Monday, March 16, 2009

Mengampuni dengan segenap hati

Bacaan Injil hari ini diambil dari Matius 18:21-35, mengenai perumpamaan yang diberikan Yesus ketika Petrus bertanya sampai berapa kali ia harus mengampuni saudaranya. Perumpamaan yang diberikan adalah tentang seorang hamba yang hutangnya dihapuskan oleh tuannya karena belas kasihan tuannya, tetapi hamba itu sendiri lalu mencekik temannya yang berhutang kepadanya meminta pelunasan hutang.

Yesus berkata kepada Petrus tentang mengampuni: "...Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Artinya tidak ada batasan untuk mengampuni sesama kita.

Tuhan yang sudah begitu murah hati memaafkan kita, terkadang memang kita lupakan ketika berada di luar gedung gereja. Bahkan di dalam GerejaNya sendiripun terkadang kita melupakan perintahNya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali ini.

Yang terpikirkan pada saat membaca bacaan hari ini adalah mereka yang bersalah di dalam masyarakat. Contoh yang paling dekat dengan Gereja adalah para mantan imam. Terkadang ada umat yang sangat marah, merasa telah ditipu dan dibohongi, telah menerima sakramen pengakuan dosa dari pendosa, dan akhirnya ia menjadi berbalik tidak percaya lagi kepada institusi Gereja. Saya pribadi menganggap semua itu adalah urusan pribadi mantan imam tersebut dengan Tuhan. Sakramen pengakuan dosa yang diberikannya sebagai imam, bukan berasal dari dirinya pribadi melainkan dari Tuhan. Tetapi terus terang terasa kagok bila bertemu dan harus berhadapan entah sebagai sesama umat, ataupun hanya sebagai sesama manusia.

Sama juga dengan orang-orang yang kita ketahui pernah berbuat kesalahan kepada orang banyak, misalnya menggelapkan uang orang. Kalau bertemu lagi, bagaimana saya harus bersikap? Pura-pura tidak tahu dan tidak ingat? Atau hanya pura-pura tidak tahu perbuatannya? Biasanya saya menghindari bertemu dengan orang-orang tersebut karena bingung bagaimana harus bersikap dan berbicara.

Apakah itu berarti saya belum mengampuni dengan segenap hati? Terkadang orang tersebut malah tidak bersalah secara langsung kepada saya, jadi sebenarnya saya tidak punya perasaan marah atau benci kepadanya, tetapi stigma sosial yang dipegangnya membuat situasi untuk berhadapan dengannya menjadikan saya serba salah.

Pagi ini saya bertanya kepada Tuhan, bagaimana dengan kejadian seperti itu? Jawaban yang kuperoleh adalah Mazmur 25: 1-22 "Doa mohon ampun dan perlindungan." Ya, sama seperti hamba yang dibebaskan hutang-hutangnya saya juga memiliki hutang kepadaNya. Dia telah menghapuskan hutang-hutangku dan saya tidak boleh bersikap seperti hamba yang masih tidak mampu membebaskan hutang temannya. Sebenarnya pesan dari perumpamaan tadi jelas, tetapi hati kecil saya masih memberikan argumentasi. Ada orang yang terkadang tidak tahu bahwa ia bersalah, tanpa mengingatkannya maka dia akan terus dalam kesalahannya. Ia merasa aman dan nyaman dalam kesalahannya karena orang-orang tetap memaafkan dan membiarkan dia berlalu dengan kesalahan-kesalahannya. Kitab Mazmur tadi mengingatkanku bahwa dengan mohon ampun dan perlindungan dariNya, serta dengan menyadari bahwa kita juga manusia yang rentan jatuh ke dalam dosa, kita bisa berharap bahwa Dia akan menunjukkan jalan dalam kebenaran dan mengajarkan kita tindakan yang tepat. Kurasa Dia akan menunjukkan sikap apa yang patut kuberikan kepada sesamaku pada saat saya membutuhkan panduanNya. Yang perlu kulakukan hanya berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan tidak meninggalkan sarana komunikasi denganNya yaitu FirmanNya dan berdoa.

Beritahukanlah jalan-jalanMu kepadaku ya Tuhan,
Tunjukkanlah itu kepadaku.
Bawalah aku berjalan dalam kebenaranMu dan ajarlah aku,
sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku,
Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. (Mazmur 25:5)

Tuhan,
Terima kasih atas Roh Kudus yang Dikau berikan
Yang menemaniku dalam kegelapan hati
yang menentramkan gejolak amarah yang bisa menghanguskanku,
yang membantuku untuk memaafkan diriku dan sesamaku,
Tuhan yang Maha Pengampun,
Bantu aku mengampuni dengan segenap hati,
Amin.

Friday, March 13, 2009

Melepaskan Iri Hati

Iri hati tidak pernah membawa kebaikan, tetapi sifat manusia kita juga sangat dekat dengan kecenderungan iri hati ini. Kitab Suci sudah memberikan banyak contoh mengenai keburukan yang datang dari sifat iri hati. Kain dan Habel, Esau dan Yakub, Yusuf dan kakak-kakaknya adalah kisah-kisah yang sangat populer dan teringat dari Kitab Perjanjian Lama.

Dalam Injil Lukas 15: 11-32 diceritakan mengenai kisah anak bungsu yang meminta bagian warisannya terlebih dahulu. Dia berfoya-foya dan jatuh miskin di negeri orang, lalu sadar dan kembali memohon ampun kepada Bapanya. Walaupun si bungsu tidak mengharapkan lebih dari pengampunan dan diterima bekerja di rumah Bapanya, ternyata sang Bapa memulihkan kembali statusnya sebagai anak. Hal ini membuat anak sulung merasa iri dan tidak mau masuk ke rumah. Ia bersungut-sungut kepada Bapanya. Ia merasa semua jerih payahnya melayani Bapa dan menuruti perintah Bapanya belum pernah mendapatkan ganjaran sebuah pesta bagi dirinya dan sahabat-sahabatnya.

Terkadang sebagai manusia yang masih memandang segala sesuatunya seperti "mata ganti mata", kita mengharapkan Tuhan membalaskan sakit hati kita atas perbuatan orang lain dengan azab sengsara. Atau sebagai orang yang masih memiliki mental hamba yang membutuhkan upah, kita merasa Tuhan belum memberikan kita kebahagiaan yang patut untuk semua pelayanan yang kita berikan padaNya. Sifat yang kedua ini yang ada pada si anak sulung.

Kata Bapanya kepadanya: "Anakku engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanKu adalah kepunyaanmu."

Dalam kisah Kain dan Habel (Kejadian 4: 1-16) digambarkan Kain iri hati karena persembahan Habel diterima Tuhan, dan dia membunuh Habel adiknya. Bukannya memeriksa diri mengapa persembahannya tidak berkenan di hadapan Tuhan, ia justru membunuh adiknya. Tuhan memberikan hukumanNya, tetapi apakah Ia membiarkan Kain dibunuh? Dalam ayat 15 Tuhan berfirman: "Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Hukumannya walaupun berat tidak pernah untuk mencelakai manusia. Dan firmanNya itu sebenarnya juga kembali lagi kepada kita bila kita membunuh sesama kita. Membunuh sesama tidak selalu melalui pembunuhan fisik, ada juga pembunuhan karakter, ada juga pembunuhan kesempatan. Sumber dari semuanya adalah rasa iri hati...

Anak kembarku juga seringkali iri hati, sepertinya dari dalam perut mereka sudah berkelahi mencari tempat di dalam rahim yang sempit, lalu dilanjutkan lagi ketika keluar dalam upaya mencari perhatian mamanya. Terkadang saya juga lelah menghadapi mereka, dan tidak tahu bagaimana harus bersikap. Bahkan ketika memperoleh mainan yang sama persis masih bisa juga mereka bertengkar, entah karena masalah batere, atau masalah kecil lainnya. Lalu ditambah keirian si sulung. Dia yang semula memperoleh perhatian sepenuhnya harus berbagi dengan dua orang adik. Rasanya memang manusia sangat dekat dengan sifat iri hati. Belajar dari pengalaman saya menghadapi anak-anak, saya merasa lebih tahu betapa Tuhan juga berusaha untuk selalu adil...dalam caraNya sendiri. Tentu saja saya juga belajar dari kisah Esau dan Yakub, serta kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Sebagai orang tua saya perlu lebih bijaksana agar anak-anak saya tidak merasa iri, ataupun merasa dibedakan antara sulung, yang tengah, maupun bungsu.

Dalam Lukas 15: 1-3 dikisahkan betapa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat iri karena Yesus berbuat baik kepada para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka merasa diri mereka yang suci tidak diajak makan bersama, malahan Yesus mengajak orang berdosa untuk makan. Sikap iri menjauhkan kita dari pertobatan, seperti Kain yang tidak merenungkan mengapa persembahannya tidak berkenan bagi Tuhan, atau seperti si anak sulung yang marah kepada bapanya. Kita juga cenderung marah dan menjauhkan diri dari Tuhan karena iri melihat nasib orang lain yang lebih baik, atau kemampuan dan talenta orang lain yang lebih besar.

Tuhan Allah Bapa yang Mahabaik,
Terima kasih Engkau senantiasa mengingatkan kami,
Agar menjauhkan diri dari sikap iri dan dengki,
Dan memberikan pencerahan agar kami mau merenung dan bertobat,
Bantulah kami memperoleh pertobatan yang tulus ya Bapa,
dan kuatkan kami dalam melepaskan jubah iri hati yang seringkali membungkus kami,
jadikanlah kami anakMu yang sadar akan betapa besar pintu maaf yang Kau miliki,
sehingga kamipun mau meniru memaafkan sesama kami,
Amin.

Wednesday, March 11, 2009

Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia?

Judul di atas bukan kalimat yang lengkap. Kalimat selengkapnya dari Markus 8:36 adalah: "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?"

Bacaan ini saya peroleh ketika memandu kelas Bina Iman Anak minggu lalu. Sebenarnya akhir pekan adalah waktu saya membawa anak-anak menginap di rumah opa-oma mereka. Waktu itu sekaligus menjadi kesempatan saya untuk berkeliling mencari pameran atau acara lain yang menarik hati. Tetapi hati kecil saya meminta saya mengorbankan keinginan dan kesenangan pribadi, apalagi karena kegiatan Bina Iman Remaja yang seharusnya saya pegang tidak bisa berjalan. Mengajak anak remaja mengisi minggu pagi dengan kegiatan yang mirip "sekolah" walaupun hanya sekolah minggu rupanya cukup sulit. Jadi permintaan bantuan dari pembina Bina Iman Anak saya sanggupi untuk melatih diri disiplin dalam memberikan pelayanan nyata.

Menulis buat saya sebuah kesenangan, dan tulisan untuk blog ini biasanya bukan semata berasal dari saya. Dari kegiatan meditasi kelompok maupun meditasi pribadi kata-kata biasanya mengalir sendiri. Rasanya saya hanya mengetikkan, yang membimbing pilihan kata dan topik adalah Roh Kudus. Walaupun merasa bahwa menuliskan blog ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab berbagi saya kepada Gereja, tetap saja ada desakan untuk memberikan karya lain yang lebih nyata terasakan.

Membagi waktu merupakan masalah tersulit bagi seorang ibu, apalagi ketika tidak ada kehadiran asisten rumah tangga. Pada saat itu upaya untuk menekan emosi dan menyeimbangkan diri sangat sulit rasanya. Menulis merupakan cara saya membebaskan diri dari stress rumah tangga, tetapi menulis juga membutuhkan konsentrasi dan waktu. Demikian pula waktu pelayanan. Waktu untuk koor, waktu untuk Bina Iman, waktu untuk kelompok meditasi, waktu untuk Rapat Pengurus Lingkungan, semuanya mengkonsumsi waktu yang seharusnya tersedia bagi rumah tangga dan diri sendiri.

Ketika kebutuhan ekonomi meningkat seiring dengan kebutuhan biaya sekolah anak-anak, maka kebutuhan waktu untuk menghasilkan uang juga menjadi terasa penting. Maka jadilah akrobat mengatur waktu,emosi, dan konsentrasi untuk menjaga keseimbangan itu.

Terlalu fokus pada pelayanan juga kurang baik. Saya pernah merasakan kekeringan itu. Ketika itu mungkin ayat di atas berbunyi: "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan dirinya?" Artinya orang-orang yang mengenal kita mengakui palayanan kita dan mengenal kita, tetapi dalam waktu yang bersamaan kita sendiri merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri, tidak memikirkan persiapan masa depan saya, dan hanya fokus pada kegiatan pelayanan.

Bila terlalu ingin menyenangkan diri pribadi, apalagi dengan kacamata duniawi maka kita akan mengejar kekayaan materi dan ketersohoran secara duniawi tanpa memikirkan jiwa yang mungkin merana, kering, dan jauh dari kasihNya.

Saya baru membaca buku yang bercerita tentang orang tua sebagai petani. Petani tahu bahwa dia harus bekerja keras untuk bisa menghasilkan panen besar. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menanam, memupuk, dan memelihara tanamannya hingga panen. Tetapi semua pekerjaannya akan sia-sia bila Tuhan tidak membantunya dengan sinar matahari dan hujan. Tuhan menyediakan sinar matahari dan hujan yang akan membuat tanaman petani tadi bisa berbuah banyak dan menghasilkan panen yang besar. Kerja keras petani akan sia-sia bila Tuhan tidak melakukan bagianNya.

Saya rasa sama seperti petani, semua kegiatan itu ada proporsinya, sama seperti tanaman membutuhkan komposisi tanah, air, pupuk, dan sinar matahari dalam takaran tertentu untuk bisa bertumbuh dengan subur. Nasehat bagus dari buku Norman Wright "Menjadi Orang tua yang Bijaksana" adalah: "Sebagai orang tua anda perlu memahami bahwa anda harus bekerja sama dengan Tuhan. Anda tidak dapat melakukannya sendiri dan mengharapkan hasil yang baik."

Nasehat itu rasanya tidak hanya berlaku untuk menjadi orang tua yang baik, tetapi juga untuk menjadi anakNya yang baik. Kita mencoba melakukan semua yang terbaik yang bisa kita persembahkan dengan ketulusan. Maka Ia akan menyirami dan memberikan sinarNya untuk menumbuhkan kita dalam diriNya. Dalam Dia, mungkin kita tidak akan memperoleh seluruh dunia. Mungkin kita tidak akan pernah dikenal dunia. Tetapi dalam Dia kehidupan kekal sudah tersedia...

Tuhan,
Terima kasih atas segala penyertaanMu,
Bantu aku bersabar,
Bantu aku mengerti,
Bantu aku memberikan pelayanan yang proporsional
tanpa pernah kehilangan diriku pribadi.
Terima kasih Bapa,
Dalam kasihMu aku bernaung.
Amin.

Monday, March 09, 2009

Karena Mereka Mengajarkannya Tapi Tidak Melakukannya...

Bacaan dari Mat 23: 1-12 sebenarnya banyak berkisah tentang bagaimana menjadi pemimpin sejati. Walaupun suasana di Indonesia sedang hangat dengan pencarian calon pemimpin negara, bacaan hari ini lebih berbicara kepada saya dalam kapasitas saya sebagai seorang ibu rumah tangga. Karena itu sebagian dari isi ayat 3 menjadi pilihan judul posting kali ini, "...karena mereka mengajarkannya tapi tidak melakukannya."

Menjadi pemimpin mungkin bisa disamakan dengan menjadi orang tua, menjadi guru (yang digugu dan ditiru). Dalam buku Retret Agung Umat yang dibagikan sebagai penuntun perjalanan rohani menantikan kebangkitan, dikatakan: "Mereka mengajarkan dan menuntut supaya orang berlaku adil, benar, jujur, disiplin, kerja keras, hidup hemat, sederhana, tetapi mereka sendiri berbuat tidak adil, korupsi, berbohong, malas, boros, konsumtif. Mereka berceramah dan berkothbah supaya orang peduli, solider, toleran, menghargai, menghormati, mengasihi, melayani tanpa pamrih dan pilih kasih kepada siapapun, tetapi mereka bersikap dan berperilaku egois, acuh tak acuh, masa bodoh, mementingkan diri/kelompok sendiri, membenci, memusuhi, suka menghakimi, selalu minta imbalan, menuntut balas jasa,dsb." Rasanya semua kriteria ini perlu kucamkan lagi agar bisa benar-benar memberikan teladan yang baik bagi anak-anakku.

Anak-anak itu seperti spons yang menyerap berbagai hal tanpa saringan. Karena itu benar juga bahwa orang tua harus lebih mengenali dirinya terlebih dahulu sebelum bisa mengenali dan membentuk komunikasi yang baik dengan anaknya. Saya sedang membaca buku H. Norman Wright "Menjadi Orangtua yang Bijaksana"...sepertinya sebuah buku bagus untuk mengarahkan saya menciptakan komunikasi yang lebih baik di dalam rumah. Yang paling berat buat saya pribadi adalah mengetahui segala macam teori pendidikan itu, tapi tidak mampu memindahkannya ke anak-anak karena saya hanya mampu mengajarkan dan bukan melakukannya. Karena itulah saya selalu membutuhkan bantuanNya untuk ikut menyentil saya tatkala sedang ngantuk dan melenceng.

Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya memiliki kriteria sebagai pemimpin? Memiliki anak yang berintegritas, memiliki kredibilitas, kapabilitas, dan akseptabilitas tentunya menjadi impian orang tua. Menjadikan mereka pribadi yang utuh, dipercaya orang, mampu bekerja, dan diterima orang banyak, merupakan tugas sebagai orang tua, dan tanggung jawab yang berat untuk dipikul. Apalagi bila orang tuanya (kedua maupun salah satunya) sendiri belum tuntas dengan pendewasaan dirinya pribadi.

Mengajarkan anak untuk berserah sepenuhnya kepada Tuhan, hanya bergantung kepada Tuhan saja merupakan hal yang sulit bila orang tua sendiri masih terikat pada ketakutan-ketakutan pribadi akan masa depan.

Saya bersyukur memiliki komunitas teman-teman yang senantiasa menguatkan,senantiasa berbagi dan menolong saya dalam usaha memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Kehidupan di dunia maya juga membuat saya harus belajar berbagi waktu, belajar menekan kemungkinan narsistik dari kegiatan daring yang memuaskan diri pribadi dan melalaikan tanggung jawab sebagai ibu. Tetapi, kehidupan di dunia maya ini juga membuat saya tersadarkan betapa banyak permasalahan yang universal, dan betapa masih banyak orang yang mencari dan ingin mengusahakan kedamaian di dalam Tuhan. Keberimbangan hidup, dan pencarian kedamaian dalam pengambilan setiap keputusan sebelum melangkah (discernment) adalah hal yang masih kucari dan kupinta dalam doa.

Tuhan,
betapa sering aku melalaikan tugasku untuk memberi teladan
melupakan arti melayani ketika kelelahan mendera
tetapi Engkau tidak meninggalkanku sendiri
Terima kasih Tuhan,
bantulah aku menjadi lebih arif dan sabar
jadikanlah aku anakMu
yang hanya mengejar yang baik dan benar
yang mampu bertindak adil dan jujur
yang lebih memilih melayani daripada dilayani
dan siap mencintai seperti cintaMu yang tidak berbatas,
Amin

Sunday, March 08, 2009

A Letter from Jesus

If you never felt pain, then how would you know that I am a Healer?
If you never had to pray, how would you know that I am a Deliverer?
If you never had a trial, how could you call yourself an overcomer?
If you never felt sadness, how would you know that I am a Comforter?
If you never made a mistake, how would you know that I am a forgiver?
If you knew all, how would you know that I will answer your questions?
If you never were in trouble, how would you know that I will come to your rescue
If you never were broken, how would you know that I can make you whole?
If you never had a problem, how would you know that I can solve them?
If you never had any suffering, how would you know what I went through?
If you never went through the fire, how would you become pure?
If I gave you all things, how would you appreciate them?
If I never corrected you, how would you know that I love you?
If you had all power, how would you learn to depend on me?
If your life was perfect, then what would you need me for?

Love,
Jesus

Surat ini datang ke e-mail saya melalui Jm Kummala, beserta gambar-gambar sebenarnya...tapi tanpa gambar juga menarik untuk dibaca. Sumber aslinya tidak jelas karena itu saya biarkan tanpa gambar saja. Yesusnya berbahasa Inggris walaupun Ia bukan orang Inggris hehehe...yakin dengan bahasa Roh bisa dimengerti orang banyak. Shaloom...

Adil dan Bertanggung Jawab

Menjelang Minggu II masa Prapaskah kemarin ada beberapa bacaan yang sangat menyentuh hati saya. Yang pertama adalah Matius 5:43-48. Dalam kothbah di bukit, Yesus menyatakan dengan gamblang, "Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Sebab Ia membuat matahariNya terbit bagi orang yang jahat dan bagi orang yang baik pula, hujanpun diturunkanNya bagi orang yang benar dan juga orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna adanya."

Kutipan yang panjang...seluruhnya memiliki nilai yang sangat berarti. Yang amat menyentuh saya ketika mendengar kutipan ini adalah kebenaran tentang matahari dan hujan. Manusia hidup mengandalkan matahari dan hujan, dan kehidupan itu diberikan kepada semua orang tanpa memandang baik atau buruknya ia menjalankan sabda Allah.

Mengasihi tanpa batasan, senantiasa berbuat adil bahkan mendoakan orang lain yang berlaku tidak adil pada kita merupakan sebuah beban yang terasa berat dan melelahkan. Pastur di gereja mengutip lagu "Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa...hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia..."

Terkadang sebagai ibu rasanya kasih saya tidak lagi seperti sang surya. Saya berharap dengan mengasihi anak-anak saya, mereka juga menunjukkan perilaku yang manis dan baik. Ketika mereka nakal dan mungkin berlaku agak kurang ajar, saya menjadi marah, atau paling tidak merasa sedih dan lelah. Saya merasa telah mencurahkan semua unsur kehidupan yang saya miliki bagi mereka, dan mereka tidak mengapresiasinya. Ternyata saya juga berharap memperoleh cinta dari mereka, memperoleh perhatian dari mereka, memperoleh penghormatan dari mereka...

Allah tidak pernah lelah memberikan kasihNya kepada saya. Bahkan ketika saya tidak mengingat kesalahan saya sendiri, dan berdoa untuk meminta pembalasan bagi orang-orang yang berlaku tidak adil kepada saya, Ia tidak lelah mendidik saya untuk menjadi anakNya...menjadi sempurna seperti diriNya.

Matius 5: 23-24 mengatakan, "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." Walaupun Allah menginginkan kita untuk senantiasa menjadikanNya prioritas pertama dalam kehidupan kita, ternyata ada hal penting lain yang perlu kita ingat sebelum menghantarkan diri kepadaNya...memaafkan sesama, ataupun minta maaf kepada sesama.

Terkadang pelayanan yang kita lakukan di lingkungan gereja maupun masyarakat juga karena berharap imbalan dari Tuhan Allah. Dan sementara pelayanan berjalan, rasa kesal dan kemarahan terhadap orang-orang yang tidak membantu juga membukit. Itulah sumber dari keringnya kehidupan rohani kita. Saya merasakannya ketika masih mahasiswa dahulu, mendahulukan pelayanan tetapi sering merasa kesal karena hanya orang-orang yang itu-itu saja yang bekerja. Dan rasanya hati saya menjadi gersang, kedamaian tidak terasa disana. Seorang pastur yang saya mintai nasehat menyuruh saya supaya tidak fokus kepada kegiatan organisasi tetapi lebih fokus kepada pelayanan itu sendiri. Nasehat ini masih terus saya ingat sampai sekarang, karena pelayanan dalam organisasi menginginkan hasil akhir, target proyek, imbalan yang memuaskan...tetapi "pelayanan dalam Tuhan" tidak selalu bisa dilihat hasilnya. Ada yang jatuh di tanah yang subur, ada yang jatuh di tanah berbatu, adapula yang jatuh di dalam semak berduri. Satu hasil yang dijanjikanNya adalah kedamaian hati dan kehidupan kekal bersamaNya.

Membaca Titus 2: 1-10 mengenai kewajiban orang tua, pemuda, dan hamba sekali lagi mengetuk hati saya untuk bangun. Nasehat kepada perempuan begitu panjang dibandingkan kepada kaum lelaki.

Bila kepada lelaki hanya dipesankan untuk hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih, dan dalam ketekunan, maka kepada kaum perempuan diberikan nasehat yang jauh lebih panjang. "Hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang." Belum lagi nasehat kepada orang muda dimulai dengan kata-kata:"...nasehatilah mereka..." Berada persis di bawah nasehat kepada kaum perempuan (dewasa) membuatnya seakan menyatu dengan tugas mengajarkan dan mendidik yang secara khusus disebutkan di atasnya.

Lelaki terkadang memang terasa bagai makhluk dari Mars yang tidak sebahasa dengan perempuan yang berbahasa planet Venus. Ketika makhluk Mars itu belum menjadi bagian kehidupan sepenuhnya dari perempuan, maka menjadi tantangan yang besar untuk mengenali dan belajar bahasanya. Tetapi ketika keduanya harus hidup di dalam satu biduk rumah tangga, lalu terasa betapa berbeda bahasanya...betapa sulit untuk mengertinya. Dan tidak jarang makhluk Mars, yang juga malas belajar bahasa Venus ini, memilih membungkam seribu bahasa dan membuat komunikasi semakin berantakan. Ketika itu beban tanggung jawab terhadap anak-anak terasa sangat berat, bagai memikul salib sendirian...Rupanya memang makhluk Venus lebih boros dalam berkata-kata, karena itu pula nasehat yang kami peroleh demikian panjang dan detail.

Sebenarnya masih satu pertanyaan yang menggelayut di kepalaku. Nasehat yang bergitu panjang bagi kaum perempuan diakhiri dengan perkataan "agar Firman Allah jangan dihujat orang". Walaupun tahu bahwa ada makna tanggung jawab mendidik dan pengajaran disana, tetapi hati kecilku masih berteriak "itu juga tugas lelaki..."

Tuhan Allah yang Maharahim,
terima kasih atas cinta tak terbatas yang Kau curahkan pada kami
atas matahari dan hujan yang Kau anugerahkan untuk kehidupan kami
atas ketulusan penuh maaf yang Kau tawarkan bagi kami
Masih banyak hal yang tidak kumengerti Bapa...
Masih banyak hal yang menjadi protes di dalam hatiku...
Aku yakin Dikau mengerti dan akan menjawabnya sesuai dengan waktuMu...
Sementara itu dukung dan bantu aku dalam bertanggung jawab bagi keluargaku...
Amin.

Saturday, February 28, 2009

Berkat Malaikat Pelindung (3)

Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka (Mazmur 36:7)

Mungkin ada banyak lagi kejadian lain yang terluput dari ingatanku, tapi beberapa peristiwa yang kuat menggores batin teringat dengan jelas.

Dalam suatu perjalanan panjang ke Eropa, saya sudah bertekad akan memasuki gereja Katolik di setiap kota yang saya singgahi dan berdoa disana. Minimal satu gereja di tiap kotanya. Kalau kebetulan bertemu beberapa gereja dan saya ada waktu, tentu saja menyenangkan untuk mengunjungi semuanya, bahkan Sacre Coeur merupakan gereja favorit yang sering sekali saya kunjungi.

Pernah satu ketika saya hanya akan berada di satu kota untuk waktu yang sangat singkat dengan acara yang sudah tersusun padat. Jadi kesempatanku untuk mencari gereja hanya pagi itu saja. Dari sore hari sebelumnya saya sudah mencoba mencari letak gereja Katolik terdekat dari apartemen teman sepupuku, tapi tidak berhasil menemukannya. Pagi itu saya mencari lokasi gereja dengan mengira-ngira berdasarkan dentang lonceng gereja. Alangkah putus asanya ketika dentang itu berakhir sebelum aku melihat wujud gereja. Merasa tanggung, aku terus berusaha mencari gereja tersebut. Ketika akhirnya menemukan bangunan yang kuperkirakan gereja Katolik, kembali rasa putus asa mencekam...pintu depannya terkunci! Selama di Eropa waktu itu, belum pernah saya menemukan gereja yang pintunya terkunci. Tapi bunyi lonceng gereja tadi juga sangat jelas...Tidak ada juga orang yang terlambat datang...Hampir putus asa dan ingin pulang saja, tiba-tiba terdengar suara nyanyian yang benar-benar bak nyanyian malaikat dari surga di telingaku. Kucoba mencari asal suara itu, dan akhirnya menemukan kapel kecil tempat ibadat pagi itu dilaksanakan. Tercapai juga niatku menerima Sakramen Maha Kudus pagi itu.

Entah apakah karena perjalananku yang selalu mencari gereja Katolik ini, atau karena doa orang tuaku yang pasti selalu juga mendoakan keselamatanku. Entah juga kalau kejadian di bawah ini hanya sebuah hal biasa yang dibesar-besarkan oleh imajinasiku yang terlalu hebat.

Suatu saat, dari Hamburg saya berangkat ke Paris melalui Amsterdam dengan naik bis malam. Dalam perjalanan ke Amsterdam saya duduk berdampingan dengan seorang pria muda. Dia mengaku "Indo", masih punya keturunan nenek buyut dari Semarang. Biasa, dengar nama Indonesia...rasanya langsung percaya saja. Ketika tiba di stasiun bis lelaki muda ini menawarkan untuk menemaniku mengunjungi Amsterdam. Memang jadwal saya numpang lewat itu disusun supaya saya sempat keliling dari pagi hingga sore di Amsterdam, dan baru kembali ke Paris malam harinya.

Senang karena tiba-tiba memperoleh teman yang baik hati, saya mau saja ditemani. Malahan dia meminta saya mampir dulu ke tempat tinggalnya untuk menaruh barang-barangnya. Dalam perjalanan saya mengatakan ingin juga melihat apabila ada gereja Katolik di Amsterdam. Dia mengatakan tidak tahu dimana letak gereja Katolik, tapi membawa saya melintasi sebuah taman, dimana menurut dia dahulu umat Katolik yang masa itu terlarang di Belanda biasa berkumpul berdoa. Dia juga mengajak saya masuk ke sebuah bar, melihat orang yang menjual hasis dan marijuana. Tentu saja saya tolak..."Hanya melihat," katanya. Saya tetap menolak. Jadilah kami berjalan kesana kemari, bahkan dia juga bercerita tentang copet-copet yang sering beraksi di antara para turis di Amsterdam. Ketika malam tiba,saatnya saya kembali ke Paris dengan bis malam. Dia mengantar saya ke stasiun dan kami bertukar alamat dengan pesan akan saling mengirim kabar.

Setiba di Paris, ternyata dia sama sekali tidak membalas kartu pos yang kukirim, bahkan telpon yang diberikannya juga tidak pernah diangkat. Episode singkat ini nyaris terlupakan, kalau saja beberapa bulan kemudian saya tidak mendengar ada wanita yang ditangkap karena membawa titipan narkoba dari Amsterdam. Tentu saja kisah itu tidak ada hubungannya dengan orang yang saya temui, tapi sempat terpikir kalau dia pada waktu itu menitipkan barang untuk saudaranya yang katanya masih banyak di Semarang, rasanya bisa jadi akan saya bawa tanpa rasa curiga apapun.

Dalam hati terpikir, bisa saja pemuda tadi semula bermaksud jahat pada saya tapi kemudian tidak melaksanakannya. Hal ini pernah saya ceritakan pada anak-anak Bina Iman Remaja. Terkadang remaja tidak berpikir cukup panjang ketika sedang menikmati dunia baru yang tampak asing dan menarik. Segala nasehat orang tua untuk tidak mudah berhubungan dengan orang yang baru dikenal seringkali dilupakan. Walaupun bisa jadi pemuda itu memang bukan orang jahat, bahkan mungkin juga telah menjadi malaikat yang melindungiku dalam perjalanan sendirian di kota Amsterdam. Tetapi aku percaya bahwa karena doa-doa yang kupanjatkan di setiap gereja yang kusinggahi, dan karena kasihNya saya telah dilindungi.

Tuhan,
Terima kasih atas perlindungaMu yang tidak berbatas
KasihMu yang selalu meneduhiku dalam perjalananku
Malaikatmu yang melindungiku dalam naungan kasihMu
Amin

Berkat Malaikat Pelindung (2)

Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan (Kel 23:20)

Kisah perlindugan di jalan dalam buku "Kesaksian Bertemu dengan Malaikat" langsung membuat saya teringat akan pengalaman saya ketika kuliah dahulu.

Tempat saya kuliah di Grogol, sementara rumah orang-tuaku di Kebayoran Baru. Ketika jembatan layang Grogol dikerjakan suasana sangat sumpek, jalanan kotor dan macet hampir sepanjang hari. Kalau awalnya saya lebih sering naik bis ke sekolah, justru ketika itu saya seringkali harus naik mobil karena membawa mesin gambar.

Suatu malam, hujan amat deras mengguyur kota. Temanku yang biasanya ikut bersama aku tidak ikut pulang, entah dia bersama pacarnya atau sudah pulang terlebih dahulu. Jalanan gelap, dan licin, dan aku dalam keadaan lelah harus menyetir sendirian di antara mobil, bis, dan truk. Mobil-mobil sudah memasang lampu dim sejak tadi. Tiba-tiba...braak..."ya amnpun mobilku kesenggol," batinku. Ternyata bukan sekedar tersenggol tapi tersenggol tepi bak truk yang mencoba menyalip. Yang tersenggol bagian depan, di bingkai kaca. Hanya cacat sedikit sebetulnya, tapi secara otomatis seluruh kaca depan retak rambut.

Hujan lebat di tengah jalan macet di Grogol dan ingin berhenti? Tidak masuk akal sehat, aku lebih takut pada orang jahat yang akan segera memanfaatkan kesendirianku.

Lampu dari mobil-mobil di hadapanku menyilaukan mata, terbias dalam serpihan kaca yang hancur total tapi, untungnya, tetap bertahan di tempatnya (beruntung "tempered"nya bagus). Hanya buat mataku yang tidak kuat silau sinar-sinar itu sangat menyakitkan mata. Memecahkan sebagian kaca tidak mungkin juga, karena hujan lebat masih deras mengguyurdan tentu saja saya tidak ingin keruntuhan serpihan kaca.

Menepi dan mencari telpon untuk menghubungi orang rumah juga tidak mungkin. Saat itu ayahku sedang bertugas keluar kota dan ibu menemaninya. Jadi saya tahu persis bahwa di rumah tidak akan ada orang yang bisa kumintai bantuan.

Jadilah dengan berdoa aku menyetir perlahan-lahan. Berdasarkan feeling jalanan, dan lampu rem dari mobil di depanku. Lepas dari kemacetan merupakan satu masalah lain lagi, karena jarak antara mobilku ke mobil di depanku tidak bisa lagi kuperkirakan, apalagi aku harus juga turun jembatan Semanggi dan masuk jalur lambat. Jalananku masih berkelok-kelok, tapi...akhirnya toh aku selamat tiba di rumah.

Saat itu hanya rasa terima kasih tak terhingga kepada Yang Kuasa yang ada di hatiku. Tapi kini ketika membaca kisah "Malaikat di Jalan Raya" di dalam buku ini, saya merasa bahwa memang malaikatNya yang menuntun mata batinku "melihat" jalanan hingga sampai ke rumah.

Terima kasih Tuhan,
Atas malaikat yang Kau kirimkan untuk menjaga dan melindungi kami
Dalam lindunganMu kuakan aman selalu,
Amin.

Berkat Malaikat Pelindung (1)

Ada satu hal yang akhir-akhir ini menjadi pemikiranku, terutama setelah membaca kembali buku "Kesaksian Bertemu dengan Malaikat" tulisan Joan Wester Anderson. Kehadiran malaikat yang ajaib, yang datang dan menghilang secara fisik tidak pernah aku rasakan. Hanya saja beberapa cerita sebenarnya mengingatkanku akan beberapa kejadian masa lalu dimana boleh jadi malaikat pelindungku telah bekerja tanpa pernah aku ketahui.

Allah mendengar suara anak itu, lalu malaikat Allah berseru dari langit kepada hagar, kataNya kepadanya "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring..." (Kej 21:17)

Ketika aku masih kecil dahulu, aku sering stuip, yaitu kejang demam ketika sedang demam tinggi. Pernah pula gegar otak karena terjatuh dari kursi. Sebenarnya ksiah masa kecilku tidak terlalu banyak yang melekat di memori otakku. Hanya saja bagi orangtuaku kesembuhan dan kehidupanku memang merupakan anugerah Tuhan. Ada banyak orang yang ikut berperan dalam membantu kesembuhanku, dan buat aku mereka juga termasuk dalam jajaran malaikat-malaikat yang dikirim Tuhan.

Manusia menjadi malaikat bagi sesamanya terasa biasa bagiku, tapi kisah malaikat bersayap? Atau kisah malaikat yang sangat fantastis bagai mujizat? Rasanya seperti sebuah dongeng saja...

Buku "Kesaksian Bertemu dengan Malaikat" ini sepertinya sudah pernah kubaca dahulu, tapi sekarang ketika membaca ulang ada dimensi lain yang berbeda yang kutemukan.

Beberapa pengalaman yang telah lalu tiba-tiba berbicara dalam bingkai berbeda. Memang saya tidak bertemu dengan malaikat pelindungku, tapi karya nyata yang terjadi adalah mujizat yang tidak bisa saya sangkal.

Kisah yang paling tidak terlupakan adalah kisah ketika saya masih di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Waktu itu di sekolahku baru di kelas tiga kami dapat belajar berenang di sekolah. Saya baru satu atau dua kali ikut latihan ketika itu. Saya ingat pelajaran yang terakhir diajarkan padaku adalah "meluncur". Saya juga sebenarnya belum pandai "meluncur" saat itu.

Ketika itu aku bersama adik lelakiku ada di Puncak Pass Hotel. Ayah dan ibu sedang bertemu dengan keluarga kami yang menginap disana di salah satu bungalow. Aku berdua dengan adikku (dia mungkin masih di TK saat itu) sedang berjalan di dekat kolam renang hotel. Di salah satu sisi kolam renang, ada anak remaja yang menolak mati-matian untuk turun ke air. Melihat "anak besar" yang menangis ketakutan, aku berbisik ke adikku: "Malu-maluin, kan ada ban...Aku aja udah bisa berenang." Adikku mendengar perkataanku malah meledek: "Masa udah bisa? Mana buktinya?" Lalu kujawab lagi: "Iya, bener, nggak ada pakaian renang sih...coba ada..."

Tahu apa yang dilakukan oleh adikku? Dengan tiba-tiba dia mendorongku ke kolam renang sambil berkata: "Buktikan..." Itu kolam renang yang dalam, bukan kolam cetek tempat aku biasa belajar berenang. Lagipula airnya sedingin es batu. Ketakutan yang mendalam menguasai pikiranku. "Tuhan aku ingin selamat..."

Tidak ada seorangpun dari rombongan anak remaja tadi yang sadar kalau ada seorang anak yang sedang tenggelam di kolam dalam itu. Mereka masih membujuk anak gadis yang menangis tadi untuk mencoba berenang di dalam kolam yang lebih pendek itu.

Adikku juga mungkin tidak merasa bersalah. Dia juga tidak merasa perlu berteriak minta tolong. Entahlah, sebenarnya aku tidak tahu persis apa yang terjadi di luar sana karena orang tuaku juga tidak ada disana, jadi tidak ada yang pernah bercerita kepadaku.

Yang aku ingat, aku berjuang untuk bisa berenang. Aku mencoba meluncur mencari sisi kolam terdekat. Beruntung, aku mencapai sisi kolam dimana ada tangga yang menjulur ke bawah. Dari situ aku kemudian naik ke atas sendiri dan menangis tersedu-sedu, mempersalahkan adikku. Barulah orang-orang gempar karena hampir saja ada anak tenggelam di depan mata mereka tanpa mereka sadari.

Kejadian yang amat tidak masuk akal sebenarnya, apalagi sampai duduk di bangku SMP aku masih juga belum bisa berenang. Trauma hari itu di dalam kegelapan air kolam memang selalu menghantuiku, bahkan setelah bisa berenang di kemudian hari.

Sekarang ketika aku merefleksikan kembali kisah ini setelah membaca buku perjumpaan dengan malaikat pelindung, aku yakin bahwa malaikat pelindungku telah membantu aku di dalam air itu.

Tuhan,
terima kasih sudah mendengarkan suaraku
memberikan aku waktu untuk lebih lama lagi bersama keluargaku
semoga aku juga bisa menjadi malaikat bagi orang lain
Amin.

Wednesday, February 25, 2009

Berkat Pengutusan

Seorang teman mengirimkan sebuah tulisan, disana ada catatan dari Matius 10:8 "Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma."

Kuasa penyembuhan merupakan sebuah karunia yang diberikanNya dengan khusus. Tetapi di luar kuasa penyembuhan yang khusus itu, sebenarnya setiap manusia memperoleh talenta untuk kuasa penyembuhan itu.

Hari ini kebetulan kelompok doa kami berkumpul untuk berdoa bagi kelancaran operasi ayah saya. Salah satu doa kami tujukan juga kepada Santo Damianus dan Santo Cosmas, mendoakan agar para dokter dan tenaga medis yang bekerja dibimbing dalam rahmat penyembuhanNya.

Saya sendiri baru pertama kali ini mengetahui lebih mendalam tentang Santo Damianus dan Santo Cosmas (dalam bahasa Inggris disebutkan sebagai St. Cosmo and St. Damian), salah satu dari bait doa itu menyentuh perasaan saya.

Rasanya bagi mereka yang diberi rahmat untuk menguasai ilmu kedokteran, bukan hanya sumpah Socrates yang perlu diingat, melainkan juga ayat di atas. Memang tidak sedikit juga dokter yang dalam prakteknya juga memberikan pelayanan sosial bagi masyarakat yang kurang mampu.

Bicara tentang penyembuhan tidak selalu berbicara tentang penyembuhan fisik. Rasanya hal ini pernah juga kami bicarakan sebelumnya di dalam kelompok doa kami. "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma," pengampunan yang kita peroleh dari Tuhan memang gratis dan tidak menuntut bayaran. Terkadang bahkan kita jatuh ke kesalahan yang sama lagi, dan kembali lagi untuk meminta maaf, dan dimaafkanNya lagi. Bagi kita manusia memberikan maaf secara cuma-cuma memang terasa sangat berat, seringkali kita merasa diri kita berada di pihak yang benar dan ingin mengenyahkan pihak lain yang berbuat jahat dan menyakiti hati kita atau keluarga. Kalau kita kembali ke ayat ini, maka akan terasa betapa besar Tuhan telah menyayangi kita. Dan setiap kita kembali kepadaNya, maka amarah yang besar itu akan menyurut. Setiap kita melihat kesalahan kita pribadi yang diampuniNya, maka keinginan untuk mengampuni akan lebih mudah diperoleh. Ketika keinginan untuk mengampuni itu hadir, maka datanglah berkat damai sejahtera di dalam hati.

Luka batin dari tindakan tidak memaafkan bisa menyakiti lebih banyak lagi orang lain. Bahkan bisa juga terus diwariskan ke generasi berikutnya. Lihat saja kisah Romeo dan Juliet, kisah amarah yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan akhirnya mengambil korban kedua anak muda yang saing mencintai itu.

Berkat pengutusan bukan hanya milik orang tertentu dengan talenta tertentu, tetapi juga milik semua umatNya. Ampunilah karena engkau telah diampuniNya secara cuma-cuma. Bagikanlah talentamu karena engkau telah menerima talenta itu dariNya secara cuma-cuma...

Tuhan,
Terima kasih atas berkat pengutusan yang Dikau berikan pada kami,
Atas semua talenta dan kebahagiaan yang kami terima,
Atas kekuatan dan malaikat pelindung yang Engkau berikan bagi kami,
Ajari kami mengampuni,
Ajari kami berbagi kasihMu,
Jadikanlah kami pembawa damai dan sukacitaMu...
Amin.

Friday, February 06, 2009

Permintaan anak perempuan Herodias

Bacaan kami hari ini adalah dari Injil Markus 6:16-28 mengenai Yohanes Pembaptis dibunuh. Banyak hal yang menarik yang muncul hari ini, tapi saya mencoba membagikan refleksi saya sebagai seorang Herodes.

Saya membayangkan diri saya sebagai Herodes, yang segan akan Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya dari kemarahan Herodias. Herodias dendam karena Yohanes pembaptis pernah menegur Herodes yang mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya, menjadi istrinya. Herodes terombang ambing antara perasaan marah (malu dan benci) dengan perasaan senang mendengarkan ajaran-ajaran Yohanes pembaptis. lalu sekarang muncul seoranga bernama Yesus. Apakah Yesus itu Elia? Atau seorang nabi lain? Atau bahkan Yohanes pembaptis yang bangkit kembali?

Herodes memikirkan kemungkinan terakhir itu lebih benar. Dan dia, Herodes, adalah orang yang bertanggung jawab karena sudah memenggal kepala Yohanes pembaptis berdasarkan permintaan dari anak perempuan Herodias. Janji yang sudah terlanjur diucapkannya pantang ditariknya kembali, walaupun hal yang dilakukannya membuat hati kecilnya tidak merasa nyaman. Dia merasa kedudukannya sebagai raja mengharuskan dia menepati janjinya, walaupun untuk sebuah permintaan yang membuat sedih hatinya. Kesedihan yang sebenarnya justru murni dari nuraninya, karena tidak melibatkan ego dan kemarahannya terhadap kritikan Yohanes pembaptis.

Sebagai manusia seringkali kita juga dihadapkan kepada permintaan-permintaan dari luar diri kita. Menyenangkan hati orang lain tentu menyenangkan sekali, tapi setidaknya kita perlu mengingat apakah batin kita ikut juga tersenyum bersama keputusan itu? Mencari dan memahami kehendak Allah dan bukan kehendak ego manusia, ataupun keinginan daging kita yang paling sulit prakteknya.

Mungkin juga terkadang kita bertindak sebagai anak perempuan Herodias, yang meminta tanpa berpikir akan makna permintaan itu sendiri. Sebuah tindakan manusiawi yang lebih berdasarkan pemikiran dan perhitungan pribadi, tanpa melibatkan kehadiran Tuhan dalam keputusan itu. Melibatkan Tuhan berarti membiarkan nurani turut bicara.

Memberikan permintaan kepada orang lain, maupun menerima untuk melaksanakan sebuah permintaan tidak berarti meninggalkan unsur kebahagiaan pribadi. Kehendak Tuhan seringkali terletak jauh di lubuk hati terdalam kita, dan dapat menjadi sumber kebahagiaan kita. Hanya orang yang mengenal dirinya sendiri dan keinginan-keinginannya yang dapat berbahagia dalam jalan Tuhan.

Manusia berhak untuk berbahagia, Tuhan tidak menginginkan manusia untuk memilih jalan dimana hatinya akan menderita. Tapi, bagaimanapun, akhirnya manusia juga harus ikut berjuang untuk mewujudkan kebahagiaan itu dalam bimbingan Roh Kudus. Doa dan iman merupakan tiang dan tongkat penopang dalam perjalanan mencari kehendak Allah. Seringkali kita lengah, entah karena ego dan gengsi, atau justru karena merasa tidak perlu memiliki kehendak pribadi...

Menjalankan kehendak Allah adalah pilihan bebas manusia. Untuk mengetahui kehendakNya pun kita perlu belajar mengenali kehendak kita pribadi sebelum memilahnya dalam bingkai iman kepadaNya.

Tuhan,
Ajarilah kami membuat permintaan yang sesuai kehendakMu,
Ajarilah kami menerima permintaan yang sesuai dengan kehendakMu,
Berikanlah rahmatMu untuk berbahagia di dalam NamaMu,
Berkat untuk mengenali kehendakMu bagi kebahagiaan kami sebagai anak-anakMu.
Amin.

Monday, January 19, 2009

Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu

Judul di atas adalah sepenggal dari kutipan I Korintus 6: 19-20. Saya mendengarkannya di gereja hari Minggu kemarin. Kothbah pastur sebenarnya adalah "Belajar Mendengarkan Sabda Tuhan". Yang dikatakan pastur dalam penutupan kothbah adalah:
St Paulus menegaskan bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus yang telah lunas ditebus olehNya, karena itu kita juga harus memuliakan Allah dengan tubuh kita, menjaga kekudusannya, dan tidak sembarangan 'menggunakan' tubuh untuk hal-hal negatif seperti narkoba ataupun percabulan. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu beroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1 Kor 6:19-20)


Tetapi saya tidak sedang memikirkan hal-hal yang negatif seperti narkoba dan percabulan. Saya sedang memikirkan tugas-tugas yang saya bebankan kepada tubuh saya tanpa memikirkan keseimbangan untuk beristirahat dan santai.

Dalam bacaan dari Kitab Samuel, ada kisah dari Samuel kecil yang mengira dirinya dipanggil oleh Eli (1 Sam 3: 8-9). Ketika mendengar bacaan itu terbayang betapa Tuhan membutuhkan orang-orang untuk memelihara dan mendidik orang-orang pilihanNya. Kalau dari Perjanjian Lama ada kisah Samuel yang dipelihara oleh Eli, maka dalam Perjanjian Baru ada kisah yang lebih hebat lagi yaitu Yesus dalam bimbingan dan perawatan Santa Maria dan Santo Yosef. Peran Yosef tidak banyak disebutkan dalam Kitab Suci, dia hanya muncul semasa Yesus belum lahir dan namanya disebut ketika orang meragukan Yesus yang hanya anak seorang tukang kayu dari Nazareth. Tetapi peran Maria begitu sering disebutkan, dari awal sebelum lahir hingga di kaki salib di bukit Golgota. Maria yang begitu pasrah dan menyimpan semua perkara di dalam hatinya...

Rasanya sungguh sulit bagi saya untuk menjadi seperti Maria. Segala unek-unek biasanya sangat mudah terlontar keluar. Kesabaranku juga bukan seperti Bunda yang penuh Kasih itu.

Tetapi rasanya inilah sabda yang kudengar hari ini: "Tubuhmu bukan lagi milikmu, dia harus dipergunakan untuk membesarkan anak-anak titipanKu. Waktumu bukan lagi waktumu, ia juga harus dipergunakan untuk membentuk anak-anak yang akan kubutuhkan di kemudian hari."

Eli belajar mendengarkan sabda Tuhan melalui Samuel. Awalnya dia juga tidak tahu kalau Tuhan yang memanggil Samuel, sampai kali ke-tiga baru dia tersadarkan. Maria sejak awal sudah tahu bahwa Allah akan hadir melalui anak yang dikandungnya, tetapi toh dalam banyak hal Maria memiliki pertanyaan-pertanyaan dan dia menyimpannya di dalam hati.

Zaman yang sekarang ini membutuhkan gerakan yang serba cepat. Terkadang tidak sempat berpikir padahal keputusan harus segera diambil, kehendak Tuhan menjadi hal yang sulit dicermati. SuaraNya seringkali hanya bisa terdengar dalam jiwa yang tenang. Kesibukan membuat jiwa tidak mendapatkan suasana tenang yang dicari, sehingga pada akhirnya tidak juga mendengarkan suaraNya.

Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalamnya, adakah aku juga menjaga bait Roh Kudus yang ada di dalam tubuh anak-anakku?

Tuhan, Engkaulah penolongku...
lenyapkanlah kebimbangan dari diriku,
biarkan aku berjalan sesuai dengan kehendakMu.
Biarkan tubuhku digunakan untuk memuliakan namaMu,
dan buah tubuhku juga bisa memuliakan namaMu.
Amin.

“Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"

(Ibr 6:10-20; Mrk 2:23-28)

“Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?" Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” (Mrk 2:23-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Entah sudah ada berapa UU, PP, Juklak, Peraturan dst..yang diundangkan atau diberlakukan, kiranya hanya segelintir orang yang mengetahui atau menguasainya. Aneka tatanan atau aturan dibuat dan diundangkan untuk manusia dan pada umumnya dijiwai oleh cintakasih atau paling tidak kompromi. Hemat saya semakin banyak aturan dan tatanan dibuat dan diberlakukan rasanya menunjukkan bahwa manusia-manusia atau pribadi-peribadi yang tersangkut atau terkait dengan aturan dan tatanan tersebut belum dewasa kepribadiannya atau jauh dari penghayatan cinta kasih satu sama lain.

Cinta kasih mendasari, menjiwai dan mengatasi aneka macam tatanan dan aturan, itulah kebenaran, maka ketika kita bertindak berdasarkan cintakasih dan untuk itu terpaksa melanggar aturan atau tatanan, hemat saya baik dan benar adanya. Aturan dan tatanan sedikit banyak mempersempit ruang gerak dari yang kena aturan atau tatanan tersebut, sebagaimana menjadi nyata dan jelas terjadi dalam diri mereka yang berada di penjara atau bui karena terbukti berbuat salah alias melanggar cinta kasih. Mengasihi memang tidak kenal batas alias bebas/dibatasi kebebasan, sedangkan kebebasan dibatasi cinta kasih.

Menghayati cinta kasih antara lain dengan menjunjung tinggi, menghormati harkat martabat manusia, tidak menginjak-injak harkat martabat manusia. Sebagai contoh bahwa cinta kasih itu bebas, hemat saya dapat terjadi dalam diri suami-isteri yang saling mengasihi: mereka bertelanjang bulat berdua tidak salah dan tidak berdosa, saling memperlakukan yang lain seenaknya asal tidak melecehkan harkat martabat manusia tidak apa-apa, dst.. Sebaliknya seseorang telanjang bulat di jalanan jelas melanggar aturan dan tatanan serta melecehkan harkat martabat orang lain, yaitu orang lain akan tergerak untuk berpikiran rendah, tidak luhur.

Selama kita hidup dalam dan oleh cintakasih kita bebas merdeka, dan tidak ada ketakutan atau kekhawatiran apapun, meskiipun karena itu menjadi bahan gunjingan atau omongan sementara orang.

“Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang” (Ibr 6:10). Pengalaman ini telah terjadi dalam diri Abraham yang percaya kepada kasih Allah, yang “menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya” (Ibr 6:15).

Marilah kita saling melayani satu sama lain dengan penuh kesabaran, berbuat baik satu sama lain dimanapun dan kapanpun. “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr.Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka- Jakarta 1997, hal 24).

Janji-janji yang telah dibuat antara lain terwujud dalam berbagai aturan atau tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, maka marilah dengan sabar dan rendah hati kita hayati aturan dan tatanan tersebut. Percaya dan imanilah jika kita setia pada aturan atau tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita, maka kita pasti akan memperoleh apa yang pernah dijanjikan kepada kita atau kita dambakan/harapkan.

Maka marilah meneladan Bapa Abraham, teladan umat beriman dengan menghayati iman kita di dalam hidup sehari-hari, yang dilengkapi dengan keutamaan harapan dan cintakasih, dan cinta kasih harus menjadi nyata antara lain dalam keutamaan-keutamaan “sabar, murah hati; ia tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7)

“Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.” (Mzm 111:1-2.4-5)

Jakarta, 20 Januari 2009

Kontributor: Romo Sumaryo

Tuesday, December 23, 2008

“HIDUPLAH DALAM PERDAMAIAN DENGAN SEMUA ORANG”

(bdk. Rm. 12:18)

Sebelum dan sesudah Perayaan Natal, 25 Desember, ada hari-hari pesta yang erat hubungannya dengan Pesta Natal, antara lain: Hari Kesetiakawanan Nasional/20 Desember, hari Ibu/22 Desember, dan Hari Perdamaian Sedunia/1 Januari. Pesta Natal sendiri antara lain ditandai dengan warta gembira yang disampaikan oleh para malaikat : “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Luk 2:14) Maka baiklah saya mengajak anda sekalian merenungkan tema pesan Natal Bersama KWI-PGI di atas dalam rangka merayakan Natal, Kenangan Kelahiran Penyelamat Dunia, ‘Damai Sejahtera’ lahir di tengah-tengah kita.

Situasi yang memprihatinkankan?

“Perubahan nilai-nilai sosial yang sedang terjadi di tengah masyarakat Indonesia membuat tingkat perceraian semakin tinggi. Bahkan akibat kemampuan ekonomi yang terus meningkat di kalangan kaum Hawa, ikut mempengaruhi tingginya gugatan cerai yang diajukan istri terhadap suami. Saat ini begitu mudah pasangan suami-istri yang melakukan cerai dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di rumah tangga. Jumlah perceraian di Indonesia telah mencapai angka yang sangat fantastis. Tercatat pada tahun 2007, sedikitnya 200 ribu pasangan melakukan pisah ranjang alias cerai. Meski angka perceraian di negara ini tidak setinggi di Amerika Serikat dan Inggris (mencapai 66,6% dan 50% dari jumlah total perkawinan), namun angka perceraian di Indonesia ini sudah menjadi rekor tertinggi di kawasan Asia Pasifik.”(http://arifjulianto.wordpress.com/2008/ 5 Juni 2008).

Keluarga adalah dasar hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka memperhatikan jumlah perceraian di atas dan ketegangan atau percekcokan yang terjadi di dalam keluarga, yang kiranya lebih besar jumlahnya dari perceraian, kita dapat mengerti bahwa berbagai macam bentuk ketegangan, permusuhan, tawuran masih marak dalam kehidupan bersama di Indonesia, dan yang cukup memprihatinkan terjadi di kalangan generasi muda, pelajar atau anak-anak. ”KERA KENTOT” = Kenakalan anak karena kenakalan orangtua, demikian jawaban para mahasiswa ketika memperoleh tuduhan bahwa generasi muda kurang ajar. Aneka perbedaan: SARA, jabatan, fungsi, selera, cita-cita, perasaan, dst.. dapat menjadi sumber permusuhan atau tawuran. Kakak-adik dalam satu darah saling membenci, sama-sama katolik dalam suatu territorial tertentu (wilayah/paroki) dapat saling mendiamkan alias ‘jotakan’ (Jawa), bahkan ada pastor, bruder atau suster dalam satu tarekat tak dapat hidup bersama atau berdamai, dst…

“Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Warta Gembira atau Damai Sejahtera pertama-tama disampaikan kepada atau diterima oleh para gembala, yang dalam tatanan sosial kemasyarakatan masa itu termasuk kelompok yang tersingkir atau tergusur. Mereka adalah orang miskin, pengembara di padang rumput sambil menggembalakan domba-domba, pada malam hari tidur dalam kegelapan beratapkan langit dan bintang-bintang di langit sebagai penerangannya. Gaya hidupnya bertolak belakang dengan orang-orang Betlekem yang telah ‘mapan’ serta tidak bersedia memberi tempat bagi kelahiran Warta Gembira, Penyelamat Dunia. Para gembala adalah simbol kelompok orang yang terbuka atas segala macam kemungkinan serta Penyelenggaraan Ilahi; tiada harapan pada sesamanya yang telah ‘mapan’ maka hanya pada Tuhan, Yang Ilahi saja harapanNya; dengan kata lain para gembala adalah ‘manusia yang berkenan kepadaNya’.

“Yang berkenan kepadaNya” adalah siapapun yang membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaganya pada Penyelenggaraan Ilahi atau kehendak Tuhan, "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya." (Luk 8:21).dan untuk mendengarkan dengan baik orang harus terbuka. “Terbuka adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keleluasaan dalam menerima apa saja dari luar, membuka diri terhadap umpan balik, dan mampu memuat informasi apa saja dengan obyektif” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 28). Sedangkan terbuka hemat saya perlu didasari dan diteguhkan dengan keutamaan rendah hati. “Rendah hati adalah sikap yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Ibid. hal 24). Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi antara lain berkata: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:5-8)

Dalam kehidupan bersama, entah di dalam keluarga atau tempat kerja/kantor, yang paling berkenan bagi semuanya antara lain ‘hamba/pembantu rumah tangga’ yang baik, yang antara lain ditandai ciri-ciri sederhana, ceria/gembira, cekatan, siap-sedia dan terbuka terhadap aneka kemungkinan, tanggap/peka terhadap kebutuhan yang lain, menyerahkan diri seutuhnya pada tugas pekerjaan atau pengutusan, dst... Maka apa yang ciri-ciri hamba/pembantu rumah tangga yang baik ini selayaknya kita hayati dalam rangka merayakan Natal, menyambut kelahiran Penyelamat Dunia.

“Hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Rm 12:8)

Marilah ajakan para Gembala kita “ hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” ini kita hayati dan sebarluaskan dengan inspirasi 3 (tiga) hari pesta yang berdekatan dengan pesta Natal: Hari Kesetiakawanan Nasional, Hari Ibu dan Hari Perdamaian Sedunia.

1) Kesetiakawanan

Setia dalam bahasa Latin fidelis memiliki beberapa arti yaitu: yang menepati janjinya, taat, patuh, benar, jujur, dapat dipercaya, sejati, lurus hati, maka setiakawan berarti dalam berhubungan dengan orang lain dijiwai oleh keutamaan-keutamaan yang menjadi arti dari fidelis . Hemat saya kesetiakawanan ini pertama-tama dan terutama harus menjadi nyata atau dihayati dalam komunitas dasar yaitu dalam keluarga, relasi antar anggota keluarga. Pengalaman hidup bersama di dalam keluarga akan sangat mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita dalam menghayati atau melaksanakan tugas pengutusan atau hidup bersama yang lebih luas daripada keluarga. Pengalaman relasi antara orangtua-anak akan mempengaruhi relasi antara atasan-bawahan, relasi kakak-adik mengengaruhi relasi senior-yunior, relasi anggota keluarga-pembantu rumah tangga mempengaruhi relasi kita dengan mereka yang miskin dan berkekurangan, dst.

Hemat saya kesetiakawanan terjadi dalam relasi antara yang kaya dengan yang miskin, yang pandai dengan yang bodoh, yang berkelebihan dengan yang berkekurangan, yang besar dengan yang kecil, dst.. dan tentu saja harus dimulai dari yang pertama yaitu yang kaya, pandai, berkelebihan dan besar.”Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka” (Luk 6:31-35) .

Kesetiakawanan sejati sama dengan menghayati perintah Tuhan “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka”. Maka marilah mempersiapkan diri untuk merayakan pesta Natal ini kita ingat dan kenangkan ‘musuh-musuh’ kita, mereka yang kurang berkenan di hati kita, yang telah dan sedang menyakiti atau mempersulit hidup kita, dst.. Marilah kita berdamai dengan mereka atau kita doakan mereka. Doa dari St.Fransiskus Assisi ini kiranya sangat baik kita hayati untuk menghayati kesetiakawanan sejati :”Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cintakasih. Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang” (PS no 221).

2) Ibu

“Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi,tak harap kembali
Bagaikan surya menyinari dunia”,
demikian kutipan dari sebuah syair lagu yang begitu indah. Kasih ibu telah kita terima dan nikmati sejak kita masih berada dalam rahim/kandungan ibu, dan kiranya ibu yang baik senantiasa mengasihi anak-anaknya dalam keadaan atau situasi apapun sampai mati, meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan sebagaimana telah dihayati oleh Bunda Maria, Bunda Yesus, Penyelamat Dunia.

Kasih ibu terhadap anak-anaknya memang bagaikan surya menyinari dunia. St Ignatius Loyola mengatakan bahwa keutamaan ‘kemiskinan’ selain sebagai ‘benteng’ juga ‘ibu’ yang kuat hidup religius/beriman (lihat Konst.SJ no 553), maka jika benteng mulai keropos atau lupa akan kasih ibu pada umumnya hidup religius atau iman orang yang bersangkutan keropos atau lemah alias kurang bersinar.. Menghayati keutamaan kemiskinan berarti menggantungkan atau mengandalkan diri pada belas kasihan orang lain, dan hal ini rasanya telah menjadi pengalaman kita masing-masing ketika kita masih berada didalam rahim, bayi/kanak-kanak yang sepenuhnya tergantung dari ibu, yang penuh belas kasih atau kerahiman, sehingga kita tumbuh berkembang sebagaimana adanya saat ini.

Kesetiakawanan hendaknya menjadi nyata atau terwujud dalam penghayatan ‘belas kasih dan kerahiman’ pada orang lain yang membutuhkannya. Kita dapat meneladan para gembala, yang miskin dan sederhana namun lebih kuat daripada kanak-kanak Yesus, yang “pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Mereka mempersembahkan sesuatu kepada Kanak-Kanak Yesus dari kelelamahan dan kekurangannya, makanan dan minuman apa adanya, yang sebenarnya menjadi kebutuhan mereka sendiri. Hal yang sama rasanya terjadi dalam kasih ibu kepada anak-anaknya. Marilah kita wujudkan ‘belas kasih dan kerahiman’ kita kepada mereka yang kurang beruntung daripada kita, yang miskin dan berkekurangan, berani dan rela memberi dari kekurangan bukan kelebihan. Memberi dari kelebihan berarti membuang sampah alias menjadikan orang lain tempat sampah alias menginjak-injak harkat martabat manusia, berlawanan dengan atau musuh dari kesetiakawanan.

3) Perdamaian Sedunia.

“There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” = “Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilah tanpa kasih pengampunan” , demikian pesan Perdamaian Sedunia th 2000 dari Paus Yohanes Paulus II dalam rangka memasuki dan mengarungi millenium ketiga. Kasih pengampunan itulah yang harus kita hayati dan sebarluaskan dalam rangka mewujudkan perdamaian sedunia. Kita dipanggil untuk meneladan cara bertindak Yesus, Penyelamat Dunia, yang di puncak deritaNya di kayu salib mengampuni mereka yang menyalibkanNya :”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat “ (Luk 23:34), demikian doanya bagi mereka yang menyalibkanNya, seusai dengan apa yang pernah Ia ajarkan :”Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;” (Luk 6:27)

Yang sering menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kita adalah aneka macam bentuk perbedaan: beda pendapat/pikiran, beda selera, beda SARA, beda jabatan atau fungsi, dst..Ingat dan sadari bahwa laki-laki dan perempuan saling berbeda satu sama lain namun saling tergerak untuk saling mendekat, bersahabat dan mengasihi, dalam dunia fisika unsur plus (+) bertemu dengan minus (-) menjadi sinar terang yang membahagiakan. Dengan kata lain apa yang berbeda menjadi daya tarik untuk saling mengenal, mendekat dan mengasihi serta besahabat atau bersatu. Maka untuk mewujudkan perdamaian hendaknya menjadikan aneka macam perbedaan menjadi daya tarik dan daya pikat untuk saling mendekat dan berdamai atau bersahabat.

Marilah kita wujudkan ‘damai sejahtera di bumi’ atau perdamaian sedunia dengan mengasihi musuh-musuh kita serta berbuat baik kepada mereka yang membenci kita. Yang disebut ‘musuh atau yang membenci kita’ di dunia ini adalah manusia, makanan/minuman, pekerjaan, suasana, dst.. yang tidak sesuai dengan selera kita atau kurang berkenan di hati kita. Marilah kita ingat dan panggil mereka untuk kita kasihi dan berbuat baik kepadanya, dan sekiranya secara phisik dan sosial tidak mungkin marilah kita kasihi dengan mendoakan mereka, sebagaimana telah dihayati oleh Yesus yang berdoa bagi mereka yang telah menyalibkanNya.

SELAMAT NATAL 2008 dan TAHUN BARU 2009

Jakarta, 20 Desember 2008, Hari Kesetiakawanan Nasional

Kontributor: Ign.Sumarya SJ (email: rmmarya@gmail.com atau rm_maryo@yahoo.com)
Catatan dari Romo Maryo: tulisan ini saya sampaikan kepada para guru SMA Kanisius, 20 Desember 2008

Thursday, December 11, 2008

Mencari Suara Tuhan dan Menggunakan Kehendak Bebas

Entah mengapa kelompok doa yang menggunakan sistem meditasi Lectio Divina selalu lebih mampu dengan cepat membuka kepala dan hatiku terhadap kata-kataNya daripada melakukannya sendirian di rumah. Mungkin juga karena bila dua atau tiga orang berkumpul dan berdoa maka Ia hadir disana.

Setelah sekian lama absen dari kelompok doa karena masalah waktu, hari ini saya kembali hadir bersama teman-teman. Bacaan hari ini cukup panjang yaitu Kisah Para Rasul 21: 1-34.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya dalam bacaan panjang ini. Roh Kudus dua kali memperingati Paulus untuk tidak pergi ke Yerusalem. Yang pertama melalui para murid yang menasehati supaya tidak ke Yerusalem, kemudian melalui nabi Agabus yang menggambarkan penderitaan yang harus dialami Paulus selama di Yerusalem. Tetapi Paulus menggunakan kehendak bebasnya dan memilih untuk tetap pergi ke Yerusalem. Ia berkata "...Sebab aku ini rela bukan saja utuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus." (Kis Ras 21:33) Dan karena dia berkeras maka yang lain menyerah dan berkata: "Jadilah kehendak Tuhan!"

Sekali lagi saya tertegun mencari "discernment". Ketika Roh Kudus memberikan nasehat, bagaimana kita tahu yang mana yang sungguh diinginkan Tuhan untuk kita pilih?
Secara teoritis saya tahu bahwa kuncinya terletak dalam doa. Relasi kita dengan Tuhan melalui doa akan menjadi jawaban atas pertanyaan kita sebelum membuat pilihan.

Pertanyaan yang terlontar secara tidak sengaja adalah: "Bila kita tahu kita akan memasuki lingkungan yang kurang sehat bagi kehidupan rohani kita, misalnya dunia kerja yang penuh korupsi, apakah kita tidak boleh mundur?" Jawabannya memang terletak pada kemampuan kita menakar kekuatan iman kita. Discernment bukan sekedar pilihan yang benar tapi juga prediksi akan hasil yang benar. Bila kita masih belum memiliki kemampuan untuk bertahan dalam lingkungan tersebut, maka janganlah masuk atau keluarlah segera! Tetapi bila memiliki kekuatan iman dan hubungan erat dengan Tuhan, bukan tidak mungkin kita memang diutus untuk bekerja di dalamnya dan memperbaiki keadaan yang ada.

Ya Tuhan,
Terima kasih atas kehendak bebas yang kami peroleh
Kasih dan karuniaMu menyelimuti kami dalam dinginnya dunia
cintaMu menghangatkan hati yang bingung mendua
Memampukan memberi pilihan yang terbaik
Tuhan,
Tolong bantu kami mencari kebenaranMu,
Bantu kami mengambil pilihan guna kemuliaan namaMu
dan bersiap menanggung setiap konsekuensinya.
Kekuatan cintaMu menopang kaki kami dalam melangkah
Memasuki jalan terang yang Kau tampilkan.
Amin.

Tuesday, November 18, 2008

Istri yang Cakap

Sebenarnya hari Minggu biasa XXXIII kemarin menekankan untuk setia dalam perkara kecil, sebuah permenungan yang menarik juga untuk disimak. Tetapi bacaan Amsal 31: 10-31 sekali lagi menarik perhatian saya.

Bacaan ini memang selalu menarik perhatian saya, tetapi seperti juga kata Amsal 27:17 "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya" (Saya lebih suka versi bahasa Inggrisnya "Iron is sharpened by iron, one person is sharpened by contact with another"). Perjumpaan dengan orang lain, kisah dari orang lain, senantiasa menajamkan pengertian pribadi saya terhadap ayat-ayat Kitab Suci.

Seorang teman pria yang masih muda dan lajang pernah bertanya mengenai selingkuh. Lucunya dia yang merasa gelisah takut mendapatkan istri yang selingkuh. Rasanya di dunia ini selingkuh masih mayoritas di tangan lelaki, tapi memang tidak sedikit kisah istri yang berselingkuh tertiup ke telinga. Saran saya kepadanya carilah istri yang takut akan Tuhan. Memang Amsal 31:30 mengatakan "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji." Waktu itu kami hanya bertukar pandang sebagai teman, dan saya juga tidak pernah ingat menghafal ayat. Tetapi sesungguhnya memang dengan dekat kepadaNya segala cobaan akan terlalui.

Dari ketakutan mendapat istri yang selingkuh, teman saya bertanya mengenai kemungkinan suami yang selingkuh. Menurut saya sendiri dengan dekat pada Tuhan maka kekuatan untuk menghadapi segala badai sudah ditangan.

Beberapa ayat yang menarik perhatian saya adalah Amsal 31:12 "Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya", Amsal 31: 25-26 "Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. Ia membuka mulutnya dengan hikmat pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya."

Kalau ayat-ayat yang lain membuat peran wanita terasa begitu kuat, begitu besar, dan begitu sentral di dalam keluarga, maka ayat yang ini juga menekankan kelembutan dan kebijaksanaan. Justru hal inilah yang tersulit untuk diterapkan dalam posisi yang begitu sentral. Ketika beban dan tanggung jawab yang begitu besar dan melelahkan terletak di pundak maka rasa lelah bisa mengasah lidah menjadi tajam bak sebilah pedang. Karena itu sekali lagi berkat Roh Kebijaksanaan sangat dibutuhkan para ibu rumah tangga. Sementara itu Roh Kudus hanya dapat kita terima bila kita memang bersedia menerima kedatanganNya.

Tuhan,
Bantu daku menjadi istri yang cakap
Yang lebih berharga dari mutiara yang mahal
Yang sanggup membawa keluarga mendekat kepadaMu
Dan sabar menanggung beban dan tanggung jawab dalam keluarga
Hal yang terkadang terlihat kecil dan sepele
Tetapi sebenarnya begitu besar dan berarti
Terima kasih atas Roh Kudus yang membantu menerangi jalanMu
yang meringankan kuk yang terpasang dengan hiburan dan pujian malaikat
Terima kasih Tuhan,
Maafkan bila terkadang aku jatuh
Bantu ku bangkit dan terus berjalan dalam jalanMu.
Amin.

Wednesday, November 05, 2008

Melayani

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan” (Flp 2:14-16a)

Kutipan dari renungan harian Romo Sumarya SJ itu menggelitik saya. Sama seperti Martha yang melayani Yesus tapi bersungut kepada Maria yang dianggapnya tidak membantu, seringkali saya juga mungkin kesal hati pada teman-teman yang hanya menunggu pelayanan. Saya lupa bahwa pelayanan itu saya lakukan bukan untuk orang-orang itu tapi untuk Tuhan. Beranikah saya bersungut-sungut kepada Tuhan?

Melayani keluarga merupakan sebuah pilihan yang sudah saya ambil, dan terkadang rasa lelah yang sama dengan pelayanan pada organisasi terasa. Mengapa pelayanan ini terasa satu arah? Saya lagi-lagi lupa bahwa pelayanan itu untuk Tuhan. Beranikah saya minta upah kepadaNya yang telah memberikan kehidupan ini?

Seorang ibu yang sudah sepuh menasihati saya, "Menjadi ibu itu sama dengan meninggalkan keinginan pribadi. Membuang jauh-jauh ego dan menggantikannya dengan pelayanan yang tidak terbatas. Dari semula melayani anak, lalu kemudian melayani anak dan cucu." Rasanya memang benar kita harus berani meninggalkan diri kita sendiri, melupakan keinginan kita sendiri, dan fokus kepada pelayanan itu sendiri. Hanya terkadang saya bertanya apakah pelayanan ini bukan cara saya melarikan diri dari rutinitas keluarga? Ataukah saya harus fokus hanya kepada keluarga? Mencari discernment di dalam hatiku, mencari Tuhan dalam pelayananku kepada keluarga dan kepada masyarakat. Tetapi saya bahagia karena sekarang Ia tidak lagi selalu diam, terkadang Ia menyentil, terkadang Ia memberi hadiah, terkadang Ia diam...membuatku sibuk menebak makna diamNya.

Tuhan,
Berilah Roh KudusMu sebagai penuntunku
Agar kumampu jalani jalanMu
dan daku kuat ikut memikul salibMu
Semoga tiada lagi gerutu dan sungut-sungut
Tapi ketulusan belaka yang berkobar di hati...
Amin.

Tuesday, November 04, 2008

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku ia tidak dapat menjadi muridKu.”

(Flp 2:12-18; Luk 14:25-33)

“Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya,jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:25-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan ‘Pesta Semua Anggota SJ Yang Mulia Bersama Kristus’ hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hidup terpanggil, entah hidup berkeluarga atau membujang/tidak nikah, antara lain menjadi imam, bruder atau suster, merupakan bentuk tanggapan prositif atas panggilan Tuhan, dan bagi orang Kristen/Katolik, yang beriman pada Yesus berarti ‘mengikuti Yesus dalam perjalananNya” dan secara konkret berani memikul salib serta ‘membenci orangtua, isteri/suami, anak-anak, saudara-saudari dan diri sendiri’ alias meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus serta menghayati sabda-sabda atau ajaran-ajaranNya di dalam hidup sehar-hari. Sebagai yang terpanggil kita diharapkan memiliki cara melihat, cara merasakan, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak terhadap segala sesuatu sesuai dengan cara Yesus, bukan cara sendiri alias menurut selera pribadi (Jawa: sak penake wudhele dewe). “Memikul salib” antara lain berarti setia pada panggilan dan tugas perutusan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Maka marilah kita mawas diri atas perjanjian-perjanjian yang telah kita buat atau kita ikhrarkan: janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji kepegawaian, janji pelajar, sumpah jabatan, dst.. Marilah kita kerahkan atau persembahkan seutuhnya diri kita maupun segala milik kita untuk menghayati atau melaksanakan janji-janji yang pernah kita buat atau ikhrarkan. Memang setia pada janji tidak akan pernah terlepas dari aneka macam bentuk perjuangan dan penderitaan sebagai konsewensi kesetiaan kita, sebagaimana telah dihayati oleh Yesus, Penyelamat Dunia, yang rela menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan dunia seisinya.

· “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan” (Flp 2:14-16a), demikian nasihat Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman, yang terpanggil. “Jangan bersungut-sungut dan berbantah-bantah” alias jangan mengeluh, menggerutu dalam menghayati atau melaksanakan panggilan dan tugas perutusan. Mengeluh dan menggerutu berarti berpikir negatif terhadap segala sesuatu, maka yang bersangkutan pasti tidak akan mampu menghayati dan melaksanakan panggilan dan tugas perutusan sebagaimana mestinya. Sebaliknya marilah kita senantiasa berpikir positif terhadap segala sesuatu, senantiasa melihat dan mengakui apa yang baik, mulia, indah dan luhur dalam segala sesuatu alias mengimani Penyelenggaraan Ilahi, karya Tuhan dalam segala sesuatu. Segala sesuatu ada dalam hadirat Tuhan atau Tuhan hidup dan berkarya di dalam segala sesuatu, itulah kebenaran iman yang harus kita hayati. Siapapun tidak menghayati kebenaran iman ini berarti ‘bengkok hatinya dan tersesat’, sebaliknya yang mengimani dan menghayati akan ‘bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia”. Sebagai orang beriman, kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun diharapkan menjadi ‘bintang yang bercahaya’, sehingga membantu siapapun dalam mengusahakan kebenaran-kebenaran dan menghayatinya.

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mzm 27:13-14)


Jakarta, 5 November 2008

Note: renungan sebelumnya, buka: www.ekaristi.org. Sebarkan ke teman lain

Kontributor: Ign.Sumarya SJ

Friday, October 24, 2008

Kesiapan Memasuki Kehidupan Kekal

Posting kali ini masih di seputar perpindahan dari kehidupan di dunia ini ke dalam kehidupan kekal di surga. Tanggal 21 Oktober ini saya baru saja ditinggalkan oleh nenek saya. Beliau mencapai usia 95 tahun 8 bulan. Usia yang cukup panjang untuk merasakan kegembiraan dan juga memikul salibnya di dunia.

Sepuluh tahun yang lalu nenek saya dari pihak ibu, yang kami panggil 'Amma' (artinya ibu), sudah pernah sakit parah. Waktu itu saya sedang hamil putra pertama saya. Tidak diduga saat itu nenek saya berhasil sembuh, malahan secara tiba-tiba opa saya (dari pihak ayah saya) yang meninggal dunia. Rencana Tuhan memang senantiasa menjadi misteri bagi manusia.

Ketika Amma baru sembuh dia sempat lumpuh, tapi keinginannya yang kuat untuk menimang cicit (anak saya) membuat dia sanggup duduk kembali dan akhirnya malah sanggup berjalan lagi dengan bantuan tongkat.

Beberapa tahun terakhir ini beliau kembali lumpuh, kali ini lumpuh total. Beliau tidak bisa lagi bangun dari tempat tidurnya. Tetapi saat-saat inilah rasanya imannya dikuatkan. Saya tidak ingat persis kapan Amma menerima sakramen baptis. Nama baptis yang dipilih mendekati nama aslinya, jadilah namanya Bernadette. Nama ini yang mendekatkannya pada sosok Bunda Maria. Salah satu lagu kesayangannya adalah "Di Lourdes...di gua...sunyi terpencil..., ... Ave, ave, ave Maria,ave,ave, ave Maria". Lagu ini berulang kali kami nyanyikan dalam acara perpisahan dengan raga duniawinya.

Rasanya pergulatan untuk menjadi Katolik memang pada awalnya masih dimilikinya. Tetapi semakin hari, terlihat beliau semakin gembira menyanyikan lagu Ave Maria dan semakin memaknai kehadiran prodiakon yang membawakan komuni suci. Kami berharap Bunda Maria membantu mengantarnya kepada Yesus dan kekekalan Bapa di Surga.

Saya rasa memang saat itu Amma sudah siap untuk memasuki kehidupan yang kekal. Terus terang saya sedikit kecolongan karena sudah terlalu sering beliau keluar masuk Rumah Sakit, sehingga ketika orang-orang menelpon minta didoakan, saya sama sekali tidak merasa saatnya sudah tiba. Padahal kami sudah bersiap sejak bulan Agustus kemarin, bahkan awal bulan ini Amma mengisi hari lebaran di Rumah Sakit Pertamina. Ketika saya sibuk menemani tamu dan kemudian juga melayat temanku Yanti, Amma sedikit dinomor duakan. Tetapi beliau bahkan masih memberi waktu kembarku untuk berulang tahun dahulu. Tanggal 21, yang di bulan April lekat dengan nama Ibu Kartini -salah satu lagu kesukaannya juga- menjadi tanggal dimana secara tiba-tiba dia meninggalkan kami.

Saya pernah bertanya-tanya "mengapa?" atas pilihanNya terhadap orang yang dipanggilNya memasuki kehidupan kekal. Mempertanyakan pilihan waktuNya..., ternyata bulan Oktober ini Tuhan memanggil temanku dan juga nenekku. Kepergian mereka berdua terasa mengejutkan, walaupun saya sudah tahu adanya kemungkinan itu. Semua ini mengingatkan kepada perintahnya: "Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, agar kalian tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."

Dari Lukas 12: 35-38 bisa kita baca bagaimana Yesus memperingati para murid untuk senantiasa berjaga-jaga. "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kalian seperti orang yang menanti-nantikan tuannya pulang dari pesta nikah, supaya jika tuannya datang dan mengetuk pintu, segera dapat dibukakan pintu..."

Tuhan,
Dalam kehilangan orang-orang terkasih ini aku tersadar
betapa masih banyak lubang yang belum tertutup di dalam hatiku
betapa masih belum siap hatiku memasuki Rumah Bapa yang suci
kesiapan yang pernah kupikir kumiliki.
Kini Dikau tunjukkan padaku
noda-noda yang masih perlu dibersihkan dan disapu
jalan-jalan yang perlu dihias untuk memuliakan namaMu
agar sungguh siap menerima hadirMu
dalam kekekalan hidup abadi yang Dikau janjikan.
Amin.

Rahasia Kematian

Satu setengah bulan yang lalu, warga lingkungan saya ada yang meninggal dunia di Rumah Sakit Pluit Jakarta. Saya termasuk tim sibuk, mulai dari mendampingi isterinya sampai mengiring mobil jenasah "Santo Yoseph" ke Rumah Duka & Kremasi Oasis Tangerang. Kebetulan saya mempunyai waktu yang lebih longgar sehingga ditunjuk sebagai tim jemput Romo yang akan memimpin misa tutup peti di Oasis.

Dalam kotbahnya yang singkat romo Laurent mengatakan biasanya orang selalu menanyakan: “Kenapa orang yang baik mati dalam usia muda, dan sebaliknya yang jahat umurnya panjang? Kenapa bayi tidak berdosa yang baru dilahirkan juga bisa mati?” Kebiasaan mengandai-andai tersebut menurut romo Laurent kurang bijak.

Sepanjang zaman manusia berusaha menyelidiki rahasia kematian, manusia ingin tahu terutama ada apa sesudah kematian.Tetapi yang jelas setiap manusia pada suatu saat nanti pasti mati, suatu ketetapan Allah yang tidak dapat dihindari.Kematian itu wajar, sebab tidak ada seorangpun yang dapat hidup kekal. Yang menjadi persoalan ada apa sesudah kematian itu.Hanya Kitab Suci yang bisa memberikan jawaban seperti ada tertulis: "…dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" ( Ibr.9:27 ). Jadi ada penghakiman sesudah kematian.

Persoalan sekarang ialah, mungkinkah kita dapat lolos dari penghakiman itu? Marilah kita perhatikan lebih dulu firman Tuhan tentang manusia: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak" (Roma 3:10). Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 6:23) Adakah engkau sangka bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?" (Roma 2:3b)

Ia (Tuhan) akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingannya sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman" ( Roma 2: 6-8).

"Langkah kaki orang orang yang dikasihiNya dilindungiNya, tetapi orang orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, bukan karena kekuatannya sendiri seorang berkuasa (1 Sam2:9)." Dari pernyataan ayat ayat firman Tuhan, kita pasti mengerti tidak seorangpun akan terlepas dari penghukuman/penghakiman. Tetapi karena kemurahanNya saja, Dia telah memberi kita jalan supaya selamat, yaitu dengan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi.

Kitab Suci dengan tegas mengatakan: "Dan keselamatan tidak ada dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehNya kita dapat diselamatkan" ( Kis4:12).

Kontributor: JM Kummala

Thursday, October 09, 2008

RencanaNya Tidak Selalu Bisa Diduga

Saya baru saja kehilangan seorang teman, tidak sangat dekat secara fisik karena kami hanya bertemu untuk berdoa, meditasi dalam FirmanNya, seminggu sekali. Itupun kalau jadwal sekolah anak-anak, dan jadwal pribadi kami memungkinkan.

Pertama kali bertemu dengannya, saya merasa dia orang yang sangat beruntung karena memiliki kebahagiaan yang begitu besar. Suami yang tampaknya senantiasa saling mendukung, anak-anak manis dan berprestasi, dan kegiatan sosial yang masih memampukan dia mengeksplorasi talentanya. Semuanya terlihat begitu sempurna, sampai tiba-tiba ‘gong’ kejutan berbunyi…KANKER!

Tapi kejutan itu sebenarnya terasa bagaikan kerikil tajam saja, ada kisah Rima Melati yang sembuh dari penyakit itu, ada kisah temanku yang lain yang juga sembuh dari kanker stadium yang lebih tinggi. Apalagi teman ini tidak pernah menunjukkan kecemasan, keloyoan, maupun tidak adanya harapan. Optimismenya selalu tinggi, kepercayaannya pada Tuhan begitu mendalam. Apapun yang Tuhan berikan pasti baik adanya.

Pernah kami menengoknya ketika dia baru menjalani kemoterapi dan terdengar kabar kondisinya buruk. Setiba di rumahnya, dengan wajah ceria ia menyambut dengan penuh tawa. Terus terang rombongan yang datang sedikit bingung karena memang bukan seperti itu biasanya sambutan yang diberikan oleh orang sakit yang sedang ditengok. Apalagi di balik kimononya dia masih terikat dengan kantong yang menampung sisa cairan yang keluar.

Kupikir ia pasti akan sembuh, Tuhan ingin menjadikannya pewarta yang lebih khusus lagi. Perjuangannya melawan sakitnya akan menjadikannya lebih mampu mendekati sesama yang menderita sakit untuk menguatkan mereka dan memberikan harapan kesembuhan bagi mereka.

Senyum cerianya memang merupakan satu hal yang ternyata mengesankan semua orang yang pernah kenal dengannya. Setidaknya begitulah kesan yang saya dengar dari sharing teman-temannya semalam, ketika misa peringatan tujuh hari berpulangnya teman terkasih ini. Senyum itu juga yang membuat foto yang dipajang di rumah duka juga begitu berkesan, karena memang seperti itulah dia yang kami kenal.

Suaminya berbagi kisah, kebingungan yang terutama dirasakannya adalah kehilangan teman berbagi cerita. Rasanya bukan hanya dia yang kehilangan hal itu. Hampir semua teman yang dekat dengannya akan merasakan hal yang sama. Entah darimana energi yang dimiliki teman ini untuk berbagi kasihNya…rasanya, pasti dari Roh Kudus! Sebuah kado terindah yang tiba-tiba diambil kembali…

Ketika saya membawa teman dari Tabloid Rumah ke rumahnya, saya juga belajar hal lain lagi. Saat itu dia bercerita dengan antusias tentang sejarah keluarga yang terekam di dalam kebunnya, atau tentang bunga-bunga dan tanaman lain yang juga dijadikan bibit, terasa benar betapa semuanya dikerjakan dengan cinta. Passion. Ia mengenal semuanya itu dengan hatinya, secara mendalam. Ia bukan sekedar menjadi ibu rumah tangga biasa, tetapi ia menjadi ibu yang profesional yang sungguh-sungguh menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan prioritas yang jelas.

Terus terang saya bingung bagaimana dia sanggup membagi waktu untuk semua kegiatannya, membagi waktu untuk semua teman-teman yang membutuhkan ‘curhat’ dengannya. Membagi waktu antara keluarga dan kegiatan pelayanan selalu menjadi kendala bagi semua yang bergiat melayani di luar rumah. Bahkan tiga atau empat bulan lalu dia masih sempat bersama rekan-rekan koornya memenangkan lomba se KAJ. Siapa yang menyangka dia akan pergi secepat ini…

Imannya sungguh luar biasa. “Jika kalian yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, betapa pula Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada siapapun yang meminta kepadaNya.” (Lukas 11:13). Hari ini saya membaca dari CafĂ© Rohani tulisan mengenai “Iman yang Gila”: “Abraham juga salah satu tokoh ‘gila’. Selain dikenal sebagai Bapa Bangsa-bangsa, ia adalah Bapa Iman. Pada usianya yang sudah renta, Tuhan memintanya pergi dari negeri kaum kerabatnya ke suatu tempat asing. Tak ada jaminan kepastian. Hanya berbekal janji Tuhan (yang belum sepenuhnya ia kenal), Abraham pun pergi.” Teman saya jauh lebih beruntung, dia sudah mengenalNya dengan baik, dan percaya sepenuhnya pada janji keselamatanNya. Tapi sebagai ibu, ada anak-anak yang senantiasa menjadi inti dari kehidupan kami di dunia. Pembelajaran yang pertama dan utama, katanya berasal dari rumah. Dan bila dua kaki penyangga yang berasal dari ibu tidak ada, bagaimana ke depannya? Temanku ini memiliki iman ‘yang gila’, yang membantunya percaya sepenuhnya akan penyalenggaraan Tuhan terhadap keluarga yang ditinggalkannya.

Selama ini saya menganggap kematian adalah kebahagiaan, perjumpaan denganNya, juga akhir dari penderitaan ragawi dan awal kehidupan yang kekal. Tapi kepergian teman saya ini menyentakkan saya, karena tiba-tiba saya tersadar betapa saya belum siap melepaskan keluarga saya, terutama anak-anak saya, betapa masih banyak dosa-dosa tersembunyi yang belum kubersihkan dari sudut-sudut hatiku. Siapkah aku pergi ke rumahNya? Ternyata tidak sesiap dugaan awalku…

Teman saya ini siap, dia mungkin mengulang kata-kata St. Theresia Lisieux, “Aku menyerah kepada Allah. Dengan kepercayaan buta aku berani meloncat ke dalam tangan Allah yang kuat dan menyelamatkan.”

Temanku sering berkata tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Perjumpaan kami mungkin termasuk di dalamnya. Kemarin juga sebenarnya saya sangat repot, asisten rumah tangga mudik lebaran dan belum juga kembali. Suami diminta pulang cepat untuk menjaga anak-anak selama saya menghadiri misa, tidak bisa pulang cepat. Ketika saya hampir melupakan acara di gereja itu, tiba-tiba saya diingatkan melalui blog ini (saya tidak sengaja masuk dan membaca tulisan terakhir saya). Akhirnya anak-anak ikut ke misa, sedikit mengganggu orang-orang yang duduk di sekitar kami mungkin. Tapi kemudian (setelah acara) menyaksikan mereka bermain dengan anak temanku yang terkecil, yang masih di Taman Kanak-Kanak, kelas yang sama dengan anak kembarku bila mereka bersekolah di sekolah yang sama, kurasa memang temanku menginginkan mereka datang bersamaku dan berkenalan dengan anaknya. Sebuah niatan yang selama ini tidak pernah kami tuntaskan.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, rencana Tuhan tidak selalu terang dan jelas di mata manusia. Misteri rencanaNya membutuhkan ‘kepercayaan buta’ untuk pasrah kepadaNya. Kalau anda secara kebetulan membaca tulisan ini, luangkan waktu sejenak untuk diam dan mencari sabdaNya di dalam hati anda, mungkin Dia ingin mengatakan sesuatu melalui hatimu. Demikian juga ketika membaca Kitab Suci, luangkan waktu sejenak untuk memeriksa batinmu karena disana ada pesanNya yang khusus hanya ditujukan padamu seorang!

Bapa yang baik,
Kupercaya Engkau memanggil anakMu dan memberinya tempat yang nyaman di sisiMu,
Tolonglah kami yang masih dalam perjalanan ziarah kami di bumi ini,
Berikanlah Roh Kudus sebagai penguat diri kami,
Hadirlah melalui diri kami untuk sesama yang membutuhkan hadirMu,
Kuatkan kami untuk senantiasa berkata dan menyelami perkataan:
“Bukan kehendakku, melainkan kehendakMu lah yang terjadi Tuhan.”
Amin.

Sunday, October 05, 2008

Surat untuk seorang teman di surga

Yanti yang terkasih,

Kupercaya dikau sudah bersama Bapa di surga. Bunda Maria menjemputmu di hari Jumat pertama di bulan Oktober ini. Satu hari setelah hari para malaikat Kudus. Menurut Romo Widyo kemarin, hari itu juga diapit oleh hari peringatan dari Santo Fransiscus dari Asisi yang juga menemui Bapa pada usia 44 tahun.

Keluargamu tampak tabah, tapi aku malah terisak terus. Pasti kau tersenyum melihat kebodohanku. Aku tahu, aku seharusnya tersenyum, dikau sudah bersamaNya. Dahulu Romo Ben Tentua OFM pernah menegur: "Jangan bersedih, almarhumah sudah di surga. Ayo kita menyanyi lagu semua bunga ikut bernyanyi..." Itu kejadian waktu omaku meninggal. Mungkin beliau juga tersenyum melihat kecengenganku.

Sebenarnya aku biasanya lebih cengeng di bioskop daripada di rumah duka. Entah mengapa dua hari ini aku begini..., bahkan ketika masih di Anyer aku juga bertanya-tanya kepada gelombang...mengapa? Kupikir Ia akan memakaimu di ladangNya yang baru, penguatan bagi orang-orang yang menderita sakit...Memang benar itu terjadi tapi hanya dalam hitungan singkat.

Mau tahu apa yang paling mengesankan di rumah duka? (Pertanyaan wajibmu kan?!) Yang paling berkesan adalah fotomu yang ceria tersenyum, wajah yang selalu kau tunjukkan pada kami. Bahkan dalam sakitmu, engkau masih terus menguatkan teman-temanmu. Wajah di foto itu begitu hidup, begitu ceria, dikelilingi bunga-bunga indah...

Masih ingat foto untuk hadiah Suster? Bunga-bunga yang dipeliharaNya dengan baik dengan caraNya. Aku sedang mencari kata-kata yang kukutip dahulu ketika foto kita menyembul.Aku tidak berhasil menemukan kutipan itu, tapi sebuah kutipan Kitab Suci menarik perhatianku: "In the beginning was the Word and the Word was with God, and the Word was God" (Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, Yoh 1:1) Mungkin engkau ingin kami tetap berjalan dengan Firman itu...bukankah itu pesan terakhir yang kau kirim padaku akhir Agustus kemarin? Ketika itu engkau mengirimkan SMS: "Kuatkanlah hatimu dalam segala tantangan serta persoalan dalam kehidupan karena Tuhan yang kita sembah dalam Yesus adalah Tuhan yang tidak pernah mengecewakan, rencananya indah Bagi kita (Yer 29:11 - Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan)."

Aku tidak habis berpikir dan mengingat dongeng kanak-kanak yang pernah kubaca. Betapa sang malaikat yang bertugas menjemput seorang ibu yang harus meninggalkan dua orang anaknya yang masih kecil menghadap Tuhan, merasa kasihan pada ibu itu. Malaikat melalaikan tugasnya, dan dia lalu terhukum harus tinggal di dunia. Ia kemudian menyaksikan bagaimana anak-anak itu tumbuh dengan baik.

Aku masih juga belum mampu menghayati lagu "Semua Baik", lagu itu mengalun bersama derai air mataku:
"Dari semula t'lah Kau tetapkan
Hidupku dalam tanganMu
Dalam rencanaMu Tuhan

Rencana indah t'lah Kau siapkan
Bagi masa depanku yang penuh harapan

S'mua baik, s'mua baik
Apa yang t'lah Kau perbuat
di dalam hidupku

S'mua baik
Sungguh teramat baik
Kau jadikan hidupku berarti."

Hidupmu sudah berarti, begitu banyak orang yang datang, masing-masing dengan kenangan istimewa mereka. Dalam waktu yang singkat engkau sudah menanam begitu banyak kenangan, begitu banyak kerinduan untuk mendekat pada FirmanNya sepertimu.

Lagu "Pelangi KasihNya" bagaikan nasehatmu yang sebenarnya sudah sangat sering kudengar:
"Apa yang kau alami kini
Mungkin tak dapat engkau mengerti
satu hal tanamkan di hati
Indah semua yang Tuhan b'ri

TuhanMu tidak akan memberi
Ular beracun pada yang minta roti
Cobaan yang engkau alami
Tak melebihi kekuatanmu

Tangan Tuhan sedang merenda
Suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti
Kau lihat pelangi kasihNya."

Lagu-lagu pujian yang kau panjatkan lewat kegiatan koor seringkali menjadi penguatan bagi kami juga. Sekarang bila tidak ada suster tidak ada lagi teman yang membantu memandu, sebulan terakhir kita tidak bersua karena kesibukan masing-masing. Satu hal yang kutahu bahwa engkau ingin dikenang ceria dan hidup, semuanya ingin kau simpan di dalam hati seperti Bunda Maria menyimpan perkara-perkara itu di dalam hatinya. Aku belum mampu seperti itu, dan aku juga seringkali memandang gelas setengah kosong...bukan setengah penuh sepertimu. Dan gelasmu memang tidak pernah kosong...ia selalu terisi dengan kasihNya.

Selamat jalan teman, engkau kembali ke RumahNya...rumahmu juga sekarang. Dahulu aku berharap engkau akan mengisi artikel di blog ini. Atau mungkin sebuah blog untuk menguatkan dan memberikan pencerahan pada orang lain. Tapi, kupercaya dengan doa, pencerahan dan penguatan itu tetap hadir...hadir dalam diri semua orang yang sudah memperolehnya melalui engkau sebagai alatNya. Setiap alat memiliki cara penggunaan yang berbeda, biarkan Dia yang mengaturnya, begitu barangkali pesanmu.

Bapa, terima kasih atas seorang teman yang begitu berarti. Terima kasih karena semua kekuatan yang Dikau berikan baginya selama penderitaannya di dunia dan bagi keluarga yang kini kehilangan orang tercintanya. Amin.