Saturday, April 06, 2013

Percaya dan Setia

Terkadang panggilanNya bisa datang melalui saat yang bagi orang lain merupakan musibah. Begitulah, kehidupan manusia tidak bisa kita perhitungkan. Suamiku mengalami kecelakaan dan terpaksa harus istirahat di rumah. Hal ini berarti saya tidak bisa melaksanakan rencana-rencana yang sudah tersusun. Tapi, hal itu juga menyebabkan saya memiliki kesempatan untuk menghadiri pertemuan mingguan Meditasi Kristiani.

Sebenarnya hari Sabtu kemarin saya memiliki kegiatan yang bagi saya cukup berarti, baik dalam segi menambah ilmu, maupun untuk memperluas jaringan perkenalan. Semua acara sudah saya atur, jadwal lain saya tunda, termasuk jadwal untuk menghadiri pertemuan mingguan Meditasi Kristiani. Pada pertemuan Sabtu sebelumnya saya sudah pamit. Sejak saya bekerja penuh, waktu untuk pertemuan mingguan agak terpinggirkan prioritasnya. Ada saja tugas dan seminar yang harus saya hadiri. Pada libur Paskah kemarin saya memaksakan untuk hadir, tapi dengan berat hati minta izin untuk tidak hadir lagi di hari Sabtu berikut.

Ternyata, justru akhirnya saya bisa hadir (walaupun terlambat, tapi tidak terlambat untuk sesi meditasinya). Banyak hal dari pertemuan hari itu yang kemudian juga dikuatkan dengan bacaan lain yang saya baca pada hari yang sama di kesempatan berbeda.

Dari buku Jalan Menuju Kehidupan 3 saya merasa sangat tertarik membaca kupasan renungan yang menggambarkan betapa murid-murid Yesus berlari meninggalkanNya ketika Ia harus memasuki jalan penderitaan. Digambarkan betapa seorang murid bahkan meninggalkan segalanya-termasuk pakaiannya sendiri- untuk melepaskan diri dari Kristus.

Masih terkenang pada anak sulung dari perumpamaan Anak yang Hilang, saya merasakannya sebagai peringatan untuk tetap setia padaNya. Ketika cobaan dan masalah datang jangan pernah berlari meninggalkanNya.

Agak siang, saya mampir di toko buku Avilla. Saya tertarik pada sebuah buku kecil mengenai Lectio Divina. Saya masih juga terobsesi untuk sungguh-sungguh mengenal perbedaan antara Lectio Divina dengan Meditasi Kristiani. Rasanya harga buku tersebut yang terlalu mahal untuk saya beli, tetapi beruntung saya diperbolehkan untuk membuka plastik pembungkus buku dan membacanya. Ada satu kalimat yang tiba-tiba terbaca, dan bagaikan sebuah pesan yang harus kuingat, terjemahan bebasnya adalah, "Bukan kesuksesan yang diminta daripadamu, melainkan kesetiaan."

Ini mengingatkan saya akan penutup dari renungan di buku Jalan Menuju Kehidupan 3 untuk Hari Minggu Paskah II, "Kemampuan untuk mengasihi seseorang yang telah melakukan kegagalan adalah semata-mata anugerah Roh Kudus." Masih dari renungan Romo Gerry Pierse CSsR di buku yang sama, dikatakan bahwa penerima pertama anugerah Roh Kudus ini adalah diri kita sendiri. Kegagalan-kegagalan dalam kehidupan bisa juga dianalogikan pada kegagalan kita untuk setia pada mantra "Ma-ra-na-tha" dalam perjalanan meditasi kita. Ketika kita menyadari betapa sering kita gagal, tetapi Tuhan tetap setia menantikan kita kembali kepadaNya, mengapa kita harus berlari meninggalkanNya?

Kesuksesan dalam kehidupan sangat tidak jelas definisinya. Kesuksesan bagi seseorang belum tentu berarti kesuksesan di mata orang lain. Tetapi kesetiaan pada kebenaran dan kemanusiaan, kesetiaan pada kasihNya, adalah jalan untuk tetap berada bersamaNya. Bukti kasihNya adalah pengampunan, dan bukti kasih kita bagiNya juga tidak bisa berbeda, pengampunan kepada sesama yang bersalah pada diri kita.

Tuhan Allah dan Bapaku,
Terima kasih atas kasihMu,
Bimbing kami untuk tetap setia padaMu,
Ampuni kami anakMu yang sering gagal dalam pencobaan,
Kuatkan dan bimbing kami ya Bapa,
Anugerahkan Roh KudusMu agar kamipun mampu mengampuni.
Amin.

Saturday, March 30, 2013

Mengosongkan Diri

Dari suasana Tri Hari Suci tahun 2013, dan Meditasi Kristiani tadi pagi, saya merasakan satu hal yang sangat  kuat menghampiri memoriku, "mengosongkan diri." Kata emas yang kupilih menjadi judul ini ternyata dalam kata yang berasal dari bahasa Yunani adalah KENOSIS. Ada perbincangan mengenai Kenosis dari kupasan asal katanya (bisa dibaca di sini), tetapi yang lebih dalam menggurat di batinku adalah pengosongan diri sebagai manusia. Dalam perjalanan ke bukit Golgota, Ia telah melepaskan semua kemegahan yang diterimaNya dalam lambaian palma di hari Minggu sebelumnya. Kemegahan, kekuasaan, dan pengharapan yang tinggi kepadaNya tiba-tiba pupus dan terganti dengan sumpah serapah, serta deraan penyiksaan.

Pergulatanku sekarang ini juga tidak jauh dari kata ini. Mengosongkan diri, mengosongkan keinginan dan harapan pribadi, membiarkan kehendakNya dan jalanNya yang menguasai hidupku. Sebenarnya sudah lama saya merasa membiarkan kehendakNya yang terjadi, dan membiarkan langkahku berjalan di jalan yang kukira adalah jalanNya. Tetapi, dalam satu titik balik kehidupan, ketika merasa ditegur dengan talenta yang dikubur, atau keengganan untuk meminta seperti anak yang sulung dalam kisah anak yang hilang, saya merasa dia juga menginginkan saya untuk memiliki kehendak. Dan saya terbawa arus the Secret, atau Mestakung (semesta mendukung) sehingga bertanya-tanya, "Apakah saya salah tidak menginginkan dan tidak melangkah ke suatu arah yang kuinginkan?" Keinginanku adalah menjalankan keinginanNya, tetapi keinginanNya terkadang tidak mudah kubaca.

Ketika menjalani kehidupan berkeluarga, dan terus mencoba menjadi garam di tengah masyarakat (walaupun tetap dalam skala terbatas) terkadang terasa betapa kehidupan ini sungguh bukan milik kita sendiri. Jadwal yang penuh dan harus diatur begitu rupa, terkadang tidak tahu mana yang lebih penting dan menjadi prioritas bagiNya. Ketika komunitas doa menginginkan waktu bersama, sementara rumah belum juga beres, yang mana yang menjadi prioritas? Ketika pekerjaan atau komunitas kerja membutuhkan waktu tambahan sementara rumah atau doa juga menantikan pembagian waktu, yang mana yang harus didahulukan? Ketika manusia harus sanggup membagikan diri, tentunya perlu memiliki sesuatu baru bisa berbagi...

Manusia terbiasa melihat kesuksesan sebagai suatu hasil perjuangan. Tetapi terkadang ada perjuangan yang tidak ada akhirnya. Pekerjaan rumah tangga dalam keluarga merupakan satu contoh jelas mengenai perjuangan yang tiada akhirnya. Baru selesai dengan satu macam pekerjaan, maka pekerjaan yang lain sudah menanti, tidak ada hentinya. Padahal bila tinggal sendirian tentunya lebih mudah untuk mengatur pekerjaan rumah tangga itu. Pendidikan anak juga terkadang menjadi perjuangan yang terasa tak berkesudahan. Anak-anak yang diberi pengajaran tampak bagaikan tak menghasilkan buah-buah prestasi. Bahkan kalau dipikirkan lebih dalam, sebagai anak, saya juga masih tidak kurang menyusahkan orang tua. Apalagi kalau melihat anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, bagaimana orang tua membutuhkan berkat berlebih untuk tetap tegar dalam berjuang bersama anak-anak mereka.

Dalam kelelahan perjuangan itu terkadang terasa betapa semua mencoba menyerap energi kita, dan kita serasa kosong tidak memiliki ruang untuk diri sendiri. Mengosongkan diri tanpa menjadi kosong, rasanya itu yang lebih tepat untuk dijalani. Mengosongkan diri bagi kemuliaan namaNya, tetapi tidak akan pernah kosong karena Ia sendiri yang senantiasa mengisi kekosongan itu, entah dengan kekuatan ketika kita merasa lemah, atau dengan ketabahan ketika kita merasa terhempas, serta kedamaian yang menjadi sumber sukacita bahkan di dalam kesedihan terdalam.

Bapa,
Ampuni kami orang berdosa,
Dosa-dosa kami yang menyalibkan Kristus,
yang membuatNya didera dan diejek,
yang membuatNya terjatuh dan tak bertenaga,
yang membuatNya dicaci dan ditikam,
yang membuat kehidupanNya nampak bagai kegagalan di mata dunia,
tetapi bagai benih kehidupan yang jatuh...mati...dan berbuah banyak,
Kuatkan kami ya Bapa,
agar mampu meneladani Yesus Kristus, Sang Penebus,
yang setia sampai akhir perjalanan,
yang tiada pernah memalingkan wajah dari BapaNya,
Allah ampunilah kami orang berdosa,
Amin.


Thursday, March 14, 2013

Habemus Papam

Paus yang baru sudah terpilih! Paus yang akan menggantikan Paus Benediktus XVI ini memilih nama Fransiskus I. Semoga dalam perjalanannya beliau senantiasa dikuatkan. Nilai-nilai yang ingin disampaikannya  melalui nama Fransiskus ini sangat penting dalam pergerakan zaman yang semakin cepat. Kehidupan di era internet ini semakin cepat bergerak meninggalkan sifat rendah hati dan sederhana. Saya belajar banyak dari sosial media dan kehidupan blogger. Untuk bisa tampil di dunia maya, membuat orang harus belajar mempromosikan diri sendiri. Pergerakan ini terkadang bisa menyeret menjauh dari tujuan awal untuk berpihak pada orang miskin dan terpinggirkan.

Dalam setiap pelantikan pemimpin baru, saya melihat bagaimana para pemimpin ini menjadi aus tergerus masalah-masalah yang setiap hari harus dihadapinya. Pemimpin yang idealis terkadang teriris idealismenya dan terpaksa ikut ke dalam arus kehidupan yang membuatnya menjauh dari orang-orang yang semula menjadi konstituennya.

Paus, merupakan pemimpin yang sedikit berbeda. Orang Katolik percaya bahwa Tuhan ikut ambil bagian dalam pencapaian kata sepakat dalam konklaf. Umat Katolik di seluruh dunia berdoa agar pilihan para kardinal merupakan hasil yang dicapai dengan bantuan Roh Kudus.

Walaupun Paus Fransiskus I tidak lagi muda, setidaknya tugas terberatnya adalah menjalin komunikasi dengan kaum muda gereja. Saya masih ingat ketika Paus Yohanes Paulus II baru terpilih, saya begitu antusias untuk membaca tulisan-tulisannya yang ditujukan kepada kaum muda. Tetapi kaum muda saat ini sudah jauh berbeda dengan generasi angkatan saya. Kaum muda yang tergerus arus globalisasi ini, terkadang tidak lagi memiliki benteng pertahanan yang kuat untuk membendung arus yang tidak sesuai dengan prinsip dasar agama Katolik. Kaum muda urban, yang dibesarkan oleh orang tua sibuk karena tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, dan seringkali tidak sempat mendapatkan akar yang mendalam. Bahkan bagi saya sendiri yang bergiat di dalam pembinaan anak-anak dan remaja, untuk menjamin pertumbuhan nilai Katolik yang ada pada anak-anak saya sendiri, mungkin tidak bisa saya berikan. Kondisi saat ini membuat mereka lebih kritis dan lebih mandiri dalam membuat pilihan-pilihan kehidupan. Satu-satunya bekal yang mampu kami, orangtua, berikan adalah pengertian mendasar. Selebihnya tidak bisa dipaksakan. Kalau mereka merasa bosan dengan liturgi yang menurut mereka monoton, tidak ada lain yang bisa kami lakukan selain memperkenalkan maknanya secara lebih mendalam. Tapi, pada akhirnya mereka sendiri yang membuat keputusan dalam mengembangkan iman Katolik mereka.

Saya juga masih tidak melupakan rasa kasihan saya melihat Paus Yohanes Paulus II gemetar ketika memberikan berkat Urbi et Orbi (to the city and to the world). Betapa Tuhan menggunakan beliau hingga ke ujung jalan salibnya. Semoga Tuhan senantiasa membimbing Paus Fransiskus I dalam perjalanan pelayanannya.

Bapa,
kuatkan hamba-hambaMu
supaya mereka setia dalam kaul sucinya,
dan mampu membimbing kami dalam perjalanan kami,
Terutama berkatilah Bapa Suci Paus Fransiskus I
agar beliau diberi kebijaksanaan dan kekuatan untuk
menjadi batu karang Gereja,
dan memimpin kami menuju terangMu yang abadi.
Amin.




Wednesday, March 13, 2013

Janji Bagi Bunda

Pada hari Selasa, 12 Maret 2013, ketika teman-teman yang beragama Hindu memasuki tahun baru Saka dalam keheningan Nyepi, saya juga memasuki suatu langkah baru dalam kehidupan rohaniku. Hari itu pertama kalinya saya mengikuti Misa Acies, dan memberikan janji kepada Bunda, "Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku dan segala milikku adalah kepunyaanmu."

Sebenarnya Bunda Maria adalah Ibu yang paling dekat bagiku. Ketika kegelapan menghampiriku dan aku tidak mampu menemukan Yesus, maka Bunda Maria yang datang mempertemukanku dengan Putranya. Keheningan yang kuperoleh dalam adorasi ekaristi di Lourdes menjadi sumber mata air yang menguatkan di kala kehidupan rohaniku diterpa badai padang gurun. Keheningan di dalam hadiratNya menjadi sumber cahaya dalam kegelapan yang menerpa.

Keinginan untuk ikut Legio Maria sebenarnya sudah sering samar-samar terdengar di batinku. Tetapi ketakutan akan sulitnya membagi waktu senantiasa membuatku takut berkomitmen. Saat inipun sesungguhnya saya hanya ikut sebagai anggota auksilier. Bahkan untuk datang mengikuti misa acies ini sudah melalui godaan besar untuk melewatkannya. Pekerjaan di rumah bertumpuk, dan anak-anak yang sendirian dan harus belajar untuk ulangan umum menjadi pembenaran untuk tidak perlu hadir. Tetapi sesungguhnya hal yang mendasar adalah ketidak pantasan untuk hadir. Selama ini saya belum sanggup sungguh-sungguh disiplin dalam menjalankan doa tesera harian. Untunglah akhirnya saya sampai juga dan mengikuti seluruh rangkaian misa, termasuk mengucapkan janji bagi Bunda. Janji adalah utang, semoga Bapa memberikan rahmatNya bagiku untuk dimampukan setia dalam pelaksanaan janjiku.

Yang lucu, namaku yang tercatat di Presidium salah. Seharusnya Maria Margaretta, karena mengikuti nama permandianku yang berasal dari Marguerite Marie Alacoque, tetapi sekretaris presidium mengira namaku Marta. Rasanya memang saya terlalu banyak meniru Marta daripada Maria. Sudah saatnya untuk lebih bijaksana dalam membagi waktu (walau tidak mudah rasanya, karena lingkungan yang terus dipecah ini membuat tugas lingkungan bertumpuk pada kelompok kecil sehingga terkadang terasa tidak mungkin untuk bergerak ke luar).

Salah satu pendorong utama langkahku menjadi anggota auksilier Legio Maria ini adalah kepergian seorang teman. Kepergiannya di usia yang masih muda, meninggalkan anak-anak dan suaminya, sungguh mengguncang batinku. Kebetulan dia sejak muda menjadi anggota Legio Maria. Ketika mengantar kepergiannya, kami menyanyikan lagu, " Jikalau gandum tak jatuh di tanah, tetap sebiji tak banyak buahnya..." (baca juga Mati untuk Menghasilkan Buah). Karena kepergiannya di bulan Oktober bertepatan dengan jadwal rosario lingkungan, maka doa rosario kami dimasukkan ke dalam bagian doa tesera teman-teman Legio Maria. Saat itulah keinginan untuk menjadi buah bagi kesaksian hidupnya terasa. Dan ternyata saya tidak sendirian, seorang tetangga dekatnya juga merasakan hal yang sama, dan kami bertemu kembali dalam misa acies ini. Semoga kami sanggup sungguh-sungguh menjadi buah yang pada waktunya juga akan mati dan berbuah kembali.

Bapa yang Maha Baik,
Semoga kasihMu menguatkan kami,
dan rahmatMu membantu kami disiplin dalam melaksanakan doa,
dan menguatkan untuk berpasrah dalam janji kepada Bunda.
Agar kami dengan perantaraan Bunda dihantarkan kepada Tritunggal Yang Maha Kudus,
dan dimampukan untuk berjuang bagi kebenaranMu.
Amin.



Mengikut Bapa Sebagai AnakNya

Bacaan Injil mengenai Anak yang Hilang tentunya sudah sangat dikenal oleh orang Kristiani. Sangat menarik bahwa kisah ini memiliki berbagai dimensi yang 'berbicara' pada saat yang berbeda. Ketika pertama kali membaca kisah ini, tokoh yang sangat dekat dengan diri saya adalah si bungsu. Perasaan menjadi si bungsu yang dengan sembrono menuntut haknya sebagai anak, dan kehilangan pegangan dan kasih sang Bapa, sangat lekat menyapa.

Kemudian suatu ketika di tengah meditasi Kitab Suci, tiba-tiba tertegur akan kelekatanku pada figur anak sulung Bapa (Baca: Anak Sulung yang Hilang). Anak yang merasa sebagai anak Bapa, tetapi berlaku tidak lebih dari hamba sahayaNya. Ia mengabdikan kehidupannya pada Bapa karena mengharapkan upah dari Bapa, dan merasa kecewa ketika Bapa memotong kambing dan berpesta untuk adiknya yang pulang ke rumah. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa ia adalah anak Bapa, dan segala milik Bapa boleh dipergunakannya. Iri hati menutupi matanya. Kesombongan akan pengabdiannya membuat ia tidak mau masuk ke dalam rumah Bapa untuk menyambut adiknya yang pernah hilang.

Kali ini beberapa kali mendengarkan bacaan ini menjelang hari Minggu Prapaskah, baik dalam meditasi, dalam pertemuan Pendalaman Iman Prapaskah, dan di dalam misa hari Minggu, saya tersentil akan kebaikan Bapa. Dalam kehidupan berumah tangga, menjadi orangtua memang lebih mendekatkan pada peran Bapa. Kemampuan untuk bersikap bijaksana, dan adil kepada semua anak. Kerendahan hati untuk menerima kembali anaknya yang hilang. Ia tidak ragu untuk keluar menjemput anak bungsu yang sudah bersikap durhaka, dan Ia juga tidak ragu untuk keluar menemui si sulung yang tidak mau masuk ke dalam rumah. Ia tidak memperdulikan otorita sebagai orangtua.

Kalau biasanya saya merasa dekat pada tokoh-tokoh dalam kisah ini karena mengingatkan akan kedekatan mereka dengan diri saya, maka kali ini kedekatan dengan tokoh Bapa lebih karena Ia mengingatkan saya akan kekurangan saya sebagai orangtua. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna." (Mat 5:48) Ketika saya tidak mampu untuk bersikap seperti Bapa di dalam rumah, bagaimana mungkin saya bisa meniruNya di luar rumah?

Membaca Injil Matius 5:43-48 membawa saya lebih dalam pada kerahiman Ilahi. Ia menerbitkan matahari bagi orang yang baik dan orang yang jahat, menurunkan hujan bagi orang yang benar dan yang tidak benar. FirmanNya menanyakan, "Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?"

Rasanya sungguh sulit untuk dapat menjadi seperti Bapa, tetapi sebagai anakNya tentu kita boleh berharap memperoleh rahmatNya agar dimampukan mendekati kesempurnaan Bapa.

Bapa yang Maha Baik,
Terima kasih atas pencerahanMu bagi kami,
Mohon rahmatMu agar kami dimampukan untuk bersikap sepertiMu
untuk sungguh-sungguh menjadi anakMu
dan mewarisi kesempurnaanMu.
Amin.

Bebaskan Hatimu

Buku doa Fransiskus dari Sales ini sangat sesuai dengan kebutuhanku saat ini. Salah satu dari buku serial doa 30 Hari Bersama Mahaguru Spiritual ini membawaku membuka lembaran-lembaran baru di awal tahun 2013.

Di hari pertama, doanya sudah sangat menyentil diriku, "Jangan tergesa-gesa, langkah yang tergopoh-gopoh bisa tersandung." Tapi, yang paling berkesan adalah hadirnya teguran Yesus kepada Marta, "Marta, Marta, engkau terlalu khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak persoalan." Teguran ini langsung terasa sebagai teguran bagi diriku, yang tampaknya lebih sering mengikuti langkah Marta daripada langkah Maria. Teguran di awal tahun ini memang seperti khusus diberikan untuk refleksi bagi diriku,

Pesan di hari kedua adalah "Biarkan Allah melakukan bagianNya. Bersabarlah." Terkadang sebuah proses tidak tampak mengarah pada hasil yang berdampak baik, tetapi di balik itu ada rencana Allah. Dan, sering kali kita tidak cukup pandai untuk membaca rencanaNya, atau mungkin juga Ia membiarkan kita untuk mencoba meletakkan segala harapan dan kekhawatiran kepadaNya. Ia menginginkan pengakuan iman kita.

Bacaan harian yang reflektif dari buku ini sangat membantu untuk membawa pembaca ke dalam keheningan hati dan membantu melihat ke dalam hati yang lebih bening.


Tuesday, January 01, 2013

Belajar dari Keluarga Kudus

Hal yang menjadi panutan bagi keluarga Katolik dalam pernikahan tentunya adalah Keluarga Kudus dari Nazareth. Bagaimana keluarga yang sederhana ini menjalankan kehendak Tuhan sejak sebelum Maria dan Yosep membentuk keluarga. Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel sebagai kabar suka cita walaupun saat itu ia belum lagi bersuami. Yosep yang sempat ingin meninggalkan Maria, dengan taat dan rela hati menjaga keluarga kudus yang dipercayakan kepadanya.

Tanggal 26 Desember kemarin saya berkesempatan menghadiri pernikahan kudus seorang teman. Menghadiri sakramen pernikahan, selain memberikan selamat kepada keluarga baru, juga memberi peneguhan akan janji pernikahan yang pernah kuucapkan dahulu. Homili dari pastur hari itu mengingatkan untuk senantiasa mengingat faktor positif/kebaikan yang membuat pasangan memutuskan untuk menjelang hari depan sebagai satu pasangan. Tidak bisa disangkal bahwa kehidupan pernikahan senantiasa penuh dengan gejolak naik dan turun. Tidak jarang grafik turun yang melorot drastis juga menghampiri pernikahan. Terkadang hal yang menarik dari pasangan, yang biasanya merupakan sifat yang bertolak belakang dengan sifat kita, malah menjadi bumerang dalam kehidupan bersama. Pasangan yang baik dan ramah, yang semula menjadi faktor pendekat, bisa menjadi sumber kecemburuan di kemudian hari. Itulah pentingnya untuk senantiasa mengingat faktor positif yang kita temui di dalam diri pasangan, dan mengingatnya pada saat hubungan sedang sulit.

Sebenarnya pernikahan Katolik yang satu dan tak terceraikan terkadang menimbulkan tanya di benakku. Beberapa teman yang tampaknya membuat pilihan yang salah, ketika menikah kembali malah mendapatkan pasangan yang lebih sesuai, dan tampak lebih bahagia. Salahkah bila orang mencari kebahagiaannya? Demikian juga dengan para rohaniwan yang tidak lagi setia pada kaulnya. Bukankah ini sama dengan pasangan yang berselingkuh? Atau bahkan bercerai? Maria dan Yosep sudah bertunangan, bahkan belum menikah ketika diketahui bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus. Suatu bencana yang besar tentunya, tetapi Yosep yang mendengarkan kehendak Allah kembali setia kepada kehendakNya sehingga dapat mewujudkan rencana penyelamatan. Inilah inti dari pesan Allah bagi kita, "Carilah dahulu kerajaan Allah..." Pilihan-pilihan yang hendak dilakukan dalam setiap fase kehidupan hendaknya bersandar pada kehendakNya, mencari kerajaan Allah. Dan ketika badai menerjang bahtera pernikahan, bertahanlah dengan kepasrahan kepada kehendakNya.

Mengetahui kehendak Allah tidaklah mudah. Bacaan Injil di Hari Raya Keluarga Kudus mengingatkan akan hal ini. Dalam Injil Lukas 2:41 -52 diceritakan bagaimana Yesus tertinggal di Bait Allah. Ketika Maria menegurNya, "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan cemas mencari Engkau." Jawab Yesus, "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?" Dikatakan dalam ayat selanjutnya, "Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakanNya kepada mereka." Begitulah sulitnya mengetahui kehendak Allah. Ketika manusia tercekam dalam dalam kecemasan dan ketakutan, atau terobsesi pada tujuan hidup yang diinginkannya, maka sering kali kehendakNya tidak lagi terlihat jelas. Dalam buku "Bebaskan Hatimu" dari seri 30 hari bersama mahaguru spiritual Fransiskus dari Sales, dikatakan bahwa kecemasan batin yang berlebihan membuat kita mudah marah dan panik. Itulah yang dialami Petrus yang hampir tenggelam, itulah yang juga sering kali membuat hambatan komunikasi antar pasangan. Serahkan semua kecemasan kepada Tuhan, saksi utama pernikahanmu, dan biarkan keajaibanNya membimbing bahteramu berjalan menempuh lautan kehidupan, di saat teduh, berombak, maupun berbadai besar. Kecemasan Yosep dan Maria ketika kehilangan Yesus selama 3 hari tentunya membuat mereka tidak mengerti kehendak Allah pada saat itu.

Dalam sebuah bacaan yang lain saya membaca bahwa badai di tengah laut menambah keterampilan seorang pelaut. Sang penulis mempertanyakan hal itu, menurutnya di saat yang teduh dan tenangpun seorang pelaut bisa bertambah terampil. Yang terpikir saat itu, adalah kenyataan dalam kehidupan, bahwa saat badai mengamuk dan pelaut bersusah payah mengendalikan kapal atau perahunya, adanya kepasrahan pada kehendakNya akan membawa ketenangan batin yang memandu sang pelaut untuk menggunakan keterampilan terbaiknya. Dalam keadaan tenang, seringkali manusia mendahulukan egonya, dan melupakan kehadiranNya. Ego sebagai orangtua seringkali membuat ayah atau ibu bersikap otoriter terhadap anak. Kita  seringkali lupa bahwa kita hanyalah busur yang membantu melontarkan anak panah sesuai kehendakNya.

Tuhan,
Terima kasih atas kehadiran keluarga kudus,
yang mengingatkan kami akan kesederhanaan,
akan makna membaca kehendakMu,
dan ketaatan pada kehendakMu.
Berkatilah keluarga-keluarga yang telah Kau persatukan,
semoga buah-buah cinta kasih senantiasa tumbuh dan berkembang
membangun dunia yang penuh damai sejahteraMu.
Amin.




Sunday, December 30, 2012

Belajar dari Pilatus

Kekosongan blog ini bagaikan menggambarkan padang gurun pengembaraan meditasi yang sedang kulalui. Sejak bulan Juli saya mulai bekerja penuh waktu, dan hal itu mempengaruhi banyak hal dalam manajemen waktuku. Terkadang ada hal yang ingin kucatatkan di sini, tapi tidak sempat, sampai akhirnya terlupakan dan berlalu begitu saja.

Hari ini saya merasa sangat perlu untuk menuliskan catatan dari FirmanNya hari ini. Pagi hari tadi sebenarnya kubuka dengan kemalasan. Kemalasan membuat aku bangun lebih siang, dan tidak pergi misa pagi. Pembenaran diriku adalah perlunya aku menyeimbangkan waktu untuk di rumah dan di luar rumah. Jadi pagi-pagi mengerjakan pekerjaan di rumah dahulu, dan menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak sebelum pergi Meditasi Kristiani (MK) bersama komunitas. Mampir dulu di dokter untuk mengambil nomor antrian untuk konsultasi. Hampir sebulan batuk pilekku tidak kunjung sembuh. Alhasil, tiba di tempat MK terlambat. Tapi beruntung saya belum terlalu terlambat, sehingga masih bisa mengikuti pembacaan Injil Yohanes 18:33-37, Yesus di hadapan Pilatus.

Mungkin, ayat yang paling menyentuhku adalah ayat 34: "Apakah yang engkau katakan itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?" Tapi seperti biasa renungan ayat belum bisa berbicara banyak kalau saya belum memasuki tahapan meditasi. Tapi, karena metode MK yang berbeda dengan Lectio Divina, maka sharing yang keluar pada tahap awal biasanya lebih banyak berasal sebagai tanggapan kepada sharing anggota komunitas lainnya.

Dalam buku Jalan Menuju Kehidupan 2 dari Pater Gerry Pierse CSsR digunakan judul "Kebenaran di Pengadilan". Sekali lagi saya bertemu dengan contoh pilihan bebas manusia. Kalau pilihan bebas Yudas senantiasa membuatku berpikir mengenai takdir, maka pilihan bebas Pilatus baru kali ini terpikirkan. Pertanyaan Pilatus yang tak terjawab di ayat 38a, "Apakah kebenaran itu?", juga sangat menyentuhku. Sebenarnya bagian ini tidak termasuk bagian yang dibacakan untuk Injil minggu ini, tetapi saya seringkali senang membaca ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat yang dibaca, bahkan juga versi pencatatan Injil dari penulis Injil lainnya.

Seringkali kita tidak mengenali kebenaran, karena kebutaan atau ketulian kita terhadap FirmanNya. Terkadang kita tidak mengenali kebenaran karena memang kita tidak berusaha mencari kebenaranNya. Kemaha-tahuan Allah akan pilihan yang akan diambil manusia seringkali membuat saya merasa bahwa itulah takdir. Tanpa peran Yudas dan Pilatus maka tidak akan ada penyaliban, dan tidak akan ada penyelamatanNya. Pilatus yang memilih untuk membasuh tangan, menyerahkan Yesus pada keputusan akhir orang-orang Yahudi. Seringkali kita juga mencoba membasuh tangan agar terhindar dari konsekuensi buruk yang menghadang. Saya teringat akan pesan seorang Romo ketika saya bertemu beliau di dalam sakramen pengakuan dosa. Beliau mengatakan bahwa untuk merubah sistem, dibutuhkan orang yang mau bekerja dari dalam sistem. Sementara ini pengalaman saya membuat saya cenderung untuk keluar dari sistem. Bukankah itu adalah sebuah cara yang dipilih Pilatus? Membasuh tangan, merasa tidak ikut menyalibkanNya, sementara sebenarnya ia merupakan satu mata rantai penting dalam proses penyaliban itu?

Dari buku Pater Gerry, ada hal lain yang menarik perhatianku, yaitu: "Mereka yang dapat memberi tanpa mengingat, dan menerima tanpa melupakan akan diberkati." Seringkali saya mengingat jasa yang sudah saya berikan pada orang lain, padahal seharusnya kebaikan yang kulakukan demi nama Yesus tidak perlu saya ingat-ingat, apalagi untuk menagih balasannya. Sementara itu bisa menerima tanpa melupakan juga berarti saya senantiasa mengingat kehadiran malaikat-malaikat yang nyata dalam kehidupanku. Seringkali terasa berat untuk menerima bantuan orang lain. Mungkin pada saat itu sebenarnya yang ada adalah keterikatan pada teori "mata ganti mata, gigi ganti gigi"...bukan pada aspek ganti rugi kerugian, melainkan justru pada aspek utang budi. Ketika menyadari bahwa kita berutang maka kita merasa perlu untuk membalaskannya, sehingga terasa berat ketika kita merasa tidak mampu untuk itu. Tapi tidak jarang pula kita merasa orang yang bernasib kurang baik, memang harus dibantu oleh orang yang lebih beruntung. Hal ini malah membuat kita menerima kebaikan orang sebagai kewajiban mereka dan hak kita. Kita cenderung melupakannya. Karena itu nasehat untuk memberi tanpa mengingat (tanpa mengharap balasan) dan menerima tanpa melupakan (senantiasa siap berbagi karena kita juga diberkati) merupakan berkat kasihNya yang hidup.

Bapa yang Maha Baik,
terima kasih atas berkatMu hari ini,
Yudas dan Pilatus mengingatkanku akan makna sebuah keputusan,
akan proses yang dijalani dalam kehidupan,
dan akan makna untuk selalu berjalan bersamaMu.
Terima kasih atas pencerahanMu,
peganglah tanganku dan jangan biarkan terlepas ya Bapa...
Karena kasihMu yang besar,
memperkaya kehidupanku,
Bantulah aku membagikannya kepada keluarga, teman, dan lingkunganku.
Jadikanlah pilihan-pilihanku bermakna bagi kemuliaanMu.
Amin.


Sunday, August 19, 2012

Arti kemerdekaan

Sebenarnya renungan ini adalah renungan dari hari kemerdekaan Indonesia yang ke 67, pada tanggal 17 Agustus 2012. Renungan ini tidak berasal dari kegiatan meditasi, melainkan semata-mata renungan setelah misa pagi atas bacaan hari itu. Ada dua ayat dari bacaan yang berbeda yang sangat menarik perhatianku hari itu. Yang pertama adalah bacaan dari 1 Petrus 2:16 "Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalah-gunakan kemerdekaan itu untuk meyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah." Ayat yang kedua adalah dari Kitab Sirakh 10: 3 "Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya."

Seringkali kemerdekaan bagi kita adalah kebebasan untuk melaksanakan kehendak sendiri. Sebenarnya apa yang baik dan yang tidak baik senantiasa relatif bila dipandang dari sudut pandang manusia. Hanya nilai-nilai Tuhan yang absolut. Manusia seringkali mencari jalan yang menguntungkan dirinya sendiri. Sementara, jalan Tuhan senantiasa mengenal kedalaman hati manusia, dan membuat jalan keselamatan bagi banyak orang. Bacaan ini mengingatkan kembali akan pergumulanku mengenai discernment. Seringkali sebagai manusia saya tidak mau mengambil keputusan karena menginginkan keputusanNya. sesungguhnya Ia memerdekakan manusia untuk memilih jalan masing-masing, tetapi tetap berjalan di dalam jalanNya. Hiduplah bersamaNya dan kenalilah kehendakNya, maka resiko dari setiap keputusan penting yang diambil bersamaNya tidak akan dibiarkanNya untuk dipikul sendirian.

Kutipan dari Kitab Sirakh mungkin lebih berbicara bagiku karena statusku sekarang ini yang bekerja penuh sebagai guru. Sebuah film mengenai guru dari DAAI TV "Untukmu Bintang" pernah membukakan sudut pandang baru dalam pelayanan. Waktu itu pemeran utamanya mengatakan bahwa anak-anak dari kalangan menengah ke atas ini suatu saat pasti menjadi pemimpin di lingkungan maupun negaranya. Karena itu, sangat penting untuk memberikan mereka pendidikan yang baik, terutama dari segi moral dan sikap dalam kelompok. Ketika itu saya seperti mendapat pencerahan. Tidak selamanya pelayanan itu berarti melayani anak-anak yang kurang pandai, atau kurang mampu. Anak-anak yang pandai dan berasal dari keluarga yang berkecukupan bisa jadi juga sangat membutuhkan pelayanan tersebut. Tuhan sudah membuatkan jatah pelayanan bagi setiap orang. Ada masa-masa yang harus dilalui sebagai proses dalam kehidupan. Pelayanan yang mana yang kita pilih merupakan pilihan dalam kehendak bebas kita, tetapi tanpa melupakan keinginanNya. Tugas untuk mendidik pemimpin-pemimpin yang arif merupakan tugas besar dariNya, dan tidak mudah untuk melaksanakannya. Karena pendidikan bukan hanya sekedar berkata-kata dan mengajarkan, melainkan juga melakukan dan memberi contoh yang terbaik.

Tuhan, terima kasih sudah memberiku pencerahan...
Membukakan hati dan pikiran terhadap perjalananku...
Melangkah dan melayani dengan menyesuaikan diri pada proses yang kujalani,
Semoga berkatMu senantiasa menguatkan dan memberiku kebijaksanaan ya Tuhan...
Amin.

Saturday, July 14, 2012

Melepaskan kelekatan

Beberapa hari terakhir ini, tampaknya Ia membimbingku untuk lebih mengerti makna dari melepaskan kelekatan. Beberapa perjumpaan, beberapa perbincangan telah mengarahkanku pada pencerahan mengenai melepaskan kelekatan manusiawi. Dan, terakhir adalah dari bacaan Injil untuk hari Minggu nanti "Yesus mengutus kedua belas rasul" (Markus 6:7-13). Dalam ayat 8 telah ditegaskan pesan Yesus bagi murid-muridNya untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan mereka. Karena sedang terinspirasi pada pelepasan kelekatan maka Injil ini juga sangat mendukung pemahamanku.

Kelekatan manusiawi pertama-tama mungkin adalah harta benda. Sebagai anak kecil, ketika mainannya direnggut maka ia akan menangis. Ketika ibunya atau pengasuhnya pergi maka ia akan menangis. Ketika itu mungkin ia masih memandang ibunya sebagai miliknya seorang. Lambat laun ia akan mengenal perhatian dan kasih dari orang-orang di sekitarnya.

Kemudian muncullah kebutuhan akan mendapatkan perhatian yang lebih besar lagi dari orang-orang di sekitarnya. Perhatian yang tidak diperoleh di rumah akan dicarinya di antara teman-teman atau kenalan lainnya. Menjadi artis cilik seringkali mengakibatkan terjadinya kelekatan terhadap sanjungan dan perhatian ini. Hal ini yang tampaknya membuat depresi banyak mantan artis cilik ketika mereka beranjak dewasa dan kehilangan daya pesona yang pernah menjadikan mereka pusat perhatian.

Kehausan akan ilmu juga bisa menjadi sebuah kelekatan. Biasanya hal ini juga memiliki hubungan dengan perhatian yang diberikan oleh orang lain yang menghormati orang yang pandai. Tidak jarang kelekatan bisa berasal dari pekerjaan atau kesukaan yang dikerjakan secara harian. Sungguh banyak sumber kelekatan manusia.

Di dalam Injil Matius dan Lukas (yang merupakan Injil Sinoptik dari Injil Markus) dikatakan bahwa murid Yesus tidak boleh membawa baju dua helai, kasut, maupun tongkat. Tetapi Injil Markus mengingatkan untuk tidak membawa apa-apa kecuali tongkat. Untuk jalan yang berbatu-batu tentunya dibutuhkan tongkat. Jadi pastilah ada yang melewati jalan datar berdebu, dan ada yang melalui jalan berbukit dan berbatu yang membutuhkan tongkat. Inti dari ketiga Injil ini tetap sama yaitu jangan membawa bekal. Tuhan akan menyediakan kebutuhan para murid melalui orang-orang yang dijumpainya.

Sungguh menguntungkan bila kita bisa terbebas dari kelekatan duniawi, apapun bentuknya, dan hanya berserah pada Tuhan saja.

Tuhan,
sumber segala harta dan kekayaan di dunia,
tiada harta, ilmu, maupun perhatian yang lebih besar dari kasihMu,
yang rela berkorban hingga rejaman, nistaan, dan maut merenggut.
Kuatkan kami untuk melepaskan kelekatan,
Kecuali pada kecintaan pada Hati KudusMu....
Amin.

Wednesday, April 04, 2012

Mati untuk menghasilkan banyak buah

Renungan dari Minggu Prapaskah V adalah dari Injil Yoh 12:20-33 Yesus meberitakan kematianNya. Ayat 24 mengatakan; Aku berkata kepadamu "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah..." Ayat ini sangat berarti bagi saya pribadi. Dalam perjalanan kehidupan ini, dengan pilihan untuk lebih mendahulukan keluarga terkadang terasa menguburkan berbagai mimpi dan cita-cita yang di masa remaja kumiliki. Kemudian pilihan untuk melayani keluarga saja atau ikut serta melayani di lingkungan dan masyarakat, juga menjadi pilihan yang seringkali menghabiskan waktu dan tenaga. Di dalam keterbatasan waktu dan tenaga, melayani orang lain bisa jadi menjadi pembunuhan ego kita sendiri. Ketika kita hanya melayani ego kita sendiri maka kita tidak melayani untuk Tuhan. Sama seperti Marta (lukas 10:38-42) yang melayani orang banyak dengan ego sebagai tuan rumah yang sempurna maka pelayanannya menjadi tidak berarti. Demikian pula bila Maria hanya duduk mendengarkan Yesus untuk menghindari pelayanan atau hanya untuk menjadi yang paling pandai di hadapan Yesus maka Firman juga akan terbuang tak berguna. Menjadi biji yang mati, yang tampak tidak berharga, tidak berarti, tetapi dalam kasihNya disirami dan bertumbuh serta berbuah banyak. Itulah yang diajarkanNya dengan pemberitahuan ini.

Ayat 27 mengandung satu perkataan yang sangat dekat dengan kemanusiaanku. "Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini?" Betapa sering dalam pergulatan kehidupan saya memohon padaNya untuk dikeluarkan dari kesukaran itu? Injil-injil sinoptik menceritakan kisah Yesus di Taman Getsemani. "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." (Luk 22:40), "Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu; tetapi bukan kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi."(Luk22:42) Kemanusiaan Yesus memberiNya ketakutan akan penderitaan yang akan dialamiNya, tetapi Ia bertekun ke dalam doa (Luk 22:44). Matius dan Markus mencatat seruan Yesus, "Eloi, eloi lama sabakhtani?" (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) Berapa sering kita merasa bahwa Allah meninggalkan kita sendirian? Masalahnya seringkali kita merasa ditinggal sendirian bukan karena Ia tidak ada, melainkan karena Ia yang hadir di dalam hati kita tidak kita perhatikan karena kita mengharapkan kehadiran Mesias yang menyelamatkan, kehadiran Allah yang membebaskan kita dari penderitaan. Kita tidak mengingat Roh Kudus yang menguatkan kita dalam pergumulan kehidupan ini, kita tidak merasakan tanganNya yang membimbing kita berjalan dengan teguh bila kita bertekun dalam doa.

Ibu Teresa dalam buku Come Be My Light menceritakan krisis iman yang dialaminya. Sebagai manusia perasaan ketakutan ketika ditinggalkan sendirian merupakan penghalang terbesar dalam ketekunan melanjutkan pelayanan. Ketakutan akan pilihan langkah yang salah senantiasa menghantui dan membawa keragu-raguan. Padahal, Yesus sudah memberikan contoh yang sangat jelas. Biji harus jatuh dan mati baru dapat tumbuh dan berbuah banyak. Tidak ada panen yang berlangsung dengan instan. Semua petani tahu benar betapa sulitnya menjaga tanah pertanian. Bagaimana ketekunan dalam mengolah tanah dan menebar biji bukan akhir dari suatu proses. Biji yang mati di dalam tanah tetap membutuhkan pupuk dan siraman untuk menjadi besar dan berbuah. Sebuah proses yang panjang dan tidak mudah. Tuhan membentuk pribadi kita masing-masing melalui sebuah proses yang panjang, yang disesuaikanNya dengan kebutuhan kita masing-masing.

Bapa,
terima kasih atas penyertaanMu
dalam kehidupan kami,
dalam masa gembira dan masa sedih,
dalam kejayaan dan penderitaan,
kami percaya bahwa semua itu diberikan agar kami bisa berbuah banyak.
Amin.

Tuesday, March 27, 2012

Jesus Loves Me



Thursday, March 15, 2012

Anak Sulung yang Hilang

Kita sudah terbiasa mendengar kisah anak yang hilang. Tatkala membaca Injil Lukas 15:11-32 mengenai anak yang hilang, yang mencolek kali ini justru kisah si anak sulung. Ayat 29 memperdengarkan kisah si anak sulung "Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersuka cita dengan sahabat-sahabatku..."

Masa Prapaskah ini memang mengajak kita untuk bertobat, seperti anak bungsu yang hilang dan kembali pada Bapanya. Tetapi mungkin tidak terpikirkan dalam benak kita, betapa kita juga seringkali menjadi seperti si anak sulung. Seringkali kita berbuat baik untuk mendapatkan pahala dari Bapa di surga. Bagi saya sendiri keinginan untuk menyenangkanNya rupanya masih banyak berkaitan dengan hadiah pahala di surga ini. Itu yang terbersit ketika aku tiba-tiba menyadari posisi seperti anak sulung yang menuntut Bapa karena tidak memberikan hadiah bagiku yang setia menemaniNya. Padahal seberapa setiakah aku? Seberapa kenalkah aku pada kerahiman HatiNya? SukacitaNya karena anak yang hilang sudah kembali malahan meletupkan cemburu di hati karena orang lain terberkati untuk kembali kepadaNya.

Mengapa aku masih merindukan hadiah? Masih menginginkan diberi dan dilayani, padahal Bapa sudah mengatakan "Anakku, engkau selalu bersama-sama Aku, segala kepunyaanKu adalah kepunyaanmu." Betapa beruntungnya aku karena segala milikNya adalah milikku. Mengapa pula aku menjadi bagaikan hamba sahaya yang menuntut karena tidak mendapatkan hak?

Bapa yang mararahim.
ampunilah anakMu
yang masih menuntut padahal tidak pernah meminta
yang merusak kegembiraan surgawi dengan cemburu dan iri hati
yang menilai orang lain tanpa mampu merefleksikan kekurangan diri.
Tuhan, kasihanilah kami.
Amin.

Membersihkan Hati - Membersihkan Bait Allah

Bulan Februari lalu saya terlalu sibuk untuk menuangkan semua yang saya peroleh dari pertemuan meditasi ke dalam blog ini. Yang paling sering memang terjadi adalah pergumulan antara prioritas yang didahulukan. Kalau tulisan untuk blog ini tidak menjadi prioritas di bulan lalu, bukan karena hasil pertemuan kami tidak menginspirasi, hanya saja kondisi fisik dan kesibukan harian yang mendera tidak memberi waktu untuk berbagi di internet.

Bacaan Hari Minggu Prapaskah III adalah Injil Yohanes 2: 13-25, Yesus menyucikan Bait Allah. Sebagai pengantar dari suster kami mendapat panduan:
Yesus membersihkan bait Allah, rumah Bapa-Nya. Ia membersihkan bait Allah dari para pedagang . Yesus tergerak untuk membersihkan tempat ini setelah Ia melihat bahwa tempat ini tidak hanya dipakai sebagai tempat berjual-beli semata, melainkan juga sebagai tempat kolusi dan korupsi untuk mengeruk kekayaan dan mencari keuntungan pribadi, dan tidak hanya melibatkan awam tetapi juga pemimpin ibadat yg ada di sana. Tindakan tersebut tentunya mencemari dan mengotori bait Allah sebagai tempat suci Itulah alasan Yesus bertindak untuk
membersihkan bait Allah.

Injil hari ini mengingatkan kita dengan berbagai sikap, tindakan dan perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Oleh karena itu dalam masa Prapaskah ini, Tuihan mengajak kita untuk melakukan pembersihan “bait Allah” ( hati kita juga bait Allah yang perlu dipelihara supaya bersih, nyaman untuk kediaman Tuhan dengan menjalini pertobatan secara sungguh-sungguh (cf. 1Kor.3: 16-17). Tuhan akan mempercayakan diri-Nya kepada kita dan tinggal dalam diri kita.
Melalui pertemuan Meditasi Kristiani yang berlangsung hari Jumat sebelumnya, saya sudah mendapatkan sentuhan melalui renungan dari Pater Gerry Pierse CSsR dalam buku Jalan Menuju Kehidupan 2. Ketika itu saya merasa diingatkan betapa hiruk pikuknya pedagang di pelataran Bait Allah yang ada di dalam hatiku. Keheningan yang diminta dalam Meditasi Kristiani memang membuat pikiran-pikiran yang berloncatan dalam benak saya bagaikan para pedagang yang riuh rendah menawarkan dagangan mereka dan mengganggu keheningan doa para pengunjung yang ingin berdoa. Demikian pula hati saya yang ingin hening di hadapanNya menjadi riuh rendah dengan segala permasalahan dan pikiran yang silih berganti datang menggoda. Itulah yang perlu kubersihkan agar dapat berdoa dengan benar.

Ketika itu seorang teman juga membersitkan tanya akan makna ayat 24 dan 25 "Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepadaNya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia." Bagi saya pribadi, kalimat ini terasa menyentil karena saya tiba-tiba menyadari bahwa Tuhan tidak perlu mempercayakan apa yang diketahuiNya maupun apa yang diinginkanNya kepadaku, karena hati degil manusiaku cenderung untuk melihat dan mengukur segala sesuatu dengan ukuran manusia. Ia memberikan semua pengalaman secara bertahap karena Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Ia mengetahui sampai di mana kesiapan manusia menjalani jalan yang akan dilaluinya.

Dalam pertemuan kami hari Senin ini, saya lebih tertarik pada ayat 18 ketika orang-orang Yahudi bertanya menantang Yesus; "Tanda apakah dapat Kau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Dalam kehidupanku seringkali aku juga meminta tanda dariNya. Sebagai orang yang peragu, aku senantiasa meminta tanda dariNya untuk melanjutkan langkahku. Baru tersadarkan betapa seringkali aku menantikan tanda besar seperti pembangunan kembali Bait Allah dalam tiga hari, padahal mungkin banyak tanda-tanda kecil yang sudah kulihat sebelumnya dan tidak kuperhitungkan. Bisa juga bahwa Tuhan tidak ingin memberikan tanda, agar aku menjadi dewasa. Dengan berani membuat pilihan dan menanggung resiko atas pilihan itu, aku menjadi lebih dewasa.

Seorang teman tertarik pada ayat 17 yang manyatakan "Cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku." Saya pernah membaca bahwa peristiwa Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah ini merupakan tindakan yang paling tidak bisa ditolerir oleh para pemuka agama. Tindakan ini yang menyebabkan mereka benar-benar membenci Yesus dan menginginkan kematianNya. Terkadang ketika kita harus memilih jalan Tuhan, langkah itu terasa menghanguskan keberadaan kita sebagai manusia. Kalau memandang dari sudut pandang manusia maka kita hanya melihat kesengsaraan dan penderitaan. Ketika harus sendirian melawan arus, maka akan terasa betapa berat konsekuensi dari cinta kepada rumahNya. Tetapi di balik itu Tuhan senantiasa mengirimkan Roh KudusNya untuk menemani, menguatkan, dan memberikan penghiburan kepada kita.

Teman-teman juga merupakan malaikat-malaikat yang dikirimkanNya ke dalam kehidupan kita. Bila kita lebih peka kepada kehadiran tanganNya yang membantu akan sangat terasa betapa tidak ada yang kebetulan dalam setiap perjumpaan kita.

Tuhan Yesus,
terima kasih mau memperingatkan kami
untuk menjaga pelataran hati kami agar bersih dari dosa,
bersih dari segala gangguan yang menghalangi doa kami,
menghalangi pertemuan kami dengan Bapa...
Berkati kami dengan Roh KudusMu,
agar dimampukan berjalan di dalam jalanNya.
Amin.

Monday, January 30, 2012

Kuasa Kasih

Kalau hari Jumat merupakan hari Meditasi Kristiani, maka hari Senin merupakan hari Lectio Divina bagi saya. Walaupun masih gamang, tapi sedikit demi sedikit saya mulai mampu mengusir kegelisahan karena perbedaan pola antara dua metode doa ini. Saya masih merasa kehilangan keakraban Lectio Divina yang lama, tetapi saya juga sudah belajar untuk berkawan dengan keheningan pikiran. Saya percaya Tuhan akan membantu saya dalam menemukanNya melalui jeruji-jeruji doa yang kugunakan.

Bacaan hari Jumat kemarin dan bacaan yang kami gunakan hari Senin ini kebetulan sama, diambil dari Injil hari Minggu yakni Markus 1:21-28. Hari Jumat kemarin ayat yang sangat memikat saya adalah ayat 22; "Mereka takjub mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat," Ketika itu saya terutama ingin sekali mengenal wibawa Yesus, bagaimana Ia mengajar, mengapa pengajaranNya berbeda dengan para ahli Taurat. Seperti biasa, bila melakukan Meditasi Kristiani maka kejernihan itu tidak pernah langsung muncul. Seperti sirup yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air dan diaduk-aduk, maka butuh waktu sejenak agar tampak jernih.

Hari Jumat itu saya memperoleh betapa Yesus tidak mempertunjukkan kuasaNya dengan sok kuasa. Hari itu saya sungguh ingin tahu bagaimana resep mengajar untuk menghadapi anak-anak di rumah, dan anak-anak di sekolah. Bagaimana mengajar tanpa sok kuasa, tanpa sok otoriter tapi mereka bisa sungguh-sungguh bisa belajar dengan disiplin pribadi. Kemudian, pada homili hari Minggu di gereja, saya kembali diberikan pencerahan bahwa Yesus bukan sekedar mengajar saja. ia mengajar dengan perbuatan. Hal ini yang membedakanNya dengan para ahli Taurat. Para ahli Taurat mengajarkan isi kitab Taurat tapi tidak melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Yesus mengajarkan tapi melaksanakannya. Hari Senin ini semuanya itu dilengkapi dengan sharing dari suster pembimbing Lectio Divina yang kami peroleh melalui surat elektronik. Yesus mengajarkan dengan Kuasa Kasih. Yesus mengajarkan cinta kasih dan tidak sekedar mengajarkannya, melainkan melaksanakan ajaran kasihNya itu.

Suster mangatakan bahwa Yesus menunjukkan kuasa kasih. Ia berusaha membebaskan kita dari kuasa jahat. Kita semua masih terbelenggu dengan pelbagai kuasa dalam hidup sehari-hari misalnya:
menbanggakan diri karena berhasil berkat kepandaian, kecerdasan, popular, disanjung umat, dsb. Intinya, percaya diri yang berlebih-lebihan sehingga tidak menyadari adanya kuasa yang melebihi kuasaku sebagai manusia, yaitu kuasa Tuhan. Kuasa yang Tuhan lakukan adalah kuasa kasih, ingin membagikan bahagia dan damai pada kita yang berbeda dengan konsep duniawi  yang lebih mengutamakan materi; kekuasaan, uang, keserakahan, dll.

Hari Senin ini hampir semua peserta meditasi Kitab Suci terpanggil untuk aktif. Seorang teman membuka perbincangan kami dengan mengajukan ayat 21 sebagai ayat yang menyentilnya. Sabat mulai Yesus segera masuk ke rumah ibadat dan mengajar. Ia merasa diingatkan untuk tetap setia dalam melakukan meditasi harian. Seringkali menyediakan waktu khusus untuk diam dalam kehadiranNya merupakan hal yang sangat sulit kami sediakan. Kemajuan zaman bahkan seringkali menjadi kuasa jahat yang menggapai. Begitu bangun tidur maka yang dijangkau adalah Blackberry. Ada yang mungkin memeriksa chatting anaknya, ada yang memeriksa jadwal sehariannya nanti.... Akhirnya pagi sudah menjadi terlalu siang untuk meditasi. Doa singkat atau doa sembari berjalan kembali menjadi jalan keluar. Menyadari godaan dan kuasa-kuasa gelap yang rajin menggoda kami merupakan satu hal penting yang akan membantu di masa depan.

Dari percakapan mengenai memeriksa chatting anak, kami masuk ke dalam pemikiran akan makna berserah pada Allah. Sebenarnya sudah sewajarnya kami memberikan keleluasaan pribadi bagi anak-anak remaja kami. Begitu juga perasaan was-was yang terkadang memenuhi batin karena situasi zaman ini yang jauh begitu berbeda dari situasi di masa kami dahulu. Ketika kami harus tugas semalam suntuk di rumah teman, maka kami hanya akan mengerjakannya di rumah teman itu. Anak zaman ini terkadang tidak lagi sekedar bekerja di rumah teman, tetapi mengungsi ke tempat umum yang menyediakan Wifi. Kekhawatiran ibu-ibu akan pergaulan dan keamanan anak menjadi mencuat. Melalui ayat 27 kami diingatkan bahwa kuasa Yesus lebih besar daripada kuasa kegelapan. Dan bila kita mengingat betapa Yesus mengingatkan kita bahwa dengan iman yang sebesar biji sesawipun kita akan mampu membuat mukjizat seperti diriNya, maka dengan iman kepadaNya kita pasti sanggup mengusir roh jahat itu keluar dari tubuh kita. Roh kecemasan, roh keragu-raguan, roh ketidak-percayaan, roh ketakutan, dll.

Dari meditasi kali ini saya merasa terpanggil untuk membaca kitab Yesaya 31:1-9 yang intinya mengatakan bahwa Tuhanlah penolong yang satu-satunya. Seringkali kita kehilangan kekuasaan duniawi, artinya kita tidak memiliki kekuasaan, tidak memiliki uang atau ketenaran yang cukup untuk mengubah situasi secara duniawi. Tetapi bila kita senantiasa berserah kepadaNya maka kita akan mengerti betapa kuasa Tuhan adalah satu-satunya penolong bagi kita.

Langkah pertama kami barangkali hanya sederhana, memperbaiki hubungan doa kami denganNya. Bila kami merasa kurang memberi prioritas bagi waktu khusus bersamaNya, maka akan kami usahakan. Bila kami merasa memerlukan banyak percakapan singkat denganNya melalui setiap aktivitas harian kami, maka kami akan selalu mengundangNya hadir. Kemudian kami ingin belajar untuk berserah sepenuhnya kepada kerahimanNya, memasrahkan suami, anak-anak, dan keluarga lainnya kepada Tuhan, karena Ialah satu-satunya penolong kami.

Tuhan,
terima kasih atas kasihMu,
atas contoh dan ajaranMu yang penuh kuasa,
yang memampukan kami mengusir kegelapan dari diri kami,
dan memberi cahaya pengharapan bagi kehidupan kekal.
Amin.













Thursday, January 26, 2012

Mamon Modern

Hari ini saya tertarik untuk berbagi renungan yang berhubungan dengan Lukas 16:13, "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Dari pergumulan yang terjadi dalam proses perkenalan dengan Meditasi Kristiani, saya belajar lebih mengenal diri sendiri. Kalau selama ini saya menganggap tidak memiliki Mamon karena merasa tidak mengejar materi, kedudukan, maupun nama, ternyata saya masih salah. Ada satu hal yang rupanya menjadi Mamon tanpa saya sadari... Kehausan akan ilmu pengetahuan bisa jadi menjadi Mamon yang bisa menjatuhkan. Tadi pagi tiba-tiba terpikir betapa tidak jauh posisi saya dengan Hawa. Hawa menginginkan buah yang dilarang untuk dimakan karena ia mengira dengan memakannya ia akan mendapatkan pengetahuan, pengertian tentang baik dan buruk.

Ketika harus meninggalkan semua pikiran dalam proses meditasi hening dengan kalimat mantra Marantaha, maka terjadi kekacauan dalam kehidupanku. Bayangkan saja, bagaimana seorang yang ikut menganut pandangan, "Saya berpikir karena itu saya ada," harus melepaskan semua pikiran yang datang silih berganti mengganggu. Pikiran yang sangat aktif tiba-tiba harus berhenti walau hanya dalam waktu yang sangat singkat sebenarnya, tetapi menjadikan waktu begitu terasa berharga.

Belajar disiplin untuk setia dalam perkara kecil. Setia mengadakan waktu untuk diam dan tinggal di hadapanNya tanpa memunculkan "diri" merupakan hal yang terasa berat. Inilah Mamon modern bagi saya. Keinginan untuk mengetahui banyak hal dan mengerti banyak hal. Padahal seperti yang dikatakan oleh St. Agustinus dalam kisahnya mengenai anak kecil yang menimba air laut untuk dipindahkan ke lubang pasir di tepi pantai, otak manusia tidaklah memiliki kemampuan untuk menyerap kebesaranNya. Belajar untuk menerima kehidupan apa adanya, merupakan suatu karunia yang diajarkanNya melalui keheningan.

Bapa,
Biarkan saya setia kepadaMu saja,
dan senantiasa sadar memandang wajahMu semata,
membiarkan tanganMu menuntunku,
dan langkahMu membawaku ke jalanMu.
Membuka hatiku untuk merasakan kasihMu,
dan dengan suka rela membagikan kasihMu kepada sesama.
Amin.

Tuesday, December 27, 2011

Belajar dari Perjalan Seorang Hamba

Saya baru selesai membaca buku "Perjalanan Seorang Hamba", kisah perjalanan hidup Romo FX Pranataseputra, Pr. Baru pertama membuka buku ini saya sudah merasa akrab dengan isinya. Sungguh berasa bertemu dengan Romo Frans Pranata sendiri. "Lebih baik salah membaptis daripada salah tidak membaptis," ungkapan ini secara langsung menjawab bagaimana Romo membaptis suamiku dulu. Waktu itu beliau mengingatkan bahwa tanggung jawab baptisan berada di tangan orang yang dibaptis. Menurutnya Romo hanya membantu memperdekat dengan Tuhan sesuai dengan keinginan pacarku. Saya sendiri masih ingat ikut berkata tidak mau terikat karena benar-benar menginginkan bahwa baptisan itu berasal dari keinginan hati pacarku, bukan karena hubungan kami. Romo Frans waktu itu mengatakan bahwa setiap orang memiliki jalan tersendiri untuk bertemu dengan Tuhan. Bagaimana Tuhan memanggil adalah jalan setiap orang. Saya sangat percaya pada perkataan beliau mengingat saya mengetahui betapa berliku jalan yang dilaluinya hingga ke pentahbisan imamatnya. Karena itu membaca kutipan perkataan Romo membuat saya sungguh kembali mengingat beliau, "Lebih baik salah membaptis daripada salah tidak membaptis; lebih baik kalah uang daripada kalah orang; lebih baik salah memberi daripada salah tidak memberi; lebih baik mengalah di hadapan manusia daripada dipersalahkan di hadapan Allah."

Romo Antonius Didit Soepartono, Pr. mengingatkan dalam Apa Kata Mereka, bahwa spiritualitas HAMBA adalah hangat, andal, misioner, bahagia, abdi. Buku ini mengingatkan akan sosok Romo Frans Pranata yang senantiasa tersenyum. Dalam Sekapur Sirih, Mgr. Ignatius Suharyo; Uskup Keuskupan Agung Jakarta; mengatakan bahwa rupanya rencana Allah bagi Rama Pran memang seringkali berbeda dibandingkan rencana Rama Pran sendiri. Beliau mencontohkan Bunda Maria yang sepenuhnya membiarkan Allah menentukan jalan hidupnya, Kemerdekaannya seutuhnya sama dengan ketaatannya. Dicontohkan juga nabi Yeremia yang dituntun, bahkan dipaksa Tuhan untuk berjalan sesuai dengan jalan yang diinginkanNya. Saya sendiri secara langsung teringat pada kisah nabi Yunus yang melarikan diri dari tugasnya di kota Niniwe, dan bagaimana Tuhan tetap melaksanakan kehendakNya. Romo Frans (saya lebih terbiasa memanggil beliau Romo Frans daripada Romo Pran) tidak melarikan diri, tetapi seringkali dia dipaksa untuk pergi dan meninggalkan tugas yang sedang dijalankannya. Tuhan memberi jalan untuk melihat dari jauh, dan bila sekarang dibagikan melalui buku bisa jadi menjadi inspirasi bagi kita untuk mengenali bentuk ketaatan yang diminta Tuhan.

Kabarnya buku ini disusun oleh Romo Frans untuk peringatan ulang tahunnya yang ke 70 di bulan November 2011. Pada awal bulan Agustus flash disk berisi bahan buku ini diberikan kepada Mgr. Ignatius Suharyo untuk dibuatkan catatan pengantar. Tidak disangka akhir bulan Agustus itu beliau dipanggil kembali ke rumah Bapa. Jalan Tuhan seringkali tidak sama dengan rencana manusia, tetapi ketaatan yang merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai imamatnya sangat jelas tertera.

Ada beberapa hal menarik yang saya catat dari buku ini. Pertama, pelayanan beliau yang tulus, dan dengan suka hati menyetir sendiri datang untuk melayani ternyata dibagikan pada banyak orang. Kemudian kebingungan saya mengenai kehadiran beliau di Facebook dan BBM terjawab juga dengan adanya catatan Romo mengenai sosial media (juga tentang kesenangan masa kecilnya mengutak-utik benda elektronik). Dunia maya dipandangnya sebagai tempat saling mendukung dan saling menghargai. Beliau tetap lebih menghargai kedatangan atau perjumpaan yang langsung daripada perjumpaan di dunia maya. Itu suatu hal yang sukar kupenuhi. Tetapi bagaimanapun, Tuhan telah memberikan kesan yang mendalam bagiku karena secara kebetulan pada tanggal 20 Agustus 2011 karena kesalahan teknis semua teman di BB saya mendapat pesan test contact. Dan Romo Frans menjawab "test juga," sehingga saya pun minta maf mengganggu malam-malam, tapi kemudian mengirimkan tautan blog ini. Belum ada kabar atau tanggapan mengenai tulisan saya, ketika saya mendengar bahwa Romo sudah berpulang tanggal 21 Agustus 2011 petang. Kaget...tentu saja. Tuhan mengajak saya mengingat Romo melalui cara yang tidak terduga.

Hidup adalah anugerah Tuhan. Mari kita saling membantu, saling mengisi, dan saling melengkapi. Mencari dan memberi arti bagi kehidupan ini. Mengembangkan talenta yang diberikanNya dan menghargai setiap detik yang diberikanNya. Mari menghargai setiap perjumpaan yang kita lewati dan bersikap taat dengan spiritualitas hangat, andal, misioner, bahagia, abdi...HAMBA yang senantiasa menghargai berapapun talenta yang diberikanNya.

Sunday, December 04, 2011

Tuhan Senantiasa Menyertai Kita

Bacaan harian hari ini adalah Lukas 5:17-26, tetapi judul tulisan ini kuambil dari renungan harian yang ditulis Deddy Kusbiyanto untuk Cafe Rohani edisi Desember dimana dikatakan:
Sering kita lupa bahwa Tuhan selalu campur tangan dalam setiap peristiwa hidup kita sehari-hari. Tuhan senantiasa menyertai kita (bdk. Mat 28:20). Itu berarti, dalam segala keadaan hidup kita: suka, duka, untung, malang, sehat maupun sakit, Ia selalu menyertai kita. Kita merasa bahwa Tuhan tidak ada, manakala hati tertutup bagi kehadiranNya.

Renungan di atas sangat berharga karena baru beberapa hari yang lalu saya diberi kesempatan untuk merasakan betapa Ia ikut bekerja dalam pilihan-pilihan yang kubuat tanpa kusadari. Masa depan memang tidak terbaca oleh kita manusia, dan campur tanganNya yang tidak kita sadari terkadang memang membawa kita pada jalan yang kita pilih sekarang untuk kebaikan kita. Terkadang dalam jalan pilihan ini juga ada onak dan duri, tetapi justru kemampuan untuk melaluinya yang membuat kita lebih tangguh. Bila kita tidak melepaskan pandangan padaNya maka onak dan duri itu justru akan mendekatkan kita lebih dekat kepadaNya.

Renungan Injil hari ini (Lukas 5:17-26) mengenai orang lumpuh yang disembuhkan, membawa saya pada refleksi diri yang berbeda-beda. Di satu sisi saya bisa merasakan menjadi orang lumpuh yang sangat rindu bertemu dengan Yesus tapi tidak memiliki kemampuan untuk mendekatiNya. Beruntung bahwa ada teman-teman yang begitu setia dan begitu kreatif yang berhasil membawanya kepada Yesus. Orang-orang dalam kehidupan kita terkadang adalah orang-orang yang membawa kita lebih dekat kepada Yesus.

Di sisi berbeda, saya juga bisa merasakan menjadi teman-teman orang lumpuh yang diajak menjadi kreatif dalam mendekatkan orang lumpuh itu pada Yesus. Dalam memperkenalkan Tuhan kepada suami dan anak-anak memang terasa betapa perlunya menjadi lebih kreatif dan cerdik. Kecerdikan dan kreativitas itu hanya akan hadir bila kita juga tidak memalingkan wajah daripadaNya. Ia yang memberikan kekuatan, inspirasi, dan semangat untuk tidak menyerah dalam perjuangan mendekatiNya.

Menjadi orang Farisi dan Ahli Taurat yang terlalu sibuk dengan kebenaran dan pikiran mereka bisa jadi menjadi batu sandunganku yang terbesar. AnugerahNya bagiku adalah pikiran kritis yang senang bermain dengan analisa. Kekuatan adalah juga kelemahan bila tidak bisa dikuasai dengan nurani yang bening. Dunia yang semakin melaju ke dalam globalisasi dan tuntutan teknologi tinggi seringkali memudarkan kehadiranNya dalam pandangan yang tidak fokus padaNya (masih ingat kisah melihat wajah Kristus?)

Orang-orang yang mengerumuni Yesus dan kehilangan kepekaan untuk memberi jalan bagi orang-orang yang membawa orang lumpuh itu adalah kelemahan lain yang bisa menjebak kita untuk tidak merasakan hadirNya. Terlalu terfokus pada kebutuhan diri sendiri, walaupun itu untuk mendekatkan kita pada Yesus, terkadang bisa membuat kita melupakan untuk memberi pelayanan termudah bagi orang lain...memberi jalan bagi orang lain yang ingin bertemu denganNya juga.

Dua hal terakhir ini sebenarnya bersumber dari satu hal, kesombongan diri. Terkadang dengan melayani kita juga bisa terjatuh ke dalam kesombongan diri. Seperti ahli Taurat yang merasa paling pandai, atau orang-orang dalam kerumunan yang merasa paling pantas untuk dekat dengan Yesus. Belajar untuk rendah hati merupakan pembelajaran utama yang kita terima dari Yesus pada saat malam Kamis Putih menjelang perjamuan terakhir, dengan rendah hati Ia melayani murid-muridNya dengan membasuh kaki mereka.

Tuhan, terima kasih
Engkau memberi begitu banyak kasih
tanpa pernah kusadari
Engkau menyertaiku dalam setiap pilihan hidupku
tanpa pernah kulihat
Engkau membisikkan kata-kata penguatan
tanpa pernah kudengarkan
Kau tempa diriku
Kau bentuk kekuatanku
Semoga kesabaran dan kerendahan hatiMu
menjadi teladan yang memberiku kehidupan
dalam namaMu.
Amin.

Wednesday, November 30, 2011

Malaikat-malaikat Dalam Kehidupan

Entah mengapa belakangan ini berbagai buku yang kubutuhkan terasa seperti disodorkan ke hadapanku. Sudah cukup lama saya mengetahui terbitnya buku "Guruku, Malaikat Jiwaku" dari seorang teman yang pertama kali kukenal melalui kegiatan jurnalisme warga. Tetapi terus terang kesibukan harian membuat saya tidak sempat mencari buku ini. Tiba-tiba seorang teman menyodorkannya padaku untuk dibaca. Setelah tersimpan beberapa lama, pada saat saya berada di persimpangan dengan penuh kebingungan tiba-tiba buku ini menarikku untuk membacanya.

Banyak inspirasi yang kudapat dari buku ini. Pertama, buku ini memberiku inspirasi dalam pengambilan keputusan untuk terus menjadi guru sekolah atau memberikan pelayanan yang berbeda. Sejujurnya kakiku masih terus berada di persimpangan, belum juga mengambil langkah yang pasti, tapi banyak pencerahan kuperoleh dalam waktu singkat.

Hal pertama yang sangat dalam tergores ada di halaman 344 buku ini, ketika penulisnya mengatakan bahwa menjadi guru bukan sekedar profesi, menjadi guru sudah mendarah daging dan menjadi panggilan hidup. Kebetulan pagi ini saya membaca Injil harian yaitu Matius 4: 18-22 dimana murid-murid itu langsung meninggalkan jala, perahu, dan keluarganya untuk mengikuti Yesus. Kemantapan, dan tiada ragu merupakan hal yang sangat terkesan. Dan buku dari Romo A. Mintara Sufiyanta SJ ini mengingatkan aku akan Injil Yohanes 15:16 "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu."

Menjadi guru bagi anak-anak yang dititipkanNya kepadaku merupakan satu pilihan yang kubuat, tetapi menjadi guru bagi murid-murid yang pernah belajar padaku sama sekali bukan pilihanku. Kalau dipikir-pikir ya sungguh terasa bahwa Dia yang memilihkan jalan itu, bukan aku yang memilih.

Sebenarnya banyak catatan yang ingin kubuat dari buku itu, termasuk juga bahwa sebaiknya aku membacanya sekali lagi dengan menggunakan pertanyaan refleksi sebagai bahan meditasi lectio divina. Tapi, hal utama lain yang ingin saya bagikan di sini adalah malaikat-malaikat dalam kehidupanku. Baru beberapa hari yang lalu kita merayakan Hari Guru Nasional, dan hari itu aku tersadar bahwa guru bukan hanya guru yang ada di kelas tetapi juga orang tua, keluarga, bahkan anak-anak ataupun murid-murid bisa menjadi guru bagi seorang manusia pembelajar.

Dalam beda waktu yang tidak terlalu lama, tiga orang gembala yang dekat dengan kehidupan saya berpulang ke rumah Bapa. Romo FX Pranataseputra Pr, Romo Marinus Oei Goan Tjiang SJ, Romo R. Kurris SJ Mereka adalah guru-guru kehidupan bagiku.

Romo Kurris lebih dekat dengan masa kecil hingga remajaku, yang paling teringat adalah gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan wajahnya yang mudah memerah. Karena saya suka membaca, maka novel yang ditulisnya dengan nama R. Sukri Kaslan sempat saya komentari dengan membandingkannya dengan novel Romo Mangun. Tampaknya Romo Kurris malu dibandingkan dengan Romo Mangun karena wajahnya memerah, dan percakapan digantinya ke buku mengenai gereja Katedral yang juga dituliskannya.

Romo Frans dan Romo Oei adalah bagian dari masa remaja hingga dewasaku. Romo Frans lebih kukenal karena ia juga guru di lingkungan sekolahku Tarakanita. Walaupun tidak pernah diajar olehnya tetapi beliau sangat dekat dengan anak-anak Drum Band, dan kemudian ketika kembali menjadi frater tentunya kedekatannya dengan kami lebih erat daripada frater-frater lainnya. Saya masih ingat ketika beliau sudah menjadi pastur, saya meminta tolong untuk mengadakan misa bagi mahasiswa di daerah Bintaro yang waktu itu masih dianggap hutan nan jauh di sana. Beliau menyanggupi datang sendiri dengan mobilnya. Beliau juga tidak marah ketika banyak dari kami yang terlambat tiba (karena nyasar di daerah antah berantah itu), bahkan beliau kemudian mengembalikan stipendium yang kami berikan agar digunakan bagi kepentingan kegiatan unit kerohanian kami. Tentunya hal itu merupakan suatu berkah besar bagi kami mahasiswa yang terkadang harus susah payah mengumpulkan dana untuk kegiatan.

Ketika pacar saya tertarik untuk belajar agama Katolik tapi mentok dengan program katekisasi di gereja yang memiliki jadwal tetap (karena terkadang waktu kerjanya tidak memungkinkan ia hadir), entah bagaimana awalnya (terus terang saya lupa) Romo Frans bersedia memberi kami jadwal khusus pembelajaran hari Minggu di Jatibening. Terkadang kami yang tidak bisa hadir, terkadang Romo Frans yang berhalangan, tapi akhirnya pacar saya dibaptis juga, baptisan awal Paroki St. Leo Agung (18 Oktober 1992). Mungkin Romo berpikir kalau kami ingin segera menikah, padahal masih lima tahun kemudian kami menikah. Ketika kembali ke Paroki Leo Agung pada akhir tahun 1996 untuk mempersiapkan surat-surat kelengkapan bagi pernikahan di awal tahun 1997 maka kami menyaksikan beberapa foto dari peristiwa pembakaran Paroki Leo Agung serta mendengar kisah-kisah kejadian saat itu. Tampaknya Romo Frans cukup terpukul dengan kejadian itu.

Kemudian saya sibuk dengan kehidupan berkeluarga dan baru sempat terhubung lagi dengan Romo Frans melalui media sosial seperti facebook dan Blackberry messenger. Anehnya sehari sebelum Romo berpulang saya sempat mengirimkan tautan blog ini kepadanya. Sayangnya beliau tidak sempat membacanya. Mungkin itu cara Tuhan mengingatkan saya untuk berdoa bagi Romo.

Romo Oei lebih saya kenal sebagai kepala paroki, tapi saya senang bertanya-tanya padanya karena selain ular (yang tidak pernah saya lihat, kalaupun ada pasti saya takut hehehe) beliau juga koleksi kerang. Walaupun berbeda benda koleksi (saya mendapat kebiasaan koleksi perangko dari zaman KKS Romo Wolf SJ), tetapi sebagai sesama kolektor saya senang melihat-lihat katalog yang dimilikinya. Ketika saya kebingungan dalam mengambil komitmen untuk menikah maka Romo Oei dan Romo Danu (FX Danuwinata SJ) yang memberikan saya nasehat. Nasehat Romo Oei sangat sederhana, hanya membuat catatan refleksi baik dan buruk dari pilihan itu. Nasehat yang sebenarnya berlaku untuk semua keputusan penting dalam kehidupan itu menjadi sangat berguna karena catatan itu saya tuliskan dalam buku harian. Ketika hari-hari menjadi sulit dalam bahtera pernikahan maka catatan itu menjadi pengingat akan pilihan yang telah dibuat. Lucunya bukan poin-poin negatif yang menjadi penyebab masalah, terkadang justru poin yang dahulu terlihat positif bisa menjadi sumber masalah. Itulah gunanya menuliskan catatan refleksi tersebut.

Selain nasehat dalam proses pengambilan keputusan itu, Romo Oei juga sempat memberitahukan satu hal yang menurut saya sangat penting. Menurut beliau kalau berziarah ke tempat seperti Lourdes seharusnya doa dan ziarah dilengkapi dengan sakramen ekaristi dan sakramen tobat. Kalau sakramen ekaristi tentunya saya ikuti, tetapi sakramen tobat tidak saya lakukan karena kebingungan mengenai bahasa pengantarnya (saya ketika itu datang sebagai back-packer), padahal keinginan untuk memasuki ruang pengakuan dosa sebenarnya sangat besar dan sebenarnya saya bisa memilih bahasa Internasional yang ada. Masalahnya hanya karena saya tidak terbiasa melakukan pengakuan dosa dalam bahasa asing. Satu pelajaran lagi untuk lebih peka mendengarkan nurani.

Selain Romo Middendorp SJ yang pernah saya kenang dalam tulisan "Sakramen Tobat, Sebuah Kenangan...", maka Romo Martosudjito SJ yang mempersembahkan misa kudus pada saat saya dan suami menerima sakramen pernikahan juga mempunyai kenangan khusus bagi saya. Kepergian mereka bukan berarti berhentinya pembelajaran yang saya peroleh dari mereka. Terkadang dalam satu fragmen kehidupan saya teringat kembali pada teladan yang mereka berikan.

Yesus, Sang Guru sejati,
Terima kasih sudah mengirimkan malaikat-malaikatMu,
menemani dan membimbing aku melangkah,
Terkadang perjalanan bersama kami tidak panjang,
tetapi cintaMu yang Kau titipkan lewat mereka,
mampu mengubah kehidupanku.
Berkati kami ya Tuhan dengan Roh KudusMu,
agar kami juga mampu menjadi malaikat-malaikatMu bagi sesama kami.
Amin.