Sunday, August 12, 2007

Renungan di Hari Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Bunda Maria adalah gambaran penderitaan seorang wanita. Hamil tanpa menikah merupakan aib besar bagi kaum wanita. Memang semakin banyak wanita sekarang yang tidak malu-malu menabrak norma ini, tapi Bunda Maria tidak pernah berjalan keluar garis kesantunan. Apa yang terjadi adalah buah ketaatannya ketika menjawab: “Terjadilah padaku menurut perkataanMu”.

Tatkala kita berjalan dalam jalur yang benar, seringkali kita meminta imbalan kepada Tuhan. Apabila hal yang menimpa kita justru adalah kesusahan dan aib, apakah kita cukup beriman untuk tetap memuji namaNya?

Maria kemudian menikah dengan Yosef, dan mereka harus pergi berkilometer jauhnya ke Bethlehem untuk mendaftarkan diri. Perjalanan yang sangat berat bagi seorang wanita yang sedang hamil tua, tapi dia dengan tabah menjalaninya. Ia menjalani peran yang harus ditanggungnya dengan sabar dan tawakal, termasuk ketika tidak ada sebuah rumahpun yang mau menampungnya tatkala saatnya untuk melahirkan sudah terasa. Maka lahirlah Yesus di sebuah kandang di Bethlehem.

Peringatan kepada Yosef melalui mimpi membuat ibu muda yang baru saja melahirkan anaknya ini harus mengungsi ke Mesir. Sekali lagi perjalanan yang melelahkan dan kehidupan baru di negeri asing harus dilaluinya.

Ketika Yesus berusia dua belas tahun, dia tinggal di Bait Allah. Maria dan Yosef mencariNya selama tiga hari sebelum menemukanNya di Bait Allah. Kecemasan seorang ibu yang kehilangan anaknya bisa terasa begitu menghunjam. Seringkali seorang ibu mempersalahkan dirinya sendiri yang lalai bila suatu musibah menimpa sang anak. Kecemasan yang menggunung ini biasanya terhapuskan oleh tangis sang anak yang juga mencari dirinya. Tapi yang Maria temukan adalah seorang anak yang sedang santai bercerita kepada kerumunan orang di Bait Allah. Yesus bahkan menjawab teguran yang diterimaNya: “Mengapa mencari saya? Tidak tahukah kalian bahwa saya harus berada di rumah Bapa?”

Kepercayaan Maria kepada Yesus sangat besar, maka ketika pemilik perjamuan di Kana kehabisan anggur dia mengandalkan Yesus putranya. Walaupun Yesus awalnya menolak, sekali ini Maria menggunakan haknya sebagai seorang ibu dengan berkata kepada para pelayan: “Lakukan apa yang Dia perintahkan kepadamu!”

Terkadang orang tua menyimpan cita-cita untuk anaknya, kepercayaan Maria akan kuasa anaknya seperti yang terlihat di pesta pernikahan di Kana sangat besar. Bisa terasa betapa pedih hati Maria ketika harus melihat penderitaan Yesus dalam proses penangkapan, peradilan dan jalan salibNya. Tidak ada kedukaan yang lebih dalam dari seorang wanita daripada saat melihat buah tubuhnya dihina dan disiksa tanpa mampu membela sang putra.

Kesedihan ini menjadi lengkap ketika setelah dengan kesulitan untuk menguburkan Putranya, ia harus menyaksikan tubuh Putranya hilang dari kuburNya. Tapi ketabahan dan kepercayaannya pada Allah telah membantu dia untuk sabar dan menanggung segala pertanyaan dan kesedihan di dalam hatinya. Kehilangan kali ini ternyata adalah untuk kemuliaan Yesus.

Dalam misa di gereja saya bertemu seorang pemuda yang sangat ramah kepada anak-anak saya. Ternyata dia akan masuk ke seminari di Cikanyere. Biara Karmel. Saya berdoa agar panggilannya terus dikuatkan. Pada zaman ini cukup sulit mencari bibit panggilan. Entah dari tiga anak lelaki saya apakah akan ada yang terpanggil ke ladangNya. Saya juga menyaksikan betapa banyak pastur yang tidak setia pada janji imamatnya, sebagian bahkan menanggalkan jubah. Saya tidak ingin menghakimi orang lain, karena setiap manusia memiliki keterbatasan dan masalahnya sendiri. Tapi saya ingin sedikit membandingkan panggilan ini dengan panggilan berumah tangga. Walaupun semakin banyak pasangan yang bercerai, sebenarnya sakramen perkawinan seharusnya hanya diberikan sekali seumur hidup. Artinya apapun pilihan yang sudah kita buat harus kita terima dan kita jalani dengan sepenuh hati. Penyesuaian diri pasti memiliki porsi yang besar. Proses menerima dan memaafkan kesalahan pasangan juga membutuhkan pengorbanan dan kekuatan iman. Bagi saya sakramen imamat seharusnya juga memiliki konsekuensi yang sama, untuk terus terikat pada pilihan hidup itu.

Allah Bapa yang Maha Baik,
Bunda Maria telah memberi teladan bagaimana menjadi ibu yang baik,
Kesabaran masih menjadi pelajaran yang amat sulit untuk diterapkan.
Bapa,
kepadaMu aku memohonkan kepekaan bagi anak-anak ini,
agar mampu mendengar suaraMu,
bagi para pemuda yang Kau panggil bekerja di ladangMu,
agar mampu bertahan dalam segala godaan dan tantangan yang mereka hadapi,
bagi kami keluarga-keluarga yang hadir di hadapanMu,
agar senantiasa dipenuhi damai dan kasih sejahteraMu.
Amin

No comments:

Post a Comment

Post a Comment