Tanggal 2 September 2007 adalah hari Minggu Kitab Suci Nasional. Dahulu seringkali saya menuding Tuhan itu diam. Ada beberapa hal yang sulit dipahami manusia karena pada dasarnya manusia juga harus ikut memilih. Inilah buah dari pohon ilmu pengetahuan yang sudah dimakan oleh Adam dan Hawa.
Kalau saya melihat masalah sandera di Afghanistan, saya sungguh bersyukur bahwa mereka yang tersisa bisa kembali dengan selamat ke Seoul. Tapi kalau tidak ada perundingan maka kebebasan ini tidak akan pernah terjadi. Apakah hanya berdoa akan memberikan jalan keluar seperti buah yang jatuh dari langit? Tidak! Manusia harus berusaha juga. Sementara banyak pihak mengecam proses pembebasan karena dipandang bernegosiasi dengan teroris(?), saya pribadi lebih senang dengan hasil damai yang terjadi. Saya berharap Tuhan yang bekerja di balik semua ini. Terkadang agama memecah belah manusia, membuat manusia yang satu merasa lebih baik dan lebih berakhlak karena agamanya. Padahal hanya Tuhan semata yang Maha Tahu. Dia tahu sampai kedalaman hati manusia yang terdalam. Dia bahkan tahu sebelum kita sendiri menyadari diri kita sendiri.
Kerendahan hati, kesabaran, kesetiaan, kejujuran, dan rasa tangung jawab menjadi hal yang sangat sulit untuk dipelihara dalam zaman global yang penuh dengan konsumerisme ini. Jebakan untuk menikmati kesombongan pribadi, keinginan untuk memperoleh sesuatu secara instan seringkali membuat hal-hal baik ini terkubur di dalam mengejar kebahagiaan sesaat. Dan terkadang, tuduhan bahwa Tuhan itu diam muncul pada saat keinginan-keinginan itu tidak terjawab.
Tuhan tidak pernah diam, Kitab Suci merupakan sabdaNya yang senantiasa sedia memberikan jawaban bila kita mau mendengarkan. SabdaNya senantiasa ada, kita yang memilih untuk mendengarkanNya atau mengabaikanNya.
Santo Gregorius Agung merupakan seorang gembala yang dengan setia membantu umat mendengarkan sabdaNya. Dengan lebih mendekatkan umat kepada Tuhan, maka Sang Sabda akan lebih hidup di dalam hati umatNya. Betapa besar kuasa Tuhan dalam kehidupan orang yang beriman.
Allah Bapa yang Maha Baik,
Terima kasih atas segala berkatMu...
Atas Sabda yang Hidup ditengah manusia...
Berkati kami dengan Roh KudusMu ya Bapa...
Agar senantiasa sabar dan setia ...
Jujur dan rendah hati...
Serta bertanggung jawab atas talenta yang Dikau berikan...
Bertanggung jawab atas dunia yang Dikau titipkan...
Santo Gregorius doakan kami,
Karena berat jalan kehidupan dan seringkali kami terjatuh dan tersesat...
Doakan kami agar slalu setia...
Dalam hal besar maupun hal kecil...
Setia pada Bapa di surga...
Percaya pada kerahimanNya...
Dan setia menanti panggilanNya
Untuk ikut bersamaNya di dalam rumahNya yang indah penuh damai sejahtera...
Amin.
Blog ini semula adalah blog meditasi pribadi, sejak Paskah 2008 saya buka untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi. Sementara ini sesuai dengan namanya "Perjalanan menelusuri kata-kataNya" lebih mengarah ke pendalaman iman lewat meditasi kitab suci, tapi dengan masuknya kontributor lain terbuka kemungkinan bentuk posting yang berbeda.
Monday, September 03, 2007
Sunday, August 19, 2007
Keresahanku
Sebuah keresahan menggelayut benakku. Kemarin saya mengikuti sebuah misa peringatan 40 hari meninggalnya seorang tetangga. Pertama misa bisa diadakan di rumah pada hari Minggu. Baru saja tanggal 17 Agustus lalu kami diberitahu seorang romo bahwa tanggal 17 Agustus termasuk sama dengan hari besar Gereja/ hari Minggu sehingga dia tidak bersedia mengadakan misa kudus di rumah. Sebenarnya adakah peraturan yang baku?
Kemudian pada saat komuni, pihak keluarga yang non Katolik yaitu yang beragama Kristen ikut menyambut komuni. Saya sempat memberitahukan pada ketua lingkungan, tapi beliau tidak berbuat apa-apa. Kemudian beberapa anggota keluarga yang lain, yang saya tidak tahu persis Katolik atau Kristen (saya pikir tadinya Kristen) ikut menyambut komuni. Sikap mereka sopan dan hormat, dan juga berdoa setelah komuni. Tidak ada tanda-tanda pelecehan terhadap Sakramen MahaKudus. Tapi apakah benar sebagai awam saya boleh diam dan tidak menginformasikan hal ini kepada pastor? Apakah tidak menjadi masalah membiarkan mereka ikut berbagi sakramen dalam perayaan Ekaristi? Setahu saya hal ini tidak diperbolehkan gereja. Terkadang kita bisa menjadi orang aneh dan bersikap mencari gara-gara karena hal prinsip yang orang lain tidak tahu atau tidak mau tahu.
Tuhan,
Tolong bimbing hatiku agar senantiasa berani mengatakan kebenaran,
Agar tidak takut tersingkir dan terisolir karena kebenaran,
Agar mampu mengetahui kebenaran itu sendiri,
Hanya Engkau Yang Maha Benar sumber segala kearifan Ya Bapa,
Dampingilah dan kuatkanlah kami,
Amin.
Kemudian pada saat komuni, pihak keluarga yang non Katolik yaitu yang beragama Kristen ikut menyambut komuni. Saya sempat memberitahukan pada ketua lingkungan, tapi beliau tidak berbuat apa-apa. Kemudian beberapa anggota keluarga yang lain, yang saya tidak tahu persis Katolik atau Kristen (saya pikir tadinya Kristen) ikut menyambut komuni. Sikap mereka sopan dan hormat, dan juga berdoa setelah komuni. Tidak ada tanda-tanda pelecehan terhadap Sakramen MahaKudus. Tapi apakah benar sebagai awam saya boleh diam dan tidak menginformasikan hal ini kepada pastor? Apakah tidak menjadi masalah membiarkan mereka ikut berbagi sakramen dalam perayaan Ekaristi? Setahu saya hal ini tidak diperbolehkan gereja. Terkadang kita bisa menjadi orang aneh dan bersikap mencari gara-gara karena hal prinsip yang orang lain tidak tahu atau tidak mau tahu.
Tuhan,
Tolong bimbing hatiku agar senantiasa berani mengatakan kebenaran,
Agar tidak takut tersingkir dan terisolir karena kebenaran,
Agar mampu mengetahui kebenaran itu sendiri,
Hanya Engkau Yang Maha Benar sumber segala kearifan Ya Bapa,
Dampingilah dan kuatkanlah kami,
Amin.
Trust in Providence
I’ve been searching the news of Rev. Frans Madhu, SVD for quite a long time. May be I have misspell the name, or I’ve just not doing the search intensively in the google. Yesterday I found a blog revealing a personal view of the incident.
This morning I found in my meditation a wise word “There is no need to be afraid, little flock, for it has pleased your Father to give you the kingdom” (Luke 12:22)
Before, in Luke 12: 4-5 it is written “To you my friends I say: Do not be afraid of those who kill the body and after that can do no more. I will tell you whom to fear: fear him who, after he has killed, has the power to cast into hell. Yes, I tell you, he is the one to fear.”
It is not the fear of death that made me looking out for personal news on Rev. Frans Madhu, SVD. I was just curious about what is happening in a country known to us as a Catholic-majority country. I do know there is also regional problem on religion, but it was shocking news for us to hear a priest had to end his life without any explanation like that.
Dear God,
Thank you for giving our lives,
Thank you for protecting us,
Thank you for accompanying us in all the miseries,
Please let the Holy Spirit helps us and be our leading torch,
In working, in speaking, in writing, in arranging our heart…
Amen.
This morning I found in my meditation a wise word “There is no need to be afraid, little flock, for it has pleased your Father to give you the kingdom” (Luke 12:22)
Before, in Luke 12: 4-5 it is written “To you my friends I say: Do not be afraid of those who kill the body and after that can do no more. I will tell you whom to fear: fear him who, after he has killed, has the power to cast into hell. Yes, I tell you, he is the one to fear.”
It is not the fear of death that made me looking out for personal news on Rev. Frans Madhu, SVD. I was just curious about what is happening in a country known to us as a Catholic-majority country. I do know there is also regional problem on religion, but it was shocking news for us to hear a priest had to end his life without any explanation like that.
Dear God,
Thank you for giving our lives,
Thank you for protecting us,
Thank you for accompanying us in all the miseries,
Please let the Holy Spirit helps us and be our leading torch,
In working, in speaking, in writing, in arranging our heart…
Amen.
Friday, August 17, 2007
Renungan Hari Kemerdekaan
Bacaan misa hari Kemerdekaan RI ke 62 mengambil dari Kitab Sirakh 10:1-8. Pemerintah yang bijak mempertahankan ketertiban pada rakyatnya, dan pemerintahan orang arif adalah teratur (ayat 1). Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan, dan uang (ayat 8).
Kitab suci yang sudah berumur ribuan tahun memiliki kearifan yang sungguh mendalam dan tetap saja aktual. Pasti dalam kitab-kitab penuntun setiap agama memiliki kearifan yang sama. Hanya saja manusia yang terus menerus kalah dari nafsu pribadi dan egoismenya, tidak pandai menerapkan ajaran-ajaran baik yang sudah tertulis sejak ribuan tahun lalu ini.
Romo Donatus dalam kothbah singkatnya mengambil contoh filosofi di balik tradisi lomba panjat pinang. Dalam lomba ini kemenangan bukanlah semata-mata kemenangan pribadi. Kemenangan pribadi adalah kemenangan semu! Karena sesungguhnya pemenang lomba panjat pinang perlu mempergunakan akal dan bekerja sama agar salah satu dari mereka bisa mencapai tujuan yang tertinggi. Dari segi negatif tradisi ini menggambarkan bagaimana kemenangan diperoleh dari menginjak teman sendiri. Tapi segi positif selain kemungkinan adanya kerjasama antar peserta adalah kegigihan untuk mencapai tujuan. Betapa segala kesulitan dan sandungan tidak mematahkan semangat juang untuk memperoleh kemenangan akhir.
Dalam Mutiara Iman 2007, renungan hari kemerdekaan lebih menitik beratkan pada sikap jujur, berani, dan tulus terhadap sesama dan terhadap Tuhan.
Dari renungan pribadiku sendiri, ada satu ayat dari kitab Sirakh yang menarik yaitu ayat 6: Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Betapa indah kalau hal ini juga bisa dilaksanakan dalam dunia politik. Pak Harto sebagai seorang bapak bangsa tidak bisa juga dinihilkan perjuangannya karena kesalahan yang diperbuatnya. Pemerintahan beralih karena kelaliman, kekerasan, dan uang. Betapa benar mahzab ini berbunyi. Yang sulit adalah memisahkan antara kepentingan memaafkan dengan pencegahan agar tidak terulang lagi. Tanpa proses peradilan yang jelas mungkin akan susah untuk memberi contoh kepada calon pemimpin baru agar tetap berjalan pada koridor yang benar. Tapi proses peradilan ini juga akan membuat kita membongkar borok besar bangsa Indonesia, karena semua berjalan dalam satu hirarki besar. Yang penting sebenarnya agar kemerdekaan saat ini tidak lagi disalah artikan sebagai kebebasan yang mutlak tak memiliki aturan main, atau hanya dipimpin oleh aturan kepentingan pribadi dan golongan.
Secara pribadi saya lebih suka menutup buku, membuka halaman baru. Biarlah Allah juga yang menjadi hakim atas kesalahan yang sudah berlalu. Sebagai awam terhadap masalah peradilan, sosial dan politik, saya tidak tahu yang mana kewajiban untuk kaisar, yang mana kewajiban untuk Allah (sedikit membalik kata dari Matius 22 ayat 21). Bila kita memberikan apa yang wajib kita berikan bagi kaisar, dan apa yang wajib bagi Allah, maka mungkin ada juga penghakiman yang wajib datang dari kaisar (pemerintah yang sedang berjalan) dan ada juga penghakiman yang wajib datang dari Allah.
Allah Bapa yang Maha Baik,
Terima kasih atas kemerdekaan yang telah diperoleh bangsa Indonesia,
Bantulah kami untuk menjaga dan mengisinya,
Masih banyak celah dan ketidak adilan yang terasa,
Beban hidup semakin hari terasa semakin berat,
Kejujuran semakin menjauh dan menjadi langka,
Keberanian untuk berjuang melawan kebathilan semakin meredup,
Yang timbul dipermukaan hanya keberanian semu yang berakar pada kepentingan pribadi,
Ketulusan menjadi semu dan tersamar,
Atau lagi-lagi tersandung pada kepentingan pribadi dan kelompok.
Allah sumber kekuatan dan keadilan,
Bantu kami untuk tegar dan senantiasa bangkit dan berjuang,
Dalam mempertahankan kemerdekaan dan keadilan bagi seluruh manusia,
Tidak lagi terjajah oleh batasan teritori dan ras kebangsaan,
Tapi sungguh memperjuangkan keadilan dalam cinta kasih yang Dikau ajarkan,
Semoga bangsa Indonesia tetap mampu bersatu dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan sejati,
Kemerdekaan yang berasal dari sang Maha Pencipta.
Amin.
Kitab suci yang sudah berumur ribuan tahun memiliki kearifan yang sungguh mendalam dan tetap saja aktual. Pasti dalam kitab-kitab penuntun setiap agama memiliki kearifan yang sama. Hanya saja manusia yang terus menerus kalah dari nafsu pribadi dan egoismenya, tidak pandai menerapkan ajaran-ajaran baik yang sudah tertulis sejak ribuan tahun lalu ini.
Romo Donatus dalam kothbah singkatnya mengambil contoh filosofi di balik tradisi lomba panjat pinang. Dalam lomba ini kemenangan bukanlah semata-mata kemenangan pribadi. Kemenangan pribadi adalah kemenangan semu! Karena sesungguhnya pemenang lomba panjat pinang perlu mempergunakan akal dan bekerja sama agar salah satu dari mereka bisa mencapai tujuan yang tertinggi. Dari segi negatif tradisi ini menggambarkan bagaimana kemenangan diperoleh dari menginjak teman sendiri. Tapi segi positif selain kemungkinan adanya kerjasama antar peserta adalah kegigihan untuk mencapai tujuan. Betapa segala kesulitan dan sandungan tidak mematahkan semangat juang untuk memperoleh kemenangan akhir.
Dalam Mutiara Iman 2007, renungan hari kemerdekaan lebih menitik beratkan pada sikap jujur, berani, dan tulus terhadap sesama dan terhadap Tuhan.
Dari renungan pribadiku sendiri, ada satu ayat dari kitab Sirakh yang menarik yaitu ayat 6: Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Betapa indah kalau hal ini juga bisa dilaksanakan dalam dunia politik. Pak Harto sebagai seorang bapak bangsa tidak bisa juga dinihilkan perjuangannya karena kesalahan yang diperbuatnya. Pemerintahan beralih karena kelaliman, kekerasan, dan uang. Betapa benar mahzab ini berbunyi. Yang sulit adalah memisahkan antara kepentingan memaafkan dengan pencegahan agar tidak terulang lagi. Tanpa proses peradilan yang jelas mungkin akan susah untuk memberi contoh kepada calon pemimpin baru agar tetap berjalan pada koridor yang benar. Tapi proses peradilan ini juga akan membuat kita membongkar borok besar bangsa Indonesia, karena semua berjalan dalam satu hirarki besar. Yang penting sebenarnya agar kemerdekaan saat ini tidak lagi disalah artikan sebagai kebebasan yang mutlak tak memiliki aturan main, atau hanya dipimpin oleh aturan kepentingan pribadi dan golongan.
Secara pribadi saya lebih suka menutup buku, membuka halaman baru. Biarlah Allah juga yang menjadi hakim atas kesalahan yang sudah berlalu. Sebagai awam terhadap masalah peradilan, sosial dan politik, saya tidak tahu yang mana kewajiban untuk kaisar, yang mana kewajiban untuk Allah (sedikit membalik kata dari Matius 22 ayat 21). Bila kita memberikan apa yang wajib kita berikan bagi kaisar, dan apa yang wajib bagi Allah, maka mungkin ada juga penghakiman yang wajib datang dari kaisar (pemerintah yang sedang berjalan) dan ada juga penghakiman yang wajib datang dari Allah.
Allah Bapa yang Maha Baik,
Terima kasih atas kemerdekaan yang telah diperoleh bangsa Indonesia,
Bantulah kami untuk menjaga dan mengisinya,
Masih banyak celah dan ketidak adilan yang terasa,
Beban hidup semakin hari terasa semakin berat,
Kejujuran semakin menjauh dan menjadi langka,
Keberanian untuk berjuang melawan kebathilan semakin meredup,
Yang timbul dipermukaan hanya keberanian semu yang berakar pada kepentingan pribadi,
Ketulusan menjadi semu dan tersamar,
Atau lagi-lagi tersandung pada kepentingan pribadi dan kelompok.
Allah sumber kekuatan dan keadilan,
Bantu kami untuk tegar dan senantiasa bangkit dan berjuang,
Dalam mempertahankan kemerdekaan dan keadilan bagi seluruh manusia,
Tidak lagi terjajah oleh batasan teritori dan ras kebangsaan,
Tapi sungguh memperjuangkan keadilan dalam cinta kasih yang Dikau ajarkan,
Semoga bangsa Indonesia tetap mampu bersatu dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan sejati,
Kemerdekaan yang berasal dari sang Maha Pencipta.
Amin.
Sunday, August 12, 2007
Renungan di Hari Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga
Bunda Maria adalah gambaran penderitaan seorang wanita. Hamil tanpa menikah merupakan aib besar bagi kaum wanita. Memang semakin banyak wanita sekarang yang tidak malu-malu menabrak norma ini, tapi Bunda Maria tidak pernah berjalan keluar garis kesantunan. Apa yang terjadi adalah buah ketaatannya ketika menjawab: “Terjadilah padaku menurut perkataanMu”.
Tatkala kita berjalan dalam jalur yang benar, seringkali kita meminta imbalan kepada Tuhan. Apabila hal yang menimpa kita justru adalah kesusahan dan aib, apakah kita cukup beriman untuk tetap memuji namaNya?
Maria kemudian menikah dengan Yosef, dan mereka harus pergi berkilometer jauhnya ke Bethlehem untuk mendaftarkan diri. Perjalanan yang sangat berat bagi seorang wanita yang sedang hamil tua, tapi dia dengan tabah menjalaninya. Ia menjalani peran yang harus ditanggungnya dengan sabar dan tawakal, termasuk ketika tidak ada sebuah rumahpun yang mau menampungnya tatkala saatnya untuk melahirkan sudah terasa. Maka lahirlah Yesus di sebuah kandang di Bethlehem.
Peringatan kepada Yosef melalui mimpi membuat ibu muda yang baru saja melahirkan anaknya ini harus mengungsi ke Mesir. Sekali lagi perjalanan yang melelahkan dan kehidupan baru di negeri asing harus dilaluinya.
Ketika Yesus berusia dua belas tahun, dia tinggal di Bait Allah. Maria dan Yosef mencariNya selama tiga hari sebelum menemukanNya di Bait Allah. Kecemasan seorang ibu yang kehilangan anaknya bisa terasa begitu menghunjam. Seringkali seorang ibu mempersalahkan dirinya sendiri yang lalai bila suatu musibah menimpa sang anak. Kecemasan yang menggunung ini biasanya terhapuskan oleh tangis sang anak yang juga mencari dirinya. Tapi yang Maria temukan adalah seorang anak yang sedang santai bercerita kepada kerumunan orang di Bait Allah. Yesus bahkan menjawab teguran yang diterimaNya: “Mengapa mencari saya? Tidak tahukah kalian bahwa saya harus berada di rumah Bapa?”
Kepercayaan Maria kepada Yesus sangat besar, maka ketika pemilik perjamuan di Kana kehabisan anggur dia mengandalkan Yesus putranya. Walaupun Yesus awalnya menolak, sekali ini Maria menggunakan haknya sebagai seorang ibu dengan berkata kepada para pelayan: “Lakukan apa yang Dia perintahkan kepadamu!”
Terkadang orang tua menyimpan cita-cita untuk anaknya, kepercayaan Maria akan kuasa anaknya seperti yang terlihat di pesta pernikahan di Kana sangat besar. Bisa terasa betapa pedih hati Maria ketika harus melihat penderitaan Yesus dalam proses penangkapan, peradilan dan jalan salibNya. Tidak ada kedukaan yang lebih dalam dari seorang wanita daripada saat melihat buah tubuhnya dihina dan disiksa tanpa mampu membela sang putra.
Kesedihan ini menjadi lengkap ketika setelah dengan kesulitan untuk menguburkan Putranya, ia harus menyaksikan tubuh Putranya hilang dari kuburNya. Tapi ketabahan dan kepercayaannya pada Allah telah membantu dia untuk sabar dan menanggung segala pertanyaan dan kesedihan di dalam hatinya. Kehilangan kali ini ternyata adalah untuk kemuliaan Yesus.
Dalam misa di gereja saya bertemu seorang pemuda yang sangat ramah kepada anak-anak saya. Ternyata dia akan masuk ke seminari di Cikanyere. Biara Karmel. Saya berdoa agar panggilannya terus dikuatkan. Pada zaman ini cukup sulit mencari bibit panggilan. Entah dari tiga anak lelaki saya apakah akan ada yang terpanggil ke ladangNya. Saya juga menyaksikan betapa banyak pastur yang tidak setia pada janji imamatnya, sebagian bahkan menanggalkan jubah. Saya tidak ingin menghakimi orang lain, karena setiap manusia memiliki keterbatasan dan masalahnya sendiri. Tapi saya ingin sedikit membandingkan panggilan ini dengan panggilan berumah tangga. Walaupun semakin banyak pasangan yang bercerai, sebenarnya sakramen perkawinan seharusnya hanya diberikan sekali seumur hidup. Artinya apapun pilihan yang sudah kita buat harus kita terima dan kita jalani dengan sepenuh hati. Penyesuaian diri pasti memiliki porsi yang besar. Proses menerima dan memaafkan kesalahan pasangan juga membutuhkan pengorbanan dan kekuatan iman. Bagi saya sakramen imamat seharusnya juga memiliki konsekuensi yang sama, untuk terus terikat pada pilihan hidup itu.
Allah Bapa yang Maha Baik,
Bunda Maria telah memberi teladan bagaimana menjadi ibu yang baik,
Kesabaran masih menjadi pelajaran yang amat sulit untuk diterapkan.
Bapa,
kepadaMu aku memohonkan kepekaan bagi anak-anak ini,
agar mampu mendengar suaraMu,
bagi para pemuda yang Kau panggil bekerja di ladangMu,
agar mampu bertahan dalam segala godaan dan tantangan yang mereka hadapi,
bagi kami keluarga-keluarga yang hadir di hadapanMu,
agar senantiasa dipenuhi damai dan kasih sejahteraMu.
Amin
Tatkala kita berjalan dalam jalur yang benar, seringkali kita meminta imbalan kepada Tuhan. Apabila hal yang menimpa kita justru adalah kesusahan dan aib, apakah kita cukup beriman untuk tetap memuji namaNya?
Maria kemudian menikah dengan Yosef, dan mereka harus pergi berkilometer jauhnya ke Bethlehem untuk mendaftarkan diri. Perjalanan yang sangat berat bagi seorang wanita yang sedang hamil tua, tapi dia dengan tabah menjalaninya. Ia menjalani peran yang harus ditanggungnya dengan sabar dan tawakal, termasuk ketika tidak ada sebuah rumahpun yang mau menampungnya tatkala saatnya untuk melahirkan sudah terasa. Maka lahirlah Yesus di sebuah kandang di Bethlehem.
Peringatan kepada Yosef melalui mimpi membuat ibu muda yang baru saja melahirkan anaknya ini harus mengungsi ke Mesir. Sekali lagi perjalanan yang melelahkan dan kehidupan baru di negeri asing harus dilaluinya.
Ketika Yesus berusia dua belas tahun, dia tinggal di Bait Allah. Maria dan Yosef mencariNya selama tiga hari sebelum menemukanNya di Bait Allah. Kecemasan seorang ibu yang kehilangan anaknya bisa terasa begitu menghunjam. Seringkali seorang ibu mempersalahkan dirinya sendiri yang lalai bila suatu musibah menimpa sang anak. Kecemasan yang menggunung ini biasanya terhapuskan oleh tangis sang anak yang juga mencari dirinya. Tapi yang Maria temukan adalah seorang anak yang sedang santai bercerita kepada kerumunan orang di Bait Allah. Yesus bahkan menjawab teguran yang diterimaNya: “Mengapa mencari saya? Tidak tahukah kalian bahwa saya harus berada di rumah Bapa?”
Kepercayaan Maria kepada Yesus sangat besar, maka ketika pemilik perjamuan di Kana kehabisan anggur dia mengandalkan Yesus putranya. Walaupun Yesus awalnya menolak, sekali ini Maria menggunakan haknya sebagai seorang ibu dengan berkata kepada para pelayan: “Lakukan apa yang Dia perintahkan kepadamu!”
Terkadang orang tua menyimpan cita-cita untuk anaknya, kepercayaan Maria akan kuasa anaknya seperti yang terlihat di pesta pernikahan di Kana sangat besar. Bisa terasa betapa pedih hati Maria ketika harus melihat penderitaan Yesus dalam proses penangkapan, peradilan dan jalan salibNya. Tidak ada kedukaan yang lebih dalam dari seorang wanita daripada saat melihat buah tubuhnya dihina dan disiksa tanpa mampu membela sang putra.
Kesedihan ini menjadi lengkap ketika setelah dengan kesulitan untuk menguburkan Putranya, ia harus menyaksikan tubuh Putranya hilang dari kuburNya. Tapi ketabahan dan kepercayaannya pada Allah telah membantu dia untuk sabar dan menanggung segala pertanyaan dan kesedihan di dalam hatinya. Kehilangan kali ini ternyata adalah untuk kemuliaan Yesus.
Dalam misa di gereja saya bertemu seorang pemuda yang sangat ramah kepada anak-anak saya. Ternyata dia akan masuk ke seminari di Cikanyere. Biara Karmel. Saya berdoa agar panggilannya terus dikuatkan. Pada zaman ini cukup sulit mencari bibit panggilan. Entah dari tiga anak lelaki saya apakah akan ada yang terpanggil ke ladangNya. Saya juga menyaksikan betapa banyak pastur yang tidak setia pada janji imamatnya, sebagian bahkan menanggalkan jubah. Saya tidak ingin menghakimi orang lain, karena setiap manusia memiliki keterbatasan dan masalahnya sendiri. Tapi saya ingin sedikit membandingkan panggilan ini dengan panggilan berumah tangga. Walaupun semakin banyak pasangan yang bercerai, sebenarnya sakramen perkawinan seharusnya hanya diberikan sekali seumur hidup. Artinya apapun pilihan yang sudah kita buat harus kita terima dan kita jalani dengan sepenuh hati. Penyesuaian diri pasti memiliki porsi yang besar. Proses menerima dan memaafkan kesalahan pasangan juga membutuhkan pengorbanan dan kekuatan iman. Bagi saya sakramen imamat seharusnya juga memiliki konsekuensi yang sama, untuk terus terikat pada pilihan hidup itu.
Allah Bapa yang Maha Baik,
Bunda Maria telah memberi teladan bagaimana menjadi ibu yang baik,
Kesabaran masih menjadi pelajaran yang amat sulit untuk diterapkan.
Bapa,
kepadaMu aku memohonkan kepekaan bagi anak-anak ini,
agar mampu mendengar suaraMu,
bagi para pemuda yang Kau panggil bekerja di ladangMu,
agar mampu bertahan dalam segala godaan dan tantangan yang mereka hadapi,
bagi kami keluarga-keluarga yang hadir di hadapanMu,
agar senantiasa dipenuhi damai dan kasih sejahteraMu.
Amin
Saturday, August 11, 2007
Tuhan Yang Diam
Seringkali Tuhan terasa sungguh sibuk dengan urusan lain. Tuhan diam dan membisu tak menjawab segala jeritan doa. Mungkin ini yang dirasakan perempuan Kanaan yang meminta pertolongan Yesus (Mat 15:21-28). Setelah membisu dan tidak menjawab permohonan perempuan ini, Yesus bahkan mengeluarkan pernyataan diskriminatif yang cukup menghina. Kebulatan tekad dan besarnya iman perempuan itu tidak tergoyahkan oleh ujian ini. Ujian yang dijalaninya berbuah pujian dari Tuhan atas besarnya iman yang dimilikinya.
Terkadang kesabaran, ketekunan, dan kesetiaan kepada Tuhan tergerus dengan kepanikan kita menghadapi suatu masalah. Seringkali kita tidak sabar menginginkan Tuhan bekerja untuk kita. Padahal bukan waktu kita yang digunakanNya. Seringkali kita melupakan bahwa Tuhan adalah Tuan di kebunNya dan kita adalah pekerjaNya. Kita memaksakan kehendak kita untuk terjadi pada saat yang kita rasa kita butuhkan.
Tetapi sering juga kita terlalu fokus pada hal yang kita inginkan sehingga melupakan berkat-berkat kecil yang hadir setiap saat. Berpasrah kepada kehendak Tuhan, tetapi tetap bertekun dalam doa merupakan hal yang diinginiNya dari para pekerja di kebunNya. Mintalah, maka akan diberikan!
Seorang teman mendapat kesempatan untuk bepergian ke luar negeri bersama suaminya, tetapi ia tidak merasakan kegembiraan karena situasi dan kondisinya yang sedang hamil tua membuat perjalanan itu merepotkan. Kemudian suaminya sekali lagi mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar negeri pada saat ia dijadwalkan akan melahirkan. Berkat yang juga menandakan keberhasilan pencapaian dalam pekerjaan sang suami menjadi beban bagi sang istri yang akan melahirkan. Bila ia hanya terfokus pada pikiran yang mendahulukan dirinya sendiri, maka berkat ini tidak lagi terasa sebagai berkat. Ungkapan iri yang saya lontarkan membuat sang istri kembali tersadar betapa Tuhan sebenarnya telah memberi lebih kepada mereka.
Bergaul dengan tetangga dan anggota komunitas bisa banyak membantu bila kita mau saling terbuka. Betapa sering kekecewaan terhadap suami menjadi beban berat dalam kehidupan sebagai istri. Tapi ternyata bila bergumul dengan keseharian anggota komunitas yang lain, baru terasa betapa setiap orang memiliki salib masing-masing. Kekurangan suami yang terasa berat menjadi ringan setelah mengetahui betapa banyak hal-hal kecil yang terlalaikan sebagai istri dan tidak pernah dituntutnya. Saling menyesuaikan dengan kepribadian dan tuntutan masing-masing dalam kehidupan berkeluarga sungguh menjadi suatu pekerjaan rumah yang membutuhkan kesabaran dan kesetiaan. Saling mengampuni dan saling mencintai dalam Tuhan akan menjadi perisai terhadap goncangan dan angin badai yang menerpa.
Tuhan Allah Bapa yang Maha Kasih,
Karena kasihMu kami senantiasa terpelihara dengan baik di dunia ini.
Terkadang kesabaran, ketekunanm dan kesetiaan kami menipis dalam menghadapi cobaan hidup.
Dengan bantuan Roh KudusMu, bantulah kami ya Tuhan.
Nyalakan pelita iman di dalam hati kami dan biarkan ia terus menuntun kami.
Agar senantiasa sabar, tekun dan setia kepada Allah pencipta yang senantiasa setia mendampingi kami.
Amin.
Terkadang kesabaran, ketekunan, dan kesetiaan kepada Tuhan tergerus dengan kepanikan kita menghadapi suatu masalah. Seringkali kita tidak sabar menginginkan Tuhan bekerja untuk kita. Padahal bukan waktu kita yang digunakanNya. Seringkali kita melupakan bahwa Tuhan adalah Tuan di kebunNya dan kita adalah pekerjaNya. Kita memaksakan kehendak kita untuk terjadi pada saat yang kita rasa kita butuhkan.
Tetapi sering juga kita terlalu fokus pada hal yang kita inginkan sehingga melupakan berkat-berkat kecil yang hadir setiap saat. Berpasrah kepada kehendak Tuhan, tetapi tetap bertekun dalam doa merupakan hal yang diinginiNya dari para pekerja di kebunNya. Mintalah, maka akan diberikan!
Seorang teman mendapat kesempatan untuk bepergian ke luar negeri bersama suaminya, tetapi ia tidak merasakan kegembiraan karena situasi dan kondisinya yang sedang hamil tua membuat perjalanan itu merepotkan. Kemudian suaminya sekali lagi mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar negeri pada saat ia dijadwalkan akan melahirkan. Berkat yang juga menandakan keberhasilan pencapaian dalam pekerjaan sang suami menjadi beban bagi sang istri yang akan melahirkan. Bila ia hanya terfokus pada pikiran yang mendahulukan dirinya sendiri, maka berkat ini tidak lagi terasa sebagai berkat. Ungkapan iri yang saya lontarkan membuat sang istri kembali tersadar betapa Tuhan sebenarnya telah memberi lebih kepada mereka.
Bergaul dengan tetangga dan anggota komunitas bisa banyak membantu bila kita mau saling terbuka. Betapa sering kekecewaan terhadap suami menjadi beban berat dalam kehidupan sebagai istri. Tapi ternyata bila bergumul dengan keseharian anggota komunitas yang lain, baru terasa betapa setiap orang memiliki salib masing-masing. Kekurangan suami yang terasa berat menjadi ringan setelah mengetahui betapa banyak hal-hal kecil yang terlalaikan sebagai istri dan tidak pernah dituntutnya. Saling menyesuaikan dengan kepribadian dan tuntutan masing-masing dalam kehidupan berkeluarga sungguh menjadi suatu pekerjaan rumah yang membutuhkan kesabaran dan kesetiaan. Saling mengampuni dan saling mencintai dalam Tuhan akan menjadi perisai terhadap goncangan dan angin badai yang menerpa.
Tuhan Allah Bapa yang Maha Kasih,
Karena kasihMu kami senantiasa terpelihara dengan baik di dunia ini.
Terkadang kesabaran, ketekunanm dan kesetiaan kami menipis dalam menghadapi cobaan hidup.
Dengan bantuan Roh KudusMu, bantulah kami ya Tuhan.
Nyalakan pelita iman di dalam hati kami dan biarkan ia terus menuntun kami.
Agar senantiasa sabar, tekun dan setia kepada Allah pencipta yang senantiasa setia mendampingi kami.
Amin.
Monday, July 30, 2007
Doa pada St. Ignatius Loyola
Santo Ignatius yang baik,
Berkat karyamu dan karya pengikut-pengikutmu kami bisa lebih mengenal belas kasih, kerahiman dan kemurahan Allah.
Bantulah keluargaku ya Santo Ignatius supaya senantiasa mampu bertobat, serta senantiasa mampu menangkap panggilan Tuhan bagi kami.
Bantulah anak-anak Indonesia supaya dapat memperoleh pendidikan yang layak untuk masa depannya.
Santo Ignatius yang penuh dengan kasih sayang,
Tuhan sudah menyapamu melalui bacaan-bacaan,
Doakanlah aku supaya mampu berkarya menampakkan kehadiran Allah yang murah hati dan berbelas kasih di dalam kehidupanku.
Di dalam kehidupan keluargaku, lingkunganku, negaraku, dan dunia.
Ketegaran adalah hal yang sulit, ajarilah aku untuk tegar dan sabar.
SAnto Ignatius bimbinglah dan doakanlah kami, Amin.
Berkat karyamu dan karya pengikut-pengikutmu kami bisa lebih mengenal belas kasih, kerahiman dan kemurahan Allah.
Bantulah keluargaku ya Santo Ignatius supaya senantiasa mampu bertobat, serta senantiasa mampu menangkap panggilan Tuhan bagi kami.
Bantulah anak-anak Indonesia supaya dapat memperoleh pendidikan yang layak untuk masa depannya.
Santo Ignatius yang penuh dengan kasih sayang,
Tuhan sudah menyapamu melalui bacaan-bacaan,
Doakanlah aku supaya mampu berkarya menampakkan kehadiran Allah yang murah hati dan berbelas kasih di dalam kehidupanku.
Di dalam kehidupan keluargaku, lingkunganku, negaraku, dan dunia.
Ketegaran adalah hal yang sulit, ajarilah aku untuk tegar dan sabar.
SAnto Ignatius bimbinglah dan doakanlah kami, Amin.
Tuesday, July 17, 2007
Tuhan Yang Membebaskan.
Kegiatan saya di portal citizen journalism banyak membawa pengalaman baru dan pengetahuan baru. Salah satu yang menyeruak dari berbagai topik hangat di portal wikimu.com adalah keinginan teman-teman dari Papua untuk memisahkan diri dari Indonesia. Secara pribadi saya lebih senang mereka tetap bersatu dengan Indonesia. Mereka adalah salah satu mutiara indah bangsa Indonesia yang kaya dalam berbagai hal, baik hasil bumi, adat kebudayaan, maupun ekosistem.
Hari ini bacaan Renungan Harian Mutiara Iman 2007 mengambil topik meditasi Kitab Keluaran 3:1-6, 9-12. “Bukankah Aku akan menyertai engkau?”. Di bawah ini akan saya kutip meditatio dari buku mutiara iman:
Renungan saya pribadi tidak bisa tidak lari kepada pemikiran terhadap artikel teman-teman dari Papua. Tapi renungan saya bisa jadi bertolak dari dasar pemikiran saya yang memang pro NKRI.
Tuhan yang membebaskan manusia dari belenggu dosa, Tuhan pula yang menjamin kebebasan dan kemerdekaan kita lahir dan batin. Bahkan sebagai manusia yang dipenjara kita tetap bisa menjadi orang yang merdeka lahir dan batin selama kita tetap teguh berpegang pada Allah sang Pencipta.
Kemerdekaan harus diperjuangkan. Bahkan di dalam keluarga terkadang kita tidak merdeka. Entah sebagai anak, entah sebagai orang tua. Sebagai anak terkadang saya merasa terbelenggu oleh peraturan dan ketakutan orang tua saya terhadap saya sebagai anak perempuan satu-satunya. Sebagai orang tua terkadang saya merasa terbelenggu dengan kewajiban saya menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya, banyak kegiatan yang ingin saya jalani harus saya kesampingkan untuk memberi prioritas waktu bagi keluarga. Masih banyak belenggu lain yang bisa kita cari dari kehidupan berkeluarga. Mungkin bagi yang lajang belenggu itu akan berujud lain, entah kurangnya kepercayaan diri, atau hal-hal lainnya.
Bagi saya masalah rekan-rekan entah dari Papua, Ambon, ataupun Aceh (sama seperti dahulu saya memandang masalah Timor Timur) adalah masalah perjuangan untuk memerdekakan diri dari ketertinggalan. Berjuang di dalam NKRI dengan kesatuan tekad dan kebersamaan di bawah lindungan Allah pasti akan berbuah lebat. Pada intinya perjuangan itu sama, tapi dengan bersama-sama dan bersatu kita lebih kuat.
Timor Timur sudah merdeka dan berdiri sendiri, tapi perjuangan mereka masih panjang. Sanggupkah mereka melangkah terus? Sementara ini saya mendengar bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam daftar negara gagal. Daftar apa pula ini? Kita hanya bisa mendoakan mereka. Setidaknya sebagai tetangga terdekat Indonesia sangat bekepentingan dengan kemajuan dan kemandirian Timor Timur, tapi disamping itu stigma sebagai penjajah juga melekat pada diri bangsa kita.
Meditasi saya hari ini lebih banyak bermain dengan logika. Mungkin saya butuh waktu yang lebih tenang dan lama untuk sungguh-sungguh mendengar suaraNya. Tapi yang saya peroleh adalah satu penguatan bahwa pemimpin harus punya komitmen kuat terhadap tugas yang diembannya, yakni memerdekakan bangsanya dari penderitaan, melindunginya dan yang terpenting melaksanakan semua komitmen ini dalam persetujuan Allah. Selama pemimpin berjalan menjauhi Allah dengan segala tindakan yang hanya memikirkan diri sendiri atau keluarga sendiri, atau golongannya, maka mereka tidak akan bisa menjalankan komitmen yang diembannya dengan dukungan Allah. Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Wahai pemimpin bangsa (termasuk yang duduk di kursi DPR, MPR, atau kursi empuk lainnya), dengarkan suara rakyat maka kalian akan mendengar suara Allah.
Allah Bapa yang Maha Baik, tolonglah para pemimpin bangsa Indonesia agar sungguh dapat bijaksana membimbing bangsa kami dari keterpurukan dan perpecahan. Berkatilah pemimpin kami agar senantiasa mengingat komitmennya kepada rakyat dan Allah Yang Maha Esa. Bimbinglah mereka agar mampu memimpin kami keluar dari belenggu kebodohan, kemiskinan, keserakahan, dan kesombongan diri. Terima kasih atas kasihMu Tuhan, kami percaya hanya dengan lindunganMu kami mampu sungguh-sungguh merdeka. Amin.
Hari ini bacaan Renungan Harian Mutiara Iman 2007 mengambil topik meditasi Kitab Keluaran 3:1-6, 9-12. “Bukankah Aku akan menyertai engkau?”. Di bawah ini akan saya kutip meditatio dari buku mutiara iman:
Bacaan pertama hari ini mengisahkan perutusan Musa oleh Tuhan untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir. Dengan kekuatan manusiawi tentu Musa tidak mungkin mampu melaksanakan tugas pembebasan bangsa Israel itu, apalagi yang dihadapi adalah bangsa dengan raja yang kejam. Maka Tuhan meneguhkan bahwa Tuhan akan menyertai. “Aku akan menyertai engkau”. Pernyataan Tuhan inilah yang membawa keberhasilan. Dan berkat tangan Tuhan, Israel kembali menjadi bangsa yang merdeka dan terbebas dari segala penindasan bangsa Mesir.
Pengalaman Musa ini bisa memberi inspirasi bagi para pemimpin bangsa kita. Untuk menjadi bangsa yang merdeka, bebas dari segala penderitaan dan ketertindasan, pemimpin bangsa harus bertindak bukan seperti raja Firaun, yang bertindak kejam dan menindas ribuan orang demi kejayaan pribadi. Pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan seperti Musa. Ia mempunyai komitmen terhadap tugas yang diembannya, yaitu membebaskan bangsanya dari segala penderitaan dan melindungi dari kuasa-kuasa apapun yang merusak. Tugas itu dia perjuangkan bukan dengan kekuatan senjata atau militer tetapi dengan kekuatan Allah. Karena ia percaya bahwa Allah turut campur tangan dalam perjuangan membangun bangsa yang merdeka lahir batin dan sejahtera dalam kehidupan.
Renungan saya pribadi tidak bisa tidak lari kepada pemikiran terhadap artikel teman-teman dari Papua. Tapi renungan saya bisa jadi bertolak dari dasar pemikiran saya yang memang pro NKRI.
Tuhan yang membebaskan manusia dari belenggu dosa, Tuhan pula yang menjamin kebebasan dan kemerdekaan kita lahir dan batin. Bahkan sebagai manusia yang dipenjara kita tetap bisa menjadi orang yang merdeka lahir dan batin selama kita tetap teguh berpegang pada Allah sang Pencipta.
Kemerdekaan harus diperjuangkan. Bahkan di dalam keluarga terkadang kita tidak merdeka. Entah sebagai anak, entah sebagai orang tua. Sebagai anak terkadang saya merasa terbelenggu oleh peraturan dan ketakutan orang tua saya terhadap saya sebagai anak perempuan satu-satunya. Sebagai orang tua terkadang saya merasa terbelenggu dengan kewajiban saya menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya, banyak kegiatan yang ingin saya jalani harus saya kesampingkan untuk memberi prioritas waktu bagi keluarga. Masih banyak belenggu lain yang bisa kita cari dari kehidupan berkeluarga. Mungkin bagi yang lajang belenggu itu akan berujud lain, entah kurangnya kepercayaan diri, atau hal-hal lainnya.
Bagi saya masalah rekan-rekan entah dari Papua, Ambon, ataupun Aceh (sama seperti dahulu saya memandang masalah Timor Timur) adalah masalah perjuangan untuk memerdekakan diri dari ketertinggalan. Berjuang di dalam NKRI dengan kesatuan tekad dan kebersamaan di bawah lindungan Allah pasti akan berbuah lebat. Pada intinya perjuangan itu sama, tapi dengan bersama-sama dan bersatu kita lebih kuat.
Timor Timur sudah merdeka dan berdiri sendiri, tapi perjuangan mereka masih panjang. Sanggupkah mereka melangkah terus? Sementara ini saya mendengar bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam daftar negara gagal. Daftar apa pula ini? Kita hanya bisa mendoakan mereka. Setidaknya sebagai tetangga terdekat Indonesia sangat bekepentingan dengan kemajuan dan kemandirian Timor Timur, tapi disamping itu stigma sebagai penjajah juga melekat pada diri bangsa kita.
Meditasi saya hari ini lebih banyak bermain dengan logika. Mungkin saya butuh waktu yang lebih tenang dan lama untuk sungguh-sungguh mendengar suaraNya. Tapi yang saya peroleh adalah satu penguatan bahwa pemimpin harus punya komitmen kuat terhadap tugas yang diembannya, yakni memerdekakan bangsanya dari penderitaan, melindunginya dan yang terpenting melaksanakan semua komitmen ini dalam persetujuan Allah. Selama pemimpin berjalan menjauhi Allah dengan segala tindakan yang hanya memikirkan diri sendiri atau keluarga sendiri, atau golongannya, maka mereka tidak akan bisa menjalankan komitmen yang diembannya dengan dukungan Allah. Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Wahai pemimpin bangsa (termasuk yang duduk di kursi DPR, MPR, atau kursi empuk lainnya), dengarkan suara rakyat maka kalian akan mendengar suara Allah.
Allah Bapa yang Maha Baik, tolonglah para pemimpin bangsa Indonesia agar sungguh dapat bijaksana membimbing bangsa kami dari keterpurukan dan perpecahan. Berkatilah pemimpin kami agar senantiasa mengingat komitmennya kepada rakyat dan Allah Yang Maha Esa. Bimbinglah mereka agar mampu memimpin kami keluar dari belenggu kebodohan, kemiskinan, keserakahan, dan kesombongan diri. Terima kasih atas kasihMu Tuhan, kami percaya hanya dengan lindunganMu kami mampu sungguh-sungguh merdeka. Amin.
Thursday, June 14, 2007
Orang Buta Yang Disembuhkan.
Kisah Bartimeus pada Injil Markus 10: 46 -52 tentang orang buta yang disembuhkan Yesus sangat menarik perhatianku. Ayat terakhir sangat mengena di hatiku. “Pergilah, imanmu sudah menyembuhkanmu!” Sebagai orang buta tentunya banyak hal yang sangat didambakan oleh Bartimeus, banyak keinginan yang tidak mungkin terlaksana karena kondisinya yang buta. Setelah disembuhkan dan disuruh pergi, Bartimeus tidak pergi mengejar impiannya melainkan terus ikut bersama Yesus.
Saya membayangkan diri saya dalam keterikatan yang menyesakkan, hal pertama yang ingin dicapai adalah melepaskan diri dari keterikatan itu. Keluar dari kungkungan penyakit maupun derita hidup menjadi tujuan utama permohonan penyembuhan. Setelah sembuh dan berterima kasih, seringkali yang tertuju pertama-tama adalah mengisi kegembiraan dengan hal-hal yang sudah lama diimpikan. Betapa jarang saya ingat untuk tetap duduk diam mendengarkan Tuhan, apalagi untuk tetap bermati raga mengikuti jalan salibNya.
Terkadang mengikut Yesus kita terjemahkan sebagai mendapatkan kebahagiaan dan kesembuhan semata. Meminta menjadi ciri utama percakapan kita dengan Dia. Tatkala suasana sedang baik dan senang keberadaanNya terlupakan. Kesenangan hidup terkadang membutakan kita pada kehadiranNya, membuat kita buta terhadap hukum-hukumNya, membuat kita buta terhadap permasalahan sesama kita manusia.
Tuhan, Dikau menyembuhkan daku dari sakitku…
Mengobarkan semangat untuk terus berjuang berjalan bersamaMu…
Jangan sampai kebahagiaanku menyilaukan daku…
Dan terlupa untuk ikut terus berjalan denganMu.
Roh Kudus, dampingilah kami yang lemah ini…
Agar senantiasa merasakan kehadiran Tuhan,
Dan memiliki cukup iman untuk disembuhkan…
Amin.
Saya membayangkan diri saya dalam keterikatan yang menyesakkan, hal pertama yang ingin dicapai adalah melepaskan diri dari keterikatan itu. Keluar dari kungkungan penyakit maupun derita hidup menjadi tujuan utama permohonan penyembuhan. Setelah sembuh dan berterima kasih, seringkali yang tertuju pertama-tama adalah mengisi kegembiraan dengan hal-hal yang sudah lama diimpikan. Betapa jarang saya ingat untuk tetap duduk diam mendengarkan Tuhan, apalagi untuk tetap bermati raga mengikuti jalan salibNya.
Terkadang mengikut Yesus kita terjemahkan sebagai mendapatkan kebahagiaan dan kesembuhan semata. Meminta menjadi ciri utama percakapan kita dengan Dia. Tatkala suasana sedang baik dan senang keberadaanNya terlupakan. Kesenangan hidup terkadang membutakan kita pada kehadiranNya, membuat kita buta terhadap hukum-hukumNya, membuat kita buta terhadap permasalahan sesama kita manusia.
Tuhan, Dikau menyembuhkan daku dari sakitku…
Mengobarkan semangat untuk terus berjuang berjalan bersamaMu…
Jangan sampai kebahagiaanku menyilaukan daku…
Dan terlupa untuk ikut terus berjalan denganMu.
Roh Kudus, dampingilah kami yang lemah ini…
Agar senantiasa merasakan kehadiran Tuhan,
Dan memiliki cukup iman untuk disembuhkan…
Amin.
Sunday, May 27, 2007
A Birthday Prayer
Dear God,
Thanks for all the blessings through all the years.
Thanks for the chance to see the world in this new episode of life.
Thanks for all the experiences awaiting me in the future.
Thanks for the Holy Spirit which guided me through my past and to the future.
Thanks for the strength and patience through all the obstacles of life.
I’d like to pray for all my friends.
Those who are still here with me…
And those who passed this world to be closer to You.
Let our spirits be free to adore You.
My thoughts are also towards my country,
We need Your blessings to reach the enlightenment,
To help our leaders to think about all their peoples,
To try their best to unite and build the nation.
I know it is Your time and not mine that will count,
I know that sometimes Your way seemed difficult to cope with,
But I believe in Your goodness that leads us to a brighter life.
Amen.
Thanks for all the blessings through all the years.
Thanks for the chance to see the world in this new episode of life.
Thanks for all the experiences awaiting me in the future.
Thanks for the Holy Spirit which guided me through my past and to the future.
Thanks for the strength and patience through all the obstacles of life.
I’d like to pray for all my friends.
Those who are still here with me…
And those who passed this world to be closer to You.
Let our spirits be free to adore You.
My thoughts are also towards my country,
We need Your blessings to reach the enlightenment,
To help our leaders to think about all their peoples,
To try their best to unite and build the nation.
I know it is Your time and not mine that will count,
I know that sometimes Your way seemed difficult to cope with,
But I believe in Your goodness that leads us to a brighter life.
Amen.
Monday, May 21, 2007
Do not be Desperate!
Life sometimes seemed so difficult to live in, the only way to see it was desperation. I heard the crying for help from Porong. I heard the same cries from Papua…What can I do? Nothing!
Ony Suryaman wrote in his blog that Religion is a higher authority. I do think religion is only the way to lead us to God, the Alpha and Omega. But may be he is right, we are seeking for a higher authority so we could ask our reward, we could ask Him to do our revenge. We do say that He will punish the wrongdoers.
I took God as my conscience. He resided in me. But He is also far out beyond me. He gives me hopes during all my miseries. He gives hopes for my desperation. When I was worried about the future of my country I offered all my worries to Him.
Desperation is something that kills your creativity. It could also kill your spirit to live the life on.
Dear God,
Today I am going to stand up and fight the problems of life together with You and all my fellow human beings. Please help us to be strong and patient. Help us to be able to take the right decision in making our steps. Help us to build our families, to build our country, and to build the world to glorify Thy name.
Amen.
Ony Suryaman wrote in his blog that Religion is a higher authority. I do think religion is only the way to lead us to God, the Alpha and Omega. But may be he is right, we are seeking for a higher authority so we could ask our reward, we could ask Him to do our revenge. We do say that He will punish the wrongdoers.
I took God as my conscience. He resided in me. But He is also far out beyond me. He gives me hopes during all my miseries. He gives hopes for my desperation. When I was worried about the future of my country I offered all my worries to Him.
Desperation is something that kills your creativity. It could also kill your spirit to live the life on.
Dear God,
Today I am going to stand up and fight the problems of life together with You and all my fellow human beings. Please help us to be strong and patient. Help us to be able to take the right decision in making our steps. Help us to build our families, to build our country, and to build the world to glorify Thy name.
Amen.
Thursday, May 17, 2007
The Wheel of Life
The wheel of life made our lives up and down. There were happiness, there were also sadness. We could not find eternal happiness but in God.
God helps us in the most unexpected way, if we do come to seek for His love and protection.
While seeking for His love, we have to remember to love others as John has put it his letter (1 John 4:20): Anyone who says “I love God” but hates his brother, is a liar, since whoever does not love the brother whom he can see cannot love God whom he has not seen.
What is religion? For me it is a source of hope and strength. It is a rope which is leading us to His presence. A rope that would not tie you up as it is your free choice to hold on to that rope.
Dear God,
You’ve love me so much that You were even search me when I was lost.
A good shepherd You are always be…
A naughty goat I was…
Please help me find happiness in my heart no matter how hard the life is!
Please help those people who were lost in desperation…
They might have asked silently in their heart for Your help…
Don’t let them choose suicide as their way out…
Bless my country dear God,
So we could come out this economic problem…
And bring peace back to the paradise on earth…our world!
Amen.
God helps us in the most unexpected way, if we do come to seek for His love and protection.
While seeking for His love, we have to remember to love others as John has put it his letter (1 John 4:20): Anyone who says “I love God” but hates his brother, is a liar, since whoever does not love the brother whom he can see cannot love God whom he has not seen.
What is religion? For me it is a source of hope and strength. It is a rope which is leading us to His presence. A rope that would not tie you up as it is your free choice to hold on to that rope.
Dear God,
You’ve love me so much that You were even search me when I was lost.
A good shepherd You are always be…
A naughty goat I was…
Please help me find happiness in my heart no matter how hard the life is!
Please help those people who were lost in desperation…
They might have asked silently in their heart for Your help…
Don’t let them choose suicide as their way out…
Bless my country dear God,
So we could come out this economic problem…
And bring peace back to the paradise on earth…our world!
Amen.
Tuesday, May 15, 2007
The Coming of the Paraclete
I was really confused on publishing my article about the May riot. I’ve put all my worries into prayer.
And today’s reading is John 16 The coming of the Paraclete.
I was really attracted to the phrase: “ And when he comes, he will show the world how wrong it was, about sin, and about who was in the right, and about judgement:…”
The mission today is to realize my human capacity and let the Holy Spirit works in me. I should write all my weakness and give it as my offering to God.
I translate that as an obligation to write all my thoughts even if I am scared of the consequences. I should present it to Him as my offering. Let Him guide me with the Holy Spirit. Let Him protect me with His love.
Dear God,
You’ve shown me that You wants me to work with my pen,
Yet I feared things that might not be real,
I was worried with things that You alone could provide me,
Help me God, please hold my hands…
Give me strength and wisdom to know Your will,
And to work to glorify Thy Name.
Amen.
And today’s reading is John 16 The coming of the Paraclete.
I was really attracted to the phrase: “ And when he comes, he will show the world how wrong it was, about sin, and about who was in the right, and about judgement:…”
The mission today is to realize my human capacity and let the Holy Spirit works in me. I should write all my weakness and give it as my offering to God.
I translate that as an obligation to write all my thoughts even if I am scared of the consequences. I should present it to Him as my offering. Let Him guide me with the Holy Spirit. Let Him protect me with His love.
Dear God,
You’ve shown me that You wants me to work with my pen,
Yet I feared things that might not be real,
I was worried with things that You alone could provide me,
Help me God, please hold my hands…
Give me strength and wisdom to know Your will,
And to work to glorify Thy Name.
Amen.
Sunday, May 06, 2007
Mengasihi Tuhan, mengasihi manusia
Hari ini saya mengakhiri doa pagi saya dengan memohon: “Tuhan, semoga saya melakukan semua perbuatan baik bukan karena ingin upah di bumi maupun di surga, tapi terlebih karena kasih yang tulus kepadaMU”
Sungguh aneh rasanya karena mutiara iman meditasi hari ini adalah: ”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu…” (Yoh 14:21a)
Ia memberi jawabanNya…
Saya yang seringkali menuduh Tuhan itu diam (sama seperti kisah dari penulis Jepang Shusaku Endo), tapi sekarang pada saat berpegang teguh pada tanganNya sering sekali saya menemukan jawaban-jawabanNya.
Sebenarnya doa saya berasal dari meditasi minggu lalu, ada sedikit kebingungan yang saya temui dari bacaan mengenai Gembala yang baik (Yohanes 10: 1-19). Pada ayat 11-12 ada firmanNya: “ Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.
Dari bacaan itu saya tidak ingin menjadi seorang upahan yang hanya mengerjakan sesuatu hal karena dibayar. Dalam meditasi saya menemukan Kolose 3: 22-25, yang menarik disini adalah pernyataan: “Apapun yang kamu perbuat , perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.” Ternyata selama ini dalam setiap perbuatan baik saya masih mencari upah, walaupun itu adalah upah dari Bapa di surga.
Dari situ muncul doa pagi saya, dan dari meditasi pribadi singkat pagi ini saya menemukan Yoh 15:9-17. “Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”, dan juga “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu”.
Ya Tuhan yang maha baik,
Berkatilah hari ini,
Berilah daku kemampuan untuk mencintai sesama,
Seperti Dikau mencintaiku,
Bantulah daku dengan Roh Kudus,
Agar sungguh terang pilihan jalan yang harus kuambil,
Agar tak tersesat daku dalam persimpangan yang gelap.
Amin.
Sungguh aneh rasanya karena mutiara iman meditasi hari ini adalah: ”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu…” (Yoh 14:21a)
Ia memberi jawabanNya…
Saya yang seringkali menuduh Tuhan itu diam (sama seperti kisah dari penulis Jepang Shusaku Endo), tapi sekarang pada saat berpegang teguh pada tanganNya sering sekali saya menemukan jawaban-jawabanNya.
Sebenarnya doa saya berasal dari meditasi minggu lalu, ada sedikit kebingungan yang saya temui dari bacaan mengenai Gembala yang baik (Yohanes 10: 1-19). Pada ayat 11-12 ada firmanNya: “ Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.
Dari bacaan itu saya tidak ingin menjadi seorang upahan yang hanya mengerjakan sesuatu hal karena dibayar. Dalam meditasi saya menemukan Kolose 3: 22-25, yang menarik disini adalah pernyataan: “Apapun yang kamu perbuat , perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.” Ternyata selama ini dalam setiap perbuatan baik saya masih mencari upah, walaupun itu adalah upah dari Bapa di surga.
Dari situ muncul doa pagi saya, dan dari meditasi pribadi singkat pagi ini saya menemukan Yoh 15:9-17. “Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”, dan juga “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu”.
Ya Tuhan yang maha baik,
Berkatilah hari ini,
Berilah daku kemampuan untuk mencintai sesama,
Seperti Dikau mencintaiku,
Bantulah daku dengan Roh Kudus,
Agar sungguh terang pilihan jalan yang harus kuambil,
Agar tak tersesat daku dalam persimpangan yang gelap.
Amin.
Sunday, April 29, 2007
Jesus is the Door to God’s Kingdom
John 10:9, I’m the door, whoever entered through Me, will be saved…
I’ve written that internet is a door that opens a lot of opportunity, yet I really realized that God is the One who opens new worlds, new possibilities for me.
Today He tells me that the most important thing is He is opening the door for my soul to enter His Kingdom. He is helping us to overcome our sins and be safely arrived in heaven.
Dear God,
Thanks for all the doors that opened for me…
But most of all, thanks for the Door that open my way to the eternity…
Bless us during our voyage in the world…
Please keep the Light to help me find my way to the Greatest …
The Door that open the serenity of Heaven…
Amen
I’ve written that internet is a door that opens a lot of opportunity, yet I really realized that God is the One who opens new worlds, new possibilities for me.
Today He tells me that the most important thing is He is opening the door for my soul to enter His Kingdom. He is helping us to overcome our sins and be safely arrived in heaven.
Dear God,
Thanks for all the doors that opened for me…
But most of all, thanks for the Door that open my way to the eternity…
Bless us during our voyage in the world…
Please keep the Light to help me find my way to the Greatest …
The Door that open the serenity of Heaven…
Amen
Thursday, April 26, 2007
The Modern Judas.
While Seng-Hui Cho addressed his death as the way Jesus died, he actually did the same action Judas did thousands of years ago! He sold his soul to the devil and had chosen a suicidal action to justify it.
Problems are always there for us, it is our choice of steps that will differentiate it. If we choose to stick near Him, hold His hands, then the misery will not be as heavy as it should be.
The reading today is Luke 24: 13-35. I was really attracted to Luke 24: 16. Something holds their eyes in recognizing Jesus. Sometimes we do not recognize Him as we have our obstacles. Pride, prejudice, over self confidence, and most of all our sins prevent us from seeing His helping hands.
He came through other humans, He came through our self-conscious, He was always there beside us, but we were blinded.
God, please help us...
Open our eyes to see Your presence...
Help us to fight anger in our heart...
Help us to walk just right behind You...
Amen.
Problems are always there for us, it is our choice of steps that will differentiate it. If we choose to stick near Him, hold His hands, then the misery will not be as heavy as it should be.
The reading today is Luke 24: 13-35. I was really attracted to Luke 24: 16. Something holds their eyes in recognizing Jesus. Sometimes we do not recognize Him as we have our obstacles. Pride, prejudice, over self confidence, and most of all our sins prevent us from seeing His helping hands.
He came through other humans, He came through our self-conscious, He was always there beside us, but we were blinded.
God, please help us...
Open our eyes to see Your presence...
Help us to fight anger in our heart...
Help us to walk just right behind You...
Amen.
Monday, April 23, 2007
Tebarkan Jalamu BersamaNya
Bacaan hari Minggu kemarin sungguh berkesan. Segala lelah dan kepandaian menjala sudah dikeluarkan oleh para murid, tapi hasilnya tak jua muncul. Tatkala Yesus meminta mereka menebar jala maka penuhlah jala mereka dengan ikan. Walaupun penuh, jala tak menjadi koyak.
Sungguh dalam bekerja terkadang kita terlalu percaya pada kemampuan pribadi, tak pernah mencoba pasrah dan mohon bantuan dariNya. Dengan bantuanNya, bukan hanya hasil berlimpah yang didapat melainkan juga ketangguhan hati sehingga iman tidak akan terkoyakkan oleh segala pesona hasil duniawi itu.
Tuhan,
Aku sadar akan keterbatasanku,
Aku berharap sepenuhnya pada bimbinganMu,
Semoga segala jerih lelah yang telah kulakukan,
Semua untuk kemuliaan namaMu,
Semoga berkatMu selalu menyertaiku,
Memberiku kekuatan dan kecakapan dalam melaksanakan tugasku,
Dalam NamaMu Tuhan kuberpasrah.
Amin.
Sungguh dalam bekerja terkadang kita terlalu percaya pada kemampuan pribadi, tak pernah mencoba pasrah dan mohon bantuan dariNya. Dengan bantuanNya, bukan hanya hasil berlimpah yang didapat melainkan juga ketangguhan hati sehingga iman tidak akan terkoyakkan oleh segala pesona hasil duniawi itu.
Tuhan,
Aku sadar akan keterbatasanku,
Aku berharap sepenuhnya pada bimbinganMu,
Semoga segala jerih lelah yang telah kulakukan,
Semua untuk kemuliaan namaMu,
Semoga berkatMu selalu menyertaiku,
Memberiku kekuatan dan kecakapan dalam melaksanakan tugasku,
Dalam NamaMu Tuhan kuberpasrah.
Amin.
Tuesday, April 17, 2007
Terang dan Gelap Adalah Pilihan Manusia
Habis gelap terbitlah terang, tapi dalam hati manusia terang dan gelap adalah pilihan bebas.
Kontemplasi hari ini mengajak kita menyadari kehadiran Tuhan, dan memperbaharui cara pandang kita padaNya.
Adakah dia Sang Penolong? Atau sudahkah Dia menjadi Sang Penyelamat?
Memandang Dia sebagai penolong membuat kita hanya datang padaNya dalam kesulitan-kesulitan kita. MemandangNya sebagai Sang Penyelamat berarti menjadikan Dia bagian dari kehidupan kita yang telah diselamatkanNya.
“Ibu, itulah anakmu…!” Betapa kasih Tuhan yang besar memberikan begitu banyak bantuan bagi kita. Betapa banyak yang membantu kita untuk senantiasa dekat padaNya. Selain malaikat pelindung kita, diberiNya juga ibuNya untuk menjaga kita. Betapa kasih Bunda begitu hangat mendekapku, membawaku mendekat kepada Bapa dan Putra tatkala hatiku gelisah dan takut karena salah.
Ya Allah, sungguh besar kebaikan hatiMu. Engkau memberi kami lebih dari yang patut kami terima. Terima kasih Bapa atas segala rahmatMu. Semoga dengan segala rahmat yang kami peroleh kami dapat ikut menjaga terangMu di dunia. Amin.
Kontemplasi hari ini mengajak kita menyadari kehadiran Tuhan, dan memperbaharui cara pandang kita padaNya.
Adakah dia Sang Penolong? Atau sudahkah Dia menjadi Sang Penyelamat?
Memandang Dia sebagai penolong membuat kita hanya datang padaNya dalam kesulitan-kesulitan kita. MemandangNya sebagai Sang Penyelamat berarti menjadikan Dia bagian dari kehidupan kita yang telah diselamatkanNya.
“Ibu, itulah anakmu…!” Betapa kasih Tuhan yang besar memberikan begitu banyak bantuan bagi kita. Betapa banyak yang membantu kita untuk senantiasa dekat padaNya. Selain malaikat pelindung kita, diberiNya juga ibuNya untuk menjaga kita. Betapa kasih Bunda begitu hangat mendekapku, membawaku mendekat kepada Bapa dan Putra tatkala hatiku gelisah dan takut karena salah.
Ya Allah, sungguh besar kebaikan hatiMu. Engkau memberi kami lebih dari yang patut kami terima. Terima kasih Bapa atas segala rahmatMu. Semoga dengan segala rahmat yang kami peroleh kami dapat ikut menjaga terangMu di dunia. Amin.
Sabda Tuhan Kekal Adanya
Bacaan Kamis kemarin adalah Lukas 24:35-48
Arahan dari buku Mutiara Iman 2007 adalah kehadiran Yesus membawa damai dalam diri kita. Bukan berarti bahwa kehadiranNya menghilangkan sama sekali penderitaan atau beban dalam kehidupan kita, tapi karena di dalam Dia kita memperoleh kedamaian hati.
Berpalinglah padaNya setiap saat, maka kegirangan menjadi bermakna tanpa ternodai kesombongan. Kesulitan akan terasa ringan karena luapan kasihNya yang menentramkan.
Aku pribadi sangat terkesan pada Lukas 24: 44-45, Sabda Allah kekal adanya. Dari Perjanjian Lama ada keterkaitannya dengan Perjanjian Baru. Dan sekarangpun, kedua Kitab Suci itu masih terus dapat menjadi pegangan yang hidup.
Yesus sudah meneguhkan isi dari Perjanjian Lama. Para rasul telah menyampaikan sabda yang disampaikan oleh Tuhan Yesus. Ada pada kita Alkitab, tetapi hati yang kurang percaya senantiasa ragu-ragu.
Ya Bapa, bukakan pikiran kami agar sungguh dapat menerima sabdaMu dan mengerti apa yang ingin Dikau sampaikan. Semoga kami bukan hanya mengerti, tapi juga menjalaninya. Amin.
Arahan dari buku Mutiara Iman 2007 adalah kehadiran Yesus membawa damai dalam diri kita. Bukan berarti bahwa kehadiranNya menghilangkan sama sekali penderitaan atau beban dalam kehidupan kita, tapi karena di dalam Dia kita memperoleh kedamaian hati.
Berpalinglah padaNya setiap saat, maka kegirangan menjadi bermakna tanpa ternodai kesombongan. Kesulitan akan terasa ringan karena luapan kasihNya yang menentramkan.
Aku pribadi sangat terkesan pada Lukas 24: 44-45, Sabda Allah kekal adanya. Dari Perjanjian Lama ada keterkaitannya dengan Perjanjian Baru. Dan sekarangpun, kedua Kitab Suci itu masih terus dapat menjadi pegangan yang hidup.
Yesus sudah meneguhkan isi dari Perjanjian Lama. Para rasul telah menyampaikan sabda yang disampaikan oleh Tuhan Yesus. Ada pada kita Alkitab, tetapi hati yang kurang percaya senantiasa ragu-ragu.
Ya Bapa, bukakan pikiran kami agar sungguh dapat menerima sabdaMu dan mengerti apa yang ingin Dikau sampaikan. Semoga kami bukan hanya mengerti, tapi juga menjalaninya. Amin.
Wednesday, April 11, 2007
Sejarah Paskah dan Easter
Selasa, 10-04-2007 15:57:53 oleh: Melinda N Wiria Kanal: Opini
Anak-anak sekolah minggu dengan gembira menjinjing keranjang kecil yang dihias dengan cantik sembari berlari-lari disekeliling halaman gereja berlomba mencari telur-telur Paskah yang disembunyikan oleh guru sekolah minggu. Aktivitas didalam gereja tidak kalah seru, para remaja sibuk dengan kreativitas masing-masing berlomba menghias telur Paskah. Ini adalah sekilas aktivitas Paskah yang pernah saya alami semasa kecildan masih terus berlanjut hingga sekarang di gereja-gereja lain di seluruh dunia.
Waktu kecil, rasa ingin tahu saya cukup besar. Saya suka membaca Alkitab lalu membandingkan kegiatan / tradisi yang dilakukan orang Kristen dengan apa yang ditulis di Alkitab. Saya sering mempertanyakan kenapa ada pohon Natal? Padahal di Alkitab tidak ditulis tentang pohon itu. Saya mempertanyakan kenapa harus merias dan mencari telur saat Paskah padahal dalam Alkitab tidak tertera hal tersebut. Jawaban yang saya dapat dari guru sekolah minggu saya adalah "mungkin waktu Yesus disalib, banyak kelinci yang bertelur di sekitar Golgota" (WHAT??). Namun, saya harus puas dengan jawaban seadanya.
Paskah atau Easter?
Sebelum saya mulai, saya akan membedakan antara Paskah dan Easter. Penting diingat bahwa Paskah dan Easter mempunyai makna dan pengertian yang berbeda.
Paskah yang kita rayakan.
Apa sih latar belakang perayaan Paskah? Mari kita lihat di Keluaran 12:13-18
(13) Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.
(14) Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya. (15) Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel.
(16) Kamu adakanlah pertemuan yang kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketujuh; pada hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apapun; hanya apa yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan.
(17) Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya.
(18) Dalam bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu senja, kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada waktu senja.
Paskah awalnya adalah perayaan dimana Tuhan meluputkan bangsa Israel dari malapetaka maut dimana semua anak pertama bangsa Mesir dicabut nyawanya oleh malaikat Tuhan. Dalam Alkitab bahasa Inggris di ayat Keluaran 12:13 ditulis "And the blood shall be to you for a token upon the houses where you are and when I see the blood, I will pass over you, and the plague shall not be upon you to destroy you, when I smite the land of Egypt". Dari kata ‘pass over' itulah maka Paskah dalam bahasa inggris diterjemahkan menjadi Passover sedangkan dalam bahasa Yunani ditulis "Pascha".
Kapan Paskah diadakan? Paskah ditetapkan oleh Tuhan untuk dirayakan pada bulan Abib (atau bulan April) pada tanggal ke empatbelas (Keluaran 12:18). Mari lihat di Ulangan 16:1-3 dan 6-7 tentang tata cara perayaan Paskah:
(1) "Ingatlah akan bulan Abib dan rayakanlah Paskah bagi TUHAN, Allahmu, sebab dalam bulan Abib itulah TUHAN, Allahmu, membawa engkau keluar dari Mesir pada waktu malam.
(2) Maka engkau harus menyembelih kambing domba dan lembu sapi sebagai korban Paskah bagi TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih TUHAN untuk membuat nama-Nya diam di sana.
(3) Janganlah engkau makan sesuatu yang beragi besertanya; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi besertanya, yakni roti penderitaan, sebab dengan buru-buru engkau keluar dari tanah Mesir. Maksudnya supaya seumur hidupmu engkau teringat akan hari engkau keluar dari tanah Mesir.
(6) Tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, engkau harus mempersembahkan korban Paskah itu pada waktu senja, ketika matahari terbenam, bertepatan dengan saat engkau keluar dari Mesir.
(7) Engkau harus memasaknya dan memakannya di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu; kemudian paginya engkau harus pulang kembali ke kemahmu.
Perayaan Paskah dimulai pada bulan pertama, yaitu bulan Abib, tanggal 14 dimana bangsa Israel mulai memotong hewan kurban persembahan pada waktu senja. Kemudian tanggal 15 bulan Abib, bangsa Israel akan memasak hewan kurban dan memakannya bersama. Perlu diperhatikan bahwa perhitungan penggantian hari yang kita kenal sekarang dimulai setelah jam 12 malam, sedangkan perhitungan penggantian hari bagi bangsa Israel dimulai setelah matahari terbenam. Jadi, ketika bangsa Israel mulai memotong hewan kurban kira-kira jam 6 sore ketika matahari terbenam maka saat itu masih tanggal 14 dan ketika sudah mulai gelap berarti sudah masuk tanggal 15. Saat makan daging hewan kurban itulah hari pertama perayaan Roti Tidak Beragi.
Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus pada malam sebelum Ia disalib. Di Lukas 22 ditulis bahwa Yesus memerintahkan kedua murid-Nya untuk mempersiapkan perjamuan Paskah. Dalam Imamat 23:5-7 ditulis :
(5) Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN.
(6) Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi.
(7) Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
Kembali lagi ke Lukas 22, pada tanggal 14 bulan Abib, Yesus memerintahkan murid-Nya untuk mempersiapkan tempat untuk mengadakan perjamuan Paskah. Perjamuan ini disebut 'pertemuan kudus' dalam Imamat 23:7 (dan hingga sekarang disebut sebagai Perjamuan Kudus atau Holy Communion). Saat malam, tanggal 15 bulan Abib yaitu hari pertama perayaan Roti Tidak Beragi, Yesus dan kedua belas murid-Nya mengadakan perjamuan Paskah. Yesus Kristus kemudian disalib pada hari pertama perayaan Roti Tidak Beragi dan Ia bangkit dari kubur pada hari ketiga perayaan Roti Tidak Beragi.
Paskah terus dirayakan oleh bangsa Israel hingga sekarang. Namun makna perayaan Paskah terbagi menjadi dua ketika mulai lahirnya ke-Kristenan. Para pengikut Kristus merayakan Paskah untuk memperingati hari kebangkitan Yesus Kristus mengalahkan kematian. Perlu diingat bahwa orang Yahudi tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat oleh sebab itu orang Yahudi merayakan Paskah sebagai peringatan akan perlindungan Tuhan yang meluputkan bangsa Israel dari bahaya kematian di Mesir dan hingga sekarang orang Yahudi masih menantikan Mesias yang dijanjikan di Perjanjian Lama.
Easter yang seharus tidak kita rayakan.
Kata Easter berasal dari kata "Ishtar" dimana Ishtar adalah perayaan kebangkitan seorang dewa bernama Tamus. Siapakah Tamus? Kisah ini kembali ribuan tahun lalu ke jaman setelah Nabi Nuh dan keluarganya selamat dari banjir besar. Nuh punya 3 orang anak dan salah satu anaknya bernama Ham. Ham memiliki seorang anak bernama Cush dan menikah dengan seorang wanita bernama Semiramis. Cush dan Semiramis kemudian memiliki seorang putra bernama Nimrod (Kejadian 10:8-10). Nimrod dalam bahasa Ibrani berarti 'pemberontak'. Nimrod adalah pencipta sistem Babilonia dimana ia menciptakan tatanan pemerintahan dan hukum dasar perdagangan ekonomi. Melalui sistem Babilonia inilah Nimrod mendirikan kerajaan pertama di bumi, mendirikan kota-kota megah dan mencetuskan ide mendirikan menara Babel. Nimrod adalah orang pertama yang memperkenalkan penyembahan kepada setan (satanic worship). Nimrod begitu bejat sampai ia bersetubuh dengan ibu kandungnya sendiri yaitu Semiramis. Sang ibu kemudian hamil dan melahirkan anak bernama Tamus.
Ketika Nimrod meninggal, Semiramis ingin nama Nimrod menjadi abadi dan dipuja orang. Semiramis mendoktrinasi pengikutnya bahwa Nimrod telah naik ke tahtanya di matahari dan harus dipuja sebagai Baal yaitu sang dewa matahari. Semiramis sendiri menyatakan bahwa ia datang di Bumi melalui peristiwa dimana ia turun dari bulan dengan mengendarai 'telur besar' dan 'mendarat' di sungai Efrata (sekarang negara Irak). Peristiwa peringatan kedatangan Semiramis ditandai dengan telur yang dihias dan dinamai Ishtar eggs atau telur Easter. Kenapa dipilih telur? Karena telur dilambangkan sebagai kelanjutan dari hidup. Kemudian tradisi di jaman itu berkembang dimana orang-orang saling memberi telur yang telah dihias sebagai simbol untuk 'memberkati' orang lain dengan hidup baru. Bagaimana dengan kelinci? Bagi Semiramis, kelinci adalah binatang keramat dan kelinci dipakai sebagai hewan kurban di setiap perayaan Easter.
Sama seperti anaknya (atau 'suaminya') Nimrod yang dipuja sebagai dewa matahari, Semiramis dipuja orang sebagai dewa bulan. Tidak cukup sampai disitu, ketika Tamus tewas saat ia sedang berburu (sama seperti ayahnya, Nimrod, Tamus adalah seorang pemburu ulung), Semiramis menyatakan bahwa Tamus memiliki kedudukan yang sama seperti Nimrod dan harus disembah. Semiramis kemudian memberi gelar baru pada dirinya sendiri, yaitu Queen of Heaven atau Ratu Surga (Yeremia 7:18 dan Yeremia 44:17-25).
Adakah praktek penyembahan Tamus tertulis di Alkitab? Tentu saja ada. Dalam Yehezkiel 8:14- 16 ditulis :
(14) Lalu dibawa-Nya aku dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah utara, sungguh, di sana ada perempuan-perempuan yang menangisi dewa Tamus.
(15) Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, kaulihatkah apa yang mereka perbuat? Engkau masih akan melihat perbuatan-perbuatan kekejian yang lebih besar lagi dari pada ini."
(16) Kemudian dibawa-Nya aku ke pelataran dalam rumah TUHAN; sungguh, dekat jalan masuk ke bait TUHAN, di antara balai Bait Suci dan mezbah ada kira-kira dua puluh lima orang laki-laki, yang membelakangi bait TUHAN dan menghadap ke sebelah timur sambil sujud pada matahari di sebelah timur.
Ayat Alkitab ini menceritakan bagaimana Bait Allah di Jerusalem telah dirusak dan dinajiskan dengan praktek penyembahan dewa Tamus. Tembok-tembok Bait Allah telah bolong dan penuh dengan grafiti atau gambar-gambar berbagai macam mahluk dan binatang. Hal ini merupakan satu kekejian dihadapan Tuhan.
Kapan Paskah dan Easter dirayakan?
Perayaan Paskah dan Easter (atau Ishtar) adalah dua perayaan yang berbeda dan sama sekali tidak berhubungan. Perayaan Easter dirayakan setiap minggu pertama setelah pergantian dari musim dingin ke musim semi atau dikenal dengan perayaan Equinox. Perlu diketahui bahwa musim semi bisa maju atau mundur sehingga otomatis perayaan Easter pun bisa maju atau mundur dan berkisar di tanggal 22 Maret hingga 25 April. Sedangkan perayaan Paskah diadakan di bulan April tanggal 14. Oleh sebab itu tidak heran bila kadang-kadang Paskah dan Easter bisa jatuh pada hari atau minggu yang sama.
Apakah Raja Herodes merayakan Paskah atau Easter di Kisah Para Rasul 12:3-4? Dalam Kis 12:1-4 ditulis
(1) Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat.
(2) Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.
(3) Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi.
(4) Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.
Ingat bahwa Raja Herodes bukanlah orang Kristen dan ia sangat membenci orang Kristen. Ketika Raja Herodes membunuh Yakobus dan ingin membunuh Petrus kebetulan saat itu sedang dalam masa perayaan Roti Tidak Beragi. Raja Herodes kemudian memenjarakan Petrus karena ia ingin merayakan Easter (bukan Paskah). Hal ini mungkin membingungkan karena Alkitab bahasa Indonesia menggunakan satu kata untuk dua perayaan yang berbeda maksud dan tujuan.
Apabila kita lihat ayat Kis 12:4 dalam Alkitab bahasa inggris versi King James (King James Version) maka akan terlihat perbedaannya:
(4) And when he had apprehended him, he put him in prison, and delivered him to four quaternion of soldiers to keep him; intending after Easter to bring him forth to the people.
Pada Alkitab bahasa inggris, kata "Paskah" diterjemahkan sebagai "Passover" bukan "Easter".
Sebagai contoh kita lihat salah satu ayat di Matius 26:17-19:
(17) Now on the first day of the Feast of the Unleavened Bread the disciples came to Jesus, saying to Him, "Where do You want us to prepare for You to eat the Passover?"
(18) And He said, "Go into the city to a certain man, and say to him, `The Teacher says, "My time is at hand; I will keep the Passover at your house with My disciples."
(19) So the disciples did as Jesus had directed them; and they prepared the Passover.
Dari sini bisa terlihat perbedaan penggunaan kata Passover dengan Easter di Alkitab bahasa Inggris. Kita kembali pada kisah Petrus, ketika Petrus ditahan saat itu sedang perayaan Roti Tidak Beragi. Seperti yang telah dijelaskan diatas, perayaan Roti Tak Beragi dirayakan setelah Paskah sedangkan Raja Herodes ingin merayakan Easter yang saat itu akan dirayakan beberapa hari kemudian. Jadi jelaslah bahwa Raja Herodes merayakan Easter yang menyembah dewa Tamus dan Raja Herodes tidak pernah merayakan Paskah peringatan kebangkitan Yesus dari kematian.
Kesimpulan
1. Paskah atau Passover yang kita rayakan adalah perayaan kebangkitan Yesus Kristus mengalahkan kematian. Awal dari perayaan Paskah adalah perayaan dimana Tuhan meluputkan bangsa Israel dari malapetaka maut dimana semua anak pertama bangsa Mesir dibunuh oleh malaikat Tuhan.
2. Perayaan Easter (atau Ishtar) adalah perayaan kebangkitan seorang dewa bernama Tamus yang ditandai dengan perayaan menghias telur dan bersimbol kelinci.
3. Tradisi menghias telur Easter dan kelinci Easter adalah ritual okultisme yang merupakan kekejian bagi Tuhan.
4. Marilah kita menyembah Tuhan bukan berdasarkan tradisi yang ada tetapi berdasarkan perintah dari Tuhan.
Disadur dan diterjemahkan dari berbagai sumber:
?? The Easter Story by Denise Snodgrass (www.onenesschristian.org/easter.htm)
?? The Pagan Origin of Easter by David J. Meyer (www.lasttrumpetministries.org/tracts/tract1.html)
?? Is Easter A Mistranslation? by Dr. Samuel C. Gipp, Th.D. (www.av1611.org/kjv/easter.html)
?? The Truth About Easter (www.ministriesofchrist.org/Easter.htm)
Selamat merayakan Paskah 2007. Tuhan Yesus memberkati kita semua.
ditulis oleh : Pdt. Theodorus
4 komentar pada warta ini
Selasa, 10-04-2007 16:36:16 oleh: marc
Nice and good article Sis JBU
Rabu, 11-04-2007 06:17:20 oleh: Retty
Sangat informatif! Tapi bagimanapun dalam berbahasa Inggris kita mau tidak mau kan harus berkata "Happy Easter!", dalam kamus Oxford sendiri terjemahan Easter adalah " anniversary of the Resurrection of Christ, observed on the first Sunday after a full moon on or after 21 March. Mengenai bagaimana tradisi mempengaruhi agama, tentunya ada sejarahnya. Sangat berguna untuk mengetahui sejarahnya. Tulisan ini saya vote sangat berguna. Hanya saya kurang setuju dengan poin kesimpulan no 3, karena pemeliharaan tradisi telur Paskah tidak lagi berdasar kepada okultisme, melainkan sebagai bagian dari perayaan iman terhadap kelahiran kembali manusia. Dengan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus, manusia dibebaskan dari kematian kekal (dosa) dan dilahirkan kembali sebagai manusia baru. Dalam agama Katolik setiap malam Paskah ada upacara lilin atau upacara terang (maaf kalau salah istilah) dimana janji baptis diulangi, sebagai tanda pembaharuan diri. Telur menjadi tanda dari kehidupan baru tersebut. Mungkin cara pandang ini adalah suatu perbedaan antara agama Kristen Katolik dengan Kristen lainnya dalam menerjemahkan tradisi. Komentar ini hanya sebagai penyeimbang sudut pandang yang mungkin bersifat pribadi.
Rabu, 11-04-2007 08:13:51 oleh: bajoe
Yup, itulah pentingnya membaca sejarah. Kalau belajar sejarah banyak agama, semua tumbuh kembang tanpa lepas dari konteks dan tradisi sebelumnya. Walaupun kemudian dimaknai berbeda. Contoh yang sama di agama Nasrani soal perayaan Natal tanggal 25 Desember, yang mengadopsi tradisi sebelumnya yaitu perayaan / pemujaan Dewa Matahari. Tetapi tentu saja orang Nasrani tidak lagi memuja dewa Matahari, walau tanggalnya sama. aku setuju dengan pendapat Retty bahwa tradisi menghias telur Paskah di kalangan Nasrani sudah bukan lagi dimaknai okultisme. Mungkin kalau disurvei, sebagian besar orang Nasrani tidak tahu soal okultisme ini. Jadi aku berbeda pendapat dengan Bapak Pendeta penulis artikel ini. Kalau menghias telur bagian dari kemeriahan sikap religius seorang Nasrani, ya kenapa tidak? Toh, kalau mengaca lagi ke sejarah agama-agama dunia, berdialog dengan tradisi (lokal maupun globa) adalah sesuatu yang tak dapat dihindari oleh agama apapun. Sampai saat ini juga.
Rabu, 11-04-2007 12:28:21 oleh: Febri
Memang manusia cenderung mencari jalan yang paling susah untuk mencapai tujuan akhirnya. Ditambah lagi seringnya 'terlalu kreatif' dalam melakukan sebuah tindakan tanpa tahu latar belakang sesungguhnya, bahkan tidak tahu akibat yang ditimbulkannya. Sudah begitu menyeret-nyeret orang lain untuk menyetujui tindakannya dan sedikit 'memaksa' untuk melakukannya juga. Anyway...kita perlu tahu mengapa kita melakukan sesuatu dan mengujinya semuanya itu.
Anak-anak sekolah minggu dengan gembira menjinjing keranjang kecil yang dihias dengan cantik sembari berlari-lari disekeliling halaman gereja berlomba mencari telur-telur Paskah yang disembunyikan oleh guru sekolah minggu. Aktivitas didalam gereja tidak kalah seru, para remaja sibuk dengan kreativitas masing-masing berlomba menghias telur Paskah. Ini adalah sekilas aktivitas Paskah yang pernah saya alami semasa kecildan masih terus berlanjut hingga sekarang di gereja-gereja lain di seluruh dunia.
Waktu kecil, rasa ingin tahu saya cukup besar. Saya suka membaca Alkitab lalu membandingkan kegiatan / tradisi yang dilakukan orang Kristen dengan apa yang ditulis di Alkitab. Saya sering mempertanyakan kenapa ada pohon Natal? Padahal di Alkitab tidak ditulis tentang pohon itu. Saya mempertanyakan kenapa harus merias dan mencari telur saat Paskah padahal dalam Alkitab tidak tertera hal tersebut. Jawaban yang saya dapat dari guru sekolah minggu saya adalah "mungkin waktu Yesus disalib, banyak kelinci yang bertelur di sekitar Golgota" (WHAT??). Namun, saya harus puas dengan jawaban seadanya.
Paskah atau Easter?
Sebelum saya mulai, saya akan membedakan antara Paskah dan Easter. Penting diingat bahwa Paskah dan Easter mempunyai makna dan pengertian yang berbeda.
Paskah yang kita rayakan.
Apa sih latar belakang perayaan Paskah? Mari kita lihat di Keluaran 12:13-18
(13) Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.
(14) Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya. (15) Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel.
(16) Kamu adakanlah pertemuan yang kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketujuh; pada hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apapun; hanya apa yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan.
(17) Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya.
(18) Dalam bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu senja, kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada waktu senja.
Paskah awalnya adalah perayaan dimana Tuhan meluputkan bangsa Israel dari malapetaka maut dimana semua anak pertama bangsa Mesir dicabut nyawanya oleh malaikat Tuhan. Dalam Alkitab bahasa Inggris di ayat Keluaran 12:13 ditulis "And the blood shall be to you for a token upon the houses where you are and when I see the blood, I will pass over you, and the plague shall not be upon you to destroy you, when I smite the land of Egypt". Dari kata ‘pass over' itulah maka Paskah dalam bahasa inggris diterjemahkan menjadi Passover sedangkan dalam bahasa Yunani ditulis "Pascha".
Kapan Paskah diadakan? Paskah ditetapkan oleh Tuhan untuk dirayakan pada bulan Abib (atau bulan April) pada tanggal ke empatbelas (Keluaran 12:18). Mari lihat di Ulangan 16:1-3 dan 6-7 tentang tata cara perayaan Paskah:
(1) "Ingatlah akan bulan Abib dan rayakanlah Paskah bagi TUHAN, Allahmu, sebab dalam bulan Abib itulah TUHAN, Allahmu, membawa engkau keluar dari Mesir pada waktu malam.
(2) Maka engkau harus menyembelih kambing domba dan lembu sapi sebagai korban Paskah bagi TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih TUHAN untuk membuat nama-Nya diam di sana.
(3) Janganlah engkau makan sesuatu yang beragi besertanya; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi besertanya, yakni roti penderitaan, sebab dengan buru-buru engkau keluar dari tanah Mesir. Maksudnya supaya seumur hidupmu engkau teringat akan hari engkau keluar dari tanah Mesir.
(6) Tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, engkau harus mempersembahkan korban Paskah itu pada waktu senja, ketika matahari terbenam, bertepatan dengan saat engkau keluar dari Mesir.
(7) Engkau harus memasaknya dan memakannya di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu; kemudian paginya engkau harus pulang kembali ke kemahmu.
Perayaan Paskah dimulai pada bulan pertama, yaitu bulan Abib, tanggal 14 dimana bangsa Israel mulai memotong hewan kurban persembahan pada waktu senja. Kemudian tanggal 15 bulan Abib, bangsa Israel akan memasak hewan kurban dan memakannya bersama. Perlu diperhatikan bahwa perhitungan penggantian hari yang kita kenal sekarang dimulai setelah jam 12 malam, sedangkan perhitungan penggantian hari bagi bangsa Israel dimulai setelah matahari terbenam. Jadi, ketika bangsa Israel mulai memotong hewan kurban kira-kira jam 6 sore ketika matahari terbenam maka saat itu masih tanggal 14 dan ketika sudah mulai gelap berarti sudah masuk tanggal 15. Saat makan daging hewan kurban itulah hari pertama perayaan Roti Tidak Beragi.
Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus pada malam sebelum Ia disalib. Di Lukas 22 ditulis bahwa Yesus memerintahkan kedua murid-Nya untuk mempersiapkan perjamuan Paskah. Dalam Imamat 23:5-7 ditulis :
(5) Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN.
(6) Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi.
(7) Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
Kembali lagi ke Lukas 22, pada tanggal 14 bulan Abib, Yesus memerintahkan murid-Nya untuk mempersiapkan tempat untuk mengadakan perjamuan Paskah. Perjamuan ini disebut 'pertemuan kudus' dalam Imamat 23:7 (dan hingga sekarang disebut sebagai Perjamuan Kudus atau Holy Communion). Saat malam, tanggal 15 bulan Abib yaitu hari pertama perayaan Roti Tidak Beragi, Yesus dan kedua belas murid-Nya mengadakan perjamuan Paskah. Yesus Kristus kemudian disalib pada hari pertama perayaan Roti Tidak Beragi dan Ia bangkit dari kubur pada hari ketiga perayaan Roti Tidak Beragi.
Paskah terus dirayakan oleh bangsa Israel hingga sekarang. Namun makna perayaan Paskah terbagi menjadi dua ketika mulai lahirnya ke-Kristenan. Para pengikut Kristus merayakan Paskah untuk memperingati hari kebangkitan Yesus Kristus mengalahkan kematian. Perlu diingat bahwa orang Yahudi tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat oleh sebab itu orang Yahudi merayakan Paskah sebagai peringatan akan perlindungan Tuhan yang meluputkan bangsa Israel dari bahaya kematian di Mesir dan hingga sekarang orang Yahudi masih menantikan Mesias yang dijanjikan di Perjanjian Lama.
Easter yang seharus tidak kita rayakan.
Kata Easter berasal dari kata "Ishtar" dimana Ishtar adalah perayaan kebangkitan seorang dewa bernama Tamus. Siapakah Tamus? Kisah ini kembali ribuan tahun lalu ke jaman setelah Nabi Nuh dan keluarganya selamat dari banjir besar. Nuh punya 3 orang anak dan salah satu anaknya bernama Ham. Ham memiliki seorang anak bernama Cush dan menikah dengan seorang wanita bernama Semiramis. Cush dan Semiramis kemudian memiliki seorang putra bernama Nimrod (Kejadian 10:8-10). Nimrod dalam bahasa Ibrani berarti 'pemberontak'. Nimrod adalah pencipta sistem Babilonia dimana ia menciptakan tatanan pemerintahan dan hukum dasar perdagangan ekonomi. Melalui sistem Babilonia inilah Nimrod mendirikan kerajaan pertama di bumi, mendirikan kota-kota megah dan mencetuskan ide mendirikan menara Babel. Nimrod adalah orang pertama yang memperkenalkan penyembahan kepada setan (satanic worship). Nimrod begitu bejat sampai ia bersetubuh dengan ibu kandungnya sendiri yaitu Semiramis. Sang ibu kemudian hamil dan melahirkan anak bernama Tamus.
Ketika Nimrod meninggal, Semiramis ingin nama Nimrod menjadi abadi dan dipuja orang. Semiramis mendoktrinasi pengikutnya bahwa Nimrod telah naik ke tahtanya di matahari dan harus dipuja sebagai Baal yaitu sang dewa matahari. Semiramis sendiri menyatakan bahwa ia datang di Bumi melalui peristiwa dimana ia turun dari bulan dengan mengendarai 'telur besar' dan 'mendarat' di sungai Efrata (sekarang negara Irak). Peristiwa peringatan kedatangan Semiramis ditandai dengan telur yang dihias dan dinamai Ishtar eggs atau telur Easter. Kenapa dipilih telur? Karena telur dilambangkan sebagai kelanjutan dari hidup. Kemudian tradisi di jaman itu berkembang dimana orang-orang saling memberi telur yang telah dihias sebagai simbol untuk 'memberkati' orang lain dengan hidup baru. Bagaimana dengan kelinci? Bagi Semiramis, kelinci adalah binatang keramat dan kelinci dipakai sebagai hewan kurban di setiap perayaan Easter.
Sama seperti anaknya (atau 'suaminya') Nimrod yang dipuja sebagai dewa matahari, Semiramis dipuja orang sebagai dewa bulan. Tidak cukup sampai disitu, ketika Tamus tewas saat ia sedang berburu (sama seperti ayahnya, Nimrod, Tamus adalah seorang pemburu ulung), Semiramis menyatakan bahwa Tamus memiliki kedudukan yang sama seperti Nimrod dan harus disembah. Semiramis kemudian memberi gelar baru pada dirinya sendiri, yaitu Queen of Heaven atau Ratu Surga (Yeremia 7:18 dan Yeremia 44:17-25).
Adakah praktek penyembahan Tamus tertulis di Alkitab? Tentu saja ada. Dalam Yehezkiel 8:14- 16 ditulis :
(14) Lalu dibawa-Nya aku dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah utara, sungguh, di sana ada perempuan-perempuan yang menangisi dewa Tamus.
(15) Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, kaulihatkah apa yang mereka perbuat? Engkau masih akan melihat perbuatan-perbuatan kekejian yang lebih besar lagi dari pada ini."
(16) Kemudian dibawa-Nya aku ke pelataran dalam rumah TUHAN; sungguh, dekat jalan masuk ke bait TUHAN, di antara balai Bait Suci dan mezbah ada kira-kira dua puluh lima orang laki-laki, yang membelakangi bait TUHAN dan menghadap ke sebelah timur sambil sujud pada matahari di sebelah timur.
Ayat Alkitab ini menceritakan bagaimana Bait Allah di Jerusalem telah dirusak dan dinajiskan dengan praktek penyembahan dewa Tamus. Tembok-tembok Bait Allah telah bolong dan penuh dengan grafiti atau gambar-gambar berbagai macam mahluk dan binatang. Hal ini merupakan satu kekejian dihadapan Tuhan.
Kapan Paskah dan Easter dirayakan?
Perayaan Paskah dan Easter (atau Ishtar) adalah dua perayaan yang berbeda dan sama sekali tidak berhubungan. Perayaan Easter dirayakan setiap minggu pertama setelah pergantian dari musim dingin ke musim semi atau dikenal dengan perayaan Equinox. Perlu diketahui bahwa musim semi bisa maju atau mundur sehingga otomatis perayaan Easter pun bisa maju atau mundur dan berkisar di tanggal 22 Maret hingga 25 April. Sedangkan perayaan Paskah diadakan di bulan April tanggal 14. Oleh sebab itu tidak heran bila kadang-kadang Paskah dan Easter bisa jatuh pada hari atau minggu yang sama.
Apakah Raja Herodes merayakan Paskah atau Easter di Kisah Para Rasul 12:3-4? Dalam Kis 12:1-4 ditulis
(1) Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat.
(2) Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.
(3) Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi.
(4) Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.
Ingat bahwa Raja Herodes bukanlah orang Kristen dan ia sangat membenci orang Kristen. Ketika Raja Herodes membunuh Yakobus dan ingin membunuh Petrus kebetulan saat itu sedang dalam masa perayaan Roti Tidak Beragi. Raja Herodes kemudian memenjarakan Petrus karena ia ingin merayakan Easter (bukan Paskah). Hal ini mungkin membingungkan karena Alkitab bahasa Indonesia menggunakan satu kata untuk dua perayaan yang berbeda maksud dan tujuan.
Apabila kita lihat ayat Kis 12:4 dalam Alkitab bahasa inggris versi King James (King James Version) maka akan terlihat perbedaannya:
(4) And when he had apprehended him, he put him in prison, and delivered him to four quaternion of soldiers to keep him; intending after Easter to bring him forth to the people.
Pada Alkitab bahasa inggris, kata "Paskah" diterjemahkan sebagai "Passover" bukan "Easter".
Sebagai contoh kita lihat salah satu ayat di Matius 26:17-19:
(17) Now on the first day of the Feast of the Unleavened Bread the disciples came to Jesus, saying to Him, "Where do You want us to prepare for You to eat the Passover?"
(18) And He said, "Go into the city to a certain man, and say to him, `The Teacher says, "My time is at hand; I will keep the Passover at your house with My disciples."
(19) So the disciples did as Jesus had directed them; and they prepared the Passover.
Dari sini bisa terlihat perbedaan penggunaan kata Passover dengan Easter di Alkitab bahasa Inggris. Kita kembali pada kisah Petrus, ketika Petrus ditahan saat itu sedang perayaan Roti Tidak Beragi. Seperti yang telah dijelaskan diatas, perayaan Roti Tak Beragi dirayakan setelah Paskah sedangkan Raja Herodes ingin merayakan Easter yang saat itu akan dirayakan beberapa hari kemudian. Jadi jelaslah bahwa Raja Herodes merayakan Easter yang menyembah dewa Tamus dan Raja Herodes tidak pernah merayakan Paskah peringatan kebangkitan Yesus dari kematian.
Kesimpulan
1. Paskah atau Passover yang kita rayakan adalah perayaan kebangkitan Yesus Kristus mengalahkan kematian. Awal dari perayaan Paskah adalah perayaan dimana Tuhan meluputkan bangsa Israel dari malapetaka maut dimana semua anak pertama bangsa Mesir dibunuh oleh malaikat Tuhan.
2. Perayaan Easter (atau Ishtar) adalah perayaan kebangkitan seorang dewa bernama Tamus yang ditandai dengan perayaan menghias telur dan bersimbol kelinci.
3. Tradisi menghias telur Easter dan kelinci Easter adalah ritual okultisme yang merupakan kekejian bagi Tuhan.
4. Marilah kita menyembah Tuhan bukan berdasarkan tradisi yang ada tetapi berdasarkan perintah dari Tuhan.
Disadur dan diterjemahkan dari berbagai sumber:
?? The Easter Story by Denise Snodgrass (www.onenesschristian.org/easter.htm)
?? The Pagan Origin of Easter by David J. Meyer (www.lasttrumpetministries.org/tracts/tract1.html)
?? Is Easter A Mistranslation? by Dr. Samuel C. Gipp, Th.D. (www.av1611.org/kjv/easter.html)
?? The Truth About Easter (www.ministriesofchrist.org/Easter.htm)
Selamat merayakan Paskah 2007. Tuhan Yesus memberkati kita semua.
ditulis oleh : Pdt. Theodorus
4 komentar pada warta ini
Selasa, 10-04-2007 16:36:16 oleh: marc
Nice and good article Sis JBU
Rabu, 11-04-2007 06:17:20 oleh: Retty
Sangat informatif! Tapi bagimanapun dalam berbahasa Inggris kita mau tidak mau kan harus berkata "Happy Easter!", dalam kamus Oxford sendiri terjemahan Easter adalah " anniversary of the Resurrection of Christ, observed on the first Sunday after a full moon on or after 21 March. Mengenai bagaimana tradisi mempengaruhi agama, tentunya ada sejarahnya. Sangat berguna untuk mengetahui sejarahnya. Tulisan ini saya vote sangat berguna. Hanya saya kurang setuju dengan poin kesimpulan no 3, karena pemeliharaan tradisi telur Paskah tidak lagi berdasar kepada okultisme, melainkan sebagai bagian dari perayaan iman terhadap kelahiran kembali manusia. Dengan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus, manusia dibebaskan dari kematian kekal (dosa) dan dilahirkan kembali sebagai manusia baru. Dalam agama Katolik setiap malam Paskah ada upacara lilin atau upacara terang (maaf kalau salah istilah) dimana janji baptis diulangi, sebagai tanda pembaharuan diri. Telur menjadi tanda dari kehidupan baru tersebut. Mungkin cara pandang ini adalah suatu perbedaan antara agama Kristen Katolik dengan Kristen lainnya dalam menerjemahkan tradisi. Komentar ini hanya sebagai penyeimbang sudut pandang yang mungkin bersifat pribadi.
Rabu, 11-04-2007 08:13:51 oleh: bajoe
Yup, itulah pentingnya membaca sejarah. Kalau belajar sejarah banyak agama, semua tumbuh kembang tanpa lepas dari konteks dan tradisi sebelumnya. Walaupun kemudian dimaknai berbeda. Contoh yang sama di agama Nasrani soal perayaan Natal tanggal 25 Desember, yang mengadopsi tradisi sebelumnya yaitu perayaan / pemujaan Dewa Matahari. Tetapi tentu saja orang Nasrani tidak lagi memuja dewa Matahari, walau tanggalnya sama. aku setuju dengan pendapat Retty bahwa tradisi menghias telur Paskah di kalangan Nasrani sudah bukan lagi dimaknai okultisme. Mungkin kalau disurvei, sebagian besar orang Nasrani tidak tahu soal okultisme ini. Jadi aku berbeda pendapat dengan Bapak Pendeta penulis artikel ini. Kalau menghias telur bagian dari kemeriahan sikap religius seorang Nasrani, ya kenapa tidak? Toh, kalau mengaca lagi ke sejarah agama-agama dunia, berdialog dengan tradisi (lokal maupun globa) adalah sesuatu yang tak dapat dihindari oleh agama apapun. Sampai saat ini juga.
Rabu, 11-04-2007 12:28:21 oleh: Febri
Memang manusia cenderung mencari jalan yang paling susah untuk mencapai tujuan akhirnya. Ditambah lagi seringnya 'terlalu kreatif' dalam melakukan sebuah tindakan tanpa tahu latar belakang sesungguhnya, bahkan tidak tahu akibat yang ditimbulkannya. Sudah begitu menyeret-nyeret orang lain untuk menyetujui tindakannya dan sedikit 'memaksa' untuk melakukannya juga. Anyway...kita perlu tahu mengapa kita melakukan sesuatu dan mengujinya semuanya itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)