Lama sekali kelompok doa meditasi kitab suci kami tidak bertemu. Kesibukan dan permasalahan masing-masing menjadi alasan, belum lagi ada juga teman-teman yang sudah pindah dan tidak bersama kami lagi.
Hari Jumat kemarin dalam pertemuan semua energi seakan memenuhi kekosongan yang sebelumnya sehingga berbagai hal segera saja muncul dalam benakku.
Bacaan kemarin adalah Matius 13: 33-38, Yesus ditolak di Nazaret.
Yang pertama mengusikku adalah kenangan masa kecil ketika aku ikut Sekolah Minggu dari Ikatan Keluarga Kristen Protestan dan Katolik. Waktu itu aku terusik karena disebutkan Yesus memiliki adik-adik dan aku tidak tahu nama-nama mereka. Sebagai anak kecil agak bingung mengetahui bahwa Yesus memiliki saudara sementara aku tahu bahwa Bunda Maria adalah Perawan Suci, dan Yesus dikandung dari Roh Kudus. Pastur paroki yang kutemui kemudian menerangkan bahwa nama saudara-saudara Yesus di dalam Kitab Injil itu bukan berarti adik-adik, tetapi merupakan saudara-saudaranya yang dikenal orang dari Nazaret. Artinya saudara dalam arti bukan dari keluarga inti. Kemudian dalam perjalanan hidup saya mengenal kitab-kitab Apokrif. Sebenarnya saya belum membaca kitab-kitab apokrif, tapi terkadang membaca resensi atau komentar atas kitab itu. Ada satu kisah yang mengisahkan bahwa Yusuf kemudian menikah lagi dengan wanita lain sehingga Yesus memiliki saudara-saudara. Saya jadi ingin tahu bagaimana sebenarnya Gereja Katolik memandang kata 'saudara-saudara' itu. Ternyata tidak berubah dari yang pernah diterangkan padaku di masa kecil dahulu, saudara-saudara Yesus tidak berarti saudara kandung dalam artian keluarga inti.
Hal lain yang terasa menggelitik adalah perbedaan antara Matius, Markus (Mrk 6: 1-6a), dan Lukas (Luk 4: 16- 30) dalam mengisahkan kembali kisah Yesus ditolak di Nazaret. Lukas berkisah paling detail, dan membaca Injil Lukas membuat saya bertanya dalam hati, "Bukankah meminta hasil pencapaian sebelum mengakui prestasi sesorang adalah sangat manusiawi?" Sedari kecil kita diajarkan untuk membuktikan diri, memberikan prestasi dahulu baru bisa dipercaya orang lain. Memang kasusnya akan berbeda untuk iman, tetapi ketika kita masuk dalam kisah Injil ini dimana Yesus merupakan salah satu dari bagian kehidupan harian mereka, tentunya wajar mendapatkan perlakuan sama. Yang menarik dari Injil Lukas, terasa Yesus justru memancing kemarahan orang-orang tersebut dengan menyebutkan contoh-contoh bagaimana nabi-nabi tidak melakukan mujizat di tempat asalnya.
Kekurang-percayaan berubah menjadi kemarahan. Hal ini berbeda dengan pengalaman Simon Petrus (Mat 14: 22-33) yang mencoba berjalan di atas air, ketika imannya goyah Yesus hanya memarahinya "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" lalu menolongnya. Tapi satu hal langsung terbersit jelas disana. Simon Petrus berteriak minta tolong kepada Yesus! Orang yang percaya akan datang meminta...
Mintalah maka akan diberikan!
Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah namaMu
Datanglah kerajaanMu
Di atas bumi seperti di dalam surga
Berilah kami rejeki pada hari ini
dan ampunilah kesalahan kami
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat, Amin.
Blog ini semula adalah blog meditasi pribadi, sejak Paskah 2008 saya buka untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi. Sementara ini sesuai dengan namanya "Perjalanan menelusuri kata-kataNya" lebih mengarah ke pendalaman iman lewat meditasi kitab suci, tapi dengan masuknya kontributor lain terbuka kemungkinan bentuk posting yang berbeda.
Friday, July 31, 2009
Sunday, July 05, 2009
Masih Mencari Discernment
Mencari pilihan keputusan yang sesuai dengan kehendakNya masih juga terasa sulit. Sebuah pilihan yang muncul (bisa tiba-tiba, bisa sudah terprediksi) untuk diputuskan, dan serasa tidak memperoleh jawaban dari doa. Mencoba membuka Kitab Suci juga tidak terasa memberi jawaban yang membawa rasa damai, maka om gugel ikut dikaryakan. Kutemukan sebuah link yang menarik.
Dikatakan dalam sebuah tulisan di blog tersebut, tanda-tanda yang menguatkan adalah:
--- kesempatan bertemu dengan orang yang tepat
--- pemikiran atau keyakinan yang semakin berkembang;
--- sesuatu (kutipan) dari Kitab Suci yang teringat;
--- bagian dari percakapan yang teringat secara terus menerus;
--- sebuah kesempatan yang tiba-tiba datang,
--- semakin kuat kita ataupun orang sekitar kita menolaknya, semakin kuat ia "mencengkeram" kita.
Ada satu bagian lain yang menarik saya ketika membacanya, terutama karena pengalaman pribadi saya yang baru saja berlangsung. Di dalam blog tersebut dikatakan: "Mungkin terasa memalukan untuk mengakui bahwa kamu bukan orang yang dipilih Tuhan dan bukan kamu yang memiliki kekuasaan untuk bertindak. Tapi dalam kenyataannya, memang bukan kamu pemilik kekuasaan itu, itu adalah milik Tuhan, Tuhan yang mengerjakannya dan Ia bekerja melalui orang-orang selain dirimu ataupun kelompokmu."
Tulisan itu menyentakkan saya, karena sebelum membacanya saya baru saja tersadarkan akan arti meninggikan diri di hadapan Tuhan dan sesama. Ceritanya hari Minggu pagi itu lingkungan kami tugas koor lingkungan. Anggota koor lingkungan sangat sedikit sehingga saya merasa berkewajiban untuk hadir. Saat itu sedang liburan sekolah, saya dan anak-anak sedang menginap di rumah orang tua saya. Suami saya tetap di rumah, dan dia sudah berjanji akan menjemput saya, tetapi janjinya terus berubah...hingga akhirnya dia terkesan malas menjemput karena sudah malam. Merasa terikat kewajiban untuk menyumbangkan suara (walaupun sadar benar bahwa sebenarnya suara saya juga bukan suara yang indah) saya memaksakan suami untuk menjemput. Pulang ke rumah sudah hampir pukul sebelas malam, suasana rumah sangat berantakan sekali sehingga akhirnya saya membereskannya terlebih dahulu. Sebenarnya badan sudah letih apalagi saat itu saya sebenarnya sedang kurang sehat, tetapi saya paksakan karena keesokan harinya setelah misa saya akan kembali lagi ke rumah orang tua. Akhirnya pagi harinya saya terlambat bangun...Dalam kondisi terburu-buru saya tetap memaksakan pergi. Mungkin baru lima atau sepuluh menit lewat dari pukul enam pagi ketika saya tiba di gereja, tetapi tentu saja saya malu untuk maju ke tempat koor di bagian depan gereja. Dari tempat duduk umat saya mendengarkan koor lingkungan kami. Ada beberapa bala bantuan tambahan dari lingkungan tetangga, tetapi tetap saja jumlah personilnya tidak banyak. Tapi, dari bangku umat terasa enak saja didengar. Tidak sempurna, tapi tidak memalukan juga. Ketika itu saya merasa tersentil, rasanya tanpa kehadiran saya juga koor lingkungan terus berjalan sesuai dengan tugasnya. Tuhan sudah mengatur semuanya.
Saya memaksakan diri untuk memuliakan namaNya, tetapi tidak memikirkan diri sendiri dan kehendak suami. Dia terasa menegur. Memang terkadang tugas pelayanan terasa sebagai beban. Tidak banyak pekerja yang mau ikut serta memberikan pelayanan. Tapi Dia seakan menegur saya untuk tidak terlalu merasa menjadi "orang penting" yang sangat dibutuhkan Tuhan. Bukan saya yang memilihNya, dan bukan saya yang membantu pelayananNya melainkan Ia yang memilihku dan menguatkanku dalam pelayanan untukNya.
Karena itu membaca tulisan di blog tersebut benar-benar menyentak kesadaranku. Dari link di atas, ada beberapa pertanyaan untuk membantu memperoleh discernment, pertanyaan ini harus dijawab dengan jujur untuk memperoleh jawaban yang benar-benar murni.
(1) Pernahkah anda mengalami perasaan mengira anda sedang dituntun oleh Tuhan untuk melakukan sesuatu, dan akhirnya ternyata tidak demikian adanya? Apa akibatnya? Kalau melihat kembali kepada kejadian itu, hal apa yang seharusnya memberikanmu peringatan sebelumnya?
(2) Dalam hal-hal apa saja kau mencari petunjuk dari Tuhan? Apabila ada hal yang mengejutkan pada akhirnya, apakah itu?
(3) Pernahkah kau menggunakan kata sakti "Kehendak Tuhan" sebagai topeng dari ide atau rencanamu pribadi? Apakah kau sedang melaksanakan hal yang sama sekarang? Apa yang mengarahkanmu melakukannya? (Tolong, jangan berkata atau berpikir bahwa orang lain juga melakukannya; itu hanya akan membuat permainan tuduh menuduh. Bicaralah untuk dirimu sendiri).
(4) Baca 1 Tesalonika 5:19-21; "Janganlah padamkan Roh." dan "Ujilah segala sesuatu".
* Bagaimana semuanya berjalan beriringan?
* Apakah terlihat seakan satu dengan yang lain saling bertentangan?
* Pernahkah terlibat dalam sebuah aktivitas kerohanian dimana seseorang terbiasa menilai orang lain tidak bekerja? Bagaimana? Kenapa? Apakah kamu mengambil tindakan untuk mengatasinya?
(5) Catatlah orang-orang yang paling mungkin kau datangi ketika kau akan membuat keputusan yang sulit. Hal apa dari mereka ini yang membuatmu ingin datang kepada mereka?
(6) Untuk umat Gereja dan anggota lingkungan: bagaimana umat dalam lingkungan/Gereja saling menggunakan sebagai cara untuk memperoleh discernment?
(7) Untuk kelompok: cobalah menggunakan role play. Cari masalah yang mungkin menarik perhatian anggota kelompok, dan bertindaklah sebagai orang yang akan mengambil keputusan. Buatlah dirimu mengambil keputusan melalui proses discernment (kalau kau melakukannya dengan benar maka membutuhkan beberapa kali pertemuan untuk mengambil keputusan itu.) Teruslah mencari jalan keluar sampai tercapai sebuah konsensus, atau tercipta jalan keluar yang memberikan rasa damai.
Begitulah kira-kira panduan yang bisa digunakan untuk mencari discernment.
Ya Allah,
kehendakMu seringkali terluput dari asaku
Dan jalanMu seringkali memutar melingkar jalan yang kulirik
Tetapi kurela menjalaninya bila itu kehendakMu,
Hanya terkadang aku tidak jua mampu mencerna kehendak siapakah itu...
KehendakMu? Kehendak ragaku?
Bimbing daku ya Bapa...
Ke dalam tuntunanMu aku berserah...
Terima kasih Bapa.
Amin
Dikatakan dalam sebuah tulisan di blog tersebut, tanda-tanda yang menguatkan adalah:
--- kesempatan bertemu dengan orang yang tepat
--- pemikiran atau keyakinan yang semakin berkembang;
--- sesuatu (kutipan) dari Kitab Suci yang teringat;
--- bagian dari percakapan yang teringat secara terus menerus;
--- sebuah kesempatan yang tiba-tiba datang,
--- semakin kuat kita ataupun orang sekitar kita menolaknya, semakin kuat ia "mencengkeram" kita.
Ada satu bagian lain yang menarik saya ketika membacanya, terutama karena pengalaman pribadi saya yang baru saja berlangsung. Di dalam blog tersebut dikatakan: "Mungkin terasa memalukan untuk mengakui bahwa kamu bukan orang yang dipilih Tuhan dan bukan kamu yang memiliki kekuasaan untuk bertindak. Tapi dalam kenyataannya, memang bukan kamu pemilik kekuasaan itu, itu adalah milik Tuhan, Tuhan yang mengerjakannya dan Ia bekerja melalui orang-orang selain dirimu ataupun kelompokmu."
Tulisan itu menyentakkan saya, karena sebelum membacanya saya baru saja tersadarkan akan arti meninggikan diri di hadapan Tuhan dan sesama. Ceritanya hari Minggu pagi itu lingkungan kami tugas koor lingkungan. Anggota koor lingkungan sangat sedikit sehingga saya merasa berkewajiban untuk hadir. Saat itu sedang liburan sekolah, saya dan anak-anak sedang menginap di rumah orang tua saya. Suami saya tetap di rumah, dan dia sudah berjanji akan menjemput saya, tetapi janjinya terus berubah...hingga akhirnya dia terkesan malas menjemput karena sudah malam. Merasa terikat kewajiban untuk menyumbangkan suara (walaupun sadar benar bahwa sebenarnya suara saya juga bukan suara yang indah) saya memaksakan suami untuk menjemput. Pulang ke rumah sudah hampir pukul sebelas malam, suasana rumah sangat berantakan sekali sehingga akhirnya saya membereskannya terlebih dahulu. Sebenarnya badan sudah letih apalagi saat itu saya sebenarnya sedang kurang sehat, tetapi saya paksakan karena keesokan harinya setelah misa saya akan kembali lagi ke rumah orang tua. Akhirnya pagi harinya saya terlambat bangun...Dalam kondisi terburu-buru saya tetap memaksakan pergi. Mungkin baru lima atau sepuluh menit lewat dari pukul enam pagi ketika saya tiba di gereja, tetapi tentu saja saya malu untuk maju ke tempat koor di bagian depan gereja. Dari tempat duduk umat saya mendengarkan koor lingkungan kami. Ada beberapa bala bantuan tambahan dari lingkungan tetangga, tetapi tetap saja jumlah personilnya tidak banyak. Tapi, dari bangku umat terasa enak saja didengar. Tidak sempurna, tapi tidak memalukan juga. Ketika itu saya merasa tersentil, rasanya tanpa kehadiran saya juga koor lingkungan terus berjalan sesuai dengan tugasnya. Tuhan sudah mengatur semuanya.
Saya memaksakan diri untuk memuliakan namaNya, tetapi tidak memikirkan diri sendiri dan kehendak suami. Dia terasa menegur. Memang terkadang tugas pelayanan terasa sebagai beban. Tidak banyak pekerja yang mau ikut serta memberikan pelayanan. Tapi Dia seakan menegur saya untuk tidak terlalu merasa menjadi "orang penting" yang sangat dibutuhkan Tuhan. Bukan saya yang memilihNya, dan bukan saya yang membantu pelayananNya melainkan Ia yang memilihku dan menguatkanku dalam pelayanan untukNya.
Karena itu membaca tulisan di blog tersebut benar-benar menyentak kesadaranku. Dari link di atas, ada beberapa pertanyaan untuk membantu memperoleh discernment, pertanyaan ini harus dijawab dengan jujur untuk memperoleh jawaban yang benar-benar murni.
(1) Pernahkah anda mengalami perasaan mengira anda sedang dituntun oleh Tuhan untuk melakukan sesuatu, dan akhirnya ternyata tidak demikian adanya? Apa akibatnya? Kalau melihat kembali kepada kejadian itu, hal apa yang seharusnya memberikanmu peringatan sebelumnya?
(2) Dalam hal-hal apa saja kau mencari petunjuk dari Tuhan? Apabila ada hal yang mengejutkan pada akhirnya, apakah itu?
(3) Pernahkah kau menggunakan kata sakti "Kehendak Tuhan" sebagai topeng dari ide atau rencanamu pribadi? Apakah kau sedang melaksanakan hal yang sama sekarang? Apa yang mengarahkanmu melakukannya? (Tolong, jangan berkata atau berpikir bahwa orang lain juga melakukannya; itu hanya akan membuat permainan tuduh menuduh. Bicaralah untuk dirimu sendiri).
(4) Baca 1 Tesalonika 5:19-21; "Janganlah padamkan Roh." dan "Ujilah segala sesuatu".
* Bagaimana semuanya berjalan beriringan?
* Apakah terlihat seakan satu dengan yang lain saling bertentangan?
* Pernahkah terlibat dalam sebuah aktivitas kerohanian dimana seseorang terbiasa menilai orang lain tidak bekerja? Bagaimana? Kenapa? Apakah kamu mengambil tindakan untuk mengatasinya?
(5) Catatlah orang-orang yang paling mungkin kau datangi ketika kau akan membuat keputusan yang sulit. Hal apa dari mereka ini yang membuatmu ingin datang kepada mereka?
(6) Untuk umat Gereja dan anggota lingkungan: bagaimana umat dalam lingkungan/Gereja saling menggunakan sebagai cara untuk memperoleh discernment?
(7) Untuk kelompok: cobalah menggunakan role play. Cari masalah yang mungkin menarik perhatian anggota kelompok, dan bertindaklah sebagai orang yang akan mengambil keputusan. Buatlah dirimu mengambil keputusan melalui proses discernment (kalau kau melakukannya dengan benar maka membutuhkan beberapa kali pertemuan untuk mengambil keputusan itu.) Teruslah mencari jalan keluar sampai tercapai sebuah konsensus, atau tercipta jalan keluar yang memberikan rasa damai.
Begitulah kira-kira panduan yang bisa digunakan untuk mencari discernment.
Ya Allah,
kehendakMu seringkali terluput dari asaku
Dan jalanMu seringkali memutar melingkar jalan yang kulirik
Tetapi kurela menjalaninya bila itu kehendakMu,
Hanya terkadang aku tidak jua mampu mencerna kehendak siapakah itu...
KehendakMu? Kehendak ragaku?
Bimbing daku ya Bapa...
Ke dalam tuntunanMu aku berserah...
Terima kasih Bapa.
Amin
Friday, July 03, 2009
Misa Anak
Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu, dan janganlah menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah. (Luk 18: 16)
Selain Bina Iman Anak, maka anak bisa diajak datang kepadaNya melalui misa anak. Komisi Liturgi KWI mempunyai sebuah blog khusus untuk Seksi Liturgi Anak, yang bisa dilihat disini.
Benih yang ditanamkan pada tanah yang subur akan berbuah banyak dan kuat akarnya. Semoga anak-anak bisa lebih mengenali ajakanNya dan bisa datang kepadaNya dengan penuh sukacita.
Selain Bina Iman Anak, maka anak bisa diajak datang kepadaNya melalui misa anak. Komisi Liturgi KWI mempunyai sebuah blog khusus untuk Seksi Liturgi Anak, yang bisa dilihat disini.
Benih yang ditanamkan pada tanah yang subur akan berbuah banyak dan kuat akarnya. Semoga anak-anak bisa lebih mengenali ajakanNya dan bisa datang kepadaNya dengan penuh sukacita.
Sunday, June 28, 2009
"Talita Kum"
Maut tidak dibuat oleh Allah, dan Ia pun tidak bergembira karena yang hidup musnah lenyap. Demikian pembuka Bacaan I misa hari ini diambil dari Kitab Kebijaksanaan (1:13-15; 2:23-24).
Karena setan maka maut masuk ke dunia. Kehadiran Yesus adalah untuk mengalahkan maut, menyelamatkan umat manusia dari cengkeraman abadi kematian. Dalam Injil Markus 5:21; 24; 35b-43, Yesus berkata kepada anak dari Yairus yang sudah meninggal: "Talita Kum", artinya: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
Setiap kali dosa mendekati kita maka jiwa kita akan semakin mendekati kematian yang abadi. Ketika karier terjerembab, ketika keuangan kacau balau, ketika masalah keluarga membukit, bahkan kematian anggota keluarga, semuanya terasa memberikan kematian kecil dalam diri kita. Tetapi kita tidak akan mati bila kita percaya. "Jangan takut, percaya saja!" demikian kata Yesus kepada Yairus.
Inilah yang patut kita ingat setiap kali mendapati masalah berat yang seakan mematikan segala rasa dan keinginan hidup, "Jangan takut, percaya saja!"
"Talita Kum", Dia akan berseru membangunkan kita dan menyuruh kita berjalan. Dia meminta orang memberi anak yang baru bangun itu makan, Dia juga meminta orang untuk membantu kita yang dimintanya bangun. Pada posisi siapakah kita saat ini berada? Pada posisi Yairus dan istrinya? Pada posisi tetangga dan orang-orang yang berkerumun? Atau malahan pada posisi anak Yairus?
Yesus hanya bisa memberikan mukjizatnya bila yang meminta sungguh percaya. Tuhan tidak akan bekerja sendirian, Ia selalu meminta manusia untuk bangun dan ikut bekerja. Yairus dan istrinya percaya dan mengikuti langkah Yesus, orang-orang yang tidak percaya diusirNya, anak Yairus bangun dan berjalan.
Usaha untuk bangkit dan meraih kembali kebahagiaan adalah usaha yang diinginkan Tuhan. Manusia berhak atas kebahagiaan, dan dengan percaya kepadaNya niscaya kedamaian akan menjadi sumber kebahagiaan bagi kita. Dengan percaya kepadaNya dan melangkah sesuai dengan kehendakNya maka kita akan dibebaskan dari kematian abadi. Manusia harus makan dan berjuang mengisi kembali kehidupannya, tetapi sabdaNya sudah membangkitkan...
Tuhan,
terima kasih karena mau meminta kami untuk bangun
terima kasih karena memberi kami kekuatan untuk bangun
terima kasih karena menguatkan rasa kepercayaan kami
jadilah pelita dalam hati kami dan sinari kami dalam keabadian cintaMu,
amin.
Karena setan maka maut masuk ke dunia. Kehadiran Yesus adalah untuk mengalahkan maut, menyelamatkan umat manusia dari cengkeraman abadi kematian. Dalam Injil Markus 5:21; 24; 35b-43, Yesus berkata kepada anak dari Yairus yang sudah meninggal: "Talita Kum", artinya: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
Setiap kali dosa mendekati kita maka jiwa kita akan semakin mendekati kematian yang abadi. Ketika karier terjerembab, ketika keuangan kacau balau, ketika masalah keluarga membukit, bahkan kematian anggota keluarga, semuanya terasa memberikan kematian kecil dalam diri kita. Tetapi kita tidak akan mati bila kita percaya. "Jangan takut, percaya saja!" demikian kata Yesus kepada Yairus.
Inilah yang patut kita ingat setiap kali mendapati masalah berat yang seakan mematikan segala rasa dan keinginan hidup, "Jangan takut, percaya saja!"
"Talita Kum", Dia akan berseru membangunkan kita dan menyuruh kita berjalan. Dia meminta orang memberi anak yang baru bangun itu makan, Dia juga meminta orang untuk membantu kita yang dimintanya bangun. Pada posisi siapakah kita saat ini berada? Pada posisi Yairus dan istrinya? Pada posisi tetangga dan orang-orang yang berkerumun? Atau malahan pada posisi anak Yairus?
Yesus hanya bisa memberikan mukjizatnya bila yang meminta sungguh percaya. Tuhan tidak akan bekerja sendirian, Ia selalu meminta manusia untuk bangun dan ikut bekerja. Yairus dan istrinya percaya dan mengikuti langkah Yesus, orang-orang yang tidak percaya diusirNya, anak Yairus bangun dan berjalan.
Usaha untuk bangkit dan meraih kembali kebahagiaan adalah usaha yang diinginkan Tuhan. Manusia berhak atas kebahagiaan, dan dengan percaya kepadaNya niscaya kedamaian akan menjadi sumber kebahagiaan bagi kita. Dengan percaya kepadaNya dan melangkah sesuai dengan kehendakNya maka kita akan dibebaskan dari kematian abadi. Manusia harus makan dan berjuang mengisi kembali kehidupannya, tetapi sabdaNya sudah membangkitkan...
Tuhan,
terima kasih karena mau meminta kami untuk bangun
terima kasih karena memberi kami kekuatan untuk bangun
terima kasih karena menguatkan rasa kepercayaan kami
jadilah pelita dalam hati kami dan sinari kami dalam keabadian cintaMu,
amin.
Saturday, June 20, 2009
19 Juni 2009 - 19 Juni 2010, Tahun Imam
Minggu lalu telah dibacakan Surat Gembala menghantar Tahun Imam sebagai ganti kothbah di gereja dalam lingkungan Keuskupan Agung Jakarta.
Tanggal 19 Juni adalah pesta Hati Yesus yang Mahakudus, yang telah ditetapkan menjadi Hari Doa sedunia untuk kesucian para imam. Di Roma diadakan Ibadat Sore Agung dipimpin oleh Paus Benedictus XVI sebagai acara pembukaan Tahun Imam yang bertepatan dengan 150 tahun wafatnya Santo Yohanes Maria Vianney, pelindung semua imam di dunia.
Sementara kita seringkali meminta para imam mendoakan kita, tentunya kita juga perlu banyak berdoa bagi para imam. Banyak kisah tentang imam yang meninggalkan panggilannya, atau yang tergelincir dan menistakan janji imamatnya. Tidak jarang umat menjadi enggan ke Gereja karena melihat permasalahan dari imam.
Seorang umat yang jeli dengan klipping majalah Hidup, masih mengingat edisi no 11 tahun ke-61 bertanggal 18 Maret 2007. Ketika itu gambar depannya adalah "Uskup Calonkan Diri Jadi Presiden". Uskup yang mbalelo terhadap hirarki itu adalah Fernando Lugo, yang kemudian berhasil menjadi Presiden Uruguay. Ketika itu sebagai pesan kepada orang Kristen yang merasa kecewa karena ia melepaskan jabatan Uskup untuk menjadi Presiden, Lugo mejawab: "Saya memahami kekecewaan itu. Tetapi ingatlah, Yesus juga mengadakan pilihan tindakan semasa hidupNya. Sebuah tindakan yang barangkali mengecewakan para pemimpin, tetapi tidak sama halnya dengan orang-orang sederhana. Saya tidak menjanjikan apa-apa. Tetapi, izinkanlah saya untuk melayani Tuhan dari sudut lain." Lebih lanjut ia menambahkan, " Saya menerima penolakan dari Gereja Katolik, karena hal itu benar dan sesuai hukum Gereja, bahwa tahbisan tidak bisa dihapus. Maka izinkanlah saya tetap menjadi uskup. Tetapi katedral saya bukan lagi sebuah Gereja Keuskupan. Kini seluruh negara adalah katedral saya." Judul artikel dimana wawancara ini terkutip adalah "Kebenaran Akan Meraja".
Kebenaran yang sebenarnya akhirnya terkuak, kini Hidup no 65, tahun ke-63, terbitan tanggal 21 Juni 2009 memuat "Terkuaknya Skandal Fernando Lugo". Keberadaan anak yang di luar pernikahan yang diakui Presiden Lugo adalah anak yang lahir setelah ia melepaskan jabatan Uskup pada tahun 2005. Bagi saya tidak penting mempersoalkan kebenaran isu skandal yang lain, tetapi yang penting adalah kewajiban umat untuk ikut menjaga panggilan Imamat.
Jatuhnya seseorang ke dalam kelemahan daging adalah masalah setiap manusia, bahkan juga masalah para Imam yang telah menerima panggilan khususNya.
Keinginan Lugo untuk menjadi presiden perlu dipertanyakan apakah semata untuk memperbaiki kehidupan masyarakat banyak karena tidak adanya sosok pemimpin kuat yang dapat dipercaya rakyat, atau sekedar memanjakan keinginan daging yang sangat kuat.
Proses discernment dalam setiap pengambilan keputusan dan tindakan dalam kehidupan ini merupakan perjuangan tanpa henti yang memerlukan banyak doa. Bukan sekedar doa pribadi, tetapi juga dukungan doa seluruh umat Gereja.
Ketika tulisan ini selesai tertulis, terbaca sebuah renungan harian dari Romo Indra Sanjaya PR (masih dari majalah Hidup no 25) berjudul "Kothbah di Bukit" (Mat7: 1-5) "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi" Renungan yang seharusnya untuk hari Senin besok ini mengingatkan betapa kita tidak bisa menghakimi orang lain. Penghakiman yang terbesar akan datang dari pengadilan Allah. Betapa kita perlu bertindak adil dan obyektif dalam memberikan penilaian atau penghakiman. Tulisan di atas bukan dari hasil meditasi, entah apakah tulisan di atas merupakan penghakiman atau ajakan untuk refleksi diri. Bagi saya saat ini tulisan di atas lebih merupakan sarana refleksi diri, refleksi kelemahan manusia, dan refleksi bagi Gereja...
Karena itu daripada menghakimi orang lain dan mencemari hati kita dengan pikiran dan perkataan yang sia-sia, lebih baik kita saling mendoakan agar tidak terjatuh ke dalam godaan setan yang senantiasa menggoda dengan kesenangan duniawi dan kemegahan diri yang semu.
Bapa yang Mahabaik,
Bimbing kami umatMu dalam mencari Jalan Kebenaran,
Berkati kami dengan rahmatMu,
Agar setia dalam pelayanan yang Kau minta dari kami,
Bapa, panggilanMu seringkali sulit terdengar,
Atau semangatnya seringkali mengecil bagai api yang tertiup angin.
Khusus bagi para imam, dampingilah mereka...
Dari sejak Engkau memanggil mereka untuk menggembala di dunia ini,
Hingga menjaga api kesetiaan mereka,
Ingatkan mereka akan domba-domba yang tercerai berai bila gembala lengah,
Dalam kegelapan, terangilah hati para gembala
Agar mampu menguatkan diri dalam tugas pelayanan mereka.
Amin.
Tanggal 19 Juni adalah pesta Hati Yesus yang Mahakudus, yang telah ditetapkan menjadi Hari Doa sedunia untuk kesucian para imam. Di Roma diadakan Ibadat Sore Agung dipimpin oleh Paus Benedictus XVI sebagai acara pembukaan Tahun Imam yang bertepatan dengan 150 tahun wafatnya Santo Yohanes Maria Vianney, pelindung semua imam di dunia.
Sementara kita seringkali meminta para imam mendoakan kita, tentunya kita juga perlu banyak berdoa bagi para imam. Banyak kisah tentang imam yang meninggalkan panggilannya, atau yang tergelincir dan menistakan janji imamatnya. Tidak jarang umat menjadi enggan ke Gereja karena melihat permasalahan dari imam.
Seorang umat yang jeli dengan klipping majalah Hidup, masih mengingat edisi no 11 tahun ke-61 bertanggal 18 Maret 2007. Ketika itu gambar depannya adalah "Uskup Calonkan Diri Jadi Presiden". Uskup yang mbalelo terhadap hirarki itu adalah Fernando Lugo, yang kemudian berhasil menjadi Presiden Uruguay. Ketika itu sebagai pesan kepada orang Kristen yang merasa kecewa karena ia melepaskan jabatan Uskup untuk menjadi Presiden, Lugo mejawab: "Saya memahami kekecewaan itu. Tetapi ingatlah, Yesus juga mengadakan pilihan tindakan semasa hidupNya. Sebuah tindakan yang barangkali mengecewakan para pemimpin, tetapi tidak sama halnya dengan orang-orang sederhana. Saya tidak menjanjikan apa-apa. Tetapi, izinkanlah saya untuk melayani Tuhan dari sudut lain." Lebih lanjut ia menambahkan, " Saya menerima penolakan dari Gereja Katolik, karena hal itu benar dan sesuai hukum Gereja, bahwa tahbisan tidak bisa dihapus. Maka izinkanlah saya tetap menjadi uskup. Tetapi katedral saya bukan lagi sebuah Gereja Keuskupan. Kini seluruh negara adalah katedral saya." Judul artikel dimana wawancara ini terkutip adalah "Kebenaran Akan Meraja".
Kebenaran yang sebenarnya akhirnya terkuak, kini Hidup no 65, tahun ke-63, terbitan tanggal 21 Juni 2009 memuat "Terkuaknya Skandal Fernando Lugo". Keberadaan anak yang di luar pernikahan yang diakui Presiden Lugo adalah anak yang lahir setelah ia melepaskan jabatan Uskup pada tahun 2005. Bagi saya tidak penting mempersoalkan kebenaran isu skandal yang lain, tetapi yang penting adalah kewajiban umat untuk ikut menjaga panggilan Imamat.
Jatuhnya seseorang ke dalam kelemahan daging adalah masalah setiap manusia, bahkan juga masalah para Imam yang telah menerima panggilan khususNya.
Keinginan Lugo untuk menjadi presiden perlu dipertanyakan apakah semata untuk memperbaiki kehidupan masyarakat banyak karena tidak adanya sosok pemimpin kuat yang dapat dipercaya rakyat, atau sekedar memanjakan keinginan daging yang sangat kuat.
Proses discernment dalam setiap pengambilan keputusan dan tindakan dalam kehidupan ini merupakan perjuangan tanpa henti yang memerlukan banyak doa. Bukan sekedar doa pribadi, tetapi juga dukungan doa seluruh umat Gereja.
Ketika tulisan ini selesai tertulis, terbaca sebuah renungan harian dari Romo Indra Sanjaya PR (masih dari majalah Hidup no 25) berjudul "Kothbah di Bukit" (Mat7: 1-5) "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi" Renungan yang seharusnya untuk hari Senin besok ini mengingatkan betapa kita tidak bisa menghakimi orang lain. Penghakiman yang terbesar akan datang dari pengadilan Allah. Betapa kita perlu bertindak adil dan obyektif dalam memberikan penilaian atau penghakiman. Tulisan di atas bukan dari hasil meditasi, entah apakah tulisan di atas merupakan penghakiman atau ajakan untuk refleksi diri. Bagi saya saat ini tulisan di atas lebih merupakan sarana refleksi diri, refleksi kelemahan manusia, dan refleksi bagi Gereja...
Karena itu daripada menghakimi orang lain dan mencemari hati kita dengan pikiran dan perkataan yang sia-sia, lebih baik kita saling mendoakan agar tidak terjatuh ke dalam godaan setan yang senantiasa menggoda dengan kesenangan duniawi dan kemegahan diri yang semu.
Bapa yang Mahabaik,
Bimbing kami umatMu dalam mencari Jalan Kebenaran,
Berkati kami dengan rahmatMu,
Agar setia dalam pelayanan yang Kau minta dari kami,
Bapa, panggilanMu seringkali sulit terdengar,
Atau semangatnya seringkali mengecil bagai api yang tertiup angin.
Khusus bagi para imam, dampingilah mereka...
Dari sejak Engkau memanggil mereka untuk menggembala di dunia ini,
Hingga menjaga api kesetiaan mereka,
Ingatkan mereka akan domba-domba yang tercerai berai bila gembala lengah,
Dalam kegelapan, terangilah hati para gembala
Agar mampu menguatkan diri dalam tugas pelayanan mereka.
Amin.
Friday, June 12, 2009
Mengosongkan Diri
Sebenarnya keheningan dan waktu belum menjadi "hadiah" bagi saya. Tetapi memiliki blog rupanya menjadikan suatu panggilan sendiri untuk menuliskan sesuatu hal yang memenuhi hati dan pikiran.
Dari Injil Matius 10: 9-10, "Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut, atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapatkan upahnya."
Kutipan yang mendasari kaul kemiskinan para biarawan ini terngiang-ngiang di telinga saya beberapa hari ini.
Ketika mendengarnya dalam suatu acara wilayah beberapa hari lalu, entah mengapa yang terbersit justru sedikit di luar konteks. Yang terpikir oleh saya adalah alasan orang menunda ikut bergerak dalam bidang pewartaan. Belum cukup modal (pengetahuan maupun waktu) biasanya menjadi alasan mendasar. Tetapi tampaknya modal ini akan dicukupkan oleh Tuhan selama kita dengan rela dan sepenuh hati siap menjadi alat pewartaanNya.
Kemudian sebuah tulisan mengenai pengosongan diri membawa saya pada perenungan yang lain. Dalam mencari "discernment" seringkali kita terkacaukan oleh keinginan pribadi ataupun kebanggaan diri pribadi. Bagaimana mengosongkan diri dan membiarkan kehendak Tuhan semata yang bekerja melalui kita, adalah hal tersulit yang perlu dituju.
Satu doa yang senantiasa kupanjatkan melalui Santo Antonius dari Padua adalah keinginan untuk tidak kehilangan diriku sendiri (baca: jiwaku). Waktu dahulu pertama kali membaca Injil Matius di atas, terpikirkan bahwa lebih mudah bagi orang selibat untuk tidak memikirkan harta duniawi, tetapi perenungan lebih mendalam membawa saya pada kenyataan bahwa setiap orang memiliki jalan salib masing-masing. Apa yang terlihat mudah tidak selalu mudah dalam pelaksanaannya.
Santo Antonius dari Padua banyak membantuku ketika aku kehilangan barang-barangku, karena itu aku percaya ia juga akan mendoakan jiwaku agar tidak pernah kehilangan kesempatan untuk ikut berada di rumah Bapa.
Bapa yang maha pengasih,
Terima kasih atas santo santa yang telah membantu kami
memberi contoh dan mendoakan kami
memberikan kekuatan di kala kami berkecil hati.
Bantu kami ya Bapa,
dalam perjalanan kami supaya mampu memilih jalan yang Dikau kehendaki. Amin.
Santo Antonius,
dampingi dan doakanlah kami,
Amin.
Dari Injil Matius 10: 9-10, "Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut, atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapatkan upahnya."
Kutipan yang mendasari kaul kemiskinan para biarawan ini terngiang-ngiang di telinga saya beberapa hari ini.
Ketika mendengarnya dalam suatu acara wilayah beberapa hari lalu, entah mengapa yang terbersit justru sedikit di luar konteks. Yang terpikir oleh saya adalah alasan orang menunda ikut bergerak dalam bidang pewartaan. Belum cukup modal (pengetahuan maupun waktu) biasanya menjadi alasan mendasar. Tetapi tampaknya modal ini akan dicukupkan oleh Tuhan selama kita dengan rela dan sepenuh hati siap menjadi alat pewartaanNya.
Kemudian sebuah tulisan mengenai pengosongan diri membawa saya pada perenungan yang lain. Dalam mencari "discernment" seringkali kita terkacaukan oleh keinginan pribadi ataupun kebanggaan diri pribadi. Bagaimana mengosongkan diri dan membiarkan kehendak Tuhan semata yang bekerja melalui kita, adalah hal tersulit yang perlu dituju.
Satu doa yang senantiasa kupanjatkan melalui Santo Antonius dari Padua adalah keinginan untuk tidak kehilangan diriku sendiri (baca: jiwaku). Waktu dahulu pertama kali membaca Injil Matius di atas, terpikirkan bahwa lebih mudah bagi orang selibat untuk tidak memikirkan harta duniawi, tetapi perenungan lebih mendalam membawa saya pada kenyataan bahwa setiap orang memiliki jalan salib masing-masing. Apa yang terlihat mudah tidak selalu mudah dalam pelaksanaannya.
Santo Antonius dari Padua banyak membantuku ketika aku kehilangan barang-barangku, karena itu aku percaya ia juga akan mendoakan jiwaku agar tidak pernah kehilangan kesempatan untuk ikut berada di rumah Bapa.
Bapa yang maha pengasih,
Terima kasih atas santo santa yang telah membantu kami
memberi contoh dan mendoakan kami
memberikan kekuatan di kala kami berkecil hati.
Bantu kami ya Bapa,
dalam perjalanan kami supaya mampu memilih jalan yang Dikau kehendaki. Amin.
Santo Antonius,
dampingi dan doakanlah kami,
Amin.
Monday, May 11, 2009
Menjadi Ananias, Menjadi Paulus...
Terus terang, masalah duniawi seringkali menyita waktu sehingga hanya kesibukan belaka yang ada. Padahal untuk bisa mendengar sabdaNya dan mengerti kehendakNya seringkali juga dibutuhkan keheningan. Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya tetapi tidak pernah sempat tertuliskan. Kesibukan Tri Hari Suci dan semua kesibukan harian memang sungguh-sungguh mendera. Belum lagi masalah batin yang banyak mempertanyakan kehendakNya...
Seorang kenalan yang saya kenal dan menderita kanker baru saja kehilangan suaminya. Sebuah ironi bahwa sang suami terlebih dahulu dipanggil menghadap Sang Pencipta, sementara pasca operasi belum lama dilaluinya. Selain itu seorang tetangga yang hanya punya anak gadis semata wayang harus menghadapi kenyataan putrinya kecelakaan dan tampaknya mempengaruhi batang otak sehingga perlu terapi panjang untuk kesembuhan seperti semula. Mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah dan ikut melayani dengan cara mereka masing-masing. Terus terang dalam hal penderitaan maka saya tidak bisa tidak, pasti menengok pada ketabahan Ayub. Semoga teman-teman saya ini juga dikuatkan seperti Ayub.
Minggu-minggu terakhir ini saya juga sering mendengar tentang pertobatan Saulus. Seorang pastur mengingatkan adanya kesamaan antara Saulus dan Paulus, yaitu keduanya mencintai Allah dan ingin membela Allah. Perbedaannya adalah cara Saulus yang salah, karena ia mengira membela Allah dengan mempertahankan kemurnian Taurat sehingga pengikut Yesus adalah musuh-musuh Allah. Dia kemudian membela Allah dengan mengangkat senjata dan membunuh "musuh-musuh" tersebut. Paulus yang sudah benar-benar mengenal Allah dan mengetahui apa yang harus dikerjakannya melaksanakan perlawanan dengan cara yang berbeda, cara yang dipenuhi dengan cinta kasih.
Satu hal menarik dari pertanyaan sang pastur ketika itu adalah: "Mengapa Allah membutuhkan kehadiran Ananias untuk mengakhiri kebutaan sementara Saulus?" Berakhirnya kebutaan Saulus menjadi lambang perubahan dirinya menjadi Paulus. Rupanya Allah memang menginginkan interaksi aktif manusia dalam memberitakan kabar keselamatan bagi sesamanya. Kehadiran Ananias menjadi perlambang keberanian untuk menjadi pewarta bagi Allah, menjadi perantara kabar bahagiaNya.
Di lain pihak, menjadi Paulus berarti harus bisa mengakui kesalahan diri dan bersiap menerima tantangan masa depan, menghadapi orang-orang yang mungkin awalnya akan meragukan ketulusan dirinya. Menghadapi keraguan, stigma dan label yang sudah terlanjur melekat pada dirinya. Menjadi Paulus berarti berani membangkitkan cinta kasih Allah dalam dirinya dan merubah diri sesuai dengan kehendakNya.
Terus terang kehidupan meditasiku sedang terganggu. Tidak ada waktu yang bisa kusediakan untuk sungguh-sungguh hening dan membaca FirmanNya. Tidak ada waktu yang bisa kusediakan untuk mengosongkan berbagai macam isi kepalaku dan hanya mencoba mencari sabdaNya. Tetapi beruntung bahwa dalam segala keriuhan dunia yang harus saya jalani masih juga saya menjumpai orang-orang seperti Ananias yang memberitakan kabar sukacita.
Kemarin saya mengikuti Pelatihan Cara Mendongeng bagi divisi Bina Iman Anak KAJ. Materi "Mendongeng dengan Kitab Suci" dari Romo Indra Sanjaya Pr. serta "Berkatakese melalui Dongeng" dari mbak Yayi membuat saya kembali diingatkan akan tugas perutusan utama seorang ibu (dan orang tua pada umumnya) yaitu untuk membangun pondasi iman anak-anaknya.
Siapapun bisa menjadi Ananias. Kak Agus DS, seorang muslim, yang mengajarkan teknik dan ketrampilan mendongeng, dengan cerdik memberikan contoh kasus bagaimana ia bisa bertindak sebagai pendidik (dia juga seorang kepala sekolah) terlepas dari agama yang dianutnya. Dia mencontohkan kisah seorang anak yang tidak mau ke sekolah Minggu. Dia mencari tahu bagaimana mengalahkan kekerasan hati anak tersebut. Akhirnya dia mengajak anak tersebut bermain tali. Ketika seutas tali tipis direntangkan maka tali itu bisa diputuskan dengan mudah. Ketika kemudian tali itu membelit ke badan maka satu lilitan masih agak mudah untuk dibuka. Ketika lilitan bertambah banyak maka tidak lagi gampang untuk melepaskan diri ikatan tali itu. Dan...itulah perlambang dosa yang melilit dan mengikat kita. "Apakah dosa itu?" tanya anak lelaki kecil tadi. "Mari kita tanya kepada guru sekolah minggumu," jawab Kak Agus. Kisah yang universal, setiap agama mengajarkan bahwa dosa itu memang melilit dan mengikat manusia sehingga manusia akan sulit terlepas dari jeratannya. Tapi, bagaimana mengajak seorang anak merasa tertarik untuk mengetahui perbuatan apa yang dianggap dosa dan ingin menghindarinya, apalagi dengan latar belakang agama yang berbeda tentunya membutuhkan keahlian tersendiri. Mungkin saja kisahnya ini rekaan untuk menggugah kami, tetapi kisah itu begitu menyentuh, terutama karena ia sendiri menekankan betapa sekolah minggu adalah bukan hal yang dikenalnya karena ia berbeda keyakinan. Kisah tentang lilitan dosa rasanya sudah pernah saya dengar, tetapi dengan caranya berkisah maka terasa sangat hidup dan menyentuh. Semoga kami yang mengikuti acara itu mampu juga menggugah anak-anak melalui dongeng dari Kitab Suci.
Menjadi Ananias, menjadi Paulus, atau mungkin menjadi Petrus yang baru tersadar oleh kokok ayam jantan yang ketiga kalinya di pagi hari itu...bisa jadi menjadi bagian dari takdir dan pilihan hidup. Rasanya saya percaya ada takdir yang sudah menunggu kita, tetapi dengan berjalan dalam panduanNya maka takdir itu tidak akan pernah membawa kita ke dalam kehancuran abadi, sama seperti Paulus yang sanggup bangkit dan kembali membela Allah dengan cara yang benar, dengan semangat cinta kasih...
Allah,
Ampunilah kami orang berdosa,
Ajarilah kami untuk mengenal kehendakMu,
Bimbinglah kami untuk berjalan di jalanMu,
Jangan biarkan kami menjadi domba-domba yang hilang,
Latihlah kami menjadi anak-anak gembala yang membantuMu di padang rumput
Amin.
Seorang kenalan yang saya kenal dan menderita kanker baru saja kehilangan suaminya. Sebuah ironi bahwa sang suami terlebih dahulu dipanggil menghadap Sang Pencipta, sementara pasca operasi belum lama dilaluinya. Selain itu seorang tetangga yang hanya punya anak gadis semata wayang harus menghadapi kenyataan putrinya kecelakaan dan tampaknya mempengaruhi batang otak sehingga perlu terapi panjang untuk kesembuhan seperti semula. Mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah dan ikut melayani dengan cara mereka masing-masing. Terus terang dalam hal penderitaan maka saya tidak bisa tidak, pasti menengok pada ketabahan Ayub. Semoga teman-teman saya ini juga dikuatkan seperti Ayub.
Minggu-minggu terakhir ini saya juga sering mendengar tentang pertobatan Saulus. Seorang pastur mengingatkan adanya kesamaan antara Saulus dan Paulus, yaitu keduanya mencintai Allah dan ingin membela Allah. Perbedaannya adalah cara Saulus yang salah, karena ia mengira membela Allah dengan mempertahankan kemurnian Taurat sehingga pengikut Yesus adalah musuh-musuh Allah. Dia kemudian membela Allah dengan mengangkat senjata dan membunuh "musuh-musuh" tersebut. Paulus yang sudah benar-benar mengenal Allah dan mengetahui apa yang harus dikerjakannya melaksanakan perlawanan dengan cara yang berbeda, cara yang dipenuhi dengan cinta kasih.
Satu hal menarik dari pertanyaan sang pastur ketika itu adalah: "Mengapa Allah membutuhkan kehadiran Ananias untuk mengakhiri kebutaan sementara Saulus?" Berakhirnya kebutaan Saulus menjadi lambang perubahan dirinya menjadi Paulus. Rupanya Allah memang menginginkan interaksi aktif manusia dalam memberitakan kabar keselamatan bagi sesamanya. Kehadiran Ananias menjadi perlambang keberanian untuk menjadi pewarta bagi Allah, menjadi perantara kabar bahagiaNya.
Di lain pihak, menjadi Paulus berarti harus bisa mengakui kesalahan diri dan bersiap menerima tantangan masa depan, menghadapi orang-orang yang mungkin awalnya akan meragukan ketulusan dirinya. Menghadapi keraguan, stigma dan label yang sudah terlanjur melekat pada dirinya. Menjadi Paulus berarti berani membangkitkan cinta kasih Allah dalam dirinya dan merubah diri sesuai dengan kehendakNya.
Terus terang kehidupan meditasiku sedang terganggu. Tidak ada waktu yang bisa kusediakan untuk sungguh-sungguh hening dan membaca FirmanNya. Tidak ada waktu yang bisa kusediakan untuk mengosongkan berbagai macam isi kepalaku dan hanya mencoba mencari sabdaNya. Tetapi beruntung bahwa dalam segala keriuhan dunia yang harus saya jalani masih juga saya menjumpai orang-orang seperti Ananias yang memberitakan kabar sukacita.
Kemarin saya mengikuti Pelatihan Cara Mendongeng bagi divisi Bina Iman Anak KAJ. Materi "Mendongeng dengan Kitab Suci" dari Romo Indra Sanjaya Pr. serta "Berkatakese melalui Dongeng" dari mbak Yayi membuat saya kembali diingatkan akan tugas perutusan utama seorang ibu (dan orang tua pada umumnya) yaitu untuk membangun pondasi iman anak-anaknya.
Siapapun bisa menjadi Ananias. Kak Agus DS, seorang muslim, yang mengajarkan teknik dan ketrampilan mendongeng, dengan cerdik memberikan contoh kasus bagaimana ia bisa bertindak sebagai pendidik (dia juga seorang kepala sekolah) terlepas dari agama yang dianutnya. Dia mencontohkan kisah seorang anak yang tidak mau ke sekolah Minggu. Dia mencari tahu bagaimana mengalahkan kekerasan hati anak tersebut. Akhirnya dia mengajak anak tersebut bermain tali. Ketika seutas tali tipis direntangkan maka tali itu bisa diputuskan dengan mudah. Ketika kemudian tali itu membelit ke badan maka satu lilitan masih agak mudah untuk dibuka. Ketika lilitan bertambah banyak maka tidak lagi gampang untuk melepaskan diri ikatan tali itu. Dan...itulah perlambang dosa yang melilit dan mengikat kita. "Apakah dosa itu?" tanya anak lelaki kecil tadi. "Mari kita tanya kepada guru sekolah minggumu," jawab Kak Agus. Kisah yang universal, setiap agama mengajarkan bahwa dosa itu memang melilit dan mengikat manusia sehingga manusia akan sulit terlepas dari jeratannya. Tapi, bagaimana mengajak seorang anak merasa tertarik untuk mengetahui perbuatan apa yang dianggap dosa dan ingin menghindarinya, apalagi dengan latar belakang agama yang berbeda tentunya membutuhkan keahlian tersendiri. Mungkin saja kisahnya ini rekaan untuk menggugah kami, tetapi kisah itu begitu menyentuh, terutama karena ia sendiri menekankan betapa sekolah minggu adalah bukan hal yang dikenalnya karena ia berbeda keyakinan. Kisah tentang lilitan dosa rasanya sudah pernah saya dengar, tetapi dengan caranya berkisah maka terasa sangat hidup dan menyentuh. Semoga kami yang mengikuti acara itu mampu juga menggugah anak-anak melalui dongeng dari Kitab Suci.
Menjadi Ananias, menjadi Paulus, atau mungkin menjadi Petrus yang baru tersadar oleh kokok ayam jantan yang ketiga kalinya di pagi hari itu...bisa jadi menjadi bagian dari takdir dan pilihan hidup. Rasanya saya percaya ada takdir yang sudah menunggu kita, tetapi dengan berjalan dalam panduanNya maka takdir itu tidak akan pernah membawa kita ke dalam kehancuran abadi, sama seperti Paulus yang sanggup bangkit dan kembali membela Allah dengan cara yang benar, dengan semangat cinta kasih...
Allah,
Ampunilah kami orang berdosa,
Ajarilah kami untuk mengenal kehendakMu,
Bimbinglah kami untuk berjalan di jalanMu,
Jangan biarkan kami menjadi domba-domba yang hilang,
Latihlah kami menjadi anak-anak gembala yang membantuMu di padang rumput
Amin.
Monday, April 06, 2009
Sakramen Tobat, Sebuah Kenangan...
Sakramen tobat adalah sebuah kelengkapan untuk menerima Tubuh dan DarahNya. Dari kecil hingga dewasa sekarang, untuk memohon sakramen tobat ini membutuhkan perjuangan tersendiri bagi saya. Karena itu saya tidak akan pernah melupakan Romo Middendorp SJ yang selalu setia menantikan kedatangan umat di dalam bilik pengakuan. Bahkan bila akan mempersembahkan misa, beliau tidak pernah absen menanti di biliknya. Lima belas menit atau sepuluh menit sebelum misa dimulai barulah ia meninggalkan ruangan itu, walau tidak ada seorangpun yang masuk. Sebaliknya bila ia tidak mempersembahkan misa, maka akan ditunggunya sampai sepuluh atau lima belas menit setelah misa dimulai baru meninggalkan bilik pengakuan.
Perjuangan batin untuk menghadap seorang imam yang notebene adalah manusia biasa seringkali membuat saya masuk ke dalam bilik pengakuan pada detik-detik terakhir sebelum beliau meninggalkan posisinya. Terkadang mungkin juga saya berdoa supaya dia keluar lebih dahulu, tetapi rupanya doa jelek jarang dikabulkan Tuhan.
Ketika beliau semakin tua, kelihatannya kesabarannya di altar semakin menipis. Putra altar seringkali takut melayani misa kudus bila tahu bahwa Romo Middendorp yang membawakan misa. Mungkin takut berbuat salah. Tapi kesabarannya menanti di dalam ruang pengakuan tidak pernah berubah. Saya pikir sekarang sudah susah mencari bapa pengakuan sepertinya. Di gerejaku sekarang ini kami harus membuat janji bila ingin menerima sakramen tobat. Diluar itu hanya ada kesempatan menjelang Paskah dan menjelang Natal. Terus terang pergulatan batin yang sering kurasakan di masa kecil dan masa remajaku, ketika menatap pintu bilik di sebelah bilik pastur sebelum misa dimulai, tampaknya akan sulit berulang lagi. Bukan karena saya menjadi lebih dewasa dan lebih baik, tetapi karena tidak ada lagi bapa pengakuan yang setia menanti disana.
Allah yang maharahim,
aku mnyesal atas dosa-dosaku.
Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan maha baik bagiku.
Aku benci atas segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmatMu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang mahamurah, ampunilah aku, orang berdosa, Amin.
Perjuangan batin untuk menghadap seorang imam yang notebene adalah manusia biasa seringkali membuat saya masuk ke dalam bilik pengakuan pada detik-detik terakhir sebelum beliau meninggalkan posisinya. Terkadang mungkin juga saya berdoa supaya dia keluar lebih dahulu, tetapi rupanya doa jelek jarang dikabulkan Tuhan.
Ketika beliau semakin tua, kelihatannya kesabarannya di altar semakin menipis. Putra altar seringkali takut melayani misa kudus bila tahu bahwa Romo Middendorp yang membawakan misa. Mungkin takut berbuat salah. Tapi kesabarannya menanti di dalam ruang pengakuan tidak pernah berubah. Saya pikir sekarang sudah susah mencari bapa pengakuan sepertinya. Di gerejaku sekarang ini kami harus membuat janji bila ingin menerima sakramen tobat. Diluar itu hanya ada kesempatan menjelang Paskah dan menjelang Natal. Terus terang pergulatan batin yang sering kurasakan di masa kecil dan masa remajaku, ketika menatap pintu bilik di sebelah bilik pastur sebelum misa dimulai, tampaknya akan sulit berulang lagi. Bukan karena saya menjadi lebih dewasa dan lebih baik, tetapi karena tidak ada lagi bapa pengakuan yang setia menanti disana.
Allah yang maharahim,
aku mnyesal atas dosa-dosaku.
Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan maha baik bagiku.
Aku benci atas segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmatMu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang mahamurah, ampunilah aku, orang berdosa, Amin.
Sunday, March 29, 2009
Bertanggungjawab atas panggilan
Bertanggungjawab atas panggilan untuk bekerja di ladang Tuhan adalah juga tanggung jawab orang tua. Hari Minggu kemarin kelompok Bina Iman Anak mengunjungi tempat retret Wisma Canossa di Bintaro. Kami juga sekaligus mengunjungi biara suster dan novisiat suster yang bernaung di bawah kongregasi Canossian yang didirikan oleh Magdalena dari Canossa.

Pertama-tama kami melakukan jalan salib bersama anak-anak. Kelompok BIA kami bagi dua, kelompok kecil sendiri sementara yang sudah SD membentuk kelompok besar.
Walaupun berpeluh dan sedikit kepanasan, semua anak berhasil menyelesaikan jalan salib mereka dengan baik. Sengsara menjalani 14 perhentian yang berjarak tidak terlalu jauh itu memang tidak seberapa bila dibandingkan dengan sengsara Kristus.


Acara kami berikutnya adalah menengok tempat tinggal suster dan para kakak novis. Kebetulan suster kepala provinsial juga ada di ruang makan susteran. Beliau bertanya siapa diantara anak-anak yang ingin menjadi suster, ada dua anak yang mengangkat tangan. Ketika ditanyakan siapa yang ingin menjadi pastur, tidak seorangpun yang mengangkat tangan.
Jawaban itu berubah ketika kami berada di depan rumah kakak novis. Ketika kakak novis meminta yang ingin menjadi suster mengangkat tangan, ada tiga gadis kecil yang mengangkat telunjuknya. Kemudian ketika ditanyakan berapa orang yang ingin menjadi pastur, ada satu anak lelaki yang mengacungkan jari.
Orang tua dan pendidik memang bertanggungjawab atas panggilan Tuhan kepada anak-anak itu. Itulah sebabnya suster-suster mau menerima kunjungan kami ke biara mereka. Anak-anak perlu mengenal panggilan dan kehidupan membiara itu sejak dini, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mengetahui bila Tuhan memanggil mereka. Orang tua perlu menjadi seperti Eli (1 Sam 3: 1-10) yang memberi petunjuk kepada Samuel dalam mendengar sabda Tuhan.
Suster mengingatkan kami orang tua yang mendampingi, betapa sering orang tua mendoakan agar panggilan Tuhan bagi pekerja di ladangNya semakin subur, dengan catatan bukan anak mereka yang dipanggil. Kegiatan bersama seperti ini memang tidak hanya mempersiapkan benih untuk ladangNya, tapi juga mempersiapkan kesiapan hati orang tua untuk menanam benih dan merawat benih itu dengan baik.
Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit (Mat 9:37)...karena itu kita perlu mempersiapkan calon-calon pekerja di ladang Tuhan. Akhirnya toh, bukan kita yang memilih Dia, melainkan Ia yang akan memilih pekerja-pekerjaNya.
Ya Bapa,
Terima kasih atas pengalaman hari ini,
Atas perkenalan kami pada bagian dari GerejaMu,
Bantulah kami agar mampu mengenali suaraMu dan memberitakanNya,
Agar anak-anak kami bisa mengenali panggilanMu dan menjadi pekerja di ladangMu.
Amin,

Pertama-tama kami melakukan jalan salib bersama anak-anak. Kelompok BIA kami bagi dua, kelompok kecil sendiri sementara yang sudah SD membentuk kelompok besar.
Walaupun berpeluh dan sedikit kepanasan, semua anak berhasil menyelesaikan jalan salib mereka dengan baik. Sengsara menjalani 14 perhentian yang berjarak tidak terlalu jauh itu memang tidak seberapa bila dibandingkan dengan sengsara Kristus.


Acara kami berikutnya adalah menengok tempat tinggal suster dan para kakak novis. Kebetulan suster kepala provinsial juga ada di ruang makan susteran. Beliau bertanya siapa diantara anak-anak yang ingin menjadi suster, ada dua anak yang mengangkat tangan. Ketika ditanyakan siapa yang ingin menjadi pastur, tidak seorangpun yang mengangkat tangan.
Jawaban itu berubah ketika kami berada di depan rumah kakak novis. Ketika kakak novis meminta yang ingin menjadi suster mengangkat tangan, ada tiga gadis kecil yang mengangkat telunjuknya. Kemudian ketika ditanyakan berapa orang yang ingin menjadi pastur, ada satu anak lelaki yang mengacungkan jari.
Orang tua dan pendidik memang bertanggungjawab atas panggilan Tuhan kepada anak-anak itu. Itulah sebabnya suster-suster mau menerima kunjungan kami ke biara mereka. Anak-anak perlu mengenal panggilan dan kehidupan membiara itu sejak dini, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mengetahui bila Tuhan memanggil mereka. Orang tua perlu menjadi seperti Eli (1 Sam 3: 1-10) yang memberi petunjuk kepada Samuel dalam mendengar sabda Tuhan.
Suster mengingatkan kami orang tua yang mendampingi, betapa sering orang tua mendoakan agar panggilan Tuhan bagi pekerja di ladangNya semakin subur, dengan catatan bukan anak mereka yang dipanggil. Kegiatan bersama seperti ini memang tidak hanya mempersiapkan benih untuk ladangNya, tapi juga mempersiapkan kesiapan hati orang tua untuk menanam benih dan merawat benih itu dengan baik.
Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit (Mat 9:37)...karena itu kita perlu mempersiapkan calon-calon pekerja di ladang Tuhan. Akhirnya toh, bukan kita yang memilih Dia, melainkan Ia yang akan memilih pekerja-pekerjaNya.Ya Bapa,
Terima kasih atas pengalaman hari ini,
Atas perkenalan kami pada bagian dari GerejaMu,
Bantulah kami agar mampu mengenali suaraMu dan memberitakanNya,
Agar anak-anak kami bisa mengenali panggilanMu dan menjadi pekerja di ladangMu.
Amin,
Wednesday, March 25, 2009
Mari Bertanggungjawab Melalui Pekerjaan
Hari ini Yesus mengatakan bahwa Dia tidak akan bersaksi tentang diriNya sendiri, dan dia juga tidak membutuhkan kesaksian manusia tentang diriNya, melainkan pekerjaanNya yang akan memberikan kesaksian tentang diriNya.
Hari ini melalui Yohanes 5:31-47 Yesus menyentuh aku terutama dalam dua hal. Pertama dalam hal pekerjaan. "...Aku mempunyai satu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaKu, supaya aku melaksanakannya. Pekerjaan itu jualah yang sekarang Kukerjakan, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku."
Sebagai ibu rumah tangga, hasil dari pekerjaanku tidak langsung terlihat. Tidak ada gaji, tidak ada promosi, bahkan terkadang terasa penuh onak dan duri; pergulatan dengan emosi, pergulatan antara keinginan diri pribadi dan kepentingan anak/keluarga.
Sebagai relawan juga tidak ada hasil yang secara langsung kuterima. Yang ada adalah pergelutan membagi waktu dan perhatian, bahkan di luar waktu terkadang masih perlu juga pengorbanan finansial. Pergumulan batin untuk bisa berbagi dari keadaan yang serba "kurang", artinya kurang waktu, kurang dana, atau bahkan kurang daya tahan emosional, adalah bagian dari pekerjaan itu.
Tiba-tiba aku teringat akan materi pendalaman iman minggu lalu, mengenai Yesus yang memberi makan orang banyak. Bukan satu dua kali Ia memberi makan orang banyak. Dari Matius 14:13-21 kita tahu Ia memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, kemudian dari Matius 15: 32-39 Ia memberi makan empat ribu orang dari tujuh roti dan beberapa ikan. Jumlah orang itu tidak absolut karena yang dihitung hanya kaum lelaki, artinya kepala keluarga saja. Ia akan menggandakan yang sedikit itu selama diberikan untuk kepentingan orang banyak. Saya berharap Ia juga mau menggandakan hasil dari bibit yang kusebar melalui pelayananku yang rasanya masih serba penuh kekurangan ini. Yesus mengajak kita untuk mensyukuri apapun (berapapun) yang kita miliki, dan Ia juga mengajak kita untuk memberikan semua yang kita miliki serta hasil jerih payah kita kepada Tuhan untuk digandakanNya dan dibagikanNya kepada orang banyak.
Mendapatkan talenta yang besar seringkali juga membuat saya tidak mampu fokus, semua hal menarik hati, semua pekerjaan ingin dicoba. Seringkali saya bertanya-tanya: "Tuhan, apa yang Kau inginkan aku perbuat?" Orang-orang di sekitarku seringkali tidak bisa mengerti kegiatan lain yang kulakukan yang tidak memperoleh imbalan materi. Seringkali saya dituduh melalaikan anak-anakku karena terlalu terserap dalam kegiatan lain yang menurut mereka malah menghabiskan energi dan materi yang seharusnya bisa diberikan untuk keluarga. Sebenarnya saya juga tidak mengerti mengapa dorongan untuk pelayanan "keluar rumah" begitu besar. Terkadang saya juga takut kalau semua ini semata untuk egoisme dan kepentingan pribadiku yang ingin eksis di mata orang lain. Hari ini rasanya Tuhan menguatkan hatiku, "Berikanlah roti dan ikan yang sedikit yang kau miliki kepadaKu dan Aku akan membantumu menggandakannya agar cukup bagi dirimu dan bagi semua orang."
Fokus ke dalam Tuhan, rasanya itu yang terpenting bagiku saat ini, karena hanya Dia yang sanggup mengetahui porsi kebutuhan anak-anakku maupun orang lain yang membutuhkan bantuanku. Hanya Dia yang sanggup mencukupkan 24 jam dalam sehari menjadi cukup untuk pelayanan, pengembangan diri, dan istirahatku.
Mendekatkan diri kepadaNya membuat saya mampu melihat keajaiban-keajaiban dalam kehidupanku. Ada banyak yang ajaib dalam kehidupan seorang ibu. Sejak dari proses mengandung dan melahirkan, sampai proses membesarkan anak, semuanya penuh dengan keajaiban.
Terkadang saya juga menerima hadiah yang tidak kusangka-sangka. Ketika merasa bahwa kegiatan jurnalisme warga adalah sebuah bentuk yang patut diperjuangkan, saya mencoba mendorong agar salah seorang dari wikimu (portal jurnalisme warga lokal) bisa diundang ke Seoul. Undangan yang datang justru untuk diriku. Ketika orang-orang mulai mencerca waktu dan materi yang kukorbankan untuk kegiatan ini, ada saja hadiah-hadiah kecil yang diberikanNya kepadaku melalui orang-orang di sekitarku. Tentu saja saya tidak boleh terlena, karena semua yang ada bukan hak yang kuperoleh, melainkan karena kemurahan hatiNya.
Banyak hal yang patut kusyukuri dalam kehidupan ini. Resesi global mulai terasa berat. Hampir setiap hari media massa mengisahkan kisah pembunuhan, bunuh diri, maupun percobaan bunuh diri karena alasan ekonomi. Kegelapan menyertai keputusan-keputusan yang diambil dalam keputusasaan. Saya bersyukur sampai saat ini masih mampu berjalan di dalam terangNya.
Catatan kedua yang membekas di hatiku adalah "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehNya kamu mempunyai hidup yang kekal. Tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberikan kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu."
Dalam pendalaman iman minggu lalu, seorang teman yang sering membaca blog ini bertanya: "Benar, yang kamu tulis itu datang begitu saja?" Memang saya mendapat talenta untuk lebih mampu merangkai kata-kata, tetapi terus terang tanpa doa terasa sulit untuk menuliskan rangkaian tulisan di blog ini. Terkadang, saya sendiri juga terpesona pada hasil yang tertuliskan disini. Tetapi semua itu tidak menandakan bahwa saya dipenuhi oleh Roh Kudus dan hidup suci, salah besar! Mungkin Roh Kudus bekerja selama jemariku mengetik tulisan ini. Tulisan untuk blog Journey to His Words tidak pernah kuperlakukan seperti artikel untuk media massa. Tulisan ini tidak dipersiapkan di Word atau di Googledoc, melainkan langsung diketik di template blog. Suntingan akhir seringkali terjadi setelah tulisan naik dan terasa ada kata-kata yang agak janggal (masalah bahasa).
Ketakutanku yang paling besar adalah mampu menuliskan semua hal-hal yang menarik dan inspiratif untuk mendekatkan orang kepada Tuhan, tetapi saya sendiri tidak datang kepadaNya untuk memperoleh kehidupan kekal itu. Keseimbangan dan penyangkalan diri, kemampuan untuk berbagi dan kesiapan untuk menerima semua cobaan, fokus dalam Dia dan komunikasi aktif denganNya yang disertai dengan kerja keras dalam dunia nyata, semuanya itu perlu kupersembahkan kepadaNya agar Dia mampu bekerja melalui aku. Kesulitan terbesarku adalah untuk mengetahui pilihan yang tepat dari persimpangan jalan di depanku. Kesulitan lainnya adalah benar-benar melaksanakan apa yang diberikanNya kepadaku melalui sabda-sabdaNya yang kutelusuri disini.
Tuhan,
Bapa yang Mahabaik dan Maha Pemurah,
Terima kasih atas kekuatan yang Dikau berikan,
Atas anugrah yang Dikau hadiahkan,
Kusadar betapa jauh dari sempurna diriku,
Betapa banyak kekurangan dalam pelayananku kepadaMu,
Tolong aku Bapa,
Ajari aku bahasa cintaMu,
Ajari aku menggunakannya,
Ajari aku membibit dan menanamkannya,
Agar mampu berbuah banyak dan layak dibagikan dalam namaMu.
Amin.
Hari ini melalui Yohanes 5:31-47 Yesus menyentuh aku terutama dalam dua hal. Pertama dalam hal pekerjaan. "...Aku mempunyai satu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaKu, supaya aku melaksanakannya. Pekerjaan itu jualah yang sekarang Kukerjakan, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku."
Sebagai ibu rumah tangga, hasil dari pekerjaanku tidak langsung terlihat. Tidak ada gaji, tidak ada promosi, bahkan terkadang terasa penuh onak dan duri; pergulatan dengan emosi, pergulatan antara keinginan diri pribadi dan kepentingan anak/keluarga.
Sebagai relawan juga tidak ada hasil yang secara langsung kuterima. Yang ada adalah pergelutan membagi waktu dan perhatian, bahkan di luar waktu terkadang masih perlu juga pengorbanan finansial. Pergumulan batin untuk bisa berbagi dari keadaan yang serba "kurang", artinya kurang waktu, kurang dana, atau bahkan kurang daya tahan emosional, adalah bagian dari pekerjaan itu.
Tiba-tiba aku teringat akan materi pendalaman iman minggu lalu, mengenai Yesus yang memberi makan orang banyak. Bukan satu dua kali Ia memberi makan orang banyak. Dari Matius 14:13-21 kita tahu Ia memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, kemudian dari Matius 15: 32-39 Ia memberi makan empat ribu orang dari tujuh roti dan beberapa ikan. Jumlah orang itu tidak absolut karena yang dihitung hanya kaum lelaki, artinya kepala keluarga saja. Ia akan menggandakan yang sedikit itu selama diberikan untuk kepentingan orang banyak. Saya berharap Ia juga mau menggandakan hasil dari bibit yang kusebar melalui pelayananku yang rasanya masih serba penuh kekurangan ini. Yesus mengajak kita untuk mensyukuri apapun (berapapun) yang kita miliki, dan Ia juga mengajak kita untuk memberikan semua yang kita miliki serta hasil jerih payah kita kepada Tuhan untuk digandakanNya dan dibagikanNya kepada orang banyak.
Mendapatkan talenta yang besar seringkali juga membuat saya tidak mampu fokus, semua hal menarik hati, semua pekerjaan ingin dicoba. Seringkali saya bertanya-tanya: "Tuhan, apa yang Kau inginkan aku perbuat?" Orang-orang di sekitarku seringkali tidak bisa mengerti kegiatan lain yang kulakukan yang tidak memperoleh imbalan materi. Seringkali saya dituduh melalaikan anak-anakku karena terlalu terserap dalam kegiatan lain yang menurut mereka malah menghabiskan energi dan materi yang seharusnya bisa diberikan untuk keluarga. Sebenarnya saya juga tidak mengerti mengapa dorongan untuk pelayanan "keluar rumah" begitu besar. Terkadang saya juga takut kalau semua ini semata untuk egoisme dan kepentingan pribadiku yang ingin eksis di mata orang lain. Hari ini rasanya Tuhan menguatkan hatiku, "Berikanlah roti dan ikan yang sedikit yang kau miliki kepadaKu dan Aku akan membantumu menggandakannya agar cukup bagi dirimu dan bagi semua orang."
Fokus ke dalam Tuhan, rasanya itu yang terpenting bagiku saat ini, karena hanya Dia yang sanggup mengetahui porsi kebutuhan anak-anakku maupun orang lain yang membutuhkan bantuanku. Hanya Dia yang sanggup mencukupkan 24 jam dalam sehari menjadi cukup untuk pelayanan, pengembangan diri, dan istirahatku.
Mendekatkan diri kepadaNya membuat saya mampu melihat keajaiban-keajaiban dalam kehidupanku. Ada banyak yang ajaib dalam kehidupan seorang ibu. Sejak dari proses mengandung dan melahirkan, sampai proses membesarkan anak, semuanya penuh dengan keajaiban.
Terkadang saya juga menerima hadiah yang tidak kusangka-sangka. Ketika merasa bahwa kegiatan jurnalisme warga adalah sebuah bentuk yang patut diperjuangkan, saya mencoba mendorong agar salah seorang dari wikimu (portal jurnalisme warga lokal) bisa diundang ke Seoul. Undangan yang datang justru untuk diriku. Ketika orang-orang mulai mencerca waktu dan materi yang kukorbankan untuk kegiatan ini, ada saja hadiah-hadiah kecil yang diberikanNya kepadaku melalui orang-orang di sekitarku. Tentu saja saya tidak boleh terlena, karena semua yang ada bukan hak yang kuperoleh, melainkan karena kemurahan hatiNya.
Banyak hal yang patut kusyukuri dalam kehidupan ini. Resesi global mulai terasa berat. Hampir setiap hari media massa mengisahkan kisah pembunuhan, bunuh diri, maupun percobaan bunuh diri karena alasan ekonomi. Kegelapan menyertai keputusan-keputusan yang diambil dalam keputusasaan. Saya bersyukur sampai saat ini masih mampu berjalan di dalam terangNya.
Catatan kedua yang membekas di hatiku adalah "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehNya kamu mempunyai hidup yang kekal. Tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberikan kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu."
Dalam pendalaman iman minggu lalu, seorang teman yang sering membaca blog ini bertanya: "Benar, yang kamu tulis itu datang begitu saja?" Memang saya mendapat talenta untuk lebih mampu merangkai kata-kata, tetapi terus terang tanpa doa terasa sulit untuk menuliskan rangkaian tulisan di blog ini. Terkadang, saya sendiri juga terpesona pada hasil yang tertuliskan disini. Tetapi semua itu tidak menandakan bahwa saya dipenuhi oleh Roh Kudus dan hidup suci, salah besar! Mungkin Roh Kudus bekerja selama jemariku mengetik tulisan ini. Tulisan untuk blog Journey to His Words tidak pernah kuperlakukan seperti artikel untuk media massa. Tulisan ini tidak dipersiapkan di Word atau di Googledoc, melainkan langsung diketik di template blog. Suntingan akhir seringkali terjadi setelah tulisan naik dan terasa ada kata-kata yang agak janggal (masalah bahasa).
Ketakutanku yang paling besar adalah mampu menuliskan semua hal-hal yang menarik dan inspiratif untuk mendekatkan orang kepada Tuhan, tetapi saya sendiri tidak datang kepadaNya untuk memperoleh kehidupan kekal itu. Keseimbangan dan penyangkalan diri, kemampuan untuk berbagi dan kesiapan untuk menerima semua cobaan, fokus dalam Dia dan komunikasi aktif denganNya yang disertai dengan kerja keras dalam dunia nyata, semuanya itu perlu kupersembahkan kepadaNya agar Dia mampu bekerja melalui aku. Kesulitan terbesarku adalah untuk mengetahui pilihan yang tepat dari persimpangan jalan di depanku. Kesulitan lainnya adalah benar-benar melaksanakan apa yang diberikanNya kepadaku melalui sabda-sabdaNya yang kutelusuri disini.
Tuhan,
Bapa yang Mahabaik dan Maha Pemurah,
Terima kasih atas kekuatan yang Dikau berikan,
Atas anugrah yang Dikau hadiahkan,
Kusadar betapa jauh dari sempurna diriku,
Betapa banyak kekurangan dalam pelayananku kepadaMu,
Tolong aku Bapa,
Ajari aku bahasa cintaMu,
Ajari aku menggunakannya,
Ajari aku membibit dan menanamkannya,
Agar mampu berbuah banyak dan layak dibagikan dalam namaMu.
Amin.
Tuesday, March 24, 2009
Mari Menjawab Kabar Suka Cita
Hari ini adalah Hari Raya Kabar Sukacita, dari Injil Lukas 1: 26-38 bisa kita peroleh kabar yang paling agung itu. "Roh KududsKu akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah" (Luk 1:35), begitulah malaikat Gabriel menjawab keraguan yang sempat terbersit di hati Maria.
Tulisan di Cafe Rohani dengan judul "Menjawab" sangat mempengaruhiku pagi ini. Ada tiga hal dari Maria yang dicatat dalam tulisan tersebut, Maria adalah manusia beriman, Maria adalah manusia yang terbuka terhadap karya Allah, berkat iman dan sikap terbukanya Maria mampu menjawab tawaran Tuhan.
Menjadi manusia beriman berarti membentuk hidup yang dipenuhi sikap doa dan mengarah kepada Allah. Sebenarnya saya perlu juga mengenal dimensi lain dari doa. Bagiku doa adalah percakapan atau dialog dengan Tuhan. Selama ini saya mengusahakan dialog yang tiada henti dengan Tuhan, tetapi seperti kebiasaan burukku, dialog ini lebih sering kumonopoli. Artinya saya yang berkeluh kesah kepadaNya, bertanya kepadaNya, bercerita kepadaNya...menjadi sebuah monolog! Saya terkadang lupa untuk diam dan mendengarkan.
Keterbukaan Maria menyiratkan bahwa dia mengosongkan dirinya dari segala kepentingan dan keinginan supaya bisa diisi oleh rencana dan kehendak Allah. Inilah hal yang kurang kutemui dalam diriku, kepentingan dan keinginanku masih sangat mendominasi monolog yang kusodorkan sebagai doa. Meditasi kelompok membantu aku untuk mundur dari kepentingan dan keinginanku pribadi. Biasanya dalam meditasi kelompok itu saya masih berangkat dari sudut pandang dan kepentingan pribadiku sendiri, tetapi begitu lebur dalam hasil meditasi perorangan teman-teman maka rencana Allah yang jauh lebih besar dari pikiranku sedikit terbukakan.
Terkadang kita memandang manusia hanya dari yang tampak di luar, tetapi pergumulan mereka di dalam hati tersimpan rapat disana. Terkadang memang orang ekstrovert seperti saya tidak sanggup menyimpannya rapat-rapat di dalam hati, tetapi tetap saja apa yang tampil di mata orang lain mungkin tidak sama persis dengan apa yang sebenarnya sedang bergolak di dalam hatiku. Dalam kesempatan membukakan diri bersama rekan-rekan kelompok doa baru terasa betapa salib itu begitu beraneka macam. Semuanya diukir dengan indah oleh tanganNya secara khusus, sesuai dengan kemampuan kami masing-masing menanggung bebannya.
Jawaban Maria: "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu" adalah jawaban yang sangat sarat dengan ketebalan imannya. Sebenarnya Maria juga tidak benar-benar memahami apa yang sedang dialaminya, ataupun apa yang akan dijalaninya. Kabar sukacita ini tidak berhenti hanya dalam kelahiran Yesus, melainkan merupakan satu paket dengan kisah sengsaraNya, kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke surga. Satu paket lengkap yang membukakan keselamatan manusia dari akibat dosa Adam dan Hawa. Dalam keadaan tidak mengerti, Maria mau menerima kehendak Allah dan bersedia menanggung segala konsekuensi yang akan dihadapinya dengan iman kepada Tuhan.
Rasanya malu membayangkan betapa sering saya memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan segala konsekuensi yang berlumurkan kepahitan hidup dari kehidupanku. Memang Yesus dalam saat-saat terakhirnya di taman Getsemani juga gentar mengingat konsekuensi yang akan dihadapinya dan memohon: "Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu, tetapi bukan kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi." (Lukas 22:42). Yesus memohonkan kekuatan kepada BapaNya melalui doa, dan malaikat Tuhan datang memberikan kekuatan kepadaNya (Luk 22:43). Terkadang mulut berucap: "terjadilah padaku menurut kehendakMu Bapa," tetapi hati juga sibuk memohon agar segala kemalangan dan kesulitan hidup menjauh dari diriku dan keluargaku. Dan ketika nasib buruk menyambangi sibuk berpikir apa yang salah, mengapa kehidupan tidak berjalan dalam damai sejahteraNya. Padahal damai sejahtera bisa terasakan walaupun kita dalam keadaan terpuruk, berduka, dikhianati, dilecehkan, ataupun dalam penderitaan lainnya, selama kita tetap berjalan bersamaNya. "Imanmu telah menyelamatkanmu," kata Yesus kepada orang-orang yang disembuhkanNya. Iman itu yang memberikan kekuatan untuk terus merasakan damai sejahteraNya dalam untung dan malang, dalam sukacita dan dukacita, dalam kelegaan dan ketakutan...malaikatNya senantiasa mengirim rahmatNya yang menguatkan selama kita hidup di dalam iman.
"Aku senantiasa memandang kepada Tuhan,
karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak,
Bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram,
sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati,
dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan.
Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan, Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapanMu." (Kis Ras 2: 25-28)
Apa yang perlu kuperbuat ya Allah? Melalui Petrus kedengar jawabanNya: "Bertobatlah, berilah dirimu diselamatkan..." (Kis Ras 2:37-40)
Ya Bapa,
Tumbuhkanlah aku terus di dalam iman kepadaMu,
Bantulah keluargaku memupuk iman itu dalam persemaian bibit di dalam anak-anak kami,
Dan berilah kami kekuatanMu untuk terus terbuka terhadap kehendakMu,
dan berani melangkah bersamaMu walaupun gelombang dan badai menghadang di muka.
Bapa, ampunilah kami orang berdosa.
Amin.
Tulisan di Cafe Rohani dengan judul "Menjawab" sangat mempengaruhiku pagi ini. Ada tiga hal dari Maria yang dicatat dalam tulisan tersebut, Maria adalah manusia beriman, Maria adalah manusia yang terbuka terhadap karya Allah, berkat iman dan sikap terbukanya Maria mampu menjawab tawaran Tuhan.
Menjadi manusia beriman berarti membentuk hidup yang dipenuhi sikap doa dan mengarah kepada Allah. Sebenarnya saya perlu juga mengenal dimensi lain dari doa. Bagiku doa adalah percakapan atau dialog dengan Tuhan. Selama ini saya mengusahakan dialog yang tiada henti dengan Tuhan, tetapi seperti kebiasaan burukku, dialog ini lebih sering kumonopoli. Artinya saya yang berkeluh kesah kepadaNya, bertanya kepadaNya, bercerita kepadaNya...menjadi sebuah monolog! Saya terkadang lupa untuk diam dan mendengarkan.
Keterbukaan Maria menyiratkan bahwa dia mengosongkan dirinya dari segala kepentingan dan keinginan supaya bisa diisi oleh rencana dan kehendak Allah. Inilah hal yang kurang kutemui dalam diriku, kepentingan dan keinginanku masih sangat mendominasi monolog yang kusodorkan sebagai doa. Meditasi kelompok membantu aku untuk mundur dari kepentingan dan keinginanku pribadi. Biasanya dalam meditasi kelompok itu saya masih berangkat dari sudut pandang dan kepentingan pribadiku sendiri, tetapi begitu lebur dalam hasil meditasi perorangan teman-teman maka rencana Allah yang jauh lebih besar dari pikiranku sedikit terbukakan.
Terkadang kita memandang manusia hanya dari yang tampak di luar, tetapi pergumulan mereka di dalam hati tersimpan rapat disana. Terkadang memang orang ekstrovert seperti saya tidak sanggup menyimpannya rapat-rapat di dalam hati, tetapi tetap saja apa yang tampil di mata orang lain mungkin tidak sama persis dengan apa yang sebenarnya sedang bergolak di dalam hatiku. Dalam kesempatan membukakan diri bersama rekan-rekan kelompok doa baru terasa betapa salib itu begitu beraneka macam. Semuanya diukir dengan indah oleh tanganNya secara khusus, sesuai dengan kemampuan kami masing-masing menanggung bebannya.
Jawaban Maria: "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu" adalah jawaban yang sangat sarat dengan ketebalan imannya. Sebenarnya Maria juga tidak benar-benar memahami apa yang sedang dialaminya, ataupun apa yang akan dijalaninya. Kabar sukacita ini tidak berhenti hanya dalam kelahiran Yesus, melainkan merupakan satu paket dengan kisah sengsaraNya, kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke surga. Satu paket lengkap yang membukakan keselamatan manusia dari akibat dosa Adam dan Hawa. Dalam keadaan tidak mengerti, Maria mau menerima kehendak Allah dan bersedia menanggung segala konsekuensi yang akan dihadapinya dengan iman kepada Tuhan.
Rasanya malu membayangkan betapa sering saya memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan segala konsekuensi yang berlumurkan kepahitan hidup dari kehidupanku. Memang Yesus dalam saat-saat terakhirnya di taman Getsemani juga gentar mengingat konsekuensi yang akan dihadapinya dan memohon: "Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu, tetapi bukan kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi." (Lukas 22:42). Yesus memohonkan kekuatan kepada BapaNya melalui doa, dan malaikat Tuhan datang memberikan kekuatan kepadaNya (Luk 22:43). Terkadang mulut berucap: "terjadilah padaku menurut kehendakMu Bapa," tetapi hati juga sibuk memohon agar segala kemalangan dan kesulitan hidup menjauh dari diriku dan keluargaku. Dan ketika nasib buruk menyambangi sibuk berpikir apa yang salah, mengapa kehidupan tidak berjalan dalam damai sejahteraNya. Padahal damai sejahtera bisa terasakan walaupun kita dalam keadaan terpuruk, berduka, dikhianati, dilecehkan, ataupun dalam penderitaan lainnya, selama kita tetap berjalan bersamaNya. "Imanmu telah menyelamatkanmu," kata Yesus kepada orang-orang yang disembuhkanNya. Iman itu yang memberikan kekuatan untuk terus merasakan damai sejahteraNya dalam untung dan malang, dalam sukacita dan dukacita, dalam kelegaan dan ketakutan...malaikatNya senantiasa mengirim rahmatNya yang menguatkan selama kita hidup di dalam iman.
"Aku senantiasa memandang kepada Tuhan,
karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak,
Bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram,
sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati,
dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan.
Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan, Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapanMu." (Kis Ras 2: 25-28)
Apa yang perlu kuperbuat ya Allah? Melalui Petrus kedengar jawabanNya: "Bertobatlah, berilah dirimu diselamatkan..." (Kis Ras 2:37-40)
Ya Bapa,
Tumbuhkanlah aku terus di dalam iman kepadaMu,
Bantulah keluargaku memupuk iman itu dalam persemaian bibit di dalam anak-anak kami,
Dan berilah kami kekuatanMu untuk terus terbuka terhadap kehendakMu,
dan berani melangkah bersamaMu walaupun gelombang dan badai menghadang di muka.
Bapa, ampunilah kami orang berdosa.
Amin.
Monday, March 23, 2009
Tuhan yang Menyembuhkan
Ada beberapa hal yang menarik dari bacaan Injil Yohannes 5: 1-16 yang saya baca hari ini. Pertama, saya membayangkan diri sebagai seseorang yang sudah tiga puluh delapan tahun sakit. Ketika Yesus bertanya: "Maukah engkau sembuh?" Ia menjawab: "Tuhan tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu, apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku sendiri menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahui aku."
Rasanya situasi itu begitu mudah terbayangkan. Si sakit yang sulit berjalan tidak pernah bisa mencapai air kolam Betesda ketika malaikat Tuhan mengguncangkan air kolam untuk kesembuhan mereka yang mandi ke dalamnya. Beruntung bahwa Yesus berjalan melalui si sakit ini dan berbelas kasihan. Lucunya pertanyaan Yesus apakah ia ingin sembuh tidak langsung dijawabnya. Hal ini karena ia tidak mengenal Yesus. Tetapi dia tergerak karena ada orang yang mau memperhatikannya setelah 38 tahun dia merasa sendirian. Tidak ada orang yang menurunkan dirinya ke dalam kolam, orang lain berlomba mendahului dirinya, rasanya semua orang meninggalkan dirinya...dia sendirian dalam kesulitannya.
Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu dan lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Orang sakit ini tidak terpaku pada pikiran negatif yang baru saja dikeluhkannya. Walaupun ia merasa sendirian, tetapi ia mau mendengarkan perintah orang asing yang tidak dikenalnya untuk kesembuhannya. Beruntung, ia bertemu dengan Yesus yang memang membawakan kesembuhan baginya. Dalam penderitaan, kesakitan, maupun kesendirian seringkali kita menghabiskan waktu untuk meratap. Beruntung orang tadi tidak hanya meratap, dia juga mendengarkan perintah Yesus. Mungkin ada saat-saat dimana Yesus sudah menyuruhku menngangkat tilamku dan pindah dari tempat yang menyengsarakan diriku, tetapi aku tidak mendengar suaraNya karena hanya sibuk mengeluh dan memohon bantuanNya.
Kehidupan masa kini memang lekat dengan keinginan instan. Orang itu setia menanti selama tiga puluh delapan tahun. Ia terus menantikan kesempatan untuk bisa disembuhkan, walaupun ia tahu sanagt sulit baginya mencapai kolam itu sendirian. Kesabarannya berbuahkan hasil. Di luar itu, terpikir juga bilamana kita berada di dalam posisi orang sehat yang lalu lalang disana, bagaimana kita bertindak? Saya pernah melihat betapa banyak orang yang merelakan waktu libur musim panasnya untuk berada di Lourdes, membantu orang-orang sakit yang ingin mendekat ke Grotto dan mandi dalam air Lourdes. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh ke Lourdes, ada saja waktu ketika seorang teman menelpon untuk sekedar "curhat", apakah kita cukup sabar untuk mendengarkan mereka? Apakah kita cukup jeli untuk melihat orang-orang yang butuh bantuan di sekeliling kita?
Yesus datang kepada si sakit dan menyembuhkannya walaupun hari itu hari Sabbat. "BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." Allah tidak pernah berhenti bekerja demi keselamatan manusia. Pelangi, busur perjanjian yang diberikannya boleh jadi memudar tertelan polusi bumi, tetapi janjiNya kekal abadi.
"Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Tentunya ayat ini bukan untuk mengatakan bahwa penderitaan dan penyakit yang kita alami adalah karma buruk perbuatan kita sendiri, tetapi seringkali setelah terlepas dari kesulitan dan penderitaan kita lupa kepada perintah dan laranganNya. Kita lupa bahwa kesembuhan itu kita peroleh bukan karena kepandaian kita, bukan karena kegesitan kita mencapai kolam kesembuhan, tetapi berasal dari belas kasih kunjunganNya.
"Dan kemana saja sungai itu mengalir, semuanya disana hidup" (Yehezkiel 47:9) Aliran kasihNya menghidupkan dan menyejukkan hati. Damai sejahtera menjadi buah dari pohon yang dialiri kasihNya.
Tuhan,
terima kasih sudah datang untuk kesembuhanku,
biarkan aku berjalan bersamaMu selalu,
bersama Gembala kumerasa aman dan terpandu,
jangan biarkan aku menyimpang dari jalanMu,
jangan biarkan damai sejahteraMu menghilang dariku,
Jangan biarkan aku menjauh dari Sungai KehidupanMu.
jangan biarkan mataku buta dan telingaku tuli dari jeritan sesama
yang membutuhkan hadirMu.
bantu aku membawa mereka ke Mata Air Kehidupan Abadi.
Biar mulut kami senantiasa memuji namaMu...
Amin.
Rasanya situasi itu begitu mudah terbayangkan. Si sakit yang sulit berjalan tidak pernah bisa mencapai air kolam Betesda ketika malaikat Tuhan mengguncangkan air kolam untuk kesembuhan mereka yang mandi ke dalamnya. Beruntung bahwa Yesus berjalan melalui si sakit ini dan berbelas kasihan. Lucunya pertanyaan Yesus apakah ia ingin sembuh tidak langsung dijawabnya. Hal ini karena ia tidak mengenal Yesus. Tetapi dia tergerak karena ada orang yang mau memperhatikannya setelah 38 tahun dia merasa sendirian. Tidak ada orang yang menurunkan dirinya ke dalam kolam, orang lain berlomba mendahului dirinya, rasanya semua orang meninggalkan dirinya...dia sendirian dalam kesulitannya.
Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu dan lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Orang sakit ini tidak terpaku pada pikiran negatif yang baru saja dikeluhkannya. Walaupun ia merasa sendirian, tetapi ia mau mendengarkan perintah orang asing yang tidak dikenalnya untuk kesembuhannya. Beruntung, ia bertemu dengan Yesus yang memang membawakan kesembuhan baginya. Dalam penderitaan, kesakitan, maupun kesendirian seringkali kita menghabiskan waktu untuk meratap. Beruntung orang tadi tidak hanya meratap, dia juga mendengarkan perintah Yesus. Mungkin ada saat-saat dimana Yesus sudah menyuruhku menngangkat tilamku dan pindah dari tempat yang menyengsarakan diriku, tetapi aku tidak mendengar suaraNya karena hanya sibuk mengeluh dan memohon bantuanNya.
Kehidupan masa kini memang lekat dengan keinginan instan. Orang itu setia menanti selama tiga puluh delapan tahun. Ia terus menantikan kesempatan untuk bisa disembuhkan, walaupun ia tahu sanagt sulit baginya mencapai kolam itu sendirian. Kesabarannya berbuahkan hasil. Di luar itu, terpikir juga bilamana kita berada di dalam posisi orang sehat yang lalu lalang disana, bagaimana kita bertindak? Saya pernah melihat betapa banyak orang yang merelakan waktu libur musim panasnya untuk berada di Lourdes, membantu orang-orang sakit yang ingin mendekat ke Grotto dan mandi dalam air Lourdes. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh ke Lourdes, ada saja waktu ketika seorang teman menelpon untuk sekedar "curhat", apakah kita cukup sabar untuk mendengarkan mereka? Apakah kita cukup jeli untuk melihat orang-orang yang butuh bantuan di sekeliling kita?
Yesus datang kepada si sakit dan menyembuhkannya walaupun hari itu hari Sabbat. "BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." Allah tidak pernah berhenti bekerja demi keselamatan manusia. Pelangi, busur perjanjian yang diberikannya boleh jadi memudar tertelan polusi bumi, tetapi janjiNya kekal abadi.
"Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Tentunya ayat ini bukan untuk mengatakan bahwa penderitaan dan penyakit yang kita alami adalah karma buruk perbuatan kita sendiri, tetapi seringkali setelah terlepas dari kesulitan dan penderitaan kita lupa kepada perintah dan laranganNya. Kita lupa bahwa kesembuhan itu kita peroleh bukan karena kepandaian kita, bukan karena kegesitan kita mencapai kolam kesembuhan, tetapi berasal dari belas kasih kunjunganNya.
"Dan kemana saja sungai itu mengalir, semuanya disana hidup" (Yehezkiel 47:9) Aliran kasihNya menghidupkan dan menyejukkan hati. Damai sejahtera menjadi buah dari pohon yang dialiri kasihNya.
Tuhan,
terima kasih sudah datang untuk kesembuhanku,
biarkan aku berjalan bersamaMu selalu,
bersama Gembala kumerasa aman dan terpandu,
jangan biarkan aku menyimpang dari jalanMu,
jangan biarkan damai sejahteraMu menghilang dariku,
Jangan biarkan aku menjauh dari Sungai KehidupanMu.
jangan biarkan mataku buta dan telingaku tuli dari jeritan sesama
yang membutuhkan hadirMu.
bantu aku membawa mereka ke Mata Air Kehidupan Abadi.
Biar mulut kami senantiasa memuji namaMu...
Amin.
Wednesday, March 18, 2009
Mencari "Discernment"
Pada Hari Raya St. Yusuf (Yosef), Suami SP. Maria, 19 Maret, kita diingatkan kepada pentingnya institusi keluarga sebagai identitas diri. Bacaan Injil diambil dari Matius 1: 16-21, 24a.
Keluarga sebagai institusi yang dipilih oleh Tuhan untuk membesarkan calon generasi penerus memang sudah diwartakan sejak dari Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian. Tuhan meminta manusia untuk beranak-cucu dan menjadi bangsa yang besar. Tuhan juga menginginkan manusia saling menjaga. Pertanyaan Kain kepada Tuhan ketika ditanya dimana adiknya berada, adalah pertanyaan retoris: "Apakah aku penjaga adikku?" Demikian pula kita diharapkan untuk saling menjaga di dalam keluarga.
Tetapi yang sangat menarik bagi saya dari bacaan Injil di atas adalah mimpi Yusuf. Ketika ia ingin memutuskan tali pertunangan dengan Maria yang telah mengandung, maka malaikat Tuhan datang kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkai takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Maria akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka." Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.
Seringkali saya merasa bingung dalam mengambil sebuah keputusan, apakah ini adalah kehendak Tuhan bagi saya? Ataukah ini adalah kehendak manusiawiku? Yusuf, seperti juga Abraham (bapa orang beriman) taat kepada perintah Tuhan. Mereka percaya bahwa itu adalah perintah dari Tuhan, bukan dari setan. Mencari "discernment" menurut saya sangat sulit. Seringkali saya menantikan mimpi yang datang dari Tuhan untuk menjawab bagaimana saya harus bersikap. Saya jadi teringat kisah hamba yang diberi talenta. Tuannya tidak mengatakan harus diapakan talenta itu. Mereka masing-masing mengambil keputusan dan usaha sendiri. Sesungguhnya Tuhan menginginkan saya juga ikut aktif dalam memilih, dan dengan aktif memilih keputusan itu berarti saya juga siap bertanggungjawab sepenuhnya terhadap pilihan itu.
Dalam buku Retret Agung Umat "Mari Bertanggungjawab..." hari ini mengusung judul "Kedekatan dengan Tuhan membuat orang mampu menanggapi panggilan Tuhan." Ada dua pertanyaan reflektif yang diajukan:
1. Sebagai anak Allah apakah aku mempunyai kedekatan dengan Allah yang memampukan aku untuk terlibat dalam karya penyelamatan Allah?
2. Apakah aku menyediakan waktu dan kegiatan untuk semakin mendekatkan diri dengan Tuhan agar seperti Maria dan Yusuf mampu bertanggungjawab terhadap panggilan Tuhan hingga akhir hidup kita?
Membuat kedekatan relasi dengan Tuhan akan membantu kita memperoleh pilihan yang tepat, yang sesuai dengan kehendakNya. Setia pada pilihan itu, dalam keadaan senang maupun susah, adalah bentuk tanggungjawab kita terhadap pilihan yang telah kita buat. Satu hal yang bisa saya rasakan dari pengalaman hidup saya, walaupun pilihan yang salah yang kita perbuat, selalu ada kesempatan dariNya untuk kembali kepadaNya. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, tetapi bila kita menjauh maka suaraNya akan sulit terdengar, damai sejahteraNya tidak mencapai kalbu.
Rasanya beberapa minggu yang lalu saya mendengar perkataan pastur di kothbah yang berkata, terkadang orang mengatakan bahwa Tuhan itu diam...tapi apakah benar Tuhan itu diam? Bisa jadi Tuhan sudah bersabda, tapi kita yang tuli dan tidak mendengar sabdaNya. Bisa jadi malaikatNya sudah memperingatkan dalam mimpiku, tapi saya yang lalai tidak mengartikannya dengan benar.
Santo Yusuf juga menjadi sosok yang sangat bertanggungjawab. Walaupun peranannya di dalam Kitab Suci kurang tercatat, tetapi dalam saat-saat terpenting dalam kehidupan Yesus, dia hadir. Dia hadir untuk memberikan identitas diri kepada Yesus, memenuhi janji Tuhan bahwa dari keturunan Daud akan lahir Sang Penebus. Ketika Herodes berniat mengambil nyawa Raja yang baru lahir itu, Yusuf hadir dan membawaNya mengungsi ke tempat yang aman. Dia yang bertanggungjawab menghidupi keluarga Kudus sampai akhirnya Yesus dari Nazaret dikenal juga sebagai anak tukang kayu. Dia hadir dengan diam dalam kehidupan Yesus, sama seperti sikap diamnya ketika Yesus yang baru berusia 12 tahun berkata; "Tidakkah kamu tahu Aku harus berada dalam rumah BapaKu?" Dia tidak mempertanyakan nilai dirinya sebagai bapa keluarga di mata Yesus, dia tidak menuntut balasan sikap hormat dan patuh karena telah membesarkan Yesus.
Tuhan,
Terima kasih atas berkat dan kasih sayangMu kepada kami,
Bantu kami bertanggung jawab seperti Yusuf,
Yang setia dan taat kepadaMu,
Yang senantiasa mendahulukan perintahMu,
dan senantiasa melayani demi namaMu,
Agar damai sejahtera senantiasa datang dalam pilihan-pilihan yang kami ambil,
Agar langkah kami senantiasa berada di dalam jalanMu,
Amin.
Santo Yusuf, temanilah keluarga kami dalam perziarahan di bumi...
Bimbinglah suamiku dalam menjadi bapa keluarga,
Ajarilah kami mengenal kehendak Tuhan. Amin.
Keluarga sebagai institusi yang dipilih oleh Tuhan untuk membesarkan calon generasi penerus memang sudah diwartakan sejak dari Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian. Tuhan meminta manusia untuk beranak-cucu dan menjadi bangsa yang besar. Tuhan juga menginginkan manusia saling menjaga. Pertanyaan Kain kepada Tuhan ketika ditanya dimana adiknya berada, adalah pertanyaan retoris: "Apakah aku penjaga adikku?" Demikian pula kita diharapkan untuk saling menjaga di dalam keluarga.
Tetapi yang sangat menarik bagi saya dari bacaan Injil di atas adalah mimpi Yusuf. Ketika ia ingin memutuskan tali pertunangan dengan Maria yang telah mengandung, maka malaikat Tuhan datang kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkai takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Maria akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka." Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.
Seringkali saya merasa bingung dalam mengambil sebuah keputusan, apakah ini adalah kehendak Tuhan bagi saya? Ataukah ini adalah kehendak manusiawiku? Yusuf, seperti juga Abraham (bapa orang beriman) taat kepada perintah Tuhan. Mereka percaya bahwa itu adalah perintah dari Tuhan, bukan dari setan. Mencari "discernment" menurut saya sangat sulit. Seringkali saya menantikan mimpi yang datang dari Tuhan untuk menjawab bagaimana saya harus bersikap. Saya jadi teringat kisah hamba yang diberi talenta. Tuannya tidak mengatakan harus diapakan talenta itu. Mereka masing-masing mengambil keputusan dan usaha sendiri. Sesungguhnya Tuhan menginginkan saya juga ikut aktif dalam memilih, dan dengan aktif memilih keputusan itu berarti saya juga siap bertanggungjawab sepenuhnya terhadap pilihan itu.
Dalam buku Retret Agung Umat "Mari Bertanggungjawab..." hari ini mengusung judul "Kedekatan dengan Tuhan membuat orang mampu menanggapi panggilan Tuhan." Ada dua pertanyaan reflektif yang diajukan:
1. Sebagai anak Allah apakah aku mempunyai kedekatan dengan Allah yang memampukan aku untuk terlibat dalam karya penyelamatan Allah?
2. Apakah aku menyediakan waktu dan kegiatan untuk semakin mendekatkan diri dengan Tuhan agar seperti Maria dan Yusuf mampu bertanggungjawab terhadap panggilan Tuhan hingga akhir hidup kita?
Membuat kedekatan relasi dengan Tuhan akan membantu kita memperoleh pilihan yang tepat, yang sesuai dengan kehendakNya. Setia pada pilihan itu, dalam keadaan senang maupun susah, adalah bentuk tanggungjawab kita terhadap pilihan yang telah kita buat. Satu hal yang bisa saya rasakan dari pengalaman hidup saya, walaupun pilihan yang salah yang kita perbuat, selalu ada kesempatan dariNya untuk kembali kepadaNya. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, tetapi bila kita menjauh maka suaraNya akan sulit terdengar, damai sejahteraNya tidak mencapai kalbu.
Rasanya beberapa minggu yang lalu saya mendengar perkataan pastur di kothbah yang berkata, terkadang orang mengatakan bahwa Tuhan itu diam...tapi apakah benar Tuhan itu diam? Bisa jadi Tuhan sudah bersabda, tapi kita yang tuli dan tidak mendengar sabdaNya. Bisa jadi malaikatNya sudah memperingatkan dalam mimpiku, tapi saya yang lalai tidak mengartikannya dengan benar.
Santo Yusuf juga menjadi sosok yang sangat bertanggungjawab. Walaupun peranannya di dalam Kitab Suci kurang tercatat, tetapi dalam saat-saat terpenting dalam kehidupan Yesus, dia hadir. Dia hadir untuk memberikan identitas diri kepada Yesus, memenuhi janji Tuhan bahwa dari keturunan Daud akan lahir Sang Penebus. Ketika Herodes berniat mengambil nyawa Raja yang baru lahir itu, Yusuf hadir dan membawaNya mengungsi ke tempat yang aman. Dia yang bertanggungjawab menghidupi keluarga Kudus sampai akhirnya Yesus dari Nazaret dikenal juga sebagai anak tukang kayu. Dia hadir dengan diam dalam kehidupan Yesus, sama seperti sikap diamnya ketika Yesus yang baru berusia 12 tahun berkata; "Tidakkah kamu tahu Aku harus berada dalam rumah BapaKu?" Dia tidak mempertanyakan nilai dirinya sebagai bapa keluarga di mata Yesus, dia tidak menuntut balasan sikap hormat dan patuh karena telah membesarkan Yesus.
Tuhan,
Terima kasih atas berkat dan kasih sayangMu kepada kami,
Bantu kami bertanggung jawab seperti Yusuf,
Yang setia dan taat kepadaMu,
Yang senantiasa mendahulukan perintahMu,
dan senantiasa melayani demi namaMu,
Agar damai sejahtera senantiasa datang dalam pilihan-pilihan yang kami ambil,
Agar langkah kami senantiasa berada di dalam jalanMu,
Amin.
Santo Yusuf, temanilah keluarga kami dalam perziarahan di bumi...
Bimbinglah suamiku dalam menjadi bapa keluarga,
Ajarilah kami mengenal kehendak Tuhan. Amin.
Monday, March 16, 2009
Mengampuni dengan segenap hati
Bacaan Injil hari ini diambil dari Matius 18:21-35, mengenai perumpamaan yang diberikan Yesus ketika Petrus bertanya sampai berapa kali ia harus mengampuni saudaranya. Perumpamaan yang diberikan adalah tentang seorang hamba yang hutangnya dihapuskan oleh tuannya karena belas kasihan tuannya, tetapi hamba itu sendiri lalu mencekik temannya yang berhutang kepadanya meminta pelunasan hutang.
Yesus berkata kepada Petrus tentang mengampuni: "...Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Artinya tidak ada batasan untuk mengampuni sesama kita.
Tuhan yang sudah begitu murah hati memaafkan kita, terkadang memang kita lupakan ketika berada di luar gedung gereja. Bahkan di dalam GerejaNya sendiripun terkadang kita melupakan perintahNya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali ini.
Yang terpikirkan pada saat membaca bacaan hari ini adalah mereka yang bersalah di dalam masyarakat. Contoh yang paling dekat dengan Gereja adalah para mantan imam. Terkadang ada umat yang sangat marah, merasa telah ditipu dan dibohongi, telah menerima sakramen pengakuan dosa dari pendosa, dan akhirnya ia menjadi berbalik tidak percaya lagi kepada institusi Gereja. Saya pribadi menganggap semua itu adalah urusan pribadi mantan imam tersebut dengan Tuhan. Sakramen pengakuan dosa yang diberikannya sebagai imam, bukan berasal dari dirinya pribadi melainkan dari Tuhan. Tetapi terus terang terasa kagok bila bertemu dan harus berhadapan entah sebagai sesama umat, ataupun hanya sebagai sesama manusia.
Sama juga dengan orang-orang yang kita ketahui pernah berbuat kesalahan kepada orang banyak, misalnya menggelapkan uang orang. Kalau bertemu lagi, bagaimana saya harus bersikap? Pura-pura tidak tahu dan tidak ingat? Atau hanya pura-pura tidak tahu perbuatannya? Biasanya saya menghindari bertemu dengan orang-orang tersebut karena bingung bagaimana harus bersikap dan berbicara.
Apakah itu berarti saya belum mengampuni dengan segenap hati? Terkadang orang tersebut malah tidak bersalah secara langsung kepada saya, jadi sebenarnya saya tidak punya perasaan marah atau benci kepadanya, tetapi stigma sosial yang dipegangnya membuat situasi untuk berhadapan dengannya menjadikan saya serba salah.
Pagi ini saya bertanya kepada Tuhan, bagaimana dengan kejadian seperti itu? Jawaban yang kuperoleh adalah Mazmur 25: 1-22 "Doa mohon ampun dan perlindungan." Ya, sama seperti hamba yang dibebaskan hutang-hutangnya saya juga memiliki hutang kepadaNya. Dia telah menghapuskan hutang-hutangku dan saya tidak boleh bersikap seperti hamba yang masih tidak mampu membebaskan hutang temannya. Sebenarnya pesan dari perumpamaan tadi jelas, tetapi hati kecil saya masih memberikan argumentasi. Ada orang yang terkadang tidak tahu bahwa ia bersalah, tanpa mengingatkannya maka dia akan terus dalam kesalahannya. Ia merasa aman dan nyaman dalam kesalahannya karena orang-orang tetap memaafkan dan membiarkan dia berlalu dengan kesalahan-kesalahannya. Kitab Mazmur tadi mengingatkanku bahwa dengan mohon ampun dan perlindungan dariNya, serta dengan menyadari bahwa kita juga manusia yang rentan jatuh ke dalam dosa, kita bisa berharap bahwa Dia akan menunjukkan jalan dalam kebenaran dan mengajarkan kita tindakan yang tepat. Kurasa Dia akan menunjukkan sikap apa yang patut kuberikan kepada sesamaku pada saat saya membutuhkan panduanNya. Yang perlu kulakukan hanya berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan tidak meninggalkan sarana komunikasi denganNya yaitu FirmanNya dan berdoa.
Beritahukanlah jalan-jalanMu kepadaku ya Tuhan,
Tunjukkanlah itu kepadaku.
Bawalah aku berjalan dalam kebenaranMu dan ajarlah aku,
sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku,
Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. (Mazmur 25:5)
Tuhan,
Terima kasih atas Roh Kudus yang Dikau berikan
Yang menemaniku dalam kegelapan hati
yang menentramkan gejolak amarah yang bisa menghanguskanku,
yang membantuku untuk memaafkan diriku dan sesamaku,
Tuhan yang Maha Pengampun,
Bantu aku mengampuni dengan segenap hati,
Amin.
Yesus berkata kepada Petrus tentang mengampuni: "...Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Artinya tidak ada batasan untuk mengampuni sesama kita.
Tuhan yang sudah begitu murah hati memaafkan kita, terkadang memang kita lupakan ketika berada di luar gedung gereja. Bahkan di dalam GerejaNya sendiripun terkadang kita melupakan perintahNya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali ini.
Yang terpikirkan pada saat membaca bacaan hari ini adalah mereka yang bersalah di dalam masyarakat. Contoh yang paling dekat dengan Gereja adalah para mantan imam. Terkadang ada umat yang sangat marah, merasa telah ditipu dan dibohongi, telah menerima sakramen pengakuan dosa dari pendosa, dan akhirnya ia menjadi berbalik tidak percaya lagi kepada institusi Gereja. Saya pribadi menganggap semua itu adalah urusan pribadi mantan imam tersebut dengan Tuhan. Sakramen pengakuan dosa yang diberikannya sebagai imam, bukan berasal dari dirinya pribadi melainkan dari Tuhan. Tetapi terus terang terasa kagok bila bertemu dan harus berhadapan entah sebagai sesama umat, ataupun hanya sebagai sesama manusia.
Sama juga dengan orang-orang yang kita ketahui pernah berbuat kesalahan kepada orang banyak, misalnya menggelapkan uang orang. Kalau bertemu lagi, bagaimana saya harus bersikap? Pura-pura tidak tahu dan tidak ingat? Atau hanya pura-pura tidak tahu perbuatannya? Biasanya saya menghindari bertemu dengan orang-orang tersebut karena bingung bagaimana harus bersikap dan berbicara.
Apakah itu berarti saya belum mengampuni dengan segenap hati? Terkadang orang tersebut malah tidak bersalah secara langsung kepada saya, jadi sebenarnya saya tidak punya perasaan marah atau benci kepadanya, tetapi stigma sosial yang dipegangnya membuat situasi untuk berhadapan dengannya menjadikan saya serba salah.
Pagi ini saya bertanya kepada Tuhan, bagaimana dengan kejadian seperti itu? Jawaban yang kuperoleh adalah Mazmur 25: 1-22 "Doa mohon ampun dan perlindungan." Ya, sama seperti hamba yang dibebaskan hutang-hutangnya saya juga memiliki hutang kepadaNya. Dia telah menghapuskan hutang-hutangku dan saya tidak boleh bersikap seperti hamba yang masih tidak mampu membebaskan hutang temannya. Sebenarnya pesan dari perumpamaan tadi jelas, tetapi hati kecil saya masih memberikan argumentasi. Ada orang yang terkadang tidak tahu bahwa ia bersalah, tanpa mengingatkannya maka dia akan terus dalam kesalahannya. Ia merasa aman dan nyaman dalam kesalahannya karena orang-orang tetap memaafkan dan membiarkan dia berlalu dengan kesalahan-kesalahannya. Kitab Mazmur tadi mengingatkanku bahwa dengan mohon ampun dan perlindungan dariNya, serta dengan menyadari bahwa kita juga manusia yang rentan jatuh ke dalam dosa, kita bisa berharap bahwa Dia akan menunjukkan jalan dalam kebenaran dan mengajarkan kita tindakan yang tepat. Kurasa Dia akan menunjukkan sikap apa yang patut kuberikan kepada sesamaku pada saat saya membutuhkan panduanNya. Yang perlu kulakukan hanya berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan tidak meninggalkan sarana komunikasi denganNya yaitu FirmanNya dan berdoa.
Beritahukanlah jalan-jalanMu kepadaku ya Tuhan,
Tunjukkanlah itu kepadaku.
Bawalah aku berjalan dalam kebenaranMu dan ajarlah aku,
sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku,
Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. (Mazmur 25:5)
Tuhan,
Terima kasih atas Roh Kudus yang Dikau berikan
Yang menemaniku dalam kegelapan hati
yang menentramkan gejolak amarah yang bisa menghanguskanku,
yang membantuku untuk memaafkan diriku dan sesamaku,
Tuhan yang Maha Pengampun,
Bantu aku mengampuni dengan segenap hati,
Amin.
Friday, March 13, 2009
Melepaskan Iri Hati
Iri hati tidak pernah membawa kebaikan, tetapi sifat manusia kita juga sangat dekat dengan kecenderungan iri hati ini. Kitab Suci sudah memberikan banyak contoh mengenai keburukan yang datang dari sifat iri hati. Kain dan Habel, Esau dan Yakub, Yusuf dan kakak-kakaknya adalah kisah-kisah yang sangat populer dan teringat dari Kitab Perjanjian Lama.
Dalam Injil Lukas 15: 11-32 diceritakan mengenai kisah anak bungsu yang meminta bagian warisannya terlebih dahulu. Dia berfoya-foya dan jatuh miskin di negeri orang, lalu sadar dan kembali memohon ampun kepada Bapanya. Walaupun si bungsu tidak mengharapkan lebih dari pengampunan dan diterima bekerja di rumah Bapanya, ternyata sang Bapa memulihkan kembali statusnya sebagai anak. Hal ini membuat anak sulung merasa iri dan tidak mau masuk ke rumah. Ia bersungut-sungut kepada Bapanya. Ia merasa semua jerih payahnya melayani Bapa dan menuruti perintah Bapanya belum pernah mendapatkan ganjaran sebuah pesta bagi dirinya dan sahabat-sahabatnya.
Terkadang sebagai manusia yang masih memandang segala sesuatunya seperti "mata ganti mata", kita mengharapkan Tuhan membalaskan sakit hati kita atas perbuatan orang lain dengan azab sengsara. Atau sebagai orang yang masih memiliki mental hamba yang membutuhkan upah, kita merasa Tuhan belum memberikan kita kebahagiaan yang patut untuk semua pelayanan yang kita berikan padaNya. Sifat yang kedua ini yang ada pada si anak sulung.
Kata Bapanya kepadanya: "Anakku engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanKu adalah kepunyaanmu."
Dalam kisah Kain dan Habel (Kejadian 4: 1-16) digambarkan Kain iri hati karena persembahan Habel diterima Tuhan, dan dia membunuh Habel adiknya. Bukannya memeriksa diri mengapa persembahannya tidak berkenan di hadapan Tuhan, ia justru membunuh adiknya. Tuhan memberikan hukumanNya, tetapi apakah Ia membiarkan Kain dibunuh? Dalam ayat 15 Tuhan berfirman: "Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Hukumannya walaupun berat tidak pernah untuk mencelakai manusia. Dan firmanNya itu sebenarnya juga kembali lagi kepada kita bila kita membunuh sesama kita. Membunuh sesama tidak selalu melalui pembunuhan fisik, ada juga pembunuhan karakter, ada juga pembunuhan kesempatan. Sumber dari semuanya adalah rasa iri hati...
Anak kembarku juga seringkali iri hati, sepertinya dari dalam perut mereka sudah berkelahi mencari tempat di dalam rahim yang sempit, lalu dilanjutkan lagi ketika keluar dalam upaya mencari perhatian mamanya. Terkadang saya juga lelah menghadapi mereka, dan tidak tahu bagaimana harus bersikap. Bahkan ketika memperoleh mainan yang sama persis masih bisa juga mereka bertengkar, entah karena masalah batere, atau masalah kecil lainnya. Lalu ditambah keirian si sulung. Dia yang semula memperoleh perhatian sepenuhnya harus berbagi dengan dua orang adik. Rasanya memang manusia sangat dekat dengan sifat iri hati. Belajar dari pengalaman saya menghadapi anak-anak, saya merasa lebih tahu betapa Tuhan juga berusaha untuk selalu adil...dalam caraNya sendiri. Tentu saja saya juga belajar dari kisah Esau dan Yakub, serta kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Sebagai orang tua saya perlu lebih bijaksana agar anak-anak saya tidak merasa iri, ataupun merasa dibedakan antara sulung, yang tengah, maupun bungsu.
Dalam Lukas 15: 1-3 dikisahkan betapa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat iri karena Yesus berbuat baik kepada para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka merasa diri mereka yang suci tidak diajak makan bersama, malahan Yesus mengajak orang berdosa untuk makan. Sikap iri menjauhkan kita dari pertobatan, seperti Kain yang tidak merenungkan mengapa persembahannya tidak berkenan bagi Tuhan, atau seperti si anak sulung yang marah kepada bapanya. Kita juga cenderung marah dan menjauhkan diri dari Tuhan karena iri melihat nasib orang lain yang lebih baik, atau kemampuan dan talenta orang lain yang lebih besar.
Tuhan Allah Bapa yang Mahabaik,
Terima kasih Engkau senantiasa mengingatkan kami,
Agar menjauhkan diri dari sikap iri dan dengki,
Dan memberikan pencerahan agar kami mau merenung dan bertobat,
Bantulah kami memperoleh pertobatan yang tulus ya Bapa,
dan kuatkan kami dalam melepaskan jubah iri hati yang seringkali membungkus kami,
jadikanlah kami anakMu yang sadar akan betapa besar pintu maaf yang Kau miliki,
sehingga kamipun mau meniru memaafkan sesama kami,
Amin.
Dalam Injil Lukas 15: 11-32 diceritakan mengenai kisah anak bungsu yang meminta bagian warisannya terlebih dahulu. Dia berfoya-foya dan jatuh miskin di negeri orang, lalu sadar dan kembali memohon ampun kepada Bapanya. Walaupun si bungsu tidak mengharapkan lebih dari pengampunan dan diterima bekerja di rumah Bapanya, ternyata sang Bapa memulihkan kembali statusnya sebagai anak. Hal ini membuat anak sulung merasa iri dan tidak mau masuk ke rumah. Ia bersungut-sungut kepada Bapanya. Ia merasa semua jerih payahnya melayani Bapa dan menuruti perintah Bapanya belum pernah mendapatkan ganjaran sebuah pesta bagi dirinya dan sahabat-sahabatnya.
Terkadang sebagai manusia yang masih memandang segala sesuatunya seperti "mata ganti mata", kita mengharapkan Tuhan membalaskan sakit hati kita atas perbuatan orang lain dengan azab sengsara. Atau sebagai orang yang masih memiliki mental hamba yang membutuhkan upah, kita merasa Tuhan belum memberikan kita kebahagiaan yang patut untuk semua pelayanan yang kita berikan padaNya. Sifat yang kedua ini yang ada pada si anak sulung.
Kata Bapanya kepadanya: "Anakku engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanKu adalah kepunyaanmu."
Dalam kisah Kain dan Habel (Kejadian 4: 1-16) digambarkan Kain iri hati karena persembahan Habel diterima Tuhan, dan dia membunuh Habel adiknya. Bukannya memeriksa diri mengapa persembahannya tidak berkenan di hadapan Tuhan, ia justru membunuh adiknya. Tuhan memberikan hukumanNya, tetapi apakah Ia membiarkan Kain dibunuh? Dalam ayat 15 Tuhan berfirman: "Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Hukumannya walaupun berat tidak pernah untuk mencelakai manusia. Dan firmanNya itu sebenarnya juga kembali lagi kepada kita bila kita membunuh sesama kita. Membunuh sesama tidak selalu melalui pembunuhan fisik, ada juga pembunuhan karakter, ada juga pembunuhan kesempatan. Sumber dari semuanya adalah rasa iri hati...
Anak kembarku juga seringkali iri hati, sepertinya dari dalam perut mereka sudah berkelahi mencari tempat di dalam rahim yang sempit, lalu dilanjutkan lagi ketika keluar dalam upaya mencari perhatian mamanya. Terkadang saya juga lelah menghadapi mereka, dan tidak tahu bagaimana harus bersikap. Bahkan ketika memperoleh mainan yang sama persis masih bisa juga mereka bertengkar, entah karena masalah batere, atau masalah kecil lainnya. Lalu ditambah keirian si sulung. Dia yang semula memperoleh perhatian sepenuhnya harus berbagi dengan dua orang adik. Rasanya memang manusia sangat dekat dengan sifat iri hati. Belajar dari pengalaman saya menghadapi anak-anak, saya merasa lebih tahu betapa Tuhan juga berusaha untuk selalu adil...dalam caraNya sendiri. Tentu saja saya juga belajar dari kisah Esau dan Yakub, serta kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Sebagai orang tua saya perlu lebih bijaksana agar anak-anak saya tidak merasa iri, ataupun merasa dibedakan antara sulung, yang tengah, maupun bungsu.
Dalam Lukas 15: 1-3 dikisahkan betapa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat iri karena Yesus berbuat baik kepada para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka merasa diri mereka yang suci tidak diajak makan bersama, malahan Yesus mengajak orang berdosa untuk makan. Sikap iri menjauhkan kita dari pertobatan, seperti Kain yang tidak merenungkan mengapa persembahannya tidak berkenan bagi Tuhan, atau seperti si anak sulung yang marah kepada bapanya. Kita juga cenderung marah dan menjauhkan diri dari Tuhan karena iri melihat nasib orang lain yang lebih baik, atau kemampuan dan talenta orang lain yang lebih besar.
Tuhan Allah Bapa yang Mahabaik,
Terima kasih Engkau senantiasa mengingatkan kami,
Agar menjauhkan diri dari sikap iri dan dengki,
Dan memberikan pencerahan agar kami mau merenung dan bertobat,
Bantulah kami memperoleh pertobatan yang tulus ya Bapa,
dan kuatkan kami dalam melepaskan jubah iri hati yang seringkali membungkus kami,
jadikanlah kami anakMu yang sadar akan betapa besar pintu maaf yang Kau miliki,
sehingga kamipun mau meniru memaafkan sesama kami,
Amin.
Wednesday, March 11, 2009
Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia?
Judul di atas bukan kalimat yang lengkap. Kalimat selengkapnya dari Markus 8:36 adalah: "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?"
Bacaan ini saya peroleh ketika memandu kelas Bina Iman Anak minggu lalu. Sebenarnya akhir pekan adalah waktu saya membawa anak-anak menginap di rumah opa-oma mereka. Waktu itu sekaligus menjadi kesempatan saya untuk berkeliling mencari pameran atau acara lain yang menarik hati. Tetapi hati kecil saya meminta saya mengorbankan keinginan dan kesenangan pribadi, apalagi karena kegiatan Bina Iman Remaja yang seharusnya saya pegang tidak bisa berjalan. Mengajak anak remaja mengisi minggu pagi dengan kegiatan yang mirip "sekolah" walaupun hanya sekolah minggu rupanya cukup sulit. Jadi permintaan bantuan dari pembina Bina Iman Anak saya sanggupi untuk melatih diri disiplin dalam memberikan pelayanan nyata.
Menulis buat saya sebuah kesenangan, dan tulisan untuk blog ini biasanya bukan semata berasal dari saya. Dari kegiatan meditasi kelompok maupun meditasi pribadi kata-kata biasanya mengalir sendiri. Rasanya saya hanya mengetikkan, yang membimbing pilihan kata dan topik adalah Roh Kudus. Walaupun merasa bahwa menuliskan blog ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab berbagi saya kepada Gereja, tetap saja ada desakan untuk memberikan karya lain yang lebih nyata terasakan.
Membagi waktu merupakan masalah tersulit bagi seorang ibu, apalagi ketika tidak ada kehadiran asisten rumah tangga. Pada saat itu upaya untuk menekan emosi dan menyeimbangkan diri sangat sulit rasanya. Menulis merupakan cara saya membebaskan diri dari stress rumah tangga, tetapi menulis juga membutuhkan konsentrasi dan waktu. Demikian pula waktu pelayanan. Waktu untuk koor, waktu untuk Bina Iman, waktu untuk kelompok meditasi, waktu untuk Rapat Pengurus Lingkungan, semuanya mengkonsumsi waktu yang seharusnya tersedia bagi rumah tangga dan diri sendiri.
Ketika kebutuhan ekonomi meningkat seiring dengan kebutuhan biaya sekolah anak-anak, maka kebutuhan waktu untuk menghasilkan uang juga menjadi terasa penting. Maka jadilah akrobat mengatur waktu,emosi, dan konsentrasi untuk menjaga keseimbangan itu.
Terlalu fokus pada pelayanan juga kurang baik. Saya pernah merasakan kekeringan itu. Ketika itu mungkin ayat di atas berbunyi: "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan dirinya?" Artinya orang-orang yang mengenal kita mengakui palayanan kita dan mengenal kita, tetapi dalam waktu yang bersamaan kita sendiri merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri, tidak memikirkan persiapan masa depan saya, dan hanya fokus pada kegiatan pelayanan.
Bila terlalu ingin menyenangkan diri pribadi, apalagi dengan kacamata duniawi maka kita akan mengejar kekayaan materi dan ketersohoran secara duniawi tanpa memikirkan jiwa yang mungkin merana, kering, dan jauh dari kasihNya.
Saya baru membaca buku yang bercerita tentang orang tua sebagai petani. Petani tahu bahwa dia harus bekerja keras untuk bisa menghasilkan panen besar. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menanam, memupuk, dan memelihara tanamannya hingga panen. Tetapi semua pekerjaannya akan sia-sia bila Tuhan tidak membantunya dengan sinar matahari dan hujan. Tuhan menyediakan sinar matahari dan hujan yang akan membuat tanaman petani tadi bisa berbuah banyak dan menghasilkan panen yang besar. Kerja keras petani akan sia-sia bila Tuhan tidak melakukan bagianNya.
Saya rasa sama seperti petani, semua kegiatan itu ada proporsinya, sama seperti tanaman membutuhkan komposisi tanah, air, pupuk, dan sinar matahari dalam takaran tertentu untuk bisa bertumbuh dengan subur. Nasehat bagus dari buku Norman Wright "Menjadi Orang tua yang Bijaksana" adalah: "Sebagai orang tua anda perlu memahami bahwa anda harus bekerja sama dengan Tuhan. Anda tidak dapat melakukannya sendiri dan mengharapkan hasil yang baik."
Nasehat itu rasanya tidak hanya berlaku untuk menjadi orang tua yang baik, tetapi juga untuk menjadi anakNya yang baik. Kita mencoba melakukan semua yang terbaik yang bisa kita persembahkan dengan ketulusan. Maka Ia akan menyirami dan memberikan sinarNya untuk menumbuhkan kita dalam diriNya. Dalam Dia, mungkin kita tidak akan memperoleh seluruh dunia. Mungkin kita tidak akan pernah dikenal dunia. Tetapi dalam Dia kehidupan kekal sudah tersedia...
Tuhan,
Terima kasih atas segala penyertaanMu,
Bantu aku bersabar,
Bantu aku mengerti,
Bantu aku memberikan pelayanan yang proporsional
tanpa pernah kehilangan diriku pribadi.
Terima kasih Bapa,
Dalam kasihMu aku bernaung.
Amin.
Bacaan ini saya peroleh ketika memandu kelas Bina Iman Anak minggu lalu. Sebenarnya akhir pekan adalah waktu saya membawa anak-anak menginap di rumah opa-oma mereka. Waktu itu sekaligus menjadi kesempatan saya untuk berkeliling mencari pameran atau acara lain yang menarik hati. Tetapi hati kecil saya meminta saya mengorbankan keinginan dan kesenangan pribadi, apalagi karena kegiatan Bina Iman Remaja yang seharusnya saya pegang tidak bisa berjalan. Mengajak anak remaja mengisi minggu pagi dengan kegiatan yang mirip "sekolah" walaupun hanya sekolah minggu rupanya cukup sulit. Jadi permintaan bantuan dari pembina Bina Iman Anak saya sanggupi untuk melatih diri disiplin dalam memberikan pelayanan nyata.
Menulis buat saya sebuah kesenangan, dan tulisan untuk blog ini biasanya bukan semata berasal dari saya. Dari kegiatan meditasi kelompok maupun meditasi pribadi kata-kata biasanya mengalir sendiri. Rasanya saya hanya mengetikkan, yang membimbing pilihan kata dan topik adalah Roh Kudus. Walaupun merasa bahwa menuliskan blog ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab berbagi saya kepada Gereja, tetap saja ada desakan untuk memberikan karya lain yang lebih nyata terasakan.
Membagi waktu merupakan masalah tersulit bagi seorang ibu, apalagi ketika tidak ada kehadiran asisten rumah tangga. Pada saat itu upaya untuk menekan emosi dan menyeimbangkan diri sangat sulit rasanya. Menulis merupakan cara saya membebaskan diri dari stress rumah tangga, tetapi menulis juga membutuhkan konsentrasi dan waktu. Demikian pula waktu pelayanan. Waktu untuk koor, waktu untuk Bina Iman, waktu untuk kelompok meditasi, waktu untuk Rapat Pengurus Lingkungan, semuanya mengkonsumsi waktu yang seharusnya tersedia bagi rumah tangga dan diri sendiri.
Ketika kebutuhan ekonomi meningkat seiring dengan kebutuhan biaya sekolah anak-anak, maka kebutuhan waktu untuk menghasilkan uang juga menjadi terasa penting. Maka jadilah akrobat mengatur waktu,emosi, dan konsentrasi untuk menjaga keseimbangan itu.
Terlalu fokus pada pelayanan juga kurang baik. Saya pernah merasakan kekeringan itu. Ketika itu mungkin ayat di atas berbunyi: "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan dirinya?" Artinya orang-orang yang mengenal kita mengakui palayanan kita dan mengenal kita, tetapi dalam waktu yang bersamaan kita sendiri merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri, tidak memikirkan persiapan masa depan saya, dan hanya fokus pada kegiatan pelayanan.
Bila terlalu ingin menyenangkan diri pribadi, apalagi dengan kacamata duniawi maka kita akan mengejar kekayaan materi dan ketersohoran secara duniawi tanpa memikirkan jiwa yang mungkin merana, kering, dan jauh dari kasihNya.
Saya baru membaca buku yang bercerita tentang orang tua sebagai petani. Petani tahu bahwa dia harus bekerja keras untuk bisa menghasilkan panen besar. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menanam, memupuk, dan memelihara tanamannya hingga panen. Tetapi semua pekerjaannya akan sia-sia bila Tuhan tidak membantunya dengan sinar matahari dan hujan. Tuhan menyediakan sinar matahari dan hujan yang akan membuat tanaman petani tadi bisa berbuah banyak dan menghasilkan panen yang besar. Kerja keras petani akan sia-sia bila Tuhan tidak melakukan bagianNya.
Saya rasa sama seperti petani, semua kegiatan itu ada proporsinya, sama seperti tanaman membutuhkan komposisi tanah, air, pupuk, dan sinar matahari dalam takaran tertentu untuk bisa bertumbuh dengan subur. Nasehat bagus dari buku Norman Wright "Menjadi Orang tua yang Bijaksana" adalah: "Sebagai orang tua anda perlu memahami bahwa anda harus bekerja sama dengan Tuhan. Anda tidak dapat melakukannya sendiri dan mengharapkan hasil yang baik."
Nasehat itu rasanya tidak hanya berlaku untuk menjadi orang tua yang baik, tetapi juga untuk menjadi anakNya yang baik. Kita mencoba melakukan semua yang terbaik yang bisa kita persembahkan dengan ketulusan. Maka Ia akan menyirami dan memberikan sinarNya untuk menumbuhkan kita dalam diriNya. Dalam Dia, mungkin kita tidak akan memperoleh seluruh dunia. Mungkin kita tidak akan pernah dikenal dunia. Tetapi dalam Dia kehidupan kekal sudah tersedia...
Tuhan,
Terima kasih atas segala penyertaanMu,
Bantu aku bersabar,
Bantu aku mengerti,
Bantu aku memberikan pelayanan yang proporsional
tanpa pernah kehilangan diriku pribadi.
Terima kasih Bapa,
Dalam kasihMu aku bernaung.
Amin.
Monday, March 09, 2009
Karena Mereka Mengajarkannya Tapi Tidak Melakukannya...
Bacaan dari Mat 23: 1-12 sebenarnya banyak berkisah tentang bagaimana menjadi pemimpin sejati. Walaupun suasana di Indonesia sedang hangat dengan pencarian calon pemimpin negara, bacaan hari ini lebih berbicara kepada saya dalam kapasitas saya sebagai seorang ibu rumah tangga. Karena itu sebagian dari isi ayat 3 menjadi pilihan judul posting kali ini, "...karena mereka mengajarkannya tapi tidak melakukannya."
Menjadi pemimpin mungkin bisa disamakan dengan menjadi orang tua, menjadi guru (yang digugu dan ditiru). Dalam buku Retret Agung Umat yang dibagikan sebagai penuntun perjalanan rohani menantikan kebangkitan, dikatakan: "Mereka mengajarkan dan menuntut supaya orang berlaku adil, benar, jujur, disiplin, kerja keras, hidup hemat, sederhana, tetapi mereka sendiri berbuat tidak adil, korupsi, berbohong, malas, boros, konsumtif. Mereka berceramah dan berkothbah supaya orang peduli, solider, toleran, menghargai, menghormati, mengasihi, melayani tanpa pamrih dan pilih kasih kepada siapapun, tetapi mereka bersikap dan berperilaku egois, acuh tak acuh, masa bodoh, mementingkan diri/kelompok sendiri, membenci, memusuhi, suka menghakimi, selalu minta imbalan, menuntut balas jasa,dsb." Rasanya semua kriteria ini perlu kucamkan lagi agar bisa benar-benar memberikan teladan yang baik bagi anak-anakku.
Anak-anak itu seperti spons yang menyerap berbagai hal tanpa saringan. Karena itu benar juga bahwa orang tua harus lebih mengenali dirinya terlebih dahulu sebelum bisa mengenali dan membentuk komunikasi yang baik dengan anaknya. Saya sedang membaca buku H. Norman Wright "Menjadi Orangtua yang Bijaksana"...sepertinya sebuah buku bagus untuk mengarahkan saya menciptakan komunikasi yang lebih baik di dalam rumah. Yang paling berat buat saya pribadi adalah mengetahui segala macam teori pendidikan itu, tapi tidak mampu memindahkannya ke anak-anak karena saya hanya mampu mengajarkan dan bukan melakukannya. Karena itulah saya selalu membutuhkan bantuanNya untuk ikut menyentil saya tatkala sedang ngantuk dan melenceng.
Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya memiliki kriteria sebagai pemimpin? Memiliki anak yang berintegritas, memiliki kredibilitas, kapabilitas, dan akseptabilitas tentunya menjadi impian orang tua. Menjadikan mereka pribadi yang utuh, dipercaya orang, mampu bekerja, dan diterima orang banyak, merupakan tugas sebagai orang tua, dan tanggung jawab yang berat untuk dipikul. Apalagi bila orang tuanya (kedua maupun salah satunya) sendiri belum tuntas dengan pendewasaan dirinya pribadi.
Mengajarkan anak untuk berserah sepenuhnya kepada Tuhan, hanya bergantung kepada Tuhan saja merupakan hal yang sulit bila orang tua sendiri masih terikat pada ketakutan-ketakutan pribadi akan masa depan.
Saya bersyukur memiliki komunitas teman-teman yang senantiasa menguatkan,senantiasa berbagi dan menolong saya dalam usaha memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
Kehidupan di dunia maya juga membuat saya harus belajar berbagi waktu, belajar menekan kemungkinan narsistik dari kegiatan daring yang memuaskan diri pribadi dan melalaikan tanggung jawab sebagai ibu. Tetapi, kehidupan di dunia maya ini juga membuat saya tersadarkan betapa banyak permasalahan yang universal, dan betapa masih banyak orang yang mencari dan ingin mengusahakan kedamaian di dalam Tuhan. Keberimbangan hidup, dan pencarian kedamaian dalam pengambilan setiap keputusan sebelum melangkah (discernment) adalah hal yang masih kucari dan kupinta dalam doa.
Tuhan,
betapa sering aku melalaikan tugasku untuk memberi teladan
melupakan arti melayani ketika kelelahan mendera
tetapi Engkau tidak meninggalkanku sendiri
Terima kasih Tuhan,
bantulah aku menjadi lebih arif dan sabar
jadikanlah aku anakMu
yang hanya mengejar yang baik dan benar
yang mampu bertindak adil dan jujur
yang lebih memilih melayani daripada dilayani
dan siap mencintai seperti cintaMu yang tidak berbatas,
Amin
Menjadi pemimpin mungkin bisa disamakan dengan menjadi orang tua, menjadi guru (yang digugu dan ditiru). Dalam buku Retret Agung Umat yang dibagikan sebagai penuntun perjalanan rohani menantikan kebangkitan, dikatakan: "Mereka mengajarkan dan menuntut supaya orang berlaku adil, benar, jujur, disiplin, kerja keras, hidup hemat, sederhana, tetapi mereka sendiri berbuat tidak adil, korupsi, berbohong, malas, boros, konsumtif. Mereka berceramah dan berkothbah supaya orang peduli, solider, toleran, menghargai, menghormati, mengasihi, melayani tanpa pamrih dan pilih kasih kepada siapapun, tetapi mereka bersikap dan berperilaku egois, acuh tak acuh, masa bodoh, mementingkan diri/kelompok sendiri, membenci, memusuhi, suka menghakimi, selalu minta imbalan, menuntut balas jasa,dsb." Rasanya semua kriteria ini perlu kucamkan lagi agar bisa benar-benar memberikan teladan yang baik bagi anak-anakku.
Anak-anak itu seperti spons yang menyerap berbagai hal tanpa saringan. Karena itu benar juga bahwa orang tua harus lebih mengenali dirinya terlebih dahulu sebelum bisa mengenali dan membentuk komunikasi yang baik dengan anaknya. Saya sedang membaca buku H. Norman Wright "Menjadi Orangtua yang Bijaksana"...sepertinya sebuah buku bagus untuk mengarahkan saya menciptakan komunikasi yang lebih baik di dalam rumah. Yang paling berat buat saya pribadi adalah mengetahui segala macam teori pendidikan itu, tapi tidak mampu memindahkannya ke anak-anak karena saya hanya mampu mengajarkan dan bukan melakukannya. Karena itulah saya selalu membutuhkan bantuanNya untuk ikut menyentil saya tatkala sedang ngantuk dan melenceng.
Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya memiliki kriteria sebagai pemimpin? Memiliki anak yang berintegritas, memiliki kredibilitas, kapabilitas, dan akseptabilitas tentunya menjadi impian orang tua. Menjadikan mereka pribadi yang utuh, dipercaya orang, mampu bekerja, dan diterima orang banyak, merupakan tugas sebagai orang tua, dan tanggung jawab yang berat untuk dipikul. Apalagi bila orang tuanya (kedua maupun salah satunya) sendiri belum tuntas dengan pendewasaan dirinya pribadi.
Mengajarkan anak untuk berserah sepenuhnya kepada Tuhan, hanya bergantung kepada Tuhan saja merupakan hal yang sulit bila orang tua sendiri masih terikat pada ketakutan-ketakutan pribadi akan masa depan.
Saya bersyukur memiliki komunitas teman-teman yang senantiasa menguatkan,senantiasa berbagi dan menolong saya dalam usaha memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
Kehidupan di dunia maya juga membuat saya harus belajar berbagi waktu, belajar menekan kemungkinan narsistik dari kegiatan daring yang memuaskan diri pribadi dan melalaikan tanggung jawab sebagai ibu. Tetapi, kehidupan di dunia maya ini juga membuat saya tersadarkan betapa banyak permasalahan yang universal, dan betapa masih banyak orang yang mencari dan ingin mengusahakan kedamaian di dalam Tuhan. Keberimbangan hidup, dan pencarian kedamaian dalam pengambilan setiap keputusan sebelum melangkah (discernment) adalah hal yang masih kucari dan kupinta dalam doa.
Tuhan,
betapa sering aku melalaikan tugasku untuk memberi teladan
melupakan arti melayani ketika kelelahan mendera
tetapi Engkau tidak meninggalkanku sendiri
Terima kasih Tuhan,
bantulah aku menjadi lebih arif dan sabar
jadikanlah aku anakMu
yang hanya mengejar yang baik dan benar
yang mampu bertindak adil dan jujur
yang lebih memilih melayani daripada dilayani
dan siap mencintai seperti cintaMu yang tidak berbatas,
Amin
Sunday, March 08, 2009
A Letter from Jesus
If you never felt pain, then how would you know that I am a Healer?
If you never had to pray, how would you know that I am a Deliverer?
If you never had a trial, how could you call yourself an overcomer?
If you never felt sadness, how would you know that I am a Comforter?
If you never made a mistake, how would you know that I am a forgiver?
If you knew all, how would you know that I will answer your questions?
If you never were in trouble, how would you know that I will come to your rescue
If you never were broken, how would you know that I can make you whole?
If you never had a problem, how would you know that I can solve them?
If you never had any suffering, how would you know what I went through?
If you never went through the fire, how would you become pure?
If I gave you all things, how would you appreciate them?
If I never corrected you, how would you know that I love you?
If you had all power, how would you learn to depend on me?
If your life was perfect, then what would you need me for?
Love,
Jesus
Surat ini datang ke e-mail saya melalui Jm Kummala, beserta gambar-gambar sebenarnya...tapi tanpa gambar juga menarik untuk dibaca. Sumber aslinya tidak jelas karena itu saya biarkan tanpa gambar saja. Yesusnya berbahasa Inggris walaupun Ia bukan orang Inggris hehehe...yakin dengan bahasa Roh bisa dimengerti orang banyak. Shaloom...
If you never had to pray, how would you know that I am a Deliverer?
If you never had a trial, how could you call yourself an overcomer?
If you never felt sadness, how would you know that I am a Comforter?
If you never made a mistake, how would you know that I am a forgiver?
If you knew all, how would you know that I will answer your questions?
If you never were in trouble, how would you know that I will come to your rescue
If you never were broken, how would you know that I can make you whole?
If you never had a problem, how would you know that I can solve them?
If you never had any suffering, how would you know what I went through?
If you never went through the fire, how would you become pure?
If I gave you all things, how would you appreciate them?
If I never corrected you, how would you know that I love you?
If you had all power, how would you learn to depend on me?
If your life was perfect, then what would you need me for?
Love,
Jesus
Surat ini datang ke e-mail saya melalui Jm Kummala, beserta gambar-gambar sebenarnya...tapi tanpa gambar juga menarik untuk dibaca. Sumber aslinya tidak jelas karena itu saya biarkan tanpa gambar saja. Yesusnya berbahasa Inggris walaupun Ia bukan orang Inggris hehehe...yakin dengan bahasa Roh bisa dimengerti orang banyak. Shaloom...
Adil dan Bertanggung Jawab
Menjelang Minggu II masa Prapaskah kemarin ada beberapa bacaan yang sangat menyentuh hati saya. Yang pertama adalah Matius 5:43-48. Dalam kothbah di bukit, Yesus menyatakan dengan gamblang, "Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Sebab Ia membuat matahariNya terbit bagi orang yang jahat dan bagi orang yang baik pula, hujanpun diturunkanNya bagi orang yang benar dan juga orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna adanya."
Kutipan yang panjang...seluruhnya memiliki nilai yang sangat berarti. Yang amat menyentuh saya ketika mendengar kutipan ini adalah kebenaran tentang matahari dan hujan. Manusia hidup mengandalkan matahari dan hujan, dan kehidupan itu diberikan kepada semua orang tanpa memandang baik atau buruknya ia menjalankan sabda Allah.
Mengasihi tanpa batasan, senantiasa berbuat adil bahkan mendoakan orang lain yang berlaku tidak adil pada kita merupakan sebuah beban yang terasa berat dan melelahkan. Pastur di gereja mengutip lagu "Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa...hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia..."
Terkadang sebagai ibu rasanya kasih saya tidak lagi seperti sang surya. Saya berharap dengan mengasihi anak-anak saya, mereka juga menunjukkan perilaku yang manis dan baik. Ketika mereka nakal dan mungkin berlaku agak kurang ajar, saya menjadi marah, atau paling tidak merasa sedih dan lelah. Saya merasa telah mencurahkan semua unsur kehidupan yang saya miliki bagi mereka, dan mereka tidak mengapresiasinya. Ternyata saya juga berharap memperoleh cinta dari mereka, memperoleh perhatian dari mereka, memperoleh penghormatan dari mereka...
Allah tidak pernah lelah memberikan kasihNya kepada saya. Bahkan ketika saya tidak mengingat kesalahan saya sendiri, dan berdoa untuk meminta pembalasan bagi orang-orang yang berlaku tidak adil kepada saya, Ia tidak lelah mendidik saya untuk menjadi anakNya...menjadi sempurna seperti diriNya.
Matius 5: 23-24 mengatakan, "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." Walaupun Allah menginginkan kita untuk senantiasa menjadikanNya prioritas pertama dalam kehidupan kita, ternyata ada hal penting lain yang perlu kita ingat sebelum menghantarkan diri kepadaNya...memaafkan sesama, ataupun minta maaf kepada sesama.
Terkadang pelayanan yang kita lakukan di lingkungan gereja maupun masyarakat juga karena berharap imbalan dari Tuhan Allah. Dan sementara pelayanan berjalan, rasa kesal dan kemarahan terhadap orang-orang yang tidak membantu juga membukit. Itulah sumber dari keringnya kehidupan rohani kita. Saya merasakannya ketika masih mahasiswa dahulu, mendahulukan pelayanan tetapi sering merasa kesal karena hanya orang-orang yang itu-itu saja yang bekerja. Dan rasanya hati saya menjadi gersang, kedamaian tidak terasa disana. Seorang pastur yang saya mintai nasehat menyuruh saya supaya tidak fokus kepada kegiatan organisasi tetapi lebih fokus kepada pelayanan itu sendiri. Nasehat ini masih terus saya ingat sampai sekarang, karena pelayanan dalam organisasi menginginkan hasil akhir, target proyek, imbalan yang memuaskan...tetapi "pelayanan dalam Tuhan" tidak selalu bisa dilihat hasilnya. Ada yang jatuh di tanah yang subur, ada yang jatuh di tanah berbatu, adapula yang jatuh di dalam semak berduri. Satu hasil yang dijanjikanNya adalah kedamaian hati dan kehidupan kekal bersamaNya.
Membaca Titus 2: 1-10 mengenai kewajiban orang tua, pemuda, dan hamba sekali lagi mengetuk hati saya untuk bangun. Nasehat kepada perempuan begitu panjang dibandingkan kepada kaum lelaki.
Bila kepada lelaki hanya dipesankan untuk hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih, dan dalam ketekunan, maka kepada kaum perempuan diberikan nasehat yang jauh lebih panjang. "Hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang." Belum lagi nasehat kepada orang muda dimulai dengan kata-kata:"...nasehatilah mereka..." Berada persis di bawah nasehat kepada kaum perempuan (dewasa) membuatnya seakan menyatu dengan tugas mengajarkan dan mendidik yang secara khusus disebutkan di atasnya.
Lelaki terkadang memang terasa bagai makhluk dari Mars yang tidak sebahasa dengan perempuan yang berbahasa planet Venus. Ketika makhluk Mars itu belum menjadi bagian kehidupan sepenuhnya dari perempuan, maka menjadi tantangan yang besar untuk mengenali dan belajar bahasanya. Tetapi ketika keduanya harus hidup di dalam satu biduk rumah tangga, lalu terasa betapa berbeda bahasanya...betapa sulit untuk mengertinya. Dan tidak jarang makhluk Mars, yang juga malas belajar bahasa Venus ini, memilih membungkam seribu bahasa dan membuat komunikasi semakin berantakan. Ketika itu beban tanggung jawab terhadap anak-anak terasa sangat berat, bagai memikul salib sendirian...Rupanya memang makhluk Venus lebih boros dalam berkata-kata, karena itu pula nasehat yang kami peroleh demikian panjang dan detail.
Sebenarnya masih satu pertanyaan yang menggelayut di kepalaku. Nasehat yang bergitu panjang bagi kaum perempuan diakhiri dengan perkataan "agar Firman Allah jangan dihujat orang". Walaupun tahu bahwa ada makna tanggung jawab mendidik dan pengajaran disana, tetapi hati kecilku masih berteriak "itu juga tugas lelaki..."
Tuhan Allah yang Maharahim,
terima kasih atas cinta tak terbatas yang Kau curahkan pada kami
atas matahari dan hujan yang Kau anugerahkan untuk kehidupan kami
atas ketulusan penuh maaf yang Kau tawarkan bagi kami
Masih banyak hal yang tidak kumengerti Bapa...
Masih banyak hal yang menjadi protes di dalam hatiku...
Aku yakin Dikau mengerti dan akan menjawabnya sesuai dengan waktuMu...
Sementara itu dukung dan bantu aku dalam bertanggung jawab bagi keluargaku...
Amin.
Kutipan yang panjang...seluruhnya memiliki nilai yang sangat berarti. Yang amat menyentuh saya ketika mendengar kutipan ini adalah kebenaran tentang matahari dan hujan. Manusia hidup mengandalkan matahari dan hujan, dan kehidupan itu diberikan kepada semua orang tanpa memandang baik atau buruknya ia menjalankan sabda Allah.
Mengasihi tanpa batasan, senantiasa berbuat adil bahkan mendoakan orang lain yang berlaku tidak adil pada kita merupakan sebuah beban yang terasa berat dan melelahkan. Pastur di gereja mengutip lagu "Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa...hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia..."
Terkadang sebagai ibu rasanya kasih saya tidak lagi seperti sang surya. Saya berharap dengan mengasihi anak-anak saya, mereka juga menunjukkan perilaku yang manis dan baik. Ketika mereka nakal dan mungkin berlaku agak kurang ajar, saya menjadi marah, atau paling tidak merasa sedih dan lelah. Saya merasa telah mencurahkan semua unsur kehidupan yang saya miliki bagi mereka, dan mereka tidak mengapresiasinya. Ternyata saya juga berharap memperoleh cinta dari mereka, memperoleh perhatian dari mereka, memperoleh penghormatan dari mereka...
Allah tidak pernah lelah memberikan kasihNya kepada saya. Bahkan ketika saya tidak mengingat kesalahan saya sendiri, dan berdoa untuk meminta pembalasan bagi orang-orang yang berlaku tidak adil kepada saya, Ia tidak lelah mendidik saya untuk menjadi anakNya...menjadi sempurna seperti diriNya.
Matius 5: 23-24 mengatakan, "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." Walaupun Allah menginginkan kita untuk senantiasa menjadikanNya prioritas pertama dalam kehidupan kita, ternyata ada hal penting lain yang perlu kita ingat sebelum menghantarkan diri kepadaNya...memaafkan sesama, ataupun minta maaf kepada sesama.
Terkadang pelayanan yang kita lakukan di lingkungan gereja maupun masyarakat juga karena berharap imbalan dari Tuhan Allah. Dan sementara pelayanan berjalan, rasa kesal dan kemarahan terhadap orang-orang yang tidak membantu juga membukit. Itulah sumber dari keringnya kehidupan rohani kita. Saya merasakannya ketika masih mahasiswa dahulu, mendahulukan pelayanan tetapi sering merasa kesal karena hanya orang-orang yang itu-itu saja yang bekerja. Dan rasanya hati saya menjadi gersang, kedamaian tidak terasa disana. Seorang pastur yang saya mintai nasehat menyuruh saya supaya tidak fokus kepada kegiatan organisasi tetapi lebih fokus kepada pelayanan itu sendiri. Nasehat ini masih terus saya ingat sampai sekarang, karena pelayanan dalam organisasi menginginkan hasil akhir, target proyek, imbalan yang memuaskan...tetapi "pelayanan dalam Tuhan" tidak selalu bisa dilihat hasilnya. Ada yang jatuh di tanah yang subur, ada yang jatuh di tanah berbatu, adapula yang jatuh di dalam semak berduri. Satu hasil yang dijanjikanNya adalah kedamaian hati dan kehidupan kekal bersamaNya.
Membaca Titus 2: 1-10 mengenai kewajiban orang tua, pemuda, dan hamba sekali lagi mengetuk hati saya untuk bangun. Nasehat kepada perempuan begitu panjang dibandingkan kepada kaum lelaki.
Bila kepada lelaki hanya dipesankan untuk hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih, dan dalam ketekunan, maka kepada kaum perempuan diberikan nasehat yang jauh lebih panjang. "Hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang." Belum lagi nasehat kepada orang muda dimulai dengan kata-kata:"...nasehatilah mereka..." Berada persis di bawah nasehat kepada kaum perempuan (dewasa) membuatnya seakan menyatu dengan tugas mengajarkan dan mendidik yang secara khusus disebutkan di atasnya.
Lelaki terkadang memang terasa bagai makhluk dari Mars yang tidak sebahasa dengan perempuan yang berbahasa planet Venus. Ketika makhluk Mars itu belum menjadi bagian kehidupan sepenuhnya dari perempuan, maka menjadi tantangan yang besar untuk mengenali dan belajar bahasanya. Tetapi ketika keduanya harus hidup di dalam satu biduk rumah tangga, lalu terasa betapa berbeda bahasanya...betapa sulit untuk mengertinya. Dan tidak jarang makhluk Mars, yang juga malas belajar bahasa Venus ini, memilih membungkam seribu bahasa dan membuat komunikasi semakin berantakan. Ketika itu beban tanggung jawab terhadap anak-anak terasa sangat berat, bagai memikul salib sendirian...Rupanya memang makhluk Venus lebih boros dalam berkata-kata, karena itu pula nasehat yang kami peroleh demikian panjang dan detail.
Sebenarnya masih satu pertanyaan yang menggelayut di kepalaku. Nasehat yang bergitu panjang bagi kaum perempuan diakhiri dengan perkataan "agar Firman Allah jangan dihujat orang". Walaupun tahu bahwa ada makna tanggung jawab mendidik dan pengajaran disana, tetapi hati kecilku masih berteriak "itu juga tugas lelaki..."
Tuhan Allah yang Maharahim,
terima kasih atas cinta tak terbatas yang Kau curahkan pada kami
atas matahari dan hujan yang Kau anugerahkan untuk kehidupan kami
atas ketulusan penuh maaf yang Kau tawarkan bagi kami
Masih banyak hal yang tidak kumengerti Bapa...
Masih banyak hal yang menjadi protes di dalam hatiku...
Aku yakin Dikau mengerti dan akan menjawabnya sesuai dengan waktuMu...
Sementara itu dukung dan bantu aku dalam bertanggung jawab bagi keluargaku...
Amin.
Saturday, February 28, 2009
Berkat Malaikat Pelindung (3)
Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka (Mazmur 36:7)
Mungkin ada banyak lagi kejadian lain yang terluput dari ingatanku, tapi beberapa peristiwa yang kuat menggores batin teringat dengan jelas.
Dalam suatu perjalanan panjang ke Eropa, saya sudah bertekad akan memasuki gereja Katolik di setiap kota yang saya singgahi dan berdoa disana. Minimal satu gereja di tiap kotanya. Kalau kebetulan bertemu beberapa gereja dan saya ada waktu, tentu saja menyenangkan untuk mengunjungi semuanya, bahkan Sacre Coeur merupakan gereja favorit yang sering sekali saya kunjungi.
Pernah satu ketika saya hanya akan berada di satu kota untuk waktu yang sangat singkat dengan acara yang sudah tersusun padat. Jadi kesempatanku untuk mencari gereja hanya pagi itu saja. Dari sore hari sebelumnya saya sudah mencoba mencari letak gereja Katolik terdekat dari apartemen teman sepupuku, tapi tidak berhasil menemukannya. Pagi itu saya mencari lokasi gereja dengan mengira-ngira berdasarkan dentang lonceng gereja. Alangkah putus asanya ketika dentang itu berakhir sebelum aku melihat wujud gereja. Merasa tanggung, aku terus berusaha mencari gereja tersebut. Ketika akhirnya menemukan bangunan yang kuperkirakan gereja Katolik, kembali rasa putus asa mencekam...pintu depannya terkunci! Selama di Eropa waktu itu, belum pernah saya menemukan gereja yang pintunya terkunci. Tapi bunyi lonceng gereja tadi juga sangat jelas...Tidak ada juga orang yang terlambat datang...Hampir putus asa dan ingin pulang saja, tiba-tiba terdengar suara nyanyian yang benar-benar bak nyanyian malaikat dari surga di telingaku. Kucoba mencari asal suara itu, dan akhirnya menemukan kapel kecil tempat ibadat pagi itu dilaksanakan. Tercapai juga niatku menerima Sakramen Maha Kudus pagi itu.
Entah apakah karena perjalananku yang selalu mencari gereja Katolik ini, atau karena doa orang tuaku yang pasti selalu juga mendoakan keselamatanku. Entah juga kalau kejadian di bawah ini hanya sebuah hal biasa yang dibesar-besarkan oleh imajinasiku yang terlalu hebat.
Suatu saat, dari Hamburg saya berangkat ke Paris melalui Amsterdam dengan naik bis malam. Dalam perjalanan ke Amsterdam saya duduk berdampingan dengan seorang pria muda. Dia mengaku "Indo", masih punya keturunan nenek buyut dari Semarang. Biasa, dengar nama Indonesia...rasanya langsung percaya saja. Ketika tiba di stasiun bis lelaki muda ini menawarkan untuk menemaniku mengunjungi Amsterdam. Memang jadwal saya numpang lewat itu disusun supaya saya sempat keliling dari pagi hingga sore di Amsterdam, dan baru kembali ke Paris malam harinya.
Senang karena tiba-tiba memperoleh teman yang baik hati, saya mau saja ditemani. Malahan dia meminta saya mampir dulu ke tempat tinggalnya untuk menaruh barang-barangnya. Dalam perjalanan saya mengatakan ingin juga melihat apabila ada gereja Katolik di Amsterdam. Dia mengatakan tidak tahu dimana letak gereja Katolik, tapi membawa saya melintasi sebuah taman, dimana menurut dia dahulu umat Katolik yang masa itu terlarang di Belanda biasa berkumpul berdoa. Dia juga mengajak saya masuk ke sebuah bar, melihat orang yang menjual hasis dan marijuana. Tentu saja saya tolak..."Hanya melihat," katanya. Saya tetap menolak. Jadilah kami berjalan kesana kemari, bahkan dia juga bercerita tentang copet-copet yang sering beraksi di antara para turis di Amsterdam. Ketika malam tiba,saatnya saya kembali ke Paris dengan bis malam. Dia mengantar saya ke stasiun dan kami bertukar alamat dengan pesan akan saling mengirim kabar.
Setiba di Paris, ternyata dia sama sekali tidak membalas kartu pos yang kukirim, bahkan telpon yang diberikannya juga tidak pernah diangkat. Episode singkat ini nyaris terlupakan, kalau saja beberapa bulan kemudian saya tidak mendengar ada wanita yang ditangkap karena membawa titipan narkoba dari Amsterdam. Tentu saja kisah itu tidak ada hubungannya dengan orang yang saya temui, tapi sempat terpikir kalau dia pada waktu itu menitipkan barang untuk saudaranya yang katanya masih banyak di Semarang, rasanya bisa jadi akan saya bawa tanpa rasa curiga apapun.
Dalam hati terpikir, bisa saja pemuda tadi semula bermaksud jahat pada saya tapi kemudian tidak melaksanakannya. Hal ini pernah saya ceritakan pada anak-anak Bina Iman Remaja. Terkadang remaja tidak berpikir cukup panjang ketika sedang menikmati dunia baru yang tampak asing dan menarik. Segala nasehat orang tua untuk tidak mudah berhubungan dengan orang yang baru dikenal seringkali dilupakan. Walaupun bisa jadi pemuda itu memang bukan orang jahat, bahkan mungkin juga telah menjadi malaikat yang melindungiku dalam perjalanan sendirian di kota Amsterdam. Tetapi aku percaya bahwa karena doa-doa yang kupanjatkan di setiap gereja yang kusinggahi, dan karena kasihNya saya telah dilindungi.
Tuhan,
Terima kasih atas perlindungaMu yang tidak berbatas
KasihMu yang selalu meneduhiku dalam perjalananku
Malaikatmu yang melindungiku dalam naungan kasihMu
Amin
Mungkin ada banyak lagi kejadian lain yang terluput dari ingatanku, tapi beberapa peristiwa yang kuat menggores batin teringat dengan jelas.
Dalam suatu perjalanan panjang ke Eropa, saya sudah bertekad akan memasuki gereja Katolik di setiap kota yang saya singgahi dan berdoa disana. Minimal satu gereja di tiap kotanya. Kalau kebetulan bertemu beberapa gereja dan saya ada waktu, tentu saja menyenangkan untuk mengunjungi semuanya, bahkan Sacre Coeur merupakan gereja favorit yang sering sekali saya kunjungi.
Pernah satu ketika saya hanya akan berada di satu kota untuk waktu yang sangat singkat dengan acara yang sudah tersusun padat. Jadi kesempatanku untuk mencari gereja hanya pagi itu saja. Dari sore hari sebelumnya saya sudah mencoba mencari letak gereja Katolik terdekat dari apartemen teman sepupuku, tapi tidak berhasil menemukannya. Pagi itu saya mencari lokasi gereja dengan mengira-ngira berdasarkan dentang lonceng gereja. Alangkah putus asanya ketika dentang itu berakhir sebelum aku melihat wujud gereja. Merasa tanggung, aku terus berusaha mencari gereja tersebut. Ketika akhirnya menemukan bangunan yang kuperkirakan gereja Katolik, kembali rasa putus asa mencekam...pintu depannya terkunci! Selama di Eropa waktu itu, belum pernah saya menemukan gereja yang pintunya terkunci. Tapi bunyi lonceng gereja tadi juga sangat jelas...Tidak ada juga orang yang terlambat datang...Hampir putus asa dan ingin pulang saja, tiba-tiba terdengar suara nyanyian yang benar-benar bak nyanyian malaikat dari surga di telingaku. Kucoba mencari asal suara itu, dan akhirnya menemukan kapel kecil tempat ibadat pagi itu dilaksanakan. Tercapai juga niatku menerima Sakramen Maha Kudus pagi itu.
Entah apakah karena perjalananku yang selalu mencari gereja Katolik ini, atau karena doa orang tuaku yang pasti selalu juga mendoakan keselamatanku. Entah juga kalau kejadian di bawah ini hanya sebuah hal biasa yang dibesar-besarkan oleh imajinasiku yang terlalu hebat.
Suatu saat, dari Hamburg saya berangkat ke Paris melalui Amsterdam dengan naik bis malam. Dalam perjalanan ke Amsterdam saya duduk berdampingan dengan seorang pria muda. Dia mengaku "Indo", masih punya keturunan nenek buyut dari Semarang. Biasa, dengar nama Indonesia...rasanya langsung percaya saja. Ketika tiba di stasiun bis lelaki muda ini menawarkan untuk menemaniku mengunjungi Amsterdam. Memang jadwal saya numpang lewat itu disusun supaya saya sempat keliling dari pagi hingga sore di Amsterdam, dan baru kembali ke Paris malam harinya.
Senang karena tiba-tiba memperoleh teman yang baik hati, saya mau saja ditemani. Malahan dia meminta saya mampir dulu ke tempat tinggalnya untuk menaruh barang-barangnya. Dalam perjalanan saya mengatakan ingin juga melihat apabila ada gereja Katolik di Amsterdam. Dia mengatakan tidak tahu dimana letak gereja Katolik, tapi membawa saya melintasi sebuah taman, dimana menurut dia dahulu umat Katolik yang masa itu terlarang di Belanda biasa berkumpul berdoa. Dia juga mengajak saya masuk ke sebuah bar, melihat orang yang menjual hasis dan marijuana. Tentu saja saya tolak..."Hanya melihat," katanya. Saya tetap menolak. Jadilah kami berjalan kesana kemari, bahkan dia juga bercerita tentang copet-copet yang sering beraksi di antara para turis di Amsterdam. Ketika malam tiba,saatnya saya kembali ke Paris dengan bis malam. Dia mengantar saya ke stasiun dan kami bertukar alamat dengan pesan akan saling mengirim kabar.
Setiba di Paris, ternyata dia sama sekali tidak membalas kartu pos yang kukirim, bahkan telpon yang diberikannya juga tidak pernah diangkat. Episode singkat ini nyaris terlupakan, kalau saja beberapa bulan kemudian saya tidak mendengar ada wanita yang ditangkap karena membawa titipan narkoba dari Amsterdam. Tentu saja kisah itu tidak ada hubungannya dengan orang yang saya temui, tapi sempat terpikir kalau dia pada waktu itu menitipkan barang untuk saudaranya yang katanya masih banyak di Semarang, rasanya bisa jadi akan saya bawa tanpa rasa curiga apapun.
Dalam hati terpikir, bisa saja pemuda tadi semula bermaksud jahat pada saya tapi kemudian tidak melaksanakannya. Hal ini pernah saya ceritakan pada anak-anak Bina Iman Remaja. Terkadang remaja tidak berpikir cukup panjang ketika sedang menikmati dunia baru yang tampak asing dan menarik. Segala nasehat orang tua untuk tidak mudah berhubungan dengan orang yang baru dikenal seringkali dilupakan. Walaupun bisa jadi pemuda itu memang bukan orang jahat, bahkan mungkin juga telah menjadi malaikat yang melindungiku dalam perjalanan sendirian di kota Amsterdam. Tetapi aku percaya bahwa karena doa-doa yang kupanjatkan di setiap gereja yang kusinggahi, dan karena kasihNya saya telah dilindungi.
Tuhan,
Terima kasih atas perlindungaMu yang tidak berbatas
KasihMu yang selalu meneduhiku dalam perjalananku
Malaikatmu yang melindungiku dalam naungan kasihMu
Amin
Berkat Malaikat Pelindung (2)
Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan (Kel 23:20)
Kisah perlindugan di jalan dalam buku "Kesaksian Bertemu dengan Malaikat" langsung membuat saya teringat akan pengalaman saya ketika kuliah dahulu.
Tempat saya kuliah di Grogol, sementara rumah orang-tuaku di Kebayoran Baru. Ketika jembatan layang Grogol dikerjakan suasana sangat sumpek, jalanan kotor dan macet hampir sepanjang hari. Kalau awalnya saya lebih sering naik bis ke sekolah, justru ketika itu saya seringkali harus naik mobil karena membawa mesin gambar.
Suatu malam, hujan amat deras mengguyur kota. Temanku yang biasanya ikut bersama aku tidak ikut pulang, entah dia bersama pacarnya atau sudah pulang terlebih dahulu. Jalanan gelap, dan licin, dan aku dalam keadaan lelah harus menyetir sendirian di antara mobil, bis, dan truk. Mobil-mobil sudah memasang lampu dim sejak tadi. Tiba-tiba...braak..."ya amnpun mobilku kesenggol," batinku. Ternyata bukan sekedar tersenggol tapi tersenggol tepi bak truk yang mencoba menyalip. Yang tersenggol bagian depan, di bingkai kaca. Hanya cacat sedikit sebetulnya, tapi secara otomatis seluruh kaca depan retak rambut.
Hujan lebat di tengah jalan macet di Grogol dan ingin berhenti? Tidak masuk akal sehat, aku lebih takut pada orang jahat yang akan segera memanfaatkan kesendirianku.
Lampu dari mobil-mobil di hadapanku menyilaukan mata, terbias dalam serpihan kaca yang hancur total tapi, untungnya, tetap bertahan di tempatnya (beruntung "tempered"nya bagus). Hanya buat mataku yang tidak kuat silau sinar-sinar itu sangat menyakitkan mata. Memecahkan sebagian kaca tidak mungkin juga, karena hujan lebat masih deras mengguyurdan tentu saja saya tidak ingin keruntuhan serpihan kaca.
Menepi dan mencari telpon untuk menghubungi orang rumah juga tidak mungkin. Saat itu ayahku sedang bertugas keluar kota dan ibu menemaninya. Jadi saya tahu persis bahwa di rumah tidak akan ada orang yang bisa kumintai bantuan.
Jadilah dengan berdoa aku menyetir perlahan-lahan. Berdasarkan feeling jalanan, dan lampu rem dari mobil di depanku. Lepas dari kemacetan merupakan satu masalah lain lagi, karena jarak antara mobilku ke mobil di depanku tidak bisa lagi kuperkirakan, apalagi aku harus juga turun jembatan Semanggi dan masuk jalur lambat. Jalananku masih berkelok-kelok, tapi...akhirnya toh aku selamat tiba di rumah.
Saat itu hanya rasa terima kasih tak terhingga kepada Yang Kuasa yang ada di hatiku. Tapi kini ketika membaca kisah "Malaikat di Jalan Raya" di dalam buku ini, saya merasa bahwa memang malaikatNya yang menuntun mata batinku "melihat" jalanan hingga sampai ke rumah.
Terima kasih Tuhan,
Atas malaikat yang Kau kirimkan untuk menjaga dan melindungi kami
Dalam lindunganMu kuakan aman selalu,
Amin.
Kisah perlindugan di jalan dalam buku "Kesaksian Bertemu dengan Malaikat" langsung membuat saya teringat akan pengalaman saya ketika kuliah dahulu.
Tempat saya kuliah di Grogol, sementara rumah orang-tuaku di Kebayoran Baru. Ketika jembatan layang Grogol dikerjakan suasana sangat sumpek, jalanan kotor dan macet hampir sepanjang hari. Kalau awalnya saya lebih sering naik bis ke sekolah, justru ketika itu saya seringkali harus naik mobil karena membawa mesin gambar.
Suatu malam, hujan amat deras mengguyur kota. Temanku yang biasanya ikut bersama aku tidak ikut pulang, entah dia bersama pacarnya atau sudah pulang terlebih dahulu. Jalanan gelap, dan licin, dan aku dalam keadaan lelah harus menyetir sendirian di antara mobil, bis, dan truk. Mobil-mobil sudah memasang lampu dim sejak tadi. Tiba-tiba...braak..."ya amnpun mobilku kesenggol," batinku. Ternyata bukan sekedar tersenggol tapi tersenggol tepi bak truk yang mencoba menyalip. Yang tersenggol bagian depan, di bingkai kaca. Hanya cacat sedikit sebetulnya, tapi secara otomatis seluruh kaca depan retak rambut.
Hujan lebat di tengah jalan macet di Grogol dan ingin berhenti? Tidak masuk akal sehat, aku lebih takut pada orang jahat yang akan segera memanfaatkan kesendirianku.
Lampu dari mobil-mobil di hadapanku menyilaukan mata, terbias dalam serpihan kaca yang hancur total tapi, untungnya, tetap bertahan di tempatnya (beruntung "tempered"nya bagus). Hanya buat mataku yang tidak kuat silau sinar-sinar itu sangat menyakitkan mata. Memecahkan sebagian kaca tidak mungkin juga, karena hujan lebat masih deras mengguyurdan tentu saja saya tidak ingin keruntuhan serpihan kaca.
Menepi dan mencari telpon untuk menghubungi orang rumah juga tidak mungkin. Saat itu ayahku sedang bertugas keluar kota dan ibu menemaninya. Jadi saya tahu persis bahwa di rumah tidak akan ada orang yang bisa kumintai bantuan.
Jadilah dengan berdoa aku menyetir perlahan-lahan. Berdasarkan feeling jalanan, dan lampu rem dari mobil di depanku. Lepas dari kemacetan merupakan satu masalah lain lagi, karena jarak antara mobilku ke mobil di depanku tidak bisa lagi kuperkirakan, apalagi aku harus juga turun jembatan Semanggi dan masuk jalur lambat. Jalananku masih berkelok-kelok, tapi...akhirnya toh aku selamat tiba di rumah.
Saat itu hanya rasa terima kasih tak terhingga kepada Yang Kuasa yang ada di hatiku. Tapi kini ketika membaca kisah "Malaikat di Jalan Raya" di dalam buku ini, saya merasa bahwa memang malaikatNya yang menuntun mata batinku "melihat" jalanan hingga sampai ke rumah.
Terima kasih Tuhan,
Atas malaikat yang Kau kirimkan untuk menjaga dan melindungi kami
Dalam lindunganMu kuakan aman selalu,
Amin.
Berkat Malaikat Pelindung (1)
Ada satu hal yang akhir-akhir ini menjadi pemikiranku, terutama setelah membaca kembali buku "Kesaksian Bertemu dengan Malaikat" tulisan Joan Wester Anderson. Kehadiran malaikat yang ajaib, yang datang dan menghilang secara fisik tidak pernah aku rasakan. Hanya saja beberapa cerita sebenarnya mengingatkanku akan beberapa kejadian masa lalu dimana boleh jadi malaikat pelindungku telah bekerja tanpa pernah aku ketahui.
Allah mendengar suara anak itu, lalu malaikat Allah berseru dari langit kepada hagar, kataNya kepadanya "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring..." (Kej 21:17)
Ketika aku masih kecil dahulu, aku sering stuip, yaitu kejang demam ketika sedang demam tinggi. Pernah pula gegar otak karena terjatuh dari kursi. Sebenarnya ksiah masa kecilku tidak terlalu banyak yang melekat di memori otakku. Hanya saja bagi orangtuaku kesembuhan dan kehidupanku memang merupakan anugerah Tuhan. Ada banyak orang yang ikut berperan dalam membantu kesembuhanku, dan buat aku mereka juga termasuk dalam jajaran malaikat-malaikat yang dikirim Tuhan.
Manusia menjadi malaikat bagi sesamanya terasa biasa bagiku, tapi kisah malaikat bersayap? Atau kisah malaikat yang sangat fantastis bagai mujizat? Rasanya seperti sebuah dongeng saja...
Buku "Kesaksian Bertemu dengan Malaikat" ini sepertinya sudah pernah kubaca dahulu, tapi sekarang ketika membaca ulang ada dimensi lain yang berbeda yang kutemukan.
Beberapa pengalaman yang telah lalu tiba-tiba berbicara dalam bingkai berbeda. Memang saya tidak bertemu dengan malaikat pelindungku, tapi karya nyata yang terjadi adalah mujizat yang tidak bisa saya sangkal.
Kisah yang paling tidak terlupakan adalah kisah ketika saya masih di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Waktu itu di sekolahku baru di kelas tiga kami dapat belajar berenang di sekolah. Saya baru satu atau dua kali ikut latihan ketika itu. Saya ingat pelajaran yang terakhir diajarkan padaku adalah "meluncur". Saya juga sebenarnya belum pandai "meluncur" saat itu.
Ketika itu aku bersama adik lelakiku ada di Puncak Pass Hotel. Ayah dan ibu sedang bertemu dengan keluarga kami yang menginap disana di salah satu bungalow. Aku berdua dengan adikku (dia mungkin masih di TK saat itu) sedang berjalan di dekat kolam renang hotel. Di salah satu sisi kolam renang, ada anak remaja yang menolak mati-matian untuk turun ke air. Melihat "anak besar" yang menangis ketakutan, aku berbisik ke adikku: "Malu-maluin, kan ada ban...Aku aja udah bisa berenang." Adikku mendengar perkataanku malah meledek: "Masa udah bisa? Mana buktinya?" Lalu kujawab lagi: "Iya, bener, nggak ada pakaian renang sih...coba ada..."
Tahu apa yang dilakukan oleh adikku? Dengan tiba-tiba dia mendorongku ke kolam renang sambil berkata: "Buktikan..." Itu kolam renang yang dalam, bukan kolam cetek tempat aku biasa belajar berenang. Lagipula airnya sedingin es batu. Ketakutan yang mendalam menguasai pikiranku. "Tuhan aku ingin selamat..."
Tidak ada seorangpun dari rombongan anak remaja tadi yang sadar kalau ada seorang anak yang sedang tenggelam di kolam dalam itu. Mereka masih membujuk anak gadis yang menangis tadi untuk mencoba berenang di dalam kolam yang lebih pendek itu.
Adikku juga mungkin tidak merasa bersalah. Dia juga tidak merasa perlu berteriak minta tolong. Entahlah, sebenarnya aku tidak tahu persis apa yang terjadi di luar sana karena orang tuaku juga tidak ada disana, jadi tidak ada yang pernah bercerita kepadaku.
Yang aku ingat, aku berjuang untuk bisa berenang. Aku mencoba meluncur mencari sisi kolam terdekat. Beruntung, aku mencapai sisi kolam dimana ada tangga yang menjulur ke bawah. Dari situ aku kemudian naik ke atas sendiri dan menangis tersedu-sedu, mempersalahkan adikku. Barulah orang-orang gempar karena hampir saja ada anak tenggelam di depan mata mereka tanpa mereka sadari.
Kejadian yang amat tidak masuk akal sebenarnya, apalagi sampai duduk di bangku SMP aku masih juga belum bisa berenang. Trauma hari itu di dalam kegelapan air kolam memang selalu menghantuiku, bahkan setelah bisa berenang di kemudian hari.
Sekarang ketika aku merefleksikan kembali kisah ini setelah membaca buku perjumpaan dengan malaikat pelindung, aku yakin bahwa malaikat pelindungku telah membantu aku di dalam air itu.
Tuhan,
terima kasih sudah mendengarkan suaraku
memberikan aku waktu untuk lebih lama lagi bersama keluargaku
semoga aku juga bisa menjadi malaikat bagi orang lain
Amin.
Allah mendengar suara anak itu, lalu malaikat Allah berseru dari langit kepada hagar, kataNya kepadanya "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring..." (Kej 21:17)
Ketika aku masih kecil dahulu, aku sering stuip, yaitu kejang demam ketika sedang demam tinggi. Pernah pula gegar otak karena terjatuh dari kursi. Sebenarnya ksiah masa kecilku tidak terlalu banyak yang melekat di memori otakku. Hanya saja bagi orangtuaku kesembuhan dan kehidupanku memang merupakan anugerah Tuhan. Ada banyak orang yang ikut berperan dalam membantu kesembuhanku, dan buat aku mereka juga termasuk dalam jajaran malaikat-malaikat yang dikirim Tuhan.
Manusia menjadi malaikat bagi sesamanya terasa biasa bagiku, tapi kisah malaikat bersayap? Atau kisah malaikat yang sangat fantastis bagai mujizat? Rasanya seperti sebuah dongeng saja...
Buku "Kesaksian Bertemu dengan Malaikat" ini sepertinya sudah pernah kubaca dahulu, tapi sekarang ketika membaca ulang ada dimensi lain yang berbeda yang kutemukan.
Beberapa pengalaman yang telah lalu tiba-tiba berbicara dalam bingkai berbeda. Memang saya tidak bertemu dengan malaikat pelindungku, tapi karya nyata yang terjadi adalah mujizat yang tidak bisa saya sangkal.
Kisah yang paling tidak terlupakan adalah kisah ketika saya masih di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Waktu itu di sekolahku baru di kelas tiga kami dapat belajar berenang di sekolah. Saya baru satu atau dua kali ikut latihan ketika itu. Saya ingat pelajaran yang terakhir diajarkan padaku adalah "meluncur". Saya juga sebenarnya belum pandai "meluncur" saat itu.
Ketika itu aku bersama adik lelakiku ada di Puncak Pass Hotel. Ayah dan ibu sedang bertemu dengan keluarga kami yang menginap disana di salah satu bungalow. Aku berdua dengan adikku (dia mungkin masih di TK saat itu) sedang berjalan di dekat kolam renang hotel. Di salah satu sisi kolam renang, ada anak remaja yang menolak mati-matian untuk turun ke air. Melihat "anak besar" yang menangis ketakutan, aku berbisik ke adikku: "Malu-maluin, kan ada ban...Aku aja udah bisa berenang." Adikku mendengar perkataanku malah meledek: "Masa udah bisa? Mana buktinya?" Lalu kujawab lagi: "Iya, bener, nggak ada pakaian renang sih...coba ada..."
Tahu apa yang dilakukan oleh adikku? Dengan tiba-tiba dia mendorongku ke kolam renang sambil berkata: "Buktikan..." Itu kolam renang yang dalam, bukan kolam cetek tempat aku biasa belajar berenang. Lagipula airnya sedingin es batu. Ketakutan yang mendalam menguasai pikiranku. "Tuhan aku ingin selamat..."
Tidak ada seorangpun dari rombongan anak remaja tadi yang sadar kalau ada seorang anak yang sedang tenggelam di kolam dalam itu. Mereka masih membujuk anak gadis yang menangis tadi untuk mencoba berenang di dalam kolam yang lebih pendek itu.
Adikku juga mungkin tidak merasa bersalah. Dia juga tidak merasa perlu berteriak minta tolong. Entahlah, sebenarnya aku tidak tahu persis apa yang terjadi di luar sana karena orang tuaku juga tidak ada disana, jadi tidak ada yang pernah bercerita kepadaku.
Yang aku ingat, aku berjuang untuk bisa berenang. Aku mencoba meluncur mencari sisi kolam terdekat. Beruntung, aku mencapai sisi kolam dimana ada tangga yang menjulur ke bawah. Dari situ aku kemudian naik ke atas sendiri dan menangis tersedu-sedu, mempersalahkan adikku. Barulah orang-orang gempar karena hampir saja ada anak tenggelam di depan mata mereka tanpa mereka sadari.
Kejadian yang amat tidak masuk akal sebenarnya, apalagi sampai duduk di bangku SMP aku masih juga belum bisa berenang. Trauma hari itu di dalam kegelapan air kolam memang selalu menghantuiku, bahkan setelah bisa berenang di kemudian hari.
Sekarang ketika aku merefleksikan kembali kisah ini setelah membaca buku perjumpaan dengan malaikat pelindung, aku yakin bahwa malaikat pelindungku telah membantu aku di dalam air itu.
Tuhan,
terima kasih sudah mendengarkan suaraku
memberikan aku waktu untuk lebih lama lagi bersama keluargaku
semoga aku juga bisa menjadi malaikat bagi orang lain
Amin.
Wednesday, February 25, 2009
Berkat Pengutusan
Seorang teman mengirimkan sebuah tulisan, disana ada catatan dari Matius 10:8 "Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma."
Kuasa penyembuhan merupakan sebuah karunia yang diberikanNya dengan khusus. Tetapi di luar kuasa penyembuhan yang khusus itu, sebenarnya setiap manusia memperoleh talenta untuk kuasa penyembuhan itu.
Hari ini kebetulan kelompok doa kami berkumpul untuk berdoa bagi kelancaran operasi ayah saya. Salah satu doa kami tujukan juga kepada Santo Damianus dan Santo Cosmas, mendoakan agar para dokter dan tenaga medis yang bekerja dibimbing dalam rahmat penyembuhanNya.
Saya sendiri baru pertama kali ini mengetahui lebih mendalam tentang Santo Damianus dan Santo Cosmas (dalam bahasa Inggris disebutkan sebagai St. Cosmo and St. Damian), salah satu dari bait doa itu menyentuh perasaan saya.
Rasanya bagi mereka yang diberi rahmat untuk menguasai ilmu kedokteran, bukan hanya sumpah Socrates yang perlu diingat, melainkan juga ayat di atas. Memang tidak sedikit juga dokter yang dalam prakteknya juga memberikan pelayanan sosial bagi masyarakat yang kurang mampu.
Bicara tentang penyembuhan tidak selalu berbicara tentang penyembuhan fisik. Rasanya hal ini pernah juga kami bicarakan sebelumnya di dalam kelompok doa kami. "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma," pengampunan yang kita peroleh dari Tuhan memang gratis dan tidak menuntut bayaran. Terkadang bahkan kita jatuh ke kesalahan yang sama lagi, dan kembali lagi untuk meminta maaf, dan dimaafkanNya lagi. Bagi kita manusia memberikan maaf secara cuma-cuma memang terasa sangat berat, seringkali kita merasa diri kita berada di pihak yang benar dan ingin mengenyahkan pihak lain yang berbuat jahat dan menyakiti hati kita atau keluarga. Kalau kita kembali ke ayat ini, maka akan terasa betapa besar Tuhan telah menyayangi kita. Dan setiap kita kembali kepadaNya, maka amarah yang besar itu akan menyurut. Setiap kita melihat kesalahan kita pribadi yang diampuniNya, maka keinginan untuk mengampuni akan lebih mudah diperoleh. Ketika keinginan untuk mengampuni itu hadir, maka datanglah berkat damai sejahtera di dalam hati.
Luka batin dari tindakan tidak memaafkan bisa menyakiti lebih banyak lagi orang lain. Bahkan bisa juga terus diwariskan ke generasi berikutnya. Lihat saja kisah Romeo dan Juliet, kisah amarah yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan akhirnya mengambil korban kedua anak muda yang saing mencintai itu.
Berkat pengutusan bukan hanya milik orang tertentu dengan talenta tertentu, tetapi juga milik semua umatNya. Ampunilah karena engkau telah diampuniNya secara cuma-cuma. Bagikanlah talentamu karena engkau telah menerima talenta itu dariNya secara cuma-cuma...
Tuhan,
Terima kasih atas berkat pengutusan yang Dikau berikan pada kami,
Atas semua talenta dan kebahagiaan yang kami terima,
Atas kekuatan dan malaikat pelindung yang Engkau berikan bagi kami,
Ajari kami mengampuni,
Ajari kami berbagi kasihMu,
Jadikanlah kami pembawa damai dan sukacitaMu...
Amin.
Kuasa penyembuhan merupakan sebuah karunia yang diberikanNya dengan khusus. Tetapi di luar kuasa penyembuhan yang khusus itu, sebenarnya setiap manusia memperoleh talenta untuk kuasa penyembuhan itu.
Hari ini kebetulan kelompok doa kami berkumpul untuk berdoa bagi kelancaran operasi ayah saya. Salah satu doa kami tujukan juga kepada Santo Damianus dan Santo Cosmas, mendoakan agar para dokter dan tenaga medis yang bekerja dibimbing dalam rahmat penyembuhanNya.
Saya sendiri baru pertama kali ini mengetahui lebih mendalam tentang Santo Damianus dan Santo Cosmas (dalam bahasa Inggris disebutkan sebagai St. Cosmo and St. Damian), salah satu dari bait doa itu menyentuh perasaan saya.
Rasanya bagi mereka yang diberi rahmat untuk menguasai ilmu kedokteran, bukan hanya sumpah Socrates yang perlu diingat, melainkan juga ayat di atas. Memang tidak sedikit juga dokter yang dalam prakteknya juga memberikan pelayanan sosial bagi masyarakat yang kurang mampu.
Bicara tentang penyembuhan tidak selalu berbicara tentang penyembuhan fisik. Rasanya hal ini pernah juga kami bicarakan sebelumnya di dalam kelompok doa kami. "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma," pengampunan yang kita peroleh dari Tuhan memang gratis dan tidak menuntut bayaran. Terkadang bahkan kita jatuh ke kesalahan yang sama lagi, dan kembali lagi untuk meminta maaf, dan dimaafkanNya lagi. Bagi kita manusia memberikan maaf secara cuma-cuma memang terasa sangat berat, seringkali kita merasa diri kita berada di pihak yang benar dan ingin mengenyahkan pihak lain yang berbuat jahat dan menyakiti hati kita atau keluarga. Kalau kita kembali ke ayat ini, maka akan terasa betapa besar Tuhan telah menyayangi kita. Dan setiap kita kembali kepadaNya, maka amarah yang besar itu akan menyurut. Setiap kita melihat kesalahan kita pribadi yang diampuniNya, maka keinginan untuk mengampuni akan lebih mudah diperoleh. Ketika keinginan untuk mengampuni itu hadir, maka datanglah berkat damai sejahtera di dalam hati.
Luka batin dari tindakan tidak memaafkan bisa menyakiti lebih banyak lagi orang lain. Bahkan bisa juga terus diwariskan ke generasi berikutnya. Lihat saja kisah Romeo dan Juliet, kisah amarah yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan akhirnya mengambil korban kedua anak muda yang saing mencintai itu.
Berkat pengutusan bukan hanya milik orang tertentu dengan talenta tertentu, tetapi juga milik semua umatNya. Ampunilah karena engkau telah diampuniNya secara cuma-cuma. Bagikanlah talentamu karena engkau telah menerima talenta itu dariNya secara cuma-cuma...
Tuhan,
Terima kasih atas berkat pengutusan yang Dikau berikan pada kami,
Atas semua talenta dan kebahagiaan yang kami terima,
Atas kekuatan dan malaikat pelindung yang Engkau berikan bagi kami,
Ajari kami mengampuni,
Ajari kami berbagi kasihMu,
Jadikanlah kami pembawa damai dan sukacitaMu...
Amin.
Friday, February 06, 2009
Permintaan anak perempuan Herodias
Bacaan kami hari ini adalah dari Injil Markus 6:16-28 mengenai Yohanes Pembaptis dibunuh. Banyak hal yang menarik yang muncul hari ini, tapi saya mencoba membagikan refleksi saya sebagai seorang Herodes.
Saya membayangkan diri saya sebagai Herodes, yang segan akan Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya dari kemarahan Herodias. Herodias dendam karena Yohanes pembaptis pernah menegur Herodes yang mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya, menjadi istrinya. Herodes terombang ambing antara perasaan marah (malu dan benci) dengan perasaan senang mendengarkan ajaran-ajaran Yohanes pembaptis. lalu sekarang muncul seoranga bernama Yesus. Apakah Yesus itu Elia? Atau seorang nabi lain? Atau bahkan Yohanes pembaptis yang bangkit kembali?
Herodes memikirkan kemungkinan terakhir itu lebih benar. Dan dia, Herodes, adalah orang yang bertanggung jawab karena sudah memenggal kepala Yohanes pembaptis berdasarkan permintaan dari anak perempuan Herodias. Janji yang sudah terlanjur diucapkannya pantang ditariknya kembali, walaupun hal yang dilakukannya membuat hati kecilnya tidak merasa nyaman. Dia merasa kedudukannya sebagai raja mengharuskan dia menepati janjinya, walaupun untuk sebuah permintaan yang membuat sedih hatinya. Kesedihan yang sebenarnya justru murni dari nuraninya, karena tidak melibatkan ego dan kemarahannya terhadap kritikan Yohanes pembaptis.
Sebagai manusia seringkali kita juga dihadapkan kepada permintaan-permintaan dari luar diri kita. Menyenangkan hati orang lain tentu menyenangkan sekali, tapi setidaknya kita perlu mengingat apakah batin kita ikut juga tersenyum bersama keputusan itu? Mencari dan memahami kehendak Allah dan bukan kehendak ego manusia, ataupun keinginan daging kita yang paling sulit prakteknya.
Mungkin juga terkadang kita bertindak sebagai anak perempuan Herodias, yang meminta tanpa berpikir akan makna permintaan itu sendiri. Sebuah tindakan manusiawi yang lebih berdasarkan pemikiran dan perhitungan pribadi, tanpa melibatkan kehadiran Tuhan dalam keputusan itu. Melibatkan Tuhan berarti membiarkan nurani turut bicara.
Memberikan permintaan kepada orang lain, maupun menerima untuk melaksanakan sebuah permintaan tidak berarti meninggalkan unsur kebahagiaan pribadi. Kehendak Tuhan seringkali terletak jauh di lubuk hati terdalam kita, dan dapat menjadi sumber kebahagiaan kita. Hanya orang yang mengenal dirinya sendiri dan keinginan-keinginannya yang dapat berbahagia dalam jalan Tuhan.
Manusia berhak untuk berbahagia, Tuhan tidak menginginkan manusia untuk memilih jalan dimana hatinya akan menderita. Tapi, bagaimanapun, akhirnya manusia juga harus ikut berjuang untuk mewujudkan kebahagiaan itu dalam bimbingan Roh Kudus. Doa dan iman merupakan tiang dan tongkat penopang dalam perjalanan mencari kehendak Allah. Seringkali kita lengah, entah karena ego dan gengsi, atau justru karena merasa tidak perlu memiliki kehendak pribadi...
Menjalankan kehendak Allah adalah pilihan bebas manusia. Untuk mengetahui kehendakNya pun kita perlu belajar mengenali kehendak kita pribadi sebelum memilahnya dalam bingkai iman kepadaNya.
Tuhan,
Ajarilah kami membuat permintaan yang sesuai kehendakMu,
Ajarilah kami menerima permintaan yang sesuai dengan kehendakMu,
Berikanlah rahmatMu untuk berbahagia di dalam NamaMu,
Berkat untuk mengenali kehendakMu bagi kebahagiaan kami sebagai anak-anakMu.
Amin.
Saya membayangkan diri saya sebagai Herodes, yang segan akan Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya dari kemarahan Herodias. Herodias dendam karena Yohanes pembaptis pernah menegur Herodes yang mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya, menjadi istrinya. Herodes terombang ambing antara perasaan marah (malu dan benci) dengan perasaan senang mendengarkan ajaran-ajaran Yohanes pembaptis. lalu sekarang muncul seoranga bernama Yesus. Apakah Yesus itu Elia? Atau seorang nabi lain? Atau bahkan Yohanes pembaptis yang bangkit kembali?
Herodes memikirkan kemungkinan terakhir itu lebih benar. Dan dia, Herodes, adalah orang yang bertanggung jawab karena sudah memenggal kepala Yohanes pembaptis berdasarkan permintaan dari anak perempuan Herodias. Janji yang sudah terlanjur diucapkannya pantang ditariknya kembali, walaupun hal yang dilakukannya membuat hati kecilnya tidak merasa nyaman. Dia merasa kedudukannya sebagai raja mengharuskan dia menepati janjinya, walaupun untuk sebuah permintaan yang membuat sedih hatinya. Kesedihan yang sebenarnya justru murni dari nuraninya, karena tidak melibatkan ego dan kemarahannya terhadap kritikan Yohanes pembaptis.
Sebagai manusia seringkali kita juga dihadapkan kepada permintaan-permintaan dari luar diri kita. Menyenangkan hati orang lain tentu menyenangkan sekali, tapi setidaknya kita perlu mengingat apakah batin kita ikut juga tersenyum bersama keputusan itu? Mencari dan memahami kehendak Allah dan bukan kehendak ego manusia, ataupun keinginan daging kita yang paling sulit prakteknya.
Mungkin juga terkadang kita bertindak sebagai anak perempuan Herodias, yang meminta tanpa berpikir akan makna permintaan itu sendiri. Sebuah tindakan manusiawi yang lebih berdasarkan pemikiran dan perhitungan pribadi, tanpa melibatkan kehadiran Tuhan dalam keputusan itu. Melibatkan Tuhan berarti membiarkan nurani turut bicara.
Memberikan permintaan kepada orang lain, maupun menerima untuk melaksanakan sebuah permintaan tidak berarti meninggalkan unsur kebahagiaan pribadi. Kehendak Tuhan seringkali terletak jauh di lubuk hati terdalam kita, dan dapat menjadi sumber kebahagiaan kita. Hanya orang yang mengenal dirinya sendiri dan keinginan-keinginannya yang dapat berbahagia dalam jalan Tuhan.
Manusia berhak untuk berbahagia, Tuhan tidak menginginkan manusia untuk memilih jalan dimana hatinya akan menderita. Tapi, bagaimanapun, akhirnya manusia juga harus ikut berjuang untuk mewujudkan kebahagiaan itu dalam bimbingan Roh Kudus. Doa dan iman merupakan tiang dan tongkat penopang dalam perjalanan mencari kehendak Allah. Seringkali kita lengah, entah karena ego dan gengsi, atau justru karena merasa tidak perlu memiliki kehendak pribadi...
Menjalankan kehendak Allah adalah pilihan bebas manusia. Untuk mengetahui kehendakNya pun kita perlu belajar mengenali kehendak kita pribadi sebelum memilahnya dalam bingkai iman kepadaNya.
Tuhan,
Ajarilah kami membuat permintaan yang sesuai kehendakMu,
Ajarilah kami menerima permintaan yang sesuai dengan kehendakMu,
Berikanlah rahmatMu untuk berbahagia di dalam NamaMu,
Berkat untuk mengenali kehendakMu bagi kebahagiaan kami sebagai anak-anakMu.
Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)