Kalau hari Jumat merupakan hari Meditasi Kristiani, maka hari Senin merupakan hari Lectio Divina bagi saya. Walaupun masih gamang, tapi sedikit demi sedikit saya mulai mampu mengusir kegelisahan karena perbedaan pola antara dua metode doa ini. Saya masih merasa kehilangan keakraban Lectio Divina yang lama, tetapi saya juga sudah belajar untuk berkawan dengan keheningan pikiran. Saya percaya Tuhan akan membantu saya dalam menemukanNya melalui jeruji-jeruji doa yang kugunakan.
Bacaan hari Jumat kemarin dan bacaan yang kami gunakan hari Senin ini kebetulan sama, diambil dari Injil hari Minggu yakni Markus 1:21-28. Hari Jumat kemarin ayat yang sangat memikat saya adalah ayat 22; "Mereka takjub mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat," Ketika itu saya terutama ingin sekali mengenal wibawa Yesus, bagaimana Ia mengajar, mengapa pengajaranNya berbeda dengan para ahli Taurat. Seperti biasa, bila melakukan Meditasi Kristiani maka kejernihan itu tidak pernah langsung muncul. Seperti sirup yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air dan diaduk-aduk, maka butuh waktu sejenak agar tampak jernih.
Hari Jumat itu saya memperoleh betapa Yesus tidak mempertunjukkan kuasaNya dengan sok kuasa. Hari itu saya sungguh ingin tahu bagaimana resep mengajar untuk menghadapi anak-anak di rumah, dan anak-anak di sekolah. Bagaimana mengajar tanpa sok kuasa, tanpa sok otoriter tapi mereka bisa sungguh-sungguh bisa belajar dengan disiplin pribadi. Kemudian, pada homili hari Minggu di gereja, saya kembali diberikan pencerahan bahwa Yesus bukan sekedar mengajar saja. ia mengajar dengan perbuatan. Hal ini yang membedakanNya dengan para ahli Taurat. Para ahli Taurat mengajarkan isi kitab Taurat tapi tidak melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Yesus mengajarkan tapi melaksanakannya. Hari Senin ini semuanya itu dilengkapi dengan sharing dari suster pembimbing Lectio Divina yang kami peroleh melalui surat elektronik. Yesus mengajarkan dengan Kuasa Kasih. Yesus mengajarkan cinta kasih dan tidak sekedar mengajarkannya, melainkan melaksanakan ajaran kasihNya itu.
Suster mangatakan bahwa Yesus menunjukkan kuasa kasih. Ia berusaha membebaskan kita dari kuasa jahat. Kita semua masih terbelenggu dengan pelbagai kuasa dalam hidup sehari-hari misalnya:
menbanggakan diri karena berhasil berkat kepandaian, kecerdasan, popular, disanjung umat, dsb. Intinya, percaya diri yang berlebih-lebihan sehingga tidak menyadari adanya kuasa yang melebihi kuasaku sebagai manusia, yaitu kuasa Tuhan. Kuasa yang Tuhan lakukan adalah kuasa kasih, ingin membagikan bahagia dan damai pada kita yang berbeda dengan konsep duniawi yang lebih mengutamakan materi; kekuasaan, uang, keserakahan, dll.
Hari Senin ini hampir semua peserta meditasi Kitab Suci terpanggil untuk aktif. Seorang teman membuka perbincangan kami dengan mengajukan ayat 21 sebagai ayat yang menyentilnya. Sabat mulai Yesus segera masuk ke rumah ibadat dan mengajar. Ia merasa diingatkan untuk tetap setia dalam melakukan meditasi harian. Seringkali menyediakan waktu khusus untuk diam dalam kehadiranNya merupakan hal yang sangat sulit kami sediakan. Kemajuan zaman bahkan seringkali menjadi kuasa jahat yang menggapai. Begitu bangun tidur maka yang dijangkau adalah Blackberry. Ada yang mungkin memeriksa chatting anaknya, ada yang memeriksa jadwal sehariannya nanti.... Akhirnya pagi sudah menjadi terlalu siang untuk meditasi. Doa singkat atau doa sembari berjalan kembali menjadi jalan keluar. Menyadari godaan dan kuasa-kuasa gelap yang rajin menggoda kami merupakan satu hal penting yang akan membantu di masa depan.
Dari percakapan mengenai memeriksa chatting anak, kami masuk ke dalam pemikiran akan makna berserah pada Allah. Sebenarnya sudah sewajarnya kami memberikan keleluasaan pribadi bagi anak-anak remaja kami. Begitu juga perasaan was-was yang terkadang memenuhi batin karena situasi zaman ini yang jauh begitu berbeda dari situasi di masa kami dahulu. Ketika kami harus tugas semalam suntuk di rumah teman, maka kami hanya akan mengerjakannya di rumah teman itu. Anak zaman ini terkadang tidak lagi sekedar bekerja di rumah teman, tetapi mengungsi ke tempat umum yang menyediakan Wifi. Kekhawatiran ibu-ibu akan pergaulan dan keamanan anak menjadi mencuat. Melalui ayat 27 kami diingatkan bahwa kuasa Yesus lebih besar daripada kuasa kegelapan. Dan bila kita mengingat betapa Yesus mengingatkan kita bahwa dengan iman yang sebesar biji sesawipun kita akan mampu membuat mukjizat seperti diriNya, maka dengan iman kepadaNya kita pasti sanggup mengusir roh jahat itu keluar dari tubuh kita. Roh kecemasan, roh keragu-raguan, roh ketidak-percayaan, roh ketakutan, dll.
Dari meditasi kali ini saya merasa terpanggil untuk membaca kitab Yesaya 31:1-9 yang intinya mengatakan bahwa Tuhanlah penolong yang satu-satunya. Seringkali kita kehilangan kekuasaan duniawi, artinya kita tidak memiliki kekuasaan, tidak memiliki uang atau ketenaran yang cukup untuk mengubah situasi secara duniawi. Tetapi bila kita senantiasa berserah kepadaNya maka kita akan mengerti betapa kuasa Tuhan adalah satu-satunya penolong bagi kita.
Langkah pertama kami barangkali hanya sederhana, memperbaiki hubungan doa kami denganNya. Bila kami merasa kurang memberi prioritas bagi waktu khusus bersamaNya, maka akan kami usahakan. Bila kami merasa memerlukan banyak percakapan singkat denganNya melalui setiap aktivitas harian kami, maka kami akan selalu mengundangNya hadir. Kemudian kami ingin belajar untuk berserah sepenuhnya kepada kerahimanNya, memasrahkan suami, anak-anak, dan keluarga lainnya kepada Tuhan, karena Ialah satu-satunya penolong kami.
Tuhan,
terima kasih atas kasihMu,
atas contoh dan ajaranMu yang penuh kuasa,
yang memampukan kami mengusir kegelapan dari diri kami,
dan memberi cahaya pengharapan bagi kehidupan kekal.
Amin.
Journey to His words
Blog ini semula adalah blog meditasi pribadi, sejak Paskah 2008 saya buka untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi. Sementara ini sesuai dengan namanya "Perjalanan menelusuri kata-kataNya" lebih mengarah ke pendalaman iman lewat meditasi kitab suci, tapi dengan masuknya kontributor lain terbuka kemungkinan bentuk posting yang berbeda.
Monday, January 30, 2012
Thursday, January 26, 2012
Mamon Modern
Hari ini saya tertarik untuk berbagi renungan yang berhubungan dengan Lukas 16:13, "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
Dari pergumulan yang terjadi dalam proses perkenalan dengan Meditasi Kristiani, saya belajar lebih mengenal diri sendiri. Kalau selama ini saya menganggap tidak memiliki Mamon karena merasa tidak mengejar materi, kedudukan, maupun nama, ternyata saya masih salah. Ada satu hal yang rupanya menjadi Mamon tanpa saya sadari... Kehausan akan ilmu pengetahuan bisa jadi menjadi Mamon yang bisa menjatuhkan. Tadi pagi tiba-tiba terpikir betapa tidak jauh posisi saya dengan Hawa. Hawa menginginkan buah yang dilarang untuk dimakan karena ia mengira dengan memakannya ia akan mendapatkan pengetahuan, pengertian tentang baik dan buruk.
Ketika harus meninggalkan semua pikiran dalam proses meditasi hening dengan kalimat mantra Marantaha, maka terjadi kekacauan dalam kehidupanku. Bayangkan saja, bagaimana seorang yang ikut menganut pandangan, "Saya berpikir karena itu saya ada," harus melepaskan semua pikiran yang datang silih berganti mengganggu. Pikiran yang sangat aktif tiba-tiba harus berhenti walau hanya dalam waktu yang sangat singkat sebenarnya, tetapi menjadikan waktu begitu terasa berharga.
Belajar disiplin untuk setia dalam perkara kecil. Setia mengadakan waktu untuk diam dan tinggal di hadapanNya tanpa memunculkan "diri" merupakan hal yang terasa berat. Inilah Mamon modern bagi saya. Keinginan untuk mengetahui banyak hal dan mengerti banyak hal. Padahal seperti yang dikatakan oleh St. Agustinus dalam kisahnya mengenai anak kecil yang menimba air laut untuk dipindahkan ke lubang pasir di tepi pantai, otak manusia tidaklah memiliki kemampuan untuk menyerap kebesaranNya. Belajar untuk menerima kehidupan apa adanya, merupakan suatu karunia yang diajarkanNya melalui keheningan.
Bapa,
Biarkan saya setia kepadaMu saja,
dan senantiasa sadar memandang wajahMu semata,
membiarkan tanganMu menuntunku,
dan langkahMu membawaku ke jalanMu.
Membuka hatiku untuk merasakan kasihMu,
dan dengan suka rela membagikan kasihMu kepada sesama.
Amin.
Dari pergumulan yang terjadi dalam proses perkenalan dengan Meditasi Kristiani, saya belajar lebih mengenal diri sendiri. Kalau selama ini saya menganggap tidak memiliki Mamon karena merasa tidak mengejar materi, kedudukan, maupun nama, ternyata saya masih salah. Ada satu hal yang rupanya menjadi Mamon tanpa saya sadari... Kehausan akan ilmu pengetahuan bisa jadi menjadi Mamon yang bisa menjatuhkan. Tadi pagi tiba-tiba terpikir betapa tidak jauh posisi saya dengan Hawa. Hawa menginginkan buah yang dilarang untuk dimakan karena ia mengira dengan memakannya ia akan mendapatkan pengetahuan, pengertian tentang baik dan buruk.
Ketika harus meninggalkan semua pikiran dalam proses meditasi hening dengan kalimat mantra Marantaha, maka terjadi kekacauan dalam kehidupanku. Bayangkan saja, bagaimana seorang yang ikut menganut pandangan, "Saya berpikir karena itu saya ada," harus melepaskan semua pikiran yang datang silih berganti mengganggu. Pikiran yang sangat aktif tiba-tiba harus berhenti walau hanya dalam waktu yang sangat singkat sebenarnya, tetapi menjadikan waktu begitu terasa berharga.
Belajar disiplin untuk setia dalam perkara kecil. Setia mengadakan waktu untuk diam dan tinggal di hadapanNya tanpa memunculkan "diri" merupakan hal yang terasa berat. Inilah Mamon modern bagi saya. Keinginan untuk mengetahui banyak hal dan mengerti banyak hal. Padahal seperti yang dikatakan oleh St. Agustinus dalam kisahnya mengenai anak kecil yang menimba air laut untuk dipindahkan ke lubang pasir di tepi pantai, otak manusia tidaklah memiliki kemampuan untuk menyerap kebesaranNya. Belajar untuk menerima kehidupan apa adanya, merupakan suatu karunia yang diajarkanNya melalui keheningan.
Bapa,
Biarkan saya setia kepadaMu saja,
dan senantiasa sadar memandang wajahMu semata,
membiarkan tanganMu menuntunku,
dan langkahMu membawaku ke jalanMu.
Membuka hatiku untuk merasakan kasihMu,
dan dengan suka rela membagikan kasihMu kepada sesama.
Amin.
Tuesday, December 27, 2011
Belajar dari Perjalan Seorang Hamba
Saya baru selesai membaca buku "Perjalanan Seorang Hamba", kisah perjalanan hidup Romo FX Pranataseputra, Pr. Baru pertama membuka buku ini saya sudah merasa akrab dengan isinya. Sungguh berasa bertemu dengan Romo Frans Pranata sendiri. "Lebih baik salah membaptis daripada salah tidak membaptis," ungkapan ini secara langsung menjawab bagaimana Romo membaptis suamiku dulu. Waktu itu beliau mengingatkan bahwa tanggung jawab baptisan berada di tangan orang yang dibaptis. Menurutnya Romo hanya membantu memperdekat dengan Tuhan sesuai dengan keinginan pacarku. Saya sendiri masih ingat ikut berkata tidak mau terikat karena benar-benar menginginkan bahwa baptisan itu berasal dari keinginan hati pacarku, bukan karena hubungan kami. Romo Frans waktu itu mengatakan bahwa setiap orang memiliki jalan tersendiri untuk bertemu dengan Tuhan. Bagaimana Tuhan memanggil adalah jalan setiap orang. Saya sangat percaya pada perkataan beliau mengingat saya mengetahui betapa berliku jalan yang dilaluinya hingga ke pentahbisan imamatnya. Karena itu membaca kutipan perkataan Romo membuat saya sungguh kembali mengingat beliau, "Lebih baik salah membaptis daripada salah tidak membaptis; lebih baik kalah uang daripada kalah orang; lebih baik salah memberi daripada salah tidak memberi; lebih baik mengalah di hadapan manusia daripada dipersalahkan di hadapan Allah."
Romo Antonius Didit Soepartono, Pr. mengingatkan dalam Apa Kata Mereka, bahwa spiritualitas HAMBA adalah hangat, andal, misioner, bahagia, abdi. Buku ini mengingatkan akan sosok Romo Frans Pranata yang senantiasa tersenyum. Dalam Sekapur Sirih, Mgr. Ignatius Suharyo; Uskup Keuskupan Agung Jakarta; mengatakan bahwa rupanya rencana Allah bagi Rama Pran memang seringkali berbeda dibandingkan rencana Rama Pran sendiri. Beliau mencontohkan Bunda Maria yang sepenuhnya membiarkan Allah menentukan jalan hidupnya, Kemerdekaannya seutuhnya sama dengan ketaatannya. Dicontohkan juga nabi Yeremia yang dituntun, bahkan dipaksa Tuhan untuk berjalan sesuai dengan jalan yang diinginkanNya. Saya sendiri secara langsung teringat pada kisah nabi Yunus yang melarikan diri dari tugasnya di kota Niniwe, dan bagaimana Tuhan tetap melaksanakan kehendakNya. Romo Frans (saya lebih terbiasa memanggil beliau Romo Frans daripada Romo Pran) tidak melarikan diri, tetapi seringkali dia dipaksa untuk pergi dan meninggalkan tugas yang sedang dijalankannya. Tuhan memberi jalan untuk melihat dari jauh, dan bila sekarang dibagikan melalui buku bisa jadi menjadi inspirasi bagi kita untuk mengenali bentuk ketaatan yang diminta Tuhan.
Kabarnya buku ini disusun oleh Romo Frans untuk peringatan ulang tahunnya yang ke 70 di bulan November 2011. Pada awal bulan Agustus flash disk berisi bahan buku ini diberikan kepada Mgr. Ignatius Suharyo untuk dibuatkan catatan pengantar. Tidak disangka akhir bulan Agustus itu beliau dipanggil kembali ke rumah Bapa. Jalan Tuhan seringkali tidak sama dengan rencana manusia, tetapi ketaatan yang merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai imamatnya sangat jelas tertera.
Ada beberapa hal menarik yang saya catat dari buku ini. Pertama, pelayanan beliau yang tulus, dan dengan suka hati menyetir sendiri datang untuk melayani ternyata dibagikan pada banyak orang. Kemudian kebingungan saya mengenai kehadiran beliau di Facebook dan BBM terjawab juga dengan adanya catatan Romo mengenai sosial media (juga tentang kesenangan masa kecilnya mengutak-utik benda elektronik). Dunia maya dipandangnya sebagai tempat saling mendukung dan saling menghargai. Beliau tetap lebih menghargai kedatangan atau perjumpaan yang langsung daripada perjumpaan di dunia maya. Itu suatu hal yang sukar kupenuhi. Tetapi bagaimanapun, Tuhan telah memberikan kesan yang mendalam bagiku karena secara kebetulan pada tanggal 20 Agustus 2011 karena kesalahan teknis semua teman di BB saya mendapat pesan test contact. Dan Romo Frans menjawab "test juga," sehingga saya pun minta maf mengganggu malam-malam, tapi kemudian mengirimkan tautan blog ini. Belum ada kabar atau tanggapan mengenai tulisan saya, ketika saya mendengar bahwa Romo sudah berpulang tanggal 21 Agustus 2011 petang. Kaget...tentu saja. Tuhan mengajak saya mengingat Romo melalui cara yang tidak terduga.
Hidup adalah anugerah Tuhan. Mari kita saling membantu, saling mengisi, dan saling melengkapi. Mencari dan memberi arti bagi kehidupan ini. Mengembangkan talenta yang diberikanNya dan menghargai setiap detik yang diberikanNya. Mari menghargai setiap perjumpaan yang kita lewati dan bersikap taat dengan spiritualitas hangat, andal, misioner, bahagia, abdi...HAMBA yang senantiasa menghargai berapapun talenta yang diberikanNya.
Romo Antonius Didit Soepartono, Pr. mengingatkan dalam Apa Kata Mereka, bahwa spiritualitas HAMBA adalah hangat, andal, misioner, bahagia, abdi. Buku ini mengingatkan akan sosok Romo Frans Pranata yang senantiasa tersenyum. Dalam Sekapur Sirih, Mgr. Ignatius Suharyo; Uskup Keuskupan Agung Jakarta; mengatakan bahwa rupanya rencana Allah bagi Rama Pran memang seringkali berbeda dibandingkan rencana Rama Pran sendiri. Beliau mencontohkan Bunda Maria yang sepenuhnya membiarkan Allah menentukan jalan hidupnya, Kemerdekaannya seutuhnya sama dengan ketaatannya. Dicontohkan juga nabi Yeremia yang dituntun, bahkan dipaksa Tuhan untuk berjalan sesuai dengan jalan yang diinginkanNya. Saya sendiri secara langsung teringat pada kisah nabi Yunus yang melarikan diri dari tugasnya di kota Niniwe, dan bagaimana Tuhan tetap melaksanakan kehendakNya. Romo Frans (saya lebih terbiasa memanggil beliau Romo Frans daripada Romo Pran) tidak melarikan diri, tetapi seringkali dia dipaksa untuk pergi dan meninggalkan tugas yang sedang dijalankannya. Tuhan memberi jalan untuk melihat dari jauh, dan bila sekarang dibagikan melalui buku bisa jadi menjadi inspirasi bagi kita untuk mengenali bentuk ketaatan yang diminta Tuhan.
Kabarnya buku ini disusun oleh Romo Frans untuk peringatan ulang tahunnya yang ke 70 di bulan November 2011. Pada awal bulan Agustus flash disk berisi bahan buku ini diberikan kepada Mgr. Ignatius Suharyo untuk dibuatkan catatan pengantar. Tidak disangka akhir bulan Agustus itu beliau dipanggil kembali ke rumah Bapa. Jalan Tuhan seringkali tidak sama dengan rencana manusia, tetapi ketaatan yang merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai imamatnya sangat jelas tertera.
Ada beberapa hal menarik yang saya catat dari buku ini. Pertama, pelayanan beliau yang tulus, dan dengan suka hati menyetir sendiri datang untuk melayani ternyata dibagikan pada banyak orang. Kemudian kebingungan saya mengenai kehadiran beliau di Facebook dan BBM terjawab juga dengan adanya catatan Romo mengenai sosial media (juga tentang kesenangan masa kecilnya mengutak-utik benda elektronik). Dunia maya dipandangnya sebagai tempat saling mendukung dan saling menghargai. Beliau tetap lebih menghargai kedatangan atau perjumpaan yang langsung daripada perjumpaan di dunia maya. Itu suatu hal yang sukar kupenuhi. Tetapi bagaimanapun, Tuhan telah memberikan kesan yang mendalam bagiku karena secara kebetulan pada tanggal 20 Agustus 2011 karena kesalahan teknis semua teman di BB saya mendapat pesan test contact. Dan Romo Frans menjawab "test juga," sehingga saya pun minta maf mengganggu malam-malam, tapi kemudian mengirimkan tautan blog ini. Belum ada kabar atau tanggapan mengenai tulisan saya, ketika saya mendengar bahwa Romo sudah berpulang tanggal 21 Agustus 2011 petang. Kaget...tentu saja. Tuhan mengajak saya mengingat Romo melalui cara yang tidak terduga.
Hidup adalah anugerah Tuhan. Mari kita saling membantu, saling mengisi, dan saling melengkapi. Mencari dan memberi arti bagi kehidupan ini. Mengembangkan talenta yang diberikanNya dan menghargai setiap detik yang diberikanNya. Mari menghargai setiap perjumpaan yang kita lewati dan bersikap taat dengan spiritualitas hangat, andal, misioner, bahagia, abdi...HAMBA yang senantiasa menghargai berapapun talenta yang diberikanNya.
Sunday, December 04, 2011
Tuhan Senantiasa Menyertai Kita
Bacaan harian hari ini adalah Lukas 5:17-26, tetapi judul tulisan ini kuambil dari renungan harian yang ditulis Deddy Kusbiyanto untuk Cafe Rohani edisi Desember dimana dikatakan:
Renungan di atas sangat berharga karena baru beberapa hari yang lalu saya diberi kesempatan untuk merasakan betapa Ia ikut bekerja dalam pilihan-pilihan yang kubuat tanpa kusadari. Masa depan memang tidak terbaca oleh kita manusia, dan campur tanganNya yang tidak kita sadari terkadang memang membawa kita pada jalan yang kita pilih sekarang untuk kebaikan kita. Terkadang dalam jalan pilihan ini juga ada onak dan duri, tetapi justru kemampuan untuk melaluinya yang membuat kita lebih tangguh. Bila kita tidak melepaskan pandangan padaNya maka onak dan duri itu justru akan mendekatkan kita lebih dekat kepadaNya.
Renungan Injil hari ini (Lukas 5:17-26) mengenai orang lumpuh yang disembuhkan, membawa saya pada refleksi diri yang berbeda-beda. Di satu sisi saya bisa merasakan menjadi orang lumpuh yang sangat rindu bertemu dengan Yesus tapi tidak memiliki kemampuan untuk mendekatiNya. Beruntung bahwa ada teman-teman yang begitu setia dan begitu kreatif yang berhasil membawanya kepada Yesus. Orang-orang dalam kehidupan kita terkadang adalah orang-orang yang membawa kita lebih dekat kepada Yesus.
Di sisi berbeda, saya juga bisa merasakan menjadi teman-teman orang lumpuh yang diajak menjadi kreatif dalam mendekatkan orang lumpuh itu pada Yesus. Dalam memperkenalkan Tuhan kepada suami dan anak-anak memang terasa betapa perlunya menjadi lebih kreatif dan cerdik. Kecerdikan dan kreativitas itu hanya akan hadir bila kita juga tidak memalingkan wajah daripadaNya. Ia yang memberikan kekuatan, inspirasi, dan semangat untuk tidak menyerah dalam perjuangan mendekatiNya.
Menjadi orang Farisi dan Ahli Taurat yang terlalu sibuk dengan kebenaran dan pikiran mereka bisa jadi menjadi batu sandunganku yang terbesar. AnugerahNya bagiku adalah pikiran kritis yang senang bermain dengan analisa. Kekuatan adalah juga kelemahan bila tidak bisa dikuasai dengan nurani yang bening. Dunia yang semakin melaju ke dalam globalisasi dan tuntutan teknologi tinggi seringkali memudarkan kehadiranNya dalam pandangan yang tidak fokus padaNya (masih ingat kisah melihat wajah Kristus?)
Orang-orang yang mengerumuni Yesus dan kehilangan kepekaan untuk memberi jalan bagi orang-orang yang membawa orang lumpuh itu adalah kelemahan lain yang bisa menjebak kita untuk tidak merasakan hadirNya. Terlalu terfokus pada kebutuhan diri sendiri, walaupun itu untuk mendekatkan kita pada Yesus, terkadang bisa membuat kita melupakan untuk memberi pelayanan termudah bagi orang lain...memberi jalan bagi orang lain yang ingin bertemu denganNya juga.
Dua hal terakhir ini sebenarnya bersumber dari satu hal, kesombongan diri. Terkadang dengan melayani kita juga bisa terjatuh ke dalam kesombongan diri. Seperti ahli Taurat yang merasa paling pandai, atau orang-orang dalam kerumunan yang merasa paling pantas untuk dekat dengan Yesus. Belajar untuk rendah hati merupakan pembelajaran utama yang kita terima dari Yesus pada saat malam Kamis Putih menjelang perjamuan terakhir, dengan rendah hati Ia melayani murid-muridNya dengan membasuh kaki mereka.
Tuhan, terima kasih
Engkau memberi begitu banyak kasih
tanpa pernah kusadari
Engkau menyertaiku dalam setiap pilihan hidupku
tanpa pernah kulihat
Engkau membisikkan kata-kata penguatan
tanpa pernah kudengarkan
Kau tempa diriku
Kau bentuk kekuatanku
Semoga kesabaran dan kerendahan hatiMu
menjadi teladan yang memberiku kehidupan
dalam namaMu.
Amin.
Sering kita lupa bahwa Tuhan selalu campur tangan dalam setiap peristiwa hidup kita sehari-hari. Tuhan senantiasa menyertai kita (bdk. Mat 28:20). Itu berarti, dalam segala keadaan hidup kita: suka, duka, untung, malang, sehat maupun sakit, Ia selalu menyertai kita. Kita merasa bahwa Tuhan tidak ada, manakala hati tertutup bagi kehadiranNya.
Renungan di atas sangat berharga karena baru beberapa hari yang lalu saya diberi kesempatan untuk merasakan betapa Ia ikut bekerja dalam pilihan-pilihan yang kubuat tanpa kusadari. Masa depan memang tidak terbaca oleh kita manusia, dan campur tanganNya yang tidak kita sadari terkadang memang membawa kita pada jalan yang kita pilih sekarang untuk kebaikan kita. Terkadang dalam jalan pilihan ini juga ada onak dan duri, tetapi justru kemampuan untuk melaluinya yang membuat kita lebih tangguh. Bila kita tidak melepaskan pandangan padaNya maka onak dan duri itu justru akan mendekatkan kita lebih dekat kepadaNya.
Renungan Injil hari ini (Lukas 5:17-26) mengenai orang lumpuh yang disembuhkan, membawa saya pada refleksi diri yang berbeda-beda. Di satu sisi saya bisa merasakan menjadi orang lumpuh yang sangat rindu bertemu dengan Yesus tapi tidak memiliki kemampuan untuk mendekatiNya. Beruntung bahwa ada teman-teman yang begitu setia dan begitu kreatif yang berhasil membawanya kepada Yesus. Orang-orang dalam kehidupan kita terkadang adalah orang-orang yang membawa kita lebih dekat kepada Yesus.
Di sisi berbeda, saya juga bisa merasakan menjadi teman-teman orang lumpuh yang diajak menjadi kreatif dalam mendekatkan orang lumpuh itu pada Yesus. Dalam memperkenalkan Tuhan kepada suami dan anak-anak memang terasa betapa perlunya menjadi lebih kreatif dan cerdik. Kecerdikan dan kreativitas itu hanya akan hadir bila kita juga tidak memalingkan wajah daripadaNya. Ia yang memberikan kekuatan, inspirasi, dan semangat untuk tidak menyerah dalam perjuangan mendekatiNya.
Menjadi orang Farisi dan Ahli Taurat yang terlalu sibuk dengan kebenaran dan pikiran mereka bisa jadi menjadi batu sandunganku yang terbesar. AnugerahNya bagiku adalah pikiran kritis yang senang bermain dengan analisa. Kekuatan adalah juga kelemahan bila tidak bisa dikuasai dengan nurani yang bening. Dunia yang semakin melaju ke dalam globalisasi dan tuntutan teknologi tinggi seringkali memudarkan kehadiranNya dalam pandangan yang tidak fokus padaNya (masih ingat kisah melihat wajah Kristus?)
Orang-orang yang mengerumuni Yesus dan kehilangan kepekaan untuk memberi jalan bagi orang-orang yang membawa orang lumpuh itu adalah kelemahan lain yang bisa menjebak kita untuk tidak merasakan hadirNya. Terlalu terfokus pada kebutuhan diri sendiri, walaupun itu untuk mendekatkan kita pada Yesus, terkadang bisa membuat kita melupakan untuk memberi pelayanan termudah bagi orang lain...memberi jalan bagi orang lain yang ingin bertemu denganNya juga.
Dua hal terakhir ini sebenarnya bersumber dari satu hal, kesombongan diri. Terkadang dengan melayani kita juga bisa terjatuh ke dalam kesombongan diri. Seperti ahli Taurat yang merasa paling pandai, atau orang-orang dalam kerumunan yang merasa paling pantas untuk dekat dengan Yesus. Belajar untuk rendah hati merupakan pembelajaran utama yang kita terima dari Yesus pada saat malam Kamis Putih menjelang perjamuan terakhir, dengan rendah hati Ia melayani murid-muridNya dengan membasuh kaki mereka.
Tuhan, terima kasih
Engkau memberi begitu banyak kasih
tanpa pernah kusadari
Engkau menyertaiku dalam setiap pilihan hidupku
tanpa pernah kulihat
Engkau membisikkan kata-kata penguatan
tanpa pernah kudengarkan
Kau tempa diriku
Kau bentuk kekuatanku
Semoga kesabaran dan kerendahan hatiMu
menjadi teladan yang memberiku kehidupan
dalam namaMu.
Amin.
Wednesday, November 30, 2011
Malaikat-malaikat Dalam Kehidupan
Entah mengapa belakangan ini berbagai buku yang kubutuhkan terasa seperti disodorkan ke hadapanku. Sudah cukup lama saya mengetahui terbitnya buku "Guruku, Malaikat Jiwaku" dari seorang teman yang pertama kali kukenal melalui kegiatan jurnalisme warga. Tetapi terus terang kesibukan harian membuat saya tidak sempat mencari buku ini. Tiba-tiba seorang teman menyodorkannya padaku untuk dibaca. Setelah tersimpan beberapa lama, pada saat saya berada di persimpangan dengan penuh kebingungan tiba-tiba buku ini menarikku untuk membacanya.
Banyak inspirasi yang kudapat dari buku ini. Pertama, buku ini memberiku inspirasi dalam pengambilan keputusan untuk terus menjadi guru sekolah atau memberikan pelayanan yang berbeda. Sejujurnya kakiku masih terus berada di persimpangan, belum juga mengambil langkah yang pasti, tapi banyak pencerahan kuperoleh dalam waktu singkat.
Hal pertama yang sangat dalam tergores ada di halaman 344 buku ini, ketika penulisnya mengatakan bahwa menjadi guru bukan sekedar profesi, menjadi guru sudah mendarah daging dan menjadi panggilan hidup. Kebetulan pagi ini saya membaca Injil harian yaitu Matius 4: 18-22 dimana murid-murid itu langsung meninggalkan jala, perahu, dan keluarganya untuk mengikuti Yesus. Kemantapan, dan tiada ragu merupakan hal yang sangat terkesan. Dan buku dari Romo A. Mintara Sufiyanta SJ ini mengingatkan aku akan Injil Yohanes 15:16 "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu."
Menjadi guru bagi anak-anak yang dititipkanNya kepadaku merupakan satu pilihan yang kubuat, tetapi menjadi guru bagi murid-murid yang pernah belajar padaku sama sekali bukan pilihanku. Kalau dipikir-pikir ya sungguh terasa bahwa Dia yang memilihkan jalan itu, bukan aku yang memilih.
Sebenarnya banyak catatan yang ingin kubuat dari buku itu, termasuk juga bahwa sebaiknya aku membacanya sekali lagi dengan menggunakan pertanyaan refleksi sebagai bahan meditasi lectio divina. Tapi, hal utama lain yang ingin saya bagikan di sini adalah malaikat-malaikat dalam kehidupanku. Baru beberapa hari yang lalu kita merayakan Hari Guru Nasional, dan hari itu aku tersadar bahwa guru bukan hanya guru yang ada di kelas tetapi juga orang tua, keluarga, bahkan anak-anak ataupun murid-murid bisa menjadi guru bagi seorang manusia pembelajar.
Dalam beda waktu yang tidak terlalu lama, tiga orang gembala yang dekat dengan kehidupan saya berpulang ke rumah Bapa. Romo FX Pranataseputra Pr, Romo Marinus Oei Goan Tjiang SJ, Romo R. Kurris SJ Mereka adalah guru-guru kehidupan bagiku.
Romo Kurris lebih dekat dengan masa kecil hingga remajaku, yang paling teringat adalah gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan wajahnya yang mudah memerah. Karena saya suka membaca, maka novel yang ditulisnya dengan nama R. Sukri Kaslan sempat saya komentari dengan membandingkannya dengan novel Romo Mangun. Tampaknya Romo Kurris malu dibandingkan dengan Romo Mangun karena wajahnya memerah, dan percakapan digantinya ke buku mengenai gereja Katedral yang juga dituliskannya.
Romo Frans dan Romo Oei adalah bagian dari masa remaja hingga dewasaku. Romo Frans lebih kukenal karena ia juga guru di lingkungan sekolahku Tarakanita. Walaupun tidak pernah diajar olehnya tetapi beliau sangat dekat dengan anak-anak Drum Band, dan kemudian ketika kembali menjadi frater tentunya kedekatannya dengan kami lebih erat daripada frater-frater lainnya. Saya masih ingat ketika beliau sudah menjadi pastur, saya meminta tolong untuk mengadakan misa bagi mahasiswa di daerah Bintaro yang waktu itu masih dianggap hutan nan jauh di sana. Beliau menyanggupi datang sendiri dengan mobilnya. Beliau juga tidak marah ketika banyak dari kami yang terlambat tiba (karena nyasar di daerah antah berantah itu), bahkan beliau kemudian mengembalikan stipendium yang kami berikan agar digunakan bagi kepentingan kegiatan unit kerohanian kami. Tentunya hal itu merupakan suatu berkah besar bagi kami mahasiswa yang terkadang harus susah payah mengumpulkan dana untuk kegiatan.
Ketika pacar saya tertarik untuk belajar agama Katolik tapi mentok dengan program katekisasi di gereja yang memiliki jadwal tetap (karena terkadang waktu kerjanya tidak memungkinkan ia hadir), entah bagaimana awalnya (terus terang saya lupa) Romo Frans bersedia memberi kami jadwal khusus pembelajaran hari Minggu di Jatibening. Terkadang kami yang tidak bisa hadir, terkadang Romo Frans yang berhalangan, tapi akhirnya pacar saya dibaptis juga, baptisan awal Paroki St. Leo Agung (18 Oktober 1992). Mungkin Romo berpikir kalau kami ingin segera menikah, padahal masih lima tahun kemudian kami menikah. Ketika kembali ke Paroki Leo Agung pada akhir tahun 1996 untuk mempersiapkan surat-surat kelengkapan bagi pernikahan di awal tahun 1997 maka kami menyaksikan beberapa foto dari peristiwa pembakaran Paroki Leo Agung serta mendengar kisah-kisah kejadian saat itu. Tampaknya Romo Frans cukup terpukul dengan kejadian itu.
Kemudian saya sibuk dengan kehidupan berkeluarga dan baru sempat terhubung lagi dengan Romo Frans melalui media sosial seperti facebook dan Blackberry messenger. Anehnya sehari sebelum Romo berpulang saya sempat mengirimkan tautan blog ini kepadanya. Sayangnya beliau tidak sempat membacanya. Mungkin itu cara Tuhan mengingatkan saya untuk berdoa bagi Romo.
Romo Oei lebih saya kenal sebagai kepala paroki, tapi saya senang bertanya-tanya padanya karena selain ular (yang tidak pernah saya lihat, kalaupun ada pasti saya takut hehehe) beliau juga koleksi kerang. Walaupun berbeda benda koleksi (saya mendapat kebiasaan koleksi perangko dari zaman KKS Romo Wolf SJ), tetapi sebagai sesama kolektor saya senang melihat-lihat katalog yang dimilikinya. Ketika saya kebingungan dalam mengambil komitmen untuk menikah maka Romo Oei dan Romo Danu (FX Danuwinata SJ) yang memberikan saya nasehat. Nasehat Romo Oei sangat sederhana, hanya membuat catatan refleksi baik dan buruk dari pilihan itu. Nasehat yang sebenarnya berlaku untuk semua keputusan penting dalam kehidupan itu menjadi sangat berguna karena catatan itu saya tuliskan dalam buku harian. Ketika hari-hari menjadi sulit dalam bahtera pernikahan maka catatan itu menjadi pengingat akan pilihan yang telah dibuat. Lucunya bukan poin-poin negatif yang menjadi penyebab masalah, terkadang justru poin yang dahulu terlihat positif bisa menjadi sumber masalah. Itulah gunanya menuliskan catatan refleksi tersebut.
Selain nasehat dalam proses pengambilan keputusan itu, Romo Oei juga sempat memberitahukan satu hal yang menurut saya sangat penting. Menurut beliau kalau berziarah ke tempat seperti Lourdes seharusnya doa dan ziarah dilengkapi dengan sakramen ekaristi dan sakramen tobat. Kalau sakramen ekaristi tentunya saya ikuti, tetapi sakramen tobat tidak saya lakukan karena kebingungan mengenai bahasa pengantarnya (saya ketika itu datang sebagai back-packer), padahal keinginan untuk memasuki ruang pengakuan dosa sebenarnya sangat besar dan sebenarnya saya bisa memilih bahasa Internasional yang ada. Masalahnya hanya karena saya tidak terbiasa melakukan pengakuan dosa dalam bahasa asing. Satu pelajaran lagi untuk lebih peka mendengarkan nurani.
Selain Romo Middendorp SJ yang pernah saya kenang dalam tulisan "Sakramen Tobat, Sebuah Kenangan...", maka Romo Martosudjito SJ yang mempersembahkan misa kudus pada saat saya dan suami menerima sakramen pernikahan juga mempunyai kenangan khusus bagi saya. Kepergian mereka bukan berarti berhentinya pembelajaran yang saya peroleh dari mereka. Terkadang dalam satu fragmen kehidupan saya teringat kembali pada teladan yang mereka berikan.
Yesus, Sang Guru sejati,
Terima kasih sudah mengirimkan malaikat-malaikatMu,
menemani dan membimbing aku melangkah,
Terkadang perjalanan bersama kami tidak panjang,
tetapi cintaMu yang Kau titipkan lewat mereka,
mampu mengubah kehidupanku.
Berkati kami ya Tuhan dengan Roh KudusMu,
agar kami juga mampu menjadi malaikat-malaikatMu bagi sesama kami.
Amin.
Banyak inspirasi yang kudapat dari buku ini. Pertama, buku ini memberiku inspirasi dalam pengambilan keputusan untuk terus menjadi guru sekolah atau memberikan pelayanan yang berbeda. Sejujurnya kakiku masih terus berada di persimpangan, belum juga mengambil langkah yang pasti, tapi banyak pencerahan kuperoleh dalam waktu singkat.
Hal pertama yang sangat dalam tergores ada di halaman 344 buku ini, ketika penulisnya mengatakan bahwa menjadi guru bukan sekedar profesi, menjadi guru sudah mendarah daging dan menjadi panggilan hidup. Kebetulan pagi ini saya membaca Injil harian yaitu Matius 4: 18-22 dimana murid-murid itu langsung meninggalkan jala, perahu, dan keluarganya untuk mengikuti Yesus. Kemantapan, dan tiada ragu merupakan hal yang sangat terkesan. Dan buku dari Romo A. Mintara Sufiyanta SJ ini mengingatkan aku akan Injil Yohanes 15:16 "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu."
Menjadi guru bagi anak-anak yang dititipkanNya kepadaku merupakan satu pilihan yang kubuat, tetapi menjadi guru bagi murid-murid yang pernah belajar padaku sama sekali bukan pilihanku. Kalau dipikir-pikir ya sungguh terasa bahwa Dia yang memilihkan jalan itu, bukan aku yang memilih.
Sebenarnya banyak catatan yang ingin kubuat dari buku itu, termasuk juga bahwa sebaiknya aku membacanya sekali lagi dengan menggunakan pertanyaan refleksi sebagai bahan meditasi lectio divina. Tapi, hal utama lain yang ingin saya bagikan di sini adalah malaikat-malaikat dalam kehidupanku. Baru beberapa hari yang lalu kita merayakan Hari Guru Nasional, dan hari itu aku tersadar bahwa guru bukan hanya guru yang ada di kelas tetapi juga orang tua, keluarga, bahkan anak-anak ataupun murid-murid bisa menjadi guru bagi seorang manusia pembelajar.
Dalam beda waktu yang tidak terlalu lama, tiga orang gembala yang dekat dengan kehidupan saya berpulang ke rumah Bapa. Romo FX Pranataseputra Pr, Romo Marinus Oei Goan Tjiang SJ, Romo R. Kurris SJ Mereka adalah guru-guru kehidupan bagiku.
Romo Kurris lebih dekat dengan masa kecil hingga remajaku, yang paling teringat adalah gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan wajahnya yang mudah memerah. Karena saya suka membaca, maka novel yang ditulisnya dengan nama R. Sukri Kaslan sempat saya komentari dengan membandingkannya dengan novel Romo Mangun. Tampaknya Romo Kurris malu dibandingkan dengan Romo Mangun karena wajahnya memerah, dan percakapan digantinya ke buku mengenai gereja Katedral yang juga dituliskannya.
Romo Frans dan Romo Oei adalah bagian dari masa remaja hingga dewasaku. Romo Frans lebih kukenal karena ia juga guru di lingkungan sekolahku Tarakanita. Walaupun tidak pernah diajar olehnya tetapi beliau sangat dekat dengan anak-anak Drum Band, dan kemudian ketika kembali menjadi frater tentunya kedekatannya dengan kami lebih erat daripada frater-frater lainnya. Saya masih ingat ketika beliau sudah menjadi pastur, saya meminta tolong untuk mengadakan misa bagi mahasiswa di daerah Bintaro yang waktu itu masih dianggap hutan nan jauh di sana. Beliau menyanggupi datang sendiri dengan mobilnya. Beliau juga tidak marah ketika banyak dari kami yang terlambat tiba (karena nyasar di daerah antah berantah itu), bahkan beliau kemudian mengembalikan stipendium yang kami berikan agar digunakan bagi kepentingan kegiatan unit kerohanian kami. Tentunya hal itu merupakan suatu berkah besar bagi kami mahasiswa yang terkadang harus susah payah mengumpulkan dana untuk kegiatan.
Ketika pacar saya tertarik untuk belajar agama Katolik tapi mentok dengan program katekisasi di gereja yang memiliki jadwal tetap (karena terkadang waktu kerjanya tidak memungkinkan ia hadir), entah bagaimana awalnya (terus terang saya lupa) Romo Frans bersedia memberi kami jadwal khusus pembelajaran hari Minggu di Jatibening. Terkadang kami yang tidak bisa hadir, terkadang Romo Frans yang berhalangan, tapi akhirnya pacar saya dibaptis juga, baptisan awal Paroki St. Leo Agung (18 Oktober 1992). Mungkin Romo berpikir kalau kami ingin segera menikah, padahal masih lima tahun kemudian kami menikah. Ketika kembali ke Paroki Leo Agung pada akhir tahun 1996 untuk mempersiapkan surat-surat kelengkapan bagi pernikahan di awal tahun 1997 maka kami menyaksikan beberapa foto dari peristiwa pembakaran Paroki Leo Agung serta mendengar kisah-kisah kejadian saat itu. Tampaknya Romo Frans cukup terpukul dengan kejadian itu.
Kemudian saya sibuk dengan kehidupan berkeluarga dan baru sempat terhubung lagi dengan Romo Frans melalui media sosial seperti facebook dan Blackberry messenger. Anehnya sehari sebelum Romo berpulang saya sempat mengirimkan tautan blog ini kepadanya. Sayangnya beliau tidak sempat membacanya. Mungkin itu cara Tuhan mengingatkan saya untuk berdoa bagi Romo.
Romo Oei lebih saya kenal sebagai kepala paroki, tapi saya senang bertanya-tanya padanya karena selain ular (yang tidak pernah saya lihat, kalaupun ada pasti saya takut hehehe) beliau juga koleksi kerang. Walaupun berbeda benda koleksi (saya mendapat kebiasaan koleksi perangko dari zaman KKS Romo Wolf SJ), tetapi sebagai sesama kolektor saya senang melihat-lihat katalog yang dimilikinya. Ketika saya kebingungan dalam mengambil komitmen untuk menikah maka Romo Oei dan Romo Danu (FX Danuwinata SJ) yang memberikan saya nasehat. Nasehat Romo Oei sangat sederhana, hanya membuat catatan refleksi baik dan buruk dari pilihan itu. Nasehat yang sebenarnya berlaku untuk semua keputusan penting dalam kehidupan itu menjadi sangat berguna karena catatan itu saya tuliskan dalam buku harian. Ketika hari-hari menjadi sulit dalam bahtera pernikahan maka catatan itu menjadi pengingat akan pilihan yang telah dibuat. Lucunya bukan poin-poin negatif yang menjadi penyebab masalah, terkadang justru poin yang dahulu terlihat positif bisa menjadi sumber masalah. Itulah gunanya menuliskan catatan refleksi tersebut.
Selain nasehat dalam proses pengambilan keputusan itu, Romo Oei juga sempat memberitahukan satu hal yang menurut saya sangat penting. Menurut beliau kalau berziarah ke tempat seperti Lourdes seharusnya doa dan ziarah dilengkapi dengan sakramen ekaristi dan sakramen tobat. Kalau sakramen ekaristi tentunya saya ikuti, tetapi sakramen tobat tidak saya lakukan karena kebingungan mengenai bahasa pengantarnya (saya ketika itu datang sebagai back-packer), padahal keinginan untuk memasuki ruang pengakuan dosa sebenarnya sangat besar dan sebenarnya saya bisa memilih bahasa Internasional yang ada. Masalahnya hanya karena saya tidak terbiasa melakukan pengakuan dosa dalam bahasa asing. Satu pelajaran lagi untuk lebih peka mendengarkan nurani.
Selain Romo Middendorp SJ yang pernah saya kenang dalam tulisan "Sakramen Tobat, Sebuah Kenangan...", maka Romo Martosudjito SJ yang mempersembahkan misa kudus pada saat saya dan suami menerima sakramen pernikahan juga mempunyai kenangan khusus bagi saya. Kepergian mereka bukan berarti berhentinya pembelajaran yang saya peroleh dari mereka. Terkadang dalam satu fragmen kehidupan saya teringat kembali pada teladan yang mereka berikan.
Yesus, Sang Guru sejati,
Terima kasih sudah mengirimkan malaikat-malaikatMu,
menemani dan membimbing aku melangkah,
Terkadang perjalanan bersama kami tidak panjang,
tetapi cintaMu yang Kau titipkan lewat mereka,
mampu mengubah kehidupanku.
Berkati kami ya Tuhan dengan Roh KudusMu,
agar kami juga mampu menjadi malaikat-malaikatMu bagi sesama kami.
Amin.
Tuesday, November 22, 2011
Memberi tanpa menanti upah
Bila dilihat dari bahasa Indonesia maka judul di atas sedikit aneh. Memberi tentunya bukan menjual. Orang yang menjual barang atau jasa yang mengharapkan upah. Tapi bacaan Injil hari Minggu, Matius 25:31-46 dan bacaan hari Senin, Lukas 21: 1-4 membawa saya pada refleksi ini. Seringkali kita manusia memberi karena menginginkan upah di balik pemberian itu. Ketika kita memberi kepada orang yang membutuhkan, tidak jarang kita meminta upah atau imbalan dari mereka, bisa berupa penghormatan, bisa berupa jasa, atau bisa juga berupa imbalan dari Tuhan berupa lahan masa depan di surga.
Dari Injil Matius 25:31-46 kedua macam orang yang berbeda itu sama-sama tidak mengerti kapan Tuhan datang pada mereka sebagai orang yang sakit, susah, maupun lapar. Bila orang yang pertama membantu dengan tulus, maka tipe orang yang kedua tidak membantu karena tidak mengenali Tuhan. Apakah saya sudah bisa masuk ke dalam tipe orang yang pertama? Yang membantu walaupun tidak tahu bahwa bantuan itu adalah untuk Tuhan? Atau saya masih terkungkung dalam tipe nomor dua? Yang hanya membantu karena mengetahui keberadaan Tuhan di balik sesama saya? Ketulusan itu yang penting, dan itu hanya datang dari hati yang penuh kasih.
Bacaan ini juga kembali mengingatkan kepada janda yang memberikan 2 talenta yang dimilikinya, seluruh uang yang dimilikinya, tanpa memikirkan resiko masa depannya. Ia juga tidak memberikan dua talenta itu untuk meminta lebih banyak lagi talenta dari Tuhan. Tidak, dua talenta itu semata-mata tanda terima kasihnya atas semua kemurahan Tuhan yang telah dirasakannya.
Tuhan,
Terima kasih sudah begitu mencintai kami,
Berikan kami hati yang mampu bersyukur,
Hati yang memiliki iman walaupun hanya sebesar biji sesawi
Tetapi mampu menguatkan hati kami agar tetap tulus dalam pelayanan kami.
Tuhan,
Terima kasih karena mau bersabar mengingatkan daku,
Betapa rapuh dan tak berartinya pelayanan yang menantikan upah,
Betapa indahnya penyertaanMu dalam kehidupan kami ya Bapa,
Semoga semuanya menjadi indah pada waktuMu.
Amin.
Dari Injil Matius 25:31-46 kedua macam orang yang berbeda itu sama-sama tidak mengerti kapan Tuhan datang pada mereka sebagai orang yang sakit, susah, maupun lapar. Bila orang yang pertama membantu dengan tulus, maka tipe orang yang kedua tidak membantu karena tidak mengenali Tuhan. Apakah saya sudah bisa masuk ke dalam tipe orang yang pertama? Yang membantu walaupun tidak tahu bahwa bantuan itu adalah untuk Tuhan? Atau saya masih terkungkung dalam tipe nomor dua? Yang hanya membantu karena mengetahui keberadaan Tuhan di balik sesama saya? Ketulusan itu yang penting, dan itu hanya datang dari hati yang penuh kasih.
Bacaan ini juga kembali mengingatkan kepada janda yang memberikan 2 talenta yang dimilikinya, seluruh uang yang dimilikinya, tanpa memikirkan resiko masa depannya. Ia juga tidak memberikan dua talenta itu untuk meminta lebih banyak lagi talenta dari Tuhan. Tidak, dua talenta itu semata-mata tanda terima kasihnya atas semua kemurahan Tuhan yang telah dirasakannya.
Tuhan,
Terima kasih sudah begitu mencintai kami,
Berikan kami hati yang mampu bersyukur,
Hati yang memiliki iman walaupun hanya sebesar biji sesawi
Tetapi mampu menguatkan hati kami agar tetap tulus dalam pelayanan kami.
Tuhan,
Terima kasih karena mau bersabar mengingatkan daku,
Betapa rapuh dan tak berartinya pelayanan yang menantikan upah,
Betapa indahnya penyertaanMu dalam kehidupan kami ya Bapa,
Semoga semuanya menjadi indah pada waktuMu.
Amin.
Saturday, November 12, 2011
Keberanian Mengambil Resiko
Hari Jumat kemarin, sebelum melakukan Meditasi Kristiani, kami membaca Injil Matius 25:14-30 mengenai perumpamaan tentang talenta. Kitab Suci yang hidup kembali terasa bagi saya dan juga bagi seorang teman lain. Kali ini ayat yang berbicara bagi kami terasa berbeda dengan ayat yang biasanya menarik perhatian kami.
Saya sangat tertarik pada perkataan sang tuan kepada hamba-hambanya, baik yang berhasil menggandakan 5 talenta, maupun yang menggandakan 2 talenta. Tuan tersebut berkata; "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Perkataan itu sama persis. Tidak ada perbedaan hanya karena yang satu menghasilkan 5 talenta sementara yang lain hanya membawa 2 talenta.
Dalam buku "Jalan Menuju Kehidupan", pater Gerry Pierse CSsR mengatakan bahwa hamba yang hanya memiliki satu talenta tidak berani mengambil resiko. Hal ini mengingatkan saya akan pencarian saya akan kehendakNya. Seringkali saya tidak berani membuat pilihan karena merasa takut tidak mengikuti kehendakNya. Padahal sebenarnya yang paling penting bagiNya adalah keberanian kita mengambil resiko bersamaNya. Talenta yang dipertaruhkan adalah talentaNya. Ketika kita kehilangan talenta itu, maka Ia tidak akan marah. Ia akan tetap ada di sisi kita untuk menguatkan dan menghibur kita.
Ayat yang menarik perhatian saya itu mengajarkan saya betapa seringkali saya membesar-besarkan masalah. Lima talenta atau dua talenta bagi Tuhan hanyalah perkara kecil. Hamba dengan satu talenta itu memandang satu talenta yang dimilikinya sebagai perkara besar, padahal bagi tuannya hal itu hanya perkara kecil.
Seorang teman yang lain merasakan sengatan dalam perkataan yang terdapat dalam Injil Matius 25:26 "Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur, dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?" Perkataan "hamba yang jahat dan malas" memang terasa sangat keras. Mengapa hamba itu dikatakan jahat? Tampaknya karena ia menuduh tuannya dengan tudingan yang tidak benar. Ia memilih mempersalahkan orang lain untuk pembenaran dirinya. Bila sebelum mendengar sharing teman ini saya tidak terlalu merasakan pentingnya ayat ini, maka setelah mendengarnya berbagi refleksi saya baru merasakan betapa sering saya juga mempersalahkan orang lain, mempersalahkan keadaan, bahkan mungkin juga pernah mempersalahkan Tuhan untuk situasi yang sedang dihadapi. Sebenarnya apa yang terjadi pada diri kita adalah akibat dari pilihan-pilihan yang kita ambil sebelumnya. Sama seperti hamba yang hanya memperoleh satu talenta, kemalasan membuatnya memilih menanam talenta itu. Tetapi ketika ia melihat orang lain menggandakan talentanya, dan ia tidak, maka ia memilih berlindung di balik alasan yang menghujat tuannya.
Sehari sebelum meditasi saya sempat bertemu dengan guru agama yang mengajar saya di bangku sekolah menengah dahulu. Ketika saya mengemukakan kebingungan dalam mencari kehendak Allah, maka jawabannya sederhana, "Diamlah dalam keheningan. Biarkan segalanya mengendap, karena dalam kebeningan dan kejernihanlah semua bisa terlihat jelas." Menjadi seperti Martha yang sibuk melayani memang penting, karena ladang luas dan hanya sedikit yang melayani. Tetapi, ketika pelayanan itu menjadi fokus utama, bukan lagi Tuhan yang menjadi fokus kita, melainkan karya dan hasil pribadi. Kita memerlukan waktu untuk diam, memandang dan mendengarkanNya seperti Maria agar kita mampu melihat dengan jelas kehendakNya dan kebutuhanNya dalam pelayanan kita.
Bapa Yang Maha Baik,
Terima kasih atas penyertaanMu,
saat pilihan yang salah berbuah resiko,
Engkau tidak meninggalkan putriMu.
Engkau hadir dalam keteduhan dan kedamaian yang menyejukkan jiwa
Engkau menghapus air mata dan kecemasan dengan kasihMu.
Bapa, aku ingin lebih mengenal kehendakMu,
Ingin lebih pantas menjadi putriMu,
Bimbing dan tuntun langkahku Bapa,
Beranikan aku mengambil resiko bagiMu,
Kuatkan aku dalam melangkah di persimpangan jalan,
jangan biarkan kutersesat
jangan padamkan cahayaMu di hatiku.
Amin.
Saya sangat tertarik pada perkataan sang tuan kepada hamba-hambanya, baik yang berhasil menggandakan 5 talenta, maupun yang menggandakan 2 talenta. Tuan tersebut berkata; "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Perkataan itu sama persis. Tidak ada perbedaan hanya karena yang satu menghasilkan 5 talenta sementara yang lain hanya membawa 2 talenta.
Dalam buku "Jalan Menuju Kehidupan", pater Gerry Pierse CSsR mengatakan bahwa hamba yang hanya memiliki satu talenta tidak berani mengambil resiko. Hal ini mengingatkan saya akan pencarian saya akan kehendakNya. Seringkali saya tidak berani membuat pilihan karena merasa takut tidak mengikuti kehendakNya. Padahal sebenarnya yang paling penting bagiNya adalah keberanian kita mengambil resiko bersamaNya. Talenta yang dipertaruhkan adalah talentaNya. Ketika kita kehilangan talenta itu, maka Ia tidak akan marah. Ia akan tetap ada di sisi kita untuk menguatkan dan menghibur kita.
Ayat yang menarik perhatian saya itu mengajarkan saya betapa seringkali saya membesar-besarkan masalah. Lima talenta atau dua talenta bagi Tuhan hanyalah perkara kecil. Hamba dengan satu talenta itu memandang satu talenta yang dimilikinya sebagai perkara besar, padahal bagi tuannya hal itu hanya perkara kecil.
Seorang teman yang lain merasakan sengatan dalam perkataan yang terdapat dalam Injil Matius 25:26 "Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur, dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?" Perkataan "hamba yang jahat dan malas" memang terasa sangat keras. Mengapa hamba itu dikatakan jahat? Tampaknya karena ia menuduh tuannya dengan tudingan yang tidak benar. Ia memilih mempersalahkan orang lain untuk pembenaran dirinya. Bila sebelum mendengar sharing teman ini saya tidak terlalu merasakan pentingnya ayat ini, maka setelah mendengarnya berbagi refleksi saya baru merasakan betapa sering saya juga mempersalahkan orang lain, mempersalahkan keadaan, bahkan mungkin juga pernah mempersalahkan Tuhan untuk situasi yang sedang dihadapi. Sebenarnya apa yang terjadi pada diri kita adalah akibat dari pilihan-pilihan yang kita ambil sebelumnya. Sama seperti hamba yang hanya memperoleh satu talenta, kemalasan membuatnya memilih menanam talenta itu. Tetapi ketika ia melihat orang lain menggandakan talentanya, dan ia tidak, maka ia memilih berlindung di balik alasan yang menghujat tuannya.
Sehari sebelum meditasi saya sempat bertemu dengan guru agama yang mengajar saya di bangku sekolah menengah dahulu. Ketika saya mengemukakan kebingungan dalam mencari kehendak Allah, maka jawabannya sederhana, "Diamlah dalam keheningan. Biarkan segalanya mengendap, karena dalam kebeningan dan kejernihanlah semua bisa terlihat jelas." Menjadi seperti Martha yang sibuk melayani memang penting, karena ladang luas dan hanya sedikit yang melayani. Tetapi, ketika pelayanan itu menjadi fokus utama, bukan lagi Tuhan yang menjadi fokus kita, melainkan karya dan hasil pribadi. Kita memerlukan waktu untuk diam, memandang dan mendengarkanNya seperti Maria agar kita mampu melihat dengan jelas kehendakNya dan kebutuhanNya dalam pelayanan kita.
Bapa Yang Maha Baik,
Terima kasih atas penyertaanMu,
saat pilihan yang salah berbuah resiko,
Engkau tidak meninggalkan putriMu.
Engkau hadir dalam keteduhan dan kedamaian yang menyejukkan jiwa
Engkau menghapus air mata dan kecemasan dengan kasihMu.
Bapa, aku ingin lebih mengenal kehendakMu,
Ingin lebih pantas menjadi putriMu,
Bimbing dan tuntun langkahku Bapa,
Beranikan aku mengambil resiko bagiMu,
Kuatkan aku dalam melangkah di persimpangan jalan,
jangan biarkan kutersesat
jangan padamkan cahayaMu di hatiku.
Amin.
Tegur dan Ampunilah
Bacaan Lectio Divina kami beberapa waktu yang lalu adalah Injil Lukas 17:1-6. Suster pembimbing kami memberikan tema "Mengampuni itu menyembuhkan". Bacaan ini agak sedikit berat bagi kelompok kami. Yang menonjol bagi kami pada hari itu adalah pesan, "tegurlah dan ampunilah."
Lukas 17:3 "Jagalah dirimu! Jika saudaramu berbuat dosa tegurlah dia, dan jikalau dia menyesal, ampunilah dia." Ayat ini tampaknya paling banyak menarik perhatian anggota kelompok kami. Ada yang menekankan pada penggal akhir kalimat, "jikalau dia menyesal, ampunilah dia." Apakah kita perlu menunggu orang menyesal baru memaafkan? Bukankah kita diajarkan untuk senantiasa memaafkan orang? Bukankah kita diminta untuk memaafkan tujuh puluh kali tujuh kali?
Kalimat, "Jika saudaramu berbuat dosa tegurlah dia,...," juga sangat menarik. Bukankah kita tidak boleh melihat selumbar di mata saudara sementara di mata kita sendiri masih ada balok? (Lukas 6: 41-42) Bagaimana kita bisa mengatakan orang lain berdosa sementara kita sendiri juga pernah berbuat dosa? (Yohanes 8:7 "...Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.")
Dari renungan dan sharing kelompok kami merasa bahwa seringkali ketika seseorang bersalah pada kami, maka bila orang itu bukan orang dekat, kami akan cenderung untuk menjauhi orang tersebut agar sakit hati itu tidak terulang lagi. Mungkinkah ini yang dimaksudkan dengan "tegurlah"? Beritahukan, komunikasikan... karena belum tentu orang itu mengetahui kesalahannya. Mendiamkan kesalahan apalagi membiarkan orang terus hidup dalam dosa bisa menjadi dasar pengulangan kembali kesalahan atau dosa itu. Kita memang perlu belajar memberikan saran perbaikan dengan lebih bijaksana agar dapat mencapai tujuan yang benar.
Lukas 17:4 "Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Walaupun kami tahu benar mengampuni bagi Yesus adalah tujuh puluh kali tujuh kali, tetapi tetap saja perkataan mengampuni satu orang tertentu yang dalam satu hari melakukan tujuh kali kesalahan, dan setelah setiap kesalahan selalu datang untuk meminta maaf, merupakan hal yang luar biasa bagi kami. Ketika pertama kali ia datang meminta maaf, pasti dengan tulus mampu dimaafkan. Ketika ia datang lagi pada hari yang sama untuk kedua kalinya, bisa jadi agak kesal tapi masih memaafkan. Hanya saja bila tujuh kali hal itu berulang, pikiran yang paling mungkin adalah keraguan akan ketulusan permohonan maaf orang tersebut, dan kemungkinan hati menjadi tertutup untuk bisa memaafkan.
Dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga, hal seperti ini yang paling sering terjadi. Suatu kesalahan yang sudah dimaafkan kemudian kembali terulang. Luka yang sudah mulai mengering kembali terbuka dan perih. Perasaan yang sudah mulai naik bagaikan yoyo yang dihempaskan kembali ke bawah. Dalam posisi seperti ini sungguh kami membutuhkan iman kepadaNya dan penyertaanNya agar mampu senantiasa memaafkan.
Memaafkan itu menyembuhkan. Ketika rasa sakit masih hadir ketika kita membicarakan orang yang bersalah pada diri kita, maka bisa jadi kita belum mampu sungguh-sungguh memaafkannya. Ketika rasa sakit itu sudah tidak hadir lagi, maka saat itu pastilah kita sudah benar-benar mengampuni kesalahannya. Doa dan meditasi menjadi sarana pembantu kami untuk menghadirkanNya dalam diri kami, dan merasakan rahmatNya yang besar yang memampukan kami untuk mengampuni.
Tuhan,
Engkau maha rahim dan maha baik,
Berkati kami agar selalu mampu mengampuni
Mengampuni sesama, maupun mengampuni diri kami sendiri,
Jadikanlah kami pembawa damaiMu,
Sembuhkan luka-luka batin yang mendera kami
yang mencegah kami untuk mengampuni dengan tulus,
Bantu kami menyinarkan kerahimanMu
dengan mampu mengampuni setulus hati.
Amin.
Lukas 17:3 "Jagalah dirimu! Jika saudaramu berbuat dosa tegurlah dia, dan jikalau dia menyesal, ampunilah dia." Ayat ini tampaknya paling banyak menarik perhatian anggota kelompok kami. Ada yang menekankan pada penggal akhir kalimat, "jikalau dia menyesal, ampunilah dia." Apakah kita perlu menunggu orang menyesal baru memaafkan? Bukankah kita diajarkan untuk senantiasa memaafkan orang? Bukankah kita diminta untuk memaafkan tujuh puluh kali tujuh kali?
Kalimat, "Jika saudaramu berbuat dosa tegurlah dia,...," juga sangat menarik. Bukankah kita tidak boleh melihat selumbar di mata saudara sementara di mata kita sendiri masih ada balok? (Lukas 6: 41-42) Bagaimana kita bisa mengatakan orang lain berdosa sementara kita sendiri juga pernah berbuat dosa? (Yohanes 8:7 "...Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.")
Dari renungan dan sharing kelompok kami merasa bahwa seringkali ketika seseorang bersalah pada kami, maka bila orang itu bukan orang dekat, kami akan cenderung untuk menjauhi orang tersebut agar sakit hati itu tidak terulang lagi. Mungkinkah ini yang dimaksudkan dengan "tegurlah"? Beritahukan, komunikasikan... karena belum tentu orang itu mengetahui kesalahannya. Mendiamkan kesalahan apalagi membiarkan orang terus hidup dalam dosa bisa menjadi dasar pengulangan kembali kesalahan atau dosa itu. Kita memang perlu belajar memberikan saran perbaikan dengan lebih bijaksana agar dapat mencapai tujuan yang benar.
Lukas 17:4 "Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Walaupun kami tahu benar mengampuni bagi Yesus adalah tujuh puluh kali tujuh kali, tetapi tetap saja perkataan mengampuni satu orang tertentu yang dalam satu hari melakukan tujuh kali kesalahan, dan setelah setiap kesalahan selalu datang untuk meminta maaf, merupakan hal yang luar biasa bagi kami. Ketika pertama kali ia datang meminta maaf, pasti dengan tulus mampu dimaafkan. Ketika ia datang lagi pada hari yang sama untuk kedua kalinya, bisa jadi agak kesal tapi masih memaafkan. Hanya saja bila tujuh kali hal itu berulang, pikiran yang paling mungkin adalah keraguan akan ketulusan permohonan maaf orang tersebut, dan kemungkinan hati menjadi tertutup untuk bisa memaafkan.
Dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga, hal seperti ini yang paling sering terjadi. Suatu kesalahan yang sudah dimaafkan kemudian kembali terulang. Luka yang sudah mulai mengering kembali terbuka dan perih. Perasaan yang sudah mulai naik bagaikan yoyo yang dihempaskan kembali ke bawah. Dalam posisi seperti ini sungguh kami membutuhkan iman kepadaNya dan penyertaanNya agar mampu senantiasa memaafkan.
Memaafkan itu menyembuhkan. Ketika rasa sakit masih hadir ketika kita membicarakan orang yang bersalah pada diri kita, maka bisa jadi kita belum mampu sungguh-sungguh memaafkannya. Ketika rasa sakit itu sudah tidak hadir lagi, maka saat itu pastilah kita sudah benar-benar mengampuni kesalahannya. Doa dan meditasi menjadi sarana pembantu kami untuk menghadirkanNya dalam diri kami, dan merasakan rahmatNya yang besar yang memampukan kami untuk mengampuni.
Tuhan,
Engkau maha rahim dan maha baik,
Berkati kami agar selalu mampu mengampuni
Mengampuni sesama, maupun mengampuni diri kami sendiri,
Jadikanlah kami pembawa damaiMu,
Sembuhkan luka-luka batin yang mendera kami
yang mencegah kami untuk mengampuni dengan tulus,
Bantu kami menyinarkan kerahimanMu
dengan mampu mengampuni setulus hati.
Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Retty N. Hakim
- A mother of three boys, who is trying to grab the essence of life through blogging. Citizen journalism firing me to write. The internet has broken the limitation of my house walls and my hectic time schedule. It has opened my eyes to all those wonderful persons with all their own opinions. Sharing ideas and comments are the wonderful aspect of the internet that attract me. I hope that we are going to build a better world with better communication...