Blog ini semula adalah blog meditasi pribadi, sejak Paskah 2008 saya buka untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi. Sementara ini sesuai dengan namanya "Perjalanan menelusuri kata-kataNya" lebih mengarah ke pendalaman iman lewat meditasi kitab suci, tapi dengan masuknya kontributor lain terbuka kemungkinan bentuk posting yang berbeda.
Thursday, March 20, 2008
Mengosongkan Diri Dan Melayani
Saya memasukkan tulisan Meidy dalam blog ini karena posisi duduk Yudas yang ditempatkan sebagai tamu kehormatan menggambarkan dilema terberat yang dialami Yudas. Di satu sisi dia memperoleh kebaikan dan kerahiman Yesus, kesempatan untuk berbalik dari rencana pengkhianatanNya. Dilain pihak bisa juga tempat kehormatan itu menjadikan dia semakin mantap merasakan bahwa itulah tugas yang diperolehnya agar Yesus dapat menyatakan kemuliaan diriNya.
Mata manusia tidak sama dalam melihat persoalan di dunia ini, dari Kitab Roma 12: 9-21 terdapat nasihat untuk hidup dalam kasih. Nasihat yang ada mungkin berbeda dengan yang menjadi nasihat duniawi.
Lihatlah ayat 14: Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!
Suatu tindakan yang di mata manusia mungkin tindakan pengecut, membiarkan diri ditekan dan ditindas. Tapi Tuhan ingin kasih yang disebarkan agar semakin banyak yang diselamatkan.
Ayat 17-18: Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung kepadamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
Ayat 19: Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kau sendiri yang menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hakKU. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
Ayat 21: Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!
Yesus memberikan pelayanan bagai seorang hamba. Pastur malam ini dalam homilinya mengatakan melayani pada dasarnya adalah mengosongkan diri, memberikan diri sepenuhnya kepada pelayanan. Yesus memberikan diriNya bagi pelayanan umatNya, tapi dia tidak kehilangan jati diriNya yang asli sebagai Putra Allah.
Pada malam setelah perjamuan terakhir ketika kebimbangan dan kesesakan mendera Yesus juga, dia kembali kepada BapaNya dalam doa. Ketika itu berlangsung, murid-murid tertidur. Terkadang kita tidak sanggup ikut berjaga-jaga bersamaNya.
Malam yang menyesakkan ini akan segera berlalu dan berganti dengan penderitaan panjang di dalam jalan salib Kristus.
Saya bersyukur pernah merasakan jalan salib seorang diri di Lourdes. Pada salah satu tempat tertulis "Naiklah dengan berlutut", dan saya menaikinya sendirian dengan berlutut. Orang-orang yang lewat seakan-akan melihat saya dengan pandangan mata aneh, anak-anak ada yang menunjuk-nunjuk. Mungkin hanya perasaan yang terlalu sensitif, merasa terlihat seperti orang gila di tengah hutan di Lourdes. Keinginan terbesar saat itu adalah berdiri dan pergi dari tempat itu. Tapi saya sudah berniat ingin menyelesaikan jalan salib itu walaupun dengan resiko paha dan lutut saya pegal bukan alang kepalang serta muka terasa setebal tembok. Untung kemudian ada juga yang bergabung di bawah saya sehingga muka tembok saya tidak lagi seberat awalnya.
Pengalaman ini sangat berharga bagi saya karena saya bisa merasakan siksaan dan penderitaan terberat yang dialami Yesus, Maria, dan para rasul. Bukan penderitaan fisik yang menjadi penderitaan utama, tapi penderitaan mental! Dan ketika Yesus seorang diri, Dia tidak tahu berapa banyak jiwa yang Dia menangkan, karena Allah memberikan juga kehendak bebas bagi manusia untuk memilih kebaikan atau kejahatan. Dia menjalani semua penderitaan dan penghinaan itu walaupun semua itu bukan kesalahanNya. Dan ironisnya semua itu terjadi karena pilihan orang Yahudi, bangsa yang dipilih Allah.
Mengosongkan diri, melepaskan cita-cita dan keinginan diri sendiri dalam pelayanan bukan berarti menghilangkan jati diri kita sebagai manusia. Dalam Dia kita akan berbuah dan menjadi banyak. Selama tiga hari suci ini kita akan menerima banyak sekali biar kita mau mendengar.
Yesus, Tuhanku...
Di dalam kemelut hati ini, aku tidak ingin menuntut hidup mulus tanpa gelombang.
Memanggul salib itulah tugasku sebagai pengikutMu, bukannya lari menghindar.
Namun Tuhan, saat-saat aku tidak mengerti jalanMu, tunjukkanlah jalanku ke arah rencanaMu.
Waktu kebingungan dan kekhawatiran melanda diriku, janganlah lepaskan tanganku.
Mampukan aku berdiri tegap melawan gelombang perasaanku yang tidak menentu seperti saat ini. Bantulah aku untuk bersabar, penuh kasih dan kerendahan hati. Jangan biarkan aku hanyut melawanMu, menyerah dalam arus percobaan.
Biarlah dekapan kasihMu menguatkan aku untuk berjuang. Menyadarkan aku bahwa aku tidak sendirian, tetapi Engkau tidak pernah lena dan tetap memangku, mendekapku dalam segala suasana yang gelap gulita dan membosankan ini.
Tuhan, biarlah aku semakin murni dalam genggaman kuasa dan kasihMu
(Doa Dalam Kesesakan, imprimatur: J. Harjoyo, Pr.)
Versi Lain dari “Perjamuan Malam Terakhir” (The Last Supper)
Pada akhir September 2005 ketika saya dan rombongan tour berkunjung ke Bethlehem, kami singgah di tempat penjualan berbagai cenderamata. Dari sekian banyak barang yang dipajang, saya tertarik pada sebuah patung hasil pahatan dari kayu pohon Zaitun. Pahatan itu menggambarkan suasana Perjamuan Malam Terakhir (The Last Supper). Di sana oleh pemahatnya digambarkan posisi Yesus tidak berada di tengah-tengah seperti karya Leonardo Da Vinci.

Local guide kami (Jeries Farah) menerangkan bahwa posisi Yesus berada di sebelah kiri dan itu menurut cerita yang ada dalam kitab suci (tentu saja sesuai imajinasi si pemahat). Jeries lalu berjanji mengirimkan via email deskripsi tentang patung tersebut kenapa Yesus berada di posisi sebelah kiri. Patung itu kemudian saya beli meskipun harganya cukup mahal.
Mengapa saya nekat membelinya? Karena patung itu tidak sama dengan yang digambarkan oleh Leonardo Da Vinci dalam karyanya “The Last Supper” yang menggambarkan suasana Perjamuan Malam Terakhir dari Yesus beserta murid-muridNya. Yesus dalam The Last Supper digambarkan berada di tengah-tengah para murid-murid tersebut.
Namun tafsir yang berbeda dipunyai oleh pemahat patung yang saya beli di Bethlehem. Berikut adalah sekilas gambaran mengapa posisi Yesus diletakkan di sebelah kiri meja perjamuan (lihat skets) seperti informasi dalam email yang dikirimkan oleh Jeries (local guide).

Gambar tersebut menunjukkan pengaturan tempat duduk yang sesuai dengan cara perjamuan Malam Paskah pada meja bersambung yang disebut juga 'triclinium', sebuah kebiasaan khas masa Romawi. Selama perjamuan, ada kebiasaan untuk bersandar pada siku kiri sementara makan dengan menggunakan tangan kanan. Sayap kiri dari meja perjamuan merupakan bagian paling terhormat dalam perjamuan ini. Tuan rumah biasanya menduduki posisi kedua dari ujung meja (# 1). Di sebelah kanan dan kiri dari tuan rumah juga merupakan posisi terhormat (# 2 dan # 3).
Yesus adalah tuan rumah maka Dia ditempatkan di posisi # 1.
Yohanes yang merupakan salah satu murid kesayangan Yesus digambarkan berada di sebelah kananNya (# 2), yang menempati posisi # 3 adalah Yudas Iskariot (murid yang akhirnya mengkhianati Yesus), sedangkan posisi # 4 adalah Petrus.
Ada beberapa hal mengapa bukan Petrus yang menduduki posisi # 3 tapi posisi # 4 :
** Ketika Yesus mengumumkan salah satu dari pengikutNya akan mengkhianatiNya, Petrus meminta Yohanes untuk bertanya siapa yang akan mengkhianati Yesus (Yoh 13:23-26). Karena posisi yang lain agak berjauhan maka kemungkinan terbesar posisi Petrus berseberangan dengan Yohanes yaitu posisi # 4.
** Ketika Yesus membasuh kaki para rasul terlihat bahwa Petrus adalah orang terakhir yang dibasuh kakinya (Yoh 13:6). Biasanya orang yang duduk di posisi # 4 yang seharusnya menawarkan diri untuk membasuh kaki yang lain.
Sedangkan mengapa digambarkan Yudas ada di posisi # 3 (yaitu kursi kehormatan) yaitu:
** Sepotong roti yang dicelupkan ke makanan utama (sup) biasanya diberikan kepada tamu kehormatan (Yoh 13:26)
** Yudas pasti berada dekat Yesus karena dia bisa mencelupkan makanannya ke dalam cawan yang sama dengan Yesus (Mat 26:23). Yesus walaupun sudah tahu bahwa Yudas merencanakan pengkhianatan tetap memberikan kerahiman dan kesempatan untuk berbalik dari rencananya hingga saat-saat terakhir. Bila rekonstruksi ini benar maka keberadaan Yesus yang sungguh dekat dengan Yudas sepanjang perjamuan itu tentunya memperkeras konflik batin yang dirasakan Yudas (Mat 26:14-16)
Demikian sekilas cerita tentang salah satu koleksi yang saya anggap berharga dibandingkan cindera-cindera mata lain yang saya beli di setiap tempat yang saya kunjungi.
Catatan dari Meidy:
Special thanks to Jeries Farah (www.tanahsuci.com), Romo Karoldus Jamrevav MSC yang telah membuat perjalanan tersebut menjadi salah satu bagian terindah dalam hidup saya.
Wednesday, March 19, 2008
Renungan Menjelang Jumat Agung
Dramatisasi dan Ironi yang tak pernah dimengerti dan diperdebatkan sepanjang jaman adalah
"Kesengsaraan Kristus"
Dari Injil kita belajar bahwa catatan Alkitab justru memperlambat, memerinci, dan bukannya mempercepat kisah-kisah Minggu sengsara.
Injil adalah riwayat minggu terakhir Yesus dibumi dengan pendahuluan yang semakin lama semakin panjang.
Injil memenuhi hampir sepertiga volumenya dengan minggu terakhir kehidupan Yesus yang terus memuncak.
Injil melihat kematian sebagai pusat misteri Kristus.
2 Injil mencatat kelahiran Kristus, 4 Injil memuat beberapa lembar tentang kebangkitanNya, tapi setiap penutur memberi catatan rinci tentang peristiwa-peristiwa menjelang kematian Kristus.
Bila kita membaca bagian-bagian ini, secara kita tenggelam dalam drama yang menegangkan , gaya bahasanya tidak berbunga-bunga, namun langsung pada tujuan sekaligus mencekam. Tidak ada mujizat, tidak ada penyelamatan Supranatural, yang ada adalah Bahala ( tragedi)
Bagaimana mungkin Anak Allah mati di planet bumi ?
Bagaimana mungkin Mesias, yang seharusnya menyelamatkan umatNya, malah tergantung di tiang salib ?
Bagaimana mungkin Allah dikalahkan ?
Alam sendiri terguncang melihat kejadian itu, tanah terbuka, batu-batu terbelah dan langit menjadi gelap.
Injil memberikan ironis yang kuat, bahwa Kristus sendirilah yang mengatur semua proses ini. Ia dengan mantap menghadapi Yerusalem, tahu akan nasib yang menantiNya disana. Salib memang menjadi tujuannya sejak awal, saat maut mendekat, Kristus mengendalikan semuanya.
Getsemani sebagai puncak kesepian yang tidak pernah dirasakan Yesus sebelumnya.
Seolah Getsemani menggambarkan kisah doa yang tak terjawab. Getsemani adalah sebuah pengalaman diabaikan Allah, dan ini adalah pengalaman baru buat Yesus.
Secara naluriah, kita manusia, ingin seseorang disamping kita pada malam menjelang pembedahan, dirumah jompo ketika kematian mendekat, pendek kata dalam setiap Krisis Besar, kita memerlukan sentuhan yang menenangkan dari keberadaan manusia. Pengucilan kesendirian adalah bentuk terburuk yang diciptakan spesies kita.
Yahudi, sebagai sebuah sistem keagamaan yang paling berpengalaman , berkonspirasi, berkolusi, melakukan permufakatan jahat dengan Romawi, dalam sebuah sistem hukum dan politik paling kuat saat itu. Yesus dibunuh Justru oleh orang-orang beragama, bukan oleh orang-orang Atheis.
Yesus mengalami ketidak adilan justru oleh sistem hukum yang canggih saat itu, bukan diluar hukum tetapi dalam bentuk pemaksaan hukum, walaupun kesalahannya tidak dapat dibuktikan secara hukum.
Yesus akhirnya tergantung nyaris telanjang dengan postur yang paling memalukan. Lemah, ditolak, terkutuk dan benar-benar kesepian.
Mengapa Allah menyembunyikan wajahNya pada saat yang paling kritis, seakan-akan dengan sukarela menyerahkan pada hukum alam yang buta, tuli dan tidak memiliki belas kasihan...( Fyodor Dostoevky )
Pengekangan diri terbesar yang dilakukan Allah sepanjang sejarah. Dia bisa saja membiarkan Hitler, Stalin melakukan kesewenang-wenangan, namun membiarkan anakNya yang tunggal mengalami perlakukan yang begitu brutal, dan berdiam diri saja, dimanakah Allah saat itu ?????
Dalam 7 kalimat yang Yesus ucapkan diatas kayu salib, pada umumnya mengutarakan tentang sesuatu yang lain, bukan tentang kesakitannya. Satu-satunya yang agak dekat dengan keluhan fisik adalah kalimat :"Aku haus", yang ironinya diucapkan oleh seorang yang mengubah berliter-liter air menjadi anggur dan berbicara tentang air hidup yang menghilangkan dahaga selamanya.
Biasanya Kristus menyebut Allah dengan sebutan "Abba atau Bapa", dan hanya sekali ini saja Ia menyebutnya Allah, dalam kalimat, "AllahKu, ya AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku". Ini adalah sebuah perasaan yang teralienasi, terabaikan, tertolak dan sangat menyakitkan.
CS. Lewis mengatakan: tidak jadi masalah bila diabaikan orang-orang seperti pelayan restoran, swalayan atau orang-orang yang tidak begitu kita kenal, namun bila kita diabaikan oleh orang yang terdekat dengan kita, yang hidup bersamanya bertahun, lalu mendadak mengacuhkan kita, maka itu menjadi masalah besar.
Bagaimanakah dengan kita saat ini..?????
Apakah kita juga mengabaikan dan meninggalkan Dia?
Apakah kita juga larut dalam eforia suksesi penyaliban Dia, ataukah kita memaknai pengorbananNya di kayu salib itu sebagai titik nadir yang membawa kita kepada perubahan Iman dan pelayanan kita kepada sesama..??????
Marilah kita renungkan bersama!
Selamat memasuki Jumat Agung!
Catatan: Terima kasih Pak Phil, rasa sendiri dan ditinggalkan itu sudah akan hadir malam ini dalam acara Tuguran...ternyata murid-muridNya pun tidak sanggup menemani Yesus yang tahu benar apa yang akan dihadapiNya esok. Memang seringkali kita minta Ia temani tapi tidak sanggup menemaniNya.
Mari Berbagi
Mari berbagi, karena setiap pengalaman kita merupakan karunia Allah yang bisa dibagikan kepada sesama. Karena bukan materi semata yang bisa dibagikan tapi saling menguatkan dalam pengalaman hidup maupun pemikiran terkadang menjadi suara yang dipinjam Tuhan untuk menjawab manusia.
Sunday, March 16, 2008
Tuhan Yang Membangun Rumah
Satu ayat yang digunakan pendeta tersebut sungguh-sungguh mengena di hati saya. Mazmur 127: 1; Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.
Kutipan di atas menyentuh saya karena saya dapat merasakan kebenaran dan penguatan di dalamnya. Komitmen pernikahan bukan hal yang mudah untuk saya ambil. Mungkin malah merupakan satu-satunya keputusan yang saya pikirkan matang-matang selama hidup saya. Bukan hanya saya pikirkan, tapi juga saya tanyakan padaNya. Dan saya merasa Dia diam membisu. Dia membiarkan saya mengambil keputusan itu sendiri. Sekarang setelah cukup lama merenungkannya saya menyadari kesalahan saya, saya bertanya kemana-mana, bahkan mencari wahyuNya dari setiap gereja yang saya masuki, dari beberapa pastur yang saya kenal, tapi tidak berhenti…hening…dan mencari Dia dengan sungguh-sungguh dalam hatiku.
Keputusan sudah diambil, komitmen sudah dibuat, janji sudah menjadi sumpah di atas Alkitab. Dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit…
Ketika gelombang menerpa biduk yang sedang berlayar, dalam badai yang kuat menggoncangkan jiwa, ternyata Dia mengawal biduk ini. Dia yang diam, ternyata ada disini menemani perjalanan. Dia berada di ruang nahkoda, dan segera keluar ketika kucari tuntunanNya.
Ternyata dalam diamNya Dia terus memantau apakah anakNya terus berlatih berjalan, atau akan jatuh tersandung. Dan Dia hadir disana memegang tanganku menguatkan jalanku.
Kemarin saya merasa dikuatkan, karena ketika pendeta membacakan Mazmur tersebut, pembuka dari kidung ziarah Salomo, saya merasa bahwa Tuhan mengingatkan saya bahwa Ia turut membangun rumah tangga kami. Itulah sebabnya ketika saya merasa lelah untuk terus membangunnya, Dia tampil dan menyegarkanku dengan air kehidupanNya.
Satu dasawarsa berlalu dan Dia masih terus menerus menguatkan diriku. Saya percaya Dia juga sedang bekerja dalam hati suamiku. Kami berangkat dengan semangat besar untuk meniru teladan Keluarga Kudus, semoga ke depannya tidak pernah kalah melawan gelombang badai karena Nahkoda kami adalah yang terbaik!
Ketika mencoba menuliskan tulisan ini, saya membaca lanjutan dari Mazmur 127. Banyak hal yang terbukakan bagiku, tapi yang paling mencerahkan (atau mungkin juga menjadi tuntutanNya) adalah ayat 3-5: “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu…”
Pusaka, milik Tuhan, demikian berharga anak-anak yang dititipkanNya kepada kami. Anak-anak adalah anak panah di tangan pahlawan, yang akan meruncingkannya, dan memasangkannya pada busur serta membidikkannya ke arah yang tepat agar bisa berguna. Dan Dia memberikan tugas menjadi pahlawan itu kepada orang tua. Saya percaya bahwa Dia akan berada di garis depan bersama kami, memberikan arahan yang tepat dan menarik kami dari bencana bila kami lengah.
Bapa,
BerkatMu melimpah pada kami,
Yang seringkali tidak sadar akan pengawalanMu,
Yang sering terlalu mengandalkan diri kami sendiri,
Dan sering melupakan kehadiranMu untuk bertanya,
Bayi-bayi kecil, mungil, lucu, menggemaskan,
Sudah menjadi anak-anak kecil cerdas, penuh tanya, penuh kecerobohan dan petualangan,
Terkadang kelelahan dan tekanan kehidupan mendera kami ya Bapa.
Janganlah Dikau melepaskan tangan-tangan kami,
Biarlah kami bergantung padaMu dan bertumbuh dalam iman padaMu,
Amin.
Friday, March 14, 2008
Doa Bapa Kami Untuk Pertobatan Total
Bapa Kami,
Anda telah memanggil Allah sebagai Bapa, maukah berlaku sebagai anak dan mengikuti kehendakNya?
Yang ada di surga,
Sudah dapatkah kendalikan nafsu duniawi anda?
Dimuliakanlah namaMu,
Sudahkah anda memuliakan nama Allah, dan mau mengikuti kehendakNya?
Datanglah kerajaanMu,
Betulkah anda mengharapkan kerajaan Allah, karena anda yang harus bangun dalam dirimu!
Jadilah kehendakMu,
Sudahkah berserah total pada Allah, walaupun itu adalah penderitaan yang anda alami saat ini?
Di atas bumi seperti di dalam surga,
Sudahkah hidupmu seperti di dalam surga? Jika belum, mintalah bimbinganNya!
Berilah kami rezeki pada hari ini,
Sudahkah anda bersyukur selalu bahwa yang anda miliki saat ini adalah berkat dari Allah?
Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dapatkah mengampuni yang bersalah padamu, bila tidak andapun kelak tidak akan diampuni oleh BapaMu di surga.
Janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,
Sebenarnya Allah tidak pernah memberikan cobaan kepada kita, bila kita tidak mencoba-coba sendiri, mengikuti suara hati keinginan duniawi.
Bebaskanlah kami dari yang jahat,
Bebaskanlah diri anda dari nafsu pikiran yang tidak baik, pastikan kejahatan akan jauh dari anda.
Amin.
Apapun yang kita minta doakan dan mohon kepadaNya, Allah selalu mengucapkan AMIN.
Monday, March 10, 2008
Siapa yang boleh datang kepada Tuhan?
Mazmur 15: 1-5
“Mazmur Daud
Tuhan, siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu? Siapa yang boleh diam di gunungMu yang kudus?
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang menyatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
Yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,yang tidak berbuat jahat kepada temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya,
Yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan Tuhan; yang berpegang pada pada sumpah, walaupun rugi;
Yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tidak bersalah.
Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya. “
Setidaknya dua ribu tahun sudah berlalu, tetapi hal-hal yang dimazmurkan Daud tetap sesuai dengan keadaan bumi saat ini. Yang sempat membuat saya bingung adalah perkataan “yang memandang hina orang yang tersingkir”. Bukankah kita seringkali memang memandang hina orang-orang yang tersingkirkan karena menderita cacat, yang tersingkirkan karena kemiskinan atau kebodohannya?
Tetapi akhirnya saya mengerti mazmur ini ditujukan kepada hati manusia, kepada orang yang disingkirkan Tuhan karena cacat hatinya, karena kebodohan dan kemiskinan hatinya yang menutup jalannya kepada Tuhan.
Sakramen tobat hadir sebagai pemulih jalan menuju kerahimanNya, dengarkanlah suara yang berseru-seru di padang gurun, suara yang memanggil domba yang tersesat untuk kembali kepada Gembalanya.
Ya Bapa,
Gembala Utama,
Terima kasih atas perlindunganMu yang tiada henti,
Terima kasih atas air kehidupan yang menyejukkan dahaga kami,
BersamaMu tidak akan kekurangan kami,
Dalam badai dan topan Engkau senantiasa menjaga kami,
Terkadang kami lupa akan hadirMu,
Bermain bergembira ke onak duri,
Terjerat disana tak berdaya,
Engkau datang membebaskan kami,
Tapi masih juga onak duri dan kebesaran alamMu menggoda kami
Kebebasan yang tampak indah dan tak berdosa.
Membuat langkah kami senantiasa menyimpang kembali.
Tuhan, ampunilah kami.
Amin.
Thursday, February 28, 2008
Manusia Duniawi Dan Perselisihan.
Hal yang paling menarik perhatianku adalah 1 Korintus 3: 5 “Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.” Dan I Kor 3: 7 “Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.”
Seperti orang upahan dalam perumpamaan di Matius 20 di atas, seringkali kita bersungut-sungut karena merasa tidak memperoleh upah (duniawi) yang pantas dibandingkan dengan perolehan orang lain. Seringkali kita merasa lebih dahulu hadir, lebih tua, lebih pantas menjadi sahabat Allah daripada orang lain. Bila Dia bermurah hati ingin membuka pintu rumahNya bagi semua orang, tidak pada tempatnya kita merasa iri hati.
Yang terpercik di benak saya ketika merenungkan 1 Korintus 3 adalah agama-agama berbeda di bumi ini yang di tanam secara berbeda dan disiram oleh orang-orang yang berbeda tapi tetap mengarah ke satu rumah, rumah Bapa yang memberi pertumbuhan itu.
Dalam sharing kelompok timbul beberapa hal lain yang sama menariknya. Seorang teman mengemukakan 1 Korintus 3: 1-3 yang membahas manusia duniawi yang masih belum dewasa dalam Kristus. Iri hati dan perselisihan menunjukkan kedegilan manusia duniawi.
Berbicara tentang kedewasaan rohani kami juga sedikit menyinggung perdebatan di seputar sampul depan majalah Tempo yang menampilkan lukisan The Last Supper dengan mengganti personil yang tergambar di dalamnya. Kemarahan yang berlebihan lebih merupakan ekspresi manusia duniawi yang tidak lagi mengedepankan cinta kasih sebagai landasan mendasar sikap hidup Kristiani. Beruntung bahwa ledakan emosi yang terjadi tidak mengarah ke anarkisme, karena terkadang mengobarkan kemarahan dengan cara pandang yang terlalu subyektif bisa menimbulkan emosi yang membabi buta. Terlepas dari beda pendapat yang ada, secara pribadi saya teringat pada kasus Arswendo dahulu. Hmm…beberapa hal memang terlalu sensitif bagi sebagian orang!
Tuhan Yang Maha Kasih,
Terima kasih atas segala kemurahan hatiMu,
Bantu daku mengelola semua siraman berkatMu,
Baik yang memberikan kemanisan duniawi,
Maupun yang menjadi kawah candradimuka untuk pembentukan manusia rohani yang berarti bagiMu.
Kekuatan dariMu adalah sumber kemenanganku dalam segala pergumulan.
Kasih karuniaMu menjadi penguat dalam membangkitkan daku kembali.
CintaMu adalah Nafas yang menghidupkanku.
Dalam namaMu aku berusaha bertekun untuk mencapai kesabaran dan kerendahan hati.
Amin.
Wednesday, February 06, 2008
Tuhan Yang Maha Esa.
Hari ini bacaan yang terbuka ketika saya membuka Kitab Suci adalah Kebijaksanaan Tuhan dalam ciptaanNya (Sirakh 33:7-18).
Sirakh 33: 7-9; Mengapa hari yang satu melebihi yang lain, walaupun sepanjang tahun cahaya datang dari matahari yang sama? Karena pikiran Tuhan diperbedakan, dan Dialah yang memperlainkan musim dan hari raya. Beberapa di antaranya ditinggikan serta disucikan olehNya, sedang yang lain-lain dijadikanNya hari biasa.
Sirakh 33: 10-11; Segala manusia berasal dari tanah liat, dan Adam diciptakan dari tanah. Namun demikian dalam kebijaksanaanNya yang besar Tuhan membedakan mereka dan menerapkan pelbagai jalan bagi mereka.
Kutipan pertama membicarakan tentang hari raya dan pergantian musim. Tahun Baru Imlek bukan perayaan dari agama, tapi perayaan pergantian musim. Dan pergantian tahun ini begitu beragam dalam kalender manusia. Ada penanggalan Islam, penanggalan Gregorian, penanggalan Jawa, dll. Bumi yang sama yang berputar mengelilingi matahari yang sama, dengan kehadiran bulan yang sama, membuat manusia memiliki begitu banyak penanggalan.
Kutipan kedua mengatakan adanya pelbagai jalan bagi manusia. Kalau bumi, matahari, dan bulan yang sama menghadirkan begitu banyak penanggalan, bukankah Tuhan itu juga hanya satu dengan pelbagai jalan yang diterapkan bagi manusia? Karena hati manusia yang degil, membuat Dia datang melalui berbagai jalan yang paling sesuai dengan hati umatNya?
Semakin hari semakin aku takjub pada kedalaman isi Kitab Suci. Isinya tidak menjadi basi melintasi zaman, melainkan semakin menunjukkan kearifan yang mendalam dalam menghadapi tantangan zaman.Terkadang saya mendengarkan juga siraman rohani bagi umatNya yang berada di jalan berbeda, semua juga terasa kental dengan kebijakan Ilahi. Hanya bagaimana manusia menjalankan isi ajaranNya yang bisa memberikan buah kebaikan.
Tuhan,
Engkau yang Esa yang menerangi hati manusia,
Terima kasih karena kasihMu,
Terima kasih untuk berkatMu,
Bantu kami berjalan di jalan kami masing-masing,
Asal tak hilang tujuan utama yang abadi,
KediamanMu di surga…
Amin.
Thursday, January 17, 2008
Persembahan yang Hidup
Betapa terkadang kita melalaikan tubuh kita demi mengejar prestise, kemakmuran, atau sekedar memenuhi kebutuhan ego.
Janganlah engkau menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Dalam kesenangan duniawi seringkali Allah menjadi pendamping yang terlupakan. Bisikannya tidak mendapat tempat untuk terdengar karena tertutup hingar bingar musik dunia.
Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
Misteri Allah bukan milik manusia, tetapi seringkali kita begitu mendesak ingin membongkar semua pengetahuan Ilahi dengan pengetahuan manusiawi yang sangat terbatas.
Bekerjalah sesuai dengan karunia yang diberikan kepadamu, karena masing-masing kita beroleh karunia yang berbeda. Tapi ingatlah untuk senantiasa melakukan segalanya dengan hati ikhlas, rajin dan sukacita.
Dari buku Percakapan Jiwa dengan Tuhan dari Stefan Leks yang merupakan intisari misteri hidup spiritual Gabrielle Bossis saya temukan beberapa hal menarik.
Salah satunya adalah: “Tuhan, aku mau memberi, tetapi takut nanti kehabisan…” JawabNya: “Semakin engkau memberi kepada orang lain, semakin banyak Aku memberi kepadamu. Tirulah kebaikanKu dalam memberi.”
Lalu: “Kapan aku benar-benar mengasihi sesamaku, Tuhan?” JawabNya: “Ketika engkau berusaha membahagiakannya.”
Melihat pemberian dalam kacamata Tuhan memperlihatkan betapa pemberian tidak boleh dilihat dari sisi materi belaka. Tubuh kita adalah persembahan yang paling berharga bagiNya. Dengan mempersembahkan hidup yang sesuai dengan kehendakNya kita telah memberikan persembahan yang hidup. Dalam persembahan ini termasuk usaha untuk membahagiakan sesama, semakin banyak kita memberikan semakin banyak pula berkat yang ditambahkanNya bagi kita.
Ya Allah yang Maha pemurah,
besar kasih karuniaMu bagi kami,
tapi sering kami terbuai kesenangan dunia,
terseret dalam kebutuhan pemenuhan ego pribadi.
Terima kasih atas semua berkatMu ya Allah,
Tolong jaga kami untuk setia mempersembahkan diri,
Sebagai persembahan hidup untuk kemuliaan namaMu.
Bertekun dalam doa dan usaha mengembangkan karuniaMu,
Saling membantu membangun dunia bagi kemuliaan namaMu.
Amin.
Sunday, December 23, 2007
Dengarkan, Maka Ia Berbicara!
Setelah bimbang dan ragu terus menerus, rasanya Dia semakin mengenal saya dan mengetahui betapa anakNya ini harus senantiasa dikuatkan. Tiba-tiba saja dalam kothbah hari minggu Adven ke empat di gereja, pastur mengatakan sesuatu tentang suara hati.
Ketika mengaku dosa kemarin, pastur yang berbeda juga berbicara tentang suara hati. Katanya suara hati itu sebenarnya suara pertama yang hadir di hatimu.
Hari ini pastur lain berkata, hati-hati bila suara hatimu sudah ditumpulkan oleh pengalaman hidupmu. Cari dengan seksama yang mana suara hatimu yang sebenarnya.
Kembali ke pemikiran buku the Power of Now (yang belum selesai juga kubaca), ternyata suara hati bisa bercampur dengan pikiran-pikiran yang senantiasa bergejolak di dalam otak kita. Ketika aku ketakutan menghadapi tantangan hidup, maka suara hatiku berkata: "lari!". Tapi Tuhan melalui Kitab Suci dan pastur sudah berkata:" Jangan takut! Hadapi!" Ketika suara-suara itu mencari pembenaran dan menggoyahkan kekuatan dan keinginanku untuk berjuang, kembali seorang pastur berkata:"Kenali suara hatimu yang asli!"
Tuhan,
Terima kasih Engkau mau menyapaku,
Berulang kali menegur dan menguatkanku,
Setelah kutuduh Engkau senantiasa diam melihat penderitaan di dunia,
Ternyata mataku tidak melihat dalam kegelapan,
Betapa kasihMu bersinar ingin menyelimuti mereka yang menderita.
Tuhan,
Terima kasih Engkau mau mengajakku,
Berjalan menempuh perjalanan ini,
Setelah senantiasa mencari jalan yang nyaman,
Ternyata kasihMu menguatkan langkahku dalam jalan bergelombang ini,
Hanya karena aku mau diam dan mendengarMu.
Terima kasih Tuhan atas pendampingan selama tahun ini,
Malam ini ku akan kembali mencari kanak-kanak Yesus,
Yang tidur di palungan berselimut jerami,
Yang terlelap tidak memikirkan penolakan penginapan-penginapan yang dilaluiNya.
Karena gembala dan raja-raja tetap menemukan pembaringanNya.
Dalam tuntunan sang bintang dari timur.
Engkaulah Bintang dari Timur,
Yang menyinari dan menuntun langkahku,
Dan memberi kehangatan dalam malam hariku,
Memberi bisikan arah dalam terang siang hari,
Terima kasih Tuhan,
Terima kasih.
Amin.
Wednesday, December 19, 2007
Hidup Dalam Keseimbangan
Tapi kehidupan melajang berbeda dengan kehidupan dengan tiga orang anak. Sebagai lajang aku tidak perlu takut miskin karena pasti ada pekerjaan yang akan mencukupi kebutuhan harianku. Sebagai lajang aku tidak perlu takut beramal karena kebutuhanku tidak perlu besar. Aku merasa cukup mampu berhemat dan memilah kesenangan yang murah. Buku mungkin adalah kemewahan terbesar buat diriku yang tidak bisa aku lepaskan. Sebagai lajang tentunya hidup jauh lebih mudah.
Tapi menjadi seorang ibu dengan tiga orang anak yang sedang bertumbuh dan berkembang membuat aku gamang dan mudah mengeluh kepada Tuhan. Keinginan-keinginan untuk anak-anak, atau keinginan anak-anak yang menyentuh haruku membuat kehidupan konsumtif mulai memasuki duniaku. Bukan dalam artian konsumtif yang sebenarnya tetapi dalam arti mataku dibukakan bahwa uang itu berarti. Uang itu punya peran penting dalam kehidupan dan pelayanan.
Hal yang tidak pernah aku kejar dalam kehidupan, hal yang mungkin membuatku terus hidup berjauhan darinya (menurut teori My Rich Dad and My Poor Dad). Dan ketika urusan di rumah saja sudah pontang panting, bagaimana dengan kegiatan amal? Sebagai lajang kegiatan amal juga bisa dari bantuan tenaga, sebagai ibu dengan tiga anak yang butuh waktu dan perhatian terkadang enerji sudah habis di rumah sebelum sempat menyisihkan waktu untuk kerja sosial. Dengan memiliki dana mungkin kegiatan amal bisa berjalan (walaupun kegiatan ini bukan hanya bertumpu pada dana!) tapi tanpa kekuatan finansial maka rasanya sungguh tak berdaya.
The Power of Now juga menyiratkan hal yang sama, semakin tidak terpikirkan olehmu maka akan semakin jauh hal itu. Semakin aku menjaga jarak dari uang semakin menjauh ia dariku. Semakin aku merasa tidak bahagia semakin tidak bahagia diriku. Maka itu pikiran positif itu senantiasa perlu dibina.
Tetapi aku sulit membina pikiran positif dengan pola pikir manusiawi. Bayangkan biaya untuk sekolah sangat mahal. Anak kembarku akan masuk SD. Terbayang betapa besar kebutuhan biaya yang dibutuhkan. Sekolah Dasar Katolik di daerah BSD ini mematok kurang lebih 15 juta rupiah per anak. Sementara tabungan yang aku sisihkan untuk pendidikan mereka sudah habis dicairkan pada waktu Lebaran kemarin untuk membayar THR tukang dan kebutuhan asuransi tahunan kami.
Bagaimana tidak berpikir kedepan, dan tidak takut membayangkan masa depan bila harga-harga semakin melonjak dan kebutuhan hidup terus bertambah sementara penghasilan yang tidak seberapa juga seringkali macet.
The Power of Now juga mengatakan tidak ada masa lalu dan tidak ada masa depan, itulah yang membuat kebahagiaan bisa muncul. Benar, terlalu terpukau kepada kehidupan indah yang pernah dikecap akan mendatangkan penyesalan yang terus menerus. Sama saja dengan terlalu terpaku pada kehidupan sulit di masa lalu bisa juga mendatangkan kesedihan terus menerus menangisi nasib. Masa depan bila dipikirkan akan menakutkan bagi pemikiran yang terlalu suka berimajinasi secara negatif. Karena itu fokuslah pada hari ini. Hari ini harinya Tuhan! Bila kita menyanyikan lagu ini setiap hari maka setiap hari adalah hari Tuhan. Puji Dia dan bersyukurlah atas anugerah harian yang kita terima!
Roh Kudus datang untuk menolong dan menguatkan manusia yang lemah. Kita juga sebagai umatNya di minta menjadi bagian dari pertolongan tersebut. Menjadi parakletos (Yunani, artinya penolong), dan menjadi sarana kegembiraan dan damai (shalom) bagi sesama.
Semoga aku bisa menyeimbangkan semua urusan, dari pribadi, keluarga, dan masyarakat. Bisa meluangkan waktu untuk semua hal dari urusan surgawi maupun duniawi.
Ya Allah,
BerkatMu menguatkan kami,
Roh KudusMu menghibur dan menuntun kami,
Biarlah kami percaya sepenuhnya pada kasihMu,
Dan hari ini menjadi persembahan bagiMu,
Sehingga setiap hari dalam kehidupan kami menjadi pelayanan bagiMu.
Berikan air kehidupanMu bagi dahaga kami,
Berikan roti kehidupanMu guna mengobati kelaparan kami,
Karena dariMu kehidupan abadi berasal,
Dan dariMu setiap hari kami meminjam nafas.
Terima kasih Bapa atas semua rahmat dan kasihMu.
Amin.
Jangan Melarikan Diri Dari Cobaan!
Hari ini sabda itu diperkuat dengan perkataan Romo di ruang pengakuan: “…jangan melarikan diri dari ketidak benaran, cobalah bertahan dan memperbaikinya dari dalam”. Suatu tugas perutusan yang berat, tapi saya senang karena Tuhan semakin sering menyapa saya. Mungkin juga dari dulu Ia selalu menyapa saya, tapi saya terlalu sibuk dengan diri saya sendiri sehingga tidak mendengarkan suaraNya.
Benar, mungkin saya terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran saya sendiri sehingga pemikiranNya tak saya acuhkan. Buku the Power of Now juga sangat membantu pencerahan saya. Sekarang saya mengerti kenapa saya merasakan bahagia yang penuh kedamaian itu. Ketika itu saya tidak sanggup lagi berpikir karena sedih, malu, dan kecewa yang bercampur aduk. Saya menghentikan semua kegiatan berpikir saya dan pasrah kepadaNya, “Tuhan, apapun yang terjadi temani anakMu. Beri aku kekuatan”. Dan kegembiraan itu seperti cahaya yang menyeruak menghangatkan hatiku sementara air mata terus deras mengalir.
Kebahagiaan yang kurindukan itu belum pernah muncul kembali. Mungkin karena aku masih belum pernah berhasil memasrahkan diri sepenuh hati seperti pada hari itu. Dalam setiap kesulitan, ego manusiaku selalu sibuk memikirkan alternatif jalan keluar yang mungkin dicapai. Atau ketidak sabaranku mengakibatkan aku melibatkan banyak tambahan pikiran dari orang-orang di sekitarku untuk menambah beban lalu lintas pergerakan pikiran yang membuat kehadiranNya tidak terasakan.
Sedikit demi sedikit terasa aku menuju ke jalan yang lebih terang. Dalam Sirakh 3:21 dikatakan “Apa yang terlampau sukar bagimu jangan kau cari, dan apa yang melampaui kemampuanmu jangan kau selidiki”. Kesombongan seringkali membuatku mencari hal yang terlalu sukar bagiku, dan menyelidiki masalah yang terlampau rumit bagiku.
Tetapi Ia juga bersabda melalui Sirakh 32:16-24 yang kugaris bawahi pada perkataan :
“Orang berdosa menolak teguran, dan akan menemui dalihnya untuk mengikuti kehendak sendiri. Sebaliknya orang arif tidak mengabaikan suatu pikiran tepat, sedangkan orang pongah yang congkak tidak bersembunyi karena takut. Jangan berbuat apapun tanpa timbang menimbang, supaya setelah mengerjakan sesuatu jangan menyesal. Jangan menempuh jalan yang jendal jendul, nanti engkau tersandung karena batu-batunya. Jangan merasa diri aman terhadap penyamun di jalan, dan di lorong-lorongmu hendaklah berjaga. Hendaklah waspada dalam segala pekerjaanmu, sebab demikianlah kaupenuhi segala perintah. Barangsiapa percaya akan hukum Taurat pasti memperhatikan segal perintah, dan orang yang percaya pada Tuhan takkan ditimpa kerugian apapun”.
Jadi sementara kita harus terus hidup dalam percobaan dan pergumulan di tengah masyarakat luas, kita juga perlu berhati-hati. Pikiran merupakan alat untuk menimbang baik dan buruk, tapi berpegang pada kehendakNya merupakan pengasah hati nurani yang menjadi pelita dalam melangkah.
Tuhan,
Terima kasih atas berkat dan karuniaMu,
Betapa sering kulupakan hadirMu di dalam hatiku,
Dan membiarkan otakku mengambil alih kendali keputusan langkahku,
Betapa sering kutakut merugi dan menyimpan erat talenta dariMu,
Tapi sekarang terangMu membimbingku untuk keluar sejengkal demi sejengkal.
Waktu manusia adalah sekarang, waktu Tuhan adalah sepanjang masa…
Tuhan, bantu anakMu untuk berserah sepenuh hati dan pikiran kepada kebenaranMu.
Amin
Thursday, December 13, 2007
Tuhan Sang Guru Kebijaksanaan
Bacaan dari kitab Yesaya bab 48 ayat 17-18: “…Akulah Tuhan, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,…”.
Dalam Sirakh 1:27 dikatakan: “Sebab kebijaksanaan dan pengajaran adalah ketakutan akan Tuhan, dan Allah berkenan pada kesetiaan dan hati lembut”.
Sebelumnya dalam Sirakh 1:26 sudah tertulis bahwa bila seseorang menginginkan kebijaksanaan maka perlu memperhatikan perintahNya karena hanya dengan demikian Tuhan akan menganugerahkan kebijaksanaan.
Dalam masa kecilku saya berbahagia karena banyak yang memperkenalkan kitab suci dan bacaan-bacaan rohani kepadaku. Pater Wollf dengan Kuis Kitab Sucinya (yang berhadiah perangko manca negara) membuat saya lebih rajin membaca kitab suci. Sr. Yohanita dengan pinjaman buku-buku kehidupan para santo dan santa juga memperkaya cakrawala kehidupan rohaniku. Ikut kegiatan sekolah minggu (entah di hari minggu atau bukan) bersama anak-anak dari keluarga yang bergabung dalam Ikatan Keluarga Kristen Katolik dan Protestan (kalau tidak salah nama) membuat saya sejak dini sudah kaya akan pemahaman perbedaan cara pandang dalam membaca Firman.
Hanya seringkali saya tidak sabar menunggu kejelasan akan apa yang diinginkanNya dariku, kejelasan akan jalan mana yang patut aku ambil. Sementara senang menunggu perintah, keinginan untuk selalu cepat membuat aku lebih sering mangambil keputusan sendiri tanpa sungguh-sungguh mendengar perintahNya.
Rupanya semakin aku dewasa semakin merasa besar dan lebih pandai daripadaNya. Bagaikan burung kecil yang beranjak dewasa dan sudah memiliki kepakan sayap yang kuat aku mencoba terbang menjauhi sarang. Kepakan sayapku membawaku terlalu jauh dari sarangku dan aku kesulitan mencari jalan kembali kepadaNya.
Tapi ketika aku terpuruk dengan hati remuk redam, dan tidak berkekuatan sama sekali maka Ia tampil menjadi tongkat penahan. Allah menaungiku dengan kasihNya yang besar dan tak terhingga. Kehangatan kasih itu membawa kebahagiaan dalam kesusahan hatiku. Derita itu tidak hilang, tetapi damai sejahtera yang melingkupi tubuhku memberikan rasa aman dan kesejukan yang tiada tara. Tangan-tanganNya mengangkatku kembali ke dalam kehangatan sarang.
Perasaan itu baru datang sekali, alangkah bahagianya bila setiap hari dalam kehidupanku aku bisa merasakan anugerah itu. Kalau boleh tentunya bukan semata dalam kepedihan hidup, tapi dalam setiap suka dan duka kehidupan aku boleh merasakan hadirNya dan kehangatan cintaNya.
Tuhan,
Engkau adalah Maha Guru bagiku,
Ajari daku bahasa kasih yang abadi,
Dan jangan biarkan daku hilang dari pandangan mataMu.
Limpahi aku dengan kehangatan cintaMu,
Dan bimbing langkahku agar menapak di jalanMu.
Terima kasih atas damai sejahteraMu Bapa,
Penuhi jiwaku dengan seruan syukur bagiMu.
Amin.
Wednesday, December 12, 2007
Tuhan Adalah Sumber Kebijaksanaan
Menunda bisa jadi berarti kehilangan kesempatan. Hal ini terasa benar ketika saya menunda menuliskan hasil meditasi saya minggu lalu. Saya sibuk memikirkan bagaimana mengangkat pertemuan di Bali ke dalam sebuah berita artikel. Dan saya menunda dan menunda terus menuliskan pengalaman meditasi saya. Semalam saya pergi ke acara Pendalaman Iman lingkungan bersama anak-anak, dan rupanya pembatas halaman saya berpindah tempat. Sekarang saya kehilangan kutipan yang akan mendasari pengalaman meditasi saya.
Tetapi kehilangan bisa juga menjadi karunia penambahan. Sungguh, ketika mencoba mencari kutipan yang saya cari-cari maka saya membaca begitu banyak kata-kata bijak dari kitab Yesus bin Sirakh.
Saya percaya apa yang ingin dikatakan Tuhan akan diulangiNya kembali. Hari ini biarlah saya memulai meditasi pribadi dengan kitab Sirakh.
Catatan pertama saya ada di kata pengantar penterjemah Yunani yang menuliskan, “…para pembaca jangan menjadi berpengetahuan sendiri saja, tetapi setelah semuanya dipelajari hendaklah kepandaian mereka bermanfaat juga bagi orang-orang luar, baik secara lisan maupun secara tertulis”.
Demikianlah kitab Sirakh dituliskan oleh Yesus bin Sirakh setelah mempelajari kitab Taurat, kitab para Nabi, dan kitab kitab lainnya agar bisa berbagi dengan orang lain yang suka belajar.
Kitab Sirakh 1: 1 – 20; Tuhanlah sumber kebijaksanaan. Takut akan Tuhan adalah awal kebijaksanaan, takut akan Tuhan adalah puncak kebijaksanaan.
Bertahun-tahun aku berdoa untuk memperoleh kebijaksanaan dalam memilih langkah, kebijaksanaan dalam menyikapi hidup. Ternyata jawabnya ada di kitab suci yang mungkin jarang tersentuh di kala hidup sedang berjalan lancar.
Takut akan Tuhan, ikutilah perintah-perintahNya! Perintah Tuhan bukan sekedar 10 Perintah Allah ataupun 5 perintah Gereja, tapi perintah Tuhan yang utama adalah Kasih! Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Itulah sebabnya kita membuat tanda salib. Hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan, dan hubungan kita secara horisontal dengan sesama.
Pangkal kebijaksanaan adalah takut akan Tuhan, dan semua berkat keluar dari menanamkan pohon sumber kebijaksanaan ini.
Takut akan Tuhan tidak berarti ketakutan seorang hamba kepada Tuannya, melainkan ketakutan akan menyakiti HatiNya yang Kudus. Yesus datang untuk memberikan penjelasan itu, bahwa Tuhan itu Maha Kasih dan karena kasihNya maka manusia boleh memperoleh penyelamatan. Setelah semua Kasih yang dicurahkanNya pada diri kita, masih mampukah kita mengkhianati cintaNya?
Tuhan,
Engkau sumber bahagiaku,
Dalam keterpurukan aku mampu berbahagia,
Karena kebijakan yang Dikau bukakan pada mataku,
Betapa besar kasihMu padaku,
Takkan kau biarkan daku sendiri dalam duka,
TanganMu menjamah, kata-kataMu menghibur,
Terima kasih Engkau mau datang padaku Tuhan,
Terima kasih Engkau mau membagi kebijaksanaanMu,
Terima kasih Engkau selalu melindungiku.
Amin.
Catatan: Tiba-tiba saja terasa penting untuk menjadikan tulisan ini saya sebagai bingkisan ulang tahun bagi Romo F.X. Danuwinata SJ yang hari ini berulang tahun (13 Desember).
Wednesday, November 28, 2007
Tuhan Sumber Kekuatan dan Penghiburan
Bacaan renungan kemarin dan hari ini mungkin bisa membantu menguatkan kita dalam menjalani kehidupan ini. Hidup ini terasa tidak mudah, tetapi membaca buku di atas membuat saya tersentak. Betapa terlalu kecilnya masalah yang saya hadapi bila dibandingkan dengan penderitaan orang-orang itu. Betapa besar pergulatan mereka untuk tetap percaya kepada kehadiran kuasa Allah. Penyiksaan-penyiksaan itu merupakan cobaan besar yang bisa membuat setiap orang kehilangan kepercayaan pada hadirnya Allah dan keadilanNya. Bila saya pernah ikut mempertanyakan “Mengapa Tuhan diam?” maka taraf pertanyaan saya belum setara dengan teriakan nurani yang tersobek-sobek karena merana dizalimi seperti mereka ini.
Lukas 21:19 mengatakan “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu…”. Kisah-kisah yang dikumpulkan Romo Sumarwan dan teman-temannya sungguh sebuah contoh nyata betapa mereka bertahan dan kemudian memperoleh hidup mereka di dalam Allah. Betapa tangan Allah menguatkan mereka dalam penderitaan dan memberikan pelajaran-pelajaran dari kesusahan mereka yang menjadi bekal hidup mereka di kemudian hari.
Dalam bagian meditasi buku Mutiara Iman mencontohkan seorang anak yang ingin membantu seekor kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Dia merobekkan kepompong itu untuk mengeluarkan makhluk tak berdaya yang sedang berjuang untuk keluar dari keterikatannya. Apa yang kemudian diperolehnya? Kupu-kupu itu mati!
Mengapa aku takut berjuang? Aku takut berbuat kesalahan dalam perjuangan itu. Aku takut terjatuh dalam kancah percobaan dan tidak mampu keluar dari perangkap. Sekarang bergantian artis-artis tua ditangkap karena kasus narkoba. Sebuah perangkap yang memenjarakan mereka bahkan di tengah kebebasan fisiknya. Itulah yang aku takuti. Takut bahwa penderitaan membuat aku tidak kuat dan terjatuh ke lubang dalam yang tak tertolongkan. Aku lupa bahwa yang akan menolong adalah Gembala Yang Maha Kuasa. Betapa besar KuasaNya, dan betapa menentramkan jaminan dariNya.
“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat…” (Luk 21:28). Dari bacaan diatas buku Mutiara Iman menyatakan bahwa bagi orang yang senantiasa mengusahakan hidup yang baik, benar dan bertanggung jawab, di hadapan Tuhan maupun sesamanya, maka orang itu tidak punya alasan yang mendasar untuk gentar bila hari kiamat atau hari kematiannya tiba.
Kematian bukan hal yang menakutkan bagi diriku, bahkan terkadang terasa sebagai jalan terbaik untuk berhenti berjuang. Suatu kesalahan besar untuk berfokus kepada kehidupan kekal tanpa keinginan berjuang melalui cobaan hidup ini. Bila kerikil-kerikil kecil saja sanggup membuatku terantuk, bagaimana bila harus melawan badai menyeberangi sungai air mata? Tidakkah akan hilang tempatku di rumahNya yang kekal?
Kalau sekarang ini aku mulai takut pada kematian, itu adalah karena kehadiran anak-anak yang dititipkanNya. Terkadang aku lupa bahwa itu adalah anak-anakNya yang dititipkan kepadaku. Hal ini membuat aku takut dipanggilNya sebelum tugasku sebagai seorang ibu rampung. Aku kembali lupa bahwa Dia yang menitipkan akan menjaga yang dititipkanNya walaupun aku tidak ada. Bahkan disaat aku ada, kelalaianku senantiasa tertutupi oleh penjagaanNya.
Ya Bapa yang Maha Kuasa,
Maha Baik dan Penyayang,
Kuasa dan KasihMu senantiasa melindungi kami anak-anakMu,
Terima kasih atas cinta yang berlimpah yang terkadang tidak kami syukuri Bapa.
Terkadang kami jatuh karena kesalahan kami sendiri dan kami marah merasa Engkau tidak menjaga,
Betapa kami belum juga menjadi dewasa di dalam diriMu ya Bapa,
Dewasakan kami ya Bapa,
Bimbing kami dalam jalan berbatu dan berliku.
Ingatkan kami untuk membantu sesama,
Menjadi perpanjangan tanganMu di kala menyeberangi sungai yang berbahaya,
Saling menolong dan berpegangan tangan ,
Melalui rintangan yang mengahadang di depan.
KekuatanMu adalah sumber tenaga kami,
PelitaMua adalah sumber terang dalam kelam malam.
Tuhan,
Temani kami selalu agar tak jauh dari kerajaanMu.
Amin.
Thursday, November 22, 2007
Rumahku Adalah Rumah Doa
Dalam renungan kelompok hari ini seorang teman menceritakan pengalamannya ke Eropa. Betapa tercengangnya dia melihat keindahan dan kemegahan Katedral di Koln. Betapa terbantunya dia mengikuti perayaan ekaristi dalam bahasa Jerman yang asing bagi telinganya karena kemiripan tata cara dengan yang kita jalani di Indonesia. Demikian juga lagu-lagu yang digunakannya betapa mirip dengan lagu-lagu di Puji Syukur. Sungguh makna universal atau umum dari agama Katolik terasa.
Saya beruntung karena lebih dari sepuluh tahun lalu pernah juga merasakan ke gereja Katolik di berbagai kota di Eropa. Yang teringat adalah betapa mudahnya kita melaksanakan niat bila Tuhan ada bersama niat itu sendiri. Saya teringat betapa sering saya kebingungan dimana letak gereja Katolik, tetapi senantiasa berhasil menemukannya. Bukan hanya menemukan, tetapi senantiasa muncul di saat yang tepat…mendekati misa kudus! Pengalaman menjadi satu dalam doa sungguh terasa di Lourdes terutama dalam upacara cahaya di sore hari, melihat orang-orang sakit dibantu oleh para relawan, merasakan kebersamaan dalam doa-doa dalam berbagai macam bahasa. Saat itu sungguh terasa betapa Tuhan menyatukan kita semua.
Lonceng gereja juga menjadi pertanda bagi saya. Beruntung karena di Eropa lonceng Angelus senantiasa berbunyi, jadi begitu tiba di suatu kota maka pada jam 12 siang saya akan mendengar bunyi lonceng gereja dan bisa berusaha mencarinya. Pernah di suatu kota di Perancis (lupa dimana, bukan di Paris…mungkin di Angers) saya sudah mendengar lonceng itu dan berusaha mencarinya keesokan paginya. Betapa kecewa ketika menemukan pintu gereja terkunci. Hal ini sebenarnya hal biasa di Indonesia (senang bahwa sekarang semakin banyak yang membuka pintu gereja sepanjang hari), tapi waktu itu tidak biasa saya temui di Eropa. Kecewa karena jadwal saya yang sangat singkat di kota itu mungkin tidak akan memungkinkan saya berdoa di dalam gereja itu, sementara keinginan saya adalah untuk berdoa di dalam gereja di setiap kota yang saya kunjungi. Dengan sedih saya berbalik untuk pulang, tapi tiba-tiba saya mendengar suara koor yang bagaikan nyanyian para malaikat di telinga saya. Mengikuti asal suara itu saya berhasil menemukan pintu kecil yang membawa saya masuk ke sebuah ruang kecil dimana sedang diadakan misa pagi. Puji Tuhan, tanganNya menuntun saya ke dalam GerejaNya. Komunitas yang berdoa adalah komunitas biara dan beberapa umat yang tentunya sudah hadir tepat waktu karena tidak terlihat orang masuk lagi setelah saya.
Mengenai masalah tepat waktu saya juga bingung, apakah lebih baik terlambat daripada tidak ke gereja atau lebih baik tidak ke gereja karena terlambat? Orang di Indonesia sepertinya memilih yang pilihan pertama sementara sebagian besar orang di Eropa tampaknya lebih memilih opsi kedua. Mungkin ini bukan pengamatan yang akurat. Selain waktu yang saya habiskan di Eropa tidak cukup lama, kejadian ini juga sudah terlalu lama berlalu mungkin yang teringat tidak lagi sepenuhnya benar.
Melihat tapi tidak tahu, mendengar tapi tidak mengerti, merupakan ungkapan betapa sering kita tidak berhasil menangkap keinginan Allah. Mencari peneguhan dariNya, mencari kedamaian yang timbul dari pengambilan keputusan yang tepat, hanya dapat diperoleh melalui doa. RumahKu adalah rumah doa!
Tuhan,
Terima kasih atas kemurahan hatiMu kepada kami,
ajarilah kami untuk berdoa,
ajari kami untuk mengajak keluarga kami berkumpul dan bersatu dalam doa.
Bantulah kami menyediakan waktu,
terkadang 24 jam tidak terasa cukup,
tapi sesungguhnya bila kuhitung
tak cukup sejam daku sungguh diam dan berdoa…
Ajari dan bantu kami berdoa yang benar ya Bapa,
karena kami perlu belajar dari cintaMu yang mahabesar.
Amin.
Wednesday, November 21, 2007
Damai Sejahtera
Dalam Lukas 19:41-42 Yesus menangisi sebuah kota, alangkah baiknya jika penduduk kota itu mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera mereka. Mungkin Yesus juga menangisi saya, betapa buta dan degil saya yang terus berjuang untuk sesuatu yang tidak akan membawa damai sejahtera dalam kehidupanku.
Jalan menuju damai sejahtera ada padaNya. Tapi yang mengendalikan mobil itu di atas jalanan adalah kita sendiri. Alangkah sulitnya mengharmonisasi permainan gas, kopling dan rem dalam mengemudikan mobil itu. Membiarkan Tuhan yang bekerja terus bagi kita juga tidak benar, Allah menginginkan kita dengan kehendak bebas kita untuk ikut berpikir dan memilih. Berpikir dan memilih sendiri sarat dengan ancaman akan jatuh pada kepercayaan akan “Aku” yang terlalu besar. Ada saatnya kita lupa mengandalkan Tuhan. Ada saatnya kita berpikir hanya dalam kacamata pribadi dan melupakan kacamata sesama.
Menjadi pendengar bagi sesama yang berbeban berat juga sangat menyulitkan. Beban mereka seringkali terasa ringan dibandingkan beban kita sendiri. Alih-alih memberikan dukungan yang menguatkan, kita malah memberikan komentar yang mengecilkan arti kesulitannya. Akan adakah damai sejahtera? Tidak!
Tuhan,
Terima kasih atas berkat kehendak bebas yang kami peroleh,
tolong aku untuk mengerti
bagaimana memperoleh damai sejahtera dalam kehidupanku,
bagaimana membagikan damai sejahtera ke dalam kehidupan di sekitarku.
Bantu daku untuk lebih mengenalMu,
lebih mengenal jalanMu yang perlu kupilih.
Bantu daku untuk lebih mendengarkan
sabdaMu maupun kesah sesamaku…
Beri daku kekuatan dan kebijaksanaanTuhan,
Dalam menuju damai sejahteraMu.
Amin.
Monday, November 19, 2007
Kesetiaan
Pastur kemudian berkothbah tentang kesetiaan dan kepercayaan. Betapa seringkali kepercayaan yang disalah gunakan membuat kita sulit untuk mempercayai kembali seseorang. Dan juga tentang sulitnya menjalankan janji kesetiaan itu sendiri. Pada waktu melihat pengantin memasuki gereja yang terpikirkan adalah komitmen yang mereka akan janjikan dan yang akan merubah kehidupan mereka setelah keluar dari gereja. Maka pada saat mendengar kothbah pastur yang terbayang adalah betapa sering kita sebagai GerejaNya mengecewakan Allah yang Maha Setia. Betapa sering kita tidak setia kepadaNya tapi dia selalu rela untuk mengampuni kita dan menerima kita kembali kedalam damaiNya.
Sabtu sebelumnya bacaan dari Luk 16:10 mengatakan: "Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar". Betapa sering kita menuntut Allah untuk diberi kepercayaan akan rezeki yang lebih besar, kebahagiaan yang lebih besar padahal kita tidak pernah mampu mengelola berkat-berkat kecil yang senantiasa dilimpahkanNya kepada kita. Betapa rasa sayang pada diri sendiri, ketidak mampuan untuk berkorban bagi orang lain membuat kita tersandung dalam membagikan kasihNya kepada orang di sekeliling kita. Bila berkat kecil tidak mampu kita kelola bagi kemuliaan namaNya, bagaimana Ia bisa memberikan kita berkat yang lebih besar?
Hari itu saya juga diingatkan kembali akan makna kasih. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersuka cita karena ketidak adilan, tapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Dalam suratnya kepada umat di Korintus, Rasul Paulus berkata:" Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku" (Baca 1 Kor 13: 1-7, 13).
Tuhan Allah yang Maha Baik dan Maha Kasih,
tolong hamba umatMu,
untuk lebih dalam mengerti dan mengamalkan kasihMu,
bukan karena imbalanMu yang berlimpah,
tapi lebih karena kasihMu sendiri.
Teladan kasih PutraMu Yesus Kristus,
yang rela menanggung segala kepedihan, hina dan cerca,
dan menerima segala siksa demi menebus manusia dari kelam dosa.
Ya Allah, biarkan kasihMu meraja di hati kami semua umat manusia.
Jangan biarkan kehidupan membunuh bibit kasih di hati manusia,
karena Maha Agung dan Kekal KasihMu Ya Allah.
Berkati kami umatMu ya Bapa,
Amin.
Friday, November 16, 2007
Selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1)
Membaca renungan hari ini membuat saya berpikir. Terutama ketika membaca tentang Santa Elisabeth dari Hungaria, betapa salib tidak menjadikan dia patah. Dia bangkit dan terus berdoa. Betapa sering saya berputus asa dan mengeluh dalam kehidupan. Dan doa-doaku menjadi penuh dengan keluh kesah dan kegundahan. Doa yang seharusnya menjadi ungkapan cinta kepada Tuhan menjadi tuntutan kepada Tuhan.
Pernahkah saya jemu berdoa? Sebenarnya tidak ada kejenuhan untuk berdoa walaupun saya pernah mngatakan bahawa Tuhan itu diam. Tetapi kesulitan terutama saya sebenarnya adalah konsentrasi. Sangat sulit untuk duduk sendiri dan berkonsentrasi pada Tuhan. Konsentrasi baru bisa saya capai (tidak sepenuhnya) bila bersama teman-teman sekomunitas. Ini hal yang menyedihkan, karena hubungan saya dan Tuhan seharusnya personal. Dalam hal ini saya mungkin harus belajar dari rekan-rekan muslim yang sanggup menyediakan waktu minimal 5 kali dalam sehari untuk secara serius berhadapan dengan Tuhan secara personal.
Mengapa konsentrasi saya kurang sekali? Karena seringkali saya lebih mengandalkan diri sendiri dan membiarkan pikiran saya mengelana sendiri. Percayalah kepada Tuhan kata Sirakh 34. Barangsiapa takut akan Tuhan akan hidup, sebab harapannya tertaruh pada Dia yang menyelamatkannya. Barangsiapa takut akan Tuhan tidak kuatir terhadap apapun, dan tidak menaruh ketakutan sebab Tuhanlah pengharapannya. (Sirakh 34:13-14). Mata Tuhan tertuju kepada orang yang cinta kepadaNya. Tuhan menjadi perisai yang kuat dan sandaran yang kokoh, naungan terhadap angin yang panas dan perlindungan terhadap panas terik siang hari, penjagaan sehingga tidak tersandung dan pertolongan sehingga tidaklah runtuh. Tuhan menegakkan hati dan menerangi mata, member kesembuhan, hidup, serta berkat.(Sirakh 34:16-17).
Ketika saya sanggup menjadi Maria yang mampu duduk diam mendengarkan sabda Yesus, dan berhenti menjadi Martha yang sibuk melayani orang tetapi melupakan dirinya sendiri, maka saya akan berhasil dalam berdoa.
Ya Tuhan,
Ajari saya untuk berdoa,
Untuk mengarahkan pikiranku semata kepadaMu,
Dan tunduk diam hanya memikirkan diriMu semata,
Untuk mengisi seluruh pikiranku dengan keagunganMu,
Dan bersembah sujud dalam naungan cintaMu belaka,
Ajari daku bahasa cintaMu ya Allah,
Agar kumampu menebarkan kasihMu,
Dalam kehidupanku, kehidupan suami dan anak-anakku,
Dalam lingkungan dan semua komunitasku,
Berkati pikiranku ya Bapa,
Semoga semua dimurnikan dalam namaMu,
Amin.