&gt;Engkaulah terang yang menyinari hati kami,&lt;br /&gt;Air kehidupan yang menyegarkan hidup kami,&lt;br /&gt;dan Gembala yang menatang kami ketika kami terluka dalam dosa.&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;ampuni kami,&lt;br /&gt;dampingi kami senantiasa,&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6874387433076418616?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6874387433076418616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/03/pencobaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6874387433076418616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6874387433076418616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/03/pencobaan.html' title='Pencobaan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-oVbNaMTymxo/TYjgdMpLVfI/AAAAAAAAAws/SSZ6d-x8NT8/s72-c/wccm_logo.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-3442463218921039366</id><published>2011-03-12T00:26:00.000-08:00</published><updated>2011-03-12T01:38:36.806-08:00</updated><title type='text'>Belajar melepaskan diri</title><content type='html'>Hari ini adalah minggu ke dua dari program pengajaran 6 minggu Meditasi Kristiani. Minggu pertama saya tidak bisa hadir, tetapi minggu ini saya memaksakan diri untuk hadir. Hari ini topik bahasannya adalah &lt;a href="http://www.wccm.org/content/john-main-osb"&gt;John Main, OSB&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal menarik yang saya peroleh hari ini dari Bapak Andreas yang membawakan materi pengajaran hari ini. Ketika menerangkan mengenai Pater John Main, OSB. dikatakan bahwa pada saat beliau memutuskan memasuki biara Benediktin, dan diketahui memiliki kebiasaan meditasi yang dipelajarinya dari Swami Satyananda, beliau diminta menghentikan kebiasaan itu. Sebagai biarawan beliau mengikuti perintah pembesar ordonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali mendengar kisah ini, sebenarnya hal itu tidak terlalu menarik perhatian saya. Tetapi ketika kami selesai dengan acara tanya jawab, baru terasa betapa pentingnya kisah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Mulai dari sikap duduk ketika meditasi, hingga pengaturan nafas. Mengenai meditasi dan kontemplasi sebenarnya ada uraian yang cukup mendalam di &lt;a href="http://katolisitas.org/2009/05/25/meditasi-dan-kontemplasi/"&gt;blog yang satu ini&lt;/a&gt;. Saya sendiri akhirnya kembali menanyakan pergumulan saya antara lectio divina dan metoda meditasi kristiani pater John Main ini. Berdasarkan pengalaman saya, kalau saya baru menggunakan cara meditasi lectio divina yang lebih bersifat  diskursif, maka keesokan harinya sulit bagi saya untuk memasuki keheningan meditasi kristiani. Sebaliknya, bila hari ini saya menggunakan metode meditasi kristiani, maka keesokan harinya ketika mencoba memasuki kontemplasi yang diskursif saya cenderung mengarah ke keheningan total. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup paham bahwa Lectio Divina dan Meditasi Kristiani ini berbeda. Ketika berganti pimpinan doa dan berganti metode membuat saya sedikit terguncang. Lectio Divina yang sudah saya ikuti selama bertahun-tahun sudah menjadi kebutuhan hidup yang menyegarkan dahaga saya akan kehadiranNya. Saya juga bisa merasakan kesegaran lain yang ditawarkan Meditasi Kristiani, tetapi saya menjadi gamang karena kehilangan sabdaNya yang hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah pernah mendapatkan apa yang hari ini saya peroleh dari seminar ini, dan saya sudah pernah mengutip tulisan "Menemukan Sendiri Kebenarannya" oleh Romo J. Sudrijanta, SJ di tulisan yang &lt;a href="http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010_02_01_archive.html"&gt;ini&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam cara doa itu hanyalah kendaraan untuk menjalin kedekatan denganNya. Satu hal itu yang harus saya ingat benar. Sebenarnya kedatangan saya pertama kali ke kelompok doa lectio divina adalah karena mencari rasa bahagia yang pernah hadir dalam keheningan ketika saya menangis kepadaNya. Pada saat itu saya sama sekali tidak menggunakan metoda ajaran apapun. Tentunya saya pernah mendapat bekal meditasi dalam retret-retret di sekolah Katolik tempat saya belajar dulu, tetapi saat itu yang saya lakukan sebenarnya hanyalah menangis kepadaNya. Sebenarnya saya tidak terlalu ingat lagi detail peristiwa itu, yang saya ingat adalah saya mencoba menghadirkan keheningan tempat adorasi kepada Sakramen Mahakudus di Lourdes sana. Awalnya saya menangis kepada Bunda, tetapi terasa benar perasaan bahagia itu datang dari Sang Putra. Dia merengkuh putriNya yang bersedih, dan memberikan kebahagiaan yang tidak sanggup kulukiskan dengan kata-kata. Perasaan bahagia itu memabukkan, dan saya mencoba mencarinya lagi. Itulah yang membuat saya ikut dalam kelompok Lectio Divina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir dalam kelompok Lectio Divina awalnya terasa tidak sesuai dengan kebutuhanku. Saya mencari keheningan itu, pertemuan denganNya dalam keheningan seperti saat yang lalu itu. Tetapi kemudian saya menemukan betapa Kitab Suci terasa begitu hidup. Belum pernah dalam kehidupan rohaniku saya membaca Kitab Suci dan bisa merasakan betapa isinya tidak pernah lapuk dimakan zaman, betapa FirmanNya begitu hidup untuk keseharianku yang kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau membaca uraian dari &lt;a href="http://katolisitas.org/2009/05/25/meditasi-dan-kontemplasi/"&gt;blog Katolisitas.org&lt;/a&gt;, terbaca betapa saya sudah dibimbingNya untuk memasuki &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Prayer of Recollection&lt;/span&gt;, dan sekarang saya sedang diarahkan untuk masuk ke dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Prayer of Quiet&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran paling berharga yang saya peroleh hari ini adalah belajar melepaskan diri dari ketergantungan pada suatu metode atau suatu zona kenyamanan. Sama seperti Pater John Main, OSB belajar untuk mengikuti perintah pembesarnya. Sama seperti Ibu Teresa yang juga harus mematuhi prosedur dalam biaranya sebelum akhirnya diperbolehkan memiliki kongregasinya sendiri. Yang penting bukan kendaraan yang kita gunakan, melainkan kehadiranNya yang menyertai kita, apapun kendaraan yang kita gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saya baru saja mulai membaca buku "Di Dalam Keheningan Hati", renungan Ibu Teresa bersama kerabat kerjanya. Dan mungkin kutipan renungannya yang berasal dari I Korintus 10:31 merupakan panduan utama dalam setiap aktivitas mendatang "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." Pembuka renungannya berkata, "Kita tidak dapat mengerjakan pekerjaan besar-hanya pekerjaan kecil dengan cinta kasih yang besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan,&lt;br /&gt;Saya ingin belajar melepaskan diri dari ketergantungan&lt;br /&gt;terhadap rasa nyaman&lt;br /&gt;terhadap rasa dibutuhkan&lt;br /&gt;terhadap rasa berguna&lt;br /&gt;terhadap kesuksesan&lt;br /&gt;terhadap kegembiraan&lt;br /&gt;biarlah saya belajar menggantungkan diri pada hadirMu saja,&lt;br /&gt;hadirlah di dalam hatiku,&lt;br /&gt;terangi sudut-sudut gelap di hatiku,&lt;br /&gt;dan pancarkan sinarMu ke luar hatiku,&lt;br /&gt;karena kehangatanMu menyejukkan,&lt;br /&gt;dan kehadiranMu membahagiakan...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-3442463218921039366?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/3442463218921039366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/03/belajar-melepaskan-diri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3442463218921039366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3442463218921039366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/03/belajar-melepaskan-diri.html' title='Belajar melepaskan diri'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-561615299771502917</id><published>2011-02-03T18:40:00.001-08:00</published><updated>2011-02-06T22:15:37.952-08:00</updated><title type='text'>Nilai tradisi dalam Gereja</title><content type='html'>Sudah beberapa tahun ini saya mengikuti misa Tahun Baru Imlek di gereja St. Perawan Maria Ratu, gereja di dekat rumah orang tuaku. Setidaknya dua tahun terakhir ini seingat saya ada Barongsai yang masuk ke dalam gereja di awal (pembukaan) misa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, pada awalnya saya merasa semua itu berlebihan. Tapi sesungguhnya saya memang masih harus belajar menjadi orang Cina Indonesia. Terus terang saya lebih merasa sebagai orang Makassar daripada sebagai orang Cina. Jadi terkadang salah ucap seperti "chung-quo ren" bisa membuat salah pengertian. Bagi saya yang belum pernah menginjakkan kaki ke Tiongkok rasanya aneh bila disebut sebagai "Chung-quo ren" (orang Tiongkok). Orde Baru memang mengambil sebuah hak saya akan pembelajaran. Pembelajaran melalui proses menilai diri sebagai bagian yang memiliki darah keturunan Cina. Tetapi tradisi berkumpul di hari Tahun Baru Cina itu memang berlaku di dalam keluargaku, terutama karena dahulu nenekku (dari ibu) yang selalu merayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan beberapa hari sebelum Imlek tahun ini saya berjalan di sekitar Petak Sembilan, Jakarta. Saya memasuki beberapa klenteng dan sebuah gereja Katolik di sana. Di dalam klenteng orang-orang sedang sibuk mempersiapkan hari tahun baru Imlek. Hampir semua sedang mempersiapkan doa kepada leluhur maupun pada dewa-dewa yang mereka percayai untuk memohon rahmat dan rezeki dalam menghadapi tahun yang baru nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan dalam misa konselebrasi yang di gereja kemarin, ada dua Romo yang asli Jawa dan satu Romo yang keturunan Cina. Romo Dismas, begitu nama Romo yang menjadi konselebran utama, mengenalkan arti abjad 福 (Fu). Yang di kiri katanya berhubungan dengan bintang, bulan dan matahari, alias unsur-unsur langit. Hal ini melambangkan unsur spiritual atau rohani. Sementara yang kanan melambangkan sawah berarti penghasilan atau unsur jasmani. Dalam penulisannya dituliskan bagian kiri terlebih dahulu baru bagian kanan, berarti manusia sepatutnya mendahulukan kehidupan rohani dahulu baru dipenuhkan kebutuhan jasmaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat menarik bagi saya pribadi adalah bacaan hari itu, terutama bacaan Injil. Bacaan pertama diambil dari Surat I Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 4: 17-24. Bacaan Injil diambil dari Injil Lukas 12: 22-34. Kalimat yang sangat berkesan bagiku pada saat itu adalah "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian." Kebanyakan dari kita datang ke pada Tuhan karena memiliki kekhawatiran di dalam hati. Tetapi bila kita sudah mempercayakan masalah kita kepadaNya, maka sepatutnya kita tidak lagi boleh khawatir. Carilah KerajaanNya maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. Kesulitan tidak serta merta menghilang dan menjauh, tetapi kekuatan untuk menjalaninya menjadi lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya juga belajar dari suamiku, melihat bagaimana proses untuk mempercayai suatu agama sebagai bagian dari iman bukan hal yang mudah. Bagi yang sudah memiliki keterikatan tradisi seperti yang berasal dari keluarga keturunan Cina yang masih kental urusan tradisinya, akan sulit memperoleh doa yang khidmat dalam suatu kebiasaan yang mungkin terasa baru. Dalam misa hari itu ia tampak nyaman karena ia juga bisa merasakan antusiasme dari umat (non keturunan Cina) yang hadir dalam misa itu. Merasa diterima sebagai bagian dari komunitas merupakan hal yang penting bagi seorang individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga kami sendiri tidak terlalu mementingkan tradisi berbaju baru, dan sejak menikah saya baru mengetahui bahwa dalam tradisi Imlek yang sesungguhnya, makan besar terjadi pada malam Tahun Baru, artinya malam sebelum hari Imlek. Semua keluarga berkumpul dan makan malam bersama. Keesokan harinya adalah hari pantang daging, di mana mereka seharusnya hanya boleh makan sayuran saja. Ini agak berbeda dengan kebiasaan keluargaku yang memang sejak awal hanya menggunakan Imlek sebagai tradisi tahun baru penanggalan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Imlek diakui sebagai hari libur nasional sebenarnya Gereja Katolik telah terlebih dahulu memberikan dispensasi bagi umat Katolik yang merayakan perayaan ini. Bila perayaan Imlek jatuh tepat pada hari Rabu Abu, di mana seharusnya umat Katolik berpantang dan berpuasa, maka pada hari itu yang merayakannya dibebaskan dari kewajiban pantang dan puasa, serta boleh digantikan keesokan harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga keberagaman dalam kesatuan memang bukan hal yang mudah. Yang paling utama untuk dikembangkan adalah komunikasi yang baik. Selebihnya kita serahkan kepadaNya, bukankah Ia sudah berkata, "Janganlah khawatir akan hidupmu..." Carilah kerajaanNya, maka pintu yang tertutup akan dibukakan, mata yang tidak melihat akan diberiNya sinar pencerahan, hati yang suram akan diterangiNya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih atas berkatMu,&lt;br /&gt;Keberagaman kami yang mewarnai kehidupan ini,&lt;br /&gt;sukacitamu yang berkobar dalam hati kami,&lt;br /&gt;yang tersebar dalam uluran tangan sesama kami,&lt;br /&gt;yang menguatkan derap langkah yang letih dan berbeban berat.&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih atas tuntunanMu,&lt;br /&gt;dalam pencarian diri kami karena hidup lebih penting daripada makanan,&lt;br /&gt;sebab hidup adalah hadiahMu yang indah,&lt;br /&gt;dan tubuh lebih penting daripada pakaian,&lt;br /&gt;sebab tiada pakaian yang bisa menyembunyikan keindahan hati. &lt;br /&gt;Semoga tubuh kami menjadi tempat persemayamanMu,&lt;br /&gt;sehingga hati kami bersinar membawa cahayaMu,&lt;br /&gt;menerangi pojok-pojok gelap kehidupan,&lt;br /&gt;membagi harapan kepada dunia.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-561615299771502917?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/561615299771502917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/02/nilai-tradisi-dalam-gereja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/561615299771502917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/561615299771502917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/02/nilai-tradisi-dalam-gereja.html' title='Nilai tradisi dalam Gereja'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5758629580962165373</id><published>2011-01-20T09:43:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T09:27:08.881-08:00</updated><title type='text'>Kehadiran lebih penting daripada perbuatan</title><content type='html'>Dalam salah satu pengantar meditasi Kristiani, saya mendengar pernyataan ini, "Kehadiran lebih penting daripada perbuatan." Kebetulan pernyataan ini merujuk kepada sikap Marta dan Maria yang memang sudah lama menarik perhatian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa lebih dekat kepada Marta daripada Maria, pernyataan ini membuat saya bertanya-tanya. Pertanyaan itu saya bawa ke dalam meditasi, tetapi pada akhir meditasi tetap saya tanyakan kepada suster pendamping kami. Jawaban suster menyentakkan saya, "KehadiranNya...kehadiran Yesus yang penting." Memalukan...itulah saya dengan ego manusiaku, yang melihat dari sudut pandang diriku sendiri! Berulang kali sudah menemukan hal ini melalui renungan dan meditasi, tapi tetap saja bebal! Saya tidak mampu melihat terangNya dalam pernyataan itu karena saya memandang pernyataan tersebut dengan berpusat pada diriku. Kehadiranku...perbuatanku...Padahal maksud buku itu memberikan pernyataan adalah kehadiranNya lebih penting daripada perbuatanNya. Bila Ia hadir di dalam diriku maka otomatis perbuatanku akan mencerminkan hadirNya. Bukan mukjizatNya yang paling penting, melainkan kehadiranNya yang menguatkan dan menuntunku ke dalam perbuatan yang menampilkan kasihNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang bebal awalnya berpikir, "Bukankah tidak cukup saya hanya hadir di gereja tapi tidak melakukan perbuatan apapun bagiNya?", dan, "Saya harus berbuat sesuatu bagi orang-orang di sekitarku...apapun itu...sebagai tanda perbuatanku bagiNya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PencerahanNya memampukanku untuk melihat betapa tidak pentingnya perbuatan yang kurancang karena Ia yang akan menggunakan diriku untuk perbuatan-perbuatan baikNya selama saya mampu menghadirkan diriNya dalam hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku "Discernment, a Way of Life" yang disusun oleh Pater Rex A. Pai, SJ, saya belajar pentingnya untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada tangan Allah dan membiarkanNya bekerja melalui diriku. Dalam buku ini saya diingatkan akan karya yang berorientasi pada diri sendiri dan karya yang berorientasi pada orang lain. Seharusnya muridNya berpusat pada orang lain dan Allah (Yoh 15:5) karena di luarNya kita tidak mampu berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga kehadiranNya dalam hatiku berarti juga terus berperang melawan godaan untuk mementingkan kepentingan diri sendiri. Dengan menghadirkanNya di dalam batin berarti kita belajar untuk mengerti kehendak Tuhan. HadirNya akan membawa kita melewati tingkat emosional, dan tingkat rasional, dan masuk ke dalam tataran hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;anakMu ini masih harus banyak belajar melihat dari mataMu,&lt;br /&gt;belajar untuk merasakan dengan hatiMu,&lt;br /&gt;sehingga mampu bertindak sesuai dengan kehendakMu.&lt;br /&gt;Perbuatan yang paling utama adalah menghadirkanMu di dalam hatiku,&lt;br /&gt;Karena itulah yang akan menyalakan terang di dalam hatiku,&lt;br /&gt;Dan menerangi setiap langkahku bersamaMu.&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan,&lt;br /&gt;Roh KudusMu telah menerangi pikiranku,&lt;br /&gt;Pikiran yang senantiasa sibuk dengan rancangan perbuatan,&lt;br /&gt;tapi melupakan konsekuensinya yang melalaikanMu...&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;bimbing kami anakMu&lt;br /&gt;agar mampu memberi tempat yang layak bagi hadirMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5758629580962165373?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5758629580962165373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/01/kehadiran-lebih-penting-daripada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5758629580962165373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5758629580962165373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2011/01/kehadiran-lebih-penting-daripada.html' title='Kehadiran lebih penting daripada perbuatan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-64449076367571330</id><published>2010-12-04T19:54:00.000-08:00</published><updated>2010-12-04T21:12:07.191-08:00</updated><title type='text'>Tersenyumlah Untuk Yesus</title><content type='html'>Bagi orang-orang yang mengenal tradisi Sinterklaas maka nanti malam seharusnya adalah malam kedatangan Sinterklaas dan Piet Hitam. Suasana perayaan Natal mulai terasa. Lagu-lagu Natal mulai dikumandangkan, acara Pendalaman Iman dalam rangka Adven mulai diadakan, dan sebentar lagi gereja juga dipenuhi antrian orang-orang yang akan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Yesus akan datang, bersihkanlah rumahmu, bersihkanlah hatimu untuk menyambutNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menarik bagi saya selama mengikuti doa meditasi bersama suster adalah pengalaman berbagi dengan rekan-rekan komunitas. Betapa begitu banyak ragam masalah di dunia ini. Betapa begitu banyak ragam rahmat yang dicurahkanNya bagi kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku Ibu Teresa "Come be My Light" saya menemukan satu hal yang sangat sulit untuk aku tiru. Ibu Teresa berusaha untuk terus tersenyum bagi Yesus, walaupun dia berada dalam kegelapan dan kehausan akan cintaNya yang sangat mendalam. Dia tidak pernah ingin mengeluh. Itulah satu hal yang sangat berbeda dengan diriku dan sangat sulit untuk kutirukan. Belajar untuk tidak mengeluh, belajar untuk menerima jalanNya dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dari peserta meditasi kami membagikan pengalamannya Jumat pagi kemarin. Ketika meditasi ia merasa wajahnya diarahkan untuk tersenyum. Tentu saja saya langsung teringat pada contoh dari Bunda Teresa. Tersenyumlah untuk Yesus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal sejak saya masih kecil merupakan hari yang khusus. Sebagai anak kecil saya dan adik-adik terutama sangat gembira dengan hadiah Natal yang diletakkan di bawah pohon Natal. Kami tidak terlalu mengenal Sinterklaas yang turun dari cerobong tapi kami mengenal hadiah-hadiah Natal. Ada cerita Sinterklaas dan Piet Hitam, tapi di rumah kami tidak ada cerobong. Yang ada tentunya pergi menemui Sinterklaas di luar rumah. Pernah suatu ketika saya langsung sakit panas ketika seorang teman ayahku yang kebetulan berkulit hitam legam datang ke rumah dan saya dipaksa untuk bersalaman dengannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah Natal kami dahulu mulai muncul di awal-awal Adven, setiap kali ada yang berbuat baik maka hadiahnya di bawah pohon itu bertambah. Sebaliknya, bila yang dilakukan adalah kenakalan, maka hadiahnya akan menghilang kembali. Sebenarnya hadiahnya tidak mahal, bisa sugus satu bungkus atau pensil dan penghapus. Masa kecilku kami tidak punya banyak tuntutan. Tanpa iklan televisi, tanpa kehidupan konsumtif, tanpa permainan elektronik yang mahal tidak banyak godaan bagi kami. Hadiah terindah buat saya tentunya adalah buku cerita atau album perangko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa remajaku ada kebiasaan baru yang muncul, yakni membersihkan kamarku menjelang Natal dan Paskah. Menata kamar pada hari Natal sangat menyenangkan karena banyaknya sahabat pena yang mengirimiku kartu Natal. Semua kartu-kartu itu akan kupajang di atas almari, menambah warna-warni ceria dalam kamarku. Ketika kamarku sudah bersih dan teratur maka tentunya giliran hatiku yang perlu dibersihkan...jadilah saya ikut dalam antrian umat yang akan menerima Sakramen pengakuan dosa. Sayang sekali kehadiran internet yang secara ekonomi lebih murah daripada berkirim surat, dan lebih efisien dari segi waktu membuat saya berhenti berkirim surat lewat pos. Jadi kartu-kartu Natal yang indah itu tidak lagi menghias rumahku, dan tidak lagi menjadi rutinitas menjelang Natal yang kuturunkan ke anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Maria menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel, seharusnya kabar itu bukanlah kabar gembira yang bisa membuat seorang perawan tersenyum. Bayangkan bagaimana rasanya seorang gadis yang belum menikah bila menerima kabar akan mengandung dan melahirkan seorang bayi? Seistimewa apapun bayi yang akan dikandungnya, rasanya pasti di hatinya ada guncangan yang hebat. Itu adalah pilihan yang diberikan kepada Perawan Maria, dan itu bukan suatu pilihan yang mudah. Hukuman untuk wanita yang hamil tanpa suami adalah hukum rajam. Bagaimana orang lain bisa mengetahui bahwa dirinya mengandung anak Allah? Tetapi Maria tetap tersenyum dan menjawab, "Terjadilah padaku menurut perkataanMu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menghadapi masalah dalam kehidupan, masalah dalam berkeluarga, maka reaksi pertama adalah keluarnya sebuah keluhan. Reaksi selanjutnya adalah mencari jalan keluar yang logis untuk memecahkan masalah tersebut. Dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sharing&lt;/span&gt; dalam Pendalaman Iman di lingkungan kami serta dari pengalaman seorang teman doa yang sedianya harus menjalani operasi jantung minggu ini, saya belajar betapa jalan keluarNya tidak selalu memiliki penjelasan yang masuk akal. Seringkali jalanNya tampak sangat tidak masuk akal. Kebetulan kedua contoh yang saya dengar berhubungan dengan penyakit jantung. Yang pertama di lingkungan adalah kisah anak kecil yang sudah siap di operasi di Singapura ketika tiba-tiba alat yang seharusnya akan digunakan ditarik oleh produsennya karena adanya kekurang sempurnaan pada produk. Yang kedua, dari teman doaku, adalah kisah penundaan operasi jantung karena secara mendadak terjadi perbaikan kondisi jantung setelah yang bersangkutan berserah diri dalam meditasi-meditasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengeluh dalam menghadapi masalah seringkali berkaitan dengan tuntutan kepada Tuhan untuk memperhatikan kita, untuk memperbaiki nasib kita. Betapa Ibu Teresa merasa tersiksa karena merasa kering dan hampa, tetapi dia dengan tersenyum terus bekerja bagi Tuhan. Ia menjadikan dirinya mempelai Yesus. Dan menjadi mempelai Yesus tidak berarti senantiasa menerima dukungan dan siraman kasih yang besar dan nyata di dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah dari renungan  Pater Anthony de Mello SJ saya temukan di portal &lt;a href="http://www.v1.kkiamsterdam.com/embunrohani.htm"&gt;Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Amsterdam&lt;/a&gt;. Walaupun sudah pernah membacanya sebelumnya, tapi kali ini kisah ini lebih menyentuh saya karena saya sekarang bisa merasakannya. Kisah ini bercerita tentang pemuda yang mencari suara seribu lonceng yang tenggelam ke dasar laut. Ia tidak mampu mendengar suara lonceng itu, suara gemuruh lautan memenuhi seluruh indera pendengarannya. Ketika ia menyerah dan menyangka bahwa ia tidak ditakdirkan untuk mengenal suara lonceng dalam legenda itu, tiba-tiba lonceng-lonceng itu berdenting dengan sangat jelas.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Pada hari itu ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia pun menemukan suara yang lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu tenggelam dalam suara itu, sehingga ia hampir tidak menyadari dirinya lagi. Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalam hatinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya ! Dentang bunyi satu lonceng disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi dan oleh yang lain lagi ...dan akhirnya seribu lonceng dari kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang agung berpadu. Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin mendengar lonceng-lonceng kuil, dengarkanlah suara laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin melihat Tuhan, pandanglah ciptaan dengan penuh perhatian. Jangan menolaknya, jangan memikirkannya. Pandanglah saja.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam upaya mencari Yesus seringkali saya terlalu fokus kepada figur Yesus yang ada dalam benakku, atau menutup mata terhadap apa yang tersaji di hadapanku guna menemukan Ia yang bagiku tersembunyi. Ibu Teresa mencari kehangatan cintaNya tapi ia tidak membiarkan dirinya jatuh ke dalam kekosongan itu, ia membiarkan dirinya masuk dan lebur ke dalam karyaNya. Dan ia membiarkan dirinya selalu tersenyum sehingga orang luar hanya melihat kebesaranNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus,&lt;br /&gt;saya ingin tersenyum bagiMu&lt;br /&gt;menerimaMu dalam penginapan di hatiku&lt;br /&gt;lebur dalam kehangatan cintaMu&lt;br /&gt;dan berbuah banyak karena sentuhan kasihMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus,&lt;br /&gt;betapa besar kasihMu&lt;br /&gt;betapa besar kekuatanMu yang Engkau berikan untuk menopang kami,&lt;br /&gt;Berikan kami kemampuan untuk mengenalMu&lt;br /&gt;untuk mengenal jalanMu&lt;br /&gt;untuk melangkah bersamaMu &lt;br /&gt;untuk berpasrah tapi tidak pasif&lt;br /&gt;untuk berusaha tapi tidak mengatur&lt;br /&gt;karena Engkau begitu besar&lt;br /&gt;seperti alam semesta yang tak terkira luasnya&lt;br /&gt;begitu dalam &lt;br /&gt;seperti dalamnya samudra yang tak terselami&lt;br /&gt;dan logika tidak mampu menyentuhMu&lt;br /&gt;tidak mampu mengenal kehendakMu&lt;br /&gt;ketika jalanMu dan takdir bagai bersatu&lt;br /&gt;ketika kehendak bebas menjadi batu sandunganku&lt;br /&gt;ajari daku cinta kasihMu...&lt;br /&gt;ajari daku untuk tersenyum bagiMu....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-64449076367571330?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/64449076367571330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/12/tersenyumlah-untuk-yesus.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/64449076367571330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/64449076367571330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/12/tersenyumlah-untuk-yesus.html' title='Tersenyumlah Untuk Yesus'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-2465691808285347756</id><published>2010-11-20T02:33:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T13:03:35.210-08:00</updated><title type='text'>Hanya debulah aku</title><content type='html'>Tuhan,&lt;br /&gt;ku bersimpuh di hadiratMu,&lt;br /&gt;Sungguh hanya debulah aku,&lt;br /&gt;tak pantas mencoba menyelami dalam samudraMu,&lt;br /&gt;Otakku terlalu kecil untuk mengertiMu,&lt;br /&gt;mengerti adaMu, &lt;br /&gt;mengerti rencanaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya debulah aku,&lt;br /&gt;yang Kau kumpulkan dan Kau bentuk,&lt;br /&gt;yang Kau beri hembusan nafasMu,&lt;br /&gt;yang Kau anugerahi hati dan kehendak bebas,&lt;br /&gt;yang Kau biarkan berjalan di padang rumputMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, hanya debulah aku...&lt;br /&gt;yang terkadang tak berdaya menerima godaan iblis,&lt;br /&gt;yang mencariMu tapi tak mampu melekat kuat padaMu,&lt;br /&gt;yang terbang tak tentu arah mengharapkan dekapan hangatMu,&lt;br /&gt;yang terhentak membentur bukit batuMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya debulah aku,&lt;br /&gt;Yang Kau ciptakan menjadi hidup,&lt;br /&gt;Karena jiwaMu yang Kau titipkan ke dalam ragaku,&lt;br /&gt;Dari dalam kandungan ibuku Engkau menenunku,&lt;br /&gt;SuaraMu senantiasa menenangkan aku di dalam kegelapan rahimnya,&lt;br /&gt;suaraMu juga yang menegur diriku ketika kutertatih belajar melangkah,&lt;br /&gt;tetapi seringkali kulalaikan suaraMu,&lt;br /&gt;yang bergema melintasi dada dan rongga telingaku,&lt;br /&gt;membiarkanNya terbenam bersama keriuhan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa,&lt;br /&gt;jangan biarkan aku tersapu hilang,&lt;br /&gt;jagalah biar setitik debu ini memiliki harga bagiMu,&lt;br /&gt;agar mampu menempel pada salib yang dibawa Putra ke Kalvari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setitik debu yang tidak bermakna,&lt;br /&gt;Setitik debu yang terkadang dikibas manusia,&lt;br /&gt;yang berkesempatan menemani langkahNya ke Puncak Golgota.&lt;br /&gt;Setitik debu yang dihidupi oleh Tubuh dan DarahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;sungguh ajaib semua karyaMu,&lt;br /&gt;sungguh besar kuasa kasihMu,&lt;br /&gt;sungguh agung kebesaranMu,&lt;br /&gt;sungguh menakjubkan rencana-rencanaMu,&lt;br /&gt;tak kuasa kumengerti...&lt;br /&gt;tak berdaya kujalani...&lt;br /&gt;hanya cintaMu yang mampu membuatku berarti&lt;br /&gt;walau tidak mengerti tapi berguna bagiMu,&lt;br /&gt;pakailah aku sebagai alatMu,&lt;br /&gt;bentuklah aku dengan cintaMu,&lt;br /&gt;karena Dikau semata yang menghidupiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Inspirasi dari Mazmur 139)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-2465691808285347756?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/2465691808285347756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/11/hanya-debulah-aku.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2465691808285347756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2465691808285347756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/11/hanya-debulah-aku.html' title='Hanya debulah aku'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5554151886799161368</id><published>2010-11-16T09:17:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T02:18:04.407-08:00</updated><title type='text'>Doa dan kehadiranNya</title><content type='html'>Model meditasi baru kami membuat saya secara fisik lebih segar. Mungkin karena meninggalkan semua masalah sejenak memang membuat saya lebih nyaman. Tetapi di satu pihak saya merasa kehilangan "suaraNya". HadirNya dalam meditasi seringkali tidak sama dengan "suaraNya" yang kuperoleh lewat kontemplasi Kitab Suci dahulu. Yang paling merasakan akibatnya mungkin adalah blog ini. Selain karena masalah komputer dan perangkat pendukungnya yang tidak menunjang kehidupan daringku, maka rasa nyaman yang tidak disertai loncatan inspirasi membuat blog ini cukup terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu kami mencoba kontemplasi sendiri. Bacaan hari itu yang kami baca adalah 2 Yoh 4-9. Bacaan ini sangat menyentuh karena ditujukan kepada seorang ibu. Sungguh terasa bahwa surat itu ditujukan kepada kami sendiri, kaum ibu. Yang paling berkesan adalah perkataan dari ayat 6: "...Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih,..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling mengasihi terkadang sangat mudah untuk diucap, tetapi terasa sukar ketika harus dilaksanakan. Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Perintah ini akan bertambah sukar bila kita sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengasihi diri kita sendiri. Tetapi sesungguhnya kasih akan Allah menutupi semua ketidak-tahuan itu. Bila kita membiarkan iman kita membawa kita untuk meletakkan semua kekurangan kita ke dalam kelimpahan kasihNya, maka niscaya kasihNya akan mengisi kekurangan yang kita miliki. Setelah beberapa saat yang lalu saya diingatkan kembali akan pentingnya memiliki sikap sabar, lemah lembut, dan rendah hati, maka minggu ini saya diingatkan untuk mencariNya agar Ia membentuk kekurangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu cara untuk menemuiNya adalah dalam doa. Kami mencoba meditasi doa agar dapat menghadirkanNya dalam keheningan jiwa kami, dan memampukan kami mendengar suaraNya. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Maranatha"&gt;Maranatha&lt;/a&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa yang maha baik,&lt;br /&gt;PutraMu datang menderita bagi segala dosa kami,&lt;br /&gt;dan tak henti kami terjatuh ke dalam cobaan,&lt;br /&gt;Tetapi Roh KudusMu ikut menyertai kami,&lt;br /&gt;agar kami dikuatkan dan dijaga,&lt;br /&gt;agar tak hilang kami dalam kelam dosa.&lt;br /&gt;Bapa,&lt;br /&gt;Ampuni kami orang berdosa,&lt;br /&gt;Hadirlah membentuk diri kami,&lt;br /&gt;agar kami layak menghadap hadiratMu,&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5554151886799161368?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5554151886799161368/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/11/doa-dan-kehadirannya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5554151886799161368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5554151886799161368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/11/doa-dan-kehadirannya.html' title='Doa dan kehadiranNya'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-8060585300680919076</id><published>2010-11-07T22:38:00.000-08:00</published><updated>2010-11-07T22:38:00.394-08:00</updated><title type='text'>Melepaskan kekhawatiran</title><content type='html'>Ada satu hal penting yang terasa sejak rajin mengikuti doa meditasi; hadirNya tidak lagi diam. Dalam setiap bacaan, dalam setiap pengalaman hidup Dia hadir memberikan masukanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam meditasi terakhir, saya sudah mampu berkonsentrasi penuh selama 15 sampai 20 menit, kemudian mulailah suara-suara dari luar yang seharusnya menjadi pendukung meditasi menjadi pengganggu konsentrasi. Suara anak-anak sekolah yang bermain di seberang rumah suster mengingatkan saya pada celetukan seorang teman semalam sebelumnya yang mengatakan bahwa saya terlalu banyak khawatir(dalam hal anak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kekhawatiran saya yang terbesar adalah mengambil langkah yang tidak sesuai dengan keinginanNya. Saya selalu takut salah pilih langkah. Dalam hal anak, saya takut terlalu memaksakan kehendak saya kepada anak, tapi juga takut terlalu memudahkan anak sehingga nantinya ia tidak mampu hidup mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan seminggu yang lalu seorang teman memberikan buku hasil suntingannya. Dalam buku rohani yang berjudul "The Right Choice" karangan Kendra Smiley itu ada satu bab yang khusus membahas contoh orang yang menempatkan kekhawatirannya ke tangan Yesus.&lt;br /&gt;Buku terjemahan yang diterbitkan oleh Gloria Gaffa ini cukup bagus kualitas teremahannya sehingga alur membaca kisah-kisahnya juga enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini dikutipkan beberapa ayat untuk menghilangkan kekhawatiran, yang paling menarik saya adalah 1 Petrus 5:7 "Serahkan segala kekhawatiranmu kepadaNya, sebab Ia memelihara kamu." Kekhawatiran adalah batu sandungan bagi manusia, terutama bagi orang seperti saya yang mengharapkan semua hal dipersiapkan dan ditentukan terlebih dahulu. Ketika Ia terasa tidak menjawab, saya kelimpungan. Padahal sebenarnya kedekatanku kepadaNya yang mungkin masih kurang. Kalau saya sungguh dekat denganNya maka tidak perlu lagi menantikan jawaban, karena Ia senantiasa mengatur langkah hidupku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihlah pilihan yang membawa perasaan damai di hati. Itu pesan utama yang kudapat dari suster-suster pembimbing doa. Untuk dua pilihan yang sama-sama tingkat kesulitannya maka kedekatan kita melalui doa yang menjadi faktor pencerahan yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Filipi 4: 6-7 dikatakan: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Kemudian di dalam Filipi 4:9 dikatakan pula untuk melakukan semua hal baik yang sudah diterima, didengar dan dipelajari, karena dengan demikian Allah, sumber damai sejahtera, akan menyertai langkah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia sesungguhnya sulit untuk lepas dari kekhawatiran. Walaupun dikatakan bahwa hari ini cukuplah untuk hari ini saja, tetapi kita memiliki kecenderungan untuk mempersiapkan segala sesuatu di masa mendatang. Padahal, masa mendatang itu belum tentu ada. Semua yang ada adalah pemberian Tuhan. Ia yang memberikan hari demi hari kepada kita. Segala kekhawatiran menjadi percuma bila Ia tidak lagi membagikan nafasNya kepada kita untuk melanjutkan hari. Jadi nikmatilah hari ini, dan tersenyumlah menyongsong masa depan karena hari ini adalah hadiahNya dan masa depan adalah hadiah-hadiah yang menantikan kita setiap hari dalam rengkuhan kasihNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan gunung Merapi dan bencana-bencana lain seperti tsunami di Mentawai, ataupun bencana Wasior yang lebih dahulu terasakan membawa kekhawatiran bagi kita yang hidup di negara kepulauan yang terletak di daerah "ring of fire"...cincin gunung berapi. Ketika gunung Anak Krakatau mulai aktif, lalu gunung-gunung berapi lainnya yang berjumlah lebih dari 100 buah gunung, satu per satu mulai menunjukkan gejala aktivitas yang meningkat maka kita mulai cemas. Ketika kecemasan yang melanda berhubungan dengan alam, maka mau tidak mau kita hanya bisa kembali kepada Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, hanya Dikau yang berkuasa menghentikan segala bencana yang menimpa bangsa kami. Hati Yesus yang Maha Kudus, kasihanilah kami, Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-8060585300680919076?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/8060585300680919076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/11/melepaskan-kekhawatiran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8060585300680919076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8060585300680919076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/11/melepaskan-kekhawatiran.html' title='Melepaskan kekhawatiran'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-4134235524241116773</id><published>2010-10-08T15:21:00.000-07:00</published><updated>2010-10-08T15:45:53.365-07:00</updated><title type='text'>Melihat Wajah Yesus</title><content type='html'>Ini bukan kisah wajah Yesus yang ajaib seperti yang kisahnya sering bertebaran di internet, ini adalah ilusi optis yang menghasilkan proyeksi wajah Yesus di dinding. Minggu lalu, sebelum memulai meditasi, kami mendapatkan sebuah gambar untuk selingan. Gambar ini bisa juga diakses di &lt;a href="http://www.optillusions.com/dp/1-54.htm"&gt;sini&lt;/a&gt;. Teman-temanku langsung berhasil menampak wajah Yesus di dinding, tetapi aku tidak. Tentunya aku penasaran sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian mengikuti sesi meditasi dan mencoba fokus ke dalam meditasi itu sendiri. Mungkin kegalauan pikiran, mungkin ketidak-mampuan untuk berkonsentrasi yang membuat saya tidak mampu menangkap wajah Yesus. Saya bisa menangkap wajah Yesus di gambar tersebut, tetapi tidak berhasil memproyeksikan gambar itu ke dinding. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkanlah anak-anak datang kepadaku...&lt;br /&gt;Marilah kalian yang letih, lelah, dan berbeban berat...&lt;br /&gt;Karena kalian bukanlah hamba melainkan sahabat-sahabatKu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah sesi meditasi berakhir saya berhasil juga melihat wajah Yesus di dinding. Sebenarnya saya masih penasaran kenapa sebelumnya tidak bisa langsung menampaknya, tetapi saya bersyukur bahwa akhirnya saya bisa melihatnya. Rasanya frustrasi menjadi satu-satunya orang yang tidak berhasil berkonsentrasi dalam melihat ilusi optis tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada kebiasaan ingin langsung mencapai tujuan, dan tidak menghargai proses. Hari itu Tuhan memberikan pelajaran untuk menikmati sebuah proses pencarian. Teman-temanku langsung melihat gambaran tersebut, saya yang tidak bisa berkonsentrasi jadi semakin gelisah. Mengapa hanya saya yang tidak bisa melihatnya? Apakah saya terlalu berpikir pada gelasnya atau pada isinya? Semakin saya berpikir semakin tidak mampu saya menampak gambar tersebut. Ketika saya melepaskannya dan memasuki keheningan bersamaNya, saya lalu dimampukanNya untuk menampak gambar itu. Bersabar menantikan hasil, itulah pelajaran berharga dari hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa yang baik,&lt;br /&gt;Terima kasih atas cintaMu,&lt;br /&gt;yang dengan sabar menantikan diriku,&lt;br /&gt;sabar mengajarkan aku untuk menghargai sebuah proses,&lt;br /&gt;bahkan jika hasil dari proses itu tidak mampu kulihat sejak awal,&lt;br /&gt;belajar menghargai harapan akan iman dalam kehidupan,&lt;br /&gt;Tuhan kasihanilah kami...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-4134235524241116773?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/4134235524241116773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/10/melihat-wajah-yesus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4134235524241116773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4134235524241116773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/10/melihat-wajah-yesus.html' title='Melihat Wajah Yesus'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-99603299511030007</id><published>2010-08-06T15:39:00.000-07:00</published><updated>2010-08-07T16:09:42.028-07:00</updated><title type='text'>Mencari wajahNya dalam meditasi</title><content type='html'>Setelah suster yang biasa membimbing kami dalam doa meditasi pindah tugas, kami sempat beberapa saat tidak berkumpul. Tetapi sudah tiga hari ini kami berkumpul kembali di bawah bimbingan seorang suster lain yang datang menggantikan suster kami dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini kami dibimbing untuk lebih mengenal meditasi itu sendiri. Diam dan hening dan hanya berfokus kepada wajahNya. Sebagian dari kami pernah mengikuti metode ini bersama suster terdahulu, tapi sebagian lagi lebih mengenal metode kontemplasi Kitab Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama meditasi, walaupun suster pembimbing bersuara memberi panduan untuk meditasi, fokus utama saya masih terpecah. Antara doa dan raga saya pribadi. Rasanya entah bagaimana saya tiba-tiba menyadari benar kehadiran tubuh dan kaki saya. Tubuh dan kaki ini belum menemukan posis yang tepat untuk ikut larut dalam keheningan itu, sehingga senantiasa mengganggu konsentrasiku. Lucunya pada hari kedua, seorang teman yang baru datang mengikuti sesi meditasi ini mengalami hal yang serupa dengan pengalaman hari pertamaku. Pada hari pertama, ketika di satu sisi saya menyadari kehadiran ragaku, di lain pihak pikiranku berkelebat menyuruhku membaca kitab Ayub. Tentu saja dalam meditasi kali ini aku tidak bisa langsung membuka Kitab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kedua, saya sudah lebih mampu berkonsentrasi. Apalagi ketika harus fokus pada perjumpaan yang paling membahagiakan dalam hidup ini. Perjumpaan terindah itu adalah perjumpaan denganNya. Ketika Ia hadir dalam diamNya merengkuh aku yang terpuruk dalam kesedihan dan membagikan kedamaian yang hangat mengisi hatiku di antara diginnya derai air mataku. HadirNya yang tidak bisa terlukis dengan kata-kata ataupun terlukis dengan pena. HadirNya yang hanya bisa terasa kerena kehangatan cintaNya yang menyelimuti dan memadamkan seluruh kemarahan dan kebencian dari dalam hatiku. HadirNya yang mampu membuat aku memandang diri sendiri dan kekurangan diriku. Betapa tidak ada manusia yang sempurna. Hanya Sang Pencipta Yang Maha Besar yang patut menjadi hakim teradil di dalam kehidupan ini. Perjumpaan itu sungguh mewarnai seluruh kehidupan saya. Kerinduanku akan perjumpaan seperti itu membuat aku kini sungguh-sungguh mengerti makna dari lagu, "Bagaikan rusa yang mendamba air, jiwaku rindukan Dikau Tuhan." Aku haus akan hadirNya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada minggu ke tiga kami berkumpul, kami diajak untuk mencari wajah Yesus. Bunda Theresa melihat wajah Yesus pada orang-orang yang terpinggirkan di Kalkuta. Dari Markus 9 ayat 2-13, aku teringat pada meditasi minggu sebelumnya. Kerinduanku akan hadirNya, keinginanku untuk terus merasakan kedamaian hati dan cintaNya yang hangat menyelimuti. Aku ingin seperti Petrus yang ingin membuatkan tenda bagi Yesus, Nabi Elia, dan Nabi Musa. Kami ingin menghadirkan kemuliaanNya terus di hadapan kami. Tetapi kami tidak mengerti kehendak Allah. KehadiranNya tidak selalu dalam kemuliaan yang bermandi cahaya dan kehangatan cinta, terkadang Ia hadir dalam ketakutan seperti ketika menghadap Bapa di taman Getsemani, terkadang Ia hadir dalam bilur-bilur kesakitan dan derita yang ditempuhNya dalam perjalanan ke bukit Golgota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus 2: 1-10, saya tersentuh terutama pada ayat 8 dan 9 "Sebab karena kasih dan karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri." Kalimat ini membawa saya kembali ke masa-masa kering dalam pelayanan saya ketika saya menjadi Marta yang meminta Yesus untuk menegur Maria yang hanya duduk diam mendengarkanNya. Ketika saya bergiat untuk pelayanan di kegiatan kerohanian mahasiswa, atau kemudian bergiat di dalam lingkup pelayanan lingkungan, atau bahkan dalam menjadi relawan bagi museum, terkadang terasa jenuh dan lelah. Mengapa orang lain tidak membantu agar pekerjaan ini menjadi lebih mudah? Rohani saya menjadi kering dan doa menjadi sulit untuk saya. Seorang pastur pernah mengatakan bahwa saya terlalu terfokus pada kegiatan organisasi itu sendiri. Kini saya tahu jawaban yang sebenarnya, saya terlalu mengandalkan kemampuan diri saya sendiri. Saya lupa bahwa Ia bekerja dalam diri setiap orang dengan cara yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil Marta paling lekat dengan diri saya. Rasanya saya selalu menjadi orang di belakang layar yang sibuk kesana kemari dan terkadang saya bertanya-tanya, "apakah semua itu perlu?" Apakah tidak lebih baik saya menjadi Maria yang cukup duduk manis mendengarkanNya? Keseimbangan antara pelayanan Marta dan kepasrahan Maria menjadi suatu pekerjaan rumah bagi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tadi juga membawa saya kembali kepada kisah yang paling mengganggu nuraniku, yaitu perumpamaan orang dengan lima telenta (Matius 25: 16-30). Lima telenta yang kumiliki terasa menjadi beban yang memecah konsentrasiku. Aku tidak mampu memikirkan talenta yang mana yang harus kukembangkan terlebih dahulu. Aku tidak mampu memprioritaskan cara mengembangkan seperti apa yang Tuhan inginkan aku lakukan. Dia tidak meninggalkan perintah sebagai petunjuk. Dia memberi lima talenta seperti Tuan itu membagi talenta bagi hamba-hambanya dan pergi tanpa petunjuk. Dalam perumpamaan Yesus justru orang yang memperoleh lima talenta dan dua talenta yang pergi menggandakan talenta mereka. Sebenarnya realita terbanyak adalah orang merasa Tuhan memberinya terlalu sedikit untuk dikembangkan, itulah lambang dari hamba yang hanya menerima satu talenta dan menanamnya. Ironisnya saya lebih merasa sebagai hamba yang memiliki lima talenta dan bingung hendak diapakan talenta itu agar bisa berkembang dan tidak hilang. Hasilnya tidak lebih baik dari hamba yang hanya beroleh satu telenta itu. "Semua itu bukan hasil pekerjaanmu," sabdaNya. Seharusnya aku tidak perlu banyak berpikir, cukup pergi, bekerja dan biarkan Ia yang menggandakan semua hasil dari talenta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya semua yang kuperoleh selama tiga kali meditasi terakhir ini juga merupakan kondensasi dari doa meditasi (kontemplasi) selama bertahun-tahun kujalani bersama komunitas kecilku sebelumnya. Kalau sebelumnya pikiranku tetap bebas mengembara ke sana ke mari, melenggang ke Perjanjian Lama ataupun bagian lain dari Perjanjian Baru, maka sekarang aku juga belajar mengosongkan pikiran selama meditasi. Sungguh-sungguh kosong dari semua kebiasaan melompat-lompat dari sel-sel abu-abu pemberianNya, dan membiarkan Dia mencoba memasuki pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yesus,&lt;br /&gt;Terkadang kehadiran Bapa, Putra dan Roh Kudus membuatku tidak ingin mencari rupa,&lt;br /&gt;CahayaMu terasa sudah cukup menjadi wajah Tritunggal yang Maha Kasih.&lt;br /&gt;WajahMu terkadang hadir di hampir semua wajah yang kutemui,&lt;br /&gt;Membuat aku terkadang tidak tahu yang mana yang harus kudahulukan,&lt;br /&gt;Terima kasih karena Engkau mau hadir dalam hidupku,&lt;br /&gt;Tolonglah aku mengerti jalan yang harus kupilih agar sesuai dengan yang digariskan Bapa bagiku.&lt;br /&gt;Temani aku dan kuatkan daku melalui Roh KudusMu,&lt;br /&gt;Agar mampu mengembangkan lima talenta itu sesuai dengan kehendak Allah.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-99603299511030007?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/99603299511030007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/08/mencari-wajahnya-dalam-meditasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/99603299511030007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/99603299511030007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/08/mencari-wajahnya-dalam-meditasi.html' title='Mencari wajahNya dalam meditasi'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6959929747353254856</id><published>2010-06-14T14:24:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T14:53:21.497-07:00</updated><title type='text'>Waktu adalah karunia</title><content type='html'>Beberapa waktu belakangan ini, terasa sekali betapa waktu adalah karunia terbesar yang diberikanNya kepada kita. Apakah kita bisa mengisinya dengan sesuatu yang berguna, atau sekedar menghabiskannya sangat tergantung pada kemauan dan usaha kita. Betapa banyak hal yang ingin kutulis tetapi akhirnya terlewat begitu saja. Penting atau tidak menuliskannya, memang akhirnya tergantung dari makna yang bisa diperoleh oleh pembacanya. Bagi saya sendiri, menuliskan untaian kata yang mengalir keluar dari otak sehabis merenung atau membaca Kitab Suci merupakan catatan yang sangat berharga. Ketika berkilas balik terkadang saya sendiri merasa membaca sesuatu yang baru. Mungkin juga pada saat itu posisi pandang saya sudah bergeser lagi, situasi yang kuhadapi sudah berbeda, sehingga tulisan itu tiba-tiba membukakan makna lain yang tiba-tiba terbersit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah karunia yang terkadang tidak kita nikmati. Kita dikejar waktu ingin menyelesaikan banyak hal sekaligus. Padahal Tuhan sudah memberikan contoh betapa Ia mengerjakan penciptaan secara bertahap, satu demi satu. Kemudian Ia juga membutuhkan menyisihkan satu hari untuk beristirahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang seringkali waktu terasa terbang begitu saja. Anak-anak yang tadinya bayi mungil tiba-tiba sudah mulai besar. Kemudian masa remaja menghilang, dan tuntutan dunia dewasa mulai menghampiri. Begitulah lingkaran kehidupan. Kita berpacu dengan waktu. Ada hal yang berubah, ada hal yang tidak berubah. Kedegilan manusia mungkin merupakan satu hal yang sulit berubah. Tetapi Ia selalu memaafkan, selalu mencari dombaNya yang hilang. Karena akan ada sukacita di surga karena satu orang yang bertobat, melebihi sukacita karena 99 orang yang tidak perlu bertobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita merasa tidak perlu bertobat, karena merasa masih berada dalam kawanan dombanya. Tetapi waktu juga yang menyadarkan betapa seringkali kita melenceng ke luar dari kawanan domba yang digembalakanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;kuingin menghargai waktu yang Kau berikan,&lt;br /&gt;kuingin memanfaatkan waktuku untuk kemuliaanMu,&lt;br /&gt;terkadang godaan besar bagi sukacitaku pribadi terasa besar,&lt;br /&gt;tetapi Dikau mengingatkan betapa sukacita itu menjadi lebih penuh&lt;br /&gt;saat berjalan dalam bimbinganMu.&lt;br /&gt;Tuhan, Gembalaku....&lt;br /&gt;Sumber kekuatan dan ceriaku,&lt;br /&gt;Penuntun jalan kehidupanku,&lt;br /&gt;Jangan tinggalkan diriku tersesat,&lt;br /&gt;Bawalah daku ke padang rumputMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6959929747353254856?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6959929747353254856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/06/waktu-adalah-karunia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6959929747353254856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6959929747353254856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/06/waktu-adalah-karunia.html' title='Waktu adalah karunia'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-181798289001614335</id><published>2010-05-04T14:57:00.000-07:00</published><updated>2010-05-04T15:51:44.963-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana mengenali kehadiranNya?</title><content type='html'>Bacaan meditasi hari Jumaat kemarin diambil dari Injil Lukas 24: 13-35. Dari bacaan itu, yang sangat berkesan pada saya adalah ayat 30-31. "Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucapkan berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya tersentuh pada kehadiran sebuah kebiasaan baik yang membuat murid-murid itu mengenali kehadiran Yesus. Yang teringat pada saat itu adalah perlunya memberikan kebiasaan baik yang sama kepada anak-anakku agar mereka juga bisa merasakan kehadiran Yesus. Kemudian teringat juga betapa seringkali dalam saat konsekrasi saya harus berjuang antara keinginan untuk menasehati anak-anak (yang sibuk bermain atau bercanda) atau tetap berusaha mendekatkan diri dalam diam kepada kehadiranNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis, Reda Gaudiamo pernah juga menyentilku melalui tulisannya "Minggu Pagi" di dalam buku kumpulan cerpennya "Bisik-bisik". Saya kutipkan sebagian di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Bapa Kami yang ada di Surga, dimuliakanlah namaMu. Datanglah kerajaanMu, Jadilah kehendakMu, di bumi seperti juga di dalam surga..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Ssst..."&lt;br /&gt;"Hah, kenapa?"&lt;br /&gt;"Kok begitu?"&lt;br /&gt;"Apanya?"&lt;br /&gt;"Matamu itu. Kalau berdoa, ditutup. Rapat."&lt;br /&gt;"Ah."&lt;br /&gt;"Kalau diberi tahu selalu ah, ah, ah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Berilah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tutup matamu."&lt;br /&gt;"Kenapa, Ma?"&lt;br /&gt;"Karena memang begitu aturannya."&lt;br /&gt;"(A)turan di mana?"&lt;br /&gt;"Di mana-mana."&lt;br /&gt;"Di gambar-gambar, orang berdoa dengan mata terbuka. Malah menengadah ke langit."&lt;br /&gt;"Itu gambar. Kalau di gereja lain. Mau menengadah ke mana? Langitnya tertutup genteng. Ayo tutup mata!"&lt;br /&gt;"..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Dan ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Eh, tutup mata!"&lt;br /&gt;"Tidak bisa."&lt;br /&gt;"Harus bisa. Apa susahnya menutup mata?"&lt;br /&gt;"Tidak mau."&lt;br /&gt;"Harus mau."&lt;br /&gt;"Ah."&lt;br /&gt;"Ah, ah terus. Ini doanya sudah setengah jalan, hampir amin, kamu masih terus melotot. Tutup mata!"&lt;br /&gt;"Ah."&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa kalau matamu di tutup? Semua orang tidak punya masalah dengan menutup mata waktu berdoa?"&lt;br /&gt;"..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Jadi mengantuk, Ma. Nanti aku malah ketiduran."&lt;br /&gt;"Mengantuk? Ketiduran? Wah, bahaya itu."&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Karena Engkaulah yang empunya kerajaan, dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanua..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Itu artinya kamu kurang iman."&lt;br /&gt;"..."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar Reda membacakan cerpen ini saya juga teringat pada konsekrasi di gereja. "Tutup matamu," saya memerintahkan kepada anak-anak, tetapi bagaimana saya bisa tahu bahwa mereka tidak menutup mata mereka? Bukankah itu berarti saya membuka mata saya? "Diamlah dan berdoa," begitu perintah saya pada anakku, tetapi bukankah saat itu saya bersuara dan tidak sedang berdoa? Sesekali mereka masih tergelak dan tidak terasa sebuah cubitan mendarat di paha mereka. "Apakah engkau muridKu?" sebuah suara mendadak terdengar dari balik kalbuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan dan contoh merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya bagi anak-anak. Bagaimana mengenali kehadiranNya melalui sebuah kebiasaan baik bila kita tidak menanamkannya di dalam rumah? "Berilah contoh, lakukanlah dengan segenap hatimu maka mereka akan mengenalinya," begitu kata hatiku. Hal yang terasa berat tetapi menjadi lebih ringan ketika saya yakin bahwa Ia senantiasa menjadi Guru yang membimbing langkahku. Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, tidak ada kursus yang bisa membuat kita mengenal secara rinci anak-anak itu. Mereka adalah makhluk Tuhan yang unik, setiap anak dititipkan dengan karakter mereka masing-masing. Mengenali mereka tidak akan terlalu rumit bila Yang Maha Tahu ada bersama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lain yang terasa kemudian adalah betapa sering saya menjadi seperti murid-murid itu yang menginginkan kehadiran Yesus secara nyata, dengan pertanda yang jelas dalam kehidupanku. Tetapi dalam kenyataannya Ia lenyap, dan kita harus berusaha mencariNya di dalam kebaikan hati sesama, di dalam kebiasaan baik yang senantiasa diajarkanNya kepada kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih karena senantiasa mengingatkan kami,&lt;br /&gt;perjalanan ke Emaus terasa singkat bersamaMu,&lt;br /&gt;semoga demikian juga perjalanan kami di bumi ini,&lt;br /&gt;senantiasa diisi dengan suasana hati yang berkobar-kobar dalam kedamaian,&lt;br /&gt;karena Engkau hadir bersama kami.&lt;br /&gt;Kami percaya,&lt;br /&gt;dalam saat yang tepat Engkau menyadarkan kami akan kehadiranMu,&lt;br /&gt;semoga kami selalu berbahagia menjadi orang yang percaya walaupun tidak melihat.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-181798289001614335?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/181798289001614335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/05/bagaimana-mengenali-kehadirannya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/181798289001614335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/181798289001614335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/05/bagaimana-mengenali-kehadirannya.html' title='Bagaimana mengenali kehadiranNya?'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-233522800589100787</id><published>2010-04-19T10:17:00.000-07:00</published><updated>2010-05-03T14:55:36.382-07:00</updated><title type='text'>Pekerjaan yang dikehendaki Allah</title><content type='html'>Sebuah bacaan menarik dari Injil Yohanes 6:22-31 mengajak saya untuk merenungkan mengapa saya mencari Allah. Apakah saya mencariNya karena roti yang diberikanNya untuk kenyamanan hidup kedagingan saya, atau karena Roti Hidup (Yoh 6:30-35) yang dijanjikanNya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menyentuhku adalah perkataan Yesus,"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meteraiNya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sepanjang kehidupan ini, saya merasa bekerja untuk Roti yang Hidup itu. Karena terfokus pada pencapaian rohani, terkadang tidak teringat pada kebutuhan fisik yang juga nyata. Ketika masih sendiri (maupun berdua suami) tidak terasa betapa besar kebutuhan materi itu, tetapi ketika anak-anak hadir dalam kehidupan kami maka keberadaan materi menjadi lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya keseimbangan hidup itulah yang perlu dicari. Suamiku terlalu fokus pada hal materi, sementara saya terlalu fokus pada hal rohani. Keduanya tidak menghasilkan buah yang baik. Keseimbangan dalam hidup dan kepasrahan untuk meletakkannya dalam bingkai kehendak Tuhan merupakan jalan yang diperlihatkanNya kepadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang paling sering kumiliki adalah "Pekerjaan apa yang dikehendaki Allah untuk aku lakukan?" Maka jawabNya kepadaku,"&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang diutus Allah&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang masa Prapaskah kemarin saya diingatkan untuk mengerjakan perintah hatiku, sekecil apapun kontribusinya terhadap keluarga dan masyarakat. Tuhan yang akan melengkapi pekerjaanku. Seperti salju kecil yang bergulir di padang saljuNya, maka Ia akan menambahkan volume bola salju itu menjadi besar dan tidak terkira pengaruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan dan iman adalah hal yang senantiasa ditekankan oleh Yesus dalam pemberian mukjizat-mukjizatNya. "Pergilah, imanmu sudah menyelamatkanmu," itulah perkataanNya yang paling sering terucap. Bahkan kalau hanya punya iman sebesar biji sesawi, dijanjikanNya bahwa kita bisa melakukan hal yang tampak mustahil di mata manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara mengucapkan "Aku percaya" dari mulut dengan mengucapkan "Aku percaya" dari hati tidak sama. Terkadang mulut mengucapkannya dan menyatakan kepasrahan kepada Tuhan, tetapi hati dan pikiran terus berkutat dengan segala kemungkinan untuk keluar dari masalah yang dihadapi, tanpa memberikan waktu kepadaNya untuk bekerja. Waktu yang perlu kita pakai adalah waktu Tuhan, dan Ia menjanjikan bahwa semua akan indah pada waktuNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;anugerahi kami dengan iman yang cukup&lt;br /&gt;agar kami mampu percaya dan pasrah seutuhnya&lt;br /&gt;kepada kerahimanMu.&lt;br /&gt;Berkati kami dengan Roh KudusMu,&lt;br /&gt;agar senantiasa kuat menjalani pergumulan hidup ini.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-233522800589100787?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/233522800589100787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/04/pekerjaan-yang-dikehendaki-allah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/233522800589100787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/233522800589100787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/04/pekerjaan-yang-dikehendaki-allah.html' title='Pekerjaan yang dikehendaki Allah'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-1827724711754735437</id><published>2010-04-16T13:13:00.000-07:00</published><updated>2010-04-19T10:16:52.639-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Bagian dari KaryaNya</title><content type='html'>Bacaan hari Jumat ini (Yohanes 6:1-15) membuat saya menggaris bawahi beberapa hal. Pertama, betapa pentingnya melihat hal positif dari sebuah masalah. Kedua, betapa Tuhan membutuhkan kerelaan kita untuk berbagi agar kuasaNya bisa berkarya di dalam diri manusia. Yang ketiga adalah sebuah pertanyaan pribadi, "Mampukah saya mendatangi Yesus tanpa tarikan mukjizatNya? Mampukah saya bertahan bersamaNya dalam jalan salibNya?" Orang-orang itu datang berbondong-bondong ke tempat Yesus karena melihat mukjizat-mukjizat besar yang dilakukanNya. Apakah mereka masih tetap ada dan menginginkan Yesus menjadi raja ketika Ia didera dalam cambukan, ditelanjangi dan dihina dalam proses perjalanannya ke Puncak Golgota? Apakah mereka masih mau memandangNya yang tergantung di kayu salib? Bagaimana dengan diriku, di posisi manakah aku barada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus menyaksikan orang banyak mengikutinya, dan mengetahui kebutuhan manusiawi mereka akan pangan. Ketika Ia bertanya kepada murid-muridNya, maka ada tiga tipe reaksi. Reaksi pertama dari Filipus yang melihat dari kacamata negatif, "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini..." Reaksi kedua adalah reaksi Andreas yang menunjukkan keberadaan seorang anak dengan lima roti dan dua buah ikan, walaupun ia juga bersikap pesimis mempertanyakan apa artinya jumlah itu bila ingin dibagikan bagi jumlah lima ribu laki-laki yang hadir. Yang ketiga adalah reaksi murid-murid lain yang diam saja, menantikan apa yang akan terjadi. Andreas mampu melihat peluang yang ada, walaupun tidak mampu melihat cara pemecahan masalahnya. Tuhanlah yang kemudian menyempurnakan pemecahan masalah itu. Saya merasa seringkali bertindak seperti Filipus, alangkah indahnya bila sanggup melihat dari kacamata Andreas yang lebih positif dan meminta Tuhan untuk menyempurnakan jalan keluar permasalahan kita. Terkadang juga saya hanya diam seperti murid-murid yang masuk dalam kategori ketiga, menantikan tindakan Tuhan tanpa ikut serta berpikir atau berusaha. Tuhan menghendaki kita menjadi bagian dari karyaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerelaan untuk berbagi dari anak kecil itu juga menyentuh saya. Sebagai anak kecil tentunya bekal yang disediakan ibunya sangat terbatas, dan itu bisa jadi merupakan bekal makan malam itu dan keesokan harinya. Tetapi ia mau memperlihatkan bekalnya kepada orang dewasa yang menanyakan bekal yang dibawa. Kerelaannya berbagi kembali mengingatkan saya kepada kisah kakek pengemis dari Korea Selatan yang karya kecilnya menggelinding menjadi sebuah perkampungan yang begitu nyata pertolongannya bagi orang banyak. Hal kecil yang sederhana menggelinding menjadi besar. Begitu juga dengan kisah koin Prita, dari sekedar uang receh bagi perorangan menjadi bagian dari aksi solidaritas warga yang mampu menembus angka miliar rupiah. Tetapi terus terang ketika menuliskan tulisan ini saya juga jadi teringat pada Koin untuk Bilqis. Bilqis akhirnya sudah mendapatkan tempat di sisiNya. Usaha manusia dan kehendak Allah tidak selalu sejalan, tetapi apa yang terjadi dan pembelajaran apa yang ada di sepanjang kejadian itu merupakan kuasa Allah. WaktuNya tidak selalu merupakan waktu kita, rencanaNya tidak selalu dapat langsung kita maknai. Menjadi bagian dari karyaNya berarti kita bukan saja rela untuk berbagi bagi sesama, melainkan juga rela untuk menerima penderitaan yang mungkin memang harus kita jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Bapa Yang Maha Kuasa,&lt;br /&gt;terima kasih atas semua berkat dariMu,&lt;br /&gt;karuniakanlah Roh Kudus di atas kami,&lt;br /&gt;dan mampukan kami untuk menjadi bagian dari Karya besarMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-1827724711754735437?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/1827724711754735437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/04/menjadi-bagian-dari-karyanya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1827724711754735437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1827724711754735437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/04/menjadi-bagian-dari-karyanya.html' title='Menjadi Bagian dari KaryaNya'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-7082579438910448935</id><published>2010-04-10T20:46:00.001-07:00</published><updated>2010-04-14T08:46:36.025-07:00</updated><title type='text'>Ia memantau kita</title><content type='html'>Dalam bacaan Injil hari Jumat yang lalu, yaitu Injil Yohanes 21:1- 14, terlihat betapa Yesus senantiasa ada mengamati umatNya walaupun terkadang yang diamati tidak mampu melihatNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman memperhatikan betapa kebutuhan pokok manusia akan makanan juga sangat diperhatikan Yesus. Yoh 21:5 Yesus bertanya kepada murid-muridNya (yang tidak mengenalinya): "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita melupakan kehadiran Yesus bersama kita dalam perjalanan kita di dunia ini. Ketika kesengsaraan datang mendera maka kita tidak teringat akan jalan salib Yesus yang begitu sulit dan penuh kesengsaraan. Beban yang kita pikul tidak ada artinya dibandingkan dengan beban yang dipikulNya. Sebagai manusia aku tidak bisa membayangkan betapa memalukan dan menderitanya perjalanan ke bukit Golgota itu. Terus terang kecenderunganku yang lebih besar adalah menolak cawan pahit penderitaan itu. Siapa yang ingin hidup menderita? Siapa yang ingin dihina dan dipermalukan di depan orang banyak? Siapa yang ingin disiksa untuk hal-hal yang tidak pernah dilakukannya? Yesus secara manusiawi merasakan ketakutan itu, tapi Ia berani menjawab Allah Bapa dengan kepatuhan yang penuh "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagiMu, ambillah cawan ini daripadaKu, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." (Markus 14:36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus meminta murid-murid itu menebarkan jala mereka ke sebelah kanan perahu, dan mereka berhasil mendapatkan banyak ikan. Yohanes segera teringat pada Tuhan Yesus yang ketika pertama kali memanggil mereka untuk menjala manusia juga melakukan hal yang sama (Luk 5:6). Petrus mendengar hal itu segera berpakaian dan terjun ke dalam danau untuk mendatangi Yesus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang peserta doa kami terkesan pada ayat 7 Injil ini dimana Petrus yang tidak berpakaian segera mengenakan pakaiannya untuk menemui Yesus. Memang secara logika, jika ingin terjun ke danau tentunya lebih enak tidak berpakaian (apalagi yang model jubah) dan nanti setelah naik ke darat barulah berpakaian yang kering, dan terasa nyaman. Teman kami itu merasakannya sebagai ajakan untuk lebih memperhatikan pakaian kita ketika ingin menghadap kepada Tuhan. Betapa sering kepatutan berpakaian tidak lagi terlihat di gereja. Memang kepatutan yang paling utama adalah kesiapan dan kebersihan hati, tetapi sikap menghormati Tuan rumah biasanya juga terpantul dari cara berpakaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Petrus yang dipilih oleh Yesus sebagai Paus pertama? Mengapa bukan Yohanes, murid yang dikasihiNya? Tampaknya Petrus senantiasa secara spontan siap mendekati Yesus. Ia yang berani menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16), ia pula yang (walaupun sambil menyamarkan diri) setia mencari jalan untuk melihat Yesus yang ditangkap...hal yang akhirnya membuatnya menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Petrus sedih karena kesalahan itu sebenarnya sudah diberitahukan sebelumnya oleh Yesus kepadanya (Matius 26:75). Ia kemudian mengingatkan kita untuk menjadikan penderitaan Kristus sebagai teladan (1 Petrus 2:18-25). Ia meminta kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran kepada Tuhan karena Ia yang memelihara kita (1 Petrus 5:7). Iblis berjalan mencari orang yang dapat ditelannya, dan Petrus mengajak kita untuk "Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya...." (1 Petrus 5:9-10). Ia juga mengingatkan untuk mengabdikan diri bukan karena mencari keuntungan pribadi, tetapi semata karena ingin turut serta mewujudkan kehendak Allah. Peringatan ini bisa untuk rohaniwan, tetapi tidak tertutup juga untuk kita umat biasa yang mendapat panggilan untuk mengabdikan diri melalui sesama dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memantau kita, Ia akan bertindak ketika kita sungguh-sungguh membutuhkan bantuan. Jangan pernah berpikir kita sendirian, karena Ia senantiasa memantau kebutuhan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Ampuni kami yang sering tidak mengenaliMu,&lt;br /&gt;yang lebih sering menuntut dan menggerutu&lt;br /&gt;daripada berusaha lebih keras lagi.&lt;br /&gt;Terima kasih atas kasih karuniaMu,&lt;br /&gt;Atas pendampinganMu dan pantauanMu,&lt;br /&gt;Karena kami sungguh membutuhkanMu &lt;br /&gt;walau terkadang kami lupa dan terlalu bersandar pada kekuatan manusia...&lt;br /&gt;Tuhan, berkatilah kami...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-7082579438910448935?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/7082579438910448935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/04/ia-memantau-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7082579438910448935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7082579438910448935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/04/ia-memantau-kita.html' title='Ia memantau kita'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-2736246937650338854</id><published>2010-03-19T16:29:00.000-07:00</published><updated>2010-03-20T01:27:58.695-07:00</updated><title type='text'>Memberi Dalam Ketiadaan</title><content type='html'>Rasanya susah benar memikirkan bagaimana caranya memberi kepada sesama yang miskin dan tertindas bila kita sendiri masih diliputi kecemasan akan urusan kehidupan pribadi. Ketika urusan keuangan masih berkutat di dalam masalah urusan rumah tangga sendiri, agak sulit memikirkan urusan orang lain. Karena itu saya sendiri lebih banyak membagikan waktu kepada orang lain dibandingkan memberikan bantuan materi. Tetapi sebuah lampiran kisah yang terdapat di dalam bahan Pendalaman Iman Lingkungan Masa Pra Paskah 2010 "&lt;a href="http://www.flower-vill.com/"&gt;Kkottongnae&lt;/a&gt;" sangat menyentuh. Kisah yang berasal dari Korea itu memperlihatkan betapa orang tidak perlu menjadi orang kaya untuk berbagi materi. Kakek Choi Gwi Dong yang dilahirkan dari keluarga kaya, kemudian harus melalui kepahitan perang dan kehilangan semua keluarga dan harta bendanya. Dia tidak meratapi nasibnya, melainkan dia justru mengangkat martabatnya sebagai pengemis dengan membagikan rezeki yang diperolehnya kepada pengemis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah itu sungguh menyentuh aku. Terpuruk dalam kehidupan di bawah kolong jembatan sudah cukup parah, tetapi dia pasrah dan malah melakukan kegiatan berbagi yang kemudian menggelinding menjadi besar, menjadi Kkottongnae atau Flower Village. Dia tidak perlu kaya, tidak perlu menjadi selebriti, tetapi ketika dia bekerja bagi Tuhan maka Tuhan yang menggelindingkan dan menggelembungkan hasil pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah melihat kehidupan para tuna wisma di Seoul, jadi terbayangkan betapa tegar kakek Choi ini. Seoul di malam hari, ketika itu dekat dengan stasiun kereta api Seoul, merupakan tempat orang-orang mencari kehangatan di balik kardus-kardus mereka. Ada yang minum minuman yang menghangatkan badan, tetapi bisa jadi kadar alkoholnya cukup tinggi. Ketika itu ada seorang kakek tua yang dengan marah berteriak-teriak kepadaku yang sedang memotret stasiun. Mungkin disangkanya aku memotret kehidupan mereka. Sebenarnya aku sudah terlebih dahulu memotret orang-orang yang tidur di lorong-lorong kereta bawah tanah. Banyak orang tua yang sendirian, entah dimana keluarganya...Jadi kisah kakek Choi ini langsung membuka kembali memoriku mengenai para tuna wisma di Seoul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi dalam ketiadaan, begitulah keadaan yang digambarkan kisah kakek Choi itu. Karena ia berani memberi dari ketiadaannya (ingatanku melayang kepada janda dengan dua dinarnya) maka Pastur Oh Woong Jin mendapatkan keberanian untuk memulai "House of Love" yang kemudian berkembang dan dikenal sebagai Flower Village.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Kor 9:16-12 menggambarkan betapa Paulus mengajak orang-orang di Korintus untuk mau berbagi. Terkadang ketika melihat pengemis di lampu merah kita sudah terlebih dahulu berpikir negatif karena memang dalam kenyataannya ada organisasi-organisasi yang menyalah-gunakan keberadaan pengemis ini. Kisah kakek Choi membuat saya berpikir betapa yang paling penting adalah membiarkan suara hati kita memimpin. Tuhan bekerja dengan tidak kita sangka-sangka. Kakek Choi bekerja tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari karyanya akan mampu menyelamatkan orang banyak. Terkadang berpikir dalam skala yang terlalu besar membuat orang takut melangkah. Kisah ini memperlihatkan betapa Tuhan hanya membutuhkan dua ekor ikan untuk dilipat gandakan menjadi bakul-bakul ikan yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian Pendalaman Iman masa Pra Paskah 2010 ini yang sangat berkesan bagi diri saya adalah ajakan untuk berpikir positif. Sebagai orang yang senang memulai hari dengan mempertimbangkan segala keraguan, semula berpikir positif bagi saya adalah jalan yang beronak duri. Saya dahulu merasa bila kita tidak pernah melihat sisi negatif suatu masalah maka kita tidak akan siap menghadapi kenyataan buruk yang menghadang. Ternyata, memulai segala sesuatu dengan berpikir positif bisa jadi akan lebih menguatkan ketika hal-hal negatif itu terjadi, karena kita senantiasa mampu melihat hal positif lain yang ada di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, &lt;br /&gt;Terima kasih atas semua berkatMu,&lt;br /&gt;bantulah kami untuk lebih mampu lagi bersyukur,&lt;br /&gt;lebih mampu berbagi kasih kepada sesama,&lt;br /&gt;lebih mampu melihat hal-hal positif dalam kehidupan kami,&lt;br /&gt;agar karyaMu bisa terlaksana&lt;br /&gt;dan berkatMu senantiasa memperkaya kami dengan kekayaan hati yang kekal.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-2736246937650338854?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/2736246937650338854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/03/memberi-dalam-ketiadaan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2736246937650338854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2736246937650338854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/03/memberi-dalam-ketiadaan.html' title='Memberi Dalam Ketiadaan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5556826986174450091</id><published>2010-03-19T15:25:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T16:28:56.108-07:00</updated><title type='text'>Mencintai Tuhan Dengan Segenap Kekuatanku</title><content type='html'>Dari bacaan hari Jumat minggu yang lalu, yaitu dari Markus 12:28b-34, saya sangat terkesan pada kalimat "Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan yang esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik dari pertemuan kelompok doa saya adalah betapa manusia berbeda. Yang sangat menarik bagi saya adalah perintah pertama. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap kekuatanmu. Saya merasa begitu lemah, begitu banyak kekurangan, dan Tuhan tahu itu sehingga meminta untuk mengasihiNya dengan segenap kekuatanku. Kekuatan manusia yang terbatas, tapi menjadi tidak terbatas ketika Roh Kudus bekerja di dalam kita. Tuhan Yang Esa...Dialah sumber Roh Kudus yang menguatkan itu, kepadaNya kita memohon tambahan kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri terasa lebih mudah. Seorang peserta doa juga mengamini hal yang sama, menurutnya mengasihi Allah yang tidak terlihat menjadi lebih sulit daripada mengasihi manusia yang bisa berinteraksi secara langsung dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi teman yang lain lebih tertarik kepada mengasihi sesama manusia. Menurutnya lebih sulit mengasihi sesama manusia. Ia memakai perumpamaan pekerjaan sebagai ilustrasi. Mengasihi Allah diumpamakannya sebagai pekerjaan pembukuan, yang ada hanya pekerja pembukuan itu dengan angka-angka di hadapannya. Jadi mengasihi Allah hanya urusan pribadi antara manusia dan Allah. Mengasihi sesama manusia diumpamakannya sebagai pekerjaan personalia, petugas personalia harus berhubungan dengan banyak orang, banyak karakter dan temperamen. Jadi mengasihi sesama manusia memiliki aspek yang lebih kompleks karena banyak perbedaan pandangan ataupun sikap antara manusia yang satu dengan manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungannya membuat saya kembali berpikir betapa memang mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri sendiri mungkin belum terlalu tepat. Ada orang yang mampu menerapkan disiplin hidup yang keras terhadap dirinya sendiri, mampu menempatkan tuntutan yang besar untuk dirinya. Kalau kemudian ia menerapkannya untuk orang lain yang berbeda dari dirinya, maka tentunya keributan yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang menurut suster, ungkapan mengasihi sesama manusia ini disempurnakan dalam Injil Yohanes 15:12 "Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya..."  Jalan salib Yesus, penderitaan dan hinaan yang dilaluiNya dalam perjalanan ke Golgota merupakan kerelaan menanggung aib dan sengsara yang seharusnya menjadi milik manusia. Ia rela malakukan hal itu untuk menebus umat manusia. Bila dia mengasihi kita sedemikian rupa, mengapa pula kita masih sering menggunakan hukum "mata ganti mata"? Mengapa terkadang pengampunan begitu sukar kita berikan dengan tulus? Padahal semua kemarahan, semua kebencian itu Ia yang harus menanggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berganti abad, tetapi tetap saja manusia bebal terhadap perintah Allah. Ketika menuliskan tulisan ini tiba-tiba saya tersentuh pada kalimat "hai orang Isreal". Sampai hari ini Israel masih terus berperang untuk penguasaan atas tanah. Padahal jelas-jelas ucapan tersebut sangat ditekankan bahwa Allah itu Esa, kasihilah Ia dan kasihilah sesamamu manusia. Perang berarti memutuskan hak hidup orang lain, menghilangkan hak hidup normal bagi banyak orang, menanamkan kebencian dalam sanubari muda yang baru tumbuh...Ketika perang, siapakah sesamamu manusia? Saya jadi teringat pada pertikaian di pulau Kalimantan antara orang Dayak dan Madura. Saya pernah membaca betapa di tengah-tengah pertikaian itu terjadi kepiluan karena di antara mereka sebenarnya sudah ada terjadi perkawinan antar suku. Ketika pertikaian terjadi, siapa yang dibela; suku atau istri/suami/anak? Perang menihilkan arti manusia sebagai sesama kita, dan perang juga menihilkan arti kebaikan Tuhan yang dilimpahkanNya melalui penebusan dosa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;saya berterima kasih karena pencerahanMu,&lt;br /&gt;betapa manusia begitu beragam,&lt;br /&gt;baik bentuk, pikiran, dan tata cara kehidupannya.&lt;br /&gt;Kami begitu lemah,&lt;br /&gt;seringkali terjatuh dalam kemarahan dan kebencian,&lt;br /&gt;seringkali menuntut hak dan melupakan kewajiban kami,&lt;br /&gt;tolong kami dengan Roh KudusMu ya Bapa,&lt;br /&gt;agar kami mampu mencintaiMu dengan segenap hati, &lt;br /&gt;segenap jiwa dan pikiran, serta segenap kekuatan kami,&lt;br /&gt;karena dengan mencintaiMu kami mencintai sesama kami,&lt;br /&gt;dengan mencintai sesama kami,&lt;br /&gt;cinta kami kepadaMu menjadi nyata...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5556826986174450091?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5556826986174450091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/03/mencintai-tuhan-dengan-segenap.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5556826986174450091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5556826986174450091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/03/mencintai-tuhan-dengan-segenap.html' title='Mencintai Tuhan Dengan Segenap Kekuatanku'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5159319055357488888</id><published>2010-03-06T23:40:00.000-08:00</published><updated>2010-03-07T01:02:07.295-08:00</updated><title type='text'>Jangan Ragu Menjawab "Ya..."</title><content type='html'>Karena hari Jumat mengikuti sesi doa Lectio Divina bersama kelompok doa, dan hari Sabtu mengikuti Pendalaman Iman Lingkungan Masa Prapaskah 2010, maka ada beberapa catatan yang saling menguatkan yang muncul dari pertemuan-pertemuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan hari Jumat adalah Injil Matius 21: 33-43, 45-46. Ada dua pola pandang yang muncul dari bacaan ini. Pola pandang negatif adalah melihat keserakahan. Para pekerja di ladang berubah menjadi serakah, menginginkan ladang yang mereka kerjakan menjadi milik mereka sendiri. Semua utusan pemilik tanah untuk meminta hasil dari tanahnya dipukuli, di dilempari batu, bahkan dibunuh. Ketika pemilik tanah mengirimkan anaknya, justru keinginan untuk menguasai tanah itu semakin besar. Mereka yakin dengan meniadakan ahli waris dari tanah tersebut maka tanah itu menjadi lebih mudah mereka kuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang yang berbeda saya dapatkan dari buku renungan Cafe Rohani. Yang digaris-bawahi di dalam buku renungan ini adalah kesanggupan menerima utusan Allah yang diberikan untuk membimbing, menasehati, dan menegur kita. Sama seperti para pekerja di ladang yang merasa kenyamanan mereka terganggu karena didatangi oleh utusan tuan tanah, seringkali kita juga merasa terganggu ketika nurani kita diusik oleh perkataan yang bersifat kritik atau nasehat dari orang lain. Dari cara pandang ini yang ditekankan adalah kesanggupan untuk membuka diri, untuk melihat niat baik yang ditawarkan Tuhan melalui orang-orang yang dikirimkanNya dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, hari Jumat kemarin saya teringat pada seorang teman doa kami yang sudah almarhum. Perkataannya yang senantiasa terngiang di telinga adalah bahwa tidak ada hal yang kebetulan bagi Allah. Setiap perjumpaan, setiap kejadian, merupakan alat bagiNya untuk mendekatkan manusia kepadaNya. Sebenarnya kami terkenang akan kehadiran dan kata-kata almarhum teman kami itu, kesediaannya menerima penderitaan dalam penyakitnya. Kenangan indah yang diberikannya karena ia hanya membagikan bagian kehidupannya yang indah kepada kami. Penderitaan adalah tantangan, keputusan untuk suatu langkah di masa depan adalah tantangan. Apakah kita berani menjawab tantanganNya dengan menjawab "Ya, aku bersedia..."? Dan sanggupkah kita konsisten dalam menanggapi tantangan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang bagi saya terkadang pertanyaan "Kemana Tuhan memanggilku?"&lt;br /&gt;masih merupakan suatu pertanyaan yang belum tuntas terjawab. Saya merasa sedang dalam proses untuk mengetahuinya. Dalam pertemuan lingkungan kami, dengan bacaan Injil Lukas 4:16-21, ada dua hal utama yang muncul. Pertama, jangan ragu untuk menjawab panggilan pelayanan. Tidak ada kata belum siap, belum ada waktu, belum punya dana, untuk mengikuti panggilan pelayananNya. Katakan saja "Ya, aku bersedia..." maka jalanNya akan terbukakan bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, adalah catatan pribadi saya sendiri. Kita dipanggil untuk ambil bagian bagian dalam misi Yesus mewartakan kabar gembira kepada "orang-orang miskin". Kita dipanggil sebagai dan di dalam komunitas, meskipun setiap pribadi juga punya misinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu benar misi ini, mengabarkan kabar suka-cita kepada "orang-orang miskin", bukan sekedar kepada orang yang miskin secara materi, tapi juga kepada mereka yang miskin secara rohani. Kata-kata yang sangat menyentuh saya kemarin adalah kata "miskin". Sudahkah saya sungguh-sungguh peduli pada mereka yang miskin? Ataukah saya malah terjerembab merasa diri "miskin" sehingga tidak mampu menolong? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan, saya senantiasa merasa "kaya" sampai kenyataan hidup yang bertubi-tubi menyadarkan betapa materi ikut berperan dalam memberikan posisi "kaya" agar senantiasa mampu menjadi mereka yang memiliki tangan di atas. Tanpa materi saya masih kaya dengan waktu. Tetapi setelah memiliki keluarga, maka waktu menjadi sesuatu yang sangat mahal nilainya. Pilihan antara menggunakan waktu untuk mencari materi atau untuk memberikan pelayanan, merupakan keadaan yang sedikit banyak sedang memenuhi benakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya beberapa waktu yang lalu, ketika saya kembali mengajar ke sekolah, saya merasa diberi nasehat oleh Tuhan untuk tidak sombong. Ketika saya berhenti mengajar dahulu, saya berpikir lebih baik memberikan pelayanan yang murni tanpa perlu menerima imbalan. Tetapi ketika kenyataan prioritas waktu untuk anak dan waktu untuk pelayanan total tidak bisa bertemu (ditambah dengan kekuatan fisik yang juga terbatas), maka saya kembali ke pelayanan dimana saya masih menerima upah walaupun dalam hitungan pertukaran waktu merupakan upah yang kecil nilainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan singkat dalam buku "Mari Bekerja Sama Melawan Kemiskinan" mengatakan bahwa setiap orang dilahirkan ke dunia dengan suatu misi. Manusia mesti menemukan misiNya. Misi itu ternyata bukan untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan diri sendiri, tetapi demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya perkataan inilah yang paling penting untuk kuingat, "demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain." Lingkaran pertama dalam orang lain di luar diriku adalah keluargaku, kemudian membesar ke lingkungan dan masyarakat, lalu ke lingkungan bernegara. Lingkaran terkecil harus penuh terisi sambil mengisi ke lingkaran yang lebih besar di luarnya. Aku percaya Tuhan akan menunjukkan jalanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih atas pengertian yang Dikau berikan pada kami hari ini,&lt;br /&gt;Siramilah kami dengan rahmat dan kasih karuniaMu &lt;br /&gt;agar senantiasa kuat menempuh jalan berbatu yang sedang kita tempuh bersama.&lt;br /&gt;Engkau yang mengangkat salib itu, dan aku membantu dengan tenagaku yang terbatas&lt;br /&gt;dengan ketegaran yang mudah tergores.&lt;br /&gt;BagiMu tiada hal yang mustahil,&lt;br /&gt;ingatkan aku senantiasa ya Tuhan...&lt;br /&gt;karena aku sudah menjawab "Ya..."&lt;br /&gt;tapi seringkali terjatuh dan enggan bangkit kembali...&lt;br /&gt;Jadilah tongkat ketegaran dan kekuatanku,&lt;br /&gt;Jadilah pelita penerang jalanku,&lt;br /&gt;jadilah air penyegar dahagaku,&lt;br /&gt;jadilah manna hidup yang memberiku kehidupan di dalam Engkau...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5159319055357488888?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5159319055357488888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/03/jangan-ragu-menjawab-ya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5159319055357488888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5159319055357488888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/03/jangan-ragu-menjawab-ya.html' title='Jangan Ragu Menjawab &quot;Ya...&quot;'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-7913426710410575258</id><published>2010-02-26T13:08:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T13:40:03.980-08:00</updated><title type='text'>Hukum Positif</title><content type='html'>Dari pertemuan kedua Pendalaman Iman Lingkungan Masa Pra Paskah 2010, saya terkesan pada ajakan fasilitator acara untuk melihat kata-kata Yesus dalam Matius 19: 16-26 dengan menggunakan kacamata positif. Kata-kata yang perlu dilihat dari sudut pandang positf itu ada di ayat 18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai sesi pendidikan anak, orang tua selalu diajari untuk mulai menghindari kata "jangan", dan "tidak boleh". Katanya sih, dengan menggunakan kata negatif seperti ini yang akan teringat hanya kata kerjanya, yang justru tidak kita inginkan untuk dilakukan. Jadi kata "jangan nakal" hanya akan mengingatkan anak bahwa ia nakal...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan membunuh," kata Yesus. Apakah kita adalah pembunuh? Mungkin kita melakukan pembunuhan karakter, pembunuhan semangat, atau pembunuhan lainnya? Tetapi mencoba mendengarkannya dengan terjemahan positif menjadi sangat menyenangkan. "Sudahkah kita memberi kehidupan kepada orang lain?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan berzinah," kata Yesus. Apakah kita pernah tidak setia? Dalam pikiran? Dalam perbuatan? Tetapi mencari-cari kelemahan tidak akan memperbaiki diri. Untuk maju ke depan, lebih menyenangkan mendengar: "Sudahkah engkau mencintai dengan sungguh-sungguh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan mencuri," kata Yesus. Apakah kita pernah korupsi? Minimal korupsi waktu seperti aku ketika menulis blog? Rasanya motivasi akan lebih terbangun bila yang terdengar menjadi, "Sudahkan engkau memberikan bagian dari milikmu kepada orang yang membutuhkannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan mengucapkan saksi dusta," kata Yesus. Apakah kita sudah terbiasa dengan kebohongan kecil? Atau kita menganggap "white lie" itu perlu? Sebenarnya nurani tidak bisa dibohongi. Jadi, lebih baik bertanya, "Sudahkan kita mengikuti suara hati yang murni?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan itu rasanya bisa membantuku untuk fokus kepada hasil yang ingin dicapai. Menerapkan pola berbicara yang positif terhadap anak-anak sangat tidak mudah, tetapi dengan bantuan pembalikan fokus dari contoh di atas, rasanya lebih mudah untuk bergerak maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih karena kami memperoleh kacamata baru,&lt;br /&gt;yang mampu membantu kami untuk melihat dari sisi positif&lt;br /&gt;sehingga dunia bisa tampak lebih indah,&lt;br /&gt;dan tugas kami juga terdengar lebih menyenangkan...&lt;br /&gt;Fokus kami menjadi jelas,&lt;br /&gt;dan jalanMu menjadi lebih terang...&lt;br /&gt;Tetapi Bapa,&lt;br /&gt;kami manusia yang seringkali terjatuh,&lt;br /&gt;bantu kami untuk bangkit kembali,&lt;br /&gt;beri kami Roh KudusMu agar senantiasa mampu melihat dari sisi yang positif&lt;br /&gt;dan mampu mengisi dunia dengan hal-hal yang positif,&lt;br /&gt;amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-7913426710410575258?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/7913426710410575258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/hukum-positif.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7913426710410575258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7913426710410575258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/hukum-positif.html' title='Hukum Positif'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-3774914154965234020</id><published>2010-02-19T07:39:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T22:39:47.067-08:00</updated><title type='text'>Hal Berpuasa</title><content type='html'>Jumat ini ada dua bacaan yang kami baca sekaligus, yaitu Yesaya 58: 1-14 "Kesalehan yang palsu dan yang sejati", dan Matius 9: 14- 17 "Hal berpuasa". Tulisan dari kitab Yesaya membuat saya dan teman-teman tergugah, terutama di ayat 6-7.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Berpuasa yang Aku kehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang-orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kita bukan hanya diminta untuk melepaskan tali kuk, tetapi juga untuk mematahkan setiap kuk. Seorang teman jadi terpikir betapa kita diminta untuk melepaskan kuk yang terpasang pada orang lain, tentunya lebih tidak boleh lagi memasangkan kuk kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita memakaikan kuk kepada orang lain dengan prasangka, memandang rendah, ataupun mendiskreditkan orang lain. Dan semakin kita menyebarkan hal buruk tentang orang lain kepada orang-orang di sekitar kita semakin kuat kita menalikan kuk tersebut ke orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus menegaskan betapa perbuatan benar yang berasal dari hati lebih penting daripada perbuatan yang dilakukan untuk dilihat orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan esoknya, pada acara pendalaman iman di lingkungan kami, dibahas "Siapakah sesamaku manusia?" (Luk 10:29). Yang menarik, dalam penjelasan fasilitator dijelaskan betapa ada kendala yang dihadapi oleh imam dan orang Lewi kalau mereka harus menolong orang yang dirampok dalam kisah di Lukas 10: 25-37. Jadi dalam menghadapi kendala itu, tetap perbuatan baik harus didahulukan. Menurut saya orang Samaria juga sebenarnya menghadapi kendala yang sama. Sebagai orang asing dari suku yang berbeda bisa saja dia malah terkena berbagai macam prasangka, belum lagi beban biaya yang harus ditanggungkannya bila ternyata orang tersebut menghabiskan biaya lebih dari dua dinar. Tetapi dia tidak memikirkan kemungkinan buruk yang harus dihadapinya, melainkan tetap menolong korban tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan si akhli Taurat, sesama orang itu adalah orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya. "Pergilah dan perbuatlah demikian!" kata Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan baik kepada sesama sebenarnya adalah berbuat untuk diri kita sendiri, demikian kata fasilitator malam itu. Benar juga, saya teringat lagi pada bagian lain dari Yesaya (Yesaya 58:8-12), ketika kita memecah-mecah roti bagi yang lapar, memberi tumpangan kepada yang tidak berumah, dan memberi pakaian kepada yang telanjang, serta tidak menyembunyikan diri dari saudara yang membutuhkan, maka "pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang agak sulit kumengerti dari Matius 9, yaitu ketika Yesus membandingkan hal berpuasa dengan menambalkan kain yang belum susut kepada baju tua, serta menyimpan anggur yang baru di dalam kantong kulit yang tua. Ternyata ini berhubungan dengan pola pikir dan hati kita juga. Tidak ada gunanya berpuasa dan bermati-raga selama perbuatan dan pikiran kita masih tetap dalam pola lama yang belum dipenuhi pertobatan. Kita perlu mengganti diri menjadi baru di hadapan Allah agar pantas menerima kehadiranNya. Panggilan pertobatan menggema dari ayat ini...Sediakanlah hati yang baru agar tidak koyak dalam menerima limpahan anugerah yang kita terima karena puasa kita. Pertobatan adalah jalan untuk memperbaharui kantong kulit tempat menyimpan anggur yang baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih atas berkatMu,&lt;br /&gt;bimbing kami agar mampu memperbaharui hati kami,&lt;br /&gt;bukakan mata kami terhadap kehadiran sesama kami,&lt;br /&gt;karena Dikau hadir di dalam mereka juga...&lt;br /&gt;Berkenanlah hadir melalui diri kami juga,&lt;br /&gt;agar kami dimampukan menjadi sesama yang bagi orang-orang di sekitar kami,&lt;br /&gt;agar kami bisa membantu memuliakan namaMu,&lt;br /&gt;dan menghadirkan kasihMu di dunia ini.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-3774914154965234020?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/3774914154965234020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/hal-berpuasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3774914154965234020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3774914154965234020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/hal-berpuasa.html' title='Hal Berpuasa'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-2945804010190354444</id><published>2010-02-16T07:25:00.000-08:00</published><updated>2010-02-19T07:38:28.136-08:00</updated><title type='text'>Waspada Terhadap "Ragi"</title><content type='html'>Dari Injil Markus 8:14-21 saya temukan perkataan; "Berjaga-jaga dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes." Terkadang perkataan Yesus mungkin memang membingungkan bagi murid-muridNya, itulah sebabnya mereka menghubungkan ucapannya dengan ketiadaan roti. Pikiran orang yang sedang lapar tentunya tidak jauh dari makanan. Ketika mereka hanya punya sebuah roti, sementara rasa lapar sudah mendera, bisa jadi mereka tidak mampu mengingat dua belas bakul ataupun tujuh bakul yang tersisa dari penggandaan roti yang pernah Yesus lakukan. Yang terekam dalam otak mereka hanyalah makna negatif dari kata "berjaga-jaga dan awaslah". Mungkin dalam benak mereka, Yesus sedang meminta mereka untuk berpuasa, jangan sampai termakan roti dari orang Farisi maupun dari Herodes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari renungan di Cafe Rohani saya temui pararel dari ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Orang Farisi katanya kerap kali hanya menekankan segi-segi lahiriah dan hidupnya tidak mendalam. Sementara Herodes hanya tertarik pada hal duniawi dan kuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cafe Rohani menyoroti kediaman para murid dalam menghadapi teguran Yesus. Mereka merasa malu karena sudah lama mengikuti Kristus tanpa mampu mengenali makna yang lebih dalam dari perkataan dan tindakanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama mengikutiNya bukan jaminan untuk mengenaliNya. Sama seperti kisah pemanggilan para pekerja untuk bekerja di ladang, ada yang datang sejak pagi, ada yang baru datang menjelang sore...dan semuanya menerima upah yang sama. Dari beberapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sharing&lt;/span&gt; dalam kelompok seringkali saya temui kenyataan betapa banyak orang yang sekarang bergiat di dalam pelayanan Gereja semula sama sekali tidak aktif, bahkan boleh jadi tidak terlalu mengenalNya. PanggilanNya menggema dan berbuah pada pekerja yang baru datang, dan ladangnya tetap terbuka bahkan bagi pekerja yang datang satu jam sebelum pembagian upah berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragi yang membusukkan roti merupakan bahaya yang perlu kita waspadai. Dalam jumlah dan takaran yang tepat ragi berguna untuk mengembangkan roti, tetapi terlalu berlebihan membuat adonan rusak dan tak terpakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Engkau sudah lama memanggilku datang di ladangMu&lt;br /&gt;dan terkadang aku tercenung memikirkan apa saja yang sudah kukerjakan&lt;br /&gt;cukup rajinkah aku?&lt;br /&gt;Ataukah aku hanya memikirkan upah yang sama yang akan Dikau berikan pada yang datang sesudah aku?&lt;br /&gt;Lalu tak sempat kuperhatikan semaian yang menjadi tugasku?&lt;br /&gt;Tuhan ragi penampilan lahiriah, hal duniawi dan kekuasaan juga menjadi batu sandungan&lt;br /&gt;di ladang yang kugarap,&lt;br /&gt;Bantu daku mengenal kasihMu yang indah&lt;br /&gt;yang memberi kekuatan untuk membuang semua ragi yang siap membusukkan diriku...&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih pendampinganMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-2945804010190354444?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/2945804010190354444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/waspada-terhadap-ragi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2945804010190354444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2945804010190354444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/waspada-terhadap-ragi.html' title='Waspada Terhadap &quot;Ragi&quot;'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-971716439072147816</id><published>2010-02-11T17:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-12T19:44:40.622-08:00</updated><title type='text'>Membaca KehendakNya</title><content type='html'>Terkadang terasa sangat sulit membaca kehendak Tuhan. Secara garis besar tentunya kehendakNya adalah perbuatan yang baik. Tetapi ketika harus memilih di antara dua (hal/prioritas baik) sebelum melakukan tindakan, rasanya begitu sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru hari Minggu yang lalu aku tercenung mendengarkan satu perkataan pastur dalam homili: "Mulailah dalam keluarga." Hanya perkataan itu yang kuingat persis, tapi sepertinya inti perkataannya adalah janganlah melayani ke luar kalau yang di dalam belum terlayani. Itulah persepsi saya hari Minggu itu. Sebelumnya saya juga sering mendengar suster dan teman-teman lain menekankan betapa pentingnya menuntaskan karya di dalam "Yerusalem" (keluarga) sebelum melangkah keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja ingin memantapkan diri dengan fokus ke dalam rumah saja, bacaan tentang perempuan Siro-Fenisia dan sebuah kesaksian dalam acara pertemuan wilayah memberikan masukan yang berbeda lagi. Seorang Ibu memberikan kesaksian mengenai awal mula dia terjaring untuk melayani, selain itu ia memperlihatkan untaian kata yang menurutnya memberikan inspirasi untuk perutusannya. Ketika itu ia juga merasa belum mampu untuk melayani ke luar, anak masih kecil-kecil, kebutuhan rumah tangga juga masih belum berkecukupan. Bacaan yang dibawanya memang memberi inspirasi. Dikatakan di sana untuk menyerahkan semua masalah yang kita punya kepada Tuhan, dan pergilah melayani. Tuhan yang akan menyelesaikan masalah tadi. Kisah perempuan Siro-Fenisia juga memperlihatkan bahwa pelayanan tidak boleh terbatasi hanya di dalam kalangan sendiri saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah lho...jadi prioritas pertama yang mana lagi nih? Sebenarnya saya juga sudah tahu prinsip yin-yang, prinsip keseimbangan hidup. Keseimbangan itu juga yang kuperlukan dalam melihat karakter Maria dan Marta. Antara kontemplasi/doa dengan perbuatan perlu keseimbangan. Karakter dua bersaudara ini memang senantiasa menarik perhatianku, Maria yang duduk manis mendengarkan Yesus dan Marta yang sibuk melayani Yesus dan tamu-tamunya. Menyediakan waktu yang tepat untuk diam dan mendengarkanNya serta waktu untuk berkarya dalam pelayanan untukNya memang perlu keahlian tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang karakter kuli di dalam diriku terlalu besar. Ya, bukan lagi sekedar hamba, tapi kuli...yang hanya mengerjakan hal-hal yang diperintahkan tuannya. Aku menantikan sabdaNya memberikan rincian detail untuk pilihan dan tindakanku. Aku menginginkan Dia mengendalikan kehidupanku, dan kesal ketika Dia diam saja tidak membantuku memutuskan pilihan-pilihan jalan hidupku. Aku menginginkan Dia menahkodai jiwaku, tetapi bersungut-sungut ketika pilihan jalanku berbadai dan berombak yang memabukkan. Dahulu cukup sering aku membuka Kitab Suci untuk mencari jawaban. Mencari jawaban dengan cara yang salah, mencari jawaban dengan membaca Kitab Suci seakan membaca ramalan bintang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Gabrielle Bossis, "Lui et moi" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia "Dia dan aku" membuatku iri akan kedekatan Gabrielle dengan Tuhan. Satu hal dari buku itu yang patut kuiingat adalah pendeknya keterangan Gabrielle dan panjangnya ungkapan Tuhan yang dicatatnya. Aku menyadari pentingnya membuat keheningan yang memampukan kita mendengar dan menangkap suaraNya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa perkataan yang dalam menegurku dari buku "Dia dan aku", "Tidak, tidak usah engkau melakukan lebih banyak, tetapi engkau harus melakukannya dengan cara yang lain: menerima cobaan-cobaan kecil sehari-hari dengan lebih gembira." Lalu, katanya pula; "Mengertilah, bahwa kesalehan itu terletak dalam cara mengasihi, cara engkau melakukan pekerjaan kecilmu sehari-hari. Perbesarkan kasihmu dengan merenungkan penderitaanKu dan luka-lukaKu. Pakailah segala macam cara yang dapat mendekatkan engkau kepadaKu. Ingatlah akan Zakheus yang memanjat pohon. Keinginannya yang besar untuk bertemu dengan Aku Kuhadiahkan dengan kunjunganKu ke rumahnya. Hiduplah dengan lebih mementingkan kehidupan ke dalam daripada kehidupan ke luar. Karena Aku datang bertamu di hatimu dan setiap kali engkau masuk ke dalam, engkau akan menemukan Aku, karena di sanalah Aku berada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan inspiratif untuk bisnis di halaman iklan Karier juga membuatku tercenung pagi ini. Judul tulisan itu "Misi", dikatakan perlunya kejelasan misi agar seluruh aspek dalam perusahaan bergerak untuk pemenuhan misi itu. Ada satu kutipan ucapan yang menarik di sana: &lt;blockquote&gt;Kita sesungguhnya bisa mengecek sendiri, apakah di akhir hidup nanti kita bisa berkata: "I did what I was created to do. I contributed to this world in a significant manner."&lt;/blockquote&gt; &lt;br /&gt;Mungkin inilah akar permasalahan itu, dunia mengajariku untuk melihat segala sesuatunya dengan ukuran duniawi. Apakah saya sudah mengerjakan hal yang karenanya aku diciptakan? Bukankah Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah untuk menaklukkan bumi dan berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan semua binatang yang merayap di bumi? Bukankah manusia diciptakan dengan gambar dan rupa Allah untuk memuliakan namaNya? Jadi ukuran penciptaanNya bukan seberapa banyak taklukan itu, atau seberapa besar kontribusi materi dan tenaga yang kita keluarkan, tetapi seberapa sesuai kita menjalankan misi kita di dunia ini. Jadi seberapa banyak kita menyebarkan kabar bahagianya? Seberapa berhasil kita membuat namaNya dimuliakan orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;anakMu lelah berpikir...&lt;br /&gt;tidak tahu jalan mana yang Kau ingin kujalani,&lt;br /&gt;terkadang bersungut ketika kerikil masuk ke sepatuku...&lt;br /&gt;Terlupa bahwa daku yang turun dari boponganMu &lt;br /&gt;karena ingin mencoba berjalan dan berlari...&lt;br /&gt;menangis ketika terjatuh dan berlari kembali ke dalam pelukanMu,&lt;br /&gt;tetapi sejenak terlupa dan kembali ingin turun berlari...&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;berkati kami dengan rahmatMu,&lt;br /&gt;dan curahkanlah kekuatan Roh Kudus untuk membimbing mata hati kami,&lt;br /&gt;agar sungguh dapat memuliakan namaMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-971716439072147816?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/971716439072147816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/membaca-kehendaknya.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/971716439072147816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/971716439072147816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/membaca-kehendaknya.html' title='Membaca KehendakNya'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-7186367203793716679</id><published>2010-02-11T08:17:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T17:43:09.156-08:00</updated><title type='text'>Penyakit dan Kesembuhan</title><content type='html'>11 Februari 1858 &lt;a href="http://yesaya.indocell.net/id74.htm"&gt;Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadette Soubirous&lt;/a&gt; di sebuah gua di Lourdes. Tanggal 11 Februari juga merupakan Hari Orang Sakit Sedunia. Saya teringat pada Prosesi Lilin di Lourdes. Sama seperti yang diungkapkan oleh seorang pembaca tulisan &lt;a href="http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=6469"&gt;Lourdes Memanggil &lt;/a&gt;dari seorang teman di portal jurnalisme warga, saat menjelang senja itu menjadi pemandangan iman yang sangat indah. Orang-orang yang sehat membantu orang-orang yang sakit untuk datang dan mengikuti acara. Orang yang hadir dari seluruh dunia, menyalakan lilin dan berdoa bersama. Pemandangan itu terpatri dalam ingatanku. Orang yang secara fisik sakit berbaur dengan orang-orang yang tampak sehat. Ketika itu saya belum sepenuhnya mengerti kesakitan yang lain...kesakitan rohani! Kini, saya sadar sepenuhnya bahwa bisa saja di antara orang-orang yang tampak sakit tersebut ada juga orang-orang yang sakit secara rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah milis non Katolik saya membaca pertanyaan mengapa Bernadette tidak mampu menyembuhkan dirinya sendiri dengan air dari Grotto yang katanya penuh dengan mukjizat penyembuhan. Mengapa Bernadette harus meninggal pada usia yang masih cukup muda, 35 tahun? Rasanya orang yang mengajukan pertanyaan itu hanya melihat kesembuhan dari sisi duniawi, dan melupakan sisi rohani kesembuhan. &lt;a href="http://yesaya.indocell.net/id79.htm"&gt;Bernadette sendiri hampir sepanjang hidupnya menderita sakit&lt;/a&gt;, tapi ia tidak mengeluh melainkan mempersembahkan semua penderitaannya kepada Tuhan sebagi silih demi pertobatan orang-orang berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita tidak mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang sedang menderita penyakit. Kisah seorang perempuan yang dua belas tahun lamanya menderita pendarahan hanya terdengar bagaikan penyakit biasa sebelum aku sendiri ikut merasakan betapa menderitanya mengalami pendarahan itu. Ketika darah mengalir bagai air ketuban, dengan waktu pendarahan yang panjang bahkan terasa tak berkesudahan...baru terasa betapa menderitanya perempuan itu. "Asal kujamah saja jubahNya maka aku akan sembuh" (Matius 9:21). Ia begitu yakin akan kesembuhan yang bisa diperolehnya dari Yesus, karena itu Yesus mengatakan bahwa imannya telah menyelamatkannya (Matius 9:22). Kepercayaan dan iman yang dalam ini seringkali sulit tumbuh di hati yang berbatu-batu atau berlumut karena egoisme, keangkuhan, dan keserakahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Injil di Hari Orang Sakit Sedunia kemarin mengambil kisah Perempuan Sio-Fenisia yang percaya (Markus 7:24-30). Tidak seperti dalam kisah perempuan yang menderita pendarahan selama dua belas tahun di atas, yang hanya dengan membatin dan menjamah jubah Yesus langsung disembuhkan, perempuan Siro-Fenisia ini terus menerus berteriak-teriak minta tolong kepada Yesus dan tidak diindahkan. Dari Matius 15:21-28 bisa kita ketahui betapa murid-murid Yesus meminta Yesus untuk menyuruh perempuan itu pergi. Jawaban Yesus yang menarik untuk disimak: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Jadi, tidak ada kata pengusiran untuk orang-orang yang mengikutiNya. Permintaan untuk mengusir perempuan Siro-Fenisia (Kanaan) itu hanya memiliki satu implikasi bagi Tuhan, yaitu memberikannya kesembuhan yang dimintanya. Karena perempuan itu tidak termasuk dalam kawanan domba Israel, maka Ia tidak bisa memberikannya, tetapi bila perempuan itu hendak terus mengikutiNya maka Ia tidak bisa menyuruhnya pergi. Rupanya hal itu bukan karena Ia memilih umat yang ingin disembuhkanNya, melainkan karena Ia masih menguji iman perempuan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada kepada anjing." Perkataan itu amat pedas menohok perasaan, tetapi seorang ibu yang berjuang bagi kesembuhan putrinya itu tidak terguncang imannya. Ia menjawab: "Benar Tuhan, tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan, sepenuhnya percaya kepada kerahiman Hati KudusNya adalah kunci kesembuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apakah hanya kesembuhan yang kasat mata yang diberikanNya? Terkadang mungkin bukan itu yang dijanjikanNya. Bernadette memperlihatkan hal tersebut, setelah penampakan Bunda Maria ia justru semakin menderita. Ada kecurigaan dari orang-orang, ada perhatian yang berlebihan...Bernadette tidak memperoleh kesembuhan dunia, ia bahkan menghabiskan sebagian besar dari harinya di atas tempat tidur karena sakit. Bernadette yang memperoleh karunia menemukan sumber mata air kesembuhan di Lourdes bahkan tidak menerima kesembuhan fisik itu sendiri. Tetapi di balik itu, saya bisa merasakan betapa Tuhan menyertainya, menguatkannya, dan membantunya memanggul salib derita itu. KasihNya yang merengkuh dan mengayomi adalah hadiah terindah yang menyembuhkan luka-luka batin dan menguatkan kita dalam menyongsong hari-hari yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yang Maha Pengasih,&lt;br /&gt;aku hanyalah manusia biasa yang seringkali jatuh,&lt;br /&gt;yang tidak kuat manahan derita dan sakit,&lt;br /&gt;yang rindu akan mata air penyembuhan yang Dikau tawarkan...&lt;br /&gt;Terima kasih atas kekuatan yang Dikau curahkan melalui KasihMu yang kekal abadi,&lt;br /&gt;atas penghiburan yang Dikau berikan di saat-saat kusedih dan terpuruk,&lt;br /&gt;Jadikanlah aku keceriaanMu,&lt;br /&gt;Kuatkanlah daku dalam menemani jalan salibMu,&lt;br /&gt;BersamaMu kupercaya akan beroleh kesembuhan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-7186367203793716679?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/7186367203793716679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/penyakit-dan-kesembuhan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7186367203793716679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7186367203793716679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/penyakit-dan-kesembuhan.html' title='Penyakit dan Kesembuhan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-3455021299885420396</id><published>2010-02-09T03:47:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T09:13:50.832-08:00</updated><title type='text'>Kelemahanku bukan penghalang bagi kemuliaanNya</title><content type='html'>Manusia seringkali lemah dan terjatuh. Yesus sendiri terjatuh tiga kali dalam jalan salibNya ke Golgota. Tentunya kejatuhan Yesus berbeda dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, tetapi saya senang mngingatnya sebagai perlambang betapa berat jalan salib kehidupan. Beberapa waktu yang lalu saya sebenarnya tersentak dengan kisah Raja Daud, tapi kesibukan pribadi membuat saya tidak segera menuliskannya. Hampir terlupa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Samuel 11:1-27 bercerita tentang kisah Daud dan Betsyeba. Orang seringkali hanya mengingat bahwa Daud menginginkan istri Uria sehingga mengirimkannya ke medan perang hingga tewas. Setidaknya itu juga yang saya ingat sebelum membaca bacaan ini beberapa minggu yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sebelum kejadian itu Daud sudah menghamili Betsyeba. Untuk menutupi kesalahannya, Daud menyuruh Uria pulang ke rumahnya dan membasuh kakinya. Tentunya dalam benak Daud, kesempatan itu akan digunakan Uria untuk menghampiri istrinya sehingga kesalahan yang diperbuatnya tidak perlu diketahui orang. Tetapi Uria setia kawan pada teman-temanya yang lain, katanya "Tabut serta orang Israel dan orang Yehuda diam dalam pondok, juga tuanku Yoab dan hamba-hamba tuanku sendiri berkemah di padang; masakan aku pulang ke rumahku untuk makan minum dan tidur dengan istriku? Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku takkan melakukan hal itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dosa yang skalanya lebih kecil (di mata manusia, di mata Tuhan bisa jadi sama saja) akhirnya mengantarkan Daud pada dosa yang lebih besar lagi...membunuh Uria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik bagi saya adalah kenyataan yang tertulis di dalam Matius 1:6. Dalam asal usul Yesus yang dituliskan oleh Rasul Matius, dikatakan bahwa keturunan Yusuf yang akan memberikan nama keluarga Daud kepada Yesus adalah berasal dari Salomo, anak Daud dan istri Uria.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan salah Daud menyebabkan Daud memperoleh hukumannya, tetapi rencana Tuhan tetap berjalan sesuai dengan kehendakNya. Dari kacamata manusia saya heran mengapa Tuhan memilih justru keturunan Daud dan Betsyeba. Daud pasti mempunyai istri-istri yang lain dan anak-anak dari mereka. Kisah ini sedikit menghentakkan saya kembali ke kisah Yudas Iskariot...takdir! Tetapi saya salah! Bicara takdir seakan mengatakan bahwa Tuhan memang menghendaki hal itu terjadi. Padahal Tuhan tidak menginginkan hal tersebut terjadi, hanya saja Ia menyerahkannya kepada kehendak bebas manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Yudas Iskariot terhenti dengan perasaan berdosa karena menyerahkan darah orang yang tidak bersalah. Tetapi penyesalan itu tidak membukakan mata hatinya untuk bertobat. Ia pergi dan menggantung diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Daud berbeda dari kisah Yudas. Ketika Nabi Natan memperingati Daud akan kesalahannya, ia sungguh menyesal. Terlebih lagi karena anak kecil tak berdosa yang dilahirkan Betsyeba baginya harus meninggal dunia. Ia berpuasa untuk meminta belas kasihan Allah ketika anak itu sakit, dan ketika anak itu ternyata tetap harus pergi maka ia menerima bahwa anak itu tidak akan kembali lagi padanya. Untuk menghibur hati Betsyeba yang bersedih, Daud menghampirinya dan memperoleh Salomo. Salomo dikasihi Allah sehingga diberi nama Yedija, oleh karena Tuhan. Rasanya Betsyeba juga sangat menyesal atas segala hal yang terjadi, sehingga penyesalan kedua orang ini memberikan belas kasih Tuhan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyesal saja rupanya tidak cukup, tetapi harus datang kepadaNya dan meminta belas kasihannya. Harus percaya bahwa Ia Maha pengampun dan pemurah, sehingga sungguh terlaksana belas kasihNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Daud memberikan bukti betapa Tuhan Maha mengampuni. Dari garis keturunan Salomo nama keluarga untuk pencacahan jiwa Yesus diberikanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;aku selalu takut salah mengambil langkah&lt;br /&gt;lupa akan kemurahan hati dan pengampunanMu,&lt;br /&gt;lupa akan kuasa penyesalan dan pertobatan,&lt;br /&gt;lupa akan besarnya kuasa penyelenggaraanMu...&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;mohon bimbinglah daku dalam perjalanan,&lt;br /&gt;beri kebijakan dalam memilih arah di persimpangan jalan,&lt;br /&gt;agar tak tersesat dalam kegelapan dosa&lt;br /&gt;dan tak terhentikan oleh pnyesalan yang tiada sempurna.&lt;br /&gt;Ampuni kesalahan kami ya Bapa...&lt;br /&gt;Biarkan kami tetap menjadi bagian dalam memuliakan namaMu,&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-3455021299885420396?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/3455021299885420396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/kelemahanku-bukan-penghalang-bagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3455021299885420396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/3455021299885420396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/kelemahanku-bukan-penghalang-bagi.html' title='Kelemahanku bukan penghalang bagi kemuliaanNya'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6202201959442932198</id><published>2010-02-06T06:44:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T03:43:35.830-08:00</updated><title type='text'>Berani Mewartakan Kebenaran</title><content type='html'>Mewartakan kebenaran tidak mudah. Yohanes Pembaptis membayarnya dengan kepalanya sendiri. Markus 6:14-29 menggambarkan bagaimana Yohanes Pembaptis dibunuh. Raja Herodes tidak senang ditegur oleh Yohanes karena mengambil Herodias istri saudaranya. Tetapi yang terlebih besar dendamnya kepada Yohanes adalah Herodias sendiri. Ia meminta putrinya untuk memohonkan kepala Yohanes sebagai hadiah bagi keindahan tariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik saya adalah karakter-karakter yang ada dalam kisah ini. Herodes yang terombang-ambing, antara senang dan benci kepada Yohanes. Dia masih memiliki suara hati tapi ragu untuk melaksanakannya. Ia juga sangat impulsif, ketika terpesona pada keindahan tarian putri Herodias segera dijanjikannya hadiah...apa saja, bahkan setengah dari kerajaannya. Walaupun sebuah janji kaisar memang perlu ditepati tetapi seorang kaisar yang bijaksana tentunya perlu menimbang permintaan yang tidak masuk akal. Permintaan hadiah kepala Yohanes Pembaptis di atas nampan menurut saya pribadi adalah permintaan yang bila dikabulkan akan menurunkan harkat seorang kaisar menjadi seorang pembunuh. Tetapi Herodes lebih malu terhadap orang-orang yang mendengar &lt;br /&gt;janjinya daripada mendengar nuraninya sendiri. Ia tidak ingin kehilangan muka sehingga terpaksa memenuhi permintaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter lain yang tampak dominan adalah Herodias. Dia pasti cantik dan memikat lelaki. Dan ia tahu mempergunakan kecantikannya. Sayang sekali ia menggunakannya untuk memuaskan ambisi dan egonya sendiri. Kemarahannya kepada Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa ia sukarela menjadi istri Herodes. Menjadi istri kaisar lebih terhormat baginya daripada menjadi istri saudara kaisar. Ia mengenal Herodes, dan tahu akan kebimbangan-kebimbangan Herodes...itulah sebabnya ia senantiasa mencari jalan agar Yohanes Pembaptis tidak bisa lagi menajamkan suara hati nurani Herodes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga teman yang tertarik pada karakter anak Herodias yang sama sekali tidak kritis. Anak perempuan ini tanpa merasa bersalah mengorbankan kehidupan orang lain meneruskan permintaan ibunya kepada Herodes. Sebenarnya dia juga bisa bersuara, tapi dia diam saja dan memilih melanjutkan perannya sebagai aktris pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter yang tidak terlalu muncul tapi sangat kuat terasa kehadirannya adalah karakter Yohanes Pembaptis. Dia adalah orang yang berani mewartakan kebenaran walaupun memiliki resiko kehilangan kepalanya. Ini adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dilaksanakan di dunia nyata. Seringkali kita memilih menghindari konflik, dan menghindar dari memberikan kritik karena tahu bahwa orang-orang tersebut tidak senang dikritik. Terkadang kita juga menjadi seperti Herodes dan Herodias yang tidak bisa menerima kritik, lalu menuding orang lain sebagai pembawa kekacauan dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang menjadi korban karena membela kebenaran, karena menyuarakan kebenaran. Beranikah kita menjadi pewarta kebenaran? Yesus juga sudah tahu apa yang akan menghadangnya karena mewartakan kebenaran, tetapi Ia tidak gentar menghadapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;tidak mudah menjadi pewarta kebenaranMu,&lt;br /&gt;bukan jalan mulus yang terbentang&lt;br /&gt;tetapi jalan gurun yang tandus dan beronak duri yang tersedia,&lt;br /&gt;Kegentaran seringkali hinggap di hati,&lt;br /&gt;Keinginan untuk kenyamanan hidup menjadi fatamorgana yang menggoda,&lt;br /&gt;Bantulah kami untuk mampu terus melangkah bersamaMu,&lt;br /&gt;terkadang membiarkanMu mendukung diri kami yang terkapar,&lt;br /&gt;terkadang menguatkan diri berjuang ketika Dikau tidak nampak,&lt;br /&gt;karena kami yakin Dikau senantiasa menjaga...&lt;br /&gt;Semoga keyakinan itu berkobar semakin besar dan bukannya meredup atau padam.&lt;br /&gt;"Percaya sajalah," kataMu.&lt;br /&gt;Tuhan, Engkaulah sumber keberanian dan kekuatan kami,&lt;br /&gt;penuhi kami dengan kasihMu &lt;br /&gt;kuatkan kami dalam melangkah mewartakan kabar bahagiaMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;renungan dari bacaan yang sama http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/02/permintaan-anak-perempuan-herodias.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6202201959442932198?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6202201959442932198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/berani-mewartakan-kebenaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6202201959442932198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6202201959442932198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/berani-mewartakan-kebenaran.html' title='Berani Mewartakan Kebenaran'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-2394294374712672776</id><published>2010-02-02T10:44:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T11:48:51.577-08:00</updated><title type='text'>Mencari Kebenaran</title><content type='html'>Seorang teman mengirimi saya tautan dan isi dari tulisan &lt;a href="http://gerejastanna.org/menemukan-sendiri-kebenarannya/"&gt;Menemukan Sendiri Kebenarannya&lt;/a&gt; oleh Romo J. Sudrijanta, SJ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kebanyakan orang mengikuti suatu teori, keyakinan, kepercayaan, dogma, atau ajaran tertentu bukan karena melihat sendiri kebenarannya, tetapi karena bingung batinnya. Karena bingung, orang lari kepada ajaran tertentu dan ajaran yang dipegang erat-erat menambah lebih banyak kebingungan. Ajaran kebenaran yang dijadikan pedoman tingkah-laku lalu dijadikan pegangan untuk menilai ajaran-ajaran lainnya. Batin seperti itu hanya mampu melihat kebenaran sebatas pikiran dan tidak ada satupun pikiran yang mampu menyembuhkan batin dari kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun orang hafal kata-kata Yesus, Buddha, Mohamad, Krishna atau guru-guru spiritual lainnya, batin orang tidak akan berubah secara fundamental selama tidak mengenal dirinya sendiri, termasuk bagaimana berhubungan dengan ajaran-ajaran yang diikuti atau ditolaknya. Untuk bisa melihat yang palsu sebagai palsu dan yang benar sebagai benar, maka batin musti bebas dari beban pengaruh ajaran atau otoritas apapun. Kebenaran yang sesungguhnya tidak melekat pada ajaran atau otoritas apapun. Kebenaran ini begitu halus, tidak bisa dikenali oleh batin yang tidak bebas dari segala opini, penilaian, pembandingan, kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menerima begitu saja suatu ajaran hanya karena semata-mata sudah lama didengar, telah menjadi tradisi turun-temurun. Jangan menerima semata-mata karena telah banyak diperbincangkan atau diikuti banyak orang. Jangan menerima begitu saja hanya karena dikatakan dalam Kitab Suci Anda. Jangan menerima semata-mata karena keyakinan atau kepercayaan, karena bujukan atau paksaan dari luar, karena cocok dengan persepsi pikiran Anda dan selaras dengan perasaan Anda, karena alasan kepantasan, tampaknya bisa diterima atau baik untuk diterima, karena pembawa ajaran memiliki teladan hidup yang saleh, tokoh, panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula jangan menolak begitu saja ajaran yang baru Anda dengar hanya karena tidak datang dari tradisi Anda. Jangan menolak semata-mata karena ajaran itu ditolak olah banyak orang atau diikuti oleh sedikit orang. Jangan menolak begitu saja karena tidak tertulis dalam Kitab Suci Anda. Jangan menolak semata-mata karena Anda sudah terlanjur tidak percaya, karena takut dicap buruk oleh orang lain, karena tidak cocok dengan persepsi pikiran dan perasaan Anda, karena pembawa ajarannya tidak menarik, bukan tokoh atau bukan panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mendengar suatu ajaran, kita perlu melihat isinya, melihat ajaran sebagai ajaran. Kita perlu menyelami atau menyelidiki dengan batin yang bebas. Batin tidak boleh cepat-cepat menerima atau cepat-cepat menolak. Percaya bahwa suatu ajaran mengandung kebenaran tidak membuat Anda mengalami langsung kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batin yang bebas tidak cepat-cepat percaya pada apa yang dikatakan orang lain. Ia tidak menganggap orang lain memiliki otoritas dan apa yang dikatakan selalau benar. Lihatlah ajarannya, bukan pribadi yang menyampaikan ajaran. Kalau pribadi yang memberi ajaran memukau atau menarik, janganlah dibutakan oleh penampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batin yang bebas juga tidak cepat-cepat menolak ajaran yang dikatakan orang lain. Ia tidak mudah menerima atau menolak hanya dengan mengkaitkannya dengan latar belakang si pembawa ajaran. Kalau si pemabawa ajaran tidak memukau atau tidak menarik, janganlah mudah menolak ajarannya hanya karena penampilannya yang tidak menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batin yang bebas tidak terjebak pada anggapan bahwa seorang spesialis lebih tahu tentang suatu kebenaran daripada seorang non-spesialis. Begitu pula sebaliknya. Seorang non-spesialis bukan berarti kurang tahu daripada seorang spesialis. Akan tetapi Kebenaran musti ditemukan sendiri. Ia tidak bisa didapat dari seorang spesialis atau non-spesialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak pengalaman atau pengetahuan yang kita lekati, semakin tidak mudah kita melihat kebenaran. Semakin banyak pengetahuan, semakin besar kita dibuat ragu-ragu. Semakin kita bebas dari belenggu pengetahuan, semakin besar kemungkinan kita bebas dari belenggu keraguan. Oleh karena itu, kita musti siap bukan meragukan apa yang tidak kita ketahui, tetapi siap meragukan apa saja yang telah kita ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran yang sesungguhnya berada di luar lingkup apa saja yang dikenal. Perjumpaan dengan kebenaran ini menghabisi keragu-raguan. Pengalaman perjumpaan ini memberikan suatu cita-rasa kepastian yang bukan dari pikiran. Kalau Anda mengalami ini, Anda tidak membutuhkan persetujuan orang lain atau mencari pembenaran dengan doktrin tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran berhenti selama perjumpaan dengan kebenaran ini berlangsung dan pikiran hanya bisa mengenalinya setelah jeda perjumpaan itu berakhir. Pengalaman akan kebenaran ini tidak perlu disimpan sebagai doktrin baru karena semua doktrin justru menghalangi perjumpaan dengan kebenaran. Oleh karena itu, lebih bijaksana bersikap terus-menerus tidak tahu dan batin selalu terbuka akan pewahyuan kebenaran setiap saat. Sebaliknya, sikap merasa sudah tahu akan membatasi perjumpaan dengan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang melihat ajaran sebagai ajaran, melihat kebenaran. Kebanyakan orang tidak melihat kebenaran ini dan melekat pada pengalaman, teori, organisasi, agama, metode doa, teknik meditasi, ritual, dogma, kepercayaan. Orang buta hanya bisa mengikuti metode doa, ritual dan dogma, tetapi tidak melihat kebenaran. Banyak orang mempunyai mata, tetapi tidak melihat; memiliki telinga tapi tidak mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa mengusir keragu-raguan dengan mempertebal kepercayaan. Kita tidak bisa melihat sendiri kebenaran yang sejati kalau kita sudah melekat pada tradisi, kata-kata Kitab Suci, kepercayaan atau keyakinan. Hanya batin yang bebas yang barangkali mampu melihat kebenaran; kebenaran inilah yang mengubah, bukan upaya kita untuk berubah. Kalau kita telah berjumpa dengan kebenaran ini, barulah barangkali kita tahu apa artinya hidup beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran yang sejati hanya bisa dialami secara langsung, bukan lewat orang lain, bukan lewat pengetahuan atau kepercayaan. Bisakah kita melihat sendiri kebenaran ini dari saat ke saat?*&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama bagi saya adalah sesuatu yang sudah diberikan kepada saya sejak saya masih bayi. Kata-kata &lt;blockquote&gt;"Untuk bisa melihat yang palsu sebagai palsu dan yang benar sebagai benar, maka batin musti bebas dari beban pengaruh ajaran atau otoritas apapun. Kebenaran yang sesungguhnya tidak melekat pada ajaran atau otoritas apapun. Kebenaran ini begitu halus, tidak bisa dikenali oleh batin yang tidak bebas dari segala opini, penilaian, pembandingan, kesimpulan"&lt;/blockquote&gt;dari tulisan di atas sedikit menggangguku, karena berarti sejak bayi batin saya sudah tidak bebas lagi. Orang tua, lingkungan Gereja dan sekolah telah ikut membentuk batin saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sebuah bagian lagi mengatakan &lt;blockquote&gt;"Kita tidak bisa mengusir keragu-raguan dengan mempertebal kepercayaan. Kita tidak bisa melihat sendiri kebenaran yang sejati kalau kita sudah melekat pada tradisi, kata-kata Kitab Suci, kepercayaan atau keyakinan."&lt;/blockquote&gt; Kata-kata ini sedikit banyak mengingatkan saya pada keragu-raguan para murid yang terkadang dalam sesi meditasi saya rasakan sangat manusiawi. Ketika merasakan hal itu yang terpikir adalah "Bagaimana sebenarnya menumbuhkan iman walaupun hanya sebesar biji sesawi, tapi mampu berbuah banyak?" Keraguan merupakan sifat dasar manusia. Terkadang bersikap skeptis pada awalnya membantu kita untuk menemukan sendiri kebenaran itu. Tetapi Tuhan meminta kita untuk percaya seratus persen kepadaNya. "Percaya saja. Jangan takut!" Kita tidak mungkin bisa mempertebal kepercayaan bila kita tidak memiliki pengalaman batin yang mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meditasi dengan menggunakan Kitab Suci (&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lectio_Divina"&gt;Lectio Divina&lt;/a&gt;) membantu saya untuk memiliki pengalaman batin yang memampukan saya untuk mencoba menggapai pemahaman tentang kebenaran itu. Membuka percakapan denganNya melalui Kitab Suci sungguh mencengangkan. Memiliki kebiasaan rutin untuk datang kepadaNya dan mendengarkanNya melalui Kitab yang sudah ditulis begitu lama berselang tapi isinya selalu masuk ke dalam kehidupan yang nyata sekarang ini, amat menyegarkan batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu saya sering mencari jawabanNya dengan membuka Kitab Suci. Ketika sedang resah dalam suatu masalah saya mencoba membuka Kitab Suci, berharap bertemu dengan nasihatNya. Kala itu Dia diam...membisu...Saya benar-benar merasa bagaikan rusa yang merindukan air, kehausan...mencariNya di gurun fatamorgana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kita juga perlu ketenangan batin untuk bisa mengenali suaraNya. Ketika perasaan terfokus pada masalah pribadi, maka suaraNya tidak akan pernah bisa terdengar di dalam relung batin kita. Ketika kita mencoba untuk fokus kepadaNya, memberikan waktu bagi Dia untuk menjamah kita, maka saat itu pintu kebenaran akan terkuak sedikit. Sedikit demi sedikit, dan mungkin tidak akan pernah penuh, karena Kebenaran yang sejati bisa jadi baru bisa kita lihat dengan jelas ketika berjumpa denganNya di akhir zaman nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Lukas 2: 22-32 hari ini membawa saya kembali kepada kisah Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Seringkali, kita seperti Maria dan Yosef yang sangat mengenal Yesus tetap saja terheran-heran mendengar apa yang dikatakan tentang Dia. Bunda Maria senantiasa menyimpan pertanyaannya di dalam hati dan membiarkan waktu Tuhan yang menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih atas kebenaran yang Kau kuakkan bagi kami,&lt;br /&gt;sedikit demi sedikit&lt;br /&gt;Dikau memberikan pencerahan dalam batin&lt;br /&gt;karena percaya memang tidak bisa hanya diucap bibir,&lt;br /&gt;atau dihitung dengan logika,&lt;br /&gt;karena percaya terukir dalam batin yang terdalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Sungguh besar karuniaMu&lt;br /&gt;memampukan kami membuka mata batin&lt;br /&gt;agar mampu melihat, mampu bersaksi, dan mampu berbuat...&lt;br /&gt;untuk kemuliaan namaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkaulah sumber kekuatanku,&lt;br /&gt;tanpaMu aku seperti Petrus yang ragu-ragu berjalan di atas air,&lt;br /&gt;dalam bimbingan tanganMu aku berani&lt;br /&gt;menapak laut luas dalam gelombang badai yang mengepung.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-2394294374712672776?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/2394294374712672776/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/mencari-kebenaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2394294374712672776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2394294374712672776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/02/mencari-kebenaran.html' title='Mencari Kebenaran'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-2478781120425602926</id><published>2010-01-28T01:33:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T02:47:46.525-08:00</updated><title type='text'>Belajar Bersyukur</title><content type='html'>Ada satu hal penting yang sejak beberapa waktu lalu terus menerus terpikir untuk saya tuliskan di blog ini, yaitu sikap syukur dan berterima kasih atas segala rahmatNya. Ini suatu hal yang cukup penting bagi saya karena dalam kenyataannya kehidupan sedang sulit bagi saya, tapi justru dalam kondisi ini kesadaran akan rasa syukur itu bisa lebih terasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hal ini sesuai dengan Barukh 2:17-18 "Sudilah kiranya, ya Tuhan, membuka mataMu dan memandang. Memang bukan orang dari dunia orang mati yang nyawanya sudah dicabut dari batinnya itulah yang menyampaikan kemuliaan yang menjadi hak Tuhan, melainkan yang menyampaikan kemuliaan yang menjadi hak Tuhan ialah orang hidup yang amat pilu hati sekali dan yang berjalan sambil membungkuk dengan tidak berdaya dan juga mereka yang kusam matanya dan yang lapar..." Hanya orang berpasrah diri sepenuhnya kepada Tuhan yang dapat bersyukur kepada Tuhan dan memuliakan namaNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak perlu sampai sangat harafiah seperti "membungkuk tidak berdaya, kusam mata dan lapar" tetapi dengan merasa tidak berdaya di hadapan Tuhan, letih dalam berjuang bersamaNya, dan lapar akan kabar bahagiaNya yang akan memberikan warna cerah pada rasa syukur kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan seringkali kita hanya memandang ke atas saja. Akibatnya kita semakin merasakan kemalangan yang sedang kita terima. Mungkin kita lupa bahwa kehidupan adalah roda yang berputar, ada kalanya di atas dan ada kalanya harus menanggung beban terhimpit di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagi dengan teman juga merupakan suatu cara untuk mengajak orang lain bersyukur. Saya teringat ketika beberapa waktu yang lalu seorang teman dengan malu-malu bercerita bagaimana dia memaksakan diri untuk terbang sendirian ke Singapura tanpa membawa anak-anak dan suaminya (karena keterbatasan biaya) sekedar untuk pemenuhan cita-citanya dari kecil untuk pergi ke luar negeri. Itulah saat pertama kali ia pergi ke luar negeri, dalam usia yang sudah sekitar empat puluh tahun. Sejak bekerja ia harus mendahulukan keluarganya, bahkan kemudian selain kesibukan bekerja dan mengurus rumah tangga, ia juga harus mengurus kedua orang-tuanya yang sakit. Setelah orang-tuanya berpulang, dan ada kesempatan untuk terbang murah ke Singapura...pergilah ia menuntaskan mimpinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, rasanya seperti mendapat jeweran halus Tuhan di telingaku ketika mendengar kisahnya. Sementara aku bermimpi untuk mengulang perjalanan ke luar negeri, aku melupakan bahwa betapa besar karunia yang sudah pernah kuperoleh sebelumnya. Betapa sebelumnya Singapura merupakan negara tetangga yang sangat dekat bagiku, bahkan lebih sering kukunjungi daripada pulang ke kampung halamanku di Makassar. Belum lagi perjalanan ke Eropa, dan juga perjalanan gratis dengan undangan ke Singapura dan Korea Selatan yang juga pernah kuperoleh. Rupanya aku perlu juga melihat dari posisi yang berbeda. Posisi orang-orang yang hanya mampu bermimpi dan belum sekalipun merasakan mimpinya menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan bersyukur memang seringkali perlu dipelajari lagi. Saya bukan tidak pernah bersyukur kepada Tuhan. Rasanya syukur merupakan hal pertama yang selalu saya ucapkan dalam setiap doa saya. Tapi kadar rasa syukur itu sendiri sekarang jauh berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat anak-anak yang aktif dan sulit diatur, saya teringat pada teman-teman yang mendambakan anak dan belum juga beroleh berkat dan kepercayaan untuk merawat anak mereka sendiri. Begitu juga teman-teman yang memiliki anak tapi memiliki lebih banyak masalah dengan anaknya, entah secara fisik maupun secara mental. Dan yang mungkin paling unik adalah kenyataan bahwa bersama Tuhan segala beban akan terasa lebih ringan. Kesedihan dan permasalahan tidak akan lenyap begitu saja, tetapi kekuatan untuk menanggungkannya menjadi lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih tak terhingga bagiMu&lt;br /&gt;yang memberi pencerahan bagi hatiku&lt;br /&gt;untuk lebih dekat kepadaMu&lt;br /&gt;untuk lebih mensyukuri nikmat yang Dikau sediakan,&lt;br /&gt;dan memampukanku menanggung salib kecil yang tidak sebanding dengan salibMu.&lt;br /&gt;Tuhan, ajari aku untuk terus mampu bersyukur&lt;br /&gt;Karena kutahu berkatMu tiada henti tercurah...&lt;br /&gt;Amin,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-2478781120425602926?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/2478781120425602926/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/01/belajar-bersyukur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2478781120425602926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2478781120425602926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/01/belajar-bersyukur.html' title='Belajar Bersyukur'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-518511116855742521</id><published>2010-01-22T15:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T18:07:54.922-08:00</updated><title type='text'>Merekapun Datang KepadaNya: Menjadi Murid Kristus</title><content type='html'>Bacaan Injil harian sejak hari Kamis kemarin membawa pertanyaan-pertanyaan dalam benakku. Ada yang terjawab oleh bacaan lainnya, ada yang semakin membuatku ragu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Markus 3:7-12 yang terkesan sekali adalah bagaimana Yesus menyingkir ke Danau Galilea, bahkan Ia naik ke atas perahu untuk memberikan jarak antara Ia dan para penderita yang berdesakan minta disembuhkan. Kalau pada hari Kamis kemarin saya lebih banyak memikirkan tulisan yang terdapat di buku Cafe Rohani, menggambarkan betapa banyak orang yang tidak sabar menanti serta betapa Tuhan seringkali terasa jauh dan meninggalkan kita. Dikatakan di sana betapa kita seringkali melupakan anugerah Tuhan. Ketika Tuhan mendekat kita justru menjauhiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini yang terasa adalah perlunya mengambil jarak dari masalah. Ketika kita berada di dalam masalah seringkali kita tidak mampu lagi berpikir jernih. Putus asa dan kemarahan seringkali muncul dan menggugat ketidak-hadiranNya. Padahal justru di saat itu Ia hadir menemani jalan salib kita. Bila kita bisa keluar dari raga yang tampak, dan melihat diri kita dari luar seperti kisah Uncle Scrooge yang melihat suasana malam Natal bersama malaikat maut, maka pandangan kita akan kehidupan ini bisa jadi akan jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Markus 3:13-19 menyentuhku dalam kalimat "Ia memanggil orang-orang yang dikehendakiNya dan merekapun datang kepadaNya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kelompok doa pagi itu ada teman yang terkenang kisah awal keluarganya dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi Katolik. Kisahnya berawal dari kisah sedih kehilangan seorang kakak yang baru berusia sembilan tahun. Saat itu teman saya baru berusia lima tahun, dan keluarga mereka bukan keluarga Katolik. Dalam kesedihan keluarga itu, terutama kesedihan sang bunda, seorang dari kakaknya yang lain pulang menghibur ibunya, "Mama jangan sedih, kalau ingin bertemu dengan kakak ayo ke gereja. Kakak ada di sana..." Itulah awal dari panggilan mereka ke dalam komunitas Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula seorang teman yang teringat pada lagu "...bukanlah engkau yang memilihKu, melainkan Akulah yang memilihmu..." Ia yang memilih kita, tetapi kita memiliki kehendak bebas untuk menjawab panggilanNya. Dari dua belas orang yang dipilih itu ternyata terselip juga Yudas Iskariot yang kemudian memilih untuk meninggalkanNya. Teman saya sendiri sangat terkesan pada orang-orang yang dipilihNya. Ia memilih bukan orang yang pandai, orang yang terkenal, ataupun orang yang kaya... Ia memilih para nelayan, orang-orang sederhana yang terbiasa berjuang menghadapi kerasnya kehidupan laut. Entah mengapa, dalam kehidupan umat lingkungan juga terasa hal yang sama. Lingkungan yang di dominasi oleh keluarga-keluarga yang sederhana tampak lebih hidup daripada lingkungan yang berlokasi di sektor-sektor yang lebih "elite". Kebersamaan umat lebih terasa, dan ketulusan untuk ikut serta dalam kegiatan lingkungan tidak tergantung pada siapa yang duduk di kepengurusan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri yang masih membelenggu saya adalah kemampuan mengetahui kehendakNya. Ketika Ia memanggil para murid untuk ikut bersamaNya, maka mereka lalu pergi meninggalkan keluarga mereka dan mengikuti Yesus. Bagi saya terkadang terasa panggilan untuk melayaniNya di luar keseharian keluarga, entah melalui kegiatan lingkungan, ataupun kegiatan lainnya. Dalam hal ini yang sering teringat adalah perumpamaan tuan dan hamba-hamba yang diberi talenta masing-masing. Ada ketakutan bahwa saya tidak berani mengembangkan talenta dariNya seperti hamba yang mengubur rapat satu talenta (atau dinar?) yang dimilikinya. Semua kegiatan itu membutuhkan waktu dan tenaga, dan tentu saja terkadang skala prioritas menjadi kabur... Ketika rumah masih berantakan, apakah pantas saya memanjakan diri dengan satu atau dua jam sesi doa meditasi? Atau memilih mencuci piring daripada pergi latihan koor? Atau memilih bekerja untuk mencari tambahan penghasilan bagi keluarga dibandingkan melakukan pekerjaan sosial yang menghabiskan waktu tapi tidak mampu memberikan kontribusi pada kondisi keuangan keluarga? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya kemampuan mengambil jarak dari semua kebutuhan itu dan melihatnya dari kacamata yang sedikit berbeda akan membantu. Suster menyarankan agar saya menyusun jadwal harian dan mencoba mematuhinya. Libatkanlah anak-anak dalam menyusun dan menghormati jadwal tersebut. Keseimbangan dalam pembagian waktu itu dapat menjadi patokan dasar. Tentunya fleksibilitas dibutuhkan pula, seperti juga Yesus yang tidak mau terikat pada peraturan hari Sabat yang kaku (Markus 2:23-28). Kemampuan untuk menyimpan dalam hati dan merenungi semua peristiwa kehidupan seperti Bunda Maria merenungkan semua hal yang sulit dimengertinya dengan menyimpannya di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi murid Kristus berarti menjawab "ya" untuk mewartakan kabar gembiraNya. Pewartaan kabar gembira begitu beragam caranya, dan Tuhan memiliki cara tersendiri bagi setiap orang. Seperti keluarga teman yang terpanggil karena kepergian salah seorang anak, sebuah panggilan yang terasa bagaikan mukjizat Tuhan. Ia menyembuhkan luka dan derita selama kita mau pergi mencariNya. Dan Ia mengutus kita semua, hanya saja tidak semua bisa berbuah baik. Hanya yang menyediakan hatinya untuk persemaian yang subur yang mampu menghasilkan buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa yang baik,&lt;br /&gt;terima kasih atas berkat yang kami terima,&lt;br /&gt;melalui orang tua, guru, teman, dan sanak keluarga lainnnya,&lt;br /&gt;melalui sesama dengan segala pengalaman hidup mereka,&lt;br /&gt;mampukan kami untuk mengenali kehendakMu,&lt;br /&gt;untuk mendengarkan panggilanMu,&lt;br /&gt;dan untuk berani menjawab panggilanMu dan bertekun bersamaMu.&lt;br /&gt;Tuhan, &lt;br /&gt;bimbing dan lindungi kami,&lt;br /&gt;berilah kami Roh KudusMu untuk menemani&lt;br /&gt;dan mengenali panggilanMu...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-518511116855742521?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/518511116855742521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/01/merekapun-datang-kepadanya-menjadi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/518511116855742521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/518511116855742521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/01/merekapun-datang-kepadanya-menjadi.html' title='Merekapun Datang KepadaNya: Menjadi Murid Kristus'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-8010888222186553950</id><published>2010-01-17T18:14:00.001-08:00</published><updated>2010-01-17T19:19:27.156-08:00</updated><title type='text'>Anugerah</title><content type='html'>Waktu adalah anugerah, seperti kehidupan yang dianugerahkanNya dalam setiap hari baru. Hari Jumat kemarin saya masih dipenuhi oleh pertanyaan seputar berusaha keras atau berpasrah pada kehendakNya. Rupanya pasrah dan percaya kepada kehendak Tuhan itu sangat berbeda antara yang berada di dalam pikiranku dengan sebenarnya Ia kehendaki manusia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Injil Markus 2:1-12 menjelaskan betapa seorang lumpuh ingin bertemu dengan Yesus, tentunya dengan keinginan terbesar untuk bisa disembuhkan. Rumah tempat Yesus memberitakan kabar bahagiaNya penuh sesak dikunjungi orang banyak. Beruntunglah si lumpuh karena memiliki empat orang teman yang dengan sukarela dan penuh harapan kepada Yesus mengusahakan agar teman mereka yang menderita bisa berjumpa dengan Yesus. Menaikkannya dengan tandu ke atap rumah dan membongkar atap untuk menurunkannya ke hadapan Yesus bukan hal yang mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita percaya dan beriman pada kebesaran kuasaNya, tetapi untuk bisa hadir di hadapanNya kita juga perlu berjuang. Gembala memang keluar mencari dombanya yang hilang, tapi sang domba harus berusaha mengembik sekuat tenaga agar gembala bisa menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah anugerah yang memungkinkan kita memanfaatkan setiap kesempatan yang datang. Hanya saja kita perlu memiliki kemampuan untuk meraih kesempatan itu. Terus terang sekarang ini cukup sering saya merasakan kasihNya yang datang tanpa saya minta, tetapi sebuah kesadaran menerpa..."Jangan-jangan sebelum ini semua kesempatan dan anugerah yang datang kuterima dengan hati gembira seakan sebuah hadiah yang sudah seharusnya kuterima. Taken for granted. Sebenarnya hati gembira yang bersyukur atas anugerahNya merupakan suatu kemampuan yang muncul setelah suara hati lebih diasah lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman lain karena pengalaman pribadinya lebih terfokus pada pengampunan. "Dosamu sudah diampuni," kata Yesus. Yang dipikirkan temanku itu lebih kepada kemampuan untuk sungguh-sungguh mengampuni kesalahan orang lain yang bersalah kepadanya di saat orang tersebut tidak menyesali dan bahkan masih terus menyakitinya. Bagaimana mengampuni seperti ketulusan Tuhan mengampuni?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan mengampuni karena cintaNya pada manusia. Mampukah kita mengampuni seperti diriNya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya membaca kitab Mazmur 50:1-23, Ibadah yang sejati. Disana ada kalimat-kalimat yang menyentuh hatiku, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mazmur 50:8-10):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapanKu? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punyaKulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mazmur 50:14-15):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! Berserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi persembahan kita adalah pernyataan rasa syukur atas anugerahNya, dan kemalangan bukan sebuah bentuk hukuman dariNya karena kita kurang bersyukur. Seorang teman pernah bercerita bahwa dia percaya harus mengeluarkan persepuluhan, bila tidak dilakukannya maka uang itu akan hilang juga entah melalui pengeluaran tak terduga ataupun tercuri. Kemudian ada kisah tentang janda yang memberikan semua uangnya yang tersisa bagi persembahan, betapa Tuhan sangat menghargai pemberiannya dari miliknya yang sangat berharga itu. Tiba-tiba saya sadari bahwa persembahan bukan sekedar presentasi perpuluhan atau pendapatan kita, bukan juga sekedar memberikan yang ada pada diri kita (karena mengharapkan limpahan rahmat balasan dariNya). Persembahan bukan ilmu hitung dagang, melainkan ketulusan yang keluar dari hati yang bersyukur...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih atas anugerahMu bagi kami,&lt;br /&gt;terkadang kami lupa berterima kasih,&lt;br /&gt;kami lupa menengok campur tanganMu dalam kesuksesan kami,&lt;br /&gt;dan lupa melihat topangan pundakMu dalam kejatuhan kami,&lt;br /&gt;topangan yang membuat kami tidak terhempas hancur...&lt;br /&gt;topangan yang menguatkan kami untuk bangkit kembali...&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan,&lt;br /&gt;untuk sesama yang selalu tekun mendampingi kami mencariMu...&lt;br /&gt;Kami mohon berikanlah anugerah Roh KudusMu yang memampukan kami untuk bersyukur,&lt;br /&gt;untuk membayarkan nazar yang pernah terucap, &lt;br /&gt;dan untuk mampu mencari jalan bertemu dan berterima kasih padaMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-8010888222186553950?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/8010888222186553950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/01/anugerah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8010888222186553950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8010888222186553950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/01/anugerah.html' title='Anugerah'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-8587629678835547264</id><published>2010-01-10T09:40:00.001-08:00</published><updated>2010-01-15T08:06:30.924-08:00</updated><title type='text'>Tuhan dan Hantu</title><content type='html'>Entah kenapa akhir minggu yang lalu selama tiga hari berturutan saya bertemu istilah hantu. Yang pertama, sebuah tulisan pewarta warga yang mengulas tentang hantu...panggillah maka ia akan datang (katanya). Lalu yang kedua, sebuah kiriman status Facebook (FB) seorang teman yang menanyakan apakah FB ada hantunya, karena daftar temannya bisa bertambah dan berkurang sendiri. Yang terakhir, di dalam meditasi Kitab Suci bersama suster lagi-lagi saya bertemu dengan istilah hantu. Bacaan Injil yang kami baca hari itu berbicara tentang Yesus yang berjalan di atas air, Markus 6:45-52. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu lalu mereka berteriak-teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba membayangkan menjadi seorang murid yang berada di dalam perahu itu. Akankah aku langsung percaya bahwa Yesus yang datang kepadaku? Rasanya manusiawi sekali bila keraguan melanda. Itulah yang terjadi pada Simon Petrus (Mat 14: 22-33). Ia meminta pembuktian, dan dia sedang merasakan berjalan di atas air ketika angin menerpa dan mengingatkannya akan keraguannya. Lalu diapun limbung... Rasanya aku tidak jauh-jauh dari Simon Petrus. Kepercayaan itu ada, tetapi ketika prahara tidak berakhir maka batin bisa berteriak putus asa. Padahal langkah yang patut diambil sangat mudah, cukup memintaNya untuk naik ke atas perahu dan berlayar bersama dalam satu perahu (Yoh 6: 16-21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan akan masa depan adalah hantu yang menghantui pikiran, dan terkadang menjadi hantu yang mengotori iman. Mempercayakan masa depan ke tangan Tuhan terasa mudah diucapkan, tetapi seperti yang dialami Petrus...sangat sukar untuk dilaksanakan. Kehendak bebas manusia merupakan anugerah Tuhan yang terkadang kita salah-gunakan. Sama seperti Adam dan Hawa yang menyalah-gunakannya dengan memakan buah terlarang itu, terkadang saya pun mungkin menggunakannya untuk memaksakan keinginan pribadiku sendiri. Memilah antara keinginan pribadi dan mengikuti kehendak Tuhan terasa sangat sukar, apalagi terkadang terkesan bahwa semua yang terjadi adalah suratan takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang agak aneh bagi saya adalah kenyataan bahwa Tuhan menggunakan kelemahan manusia untuk menunjukkan kebesaranNya. Tanpa pilihan pengkhianatan Yudas Iskariot maka belum tentu kisah sengsara akan terjadi seperti kisah yang kita kenal. Daud yang terjatuh dalam dosa karena menginginkan Batsyeba, akhirnya tidak bisa terhindar dari jeratan dosa besar lainnya yaitu mengirimkan Uria (suami Batsyeba) untuk mati di medan perang. Yang aneh buatku adalah kenyataan bahwa Yosef, tukang kayu yang dipilih untuk memberikan nama keluarga Daud kepada Yesus berasal dari keturunan Daud dan Batsyeba. Memang, Salomo yang merupakan anak Daud dari istri Uria (Mat 1:6) merupakan anak yang lahir setelah Raja Daud bertobat, anak ini mendapatkan nama Yedija, oleh karena Tuhan (2 Sam 12: 1-25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itulah bedanya Tuhan dengan hantu. Tuhan begitu tahu kelemahan manusia dan begitu pemaaf, sementara pikiran yang menghantui manusia tidak akan pernah mau melepaskan jeratnya dari manusia, semakin tahu kelemahannya semakin kuat godaannya. Tetapi Tuhan juga ingin manusia membebaskan dirinya dari kedegilan. Walaupun dengan mudah Ia bisa bersabda untuk meredakan angin sakal itu, tetapi Ia menginginkan murid-muridNya memanggil dan mempercayakan diri mereka ke dalam kuasaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;hanya debulah aku,&lt;br /&gt;yang teronggok tak berdaya mengotori lantai,&lt;br /&gt;mengharapkan kasihMu mengumpulkan keterpurukanku&lt;br /&gt;dan menempaku menjadi ciptaan serupa wajahMu...&lt;br /&gt;Tuhan, kuatkan kami anakMu&lt;br /&gt;jauhkan kami dari hantu-hantu yang menghantui kehidupan kami,&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-8587629678835547264?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/8587629678835547264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/01/tuhan-dan-hantu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8587629678835547264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8587629678835547264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2010/01/tuhan-dan-hantu.html' title='Tuhan dan Hantu'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-7105078179759334733</id><published>2009-12-21T06:03:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T06:42:34.341-08:00</updated><title type='text'>Surat untuk Yesus</title><content type='html'>Yesus yang tercinta,&lt;br /&gt;Terima kasih atas suratMu yang indah, aku sungguh ingin datang ke rumahMu bahkan walau hanya lewat sebuah katupan tangan, tapi sayang sekali walau tangan mengatup ternyata pikiranku berlarian kesana dan kemari. Urusan rumah, urusan anak-anak, urusan suami, sampai ke urusan pribadi (hmm...sebenarnya bercakap-cakap denganMu itu juga urusan kami semua ya...reuni denganMu setelah Kau beri pagi yang indah, siang yang memampukan kami bekerja, dan malam yang tenang untuk beristirahat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus, aku melihatMu memegang keningku serta menjamah suami dan anak-anakku. Kupikir aku bermimpi...dan rasanya aku tak ingin bangun agar dapat terus bersamaMu. Tapi hari sudah terang, dan kegiatan setumpuk sudah menantiku...lalu akupun lupa menyapaMu secara khusus. Aku merasa berbicara denganMu sepanjang hari dan sepanjang malam, jadi mengapa aku harus khusus menyapaMu? Aku lupa menjawab salam selamat pagi yang Kau ucapkan dengan riang gembira lewat kicauan burung, kesegaran embun, dan kehangatan mentariMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei..., Engkau sungguh melihat anak-anakMu ketika menyenandungkan pujian di gereja? Adakah Engkau juga melihatku yang tidak mampu berkonsentrasi pada liturgi karena bingung melihat tingkah pola anak-anak titipanMu? Aku lupa, aku hanyalah busur...mereka adalah anak-anak panah yang Kau bentuk sendiri. Apa hakku membentuk mereka? Aku hanyalah busur yang bertugas mengarahkan dan melontarkan anak-anak panah ke tujuan penciptaNya. Aku tahu bahwa Engkau selalu bersamaku. Kupinta untuk menjadi busur yang mampu bekerja sesuai dengan keinginanMu, tapi kubutuh lengan lembutMu untuk membengkokkan dan mengarahkanku ke sasaran yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat malam tiba, keheningan yang mampu mendekatkan aku padaMu juga tiba, tetapi terkadang aku terhempas kelelahan. Terkadang juga, aku mengembara ke dunia maya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga masih seperti anak-anak kecil itu ya Yesus, yang tahu bahwa ibu bapanya tidak akan meninggalkan mereka sendiri. Aku pikir Engkau akan selalu ada bagiku, sehingga aku lupa secara khusus mendatangiMu dan mengungkap cintaku padaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus, masih ingat surat-suratku yang lalu? Kala aku menangis menulis surat bagiMu sebagai seorang anak? Kala aku bertanya penuh kebimbangan ketika ingin memilih pendamping hidupku? Aneh rasanya ketika menjadi anakMu yang semakin dewasa...dan sekarang aku berada di sisi yang berbeda...menjadi orang tua. Tetapi Engkau tetap sama bagiku, sahabatku, pendidik dan pembimbingku. Bersama Bapa dan Roh Kudus, Engkau adalah orang tua dan sumber penghiburanku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas teman-teman yang Kau hadirkan dalam hidupku, sehingga cahayaMu tidak pernah meredup dalam jiwaku. Terima kasih atas kasihMu yang tiada lelah mengingatkanku akan jalan kebenaran yang Kau rancang bagi kami...semua sesuai dengan rencana dan waktuMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Yesus, terima kasih mau mengirimkan suratMu. Berkatilah kami semua Yesus,agar siap menerima kedatanganMu di hari Natal nan bahagia itu. Semoga kami bisa mencontoh kesederhanaan yang Dikau tunjukkan sebagai contoh bagi kehidupan kami. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-7105078179759334733?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/7105078179759334733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/12/surat-untuk-yesus.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7105078179759334733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7105078179759334733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/12/surat-untuk-yesus.html' title='Surat untuk Yesus'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-4409024258201416211</id><published>2009-12-12T02:07:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T02:21:35.905-08:00</updated><title type='text'>Bertumbuh Menjadi Pembawa Damai</title><content type='html'>Masa Adven adalah masa penantian kelahiran Yesus Kristus. KelahiranNya menjadi sangat istimewa karena merupakan kelahiran yang sangat berbeda dari kelahiran biasa. Pertama, berita tentang hadirNya diberitahukan kepada sang ibu oleh malaikat Gabriel (Lukas 1:20-38), sebuah kelahiran melalui rahim seorang anak perawan yang taat pada kehendak Allah. Kemudian berita kelahiranNya sendiri disebarkan oleh malaikat (Lukas 2:8-20), dan juga oleh alam semesta seperti yang dilihat dalam bentuk bintang oleh orang-orang majus dari Timur (Matius 2:1-12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KelahiranNya juga menggemparkan karena raja Herodes yang begitu ketakutan akan kehadiran sang Pemimpin yang akan menggembalakan umat Israel lalu membantai anak-anak berusia dua tahun ke bawah dan keluarganya (Matius 2:16-18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata berurai karena kelahiranNya, padahal Ia adalah Raja Damai. Demikian sulit tampaknya kehadiran Damai Sejahtera di bumi ini. Tetapi seperti juga kanak-kanak Yesus yang diluputkan dari pembantaian oleh Herodes, kiranya Allah Yang Maha Pengasih akan senantiasa melindungi dan memberkati langkah orang-orang yang berjuang untuk perdamaian. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9). Perlu perjuangan untuk membawa damai, sama seperti perjuangan yang dilakukan Yosef dan Maria dengan mengungsikan bayi Yesus ke Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa Adam dan Hawa membuat manusia hidup bersama dosa asal. Penebusan Yesus Kristus membawa kehidupan baru bagi manusia, membawa perdamaian dengan Allah Pencipta dan Maha Kasih. Darah salib Kristus memperdamaikan segala sesuatu dengan Allah (Kol 1:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Panduan Ibadat Adven 2009 untuk keluarga dan lingkungan, Komisi Kerasulan Kitab Suci KAJ mengajak umat pertama-tama berdamai dengan diri sendiri. Mengenali diri sendiri, memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Kedua hal itu akan membawa pemurnian suara hati. Nurani yang bersih dan dekat dengan Tuhan akan senantiasa membawa manusia untuk mencintai dan melakukan yang baik serta menghindari yang jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam minggu Adven ke dua, kita diajak untuk membawa damai dalam lingkungan keluarga. Dalam setiap keluarga pastilah ada perselisihan, entah kecil maupun besar. Belajar untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain, belajar untuk bisa bertahan baik dalam hantaman ketidak-jujuran atau ketidak-adilan yang kita terima dari orang lain seringkali sangat sukar. Tetapi seperti kata malaikat Gabriel ketika mengabarkan kehamilan Maria dan juga Elizabeth saudarinya, "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Bergabung dalam naunganNya akan membantu memampukan diri kita untuk senantiasa memaafkan, untuk tegar dalam cobaan. Sama seperti Yusuf yang menghabiskan masa mudanya di Mesir sebagai orang yang dijual oleh saudara-saudaranya, tapi mampu memaafkan mereka dan menjadi alat penyelamat bangsa Yahudi dalam bencana kelaparan panjang yang melanda begitu banyak daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaafkan terkadang terasa mudah, apalagi bila pihak yang bersalah juga menyesal dan mengubah dirinya. Tetapi bila seperti Yusuf kita mengalami masa yang begitu panjang di Mesir, masih sanggupkah kita memaafkan dengan sepenuh hati? Hanya dengan berdoa memohon padaNya kekuatan itu akan diberikanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazmur 27 begitu merdu terdengar di telingaku, "Tuhanlah cahaya dan penyelematku, siapa 'kan kutakuti? Tuhanlah benteng hidupku, siapa 'kan kugentari?" Rasanya Mazmur ini harus senantiasa terpatri di dalam hatiku, sehingga setiap kali kegalauan tiba, setiap kali kegentaran menghadapi ketidak pastian masa depan muncul, Ia melindungi aku dari bahaya dan menyembunyikan aku dalam kemahNya. Sudah pernah sekali kurasakan damai sejahtera yang begitu mempesona, ketika aku jatuh bersujud ke hadapanNya, menangis tak berdaya dan merasa kehilangan motivasi kehidupan...kasihNya mengaliri darahku bagaikan air kehidupan, membanjiri relung tergelap hatiku dan membersihkannya. Ketika itu aku tidak gentar, aku kehilangan benci, kehilangan kemarahan, dan aku hanya menikmati balutan damai sejahteraNya. Betapa rindu aku akan saat seperti itu, tetapi mungkin selama rasio masih mendikte, ego masih minta didahulukan...kasihNya sulit terasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan berbagi dengan rekan-rekan dalam pendalaman iman lingkungan, ada dua hal yang termunculkan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, seringkali kita memerlukan orang lain untuk mengetahui pandangan orang lain tentang diri kita ataupun untuk lebih mengenali orang-orang yang dekat dengan kita. Dengan membagikan pengalaman hidup bisa jadi ada orang lain yang terbantu, dan lebih jelas melihat masalahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sebuah nasehat bagus untuk pasangan suami istri secara khusus dan untuk hubungan dengan sesama secara umumnya, yaitu: perhatikanlah sisi positif dari pasangan ataupun sesamamu. Sulit untuk menghilangkan sisi negatifnya, tetapi lihatlah sisi positifnya agar yang negatif tadi tertutup dan tidak mengganggu relasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti urutan pendalaman iman yang diberikan Gereja, kita perlu memulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum bisa berbagi kepada keluarga yang terdekat, lalu melebar ke keluarga yang lebih luas, hingga ke komunitas dengan bangsa serta negara sebagai bagian besar komunitas bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih atas cinta dan belas kasihMu&lt;br /&gt;seringkali daku kurang peka&lt;br /&gt;seringkali kumelihat dari kacamata minus yang tebal&lt;br /&gt;seringkali kuterpaku pada masalahku sendiri dan lupa melihat ke sekelilingku&lt;br /&gt;Tuhan, &lt;br /&gt;berkatilah kami umatMu&lt;br /&gt;mampukan kami untuk menjadi pembawa damai sejahteraMu...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-4409024258201416211?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/4409024258201416211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/12/bertumbuh-menjadi-pembawa-damai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4409024258201416211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/4409024258201416211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/12/bertumbuh-menjadi-pembawa-damai.html' title='Bertumbuh Menjadi Pembawa Damai'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5074950305481849995</id><published>2009-11-28T01:06:00.000-08:00</published><updated>2009-11-28T01:09:58.459-08:00</updated><title type='text'>Adven</title><content type='html'>Renungan Minggu Adven I - Tahun C - 29 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yer 33,14-16; 1 Tes 3,12-4,2; Luk 21,25-28. 34-36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rm. Victor Bani, SVD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari ini Gereja Katolik mulai memasuki masa Adven.  Adven (Adventus) berasal dari kata bahasa Latin: ad yang berarti pada atau kepada dan venire yang berarti datang. Secara harafiah, Adven berarti: Datang Kepada. Allah datang kepada manusia, Tuhan mengunjungi umat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak orang, Adven identik dengan ,Lilin Adven' yang dipasang pada Karangan / Lingkaran Adven. Bagaimana asal mula tradisi penyalaan Lilin Adven dan kapan itu dimulai, tidaklah diketahui dengan jelas. Namun ada beberapa bukti bahwa rakyat Jerman menggunakan daun-daunan dengan lilin yang dinyalakan selama bulan Desember yang dingin sebagai tanda harapan akan masa depan yang lebih hangat serta banyaknya sinar matahari pada musim semi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karangan Adven selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir. Karangan Adven selalu (seharusnya) dibuat dari daun-daun evergreen. Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya "ever green" - senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat batang lilin diletakkan sekeliling Karangan Adven. Tiga lilin berwarna ungu dan yang lainnya berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias. Sementara itu, dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal. Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan. Kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya Karangan Adven karena bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu "Gaudete". "Gaudete" berasal dari kata bahasa Latin yang berarti "sukacita", melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih - yang menandakan bahwa masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mempersiapkan diri untuk memasuki masa Adven, terlebih lagi ketika kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan yang berpuncak pada hari Raya Natal nanti, ada beberapa hal yang perlu kita sadari dan patut direnungkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama: Tuhan mengutus Putera-Nya yang Tunggal untuk datang ke dunia, hidup sebagai manusia biasa sama seperti kita, karena Dia sungguh-sungguh mencintai kita. Cinta Tuhan kepada kita sedemikian besar, sampai-sampai Dia rela menyerahkah Putera yang sangat dikasihi-Nya untuk menyelamatkan kita. Kita begitu berharga di mata Tuhan, kita begitu berarti bagi Dia, tidak peduli siapapun kita, apapun status kita, bagaimana tingkah laku dan hidup kita. Kita tetap berharga dihadapan-Nya. Karena Tuhan telah menghargai kita sebegitu tinggi, maka kitapun wajib untuk menghargai hidup yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita. Bukan saja hidup kita, tetapi juga hidup semua mereka yang berada di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua: Tuhan telah datang menawarkan keselamatan kepada kita, tawaran keselamatan yang dapat diterima dengan bebas. Dia tidak pernah memaksa kita untuk menerimanya. Semuanya tergantung pada hati nurani kita. Apakah kita mau menerimanya ataukah menolaknya, sekali lagi, semuanya tergantung pada diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga: Kedatangan Tuhan ini dipersiapkan oleh Yohanes pembaptis. Dialah suara yang berseru-seru di padang gurun, persiapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskan jalan yang berkelok-kelok, yang bergelombang diratakan. Yohanes mengingatkan kita akan kedosaan kita. Tuhan yang Mahakudus hanya dapat diterima, bila hati kitapun kudus dan murni. Untuk itu, membersihkan hati dan pikiran kita dari segala dosa dan salah merupakan suatu tuntutan yang harus kita penuhi sebelum kita menerima Dia dalam hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hati dan pikiran kita telah bersih dari segala dosa dan kesalahan, Tuhan boleh datang kapan saja, kita siap untuk  menyambut kedatangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat memasuki masa Adven! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diperoleh lewat milis lingkungan St. Ignatius BSD)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5074950305481849995?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5074950305481849995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/11/adven.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5074950305481849995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5074950305481849995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/11/adven.html' title='Adven'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-706698075458659053</id><published>2009-11-12T08:53:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T09:39:42.689-08:00</updated><title type='text'>Berkat Malaikat Pelindung (4)</title><content type='html'>Berkat malaikat pelindung yang sangat terasakan bagiku memang baru tiga kisah yang sudah kukisahkan sebelum ini (Berkat Malaikat Pelindung 1-3). Mengapa tidak saya tamatkan? Karena saya saya yakin berkat itu masih berjalan terus, bagi saya dan bagi anda sekalian. Tahukah anda bahwa anda juga merupakan malaikat pelindung saya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini ada kisah yang saya ambil dan terjemahkan dari kiriman seorang teman di sebuah milis. Mungkin anda pernah merasakan kebutuhan yang amat sangat untuk mendoakan seseorang, dan dalam hati berkata, “Baiklah, akan saya doakan nanti.” Atau, pernahkah seseorang menelponmu dan memintamu mendoakan dirinya? Kisah di bawah ini mungkin akan membuatmu termenung dan memikirkan betapa pentingnya arti sebuah doa dan cara mendoakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang misionaris menceritakan kisah nyata dari kehidupannya ketika mengunjungi umat di gereja asalnya di Michigan. “Ketika melayani sebuah rumah sakit kecil di Afrika, setiap dua minggu saya pergi dengan sepeda ke kota terdekat untuk mencari keperluan rutin kami. Perjalanan itu memakan waktu dua hari dan membutuhkan berkemah/menginap di tengah perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu perjalanan saya, saya tiba di sebuah kota di mana saya berencana mengambil uang dari bank, membeli obat-obatan dan peralatan lainnya, lalu kembali menempuh perjalanan selama dua hari untuk kembali ke rumah sakit tempatku bekerja. Ketika tiba di kota itu, saya melihat dua orang yang berkelahi, salah satunya terlihat luka parah. Saya mengobatinya dan pada saat yang bersamaan bercerita padanya tentang Tuhan. Lalu saya kembali ke rumah sakit kecilku setelah melalui perjalanan selama dua hari yang diselingi berkemah semalam. Saya tiba di rumah tanpa ada kejadian yang istimewa di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian saya kembali melakukan perjalanan yang sama. Ketika sampai di kota, saya ditemui oleh lelaki muda yang pernah saya obati ketika saya terakhir mampir di sana. Dia mengatakan bahwa dia tahu bahwa saya membawa uang dan obat-obatan. Dia lalu bercerita, “Beberapa orang teman mengikuti saya membuntutimu ke dalam hutan. Kami tahu bahwa kamu pasti harus menginap semalam di tengah hutan. Kami berencana membunuhmu dan mengambil uang serta obat-obatan yang kau bawa. Tapi, ketika kami bergerak ke arah tendamu, kami melihat bahwa engkau dikelilingi oleh 26 orang yang bersenjata.” Mendengar kisahnya ini, saya tertawa dan berkata bahwa saya sebenarnya memang sendirian saja malam itu di tengah hutan. Tetapi anak muda itu tetap berkeras dan berkata, “Tidak tuan, bukan hanya saya sendirian yang melihat para penjaga itu, teman-temanku juga melihat mereka, dan kami menghitung jumlah mereka. Karena kehadiran mereka maka kami merasa takut dan tidak jadi merampok dan membunuhmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kisah itu, seorang di antara lelaki yang mendengar kothbahku itu terlompat berdiri dan memotong kisahku. Ia meminta agar aku memberitahukan tanggal kejadian dan waktu peristiwa itu terjadi. Ketika mendengar tanggal dan waktu kejadian, lelaki itu menceritakan cerita di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada malam itu, malam ketika sesuatu hampir saja terjadi atas dirimu di Afrika, di sini adalah pagi hari, dan saya sedang bersiap-siap ingin pergi main golf. Saya baru akan mulai bermain ketika tiba-tiba terasa kebutuhan yang sangat mendesak untuk berdoa bagimu. Rasanya panggilan Tuhan begitu kuat. Saya lalu memanggil teman-teman dari Gereja ini untuk bertemu di gereja dan berdoa untukmu. Bisakah kalian yang hadir berdoa bersamaku hari itu berdiri?” Satu persatu lelaki yang siang itu hadir mendoakan sang misionaris berdiri. Sang misionaris sendiri tidak begitu memperhatikan siapa saja yang berdiri, karena dia terlalu sibuk menghitung jumlah orang yang berdiri. Ada 26 orang semuanya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas memberikan contoh bagaimana Roh Kudus menggerakkan hati kita dalam caranya yang tidak terbayangkan. Jadi bila panggilan hati seperti itu tiba-tiba menyeruak, laksanakanlah! Tidak ada akan terluka dengan kehadiran sebuah doa, kecuali pintu neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Lukas 11:13 ketika mengajarkan murid-muridNya untuk berdoa, Ia mengatakan, “…Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus juga berdoa bagi murid-muridNya dalam Yoh: 17. “Peiharalah mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu,…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, maka Ia juga hadir bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika hatimu memintamu mendoakan seseorang, atau memintamu untuk meminta bantuan doa, lakukanlah! Karena Ia telah memberikan Roh Kudus untuk membantumu menjadi malaikat pelindung bagi saudaramu, dan Ia pula yang memberikan Roh Kudus bagimu agar hatimu diselamatkan melalui doa saudara-saudaramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Bapa,&lt;br /&gt;Terima kasih atas Roh Kudus yang senantiasa melindungi kami,&lt;br /&gt;Menjaga dan mendewasakan kami,&lt;br /&gt;Atas saudara-saudara kami dalam Kristus yang senantiasa siap mendoakan kami,&lt;br /&gt;Biarlah kasih dan terangMu menyinari dunia, melalui kami umatMu.&lt;br /&gt;Biarkanlah kami juga boleh menjadi malaikat bagi sesama kami.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-706698075458659053?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/706698075458659053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/11/berkat-malaikat-pelindung-4.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/706698075458659053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/706698075458659053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/11/berkat-malaikat-pelindung-4.html' title='Berkat Malaikat Pelindung (4)'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5208546487619736595</id><published>2009-10-30T14:44:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T15:39:45.338-07:00</updated><title type='text'>Antara Yesus yang Membawa Pemisahan dan Hari Sabat</title><content type='html'>Minggu lalu kami membaca Kitab Suci mengenai Yesus yang membawa pemisahan (Lukas 12: 49-53). Lagi-lagi sebuah bacaan yang membingungkan. Begini bunyi ayat 51: "Kamu menyangka aku datang untuk membawa damai di bumi? Bukan, kataKu kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan!" Aneh bukan?! Bukankah kita diajarkan untuk membawa damai di Bumi? Mengapa sang Guru malah mengatakan diriNya adalah pembawa pertentangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya pertentangan itu muncul dari pilihan-pilihan, antara nurani dengan peraturan, antara nurani dengan kebiasaan umum, antara kebutuhan rohani dengan keinginan daging, antara jalan Tuhan dan jalan kegelapan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau membaca kisah yang sama dari Kitab Matius (Matius 10:34-42) maka ada sedikit tambahan yang berbeda. "Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku."(Mat 10:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan yang dibawa Yesus adalah karena kekakuan seseorang dalam menerjemahkan hukum Taurat tanpa mendahulukan cinta kasih. Karena bila kita membaca lanjutan Matius, yakni Matius 10:42 "Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus meminta umat Kristiani mendahulukan kehendak Allah. Cinta kasih adalah hukum utama dari Allah, yang terutama dan pertama-tama adalah keharusan untuk mencintai Allah lebih dari apapun juga, lebih dari siapapun juga. Dalam hal ini kotak-kotak keluarga dihilangkan. Siapa yang mencintai keluarganya lebih daripada mencintai Tuhan tidak layak di mataNya. Barangsiapa yang tidak mau memanggul salibnya dan mengikutiNya juga tidak layak bagiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang penting mendahulukan kepentingan keluarga, selama tidak bertentangan dengan kehendak Allah. Karena itulah ada nurani yang senantiasa mengingatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan bacaan hari ini dari Lukas 14:1-6 ketika Yesus lagi-lagi menyembuhkan orang pada hari Sabat. Peraturan tentang hari Sabat dibuat untuk menghormati Allah, tetapi terlalu kaku dalam menerapkannya bisa membuat orang melupakan kehendak Allah. Allah menginginkan keselamatan. "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita terlalu kaku menetapkan kotak-kotak batasan maka kita bisa terlupa akan tugas mewartakan kabar bahagianya melalui tindakan. Bila terlalu ketat menjaga peraturan hari Sabat, maka pasien kritis yang sedang butuh pertolongan dokter bisa tidak tertolong. Kembali kisah tentang pajak bagi kaisar terngiang di telinga. "Berikanlah apa yang menjadi milik kaisar dan berikanlah apa yang menjadi milik Tuhan." Jadi berikanlah waktu yang dibutuhkan untuk kepentingan dunia, tapi tetap juga ingat waktu yang harus dipersembahkan untuk Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yesus bertanya kepada para ahli Taurat dan orang Farisi: "Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?" mereka semua diam. Diam, karena mereka sudah tahu jawaban Yesus sebelumnya bahwa pada hari Sabat pun orang diperkenankan untuk berbuat baik. Mana yang lebih berkenan bagi Tuhan, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan manusia atau membinasakan manusia? Suara hatilah yang menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pedang maka suara hati perlu dipelihara dan diasah agar tetap dapat berfungsi dengan baik. "Aku datang membawa pedang," kataNya. Itulah pedang yang diberikanNya kepada kita, suara hati untuk melawan ketidak-adilan, melawan kejahatan, melawan hawa nafsu, dan lain-lain. Terkadang hal ini mungkin mengakibatkan pertentangan di antara keluarga, di antara para bangsa, bahkan di antara pemuka agama. Pada saat itulah mendahulukan kasih dan keselamatan manusia menjadi suluh penerang dalam mengambil tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Bapa, &lt;br /&gt;Terima kasih atas kasih yang Kau anugerahkan bagi kami,&lt;br /&gt;Semoga kami senantiasa menjaga suara hati kami,&lt;br /&gt;Menjaga kemurnian hati kami,&lt;br /&gt;Agar layak mendapat tempat di dalam rumahMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5208546487619736595?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5208546487619736595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/10/antara-yesus-yang-membawa-pemisahan-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5208546487619736595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5208546487619736595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/10/antara-yesus-yang-membawa-pemisahan-dan.html' title='Antara Yesus yang Membawa Pemisahan dan Hari Sabat'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6002523987865327364</id><published>2009-09-19T14:47:00.000-07:00</published><updated>2009-09-19T17:20:36.124-07:00</updated><title type='text'>Berjuang Dalam Hidup Dengan Terang Sabda Tuhan</title><content type='html'>Dalam bulan Kitab Suci 2009 kami diajak Keuskupan Agung Jakarta meletakkan perjuangan hidup ini dalam terang sabda Tuhan. Ada empat pertemuan yang diharapkan menginspirasi kehidupan umat KAJ dalam setiap aspek kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama kami diajak masuk ke dalam diri kami sendiri melalui "Perjuangan hidup dalam diriku". Ayub 7:1-10 meperlihatkan keluhan Ayub bahwa hidup itu berat. Yang menarik bagiku justru berada di ayat 17-19 yaitu ketika Ayub berkata: "Apakah gerangan manusia sehingga dia Kauanggap agung, dan Kau perhatikan, dan Kau datangi setiap pagi, dan Kau uji setiap saat? Bilakah Engkau mengalihkan pandanganMu daripadaku dan membiarkan aku, sehingga aku sempat menelan ludahku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayub melihat Tuhan mengunjunginya setiap hari, melihat bahwa pandanganNya tidak lekang dari wajah umatNya. Tetapi Ayub melihat Tuhan bagaikan sipir penjara yang setiap saat ingin menangkap kesalahan yang diperbuat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa beruntung karena dari kecil belajar melihat Tuhan sebagai Bapa Yang Maha Pengasih. Tetapi, dari sudut pandang ini juga aku seringkali terjebak, menantikan terlalu banyak dariNya. Padahal Bapa ingin mendewasakan diriku, mengajariku mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendakNya. Aku tidak terbiasa mengambil keputusan untuk diriku sendiri, dan Ia ingin aku belajar untuk itu. Karena itu aku sering menuduhNya diam, seakan tidak memperhatikanku. Ayub mengingatkanku bahwa Tuhan tidak pernah mengalihkan pandanganNya dariku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan diam dalam mataku, tapi belum tentu demikian. Aku sudah menemukannya melalui meditasi yang lalu, tapi sebenarnya dalam kitab Ayub ini sudah dikatakan bahwa Allah berfirman kepada manusia dengan berbagai-bagai cara. Ayub 33:14 "Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya." Memang benar, pikiranku terkadang terlalu sibuk untuk berpikir, untuk bertanya padaNya tanpa memberikan Dia kesempatan untuk menjawab. JawabanNya yang kutunggu masih jawaban langsung seperti ketika Abraham, Musa, dan juga Ayub bercakap dengan Tuhan. Kini, ketika aku menyediakan waktu untuk hening dan membiarkan Roh Kudus membimbing telinga dan hatiku pada sabdaNya...kutemukan jawabNya pada setiap orang yang kutemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan diriku belum selesai, karena nafasku masih di badan, tapi aku tidak lagi sendiri sebab kutahu Bapaku di surga tidak akan membiarkan aku sendirian, kutahu bahwa Ia tidak melepaskan pantauanNya dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pergumulan diri, kami diajak merenungkan "Perjuangan hidup dalam keluarga". Bacaan dari Tobit 2:9-14 mengantar kami ke dalam permenungan itu. Dari bacaan itu terasa sekali pentingnya saling percaya dalam keluarga. Tobit karena keputus-asaan terhadap kebutaannya menjadi mudah marah dan tidak percaya kepada istrinya. Ia kemudian menyesali diri dan memohon ampunan Tuhan. "Ya Tuhan, ingatlah aku. Pandangilah aku! Janganlah wajahMu Kau palingkan daripadaku, ya Tuhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melangkah sedikit lebih jauh dari bacaan Tobit yang diberikan Gereja untuk renungan Kitab Suci itu, kita akan menemukan juga kisah Sara anak perempuan Raquel. Dalam keputus-asaan karena didera hinaan sebab tujuh laki-laki yang memperistrinya semua meninggal sebelum bersatu dengannya, Sara ingin menghabisi hidupnya. Beruntung bahwa ia ingat kenistaan yang akan diperoleh ayahnya karena tindakan itu, sehingga ia kemudian ingat untuk memohon pada Tuhan agar ia dipanggilNya kembali ke rumahNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita meneruskan membaca kitab Tobit dan membaca bagaimana Sara terlepas dari cengkeraman Asmodeus, setan jahat yang membuatnya ternistakan, maka kita akan melihat bagaimana pergumulan dalam keluarga terjadi. Kita bisa memperoleh pedoman, bagaimana pernikahan patut dimulai dengan doa. Satu catatan yang perlu digaris bawahi dari Kitab Tobit adalah Tobit 4:15 "Apa yang tidak kau sukai sendiri, janganlah kau perbuat kepada siapapun..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan Hana, istri Tobit, akan keselamatan anaknya Tobia merupakan reaksi wajar seorang ibu terhadap masa depan anaknya. Dengan berdoa memohon berkat dan bimbingan Tuhan, niscaya kita bisa juga berkata: "Aku tidak takut, karena malaikat baik menyertai perjalanannya..." Dalam setiap perjalanan...Perjalanan suami, istri, maupun anak-anak, memohonkan pendampingan dariNya akan memberikan bekal keselamatan yang besar. Sayangnya kita seringkali lupa akan hal ini, lebih sibuk mengantisipasi semua kemungkinan yang terlihat nyata. Setidaknya ini yang kualami, semua kemungkinan kutimbang dan kupersiapkan, tetapi kadar doaku mungkin tidak sebesar persiapan duniawi...dan seperti Ayub, semua diambil dalam sekejab, perhitungan model apapun tidak bisa melawan kenyataan yang terjadi. Pasrahkan diri kepada kehendakNya, cari kehendakNya jauh ke dalam lubuk hatimu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permenungan ketiga membawaku ke dalam "Perjuangan hidup dalam lingkungan dan masyarakat". Nehemia 6:1-14 membukakan hatiku pada ayat 9: Karena mereka semua mau menakut-nakuti kami, pikirnya: "Mereka akan membiarkan pekerjaan itu, sehingga tidak dapat diselesaikan." Tetapi aku justru berusaha sekuat tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan bagi kemuliaan Tuhan, itulah yang kuperoleh dari Nehemia. Nehemia bekerja tanpa mencari keuntungan, bahkan dia harus mengeluarkan biaya untuk memberi makan para pekerja yang datang bekerja untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Terus terang tugas pelayanan memang tidak terlihat upahnya, bahkan seringkali rasa terima kasih juga tidak muncul dari yang dilayani. Pelayanan diterima seakan sudah seharusnya terjadi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;taken for granted&lt;/span&gt;, dan seringkali hal ini melelahkan batin. Terutama dalam kehidupan masa kini dimana materi memiliki peran yang sangat besar dalam aspek kehidupan keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan sangat mahal bila dibandingkan dengan penghasilan, apalagi kalau ingin mencari sekolah Katolik yang sudah mapan...katanya sekolah Katolik identik dengan mahalnya...Sedikit memalukan sebenarnya mendengar ungkapan ini. Sebenarnya masa aku sekolah dahulu sistem subsidi silang berjalan dengan baik di sekolahku yang termasuk sekolah Katolik ternama. Tapi, entah bagaimana keadaan sekarang ini...Yang jelas sekolah Katolik di lingkungan terdekatku memang cukup aduhai iinvestasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kebutuhan untuk hidup semakin mengencangkan ancang-ancang untuk mengumpulkan materi, maka keseimbangan hidup rohani sangat mungkin terganggu. Pilihan untuk pelayanan yang jelas-jelas tidak menghasilkan materi, justru seringkali membutuhkan pengorbanan waktu dan materi, seakan merupakan pilihan bodoh di masa kini. Yang mana yang ingin kudahulukan? Kebutuhan keluarga atau panggilan hati? Memenuhi panggilan hati tapi melalaikan kebutuhan keluarga juga berarti tidak menjaga titipan Tuhan secara benar...Keseimbangan dan kemampuan memilih (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;discernment&lt;/span&gt;)hanya bisa diperoleh melalui kedekatan denganNya. Semoga kami semua cukup dimampukan untuk tetap berjaga-jaga dalam doa, tetap siaga dengan buli-buli minyak yang dipersiapkan secara ekstra, dalam menyambut kedatanganNya kembali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan terakhir adalah "Perjuangan hidup dalam berbangsa dan bernegara". Kali ini Paulus melalui suratnya pada umat di Roma (Roma 13:1-7) mengajak untuk melihat keberadaan komunitas Gereja dalam lingkup komunitas yang lebih besar lagi yaitu dalam kehidupan bernegara. Yang menarik aku pada pertemuan kali ini adalah ayat 5: "Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dilihat sebagai perpanjangan tangan Allah, agar orang berbuat baik melaksanakan perintah Allah. Itulah tempat bagi adanya hukum dalam kehidupan bernegara. Tapi bagaimana bila hukum tidak dipergunakan sebagaimana seharusnya? Bila peyelewangan terjadi dan bila pemerintah tidak lagi bertindak sebagai perpanjangan tangan Allah demi kebaikan dan kesejahteraan seluruh warganya? Saya rasa, di titik inilah suara hati digunakan. Kita berbuat baik bukan karena takut akan hukuman yang akan muncul bila kita tidak melakukan kebaikan tersebut, tetapi kita berbuat baik (boleh dibaca patuh pada hukum negara) karena hati nurani yang meminta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kita sudah mengetahui dari Kitab Suci Perjanjian Lama, betapa banyak orang terpilih yang kemudian ingkar dari tugasnya. Saul, adalah contoh yang masih saya ingat dari kisah perseteruannya dengan Daud. Sebagai orang yang dipilih Tuhan (1 Samuel 10:24), ia tidak berserah seutuhnya pada kehendak Tuhan. Ia goyah ketika merasa sendirian dalam kepungan Filistin (1 Samuel 13) dan dukungan Tuhan untuk kepemimpinannya lalu dialihkan kepada Daud. Atau kisah Musa yang tidak bisa memasuki tanah yang dijanjikan karena ia goyah ketika menghadapi ketidak-puasan orang Israel (Bilangan 20:12 dan Ulangan 4:21). Sepatutnya kita mendoakan mereka yang mendapatkan mandat dari bangsa ini agar mampu bertugas dengan nurani yang bersih dan tetap takut akan Allah. Sementara itu sebagai bagian dari bangsa, mari kita berbuat sesuai dengan talenta masing-masing...satu untuk yang punya satu talenta, lima untuk yang dipercayai dengan lima talenta...Bila setiap orang menggandakan talentanya dalam nama Tuhan, maka niscaya kemajuan bangsa dan negara akan muncul, karena Tuhan juga menginginkan kita mencintai dan melayani sesama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih atas berkatMu yang berlimpah,&lt;br /&gt;Mampukan kami untuk menang dalam pergumulan kehidupan,&lt;br /&gt;Dalam kehidupan pribadi,&lt;br /&gt;Dalam kehidupan keluarga,&lt;br /&gt;dalam kehidupan bermasyarakat,&lt;br /&gt;berbangsa dan bernegara...&lt;br /&gt;Lindungi dan bimbing para pemimpin dan pemikir bangsa ini,&lt;br /&gt;Agar mampukan bangsa ini untuk bangkit dan mensejahterakan rakyat...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6002523987865327364?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6002523987865327364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/09/berjuang-dalam-hidup-dengan-terang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6002523987865327364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6002523987865327364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/09/berjuang-dalam-hidup-dengan-terang.html' title='Berjuang Dalam Hidup Dengan Terang Sabda Tuhan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-8155738295104227476</id><published>2009-08-29T02:54:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T03:42:06.263-07:00</updated><title type='text'>Gadis-gadis yang Bijaksana dan Gadis-gadis yang Bodoh</title><content type='html'>Jumat lalu, bacaan yang menjadi dasar dari pertemuan kami adalah Matius 25:1-13, mengenai gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti teman-teman yang lain, saya juga tercengang pada ayat 8-9. Ketika mempelai sudah datang dan gadis-gadis yang tidak membawa minyak cadangan untuk pelitanya meminta kepada gadis-gadis bijaksana, yang membawa minyak dalam buli-buli mereka, ternyata gadis-gadis bijaksana tersebut menolaknya. Selama ini kita selalu diajarkan untuk belajar berbagi, mau membantu sesama, dan memberikan ikan dan roti bagi sesama...sesedikit apapun yang kita miliki. Mengapa tiba-tiba kami mendapatkan contoh perbuatan egoistis yang dipuji sebagai bijaksana? Bila saja gadis-gadis yang membawa buli-buli itu mau membagikan minyaknya maka lima gadis yang datang tanpa persiapan minyak tidak akan terkunci di luar ruang perjamuan. Tentunya mereka semua sudah ikut masuk ke dalam perjamuan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana situasi pesta pernikahan pada masa itu kurang kuketahui, tetapi bisa dibayangkan bahwa mereka diharapkan menyalakan pelita sepanjang pesta. Karena itulah tentunya gadis-gadis bijaksana itu menolak memberikan minyaknya, karena mereka tidak ingin kehabisan minyak sebelum pesta usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi ada hal-hal kontradiksi yang terasa. Dahulu, sebelum mempunyai anak kehidupanku adalah kehidupan yang penuh rencana. Memiliki anak rupanya memiliki banyak dimensi yang tidak terencana. Bahkan perencanaan kehamilanpun tidak selalu bisa kita kendalikan. Perkembangan seorang anak adalah mujizat Tuhan yang senantiasa membuatku tercengang. Betapapun, banyak hal dimana waktuNya bukan waktuku...rencanaNya bukan rancanganku. Maka aku lalu membiarkan Dia yang menyusun rencana. Hidupku menjadi sedikit tidak terencana, membiarkan semua mengalir seperti air. Yang terbayang ketika membaca kutipan Injil ini adalah perubahan sikapku. Aku yakin sebelum punya anak pasti aku akan membawa buli-buli persediaan minyak, sama seperti begitu detailnya persiapan pernikahanku kurencanakan dan kususun. Tapi terbayang dengan kondisi harianku saat ini, dimana semua tuntutan harian seakan meminta waktu tanpa sempat berhenti untuk istirahat sejenak...pasti buli-buli itu terlupakan. Mempelai akan segera tiba, minyak di dalam pelita pasti akan cukup...dan kita masih bisa membeli di jalan. Ternyata tidak ada waktu untuk membeli karena mempelai datang terlalu lama, dan bahkan tidak ada waktu untuk masuk ke perjamuan karena pelita keburu padam. Jadi sebenarnya aku yang bijaksana adalah aku yang membiarkan Tuhan yang membuatkan rencana atau aku yang menyusun rencana sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kutipan Injil ini sebenarnya merupakan salah satu dari beberapa kisah yang ingin menjelaskan tentang akhir zaman, maka beberapa kutipan lain ikut mewarnai pemikiranku. Dalam bacaan sebelumnya tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat, hamba yang jahat tidak tahan godaan duniawi untuk bersenang-senang sebelum Tuannya pulang. Ternyata Tuannya pulang dalam saat yang tidak disangkakannya. Begitulah akhir kehidupan manusia tidak pernah bisa diperkirakan waktunya. Tidak bisa kita menunda memenuhi kebutuhan rohani sampai pada saat kita mencapai usia mapan. Bersenang-senang atau bekerja keras selagi masih muda, kata orang. Tapi apakah kita tahu kapan Tuhan akan datang menemui kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan persoalan yang sangat erat membalut keseharian saya sekarang ini adalah masalah waktu. Membagikan waktu untuk pelayanan di dalam rumah dan di luar rumah, waktu untuk pelayanan di dalam komunitas Gereja dan di luarnya. Dan tiba-tiba terasa betapa Tuhan ingin menunjukkan kebutuhan terbesar untuk menjadi bijaksana adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengenali kehendakNya; gadis-gadis yang bijaksana tahu bahwa mempelai menginginkan pelita mereka terus menyala hingga akhir pesta, sehingga mereka mempersiapkannya dan menjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berani membuat keputusan yang tidak populer; menolak membagikan minyak dari buli-buli mereka berarti bisa memberikan pertanda keegoisan, sehingga bisa jadi orang akan mencerca. Gadis-gadis itu tahu apa yang diinginkan dari mereka, bahwa pelita mereka harus tetap terjaga menyala hingga pesta usai, dan mereka dengan tegas mendahulukannya. Mendahulukan kehendak Tuhan seringkali membuat kita juga bagai membuat keputusan yang tidak populer, tapi dengan mengenali kehendakNya dan setia menjaga agar kehendakNya terlaksana adalah suatu tindakan yang bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam doa meditasi yang terpikirkan adalah kemampuan untuk menolak kegiatan pelayanan, walaupun itu untuk namaNya, ketika tenaga maupun waktu yang seharusnya kusimpan untuk tugas utamaku dariNya bisa diperkirakan akan habis karena berbagi. Mencari kehendakNya dan mengenali kemampuan menyala pelitaku adalah prioritas utama untuk menjadi bijaksana. Bahkan dengan membiarkan Dia mengisi pelitaku, bisa jadi nyalanya akan lebih panjang daripada yang kuperkirakan, dan terangnya akan lebih cemerlang dari yang dapat kurencanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih atas pencerahanMu bagi kami,&lt;br /&gt;Bimbing kami agar senantiasa bijaksana,&lt;br /&gt;Mengenali kehendakMu&lt;br /&gt;Mengenali kemampuan kami,&lt;br /&gt;Dan mampu setia dalam menjalankan tugas kami bagiMu.&lt;br /&gt;Karena waktu kami adalah milikMu,&lt;br /&gt;Tidak pernah tertebak kapan Kau akan datang menagihnya dari kami&lt;br /&gt;Berikanlah Roh KudusMu agar kami mampu menjadi orang yang bijaksana,&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-8155738295104227476?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/8155738295104227476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/08/gadis-gadis-yang-bijaksana-dan-gadis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8155738295104227476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8155738295104227476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/08/gadis-gadis-yang-bijaksana-dan-gadis.html' title='Gadis-gadis yang Bijaksana dan Gadis-gadis yang Bodoh'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5652691129659117424</id><published>2009-08-21T06:15:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T02:53:40.262-07:00</updated><title type='text'>Perceraian</title><content type='html'>Jumat yang lalu bacaan Injil yang menjadi dasar doa kami adalah Matius 19:1-12. Semakin hari rasanya semakin mudah menginginkan perceraian, padahal pernikahan Gereja adalah pernikahan yang tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Bahkan dalam pernikahan yang tidak berdasarkan sakramen pernikahan, tetapi melalui pemberkatan nikah karena pasangan berbeda keyakinan agama, tetap saja pernikahan tersebut telah disatukan oleh Allah. Dan apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kata murid-muridNya: "Jika demikian halnya hubungan suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari kehendak Allah dalam menentukan jalan hidup melajang atau berkeluarga rasanya tidak selalu mudah. Bila pilihan berkeluarga yang dipilih, setelah bersama ada saja pergumulan yang tiba-tiba menyentakkan betapa kita tidak selalu sepenuhnya mengenali pasangan yang sudah kita pilih sendiri dan sudah dipersatukan oleh Allah dalam berkatNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan dalam kehidupan berkeluarga memang menanggung resiko yang jauh lebih besar daripada dalam kehidupan melajang. Kehadiran anak-anak, yang sebenarnya dinanti-nantikan, juga bisa menjadi sumber permasalahan baru. Kebutuhan anak-anak secara spiritual dan material merupakan tanggung jawab orang tua secara bersama-sama. Ketidak-cocokan antara pasangan suami dan istri (pasutri) tanpa anak tentunya akan berbeda dengan kondisi pasutri dengan anak. Kekecewaan terhadap pasangan harus ditutupi dari depan mata anak. Komunikasi yang memanas juga perlu ditunda sehingga luput dari perhatian anak. Belajar bersabar adalah nilai yang sangat utama dalam kehidupan berkeluarga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santa Monika menanti selama dua puluh tahun dalam doa untuk pertobatan suami dan anaknya. Bunda Maria senantiasa menyimpan hal-hal yang menjadi pertanyaannya di dalam batin. Katanya kaum wanita dibuat dari tulang rusuk karena memang memerlukan kekuatan yang lebih dalam menjalani hidup ini. Dalam keluarga doa seorang istri, dan doa seorang ibu senantiasa menyertai seluruh anggota keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Bapa,&lt;br /&gt;Terima kasih atas berkat yang Kau berikan melalui keluargaku&lt;br /&gt;Terima kasih atas titipan berharga yang Dikau titipkan&lt;br /&gt;Tetapi terkadang kesabaranku mendekati batas akhirnya&lt;br /&gt;Atau kuterlupa akan pelayanan di dalam rumahku&lt;br /&gt;Bantulah daku agar setia &lt;br /&gt;Dan tekun berdoa bagi keluargaku&lt;br /&gt;Bagi keluarga-keluarga yang membutuhkan doa &lt;br /&gt;Sebagai penguat dalam pergumulan sehari-hari&lt;br /&gt;Sebagai pelepas dahaga dalam kelelahan rohani&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5652691129659117424?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5652691129659117424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/08/perceraian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5652691129659117424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5652691129659117424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/08/perceraian.html' title='Perceraian'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-733791954367560213</id><published>2009-07-31T12:18:00.000-07:00</published><updated>2009-08-01T03:39:15.027-07:00</updated><title type='text'>Percaya dan Mintalah</title><content type='html'>Lama sekali kelompok doa meditasi kitab suci kami tidak bertemu. Kesibukan dan permasalahan masing-masing menjadi alasan, belum lagi ada juga teman-teman yang sudah pindah dan tidak bersama kami lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat kemarin dalam pertemuan semua energi seakan memenuhi kekosongan yang sebelumnya sehingga berbagai hal segera saja muncul dalam benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan kemarin adalah Matius 13: 33-38, Yesus ditolak di Nazaret. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama mengusikku adalah kenangan masa kecil ketika aku ikut Sekolah Minggu dari Ikatan Keluarga Kristen Protestan dan Katolik. Waktu itu aku terusik karena disebutkan Yesus memiliki adik-adik dan aku tidak tahu nama-nama mereka. Sebagai anak kecil agak bingung mengetahui bahwa Yesus memiliki saudara sementara aku tahu bahwa Bunda Maria adalah Perawan Suci, dan Yesus dikandung dari Roh Kudus. Pastur paroki yang kutemui kemudian menerangkan bahwa nama saudara-saudara Yesus di dalam Kitab Injil itu bukan berarti adik-adik, tetapi merupakan saudara-saudaranya yang dikenal orang dari Nazaret. Artinya saudara dalam arti bukan dari keluarga inti. Kemudian dalam perjalanan hidup saya mengenal kitab-kitab Apokrif. Sebenarnya saya belum membaca kitab-kitab apokrif, tapi terkadang membaca resensi atau komentar atas kitab itu. Ada satu kisah yang mengisahkan bahwa Yusuf kemudian menikah lagi dengan wanita lain sehingga Yesus memiliki saudara-saudara. Saya jadi ingin tahu bagaimana sebenarnya Gereja Katolik memandang kata 'saudara-saudara' itu. Ternyata tidak berubah dari yang pernah diterangkan padaku di masa kecil dahulu, saudara-saudara Yesus tidak berarti saudara kandung dalam artian keluarga inti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang terasa menggelitik adalah perbedaan antara Matius, Markus (Mrk 6: 1-6a), dan Lukas (Luk 4: 16- 30) dalam mengisahkan kembali kisah Yesus ditolak di Nazaret. Lukas berkisah paling detail, dan membaca Injil Lukas membuat saya bertanya dalam hati, "Bukankah meminta hasil pencapaian sebelum mengakui prestasi sesorang adalah sangat manusiawi?" Sedari kecil kita diajarkan untuk membuktikan diri, memberikan prestasi dahulu baru bisa dipercaya orang lain. Memang kasusnya akan berbeda untuk iman, tetapi ketika kita masuk dalam kisah Injil ini dimana Yesus merupakan salah satu dari bagian kehidupan harian mereka, tentunya wajar mendapatkan perlakuan sama. Yang menarik dari Injil Lukas, terasa Yesus justru memancing kemarahan orang-orang tersebut dengan menyebutkan contoh-contoh bagaimana nabi-nabi tidak melakukan mujizat di tempat asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurang-percayaan berubah menjadi kemarahan. Hal ini berbeda dengan pengalaman Simon Petrus (Mat 14: 22-33) yang mencoba berjalan di atas air, ketika imannya goyah Yesus hanya memarahinya "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" lalu menolongnya. Tapi satu hal langsung terbersit jelas disana. Simon Petrus berteriak minta tolong kepada Yesus! Orang yang percaya akan datang meminta...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mintalah maka akan diberikan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa kami yang ada di surga&lt;br /&gt;Dimuliakanlah namaMu &lt;br /&gt;Datanglah kerajaanMu&lt;br /&gt;Di atas bumi seperti di dalam surga&lt;br /&gt;Berilah kami rejeki pada hari ini&lt;br /&gt;dan ampunilah kesalahan kami &lt;br /&gt;seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami&lt;br /&gt;Janganlah masukkan kami ke dalam percobaan &lt;br /&gt;tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat, Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-733791954367560213?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/733791954367560213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/07/percaya-dan-mintalah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/733791954367560213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/733791954367560213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/07/percaya-dan-mintalah.html' title='Percaya dan Mintalah'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-1632354363656099501</id><published>2009-07-05T23:19:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T03:41:20.704-07:00</updated><title type='text'>Masih Mencari Discernment</title><content type='html'>Mencari pilihan keputusan yang sesuai dengan kehendakNya masih juga terasa sulit. Sebuah pilihan yang muncul (bisa tiba-tiba, bisa sudah terprediksi) untuk diputuskan, dan serasa tidak memperoleh jawaban dari doa. Mencoba membuka Kitab Suci juga tidak terasa memberi jawaban yang membawa rasa damai, maka om gugel ikut dikaryakan. Kutemukan sebuah &lt;a href="http://www.spirithome.com/discrnmt.html#hints"&gt;link&lt;/a&gt; yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan dalam sebuah tulisan di blog tersebut, tanda-tanda yang menguatkan adalah:&lt;br /&gt;--- kesempatan bertemu dengan orang yang tepat&lt;br /&gt;--- pemikiran atau keyakinan yang semakin berkembang;&lt;br /&gt;--- sesuatu (kutipan) dari Kitab Suci yang teringat;&lt;br /&gt;--- bagian dari percakapan yang teringat secara terus menerus;&lt;br /&gt;--- sebuah kesempatan yang tiba-tiba datang,&lt;br /&gt;--- semakin kuat kita ataupun orang sekitar kita menolaknya, semakin kuat ia "mencengkeram" kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu bagian lain yang menarik saya ketika membacanya, terutama karena pengalaman pribadi saya yang baru saja berlangsung. Di dalam blog tersebut dikatakan: "Mungkin terasa memalukan untuk mengakui bahwa kamu bukan orang yang dipilih Tuhan dan bukan kamu yang memiliki kekuasaan untuk bertindak. Tapi dalam kenyataannya, memang bukan kamu pemilik kekuasaan itu, itu adalah milik Tuhan, Tuhan yang mengerjakannya dan Ia bekerja melalui orang-orang selain dirimu ataupun kelompokmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan itu menyentakkan saya, karena sebelum membacanya saya baru saja tersadarkan akan arti meninggikan diri di hadapan Tuhan dan sesama. Ceritanya hari Minggu pagi itu lingkungan kami tugas koor lingkungan. Anggota koor lingkungan sangat sedikit sehingga saya merasa berkewajiban untuk hadir. Saat itu sedang liburan sekolah, saya dan anak-anak sedang menginap di rumah orang tua saya. Suami saya tetap di rumah, dan dia sudah berjanji akan menjemput saya, tetapi janjinya terus berubah...hingga akhirnya dia terkesan malas menjemput karena sudah malam. Merasa terikat kewajiban untuk menyumbangkan suara (walaupun sadar benar bahwa sebenarnya suara saya juga bukan suara yang indah) saya memaksakan suami untuk menjemput. Pulang ke rumah sudah hampir pukul sebelas malam, suasana rumah sangat berantakan sekali sehingga akhirnya saya membereskannya terlebih dahulu. Sebenarnya badan sudah letih apalagi saat itu saya sebenarnya sedang kurang sehat, tetapi saya paksakan karena keesokan harinya setelah misa saya akan kembali lagi ke rumah orang tua. Akhirnya pagi harinya saya terlambat bangun...Dalam kondisi terburu-buru saya tetap memaksakan pergi. Mungkin baru lima atau sepuluh menit lewat dari pukul enam pagi ketika saya tiba di gereja, tetapi tentu saja saya malu untuk maju ke tempat koor di bagian depan gereja. Dari tempat duduk umat saya mendengarkan koor lingkungan kami. Ada beberapa bala bantuan tambahan dari lingkungan tetangga, tetapi tetap saja jumlah personilnya tidak banyak. Tapi, dari bangku umat terasa enak saja didengar. Tidak sempurna, tapi tidak memalukan juga. Ketika itu saya merasa tersentil, rasanya tanpa kehadiran saya juga koor lingkungan terus berjalan sesuai dengan tugasnya. Tuhan sudah mengatur semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memaksakan diri untuk memuliakan namaNya, tetapi tidak memikirkan diri sendiri dan kehendak suami. Dia terasa menegur. Memang terkadang tugas pelayanan terasa sebagai beban. Tidak banyak pekerja yang mau ikut serta memberikan pelayanan. Tapi Dia seakan menegur saya untuk tidak terlalu merasa menjadi "orang penting" yang sangat dibutuhkan Tuhan. Bukan saya yang memilihNya, dan bukan saya yang membantu pelayananNya melainkan Ia yang memilihku dan menguatkanku dalam pelayanan untukNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu membaca tulisan di blog tersebut benar-benar menyentak kesadaranku. Dari link di atas, ada beberapa pertanyaan untuk membantu memperoleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;discernment&lt;/span&gt;, pertanyaan ini harus dijawab dengan jujur untuk memperoleh jawaban yang benar-benar murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pernahkah anda mengalami perasaan mengira anda sedang dituntun oleh Tuhan untuk melakukan sesuatu, dan akhirnya ternyata tidak demikian adanya? Apa akibatnya? Kalau melihat kembali kepada kejadian itu, hal apa yang seharusnya memberikanmu peringatan sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dalam hal-hal apa saja kau mencari petunjuk dari Tuhan? Apabila ada hal yang mengejutkan pada akhirnya, apakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Pernahkah kau menggunakan kata sakti "Kehendak Tuhan" sebagai topeng dari ide atau rencanamu pribadi? Apakah kau sedang melaksanakan hal yang sama sekarang? Apa yang mengarahkanmu melakukannya? (Tolong, jangan berkata atau berpikir bahwa orang lain juga melakukannya; itu hanya akan membuat permainan tuduh menuduh. Bicaralah untuk dirimu sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Baca 1 Tesalonika 5:19-21; "Janganlah padamkan Roh." dan "Ujilah segala sesuatu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Bagaimana semuanya berjalan beriringan?&lt;br /&gt;    * Apakah terlihat seakan satu dengan yang lain saling bertentangan?&lt;br /&gt;    * Pernahkah terlibat dalam sebuah aktivitas kerohanian dimana seseorang terbiasa menilai orang lain tidak bekerja? Bagaimana? Kenapa? Apakah kamu mengambil tindakan untuk mengatasinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Catatlah orang-orang yang paling mungkin kau datangi ketika kau akan membuat keputusan yang sulit. Hal apa dari mereka ini yang membuatmu ingin datang kepada mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Untuk umat Gereja dan anggota lingkungan: bagaimana umat dalam lingkungan/Gereja saling menggunakan sebagai cara untuk memperoleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;discernment&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Untuk kelompok: cobalah menggunakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;role play&lt;/span&gt;. Cari masalah yang mungkin menarik perhatian anggota kelompok, dan bertindaklah sebagai orang yang akan mengambil keputusan. Buatlah dirimu mengambil keputusan melalui proses discernment (kalau kau melakukannya dengan benar maka membutuhkan beberapa kali pertemuan untuk mengambil keputusan itu.) Teruslah mencari jalan keluar sampai tercapai sebuah konsensus, atau tercipta jalan keluar yang memberikan rasa damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kira-kira panduan yang bisa digunakan untuk mencari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;discernment&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;kehendakMu seringkali terluput dari asaku&lt;br /&gt;Dan jalanMu seringkali memutar melingkar jalan yang kulirik&lt;br /&gt;Tetapi kurela menjalaninya bila itu kehendakMu,&lt;br /&gt;Hanya terkadang aku tidak jua mampu mencerna kehendak siapakah itu...&lt;br /&gt;KehendakMu? Kehendak ragaku? &lt;br /&gt;Bimbing daku ya Bapa...&lt;br /&gt;Ke dalam tuntunanMu aku berserah...&lt;br /&gt;Terima kasih Bapa.&lt;br /&gt;Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-1632354363656099501?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/1632354363656099501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/07/masih-mencari-discernment.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1632354363656099501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1632354363656099501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/07/masih-mencari-discernment.html' title='Masih Mencari Discernment'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-530450500298019681</id><published>2009-07-03T20:11:00.000-07:00</published><updated>2009-07-03T20:16:59.940-07:00</updated><title type='text'>Misa Anak</title><content type='html'>Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu, dan janganlah menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah. (Luk 18: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Bina Iman Anak, maka anak bisa diajak datang kepadaNya melalui misa anak. Komisi Liturgi KWI mempunyai sebuah blog khusus untuk Seksi Liturgi Anak, yang bisa dilihat &lt;a href="http://www.liturgi.web.id/"&gt;disini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih yang ditanamkan pada tanah yang subur akan berbuah banyak dan kuat akarnya. Semoga anak-anak bisa lebih mengenali ajakanNya dan bisa datang kepadaNya dengan penuh sukacita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-530450500298019681?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/530450500298019681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/07/misa-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/530450500298019681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/530450500298019681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/07/misa-anak.html' title='Misa Anak'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6444347936835437570</id><published>2009-06-28T06:48:00.000-07:00</published><updated>2009-06-28T07:27:06.152-07:00</updated><title type='text'>"Talita Kum"</title><content type='html'>Maut tidak dibuat oleh Allah, dan Ia pun tidak bergembira karena yang hidup musnah lenyap. Demikian pembuka Bacaan I misa hari ini diambil dari Kitab Kebijaksanaan (1:13-15; 2:23-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setan maka maut masuk ke dunia. Kehadiran Yesus adalah untuk mengalahkan maut, menyelamatkan umat manusia dari cengkeraman abadi kematian. Dalam Injil Markus 5:21; 24; 35b-43, Yesus berkata kepada anak dari Yairus yang sudah meninggal: "Talita Kum", artinya: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali dosa mendekati kita maka jiwa kita akan semakin mendekati kematian yang abadi. Ketika karier terjerembab, ketika keuangan kacau balau, ketika masalah keluarga membukit, bahkan kematian anggota keluarga, semuanya terasa memberikan kematian kecil dalam diri kita. Tetapi kita tidak akan mati bila kita percaya. "Jangan takut, percaya saja!" demikian kata Yesus kepada Yairus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang patut kita ingat setiap kali mendapati masalah berat yang seakan mematikan segala rasa dan keinginan hidup, "Jangan takut, percaya saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Talita Kum", Dia akan berseru membangunkan kita dan menyuruh kita berjalan. Dia meminta orang memberi anak yang baru bangun itu makan, Dia juga meminta orang untuk membantu kita yang dimintanya bangun. Pada posisi siapakah kita saat ini berada? Pada posisi Yairus dan istrinya? Pada posisi tetangga dan orang-orang yang berkerumun? Atau malahan pada posisi anak Yairus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus hanya bisa memberikan mukjizatnya bila yang meminta sungguh percaya. Tuhan tidak akan bekerja sendirian, Ia selalu meminta manusia untuk bangun dan ikut bekerja. Yairus dan istrinya percaya dan mengikuti langkah Yesus, orang-orang yang tidak percaya diusirNya, anak Yairus bangun dan berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha untuk bangkit dan meraih kembali kebahagiaan adalah usaha yang diinginkan Tuhan. Manusia berhak atas kebahagiaan, dan dengan percaya kepadaNya niscaya kedamaian akan menjadi sumber kebahagiaan bagi kita. Dengan percaya kepadaNya dan  melangkah sesuai dengan kehendakNya maka kita akan dibebaskan dari kematian abadi. Manusia harus makan dan berjuang mengisi kembali kehidupannya, tetapi sabdaNya sudah membangkitkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih karena mau meminta kami untuk bangun&lt;br /&gt;terima kasih karena memberi kami kekuatan untuk bangun&lt;br /&gt;terima kasih karena menguatkan rasa kepercayaan kami&lt;br /&gt;jadilah pelita dalam hati kami dan sinari kami dalam keabadian cintaMu,&lt;br /&gt;amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6444347936835437570?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6444347936835437570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/06/talita-kum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6444347936835437570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6444347936835437570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/06/talita-kum.html' title='&quot;Talita Kum&quot;'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-486573237467850007</id><published>2009-06-20T06:09:00.000-07:00</published><updated>2009-06-20T19:26:25.027-07:00</updated><title type='text'>19 Juni 2009 - 19 Juni 2010, Tahun Imam</title><content type='html'>Minggu lalu telah dibacakan Surat Gembala menghantar Tahun Imam sebagai ganti kothbah di gereja dalam lingkungan Keuskupan Agung Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 19 Juni adalah pesta Hati Yesus yang Mahakudus, yang telah ditetapkan menjadi Hari Doa sedunia untuk kesucian para imam. Di Roma diadakan Ibadat Sore Agung dipimpin oleh Paus Benedictus XVI sebagai acara pembukaan Tahun Imam yang bertepatan dengan 150 tahun wafatnya Santo Yohanes Maria Vianney, pelindung semua imam di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kita seringkali meminta para imam mendoakan kita, tentunya kita juga perlu banyak berdoa bagi para imam. Banyak kisah tentang imam yang meninggalkan panggilannya, atau yang tergelincir dan menistakan janji imamatnya. Tidak jarang umat menjadi enggan ke Gereja karena melihat permasalahan dari imam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang umat yang jeli dengan klipping majalah Hidup, masih mengingat edisi no 11 tahun ke-61 bertanggal 18 Maret 2007. Ketika itu gambar depannya adalah "Uskup Calonkan Diri Jadi Presiden". Uskup yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mbalelo&lt;/span&gt; terhadap hirarki itu adalah Fernando Lugo, yang kemudian berhasil menjadi Presiden Uruguay. Ketika itu sebagai pesan kepada orang Kristen yang merasa kecewa karena ia melepaskan jabatan Uskup untuk menjadi Presiden, Lugo mejawab: "Saya memahami kekecewaan itu. Tetapi ingatlah, Yesus juga mengadakan pilihan tindakan semasa hidupNya. Sebuah tindakan yang barangkali mengecewakan para pemimpin, tetapi tidak sama halnya dengan orang-orang sederhana. Saya tidak menjanjikan apa-apa. Tetapi, izinkanlah saya untuk melayani Tuhan dari sudut lain." Lebih lanjut ia menambahkan, " Saya menerima penolakan dari Gereja Katolik, karena hal itu benar dan sesuai hukum Gereja, bahwa tahbisan tidak bisa dihapus. Maka izinkanlah saya tetap menjadi uskup. Tetapi katedral saya bukan lagi sebuah Gereja Keuskupan. Kini seluruh negara adalah katedral saya." Judul artikel dimana wawancara ini terkutip adalah "Kebenaran Akan Meraja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran yang sebenarnya akhirnya terkuak, kini Hidup no 65, tahun ke-63, terbitan tanggal 21 Juni 2009 memuat "Terkuaknya Skandal Fernando Lugo". Keberadaan anak yang di luar pernikahan yang diakui Presiden Lugo adalah anak yang lahir setelah ia melepaskan jabatan Uskup pada tahun 2005. Bagi saya tidak penting mempersoalkan kebenaran isu skandal yang lain, tetapi yang penting adalah kewajiban umat untuk ikut menjaga panggilan Imamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuhnya seseorang ke dalam kelemahan daging adalah masalah setiap manusia, bahkan juga masalah para Imam yang telah menerima panggilan khususNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan Lugo untuk menjadi presiden perlu dipertanyakan apakah semata untuk memperbaiki kehidupan masyarakat banyak karena tidak adanya sosok pemimpin kuat yang dapat dipercaya rakyat, atau sekedar memanjakan keinginan daging yang sangat kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses &lt;span style="font-style:italic;"&gt;discernment&lt;/span&gt; dalam setiap pengambilan keputusan dan tindakan dalam kehidupan ini merupakan perjuangan tanpa henti yang memerlukan banyak doa. Bukan sekedar doa pribadi, tetapi juga dukungan doa seluruh umat Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tulisan ini selesai tertulis, terbaca sebuah renungan harian dari Romo Indra Sanjaya PR (masih dari majalah Hidup no 25) berjudul "Kothbah di Bukit" (Mat7: 1-5) "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi" Renungan yang seharusnya untuk hari Senin besok ini mengingatkan betapa kita tidak bisa menghakimi orang lain. Penghakiman yang terbesar akan datang dari pengadilan Allah. Betapa kita perlu bertindak adil dan obyektif dalam memberikan penilaian atau penghakiman. Tulisan di atas bukan dari hasil meditasi, entah apakah tulisan di atas merupakan penghakiman atau ajakan untuk refleksi diri. Bagi saya saat ini tulisan di atas lebih merupakan sarana refleksi diri, refleksi kelemahan manusia, dan refleksi bagi Gereja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu daripada menghakimi orang lain dan mencemari hati kita dengan pikiran dan perkataan yang sia-sia, lebih baik kita saling mendoakan agar tidak terjatuh ke dalam godaan setan yang senantiasa menggoda dengan kesenangan duniawi dan kemegahan diri yang semu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa yang Mahabaik,&lt;br /&gt;Bimbing kami umatMu dalam mencari Jalan Kebenaran,&lt;br /&gt;Berkati kami dengan rahmatMu,&lt;br /&gt;Agar setia dalam pelayanan yang Kau minta dari kami,&lt;br /&gt;Bapa, panggilanMu seringkali sulit terdengar,&lt;br /&gt;Atau semangatnya seringkali mengecil bagai api yang tertiup angin.&lt;br /&gt;Khusus bagi para imam, dampingilah mereka...&lt;br /&gt;Dari sejak Engkau memanggil mereka untuk menggembala di dunia ini,&lt;br /&gt;Hingga menjaga api kesetiaan mereka,&lt;br /&gt;Ingatkan mereka akan domba-domba yang tercerai berai bila gembala lengah,&lt;br /&gt;Dalam kegelapan, terangilah hati para gembala&lt;br /&gt;Agar mampu menguatkan diri dalam tugas pelayanan mereka.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-486573237467850007?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/486573237467850007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/06/19-juni-2009-19-juni-2010-tahun-imam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/486573237467850007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/486573237467850007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/06/19-juni-2009-19-juni-2010-tahun-imam.html' title='19 Juni 2009 - 19 Juni 2010, Tahun Imam'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-1895873499484078517</id><published>2009-06-12T21:34:00.000-07:00</published><updated>2009-06-12T22:27:06.732-07:00</updated><title type='text'>Mengosongkan Diri</title><content type='html'>Sebenarnya keheningan dan waktu belum menjadi "hadiah" bagi saya. Tetapi memiliki blog rupanya menjadikan suatu panggilan sendiri untuk menuliskan sesuatu hal yang memenuhi hati dan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Injil Matius 10: 9-10, "Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut, atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapatkan upahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan yang mendasari kaul kemiskinan para biarawan ini terngiang-ngiang di telinga saya beberapa hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengarnya dalam suatu acara wilayah beberapa hari lalu, entah mengapa yang terbersit justru sedikit di luar konteks. Yang terpikir oleh saya adalah alasan orang menunda ikut bergerak dalam bidang pewartaan. Belum cukup modal (pengetahuan maupun waktu) biasanya menjadi alasan mendasar. Tetapi tampaknya modal ini akan dicukupkan oleh Tuhan selama kita dengan rela dan sepenuh hati siap menjadi alat pewartaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sebuah tulisan mengenai pengosongan diri membawa saya pada perenungan yang lain. Dalam mencari "discernment" seringkali kita terkacaukan oleh keinginan pribadi ataupun kebanggaan diri pribadi. Bagaimana mengosongkan diri dan membiarkan kehendak Tuhan semata yang bekerja melalui kita, adalah hal tersulit yang perlu dituju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu doa yang senantiasa kupanjatkan melalui Santo Antonius dari Padua adalah keinginan untuk tidak kehilangan diriku sendiri (baca: jiwaku). Waktu dahulu pertama kali membaca Injil Matius di atas, terpikirkan bahwa lebih mudah bagi orang selibat untuk tidak memikirkan harta duniawi, tetapi perenungan lebih mendalam membawa saya pada kenyataan bahwa setiap orang memiliki jalan salib masing-masing. Apa yang terlihat mudah tidak selalu mudah dalam pelaksanaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.saintanthonysocietyswp.com/shortstory.htm"&gt;Santo Antonius dari Padua&lt;/a&gt; banyak membantuku ketika aku kehilangan barang-barangku, karena itu aku percaya ia juga akan mendoakan jiwaku agar tidak pernah kehilangan kesempatan untuk ikut berada di rumah Bapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa yang maha pengasih,&lt;br /&gt;Terima kasih atas santo santa yang telah membantu kami&lt;br /&gt;memberi contoh dan mendoakan kami&lt;br /&gt;memberikan kekuatan di kala kami berkecil hati.&lt;br /&gt;Bantu kami ya Bapa,&lt;br /&gt;dalam perjalanan kami supaya mampu memilih jalan yang Dikau kehendaki. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santo Antonius,&lt;br /&gt;dampingi dan doakanlah kami,&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-1895873499484078517?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/1895873499484078517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/06/mengosongkan-diri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1895873499484078517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1895873499484078517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/06/mengosongkan-diri.html' title='Mengosongkan Diri'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5664478133173795012</id><published>2009-05-11T06:53:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T07:50:16.843-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Ananias, Menjadi Paulus...</title><content type='html'>Terus terang, masalah duniawi seringkali menyita waktu sehingga hanya kesibukan belaka yang ada. Padahal untuk bisa mendengar sabdaNya dan mengerti kehendakNya seringkali juga dibutuhkan keheningan. Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya tetapi tidak pernah sempat tertuliskan. Kesibukan Tri Hari Suci dan semua kesibukan harian memang sungguh-sungguh mendera. Belum lagi masalah batin yang banyak mempertanyakan kehendakNya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kenalan yang saya kenal dan menderita kanker baru saja kehilangan suaminya. Sebuah ironi bahwa sang suami terlebih dahulu dipanggil menghadap Sang Pencipta, sementara pasca operasi belum lama dilaluinya. Selain itu seorang tetangga yang hanya punya anak gadis semata wayang harus menghadapi kenyataan putrinya kecelakaan dan tampaknya mempengaruhi batang otak sehingga perlu terapi panjang untuk kesembuhan seperti semula. Mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah dan ikut melayani dengan cara mereka masing-masing. Terus terang dalam hal penderitaan maka saya tidak bisa tidak, pasti menengok pada ketabahan Ayub. Semoga teman-teman saya ini juga dikuatkan seperti Ayub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu-minggu terakhir ini saya juga sering mendengar tentang pertobatan Saulus. Seorang pastur mengingatkan adanya kesamaan antara Saulus dan Paulus, yaitu keduanya mencintai Allah dan ingin membela Allah. Perbedaannya adalah cara Saulus yang salah, karena ia mengira membela Allah dengan mempertahankan kemurnian Taurat sehingga pengikut Yesus adalah musuh-musuh Allah. Dia kemudian membela Allah dengan mengangkat senjata dan membunuh "musuh-musuh" tersebut. Paulus yang sudah benar-benar mengenal Allah dan mengetahui apa yang harus dikerjakannya melaksanakan perlawanan dengan cara yang berbeda, cara yang dipenuhi dengan cinta kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal menarik dari pertanyaan sang pastur ketika itu adalah: "Mengapa Allah membutuhkan kehadiran Ananias untuk mengakhiri kebutaan sementara Saulus?" Berakhirnya kebutaan Saulus menjadi lambang perubahan dirinya menjadi Paulus. Rupanya Allah memang menginginkan interaksi aktif manusia dalam memberitakan kabar keselamatan bagi sesamanya. Kehadiran Ananias menjadi perlambang keberanian untuk menjadi pewarta bagi Allah, menjadi perantara kabar bahagiaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, menjadi Paulus berarti harus bisa mengakui kesalahan diri dan bersiap menerima tantangan masa depan, menghadapi orang-orang yang mungkin awalnya akan meragukan ketulusan dirinya. Menghadapi keraguan, stigma dan label yang sudah terlanjur melekat pada dirinya. Menjadi Paulus berarti berani membangkitkan cinta kasih Allah dalam dirinya dan merubah diri sesuai dengan kehendakNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang kehidupan meditasiku sedang terganggu. Tidak ada waktu yang bisa kusediakan untuk sungguh-sungguh hening dan membaca FirmanNya. Tidak ada waktu yang bisa kusediakan untuk mengosongkan berbagai macam isi kepalaku dan hanya mencoba mencari sabdaNya. Tetapi beruntung bahwa dalam segala keriuhan dunia yang harus saya jalani masih juga saya menjumpai orang-orang seperti Ananias yang memberitakan kabar sukacita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saya mengikuti Pelatihan Cara Mendongeng bagi divisi Bina Iman Anak KAJ. Materi "Mendongeng dengan Kitab Suci" dari Romo Indra Sanjaya Pr. serta "Berkatakese melalui Dongeng" dari mbak Yayi membuat saya kembali diingatkan akan tugas perutusan utama seorang ibu (dan orang tua pada umumnya) yaitu untuk membangun pondasi iman anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun bisa menjadi Ananias. Kak Agus DS, seorang muslim, yang mengajarkan teknik dan ketrampilan mendongeng, dengan cerdik memberikan contoh kasus bagaimana ia bisa bertindak sebagai pendidik (dia juga seorang kepala sekolah) terlepas dari agama yang dianutnya. Dia mencontohkan kisah seorang anak yang tidak mau ke sekolah Minggu. Dia mencari tahu bagaimana mengalahkan kekerasan hati anak tersebut. Akhirnya dia mengajak anak tersebut bermain tali. Ketika seutas tali tipis direntangkan maka tali itu bisa diputuskan dengan mudah. Ketika kemudian tali itu membelit ke badan maka satu lilitan masih agak mudah untuk dibuka. Ketika lilitan bertambah banyak maka tidak lagi gampang untuk melepaskan diri ikatan tali itu. Dan...itulah perlambang dosa yang melilit dan mengikat kita. "Apakah dosa itu?" tanya anak lelaki kecil tadi. "Mari kita tanya kepada guru sekolah minggumu," jawab Kak Agus. Kisah yang universal, setiap agama mengajarkan bahwa dosa itu memang melilit dan mengikat manusia sehingga manusia akan sulit terlepas dari jeratannya. Tapi, bagaimana mengajak seorang anak merasa tertarik untuk mengetahui perbuatan apa yang dianggap dosa dan ingin menghindarinya, apalagi dengan latar belakang agama yang berbeda tentunya membutuhkan keahlian tersendiri. Mungkin saja kisahnya ini rekaan untuk menggugah kami, tetapi kisah itu begitu menyentuh, terutama karena ia sendiri menekankan betapa sekolah minggu adalah bukan hal yang dikenalnya karena ia berbeda keyakinan. Kisah tentang lilitan dosa rasanya sudah pernah saya dengar, tetapi dengan caranya berkisah maka terasa sangat hidup dan menyentuh. Semoga kami yang mengikuti acara itu mampu juga menggugah anak-anak melalui dongeng dari Kitab Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Ananias, menjadi Paulus, atau mungkin menjadi Petrus yang baru tersadar oleh kokok ayam jantan yang ketiga kalinya di pagi hari itu...bisa jadi menjadi bagian dari takdir dan pilihan hidup. Rasanya saya percaya ada takdir yang sudah menunggu kita, tetapi dengan berjalan dalam panduanNya maka takdir itu tidak akan pernah membawa kita ke dalam kehancuran abadi, sama seperti Paulus yang sanggup bangkit dan kembali membela Allah dengan cara yang benar, dengan semangat cinta kasih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah,&lt;br /&gt;Ampunilah kami orang berdosa,&lt;br /&gt;Ajarilah kami untuk mengenal kehendakMu,&lt;br /&gt;Bimbinglah kami untuk berjalan di jalanMu,&lt;br /&gt;Jangan biarkan kami menjadi domba-domba yang hilang,&lt;br /&gt;Latihlah kami menjadi anak-anak gembala yang membantuMu di padang rumput&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5664478133173795012?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5664478133173795012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/05/menjadi-ananias-menjadi-paulus.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5664478133173795012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5664478133173795012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/05/menjadi-ananias-menjadi-paulus.html' title='Menjadi Ananias, Menjadi Paulus...'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6367844779743777730</id><published>2009-04-06T09:12:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T09:40:11.925-07:00</updated><title type='text'>Sakramen Tobat, Sebuah Kenangan...</title><content type='html'>Sakramen tobat adalah sebuah kelengkapan untuk menerima Tubuh dan DarahNya. Dari kecil hingga dewasa sekarang, untuk memohon sakramen tobat ini membutuhkan perjuangan tersendiri bagi saya. Karena itu saya tidak akan pernah melupakan Romo Middendorp SJ yang selalu setia menantikan kedatangan umat di dalam bilik pengakuan. Bahkan bila akan mempersembahkan misa, beliau tidak pernah absen menanti di biliknya. Lima belas menit atau sepuluh menit sebelum misa dimulai barulah ia meninggalkan ruangan itu, walau tidak ada seorangpun yang masuk. Sebaliknya bila ia tidak mempersembahkan misa, maka akan ditunggunya sampai sepuluh atau lima belas menit setelah misa dimulai baru meninggalkan bilik pengakuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan batin untuk menghadap seorang imam yang notebene adalah manusia biasa seringkali membuat saya masuk ke dalam bilik pengakuan pada detik-detik terakhir sebelum beliau meninggalkan posisinya. Terkadang mungkin juga saya berdoa supaya dia keluar lebih dahulu, tetapi rupanya doa jelek jarang dikabulkan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau semakin tua, kelihatannya kesabarannya di altar semakin menipis. Putra altar seringkali takut melayani misa kudus bila tahu bahwa Romo Middendorp yang membawakan misa. Mungkin takut berbuat salah. Tapi kesabarannya menanti di dalam ruang pengakuan tidak pernah berubah. Saya pikir sekarang sudah susah mencari bapa pengakuan sepertinya. Di gerejaku sekarang ini kami harus membuat janji bila ingin menerima sakramen tobat. Diluar itu hanya ada kesempatan menjelang Paskah dan menjelang Natal. Terus terang pergulatan batin yang sering kurasakan di masa kecil dan masa remajaku, ketika menatap pintu bilik di sebelah bilik pastur sebelum misa dimulai, tampaknya akan sulit berulang lagi. Bukan karena saya menjadi lebih dewasa dan lebih baik, tetapi karena tidak ada lagi bapa pengakuan yang setia menanti disana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah yang maharahim,&lt;br /&gt;aku mnyesal atas dosa-dosaku.&lt;br /&gt;Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan maha baik bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci atas segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmatMu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang mahamurah, ampunilah aku, orang berdosa, Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6367844779743777730?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6367844779743777730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/04/sakramen-tobat-sebuah-kenangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6367844779743777730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6367844779743777730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/04/sakramen-tobat-sebuah-kenangan.html' title='Sakramen Tobat, Sebuah Kenangan...'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-1626124031756937649</id><published>2009-03-29T20:26:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T21:47:54.546-07:00</updated><title type='text'>Bertanggungjawab atas panggilan</title><content type='html'>Bertanggungjawab atas panggilan untuk bekerja di ladang Tuhan adalah juga tanggung jawab orang tua. Hari Minggu kemarin kelompok Bina Iman Anak mengunjungi tempat retret Wisma Canossa di Bintaro. Kami juga sekaligus mengunjungi biara suster dan novisiat suster yang bernaung di bawah kongregasi Canossian yang didirikan oleh &lt;a href="http://www.vatican.va/news_services/liturgy/saints/ns_lit_doc_19881002_maddalena_di_canossa_en.html"&gt;Magdalena dari Canossa.&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_oFYBq9bgqhU/SdBI5iYR3YI/AAAAAAAAAmg/PqD3_K9_r0o/s1600-h/Canossa+036.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_oFYBq9bgqhU/SdBI5iYR3YI/AAAAAAAAAmg/PqD3_K9_r0o/s320/Canossa+036.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318831313242938754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama kami melakukan jalan salib bersama anak-anak. Kelompok BIA kami bagi dua, kelompok kecil sendiri sementara yang sudah SD membentuk kelompok besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun berpeluh dan sedikit kepanasan, semua anak berhasil menyelesaikan jalan salib mereka dengan baik. Sengsara menjalani 14 perhentian yang berjarak tidak terlalu jauh itu memang tidak seberapa bila dibandingkan dengan sengsara Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_oFYBq9bgqhU/SdBKBidkIWI/AAAAAAAAAmo/ppeuEi4uM0k/s1600-h/Canossa+002.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 245px; height: 293px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_oFYBq9bgqhU/SdBKBidkIWI/AAAAAAAAAmo/ppeuEi4uM0k/s320/Canossa+002.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318832550215688546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_oFYBq9bgqhU/SdBKxzeOkyI/AAAAAAAAAmw/7954BlkdQjo/s1600-h/Canossa+004.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_oFYBq9bgqhU/SdBKxzeOkyI/AAAAAAAAAmw/7954BlkdQjo/s320/Canossa+004.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318833379415593762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Acara kami berikutnya adalah menengok tempat tinggal suster dan para kakak novis. Kebetulan suster kepala provinsial juga ada di ruang makan susteran. Beliau bertanya siapa diantara anak-anak yang ingin menjadi suster, ada dua anak yang mengangkat tangan. Ketika ditanyakan siapa yang ingin menjadi pastur, tidak seorangpun yang mengangkat tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu berubah ketika kami berada di depan rumah kakak novis. Ketika kakak novis meminta yang ingin menjadi suster mengangkat tangan, ada tiga gadis kecil yang mengangkat telunjuknya. Kemudian ketika ditanyakan berapa orang yang ingin menjadi pastur, ada satu anak lelaki yang mengacungkan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua dan pendidik memang bertanggungjawab atas panggilan Tuhan kepada anak-anak itu. Itulah sebabnya suster-suster mau menerima kunjungan kami ke biara mereka. Anak-anak perlu mengenal panggilan dan kehidupan membiara itu sejak dini, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mengetahui bila Tuhan memanggil mereka. Orang tua perlu menjadi seperti Eli (1 Sam 3: 1-10) yang memberi petunjuk kepada Samuel dalam mendengar sabda Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster mengingatkan kami orang tua yang mendampingi, betapa sering orang tua mendoakan agar panggilan Tuhan bagi pekerja di ladangNya semakin subur, dengan catatan bukan anak mereka yang dipanggil. Kegiatan bersama seperti ini memang tidak hanya mempersiapkan benih untuk ladangNya, tapi juga mempersiapkan kesiapan hati orang tua untuk menanam benih dan merawat benih itu dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_oFYBq9bgqhU/SdBMO5-GhwI/AAAAAAAAAm4/j22ZY1XfKwU/s1600-h/Canossa+020.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_oFYBq9bgqhU/SdBMO5-GhwI/AAAAAAAAAm4/j22ZY1XfKwU/s320/Canossa+020.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318834978887730946" /&gt;&lt;/a&gt;Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit (Mat 9:37)...karena itu kita perlu mempersiapkan calon-calon pekerja di ladang Tuhan. Akhirnya toh, bukan kita yang memilih Dia, melainkan Ia yang akan memilih pekerja-pekerjaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Bapa,&lt;br /&gt;Terima kasih atas pengalaman hari ini,&lt;br /&gt;Atas perkenalan kami pada bagian dari GerejaMu,&lt;br /&gt;Bantulah kami agar mampu mengenali suaraMu dan memberitakanNya,&lt;br /&gt;Agar anak-anak kami bisa mengenali panggilanMu dan menjadi pekerja di ladangMu.&lt;br /&gt;Amin,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-1626124031756937649?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/1626124031756937649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/bertanggungjawab-atas-panggilan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1626124031756937649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1626124031756937649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/bertanggungjawab-atas-panggilan.html' title='Bertanggungjawab atas panggilan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_oFYBq9bgqhU/SdBI5iYR3YI/AAAAAAAAAmg/PqD3_K9_r0o/s72-c/Canossa+036.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-1256352330956901436</id><published>2009-03-25T14:50:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T16:23:13.630-07:00</updated><title type='text'>Mari Bertanggungjawab Melalui Pekerjaan</title><content type='html'>Hari ini Yesus mengatakan bahwa Dia tidak akan bersaksi tentang diriNya sendiri, dan dia juga tidak membutuhkan kesaksian manusia tentang diriNya, melainkan pekerjaanNya yang akan memberikan kesaksian tentang diriNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini melalui Yohanes 5:31-47 Yesus menyentuh aku terutama dalam dua hal. Pertama dalam hal pekerjaan. "...Aku mempunyai satu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaKu, supaya aku melaksanakannya. Pekerjaan itu jualah yang sekarang Kukerjakan, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ibu rumah tangga, hasil dari pekerjaanku tidak langsung terlihat. Tidak ada gaji, tidak ada promosi, bahkan terkadang terasa penuh onak dan duri; pergulatan dengan emosi, pergulatan antara keinginan diri pribadi dan kepentingan anak/keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai relawan juga tidak ada hasil yang secara langsung kuterima. Yang ada adalah pergelutan membagi waktu dan perhatian, bahkan di luar waktu terkadang masih perlu juga pengorbanan finansial. Pergumulan batin untuk bisa berbagi dari keadaan yang serba "kurang", artinya kurang waktu, kurang dana, atau bahkan kurang daya tahan emosional, adalah bagian dari pekerjaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku teringat akan materi pendalaman iman minggu lalu, mengenai Yesus yang memberi makan orang banyak. Bukan satu dua kali Ia memberi makan orang banyak. Dari Matius 14:13-21 kita tahu Ia memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, kemudian dari Matius 15: 32-39 Ia memberi makan empat ribu orang dari tujuh roti dan beberapa ikan. Jumlah orang itu tidak absolut karena yang dihitung hanya kaum lelaki, artinya kepala keluarga saja. Ia akan menggandakan yang sedikit itu selama diberikan untuk kepentingan orang banyak. Saya berharap Ia juga mau menggandakan hasil dari bibit yang kusebar melalui pelayananku yang rasanya masih serba penuh kekurangan ini. Yesus mengajak kita untuk mensyukuri apapun (berapapun) yang kita miliki, dan Ia juga mengajak kita untuk memberikan semua yang kita miliki serta hasil jerih payah kita kepada Tuhan untuk digandakanNya dan dibagikanNya kepada orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkan talenta yang besar seringkali juga membuat saya tidak mampu fokus, semua hal menarik hati, semua pekerjaan ingin dicoba. Seringkali saya bertanya-tanya: "Tuhan, apa yang Kau inginkan aku perbuat?" Orang-orang di sekitarku seringkali tidak bisa mengerti kegiatan lain yang kulakukan yang tidak memperoleh imbalan materi. Seringkali saya dituduh melalaikan anak-anakku karena terlalu terserap dalam kegiatan lain yang menurut mereka malah menghabiskan energi dan materi yang seharusnya bisa diberikan untuk keluarga. Sebenarnya saya juga tidak mengerti mengapa dorongan untuk pelayanan "keluar rumah" begitu besar. Terkadang saya juga takut kalau semua ini semata untuk egoisme dan kepentingan pribadiku yang ingin eksis di mata orang lain. Hari ini rasanya Tuhan menguatkan hatiku, "Berikanlah roti dan ikan yang sedikit yang kau miliki kepadaKu dan Aku akan membantumu menggandakannya agar cukup bagi dirimu dan bagi semua orang." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus ke dalam Tuhan, rasanya itu yang terpenting bagiku saat ini, karena hanya Dia yang sanggup mengetahui porsi kebutuhan anak-anakku maupun orang lain yang membutuhkan bantuanku. Hanya Dia yang sanggup mencukupkan 24 jam dalam sehari menjadi cukup untuk pelayanan, pengembangan diri, dan istirahatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekatkan diri kepadaNya membuat saya mampu melihat keajaiban-keajaiban dalam kehidupanku. Ada banyak yang ajaib dalam kehidupan seorang ibu. Sejak dari proses mengandung dan melahirkan, sampai proses membesarkan anak, semuanya penuh dengan keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya juga menerima hadiah yang tidak kusangka-sangka. Ketika merasa bahwa kegiatan jurnalisme warga adalah sebuah bentuk yang patut diperjuangkan, saya mencoba mendorong agar salah seorang dari wikimu (portal jurnalisme warga lokal) bisa diundang ke Seoul. Undangan yang datang justru untuk diriku. Ketika orang-orang mulai mencerca waktu dan materi yang kukorbankan untuk kegiatan ini, ada saja hadiah-hadiah kecil yang diberikanNya kepadaku melalui orang-orang di sekitarku. Tentu saja saya tidak boleh terlena, karena semua yang ada bukan hak yang kuperoleh, melainkan karena kemurahan hatiNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang patut kusyukuri dalam kehidupan ini. Resesi global mulai terasa berat. Hampir setiap hari media massa mengisahkan kisah pembunuhan, bunuh diri, maupun percobaan bunuh diri karena alasan ekonomi. Kegelapan menyertai keputusan-keputusan yang diambil dalam keputusasaan. Saya bersyukur sampai saat ini masih mampu berjalan di dalam terangNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kedua yang membekas di hatiku adalah "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehNya kamu mempunyai hidup yang kekal. Tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberikan kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendalaman iman minggu lalu, seorang teman yang sering membaca blog ini bertanya: "Benar, yang kamu tulis itu datang begitu saja?" Memang saya mendapat talenta untuk lebih mampu merangkai kata-kata, tetapi terus terang tanpa doa terasa sulit untuk menuliskan rangkaian tulisan di blog ini. Terkadang, saya sendiri juga terpesona pada hasil yang tertuliskan disini. Tetapi semua itu tidak menandakan bahwa saya dipenuhi oleh Roh Kudus dan hidup suci, salah besar! Mungkin Roh Kudus bekerja selama jemariku mengetik tulisan ini. Tulisan untuk blog Journey to His Words tidak pernah kuperlakukan seperti artikel untuk media massa. Tulisan ini tidak dipersiapkan di Word atau di Googledoc, melainkan langsung diketik di template blog. Suntingan akhir seringkali terjadi setelah tulisan naik dan terasa ada kata-kata yang agak janggal (masalah bahasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutanku yang paling besar adalah mampu menuliskan semua hal-hal yang menarik dan inspiratif untuk mendekatkan orang kepada Tuhan, tetapi saya sendiri tidak datang kepadaNya untuk memperoleh kehidupan kekal itu. Keseimbangan dan penyangkalan diri, kemampuan untuk berbagi dan kesiapan untuk menerima semua cobaan, fokus dalam Dia dan komunikasi aktif denganNya yang disertai dengan kerja keras dalam dunia nyata, semuanya itu perlu kupersembahkan kepadaNya agar Dia mampu bekerja melalui aku. Kesulitan terbesarku adalah untuk mengetahui pilihan yang tepat dari persimpangan jalan di depanku. Kesulitan lainnya adalah benar-benar melaksanakan apa yang diberikanNya kepadaku melalui sabda-sabdaNya yang kutelusuri disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, &lt;br /&gt;Bapa yang Mahabaik dan Maha Pemurah,&lt;br /&gt;Terima kasih atas kekuatan yang Dikau berikan,&lt;br /&gt;Atas anugrah yang Dikau hadiahkan,&lt;br /&gt;Kusadar betapa jauh dari sempurna diriku,&lt;br /&gt;Betapa banyak kekurangan dalam pelayananku kepadaMu,&lt;br /&gt;Tolong aku Bapa,&lt;br /&gt;Ajari aku bahasa cintaMu,&lt;br /&gt;Ajari aku menggunakannya,&lt;br /&gt;Ajari aku membibit dan menanamkannya,&lt;br /&gt;Agar mampu berbuah banyak dan layak dibagikan dalam namaMu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-1256352330956901436?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/1256352330956901436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/mari-bertanggungjawab-melalui-pekerjaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1256352330956901436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/1256352330956901436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/mari-bertanggungjawab-melalui-pekerjaan.html' title='Mari Bertanggungjawab Melalui Pekerjaan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-8149837859508061617</id><published>2009-03-24T12:43:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T13:47:05.302-07:00</updated><title type='text'>Mari Menjawab Kabar Suka Cita</title><content type='html'>Hari ini adalah Hari Raya Kabar Sukacita, dari Injil Lukas 1: 26-38 bisa kita peroleh kabar yang paling agung itu. "Roh KududsKu akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah" (Luk 1:35), begitulah malaikat Gabriel menjawab keraguan yang sempat terbersit di hati Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di Cafe Rohani dengan judul "Menjawab" sangat mempengaruhiku pagi ini. Ada tiga hal dari Maria yang dicatat dalam tulisan tersebut, Maria adalah manusia beriman, Maria adalah manusia yang terbuka terhadap karya Allah, berkat iman dan sikap terbukanya Maria mampu menjawab tawaran Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi manusia beriman berarti membentuk hidup yang dipenuhi sikap doa dan mengarah kepada Allah. Sebenarnya saya perlu juga mengenal dimensi lain dari doa. Bagiku doa adalah percakapan atau dialog dengan Tuhan. Selama ini saya mengusahakan dialog yang tiada henti dengan Tuhan, tetapi seperti kebiasaan burukku, dialog ini lebih sering kumonopoli. Artinya saya yang berkeluh kesah kepadaNya, bertanya kepadaNya, bercerita kepadaNya...menjadi sebuah monolog! Saya terkadang lupa untuk diam dan mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbukaan Maria menyiratkan bahwa dia mengosongkan dirinya dari segala kepentingan dan keinginan supaya bisa diisi oleh rencana dan kehendak Allah. Inilah hal yang kurang kutemui dalam diriku, kepentingan dan keinginanku masih sangat mendominasi monolog yang kusodorkan sebagai doa. Meditasi kelompok membantu aku untuk mundur dari kepentingan dan keinginanku pribadi. Biasanya dalam meditasi kelompok itu saya masih berangkat dari sudut pandang dan kepentingan pribadiku sendiri, tetapi begitu lebur dalam hasil meditasi perorangan teman-teman maka rencana Allah yang jauh lebih besar dari pikiranku sedikit terbukakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita memandang manusia hanya dari yang tampak di luar, tetapi pergumulan mereka di dalam hati tersimpan rapat disana. Terkadang memang orang ekstrovert seperti saya tidak sanggup menyimpannya rapat-rapat di dalam hati, tetapi tetap saja apa yang tampil di mata orang lain mungkin tidak sama persis dengan apa yang sebenarnya sedang bergolak di dalam hatiku. Dalam kesempatan membukakan diri bersama rekan-rekan kelompok doa baru terasa betapa salib itu begitu beraneka macam. Semuanya diukir dengan indah oleh tanganNya secara khusus, sesuai dengan kemampuan kami masing-masing menanggung bebannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Maria: "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu" adalah jawaban yang sangat sarat dengan ketebalan imannya. Sebenarnya Maria juga tidak benar-benar memahami apa yang sedang dialaminya, ataupun apa yang akan dijalaninya. Kabar sukacita ini tidak berhenti hanya dalam kelahiran Yesus, melainkan merupakan satu paket dengan kisah sengsaraNya, kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke surga. Satu paket lengkap yang membukakan keselamatan manusia dari akibat dosa Adam dan Hawa. Dalam keadaan tidak mengerti, Maria mau menerima kehendak Allah dan bersedia menanggung segala konsekuensi yang akan dihadapinya dengan iman kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya malu membayangkan betapa sering saya memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan segala konsekuensi yang berlumurkan kepahitan hidup dari kehidupanku. Memang Yesus dalam saat-saat terakhirnya di taman Getsemani juga gentar mengingat konsekuensi yang akan dihadapinya dan memohon: "Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu, tetapi bukan kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi." (Lukas 22:42). Yesus memohonkan kekuatan kepada BapaNya melalui doa, dan malaikat Tuhan datang memberikan kekuatan kepadaNya (Luk 22:43). Terkadang mulut berucap: "terjadilah padaku menurut kehendakMu Bapa," tetapi hati juga sibuk memohon agar segala kemalangan dan kesulitan hidup menjauh dari diriku dan keluargaku. Dan ketika nasib buruk menyambangi sibuk berpikir apa yang salah, mengapa kehidupan tidak berjalan dalam damai sejahteraNya. Padahal damai sejahtera bisa terasakan walaupun kita dalam keadaan terpuruk, berduka, dikhianati, dilecehkan, ataupun dalam penderitaan lainnya, selama kita tetap berjalan bersamaNya. "Imanmu telah menyelamatkanmu," kata Yesus kepada orang-orang yang disembuhkanNya. Iman itu yang memberikan kekuatan untuk terus merasakan damai sejahteraNya dalam untung dan malang, dalam sukacita dan dukacita, dalam kelegaan dan ketakutan...malaikatNya senantiasa mengirim rahmatNya yang menguatkan selama kita hidup di dalam iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku senantiasa memandang kepada Tuhan,&lt;br /&gt;karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.&lt;br /&gt;Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak,&lt;br /&gt;Bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram,&lt;br /&gt;sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, &lt;br /&gt;dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan.&lt;br /&gt;Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan, Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapanMu." (Kis Ras 2: 25-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang perlu kuperbuat ya Allah? Melalui Petrus kedengar jawabanNya: "Bertobatlah, berilah dirimu diselamatkan..." (Kis Ras 2:37-40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Bapa,&lt;br /&gt;Tumbuhkanlah aku terus di dalam iman kepadaMu,&lt;br /&gt;Bantulah keluargaku memupuk iman itu dalam persemaian bibit di dalam anak-anak kami,&lt;br /&gt;Dan berilah kami kekuatanMu untuk terus terbuka terhadap kehendakMu,&lt;br /&gt;dan berani melangkah bersamaMu walaupun gelombang dan badai menghadang di muka.&lt;br /&gt;Bapa, ampunilah kami orang berdosa.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-8149837859508061617?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/8149837859508061617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/mari-menjawab-kabar-suka-cita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8149837859508061617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8149837859508061617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/mari-menjawab-kabar-suka-cita.html' title='Mari Menjawab Kabar Suka Cita'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-6633752441344068759</id><published>2009-03-23T15:33:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T16:22:53.442-07:00</updated><title type='text'>Tuhan yang Menyembuhkan</title><content type='html'>Ada beberapa hal yang menarik dari bacaan Injil Yohannes 5: 1-16 yang saya baca hari ini. Pertama, saya membayangkan diri sebagai seseorang yang sudah tiga puluh delapan tahun sakit. Ketika Yesus bertanya: "Maukah engkau sembuh?" Ia menjawab: "Tuhan tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu, apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku sendiri menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahui aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya situasi itu begitu mudah terbayangkan. Si sakit yang sulit berjalan tidak pernah bisa mencapai air kolam Betesda ketika malaikat Tuhan mengguncangkan air kolam untuk kesembuhan mereka yang mandi ke dalamnya. Beruntung bahwa Yesus berjalan melalui si sakit ini dan berbelas kasihan. Lucunya pertanyaan Yesus apakah ia ingin sembuh tidak langsung dijawabnya. Hal ini karena ia tidak mengenal Yesus. Tetapi dia tergerak karena ada orang yang mau memperhatikannya setelah 38 tahun dia merasa sendirian. Tidak ada orang yang menurunkan dirinya ke dalam kolam, orang lain berlomba mendahului dirinya, rasanya semua orang meninggalkan dirinya...dia sendirian dalam kesulitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu dan lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Orang sakit ini tidak terpaku pada pikiran negatif yang baru saja dikeluhkannya. Walaupun ia merasa sendirian, tetapi ia mau mendengarkan perintah orang asing yang tidak dikenalnya untuk kesembuhannya. Beruntung, ia bertemu dengan Yesus yang memang membawakan kesembuhan baginya. Dalam penderitaan, kesakitan, maupun kesendirian seringkali kita menghabiskan waktu untuk meratap. Beruntung orang tadi tidak hanya meratap, dia juga mendengarkan perintah Yesus. Mungkin ada saat-saat dimana Yesus sudah menyuruhku menngangkat tilamku dan pindah dari tempat yang menyengsarakan diriku, tetapi aku tidak mendengar suaraNya karena hanya sibuk mengeluh dan memohon bantuanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan masa kini memang lekat dengan keinginan instan. Orang itu setia menanti selama tiga puluh delapan tahun. Ia terus menantikan kesempatan untuk bisa disembuhkan, walaupun ia tahu sanagt sulit baginya mencapai kolam itu sendirian. Kesabarannya berbuahkan hasil. Di luar itu, terpikir juga bilamana kita berada di dalam posisi orang sehat yang lalu lalang disana, bagaimana kita bertindak? Saya pernah melihat betapa banyak orang yang merelakan waktu libur musim panasnya untuk berada di Lourdes, membantu orang-orang sakit yang ingin mendekat ke Grotto dan mandi dalam air Lourdes. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh ke Lourdes, ada saja waktu ketika seorang teman menelpon untuk sekedar "curhat", apakah kita cukup sabar untuk mendengarkan mereka? Apakah kita cukup jeli untuk melihat orang-orang yang butuh bantuan di sekeliling kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus datang kepada si sakit dan menyembuhkannya walaupun hari itu hari Sabbat. "BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." Allah tidak pernah berhenti bekerja demi keselamatan manusia. Pelangi, busur perjanjian yang diberikannya boleh jadi memudar tertelan polusi bumi, tetapi janjiNya kekal abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Tentunya ayat ini bukan untuk mengatakan bahwa penderitaan dan  penyakit yang kita alami adalah karma buruk perbuatan kita sendiri, tetapi seringkali setelah terlepas dari kesulitan dan penderitaan kita lupa kepada perintah dan laranganNya. Kita lupa bahwa kesembuhan itu kita peroleh bukan karena kepandaian kita, bukan karena kegesitan kita mencapai kolam kesembuhan, tetapi berasal dari belas kasih kunjunganNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kemana saja sungai itu mengalir, semuanya disana hidup" (Yehezkiel 47:9) Aliran kasihNya menghidupkan dan menyejukkan hati. Damai sejahtera menjadi buah dari pohon yang dialiri kasihNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;terima kasih sudah datang untuk kesembuhanku,&lt;br /&gt;biarkan aku berjalan bersamaMu selalu,&lt;br /&gt;bersama Gembala kumerasa aman dan terpandu,&lt;br /&gt;jangan biarkan aku menyimpang dari jalanMu,&lt;br /&gt;jangan biarkan damai sejahteraMu menghilang dariku,&lt;br /&gt;Jangan biarkan aku menjauh dari Sungai KehidupanMu.&lt;br /&gt;jangan biarkan mataku buta dan telingaku tuli dari jeritan sesama &lt;br /&gt;yang membutuhkan hadirMu.&lt;br /&gt;bantu aku membawa mereka ke Mata Air Kehidupan Abadi.&lt;br /&gt;Biar mulut kami senantiasa memuji namaMu...&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-6633752441344068759?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/6633752441344068759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/tuhan-yang-menyembuhkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6633752441344068759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/6633752441344068759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/tuhan-yang-menyembuhkan.html' title='Tuhan yang Menyembuhkan'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-8686970739700065027</id><published>2009-03-18T14:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T15:19:45.086-07:00</updated><title type='text'>Mencari "Discernment"</title><content type='html'>Pada Hari Raya St. Yusuf (Yosef), Suami SP. Maria, 19 Maret, kita diingatkan kepada pentingnya institusi keluarga sebagai identitas diri. Bacaan Injil diambil dari Matius 1: 16-21, 24a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga sebagai institusi yang dipilih oleh Tuhan untuk membesarkan calon generasi penerus memang sudah diwartakan sejak dari Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian. Tuhan meminta manusia untuk beranak-cucu dan menjadi bangsa yang besar. Tuhan juga menginginkan manusia saling menjaga. Pertanyaan Kain kepada Tuhan ketika ditanya dimana adiknya berada, adalah pertanyaan retoris: "Apakah aku penjaga adikku?" Demikian pula kita diharapkan untuk saling menjaga di dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang sangat menarik bagi saya dari bacaan Injil di atas adalah mimpi Yusuf. Ketika ia ingin memutuskan tali pertunangan dengan Maria yang telah mengandung, maka malaikat Tuhan datang kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkai takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Maria akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka." Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya merasa bingung dalam mengambil sebuah keputusan, apakah ini adalah kehendak Tuhan bagi saya? Ataukah ini adalah kehendak manusiawiku? Yusuf, seperti juga Abraham (bapa orang beriman) taat kepada perintah Tuhan. Mereka percaya bahwa itu adalah perintah dari Tuhan, bukan dari setan. Mencari "discernment" menurut saya sangat sulit. Seringkali saya menantikan mimpi yang datang dari Tuhan untuk menjawab bagaimana saya harus bersikap. Saya jadi teringat kisah hamba yang diberi talenta. Tuannya tidak mengatakan harus diapakan talenta itu. Mereka masing-masing mengambil keputusan dan usaha sendiri. Sesungguhnya Tuhan menginginkan saya juga ikut aktif dalam memilih, dan dengan aktif memilih keputusan itu berarti saya juga siap bertanggungjawab sepenuhnya terhadap pilihan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Retret Agung Umat "Mari Bertanggungjawab..." hari ini mengusung judul "Kedekatan dengan Tuhan membuat orang mampu menanggapi panggilan Tuhan." Ada dua pertanyaan reflektif yang diajukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebagai anak Allah apakah aku mempunyai kedekatan dengan Allah yang memampukan aku untuk terlibat dalam karya penyelamatan Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah aku menyediakan waktu dan kegiatan untuk semakin mendekatkan diri dengan Tuhan agar seperti Maria dan Yusuf mampu bertanggungjawab terhadap panggilan Tuhan hingga akhir hidup kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat kedekatan relasi dengan Tuhan akan membantu kita memperoleh pilihan yang tepat, yang sesuai dengan kehendakNya. Setia pada pilihan itu, dalam keadaan senang maupun susah, adalah bentuk tanggungjawab kita terhadap pilihan yang telah kita buat. Satu hal yang bisa saya rasakan dari pengalaman hidup saya, walaupun pilihan yang salah yang kita perbuat, selalu ada kesempatan dariNya untuk kembali kepadaNya. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, tetapi bila kita menjauh maka suaraNya akan sulit terdengar, damai sejahteraNya tidak mencapai kalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya beberapa minggu yang lalu saya mendengar perkataan pastur di kothbah yang berkata, terkadang orang mengatakan bahwa Tuhan itu diam...tapi apakah benar Tuhan itu diam? Bisa jadi Tuhan sudah bersabda, tapi kita yang tuli dan tidak mendengar sabdaNya. Bisa jadi malaikatNya sudah memperingatkan dalam mimpiku, tapi saya yang lalai tidak mengartikannya dengan benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santo Yusuf juga menjadi sosok yang sangat bertanggungjawab. Walaupun peranannya di dalam Kitab Suci kurang tercatat, tetapi dalam saat-saat terpenting dalam kehidupan Yesus, dia hadir. Dia hadir untuk memberikan identitas diri kepada Yesus, memenuhi janji Tuhan bahwa dari keturunan Daud akan lahir Sang Penebus. Ketika Herodes berniat mengambil nyawa Raja yang baru lahir itu, Yusuf hadir dan membawaNya mengungsi ke tempat yang aman. Dia yang bertanggungjawab menghidupi keluarga Kudus sampai akhirnya Yesus dari Nazaret dikenal juga sebagai anak tukang kayu. Dia hadir dengan diam dalam kehidupan Yesus, sama seperti sikap diamnya ketika Yesus yang baru berusia 12 tahun berkata; "Tidakkah kamu tahu Aku harus berada dalam rumah BapaKu?" Dia tidak mempertanyakan nilai dirinya sebagai bapa keluarga di mata Yesus, dia tidak menuntut balasan sikap hormat dan patuh karena telah membesarkan Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih atas berkat dan kasih sayangMu kepada kami,&lt;br /&gt;Bantu kami bertanggung jawab seperti Yusuf,&lt;br /&gt;Yang setia dan taat kepadaMu,&lt;br /&gt;Yang senantiasa mendahulukan perintahMu,&lt;br /&gt;dan senantiasa melayani demi namaMu,&lt;br /&gt;Agar damai sejahtera senantiasa datang dalam pilihan-pilihan yang kami ambil,&lt;br /&gt;Agar langkah kami senantiasa berada di dalam jalanMu,&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santo Yusuf, temanilah keluarga kami dalam perziarahan di bumi...&lt;br /&gt;Bimbinglah suamiku dalam menjadi bapa keluarga,&lt;br /&gt;Ajarilah kami mengenal kehendak Tuhan. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-8686970739700065027?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/8686970739700065027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/mencari-discernment.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8686970739700065027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/8686970739700065027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/mencari-discernment.html' title='Mencari &quot;Discernment&quot;'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-2136306201027627177</id><published>2009-03-16T14:57:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T15:36:03.849-07:00</updated><title type='text'>Mengampuni dengan segenap hati</title><content type='html'>Bacaan Injil hari ini diambil dari Matius 18:21-35, mengenai perumpamaan yang diberikan Yesus ketika Petrus bertanya sampai berapa kali ia harus mengampuni saudaranya. Perumpamaan yang diberikan adalah tentang seorang hamba yang hutangnya dihapuskan oleh tuannya karena belas kasihan tuannya, tetapi hamba itu sendiri lalu mencekik temannya yang berhutang kepadanya meminta pelunasan hutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus berkata kepada Petrus tentang mengampuni: "...Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Artinya tidak ada batasan untuk mengampuni sesama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan yang sudah begitu murah hati memaafkan kita, terkadang memang kita lupakan ketika berada di luar gedung gereja. Bahkan di dalam GerejaNya sendiripun terkadang kita melupakan perintahNya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpikirkan pada saat membaca bacaan hari ini adalah mereka yang bersalah di dalam masyarakat. Contoh yang paling dekat dengan Gereja adalah para mantan imam. Terkadang ada umat yang sangat marah, merasa telah ditipu dan dibohongi, telah menerima sakramen pengakuan dosa dari pendosa, dan akhirnya ia menjadi berbalik tidak percaya lagi kepada institusi Gereja. Saya pribadi menganggap semua itu adalah urusan pribadi mantan imam tersebut dengan Tuhan. Sakramen pengakuan dosa yang diberikannya sebagai imam, bukan berasal dari dirinya pribadi melainkan dari Tuhan. Tetapi terus terang terasa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kagok&lt;/span&gt; bila bertemu dan harus berhadapan entah sebagai sesama umat, ataupun hanya sebagai sesama manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama juga dengan orang-orang yang kita ketahui pernah berbuat kesalahan kepada orang banyak, misalnya menggelapkan uang orang. Kalau bertemu lagi, bagaimana saya harus bersikap? Pura-pura tidak tahu dan tidak ingat? Atau hanya pura-pura tidak tahu perbuatannya? Biasanya saya menghindari bertemu dengan orang-orang tersebut karena bingung bagaimana harus bersikap dan berbicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu berarti saya belum mengampuni dengan segenap hati? Terkadang orang tersebut malah tidak bersalah secara langsung kepada saya, jadi sebenarnya saya tidak punya perasaan marah atau benci kepadanya, tetapi stigma sosial yang dipegangnya membuat situasi untuk berhadapan dengannya menjadikan saya serba salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini saya bertanya kepada Tuhan, bagaimana dengan kejadian seperti itu? Jawaban yang kuperoleh adalah Mazmur 25: 1-22 "Doa mohon ampun dan perlindungan." Ya, sama seperti hamba yang dibebaskan hutang-hutangnya saya juga memiliki hutang kepadaNya. Dia telah menghapuskan hutang-hutangku dan saya tidak boleh bersikap seperti hamba yang masih tidak mampu membebaskan hutang temannya. Sebenarnya pesan dari perumpamaan tadi jelas, tetapi hati kecil saya masih memberikan argumentasi. Ada orang yang terkadang tidak tahu bahwa ia bersalah, tanpa mengingatkannya maka dia akan terus dalam kesalahannya. Ia merasa aman dan nyaman dalam kesalahannya karena orang-orang tetap memaafkan dan membiarkan dia berlalu dengan kesalahan-kesalahannya. Kitab Mazmur tadi mengingatkanku bahwa dengan mohon ampun dan perlindungan dariNya, serta dengan menyadari bahwa kita juga manusia yang rentan jatuh ke dalam dosa, kita bisa berharap bahwa Dia akan menunjukkan jalan dalam kebenaran dan mengajarkan kita tindakan yang tepat. Kurasa Dia akan menunjukkan sikap apa yang patut kuberikan kepada sesamaku pada saat saya membutuhkan panduanNya. Yang perlu kulakukan hanya berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan tidak meninggalkan sarana komunikasi denganNya yaitu FirmanNya dan berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beritahukanlah jalan-jalanMu kepadaku ya Tuhan,&lt;br /&gt;Tunjukkanlah itu kepadaku.&lt;br /&gt;Bawalah aku berjalan dalam kebenaranMu dan ajarlah aku,&lt;br /&gt;sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku,&lt;br /&gt;Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. (Mazmur 25:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih atas Roh Kudus yang Dikau berikan&lt;br /&gt;Yang menemaniku dalam kegelapan hati&lt;br /&gt;yang menentramkan gejolak amarah yang bisa menghanguskanku,&lt;br /&gt;yang membantuku untuk memaafkan diriku dan sesamaku,&lt;br /&gt;Tuhan yang Maha Pengampun,&lt;br /&gt;Bantu aku mengampuni dengan segenap hati,&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-2136306201027627177?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/2136306201027627177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/mengampuni-dengan-segenap-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2136306201027627177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/2136306201027627177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/mengampuni-dengan-segenap-hati.html' title='Mengampuni dengan segenap hati'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-816246032999449915</id><published>2009-03-13T15:37:00.000-07:00</published><updated>2009-03-13T16:25:26.734-07:00</updated><title type='text'>Melepaskan Iri Hati</title><content type='html'>Iri hati tidak pernah membawa kebaikan, tetapi sifat manusia kita juga sangat dekat dengan kecenderungan iri hati ini. Kitab Suci sudah memberikan banyak contoh mengenai keburukan yang datang dari sifat iri hati. Kain dan Habel, Esau dan Yakub, Yusuf dan kakak-kakaknya adalah kisah-kisah yang sangat populer dan teringat dari Kitab Perjanjian Lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Injil Lukas 15: 11-32 diceritakan mengenai kisah anak bungsu yang meminta bagian warisannya terlebih dahulu. Dia berfoya-foya dan jatuh miskin di negeri orang, lalu sadar dan kembali memohon ampun kepada Bapanya. Walaupun si bungsu tidak mengharapkan lebih dari pengampunan dan diterima bekerja di rumah Bapanya, ternyata sang Bapa memulihkan kembali statusnya sebagai anak. Hal ini membuat anak sulung merasa iri dan tidak mau masuk ke rumah. Ia bersungut-sungut kepada Bapanya. Ia merasa  semua jerih payahnya melayani Bapa dan menuruti perintah Bapanya belum pernah mendapatkan ganjaran sebuah pesta bagi dirinya dan sahabat-sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang sebagai manusia yang masih memandang segala sesuatunya seperti "mata ganti mata", kita mengharapkan Tuhan membalaskan sakit hati kita atas perbuatan orang lain dengan azab sengsara. Atau sebagai orang yang masih memiliki mental hamba yang membutuhkan upah, kita merasa Tuhan belum memberikan kita kebahagiaan yang patut untuk semua pelayanan yang kita berikan padaNya. Sifat yang kedua ini yang ada pada si anak sulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Bapanya kepadanya: "Anakku engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanKu adalah kepunyaanmu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah Kain dan Habel (Kejadian 4: 1-16) digambarkan Kain iri hati karena persembahan Habel diterima Tuhan, dan dia membunuh Habel adiknya. Bukannya memeriksa diri mengapa persembahannya tidak berkenan di hadapan Tuhan, ia justru membunuh adiknya. Tuhan memberikan hukumanNya, tetapi apakah Ia membiarkan Kain dibunuh? Dalam ayat 15 Tuhan berfirman: "Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Hukumannya walaupun berat tidak pernah untuk mencelakai manusia. Dan firmanNya itu sebenarnya juga kembali lagi kepada kita bila kita membunuh sesama kita. Membunuh sesama tidak selalu melalui pembunuhan fisik, ada juga pembunuhan karakter, ada juga pembunuhan kesempatan. Sumber dari semuanya adalah rasa iri hati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kembarku juga seringkali iri hati, sepertinya dari dalam perut mereka sudah berkelahi mencari tempat di dalam rahim yang sempit, lalu dilanjutkan lagi ketika keluar dalam upaya mencari perhatian mamanya. Terkadang saya juga lelah menghadapi mereka, dan tidak tahu bagaimana harus bersikap. Bahkan ketika memperoleh mainan yang sama persis masih bisa juga mereka bertengkar, entah karena masalah batere, atau masalah kecil lainnya. Lalu ditambah keirian si sulung. Dia yang semula memperoleh perhatian sepenuhnya harus berbagi dengan dua orang adik. Rasanya memang manusia sangat dekat dengan sifat iri hati. Belajar dari pengalaman saya menghadapi anak-anak, saya merasa lebih tahu betapa Tuhan juga berusaha untuk selalu adil...dalam caraNya sendiri. Tentu saja saya juga belajar dari kisah Esau dan Yakub, serta kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Sebagai orang tua saya perlu lebih bijaksana agar anak-anak saya tidak merasa iri, ataupun merasa dibedakan antara sulung, yang tengah, maupun bungsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Lukas 15: 1-3 dikisahkan betapa orang-orang Farisi  dan ahli-ahli Taurat iri karena Yesus berbuat baik kepada para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka merasa diri mereka yang suci tidak diajak makan bersama, malahan Yesus mengajak orang berdosa untuk makan. Sikap iri menjauhkan kita dari pertobatan, seperti Kain yang tidak merenungkan mengapa persembahannya tidak berkenan bagi Tuhan, atau seperti si anak sulung yang marah kepada bapanya. Kita juga cenderung marah dan menjauhkan diri dari Tuhan karena iri melihat nasib orang lain yang lebih baik, atau kemampuan dan talenta orang lain yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Allah Bapa yang Mahabaik,&lt;br /&gt;Terima kasih Engkau senantiasa mengingatkan kami,&lt;br /&gt;Agar menjauhkan diri dari sikap iri dan dengki,&lt;br /&gt;Dan memberikan pencerahan agar kami mau merenung dan bertobat,&lt;br /&gt;Bantulah kami memperoleh pertobatan yang tulus ya Bapa,&lt;br /&gt;dan kuatkan kami dalam melepaskan jubah iri hati yang seringkali membungkus kami,&lt;br /&gt;jadikanlah kami anakMu yang sadar akan betapa besar pintu maaf yang Kau miliki,&lt;br /&gt;sehingga kamipun mau meniru memaafkan sesama kami,&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-816246032999449915?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/816246032999449915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/melepaskan-iri-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/816246032999449915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/816246032999449915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/melepaskan-iri-hati.html' title='Melepaskan Iri Hati'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-5706443790259571625</id><published>2009-03-11T17:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T18:40:09.685-07:00</updated><title type='text'>Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia?</title><content type='html'>Judul di atas bukan kalimat yang lengkap. Kalimat selengkapnya dari Markus 8:36 adalah: "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan ini saya peroleh ketika memandu kelas Bina Iman Anak minggu lalu. Sebenarnya akhir pekan adalah waktu saya membawa anak-anak menginap di rumah opa-oma mereka. Waktu itu sekaligus menjadi kesempatan saya untuk berkeliling mencari pameran atau acara lain yang menarik hati. Tetapi hati kecil saya meminta saya mengorbankan keinginan dan kesenangan pribadi, apalagi karena kegiatan Bina Iman Remaja yang seharusnya saya pegang tidak bisa berjalan. Mengajak anak remaja mengisi minggu pagi dengan kegiatan yang mirip "sekolah" walaupun hanya sekolah minggu rupanya cukup sulit. Jadi permintaan bantuan dari pembina Bina Iman Anak saya sanggupi untuk melatih diri disiplin dalam memberikan pelayanan nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis buat saya sebuah kesenangan, dan tulisan untuk blog ini biasanya bukan semata berasal dari saya. Dari kegiatan meditasi kelompok maupun meditasi pribadi kata-kata biasanya mengalir sendiri. Rasanya saya hanya mengetikkan, yang membimbing pilihan kata dan topik adalah Roh Kudus. Walaupun merasa bahwa menuliskan blog ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab berbagi saya kepada Gereja, tetap saja ada desakan untuk memberikan karya lain yang lebih nyata terasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membagi waktu merupakan masalah tersulit bagi seorang ibu, apalagi ketika tidak ada kehadiran asisten rumah tangga. Pada saat itu upaya untuk menekan emosi dan menyeimbangkan diri sangat sulit rasanya. Menulis merupakan cara saya membebaskan diri dari stress rumah tangga, tetapi menulis juga membutuhkan konsentrasi dan waktu. Demikian pula waktu pelayanan. Waktu untuk koor, waktu untuk Bina Iman, waktu untuk kelompok meditasi, waktu untuk Rapat Pengurus Lingkungan, semuanya mengkonsumsi waktu yang seharusnya tersedia bagi rumah tangga dan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kebutuhan ekonomi meningkat seiring dengan kebutuhan biaya sekolah anak-anak, maka kebutuhan waktu untuk menghasilkan uang juga menjadi terasa penting. Maka jadilah akrobat mengatur waktu,emosi, dan konsentrasi untuk menjaga keseimbangan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu fokus pada pelayanan juga kurang baik. Saya pernah merasakan kekeringan itu. Ketika itu mungkin ayat di atas berbunyi: "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan dirinya?" Artinya orang-orang yang mengenal kita mengakui palayanan kita dan mengenal kita, tetapi dalam waktu yang bersamaan kita sendiri merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri, tidak memikirkan persiapan masa depan saya, dan hanya fokus pada kegiatan pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila terlalu ingin menyenangkan diri pribadi, apalagi dengan kacamata duniawi maka kita akan mengejar kekayaan materi dan ketersohoran secara duniawi tanpa memikirkan jiwa yang mungkin merana, kering, dan jauh dari kasihNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru membaca buku yang bercerita tentang orang tua sebagai petani. Petani tahu bahwa dia harus bekerja keras untuk bisa menghasilkan panen besar. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menanam, memupuk, dan memelihara tanamannya hingga panen. Tetapi semua pekerjaannya akan sia-sia bila Tuhan tidak membantunya dengan sinar matahari dan hujan. Tuhan menyediakan sinar matahari dan hujan yang akan membuat tanaman petani tadi bisa berbuah banyak dan menghasilkan panen yang besar. Kerja keras petani akan sia-sia bila Tuhan tidak melakukan bagianNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa sama seperti petani, semua kegiatan itu ada proporsinya, sama seperti tanaman membutuhkan komposisi tanah, air, pupuk, dan sinar matahari dalam takaran tertentu untuk bisa bertumbuh dengan subur. Nasehat bagus dari buku Norman Wright "Menjadi Orang tua yang Bijaksana" adalah: "Sebagai orang tua anda perlu memahami bahwa anda harus bekerja sama dengan Tuhan. Anda tidak dapat melakukannya sendiri dan mengharapkan hasil yang baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat itu rasanya tidak hanya berlaku untuk menjadi orang tua yang baik, tetapi juga untuk menjadi anakNya yang baik. Kita mencoba melakukan semua yang terbaik yang bisa kita persembahkan dengan ketulusan. Maka Ia akan menyirami dan memberikan sinarNya untuk menumbuhkan kita dalam diriNya. Dalam Dia, mungkin kita tidak akan memperoleh seluruh dunia. Mungkin kita tidak akan pernah dikenal dunia. Tetapi dalam Dia kehidupan kekal sudah tersedia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Terima kasih atas segala penyertaanMu,&lt;br /&gt;Bantu aku bersabar,&lt;br /&gt;Bantu aku mengerti,&lt;br /&gt;Bantu aku memberikan pelayanan yang proporsional &lt;br /&gt;tanpa pernah kehilangan diriku pribadi.&lt;br /&gt;Terima kasih Bapa,&lt;br /&gt;Dalam kasihMu aku bernaung.&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-5706443790259571625?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/5706443790259571625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/apa-gunanya-seseorang-memperoleh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5706443790259571625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/5706443790259571625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/apa-gunanya-seseorang-memperoleh.html' title='Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia?'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-7778035773959615599</id><published>2009-03-09T18:53:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T19:40:14.112-07:00</updated><title type='text'>Karena Mereka Mengajarkannya Tapi Tidak Melakukannya...</title><content type='html'>Bacaan dari Mat 23: 1-12 sebenarnya banyak berkisah tentang bagaimana menjadi pemimpin sejati. Walaupun suasana di Indonesia sedang hangat dengan pencarian calon pemimpin negara, bacaan hari ini lebih berbicara kepada saya dalam kapasitas saya sebagai seorang ibu rumah tangga. Karena itu sebagian dari isi ayat 3 menjadi pilihan judul posting kali ini, "...karena mereka mengajarkannya tapi tidak melakukannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pemimpin mungkin bisa disamakan dengan menjadi orang tua, menjadi guru (yang digu&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;gu&lt;/span&gt; dan diti&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ru&lt;/span&gt;). Dalam buku Retret Agung Umat yang dibagikan sebagai penuntun perjalanan rohani menantikan kebangkitan, dikatakan: "Mereka mengajarkan dan menuntut supaya orang berlaku adil, benar, jujur, disiplin, kerja keras, hidup hemat, sederhana, tetapi mereka sendiri berbuat tidak adil, korupsi, berbohong, malas, boros, konsumtif. Mereka berceramah dan berkothbah supaya orang peduli, solider, toleran, menghargai, menghormati, mengasihi, melayani tanpa pamrih dan pilih kasih kepada siapapun, tetapi mereka bersikap dan berperilaku egois, acuh tak acuh, masa bodoh, mementingkan diri/kelompok sendiri, membenci, memusuhi, suka menghakimi, selalu minta imbalan, menuntut balas jasa,dsb." Rasanya semua kriteria ini perlu kucamkan lagi agar bisa benar-benar memberikan teladan yang baik bagi anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak itu seperti spons yang menyerap berbagai hal tanpa saringan. Karena itu benar juga bahwa orang tua harus lebih mengenali dirinya terlebih dahulu sebelum bisa mengenali dan membentuk komunikasi yang baik dengan anaknya. Saya sedang membaca buku H. Norman Wright "Menjadi Orangtua yang Bijaksana"...sepertinya sebuah buku bagus untuk mengarahkan saya menciptakan komunikasi yang lebih baik di dalam rumah. Yang paling berat buat saya pribadi adalah mengetahui segala macam teori pendidikan itu, tapi tidak mampu memindahkannya ke anak-anak karena saya hanya mampu mengajarkan dan bukan melakukannya. Karena itulah saya selalu membutuhkan bantuanNya untuk ikut menyentil saya tatkala sedang ngantuk dan melenceng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya memiliki kriteria sebagai pemimpin? Memiliki anak yang berintegritas, memiliki kredibilitas, kapabilitas, dan akseptabilitas tentunya menjadi impian orang tua. Menjadikan mereka pribadi yang utuh, dipercaya orang, mampu bekerja, dan diterima orang banyak, merupakan tugas sebagai orang tua, dan tanggung jawab yang berat untuk dipikul. Apalagi bila orang tuanya (kedua maupun salah satunya) sendiri belum tuntas dengan pendewasaan dirinya pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajarkan anak untuk berserah sepenuhnya kepada Tuhan, hanya bergantung kepada Tuhan saja merupakan hal yang sulit bila orang tua sendiri masih terikat pada ketakutan-ketakutan pribadi akan masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur memiliki komunitas teman-teman yang senantiasa menguatkan,senantiasa berbagi dan menolong saya dalam usaha memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan di dunia maya juga membuat saya harus belajar berbagi waktu, belajar menekan kemungkinan narsistik dari kegiatan daring yang memuaskan diri pribadi dan melalaikan tanggung jawab sebagai ibu. Tetapi, kehidupan di dunia maya ini juga membuat saya tersadarkan betapa banyak permasalahan yang universal, dan betapa masih banyak orang yang mencari dan ingin mengusahakan kedamaian di dalam Tuhan. Keberimbangan hidup, dan pencarian kedamaian dalam pengambilan setiap keputusan sebelum melangkah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;discernment&lt;/span&gt;) adalah hal yang masih kucari dan kupinta dalam doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;betapa sering aku melalaikan tugasku untuk memberi teladan&lt;br /&gt;melupakan arti melayani ketika kelelahan mendera&lt;br /&gt;tetapi Engkau tidak meninggalkanku sendiri&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan,&lt;br /&gt;bantulah aku menjadi lebih arif dan sabar&lt;br /&gt;jadikanlah aku anakMu&lt;br /&gt;yang hanya mengejar yang baik dan benar &lt;br /&gt;yang mampu bertindak adil dan jujur&lt;br /&gt;yang lebih memilih melayani daripada dilayani&lt;br /&gt;dan siap mencintai seperti cintaMu yang tidak berbatas,&lt;br /&gt;Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-7778035773959615599?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/7778035773959615599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/karena-mereka-mengajarkannya-tapi-tidak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7778035773959615599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/7778035773959615599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/karena-mereka-mengajarkannya-tapi-tidak.html' title='Karena Mereka Mengajarkannya Tapi Tidak Melakukannya...'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-9008764744793269714</id><published>2009-03-08T15:20:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T15:31:02.224-07:00</updated><title type='text'>A Letter from Jesus</title><content type='html'>If you never felt pain, then how would you know that I am a Healer?&lt;br /&gt;If you never had to pray, how would you know that I am a Deliverer?&lt;br /&gt;If you never had a trial, how could you call yourself an overcomer?&lt;br /&gt;If you never felt sadness, how would you know that I am a Comforter?&lt;br /&gt;If you never made a mistake, how would you know that I am a forgiver?&lt;br /&gt;If you knew all, how would you know that I will answer your questions?&lt;br /&gt;If you never were in trouble, how would you know that I will come to your rescue&lt;br /&gt;If you never were broken, how would you know that I can make you whole?&lt;br /&gt;If you never had a problem, how would you know that I can solve them?&lt;br /&gt;If you never had any suffering, how would you know what I went through?&lt;br /&gt;If you never went through the fire, how would you become pure?&lt;br /&gt;If I gave you all things, how would you appreciate them?&lt;br /&gt;If I never corrected you, how would you know that I love you?&lt;br /&gt;If you had all power, how would you learn to depend on me?&lt;br /&gt;If your life was perfect, then what would you need me for?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love,&lt;br /&gt;Jesus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat ini datang ke e-mail saya melalui Jm Kummala, beserta gambar-gambar sebenarnya...tapi tanpa gambar juga menarik untuk dibaca. Sumber aslinya tidak jelas karena itu saya biarkan tanpa gambar saja. Yesusnya berbahasa Inggris walaupun Ia bukan orang Inggris hehehe...yakin dengan bahasa Roh bisa dimengerti orang banyak. Shaloom...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32634405-9008764744793269714?l=journey-to-his-words.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/feeds/9008764744793269714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/letter-from-jesus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/9008764744793269714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32634405/posts/default/9008764744793269714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/03/letter-from-jesus.html' title='A Letter from Jesus'/><author><name>Retty N. Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12624283610664878616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32634405.post-9116472014274612058</id><published>2009-03-08T13:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T14:57:16.516-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Matius'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Titus'/><title type='text'>Adil dan Bertanggung Jawab</title><content type='html'>Menjelang Minggu II masa Prapaskah kemarin ada beberapa bacaan yang sangat menyentuh hati saya. Yang pertama adalah Matius 5:43-48. Dalam kothbah di bukit, Yesus menyatakan dengan gamblang, "Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Sebab Ia membuat matahariNya terbit bagi orang yang jahat  dan bagi orang yang baik pula, hujanpun diturunkanNya bagi orang yang benar dan juga orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna adanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan yang panjang...seluruhnya memiliki nilai yang sangat berarti. Yang amat menyentuh saya ketika mendengar kutipan ini adalah kebenaran tentang matahari dan hujan. Manusia hidup mengandalkan matahari dan hujan, dan kehidupan itu diberikan kepada semua orang tanpa memandang baik atau buruknya ia menjalankan sabda Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengasihi tanpa batasan, senantiasa berbuat adil bahkan mendoakan orang lain yang berlaku tidak adil pada kita merupakan sebuah beban yang terasa berat dan melelahkan. Pastur di gereja mengutip lagu "Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa...hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang sebagai ibu rasanya kasih saya tidak lagi seperti sang surya. Saya berharap dengan mengasihi anak-anak saya, mereka juga menunjukkan perilaku yang manis dan baik. Ketika mereka nakal dan mungkin berlaku agak kurang ajar, saya menjadi marah, atau paling tidak merasa sedih dan lelah. Saya merasa telah mencurahkan semua unsur kehidupan yang saya miliki bagi mereka, dan mereka tidak mengapresiasinya. Ternyata saya juga berharap memperoleh cinta dari mereka, memperoleh perhatian dari mereka, memperoleh penghormatan dari mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak pernah lelah memberikan kasihNya kepada saya. Bahkan ketika saya tidak mengingat kesalahan saya sendiri, dan berdoa untuk meminta pembalasan bagi orang-orang yang berlaku tidak adil kepada saya, Ia tidak lelah mendidik saya untuk menjadi anakNya...menjadi sempurna seperti diriNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matius 5: 23-24 mengatakan, "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." Walaupun Allah menginginkan kita untuk senantiasa menjadikanNya prioritas pertama dalam kehidupan kita, ternyata ada hal penting lain yang perlu kita ingat sebelum menghantarkan diri kepadaNya...memaafkan sesama, ataupun minta maaf kepada sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang pelayanan yang kita lakukan di lingkungan gereja maupun masyarakat juga karena berharap imbalan dari Tuhan Allah. Dan sementara pelayanan berjalan, rasa kesal dan kemarahan terhadap orang-orang yang tidak membantu juga membukit. Itulah sumber dari keringnya kehidupan rohani kita. Saya merasakannya ketika masih mahasiswa dahulu, mendahulukan pelayanan tetapi sering merasa kesal karena hanya orang-orang yang itu-itu saja yang bekerja. Dan rasanya hati saya menjadi gersang, kedamaian tidak terasa disana. Seorang pastur yang saya mintai nasehat menyuruh saya supaya tidak fokus kepada kegiatan organisasi tetapi lebih fokus kepada pelayanan itu sendiri. Nasehat ini masih terus saya ingat sampai sekarang, karena pelayanan dalam organisasi menginginkan hasil akhir, target proyek, imbalan yang memuaskan...tetapi "pelayanan dalam Tuhan" tidak selalu bisa dilihat hasilnya. Ada yang jatuh di tanah yang subur, ada yang jatuh di tanah berbatu, adapula yang jatuh di dalam semak berduri. Satu hasil yang dijanjikanNya adalah kedamaian hati dan kehidupan kekal bersamaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Titus 2: 1-10 mengenai kewajiban orang tua, pemuda, dan hamba sekali lagi mengetuk hati saya untuk bangun. Nasehat kepada perempuan begitu panjang dibandingkan kepada kaum lelaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kepada lelaki hanya dipesankan untuk hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih, dan dalam ketekunan, maka kepada kaum perempuan diberikan nasehat yang jauh lebih panjang. "Hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang." Belum lagi nasehat kepada orang muda dimulai dengan kata-kata:"...nasehatilah mereka..." Berada persis di bawah nasehat kepada kaum perempuan (dewasa) membuatnya seakan menyatu dengan tugas mengajarkan dan mendidik yang secara khusus disebutkan di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki terkadang memang terasa bagai makhluk dari Mars yang tidak sebahasa dengan perempuan yang berbahasa planet Venus. Ketika makhluk Mars 
