Wednesday, December 12, 2007

Tuhan Adalah Sumber Kebijaksanaan

Menunda bisa jadi berarti kehilangan kesempatan. Hal ini terasa benar ketika saya menunda menuliskan hasil meditasi saya minggu lalu. Saya sibuk memikirkan bagaimana mengangkat pertemuan di Bali ke dalam sebuah berita artikel. Dan saya menunda dan menunda terus menuliskan pengalaman meditasi saya. Semalam saya pergi ke acara Pendalaman Iman lingkungan bersama anak-anak, dan rupanya pembatas halaman saya berpindah tempat. Sekarang saya kehilangan kutipan yang akan mendasari pengalaman meditasi saya.

Tetapi kehilangan bisa juga menjadi karunia penambahan. Sungguh, ketika mencoba mencari kutipan yang saya cari-cari maka saya membaca begitu banyak kata-kata bijak dari kitab Yesus bin Sirakh.

Saya percaya apa yang ingin dikatakan Tuhan akan diulangiNya kembali. Hari ini biarlah saya memulai meditasi pribadi dengan kitab Sirakh.

Catatan pertama saya ada di kata pengantar penterjemah Yunani yang menuliskan, “…para pembaca jangan menjadi berpengetahuan sendiri saja, tetapi setelah semuanya dipelajari hendaklah kepandaian mereka bermanfaat juga bagi orang-orang luar, baik secara lisan maupun secara tertulis”.

Demikianlah kitab Sirakh dituliskan oleh Yesus bin Sirakh setelah mempelajari kitab Taurat, kitab para Nabi, dan kitab kitab lainnya agar bisa berbagi dengan orang lain yang suka belajar.

Kitab Sirakh 1: 1 – 20; Tuhanlah sumber kebijaksanaan. Takut akan Tuhan adalah awal kebijaksanaan, takut akan Tuhan adalah puncak kebijaksanaan.

Bertahun-tahun aku berdoa untuk memperoleh kebijaksanaan dalam memilih langkah, kebijaksanaan dalam menyikapi hidup. Ternyata jawabnya ada di kitab suci yang mungkin jarang tersentuh di kala hidup sedang berjalan lancar.

Takut akan Tuhan, ikutilah perintah-perintahNya! Perintah Tuhan bukan sekedar 10 Perintah Allah ataupun 5 perintah Gereja, tapi perintah Tuhan yang utama adalah Kasih! Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Itulah sebabnya kita membuat tanda salib. Hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan, dan hubungan kita secara horisontal dengan sesama.

Pangkal kebijaksanaan adalah takut akan Tuhan, dan semua berkat keluar dari menanamkan pohon sumber kebijaksanaan ini.

Takut akan Tuhan tidak berarti ketakutan seorang hamba kepada Tuannya, melainkan ketakutan akan menyakiti HatiNya yang Kudus. Yesus datang untuk memberikan penjelasan itu, bahwa Tuhan itu Maha Kasih dan karena kasihNya maka manusia boleh memperoleh penyelamatan. Setelah semua Kasih yang dicurahkanNya pada diri kita, masih mampukah kita mengkhianati cintaNya?

Tuhan,

Engkau sumber bahagiaku,

Dalam keterpurukan aku mampu berbahagia,

Karena kebijakan yang Dikau bukakan pada mataku,

Betapa besar kasihMu padaku,

Takkan kau biarkan daku sendiri dalam duka,

TanganMu menjamah, kata-kataMu menghibur,

Terima kasih Engkau mau datang padaku Tuhan,

Terima kasih Engkau mau membagi kebijaksanaanMu,

Terima kasih Engkau selalu melindungiku.

Amin.

Catatan: Tiba-tiba saja terasa penting untuk menjadikan tulisan ini saya sebagai bingkisan ulang tahun bagi Romo F.X. Danuwinata SJ yang hari ini berulang tahun (13 Desember).

Wednesday, November 28, 2007

Tuhan Sumber Kekuatan dan Penghiburan

Terus terang membaca buku “Menyeberangi Sungai Air Mata” dari Romo A. Sumarwan SJ membuat saya berlinang air mata. Buku yang disusun berdasarkan tugas kuliah Teologi Rekonsiliasi ini memang mengaduk perasaan. Selain beberapa kisah yang cukup detail, kelengkapan unsur orang yang diwawancara cukup beragam. Ada yang berkisah tentang “coro” yang dibencinya, ada yang berkisah bagaimana dia dianggap seorang “coro”. Satu hal penting yang terasa adalah betapa kekuatan hidup itu tidak berasal dari manusia sendiri tapi berasal dari Tuhan melalui perantaraan manusia-manusia lain juga. Penguatan yang mereka dapatkan menjadi bekal mereka untuk terus hidup dan terus mencintai Tuhan.

Bacaan renungan kemarin dan hari ini mungkin bisa membantu menguatkan kita dalam menjalani kehidupan ini. Hidup ini terasa tidak mudah, tetapi membaca buku di atas membuat saya tersentak. Betapa terlalu kecilnya masalah yang saya hadapi bila dibandingkan dengan penderitaan orang-orang itu. Betapa besar pergulatan mereka untuk tetap percaya kepada kehadiran kuasa Allah. Penyiksaan-penyiksaan itu merupakan cobaan besar yang bisa membuat setiap orang kehilangan kepercayaan pada hadirnya Allah dan keadilanNya. Bila saya pernah ikut mempertanyakan “Mengapa Tuhan diam?” maka taraf pertanyaan saya belum setara dengan teriakan nurani yang tersobek-sobek karena merana dizalimi seperti mereka ini.

Lukas 21:19 mengatakan “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu…”. Kisah-kisah yang dikumpulkan Romo Sumarwan dan teman-temannya sungguh sebuah contoh nyata betapa mereka bertahan dan kemudian memperoleh hidup mereka di dalam Allah. Betapa tangan Allah menguatkan mereka dalam penderitaan dan memberikan pelajaran-pelajaran dari kesusahan mereka yang menjadi bekal hidup mereka di kemudian hari.

Dalam bagian meditasi buku Mutiara Iman mencontohkan seorang anak yang ingin membantu seekor kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Dia merobekkan kepompong itu untuk mengeluarkan makhluk tak berdaya yang sedang berjuang untuk keluar dari keterikatannya. Apa yang kemudian diperolehnya? Kupu-kupu itu mati!

Mengapa aku takut berjuang? Aku takut berbuat kesalahan dalam perjuangan itu. Aku takut terjatuh dalam kancah percobaan dan tidak mampu keluar dari perangkap. Sekarang bergantian artis-artis tua ditangkap karena kasus narkoba. Sebuah perangkap yang memenjarakan mereka bahkan di tengah kebebasan fisiknya. Itulah yang aku takuti. Takut bahwa penderitaan membuat aku tidak kuat dan terjatuh ke lubang dalam yang tak tertolongkan. Aku lupa bahwa yang akan menolong adalah Gembala Yang Maha Kuasa. Betapa besar KuasaNya, dan betapa menentramkan jaminan dariNya.

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat…” (Luk 21:28). Dari bacaan diatas buku Mutiara Iman menyatakan bahwa bagi orang yang senantiasa mengusahakan hidup yang baik, benar dan bertanggung jawab, di hadapan Tuhan maupun sesamanya, maka orang itu tidak punya alasan yang mendasar untuk gentar bila hari kiamat atau hari kematiannya tiba.

Kematian bukan hal yang menakutkan bagi diriku, bahkan terkadang terasa sebagai jalan terbaik untuk berhenti berjuang. Suatu kesalahan besar untuk berfokus kepada kehidupan kekal tanpa keinginan berjuang melalui cobaan hidup ini. Bila kerikil-kerikil kecil saja sanggup membuatku terantuk, bagaimana bila harus melawan badai menyeberangi sungai air mata? Tidakkah akan hilang tempatku di rumahNya yang kekal?

Kalau sekarang ini aku mulai takut pada kematian, itu adalah karena kehadiran anak-anak yang dititipkanNya. Terkadang aku lupa bahwa itu adalah anak-anakNya yang dititipkan kepadaku. Hal ini membuat aku takut dipanggilNya sebelum tugasku sebagai seorang ibu rampung. Aku kembali lupa bahwa Dia yang menitipkan akan menjaga yang dititipkanNya walaupun aku tidak ada. Bahkan disaat aku ada, kelalaianku senantiasa tertutupi oleh penjagaanNya.

Ya Bapa yang Maha Kuasa,
Maha Baik dan Penyayang,
Kuasa dan KasihMu senantiasa melindungi kami anak-anakMu,
Terima kasih atas cinta yang berlimpah yang terkadang tidak kami syukuri Bapa.
Terkadang kami jatuh karena kesalahan kami sendiri dan kami marah merasa Engkau tidak menjaga,
Betapa kami belum juga menjadi dewasa di dalam diriMu ya Bapa,
Dewasakan kami ya Bapa,
Bimbing kami dalam jalan berbatu dan berliku.
Ingatkan kami untuk membantu sesama,
Menjadi perpanjangan tanganMu di kala menyeberangi sungai yang berbahaya,
Saling menolong dan berpegangan tangan ,
Melalui rintangan yang mengahadang di depan.
KekuatanMu adalah sumber tenaga kami,
PelitaMua adalah sumber terang dalam kelam malam.
Tuhan,
Temani kami selalu agar tak jauh dari kerajaanMu.
Amin.

Thursday, November 22, 2007

Rumahku Adalah Rumah Doa

Menjadi orang Katolik dengan segala tata cara ekaristi yang bagi sebagian orang menjemukan sesungguhnya merupakan berkat. Bila bisa bertekun dalam doa sepanjang ekaristi maka sungguh hubungan personal dengan Allah yang dapat kita tuai. Sementara itu segala tahapan doa yang sama persis di seluruh dunia membantu kita untuk merasa satu dan bersaudara di dalam gereja Katolik dimanapun kita berada. Gereja Allah adalah umatNya. Demikian juga kataNya dalam Lukas 19:46: “RumahKu adalah rumah doa”. Sanggupkah kita umatNya menjadikan diri kita rumah doa?

Dalam renungan kelompok hari ini seorang teman menceritakan pengalamannya ke Eropa. Betapa tercengangnya dia melihat keindahan dan kemegahan Katedral di Koln. Betapa terbantunya dia mengikuti perayaan ekaristi dalam bahasa Jerman yang asing bagi telinganya karena kemiripan tata cara dengan yang kita jalani di Indonesia. Demikian juga lagu-lagu yang digunakannya betapa mirip dengan lagu-lagu di Puji Syukur. Sungguh makna universal atau umum dari agama Katolik terasa.

Saya beruntung karena lebih dari sepuluh tahun lalu pernah juga merasakan ke gereja Katolik di berbagai kota di Eropa. Yang teringat adalah betapa mudahnya kita melaksanakan niat bila Tuhan ada bersama niat itu sendiri. Saya teringat betapa sering saya kebingungan dimana letak gereja Katolik, tetapi senantiasa berhasil menemukannya. Bukan hanya menemukan, tetapi senantiasa muncul di saat yang tepat…mendekati misa kudus! Pengalaman menjadi satu dalam doa sungguh terasa di Lourdes terutama dalam upacara cahaya di sore hari, melihat orang-orang sakit dibantu oleh para relawan, merasakan kebersamaan dalam doa-doa dalam berbagai macam bahasa. Saat itu sungguh terasa betapa Tuhan menyatukan kita semua.

Lonceng gereja juga menjadi pertanda bagi saya. Beruntung karena di Eropa lonceng Angelus senantiasa berbunyi, jadi begitu tiba di suatu kota maka pada jam 12 siang saya akan mendengar bunyi lonceng gereja dan bisa berusaha mencarinya. Pernah di suatu kota di Perancis (lupa dimana, bukan di Paris…mungkin di Angers) saya sudah mendengar lonceng itu dan berusaha mencarinya keesokan paginya. Betapa kecewa ketika menemukan pintu gereja terkunci. Hal ini sebenarnya hal biasa di Indonesia (senang bahwa sekarang semakin banyak yang membuka pintu gereja sepanjang hari), tapi waktu itu tidak biasa saya temui di Eropa. Kecewa karena jadwal saya yang sangat singkat di kota itu mungkin tidak akan memungkinkan saya berdoa di dalam gereja itu, sementara keinginan saya adalah untuk berdoa di dalam gereja di setiap kota yang saya kunjungi. Dengan sedih saya berbalik untuk pulang, tapi tiba-tiba saya mendengar suara koor yang bagaikan nyanyian para malaikat di telinga saya. Mengikuti asal suara itu saya berhasil menemukan pintu kecil yang membawa saya masuk ke sebuah ruang kecil dimana sedang diadakan misa pagi. Puji Tuhan, tanganNya menuntun saya ke dalam GerejaNya. Komunitas yang berdoa adalah komunitas biara dan beberapa umat yang tentunya sudah hadir tepat waktu karena tidak terlihat orang masuk lagi setelah saya.

Mengenai masalah tepat waktu saya juga bingung, apakah lebih baik terlambat daripada tidak ke gereja atau lebih baik tidak ke gereja karena terlambat? Orang di Indonesia sepertinya memilih yang pilihan pertama sementara sebagian besar orang di Eropa tampaknya lebih memilih opsi kedua. Mungkin ini bukan pengamatan yang akurat. Selain waktu yang saya habiskan di Eropa tidak cukup lama, kejadian ini juga sudah terlalu lama berlalu mungkin yang teringat tidak lagi sepenuhnya benar.

Melihat tapi tidak tahu, mendengar tapi tidak mengerti, merupakan ungkapan betapa sering kita tidak berhasil menangkap keinginan Allah. Mencari peneguhan dariNya, mencari kedamaian yang timbul dari pengambilan keputusan yang tepat, hanya dapat diperoleh melalui doa. RumahKu adalah rumah doa!

Tuhan,
Terima kasih atas kemurahan hatiMu kepada kami,
ajarilah kami untuk berdoa,
ajari kami untuk mengajak keluarga kami berkumpul dan bersatu dalam doa.
Bantulah kami menyediakan waktu,
terkadang 24 jam tidak terasa cukup,
tapi sesungguhnya bila kuhitung
tak cukup sejam daku sungguh diam dan berdoa…
Ajari dan bantu kami berdoa yang benar ya Bapa,
karena kami perlu belajar dari cintaMu yang mahabesar.
Amin.

Wednesday, November 21, 2007

Damai Sejahtera

Siapa yang tidak ingin memperoleh damai sejahtera bagi dirinya dan juga bagi sesama di sekitarnya? Saya sungguh ingin memperolehnya. Rasanya setiap langkahku kutujukan untuk hal itu. Tapi seringkali ke “Aku”an membuat kita buta dan bodoh.

Dalam Lukas 19:41-42 Yesus menangisi sebuah kota, alangkah baiknya jika penduduk kota itu mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera mereka. Mungkin Yesus juga menangisi saya, betapa buta dan degil saya yang terus berjuang untuk sesuatu yang tidak akan membawa damai sejahtera dalam kehidupanku.

Jalan menuju damai sejahtera ada padaNya. Tapi yang mengendalikan mobil itu di atas jalanan adalah kita sendiri. Alangkah sulitnya mengharmonisasi permainan gas, kopling dan rem dalam mengemudikan mobil itu. Membiarkan Tuhan yang bekerja terus bagi kita juga tidak benar, Allah menginginkan kita dengan kehendak bebas kita untuk ikut berpikir dan memilih. Berpikir dan memilih sendiri sarat dengan ancaman akan jatuh pada kepercayaan akan “Aku” yang terlalu besar. Ada saatnya kita lupa mengandalkan Tuhan. Ada saatnya kita berpikir hanya dalam kacamata pribadi dan melupakan kacamata sesama.

Menjadi pendengar bagi sesama yang berbeban berat juga sangat menyulitkan. Beban mereka seringkali terasa ringan dibandingkan beban kita sendiri. Alih-alih memberikan dukungan yang menguatkan, kita malah memberikan komentar yang mengecilkan arti kesulitannya. Akan adakah damai sejahtera? Tidak!

Tuhan,
Terima kasih atas berkat kehendak bebas yang kami peroleh,
tolong aku untuk mengerti
bagaimana memperoleh damai sejahtera dalam kehidupanku,
bagaimana membagikan damai sejahtera ke dalam kehidupan di sekitarku.
Bantu daku untuk lebih mengenalMu,
lebih mengenal jalanMu yang perlu kupilih.
Bantu daku untuk lebih mendengarkan
sabdaMu maupun kesah sesamaku…
Beri daku kekuatan dan kebijaksanaanTuhan,
Dalam menuju damai sejahteraMu.
Amin.

Monday, November 19, 2007

Kesetiaan

Beberapa hari yang lalu saya di undang menghadiri sakramen perkawinan seorang teman. Ketika melihat acara dengan koor yang indah, ditambah denting-denting harpa merdu dari Heidy Awuy saya sempat berpikir:"Kebahagiaan hari ini sebenarnya adalah langkah awal dalam menjalani segala tantangan hidup".

Pastur kemudian berkothbah tentang kesetiaan dan kepercayaan. Betapa seringkali kepercayaan yang disalah gunakan membuat kita sulit untuk mempercayai kembali seseorang. Dan juga tentang sulitnya menjalankan janji kesetiaan itu sendiri. Pada waktu melihat pengantin memasuki gereja yang terpikirkan adalah komitmen yang mereka akan janjikan dan yang akan merubah kehidupan mereka setelah keluar dari gereja. Maka pada saat mendengar kothbah pastur yang terbayang adalah betapa sering kita sebagai GerejaNya mengecewakan Allah yang Maha Setia. Betapa sering kita tidak setia kepadaNya tapi dia selalu rela untuk mengampuni kita dan menerima kita kembali kedalam damaiNya.

Sabtu sebelumnya bacaan dari Luk 16:10 mengatakan: "Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar". Betapa sering kita menuntut Allah untuk diberi kepercayaan akan rezeki yang lebih besar, kebahagiaan yang lebih besar padahal kita tidak pernah mampu mengelola berkat-berkat kecil yang senantiasa dilimpahkanNya kepada kita. Betapa rasa sayang pada diri sendiri, ketidak mampuan untuk berkorban bagi orang lain membuat kita tersandung dalam membagikan kasihNya kepada orang di sekeliling kita. Bila berkat kecil tidak mampu kita kelola bagi kemuliaan namaNya, bagaimana Ia bisa memberikan kita berkat yang lebih besar?

Hari itu saya juga diingatkan kembali akan makna kasih. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersuka cita karena ketidak adilan, tapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Dalam suratnya kepada umat di Korintus, Rasul Paulus berkata:" Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku" (Baca 1 Kor 13: 1-7, 13).

Tuhan Allah yang Maha Baik dan Maha Kasih,
tolong hamba umatMu,
untuk lebih dalam mengerti dan mengamalkan kasihMu,
bukan karena imbalanMu yang berlimpah,
tapi lebih karena kasihMu sendiri.
Teladan kasih PutraMu Yesus Kristus,
yang rela menanggung segala kepedihan, hina dan cerca,
dan menerima segala siksa demi menebus manusia dari kelam dosa.
Ya Allah, biarkan kasihMu meraja di hati kami semua umat manusia.
Jangan biarkan kehidupan membunuh bibit kasih di hati manusia,
karena Maha Agung dan Kekal KasihMu Ya Allah.
Berkati kami umatMu ya Bapa,
Amin.

Friday, November 16, 2007

Selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1)

Sesungguhnya Tuhan ada di dalam setiap percakapanku. Dalam setiap langkahku kusebut namaNya. Tapi karena Ia begitu dekat terkadang aku lupa untuk secara khusus meluangkan waktu menemuiNya. Sama dengan orang tua kita yang senantiasa dekat dengan kita. Terkadang kita terlalu sibuk dengan urusan lain sehingga mereka hanya ada di pikiran kita tapi tidak sempat sungguh-sungguh kita perhatikan.

Membaca renungan hari ini membuat saya berpikir. Terutama ketika membaca tentang Santa Elisabeth dari Hungaria, betapa salib tidak menjadikan dia patah. Dia bangkit dan terus berdoa. Betapa sering saya berputus asa dan mengeluh dalam kehidupan. Dan doa-doaku menjadi penuh dengan keluh kesah dan kegundahan. Doa yang seharusnya menjadi ungkapan cinta kepada Tuhan menjadi tuntutan kepada Tuhan.

Pernahkah saya jemu berdoa? Sebenarnya tidak ada kejenuhan untuk berdoa walaupun saya pernah mngatakan bahawa Tuhan itu diam. Tetapi kesulitan terutama saya sebenarnya adalah konsentrasi. Sangat sulit untuk duduk sendiri dan berkonsentrasi pada Tuhan. Konsentrasi baru bisa saya capai (tidak sepenuhnya) bila bersama teman-teman sekomunitas. Ini hal yang menyedihkan, karena hubungan saya dan Tuhan seharusnya personal. Dalam hal ini saya mungkin harus belajar dari rekan-rekan muslim yang sanggup menyediakan waktu minimal 5 kali dalam sehari untuk secara serius berhadapan dengan Tuhan secara personal.

Mengapa konsentrasi saya kurang sekali? Karena seringkali saya lebih mengandalkan diri sendiri dan membiarkan pikiran saya mengelana sendiri. Percayalah kepada Tuhan kata Sirakh 34. Barangsiapa takut akan Tuhan akan hidup, sebab harapannya tertaruh pada Dia yang menyelamatkannya. Barangsiapa takut akan Tuhan tidak kuatir terhadap apapun, dan tidak menaruh ketakutan sebab Tuhanlah pengharapannya. (Sirakh 34:13-14). Mata Tuhan tertuju kepada orang yang cinta kepadaNya. Tuhan menjadi perisai yang kuat dan sandaran yang kokoh, naungan terhadap angin yang panas dan perlindungan terhadap panas terik siang hari, penjagaan sehingga tidak tersandung dan pertolongan sehingga tidaklah runtuh. Tuhan menegakkan hati dan menerangi mata, member kesembuhan, hidup, serta berkat.(Sirakh 34:16-17).

Ketika saya sanggup menjadi Maria yang mampu duduk diam mendengarkan sabda Yesus, dan berhenti menjadi Martha yang sibuk melayani orang tetapi melupakan dirinya sendiri, maka saya akan berhasil dalam berdoa.

Ya Tuhan,
Ajari saya untuk berdoa,
Untuk mengarahkan pikiranku semata kepadaMu,
Dan tunduk diam hanya memikirkan diriMu semata,
Untuk mengisi seluruh pikiranku dengan keagunganMu,
Dan bersembah sujud dalam naungan cintaMu belaka,
Ajari daku bahasa cintaMu ya Allah,
Agar kumampu menebarkan kasihMu,
Dalam kehidupanku, kehidupan suami dan anak-anakku,
Dalam lingkungan dan semua komunitasku,
Berkati pikiranku ya Bapa,
Semoga semua dimurnikan dalam namaMu,
Amin.

Monday, September 03, 2007

Rendah Hati, Sabar, Setia, Jujur, dan Bertanggung Jawab

Tanggal 2 September 2007 adalah hari Minggu Kitab Suci Nasional. Dahulu seringkali saya menuding Tuhan itu diam. Ada beberapa hal yang sulit dipahami manusia karena pada dasarnya manusia juga harus ikut memilih. Inilah buah dari pohon ilmu pengetahuan yang sudah dimakan oleh Adam dan Hawa.

Kalau saya melihat masalah sandera di Afghanistan, saya sungguh bersyukur bahwa mereka yang tersisa bisa kembali dengan selamat ke Seoul. Tapi kalau tidak ada perundingan maka kebebasan ini tidak akan pernah terjadi. Apakah hanya berdoa akan memberikan jalan keluar seperti buah yang jatuh dari langit? Tidak! Manusia harus berusaha juga. Sementara banyak pihak mengecam proses pembebasan karena dipandang bernegosiasi dengan teroris(?), saya pribadi lebih senang dengan hasil damai yang terjadi. Saya berharap Tuhan yang bekerja di balik semua ini. Terkadang agama memecah belah manusia, membuat manusia yang satu merasa lebih baik dan lebih berakhlak karena agamanya. Padahal hanya Tuhan semata yang Maha Tahu. Dia tahu sampai kedalaman hati manusia yang terdalam. Dia bahkan tahu sebelum kita sendiri menyadari diri kita sendiri.

Kerendahan hati, kesabaran, kesetiaan, kejujuran, dan rasa tangung jawab menjadi hal yang sangat sulit untuk dipelihara dalam zaman global yang penuh dengan konsumerisme ini. Jebakan untuk menikmati kesombongan pribadi, keinginan untuk memperoleh sesuatu secara instan seringkali membuat hal-hal baik ini terkubur di dalam mengejar kebahagiaan sesaat. Dan terkadang, tuduhan bahwa Tuhan itu diam muncul pada saat keinginan-keinginan itu tidak terjawab.

Tuhan tidak pernah diam, Kitab Suci merupakan sabdaNya yang senantiasa sedia memberikan jawaban bila kita mau mendengarkan. SabdaNya senantiasa ada, kita yang memilih untuk mendengarkanNya atau mengabaikanNya.

Santo Gregorius Agung merupakan seorang gembala yang dengan setia membantu umat mendengarkan sabdaNya. Dengan lebih mendekatkan umat kepada Tuhan, maka Sang Sabda akan lebih hidup di dalam hati umatNya. Betapa besar kuasa Tuhan dalam kehidupan orang yang beriman.

Allah Bapa yang Maha Baik,
Terima kasih atas segala berkatMu...
Atas Sabda yang Hidup ditengah manusia...
Berkati kami dengan Roh KudusMu ya Bapa...
Agar senantiasa sabar dan setia ...
Jujur dan rendah hati...
Serta bertanggung jawab atas talenta yang Dikau berikan...
Bertanggung jawab atas dunia yang Dikau titipkan...

Santo Gregorius doakan kami,
Karena berat jalan kehidupan dan seringkali kami terjatuh dan tersesat...
Doakan kami agar slalu setia...
Dalam hal besar maupun hal kecil...
Setia pada Bapa di surga...
Percaya pada kerahimanNya...
Dan setia menanti panggilanNya
Untuk ikut bersamaNya di dalam rumahNya yang indah penuh damai sejahtera...
Amin.

Sunday, August 19, 2007

Keresahanku

Sebuah keresahan menggelayut benakku. Kemarin saya mengikuti sebuah misa peringatan 40 hari meninggalnya seorang tetangga. Pertama misa bisa diadakan di rumah pada hari Minggu. Baru saja tanggal 17 Agustus lalu kami diberitahu seorang romo bahwa tanggal 17 Agustus termasuk sama dengan hari besar Gereja/ hari Minggu sehingga dia tidak bersedia mengadakan misa kudus di rumah. Sebenarnya adakah peraturan yang baku?

Kemudian pada saat komuni, pihak keluarga yang non Katolik yaitu yang beragama Kristen ikut menyambut komuni. Saya sempat memberitahukan pada ketua lingkungan, tapi beliau tidak berbuat apa-apa. Kemudian beberapa anggota keluarga yang lain, yang saya tidak tahu persis Katolik atau Kristen (saya pikir tadinya Kristen) ikut menyambut komuni. Sikap mereka sopan dan hormat, dan juga berdoa setelah komuni. Tidak ada tanda-tanda pelecehan terhadap Sakramen MahaKudus. Tapi apakah benar sebagai awam saya boleh diam dan tidak menginformasikan hal ini kepada pastor? Apakah tidak menjadi masalah membiarkan mereka ikut berbagi sakramen dalam perayaan Ekaristi? Setahu saya hal ini tidak diperbolehkan gereja. Terkadang kita bisa menjadi orang aneh dan bersikap mencari gara-gara karena hal prinsip yang orang lain tidak tahu atau tidak mau tahu.

Tuhan,
Tolong bimbing hatiku agar senantiasa berani mengatakan kebenaran,
Agar tidak takut tersingkir dan terisolir karena kebenaran,
Agar mampu mengetahui kebenaran itu sendiri,
Hanya Engkau Yang Maha Benar sumber segala kearifan Ya Bapa,
Dampingilah dan kuatkanlah kami,
Amin.

Trust in Providence

I’ve been searching the news of Rev. Frans Madhu, SVD for quite a long time. May be I have misspell the name, or I’ve just not doing the search intensively in the google. Yesterday I found a blog revealing a personal view of the incident.

This morning I found in my meditation a wise word “There is no need to be afraid, little flock, for it has pleased your Father to give you the kingdom” (Luke 12:22)
Before, in Luke 12: 4-5 it is written “To you my friends I say: Do not be afraid of those who kill the body and after that can do no more. I will tell you whom to fear: fear him who, after he has killed, has the power to cast into hell. Yes, I tell you, he is the one to fear.”

It is not the fear of death that made me looking out for personal news on Rev. Frans Madhu, SVD. I was just curious about what is happening in a country known to us as a Catholic-majority country. I do know there is also regional problem on religion, but it was shocking news for us to hear a priest had to end his life without any explanation like that.

Dear God,
Thank you for giving our lives,
Thank you for protecting us,
Thank you for accompanying us in all the miseries,
Please let the Holy Spirit helps us and be our leading torch,
In working, in speaking, in writing, in arranging our heart…
Amen.

Friday, August 17, 2007

Renungan Hari Kemerdekaan

Bacaan misa hari Kemerdekaan RI ke 62 mengambil dari Kitab Sirakh 10:1-8. Pemerintah yang bijak mempertahankan ketertiban pada rakyatnya, dan pemerintahan orang arif adalah teratur (ayat 1). Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan, dan uang (ayat 8).

Kitab suci yang sudah berumur ribuan tahun memiliki kearifan yang sungguh mendalam dan tetap saja aktual. Pasti dalam kitab-kitab penuntun setiap agama memiliki kearifan yang sama. Hanya saja manusia yang terus menerus kalah dari nafsu pribadi dan egoismenya, tidak pandai menerapkan ajaran-ajaran baik yang sudah tertulis sejak ribuan tahun lalu ini.

Romo Donatus dalam kothbah singkatnya mengambil contoh filosofi di balik tradisi lomba panjat pinang. Dalam lomba ini kemenangan bukanlah semata-mata kemenangan pribadi. Kemenangan pribadi adalah kemenangan semu! Karena sesungguhnya pemenang lomba panjat pinang perlu mempergunakan akal dan bekerja sama agar salah satu dari mereka bisa mencapai tujuan yang tertinggi. Dari segi negatif tradisi ini menggambarkan bagaimana kemenangan diperoleh dari menginjak teman sendiri. Tapi segi positif selain kemungkinan adanya kerjasama antar peserta adalah kegigihan untuk mencapai tujuan. Betapa segala kesulitan dan sandungan tidak mematahkan semangat juang untuk memperoleh kemenangan akhir.

Dalam Mutiara Iman 2007, renungan hari kemerdekaan lebih menitik beratkan pada sikap jujur, berani, dan tulus terhadap sesama dan terhadap Tuhan.

Dari renungan pribadiku sendiri, ada satu ayat dari kitab Sirakh yang menarik yaitu ayat 6: Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Betapa indah kalau hal ini juga bisa dilaksanakan dalam dunia politik. Pak Harto sebagai seorang bapak bangsa tidak bisa juga dinihilkan perjuangannya karena kesalahan yang diperbuatnya. Pemerintahan beralih karena kelaliman, kekerasan, dan uang. Betapa benar mahzab ini berbunyi. Yang sulit adalah memisahkan antara kepentingan memaafkan dengan pencegahan agar tidak terulang lagi. Tanpa proses peradilan yang jelas mungkin akan susah untuk memberi contoh kepada calon pemimpin baru agar tetap berjalan pada koridor yang benar. Tapi proses peradilan ini juga akan membuat kita membongkar borok besar bangsa Indonesia, karena semua berjalan dalam satu hirarki besar. Yang penting sebenarnya agar kemerdekaan saat ini tidak lagi disalah artikan sebagai kebebasan yang mutlak tak memiliki aturan main, atau hanya dipimpin oleh aturan kepentingan pribadi dan golongan.

Secara pribadi saya lebih suka menutup buku, membuka halaman baru. Biarlah Allah juga yang menjadi hakim atas kesalahan yang sudah berlalu. Sebagai awam terhadap masalah peradilan, sosial dan politik, saya tidak tahu yang mana kewajiban untuk kaisar, yang mana kewajiban untuk Allah (sedikit membalik kata dari Matius 22 ayat 21). Bila kita memberikan apa yang wajib kita berikan bagi kaisar, dan apa yang wajib bagi Allah, maka mungkin ada juga penghakiman yang wajib datang dari kaisar (pemerintah yang sedang berjalan) dan ada juga penghakiman yang wajib datang dari Allah.

Allah Bapa yang Maha Baik,
Terima kasih atas kemerdekaan yang telah diperoleh bangsa Indonesia,
Bantulah kami untuk menjaga dan mengisinya,
Masih banyak celah dan ketidak adilan yang terasa,
Beban hidup semakin hari terasa semakin berat,
Kejujuran semakin menjauh dan menjadi langka,
Keberanian untuk berjuang melawan kebathilan semakin meredup,
Yang timbul dipermukaan hanya keberanian semu yang berakar pada kepentingan pribadi,
Ketulusan menjadi semu dan tersamar,
Atau lagi-lagi tersandung pada kepentingan pribadi dan kelompok.
Allah sumber kekuatan dan keadilan,
Bantu kami untuk tegar dan senantiasa bangkit dan berjuang,
Dalam mempertahankan kemerdekaan dan keadilan bagi seluruh manusia,
Tidak lagi terjajah oleh batasan teritori dan ras kebangsaan,
Tapi sungguh memperjuangkan keadilan dalam cinta kasih yang Dikau ajarkan,
Semoga bangsa Indonesia tetap mampu bersatu dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan sejati,
Kemerdekaan yang berasal dari sang Maha Pencipta.
Amin.

Sunday, August 12, 2007

Renungan di Hari Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Bunda Maria adalah gambaran penderitaan seorang wanita. Hamil tanpa menikah merupakan aib besar bagi kaum wanita. Memang semakin banyak wanita sekarang yang tidak malu-malu menabrak norma ini, tapi Bunda Maria tidak pernah berjalan keluar garis kesantunan. Apa yang terjadi adalah buah ketaatannya ketika menjawab: “Terjadilah padaku menurut perkataanMu”.

Tatkala kita berjalan dalam jalur yang benar, seringkali kita meminta imbalan kepada Tuhan. Apabila hal yang menimpa kita justru adalah kesusahan dan aib, apakah kita cukup beriman untuk tetap memuji namaNya?

Maria kemudian menikah dengan Yosef, dan mereka harus pergi berkilometer jauhnya ke Bethlehem untuk mendaftarkan diri. Perjalanan yang sangat berat bagi seorang wanita yang sedang hamil tua, tapi dia dengan tabah menjalaninya. Ia menjalani peran yang harus ditanggungnya dengan sabar dan tawakal, termasuk ketika tidak ada sebuah rumahpun yang mau menampungnya tatkala saatnya untuk melahirkan sudah terasa. Maka lahirlah Yesus di sebuah kandang di Bethlehem.

Peringatan kepada Yosef melalui mimpi membuat ibu muda yang baru saja melahirkan anaknya ini harus mengungsi ke Mesir. Sekali lagi perjalanan yang melelahkan dan kehidupan baru di negeri asing harus dilaluinya.

Ketika Yesus berusia dua belas tahun, dia tinggal di Bait Allah. Maria dan Yosef mencariNya selama tiga hari sebelum menemukanNya di Bait Allah. Kecemasan seorang ibu yang kehilangan anaknya bisa terasa begitu menghunjam. Seringkali seorang ibu mempersalahkan dirinya sendiri yang lalai bila suatu musibah menimpa sang anak. Kecemasan yang menggunung ini biasanya terhapuskan oleh tangis sang anak yang juga mencari dirinya. Tapi yang Maria temukan adalah seorang anak yang sedang santai bercerita kepada kerumunan orang di Bait Allah. Yesus bahkan menjawab teguran yang diterimaNya: “Mengapa mencari saya? Tidak tahukah kalian bahwa saya harus berada di rumah Bapa?”

Kepercayaan Maria kepada Yesus sangat besar, maka ketika pemilik perjamuan di Kana kehabisan anggur dia mengandalkan Yesus putranya. Walaupun Yesus awalnya menolak, sekali ini Maria menggunakan haknya sebagai seorang ibu dengan berkata kepada para pelayan: “Lakukan apa yang Dia perintahkan kepadamu!”

Terkadang orang tua menyimpan cita-cita untuk anaknya, kepercayaan Maria akan kuasa anaknya seperti yang terlihat di pesta pernikahan di Kana sangat besar. Bisa terasa betapa pedih hati Maria ketika harus melihat penderitaan Yesus dalam proses penangkapan, peradilan dan jalan salibNya. Tidak ada kedukaan yang lebih dalam dari seorang wanita daripada saat melihat buah tubuhnya dihina dan disiksa tanpa mampu membela sang putra.

Kesedihan ini menjadi lengkap ketika setelah dengan kesulitan untuk menguburkan Putranya, ia harus menyaksikan tubuh Putranya hilang dari kuburNya. Tapi ketabahan dan kepercayaannya pada Allah telah membantu dia untuk sabar dan menanggung segala pertanyaan dan kesedihan di dalam hatinya. Kehilangan kali ini ternyata adalah untuk kemuliaan Yesus.

Dalam misa di gereja saya bertemu seorang pemuda yang sangat ramah kepada anak-anak saya. Ternyata dia akan masuk ke seminari di Cikanyere. Biara Karmel. Saya berdoa agar panggilannya terus dikuatkan. Pada zaman ini cukup sulit mencari bibit panggilan. Entah dari tiga anak lelaki saya apakah akan ada yang terpanggil ke ladangNya. Saya juga menyaksikan betapa banyak pastur yang tidak setia pada janji imamatnya, sebagian bahkan menanggalkan jubah. Saya tidak ingin menghakimi orang lain, karena setiap manusia memiliki keterbatasan dan masalahnya sendiri. Tapi saya ingin sedikit membandingkan panggilan ini dengan panggilan berumah tangga. Walaupun semakin banyak pasangan yang bercerai, sebenarnya sakramen perkawinan seharusnya hanya diberikan sekali seumur hidup. Artinya apapun pilihan yang sudah kita buat harus kita terima dan kita jalani dengan sepenuh hati. Penyesuaian diri pasti memiliki porsi yang besar. Proses menerima dan memaafkan kesalahan pasangan juga membutuhkan pengorbanan dan kekuatan iman. Bagi saya sakramen imamat seharusnya juga memiliki konsekuensi yang sama, untuk terus terikat pada pilihan hidup itu.

Allah Bapa yang Maha Baik,
Bunda Maria telah memberi teladan bagaimana menjadi ibu yang baik,
Kesabaran masih menjadi pelajaran yang amat sulit untuk diterapkan.
Bapa,
kepadaMu aku memohonkan kepekaan bagi anak-anak ini,
agar mampu mendengar suaraMu,
bagi para pemuda yang Kau panggil bekerja di ladangMu,
agar mampu bertahan dalam segala godaan dan tantangan yang mereka hadapi,
bagi kami keluarga-keluarga yang hadir di hadapanMu,
agar senantiasa dipenuhi damai dan kasih sejahteraMu.
Amin

Saturday, August 11, 2007

Tuhan Yang Diam

Seringkali Tuhan terasa sungguh sibuk dengan urusan lain. Tuhan diam dan membisu tak menjawab segala jeritan doa. Mungkin ini yang dirasakan perempuan Kanaan yang meminta pertolongan Yesus (Mat 15:21-28). Setelah membisu dan tidak menjawab permohonan perempuan ini, Yesus bahkan mengeluarkan pernyataan diskriminatif yang cukup menghina. Kebulatan tekad dan besarnya iman perempuan itu tidak tergoyahkan oleh ujian ini. Ujian yang dijalaninya berbuah pujian dari Tuhan atas besarnya iman yang dimilikinya.

Terkadang kesabaran, ketekunan, dan kesetiaan kepada Tuhan tergerus dengan kepanikan kita menghadapi suatu masalah. Seringkali kita tidak sabar menginginkan Tuhan bekerja untuk kita. Padahal bukan waktu kita yang digunakanNya. Seringkali kita melupakan bahwa Tuhan adalah Tuan di kebunNya dan kita adalah pekerjaNya. Kita memaksakan kehendak kita untuk terjadi pada saat yang kita rasa kita butuhkan.

Tetapi sering juga kita terlalu fokus pada hal yang kita inginkan sehingga melupakan berkat-berkat kecil yang hadir setiap saat. Berpasrah kepada kehendak Tuhan, tetapi tetap bertekun dalam doa merupakan hal yang diinginiNya dari para pekerja di kebunNya. Mintalah, maka akan diberikan!

Seorang teman mendapat kesempatan untuk bepergian ke luar negeri bersama suaminya, tetapi ia tidak merasakan kegembiraan karena situasi dan kondisinya yang sedang hamil tua membuat perjalanan itu merepotkan. Kemudian suaminya sekali lagi mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar negeri pada saat ia dijadwalkan akan melahirkan. Berkat yang juga menandakan keberhasilan pencapaian dalam pekerjaan sang suami menjadi beban bagi sang istri yang akan melahirkan. Bila ia hanya terfokus pada pikiran yang mendahulukan dirinya sendiri, maka berkat ini tidak lagi terasa sebagai berkat. Ungkapan iri yang saya lontarkan membuat sang istri kembali tersadar betapa Tuhan sebenarnya telah memberi lebih kepada mereka.

Bergaul dengan tetangga dan anggota komunitas bisa banyak membantu bila kita mau saling terbuka. Betapa sering kekecewaan terhadap suami menjadi beban berat dalam kehidupan sebagai istri. Tapi ternyata bila bergumul dengan keseharian anggota komunitas yang lain, baru terasa betapa setiap orang memiliki salib masing-masing. Kekurangan suami yang terasa berat menjadi ringan setelah mengetahui betapa banyak hal-hal kecil yang terlalaikan sebagai istri dan tidak pernah dituntutnya. Saling menyesuaikan dengan kepribadian dan tuntutan masing-masing dalam kehidupan berkeluarga sungguh menjadi suatu pekerjaan rumah yang membutuhkan kesabaran dan kesetiaan. Saling mengampuni dan saling mencintai dalam Tuhan akan menjadi perisai terhadap goncangan dan angin badai yang menerpa.

Tuhan Allah Bapa yang Maha Kasih,
Karena kasihMu kami senantiasa terpelihara dengan baik di dunia ini.
Terkadang kesabaran, ketekunanm dan kesetiaan kami menipis dalam menghadapi cobaan hidup.
Dengan bantuan Roh KudusMu, bantulah kami ya Tuhan.
Nyalakan pelita iman di dalam hati kami dan biarkan ia terus menuntun kami.
Agar senantiasa sabar, tekun dan setia kepada Allah pencipta yang senantiasa setia mendampingi kami.
Amin.

Monday, July 30, 2007

Doa pada St. Ignatius Loyola

Santo Ignatius yang baik,
Berkat karyamu dan karya pengikut-pengikutmu kami bisa lebih mengenal belas kasih, kerahiman dan kemurahan Allah.
Bantulah keluargaku ya Santo Ignatius supaya senantiasa mampu bertobat, serta senantiasa mampu menangkap panggilan Tuhan bagi kami.
Bantulah anak-anak Indonesia supaya dapat memperoleh pendidikan yang layak untuk masa depannya.

Santo Ignatius yang penuh dengan kasih sayang,
Tuhan sudah menyapamu melalui bacaan-bacaan,
Doakanlah aku supaya mampu berkarya menampakkan kehadiran Allah yang murah hati dan berbelas kasih di dalam kehidupanku.
Di dalam kehidupan keluargaku, lingkunganku, negaraku, dan dunia.
Ketegaran adalah hal yang sulit, ajarilah aku untuk tegar dan sabar.

SAnto Ignatius bimbinglah dan doakanlah kami, Amin.

Tuesday, July 17, 2007

Tuhan Yang Membebaskan.

Kegiatan saya di portal citizen journalism banyak membawa pengalaman baru dan pengetahuan baru. Salah satu yang menyeruak dari berbagai topik hangat di portal wikimu.com adalah keinginan teman-teman dari Papua untuk memisahkan diri dari Indonesia. Secara pribadi saya lebih senang mereka tetap bersatu dengan Indonesia. Mereka adalah salah satu mutiara indah bangsa Indonesia yang kaya dalam berbagai hal, baik hasil bumi, adat kebudayaan, maupun ekosistem.

Hari ini bacaan Renungan Harian Mutiara Iman 2007 mengambil topik meditasi Kitab Keluaran 3:1-6, 9-12. “Bukankah Aku akan menyertai engkau?”. Di bawah ini akan saya kutip meditatio dari buku mutiara iman:
Bacaan pertama hari ini mengisahkan perutusan Musa oleh Tuhan untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir. Dengan kekuatan manusiawi tentu Musa tidak mungkin mampu melaksanakan tugas pembebasan bangsa Israel itu, apalagi yang dihadapi adalah bangsa dengan raja yang kejam. Maka Tuhan meneguhkan bahwa Tuhan akan menyertai. “Aku akan menyertai engkau”. Pernyataan Tuhan inilah yang membawa keberhasilan. Dan berkat tangan Tuhan, Israel kembali menjadi bangsa yang merdeka dan terbebas dari segala penindasan bangsa Mesir.

Pengalaman Musa ini bisa memberi inspirasi bagi para pemimpin bangsa kita. Untuk menjadi bangsa yang merdeka, bebas dari segala penderitaan dan ketertindasan, pemimpin bangsa harus bertindak bukan seperti raja Firaun, yang bertindak kejam dan menindas ribuan orang demi kejayaan pribadi. Pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan seperti Musa. Ia mempunyai komitmen terhadap tugas yang diembannya, yaitu membebaskan bangsanya dari segala penderitaan dan melindungi dari kuasa-kuasa apapun yang merusak. Tugas itu dia perjuangkan bukan dengan kekuatan senjata atau militer tetapi dengan kekuatan Allah. Karena ia percaya bahwa Allah turut campur tangan dalam perjuangan membangun bangsa yang merdeka lahir batin dan sejahtera dalam kehidupan.


Renungan saya pribadi tidak bisa tidak lari kepada pemikiran terhadap artikel teman-teman dari Papua. Tapi renungan saya bisa jadi bertolak dari dasar pemikiran saya yang memang pro NKRI.

Tuhan yang membebaskan manusia dari belenggu dosa, Tuhan pula yang menjamin kebebasan dan kemerdekaan kita lahir dan batin. Bahkan sebagai manusia yang dipenjara kita tetap bisa menjadi orang yang merdeka lahir dan batin selama kita tetap teguh berpegang pada Allah sang Pencipta.

Kemerdekaan harus diperjuangkan. Bahkan di dalam keluarga terkadang kita tidak merdeka. Entah sebagai anak, entah sebagai orang tua. Sebagai anak terkadang saya merasa terbelenggu oleh peraturan dan ketakutan orang tua saya terhadap saya sebagai anak perempuan satu-satunya. Sebagai orang tua terkadang saya merasa terbelenggu dengan kewajiban saya menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya, banyak kegiatan yang ingin saya jalani harus saya kesampingkan untuk memberi prioritas waktu bagi keluarga. Masih banyak belenggu lain yang bisa kita cari dari kehidupan berkeluarga. Mungkin bagi yang lajang belenggu itu akan berujud lain, entah kurangnya kepercayaan diri, atau hal-hal lainnya.

Bagi saya masalah rekan-rekan entah dari Papua, Ambon, ataupun Aceh (sama seperti dahulu saya memandang masalah Timor Timur) adalah masalah perjuangan untuk memerdekakan diri dari ketertinggalan. Berjuang di dalam NKRI dengan kesatuan tekad dan kebersamaan di bawah lindungan Allah pasti akan berbuah lebat. Pada intinya perjuangan itu sama, tapi dengan bersama-sama dan bersatu kita lebih kuat.

Timor Timur sudah merdeka dan berdiri sendiri, tapi perjuangan mereka masih panjang. Sanggupkah mereka melangkah terus? Sementara ini saya mendengar bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam daftar negara gagal. Daftar apa pula ini? Kita hanya bisa mendoakan mereka. Setidaknya sebagai tetangga terdekat Indonesia sangat bekepentingan dengan kemajuan dan kemandirian Timor Timur, tapi disamping itu stigma sebagai penjajah juga melekat pada diri bangsa kita.

Meditasi saya hari ini lebih banyak bermain dengan logika. Mungkin saya butuh waktu yang lebih tenang dan lama untuk sungguh-sungguh mendengar suaraNya. Tapi yang saya peroleh adalah satu penguatan bahwa pemimpin harus punya komitmen kuat terhadap tugas yang diembannya, yakni memerdekakan bangsanya dari penderitaan, melindunginya dan yang terpenting melaksanakan semua komitmen ini dalam persetujuan Allah. Selama pemimpin berjalan menjauhi Allah dengan segala tindakan yang hanya memikirkan diri sendiri atau keluarga sendiri, atau golongannya, maka mereka tidak akan bisa menjalankan komitmen yang diembannya dengan dukungan Allah. Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Wahai pemimpin bangsa (termasuk yang duduk di kursi DPR, MPR, atau kursi empuk lainnya), dengarkan suara rakyat maka kalian akan mendengar suara Allah.

Allah Bapa yang Maha Baik, tolonglah para pemimpin bangsa Indonesia agar sungguh dapat bijaksana membimbing bangsa kami dari keterpurukan dan perpecahan. Berkatilah pemimpin kami agar senantiasa mengingat komitmennya kepada rakyat dan Allah Yang Maha Esa. Bimbinglah mereka agar mampu memimpin kami keluar dari belenggu kebodohan, kemiskinan, keserakahan, dan kesombongan diri. Terima kasih atas kasihMu Tuhan, kami percaya hanya dengan lindunganMu kami mampu sungguh-sungguh merdeka. Amin.

Thursday, June 14, 2007

Orang Buta Yang Disembuhkan.

Kisah Bartimeus pada Injil Markus 10: 46 -52 tentang orang buta yang disembuhkan Yesus sangat menarik perhatianku. Ayat terakhir sangat mengena di hatiku. “Pergilah, imanmu sudah menyembuhkanmu!” Sebagai orang buta tentunya banyak hal yang sangat didambakan oleh Bartimeus, banyak keinginan yang tidak mungkin terlaksana karena kondisinya yang buta. Setelah disembuhkan dan disuruh pergi, Bartimeus tidak pergi mengejar impiannya melainkan terus ikut bersama Yesus.

Saya membayangkan diri saya dalam keterikatan yang menyesakkan, hal pertama yang ingin dicapai adalah melepaskan diri dari keterikatan itu. Keluar dari kungkungan penyakit maupun derita hidup menjadi tujuan utama permohonan penyembuhan. Setelah sembuh dan berterima kasih, seringkali yang tertuju pertama-tama adalah mengisi kegembiraan dengan hal-hal yang sudah lama diimpikan. Betapa jarang saya ingat untuk tetap duduk diam mendengarkan Tuhan, apalagi untuk tetap bermati raga mengikuti jalan salibNya.

Terkadang mengikut Yesus kita terjemahkan sebagai mendapatkan kebahagiaan dan kesembuhan semata. Meminta menjadi ciri utama percakapan kita dengan Dia. Tatkala suasana sedang baik dan senang keberadaanNya terlupakan. Kesenangan hidup terkadang membutakan kita pada kehadiranNya, membuat kita buta terhadap hukum-hukumNya, membuat kita buta terhadap permasalahan sesama kita manusia.

Tuhan, Dikau menyembuhkan daku dari sakitku…
Mengobarkan semangat untuk terus berjuang berjalan bersamaMu…
Jangan sampai kebahagiaanku menyilaukan daku…
Dan terlupa untuk ikut terus berjalan denganMu.
Roh Kudus, dampingilah kami yang lemah ini…
Agar senantiasa merasakan kehadiran Tuhan,
Dan memiliki cukup iman untuk disembuhkan…
Amin.

Sunday, May 27, 2007

A Birthday Prayer

Dear God,
Thanks for all the blessings through all the years.
Thanks for the chance to see the world in this new episode of life.
Thanks for all the experiences awaiting me in the future.
Thanks for the Holy Spirit which guided me through my past and to the future.
Thanks for the strength and patience through all the obstacles of life.

I’d like to pray for all my friends.
Those who are still here with me…
And those who passed this world to be closer to You.
Let our spirits be free to adore You.

My thoughts are also towards my country,
We need Your blessings to reach the enlightenment,
To help our leaders to think about all their peoples,
To try their best to unite and build the nation.

I know it is Your time and not mine that will count,
I know that sometimes Your way seemed difficult to cope with,
But I believe in Your goodness that leads us to a brighter life.
Amen.

Monday, May 21, 2007

Do not be Desperate!

Life sometimes seemed so difficult to live in, the only way to see it was desperation. I heard the crying for help from Porong. I heard the same cries from Papua…What can I do? Nothing!

Ony Suryaman wrote in his blog that Religion is a higher authority. I do think religion is only the way to lead us to God, the Alpha and Omega. But may be he is right, we are seeking for a higher authority so we could ask our reward, we could ask Him to do our revenge. We do say that He will punish the wrongdoers.

I took God as my conscience. He resided in me. But He is also far out beyond me. He gives me hopes during all my miseries. He gives hopes for my desperation. When I was worried about the future of my country I offered all my worries to Him.

Desperation is something that kills your creativity. It could also kill your spirit to live the life on.

Dear God,
Today I am going to stand up and fight the problems of life together with You and all my fellow human beings. Please help us to be strong and patient. Help us to be able to take the right decision in making our steps. Help us to build our families, to build our country, and to build the world to glorify Thy name.
Amen.

Thursday, May 17, 2007

The Wheel of Life

The wheel of life made our lives up and down. There were happiness, there were also sadness. We could not find eternal happiness but in God.

God helps us in the most unexpected way, if we do come to seek for His love and protection.

While seeking for His love, we have to remember to love others as John has put it his letter (1 John 4:20): Anyone who says “I love God” but hates his brother, is a liar, since whoever does not love the brother whom he can see cannot love God whom he has not seen.

What is religion? For me it is a source of hope and strength. It is a rope which is leading us to His presence. A rope that would not tie you up as it is your free choice to hold on to that rope.

Dear God,
You’ve love me so much that You were even search me when I was lost.
A good shepherd You are always be…
A naughty goat I was…
Please help me find happiness in my heart no matter how hard the life is!
Please help those people who were lost in desperation…
They might have asked silently in their heart for Your help…
Don’t let them choose suicide as their way out…
Bless my country dear God,
So we could come out this economic problem…
And bring peace back to the paradise on earth…our world!
Amen.

Tuesday, May 15, 2007

The Coming of the Paraclete

I was really confused on publishing my article about the May riot. I’ve put all my worries into prayer.

And today’s reading is John 16 The coming of the Paraclete.
I was really attracted to the phrase: “ And when he comes, he will show the world how wrong it was, about sin, and about who was in the right, and about judgement:…”

The mission today is to realize my human capacity and let the Holy Spirit works in me. I should write all my weakness and give it as my offering to God.
I translate that as an obligation to write all my thoughts even if I am scared of the consequences. I should present it to Him as my offering. Let Him guide me with the Holy Spirit. Let Him protect me with His love.

Dear God,
You’ve shown me that You wants me to work with my pen,
Yet I feared things that might not be real,
I was worried with things that You alone could provide me,
Help me God, please hold my hands…
Give me strength and wisdom to know Your will,
And to work to glorify Thy Name.
Amen.

Sunday, May 06, 2007

Mengasihi Tuhan, mengasihi manusia

Hari ini saya mengakhiri doa pagi saya dengan memohon: “Tuhan, semoga saya melakukan semua perbuatan baik bukan karena ingin upah di bumi maupun di surga, tapi terlebih karena kasih yang tulus kepadaMU”

Sungguh aneh rasanya karena mutiara iman meditasi hari ini adalah: ”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu…” (Yoh 14:21a)

Ia memberi jawabanNya…

Saya yang seringkali menuduh Tuhan itu diam (sama seperti kisah dari penulis Jepang Shusaku Endo), tapi sekarang pada saat berpegang teguh pada tanganNya sering sekali saya menemukan jawaban-jawabanNya.

Sebenarnya doa saya berasal dari meditasi minggu lalu, ada sedikit kebingungan yang saya temui dari bacaan mengenai Gembala yang baik (Yohanes 10: 1-19). Pada ayat 11-12 ada firmanNya: “ Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

Dari bacaan itu saya tidak ingin menjadi seorang upahan yang hanya mengerjakan sesuatu hal karena dibayar. Dalam meditasi saya menemukan Kolose 3: 22-25, yang menarik disini adalah pernyataan: “Apapun yang kamu perbuat , perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.” Ternyata selama ini dalam setiap perbuatan baik saya masih mencari upah, walaupun itu adalah upah dari Bapa di surga.

Dari situ muncul doa pagi saya, dan dari meditasi pribadi singkat pagi ini saya menemukan Yoh 15:9-17. “Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”, dan juga “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu”.

Ya Tuhan yang maha baik,
Berkatilah hari ini,
Berilah daku kemampuan untuk mencintai sesama,
Seperti Dikau mencintaiku,
Bantulah daku dengan Roh Kudus,
Agar sungguh terang pilihan jalan yang harus kuambil,
Agar tak tersesat daku dalam persimpangan yang gelap.
Amin.