Saturday, August 20, 2011

Siapakah Aku ini?

Dari Injil Matius 16:13-20 mengenai pengakuan Petrus kepada Yesus, saya sangat tersentuh pada dua ayat. Ayat 15; Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Pertanyaan yang sama, kalau diajukan pada diriku dalam keadaan yang sedang galau, akankah sanggup kujawab dengan lantang, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Ataukah mungkin, justru dalam kondisi senang tidak kuingat siapakah Mesias?

Ayat lain yang menyentuhku adalah ayat 17 ketika Yesus berkata kepada Petrus, "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga..." Ayat ini menyentuhku karena sesungguhnya itu adalah gambaran pertemuanku dengan Tuhan melalui meditasi Kitab Suci. Aku mengenal Kitab Suci dari kecil, dari orang tua, dari para rohaniwan dan rohaniwati yang kukenal, dari sekolah dan dari guru-guruku. Tapi Ia menyatakan FirmanNya yang hidup itu melalui perjumpaan kami di dalam kelompok meditasi Kitab Suci. Ia datang, menyentuh kami satu per satu sesuai dengan kebutuhan kami masing-masing. Satu ayat yang sama tidak selalu menyapa dengan sapaan yang sama ke setiap anggota kelompok. Satu ayat yang sama bisa menyapa orang yang sama di waktu yang berbeda dengan sapaan yang berbeda.

Mengakui Yesus sebagai Mesias, sebagai penyelamat ketika sedang terpuruk dan tidak bisa bangkit bisa jadi bukan hal yang mudah. Tapi bila kita mampu menjadikanNya Mesias dalam keterpurukan itu, niscaya pertolonganNya akan datang. Bukan dengan meniadakan kesulitan itu, tetapi dengan menguatkan kita untuk melaluinya seperti unta yang mampu lolos dari lubang jarum.

Seorang teman yang sudah menanti di rumah Bapa pernah mengingatkan bahwa tidak ada hal yang kebetulan. Setiap perjumpaan bukan hal yang kebetulan. Setiap peristiwa bukan hal yang kebetulan terjadi. Walaupun mencoba untuk mencariNya melalui meditasi, tetapi hadirNya tidak selalu terasakan. Seperti Nabi Elia yang mencariNya di tengah kemegahan, seringkali tidak mampu kutemukan hadirNya. Tetapi Ia hadir. Ia menuntunku tanpa bunyi genderang dan sangkakala kedatanganNya. Kemarin saya menerima dari seorang teman yang juga masih tetanggaku sebuah buku dari Romo Thomas Hidya Tjaya, SJ. Ph.D. berjudul "Peziarahan HATI". Buku itu bagaikan menjawab beberapa pertanyaan, dan kebimbangan yang sedang kugumuli. Ia yang dahulu kutuding diam, ternyata sekarang begitu rajin menjawab pertanyaanku. Rupanya dahulu aku selalu bertanya dalam keriuhan pikiranku, tidak kubiarkan keheningan membawaNya mendekat padaku.

Dari halaman 45 buku itu kutemukan pertanyaan yang sebenarnya juga menggangguku, "Apakah yang sesungguhnya kita cari?" Penulis buku itu mengatakan bahwa kita lupa kalau tujuan hidup kita yang sebenarnya adalah untuk percaya dan mengasihi Tuhan dalam melakukan setiap kegiatan yang kita lakukan, dan bukan pertama-tama melakukan kegiatan yang sebanyak mungkin. Tentunya juga bukan untuk menjadi yang terbaik di dalam setiap kegiatan yang saya ikuti. Itu adalah nilai-nilai yang kupelajari dari dunia, bukan dariNya. Hal ini memperkuat bisikanNya dalam menjawab kegalauanku mengenai talenta yang sudah kutuliskan di tulisan "Membaca TalentaNya."

Sejak semula sebenarnya aku sudah tahu bahwa aku mencariNya. Tetapi ketika berhadapan denganNya akankah aku sanggup dengan tegas menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup"? Dari halaman 88 buku Peziarahan HATI, aku menemukan satu kalimat penting, "Hati sebagai kunci penerimaan segala pemberian." Ketika kita tidak membuka hati untuk menerima pemberianNya, bagaimana pemberian itu bisa kita terima dan miliki?

Pada halaman 100 saya menemukan penguatan atas perjalanan meditasi Kitab Suci yang selama ini menguatkanku. Katanya,
Kitab-kitab suci ditulis pertama-tama bukan untuk dihafalkan sampai ke detail-detailnya, melainkan untuk digunakan sebagai semacam peta perjalanan rohani dan untuk menyadarkan kita betapa Tuhan mengasihi dan menyayangi kita sepanjang zaman. Orang yang mengetahui seluruh isi Kitab Suci, bahkan sampai detail terkecilnya sekalipun belum tentu mengalami perjalanan tersebut, sama seperti orang yang tahu betul peta daerah tertentu belum tentu pernah mengunjungi dan mengelilingi sendiri wilayah tersebut. Demikian pula, orang tahu dari Kitab Suci mengenai karya-karya besar Tuhan pada orang-orang zaman dahulu belum tentu mengalami sendiri karya besar Tuhan dalam dirinya. Untuk mengalami semuanya itu, manusia harus membuka hatinya pada Tuhan. Pada akhirnya hati manusialah yang harus menapaki perjalanan rohani ini. Di sinilah Anda diajak untuk mengalami sendiri perjumpaan pribadi Anda dengan Tuhan melalui hati. Melalui perasaan-perasaan hati, Anda diundang untuk merasakan langsung kasih Tuhan yang memang tersedia bagi semua makhlukNya. Pengalaman seperti ini akan membuat Anda mengenal Tuhan secara langsung karena memang itulah yang Tuhan kehendaki.
Inilah pengalaman batin yang kelompok meditasi Kitab Suci kami alami. Pengalaman itulah yang membuat kami merasakan kehadiran meditasi Kitab Suci menjadi kebutuhan yang mendasar bagi kami. Tanpa meditasi terasa bagai batere yang perlu diisi (charge). Pengalaman ini yang belum terasa melalui meditasi kristiani. Bisa jadi apa yang dikatakan dalam halaman 110-111 buku Romo Thomas ini merupakan jawabannya. Aku belum mampu berdoa menggunakan hati. Ketika berdoa seringkali kita ingin agar doa kita cepat selesai supaya kita dapat melakukan kegiatan-kegiatan lain yang sudah menanti. Ketika kita berdoa dengan hati maka kita berdoa bukan lagi karena keharusan dan kewajiban, juga bukan karena kita membutuhkan hiburan dan bantuan mengingat banyaknya kesusahan yang kita alami, melainkan karena kita rindu pada Tuhan yang mengasihi dan menyayangi kita.

"Siapakah Aku ini?" Bagiku Ia adalah Guru, Sahabat, dan Mesias. Dan aku tidak ingin di akhir perjalanan nanti Ia menjawabku, "Kapan engkau mendengarkan ajaranKu? Kapan engkau menjadi sahabatKu? Mengapa engkau tak mau kuselamatkan?"

Bapa,
temani perjalananku,
temani pergumulanku,
bukakan hatiku bagi hadirMu,
dan biarkan hatiku mengenalMu,
dan mengenal jalan kebenaranMu.
Amin.


Friday, August 12, 2011

Iman yang Benar, Pengharapan yang Teguh, dan Kasih yang Sempurna

Perjalanan meditasi kami Jumat yang lalu menggunakan Injil Matius 15: 21-28 tentang perempuan Kanaan yang percaya. Hal yang sangat menyentuh hatiku adalah kerendahan hati perempuan Kanaan itu. Bagiku, perkataan Yesus kepada perempuan itu sangat keras dan kejam, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Alih-alih tersinggung disamakan dengan anjing, perempuan itu menjawab, "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus akhirnya menjawab, "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki." Seketika itu juga anaknya sembuh.

Melalui meditasi hari ini saya diingatkan kembali akan pentingnya untuk mengetahui apa yang kita kehendaki. Terkadang saya salah menerjemahkan arti perkataan Bunda Maria, "Terjadilah padaku menurut kehendakMu." Perkataan Bunda Maria itu seringkali kuterjemahkan dengan meniadakan kehendakku. Seperti sungai yang mengalir saya berjalan menelusuri kehidupan ini. Satu-satunya muara yang kuketahui hanyalah Tuhan. Kapan kutiba di muara itu hanya Ia juga yang tahu.

Tetapi seperti juga perumpamaan talenta (Matius 25: 14-30) dan orang yang bekerja di kebun anggur (Matius 20: 1-16) Tuhan ingin kita menghasilkan sesuatu dalam kehidupan ini. Sebagai sahabatNya, bukan hambaNya yang senantiasa menantikan perintah. Gandakanlah talentamu, adalah perintah yang diberikanNya tanpa secara khusus memberitahukan apa yang harus dilakukan. Dalam perumpamaan tentang uang mina, penulis Injil Lukas menggunakan perkataan, "Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali," tetapi berdagang punya banyak cara dan juga bisa memilih banyak macam barang atau jasa yang diperdagangkan. HambaNya bukan lagi sekedar budak yang harus menuruti perintah tuannya, melainkan manusia merdeka yang boleh memiliki kehendak dan keinginan sendiri.

Menjadi manusia merdeka harus mengetahui kehendak pribadi kita, yang tetap dalam restu dari Tuhan. Mengenali keinginan pribadi membuat kita mampu meminta kepadaNya. Perempuan dari Kanaan ini seperti yang dikatakan Yesus dalam Injil Lukas 11:8 "Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak tahu malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya."

Satu hal yang perlu kita sadari adalah seringkali kita menginginkan hasil yang instan. Apa yang kita harapkan ingin kita peroleh hari ini juga. Tuhan memiliki jalan dan caraNya sendiri dalam mengabulkan permohonan umatNya. Berlian perlu diasah untuk memperlihatkan kilaunya, demikian juga Ia mengasah kita untuk mendapatkan hasil kilau yang sempurna.

Bukan hanya iman yang besar yang kita butuhkan, melainkan juga iman yang benar. Seorang rekan membagikan permohonan St. Fransiskus Asisi akan iman yang benar, pengharapan yang teguh, dan kasih yang sempurna. Perempuan dari Kanaan itu telah memiliki iman yang benar, dan ia teguh dalam berharap kepada Yesus. Bahkan sesungguhnya permohonan itu disampaikan oleh perempuan dari Kanaan itu karena kasihnya kepada anaknya yang menderita karena kerasukan setan. Mungkin itu adalah juga bentuk kasih yang sempurna, yang membuat dia dengan tabah menerima penghinaan sebagai anjing yang menginginkan rempah-rempah yang jatuh dari meja. Kasih yang tidak memikirkan diri sendiri.

Untuk penutup kali ini saya ingin ikut dengan doa St. Fransiskus Asisi yang saya dapatkan dari portal OFM.

Doa di Hadapan Salib

Allah yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan,
terangilah kegelapan hatiku
dan berilah aku
iman yang benar,
pengharapan yang teguh,
dan kasih yang sempurna
berilah aku, ya Tuhan,
perasaan yang peka
dan budi yang cerah,
agar aku mampu melaksanakan perintah-Mu
yang kudus dan yang takkan menyesatkan.

Amin.


Tuesday, August 09, 2011

"Jangan takut, datanglah kepadaKu"

Perayaan Misa Kudus hari Minggu, 7 Agustus 2011 menjadi istimewa bagiku sekeluarga karena hari itu adalah peringatan 45 tahun pernikahan orang tuaku. Dari bacaan I, Kitab I Raja-raja 19:9a, 11-13a, yang paling menarik dari bacaan ini adalah pertanyaan Tuhan kepada Nabi Elia, "Apakah kerjamu di sini, Elia?" Elia merasa bekerja hanya demi Tuhan, tetapi apa yang dikerjakannya bukan apa yang Tuhan inginkan ia kerjakan. Kata Tuhan kepadanya, "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan Tuhan."

Lalu angin besar dan kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit batu. Tidak ada Tuhan di situ. Lalu datanglah gempa, tetapi tidak ada juga Tuhan di situ. Kemudian muncullah api, dan tetap tidak ada Tuhan di situ. Ketika angin sepoi-sepoi basa berhembus, Elia bisa merasakan kehadiranNya. Kita seringkali mencari Tuhan dalam perbuatan yang besar dan menakjubkan, tetapi seperti Elia, kita tidak akan menemukanNya di sana. Ia datang dalam hal-hal yang tampak sederhana, tidak bombastis, dan terlihat biasa. Angin sepoi basa yang berhembus itu membawa rasa nyaman, begitulah hadirNya membawa rasa nyaman di hati. Bagaimana kita mengenali kehendakNya, bagaimana ketakutan kita disirnakan merupakan karunia dariNya. Tetapi kita perlu memiliki kemauan untuk datang padaNya.

Injil Matius 14:22-33 menceritakan bagaimana Petrus dengan imannya mampu berjalan di atas air menuju pada Yesus. Di tengah jalan kebimbangan menggayutinya dan memberatkan langkahnya. Tiupan angin kemudian membuatnya tenggelam sehingga ia berteriak, "Tuhan, tolonglah aku!" Iman kita terkadang seperti Petrus yang mengalami kebimbangan dan kehilangan kepercayaan dalam menjalankan perintah-perintahNya. Padahal Ia memanggil dengan sangat menguatkan, "Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!" , lalu disambungNya, "Datanglah."

Dalam dua kesempatan yang berdekatan ini saya diberikan penguatan dengan ucapanNya, "Jangan takut!" Kehidupan di zaman ini terkadang memang penuh dengan ketakutan. Kehadiran kehidupan modern yang canggih dan serba cepat membuat hidup terasa semakin kencang berlari. Tuntutan kehidupan seakan menghabiskan waktu dan energi kita yang berlari di dalamnya. Kekhawatiran akan masa depan, terutama bagi anak-anak yang dipercayakanNya. Kekhawatiran akan ketidak mampuan menyenangkan orang tua yang sudah menghidupi dan membesarkan. Kekhawatiran akan kehabisan waktu tanpa pernah melakukan sesuatu apapun yang berarti. Semua itu terkadang mendera kehidupan manusia.

Dua bacaan di atas menyapaku dengan mengingatkan betapa Tuhan tidak selalu hadir dalam kemegahan, kebesaran, dan tindakan-tindakan yang luar biasa. Ia hadir dengan sederhana tapi menyejukkan. Menjadi berarti bisa jadi menjadi orang yang tidak berarti tetapi mampu membagikan rasa nyaman pada sesama.

"Jangan takut, datanglah kepadaKu," merupakan penguatan bahwa Ia yang memanggil dan Ia akan membantu kita menjalani perjalanan itu, semustahil apapun tampaknya, selama kita senantiasa percaya kepadaNya.

Bapa Yang Maha Baik,
Besar kasihMu bagi kami,
manusia yang senantiasa meragu dan ketakutan,
Indah cintaMu yang menguatkan,
menghalau keraguan dan ketakutan,
Tumbuhkanlah terus iman kami,
agar tiada tenggelam kami karena kurang percaya
hapuskan kebimbangan kami
ulurkan tanganMu dan bimbing kami,
Amin.

Friday, August 05, 2011

"Berdirilah, jangan takut!"

Injil Matius 17:1-9 menceritakan tentang Yesus dimuliakan di atas gunung. Ayat emas yang menyentuhku hari ini ada di ayat 7 ketika Yesus berkata, "Berdirilah, jangan takut!" Petrus dan murid-murid lain yang menyaksikan Yesus dalam kemuliaan sedang bercakap-cakap dengan Musa dan Elia menginginkan agar kebahagiaan itu tidak berlalu. KemuliaanNya yang bersinar membawa kedamaian yang nyaman di hati murid-murid itu.

Rasa damai itu pula yang kucari dalam perjalanan mencariNya. Tetapi kehidupan senantiasa memiliki kebahagiaan dan kesedihan, sementara manusia senantiasa memiliki kekhawatiran. Manusia seringkali jatuh ke dalam kesedihan karena terlalu memperhatikan kekhawatirannya. Pikiran yang khawatir akan mengakibatkan pilihan tindakan yang salah. Seorang teman mengirimkan renungan harian yang mengatakan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Menganggap kegembiraan itu kekal akan menjadikan manusia menjadi sombong dan lupa diri. Sebaliknya, bila mengira kesedihan itu langgeng maka iri hati, putus asa, dan tidak berpengharapan menjadi teman seperjalanan. Dalam kebahagiaan kita bisa jatuh, dalam kesedihan kita juga bisa terpuruk. Yesus datang menawarkan kekuatan, "Berdirilah, jangan takut!"

Sebagai manusia seringkali kita terjatuh ke dalam dosa, baik yang tidak sengaja maupun yang sengaja. Rasa bersalah, rasa takut, kekhawatiran, semuanya dihapuskanNya dengan ajakan untuk berdiri kembali. Berdirilah, tinggalkan ketakutan itu, bersiaplah melangkah kembali. Bukan kebahagiaan semata yang dijanjikanNya, karena Ia sendiri berkata bahwa Anak Manusia akan menderita, tetapi penyertaanNya dalam kehidupan kita akan menemani dan menguatkan kita.

Seorang ibu yang mempunyai anak kecil sangat tahu arti perkataan ini, "Berdirilah, jangan takut!" Ketika anak baru mulai belajar berdiri, mereka sangat ketakutan akan jatuh. Ibu biasanya membantu memberi semangat, terkadang membantu menopangnya. Ketika anak itu mulai belajar berjalan, sekali lagi ia takut terjatuh. Kembali lagi pengasuhnya memberi semangat untuk berdiri dan mencoba lagi, terkadang membantu menitahnya. Lalu, anak itu mulai belajar naik sepeda...dan jatuh kembali menjadi momok yang menakutkan. Semangat untuk bangkit kembali dan mencoba lagi menjadi sumber kekuatan untuk meneruskan pembelajaran bersepeda hingga mahir. Hampir semua keahlian memerlukan kegagalan sebelum mencapai keberhasilan.

SentuhanNya yang menguatkan, dan ajakanNya untuk kembali berdiri menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk senantiasa bangkit kembali. Dalam perjalanan ke bukit Golgota, Yesus juga terjatuh tiga kali, tetapi Ia tidak membiarkan kesakitanNya menghentikan langkahNya yang sudah direncanakan Bapa. Ketika kita jatuh, ingatlah bahwa tanganNya senantiasa ada di sana, menawarkan bantuan sambil menguatkan, "Berdirilah, jangan takut!"

Bapa yang Maharahim,
terima kasih atas pengampunanMu,
atas kekuatan dan bantuan yang senantiasa Dikau berikan
atas contoh dan ketabahan yang luar biasa dari PutraMu,
temani kami anakMu...
agar berani dan mampu untuk senantiasa bangkit kembali,
Amin.

Thursday, August 04, 2011

Apakah yang kamu cari?

Dari bacaan Injil Yohanes I: 35-39, saya terkesan pada dua orang murid Yohanes Pembaptis yang pergi mengikuti Yesus. Yohanes hanya berkata, "Lihatlah Anak Domba Allah!" Kedua murid mendengar apa yang dikatakannya dan mereka pergi mengikuti Yesus. Hal yang pertama saya jadikan catatan adalah suara hati. Yohanes tidak menyuruh kedua orang itu mengikuti Yesus, tetapi mereka tergerak untuk pergi mengikutiNya. Suara hati merupakan sesuatu yang sangat penting dalam mencari discernment.

Ketika Yesus menengok ke belakang dan melihat mereka mengikutiNya, Ia bertanya: "Apakah yang kamu cari?" Pemimpin meditasi hari ini membacakan sepenggal catatan Romo Siriakus Maria Ndolu, OCarm. yang diambil dari bukunya "Meditasi Kristiani, Jalan Sederhana Menjumpai Allah." Renungan dari Romo Siriakus kebetulan mempertegas pertanyaan yang sebelumnya sudah menjadi pemikiranku, "Apa yang aku cari dalam kehidupan ini?"

Saya kutipkan tulisan Romo Siriakus yang menarik perhatian saya pagi ini.
"Apakah yang kamu cari pagi ini?" Tidak mudah memang untuk dijelaskan dengan kata-kata. Tetapi ini adalah pertanyaan yang mengosentrasikan kita; pertanyaan yang memfokuskan perhatian kita - yang membuat Anda berefleksi, yang membuat Anda bertanya diri, tentang nilai-nilai Anda, tentang jalan hidup Anda, tentang bagaimana Anda menggunakan waktu atau uang Anda atau relasi-relasi Anda. Apakah itu adalah nilai-nilai yang real, prioritas-prioritas yang nyata di dalam kehidupan Anda? Jadi pertanyaan Yesus ini bukanlah pertanyaan yang Anda jawab satu kali untuk selamanya. Ini adalah pertanyaan yang perlu Anda dengarkan setiap hari.
Yohanes Pembaptis tahu siapa yang dicarinya ketika ia bertemu dengan Yesus. Ia tidak mempermasalahkan bahwa muridnya kemudian pergi menjadi murid Yesus. Ia tidak terjebak pada kebanggaan diri yang berlebih. Ia yang membaptis Yesus dengan air, tetapi Bapa di surga yang membaptis Yesus dengan Roh Kudus, "Lihatlah Anak Domba Allah."

"Apa yang kamu cari?" Itu adalah pertanyaan yang akhir-akhir ini juga terus menjadi pemikiranku. Ketika manusia lebih mengukur segala sesuatu dengan keberhasilan duniawi, maka tidak jarang benturan antara idealisme dan kebutuhan menjadi sesuatu yang lazim. Keinginan melayani melalui pendidikan, seringkali berbenturan dengan nilai penghargaan yang diberikan sekolah bagi guru-gurunya. Kehadiran blog yang membantu untuk berbagi, terkadang juga menyimpan jebakan dengan keinginan untuk dikenal, atau bisa juga untuk mendapatkan manfaat ekonomi. Bagaimanapun manusia tidak hanya membutuhkan Roti yang Hidup, melainkan juga membutuhkan roti harian yang duniawi. Ketika kita memiliki sebuah keluarga, maka kebutuhan pribadi yang masih bisa ditekan terkadang tertutupi oleh kebutuhan anak-anak yang sulit untuk ditolak. Belum lagi kebutuhan akan eksistensi diri merupakan sesuatu yang manusiawi tetapi tidak jarang merupakan batu sandungan dalam ketulusan pelayanan.

Pelayanan bagi lingkungan yang seringkali hanya memunculkan wajah pengurus lingkungan yang itu-itu saja, tidak lepas dari benturan kebutuhan waktu untuk keluarga. "Apa yang kamu cari?" Ketika pelayanan di rumah belum juga sempurna, apakah kita perlu melayani ke luar? Adakah kesempurnaan itu?

Aku mencariMu Bapa,
Mencari kedamaian di pangkuanMu,
Ketika rasa haus dan lelah mendera....
Aku mencariMu,
Ke seberang benua daku mencari,
Ke balik lembar-lembar buku daku menelisik,
HadirMu
Bagai mata air yang menyejukkan jiwa,
Ada di balik hati terdalam
Di seberang detakan jantungku,
dalam keheningan diam....
Ketika kepasrahanku membuatMu membelai dan menyapaku...
Terima kasih Tuhan.
Amin.

Friday, July 29, 2011

Marta, Maria, Lazarus, dan Yesus

Melalui Injil Yohanes 11:19-27 kami diajak untuk menghadiri peristiwa duka dalam keluarga Marta dan Maria. Lazarus, adik mereka tercinta, berpulang dalam usia yang masih cukup muda. Yesus pada saat itu sangat terkenal sebagai penyembuh. Marta dan Maria sudah mengirimkan kabar sakitnya adik mereka dengan harapan Yesus datang menyembuhkannya. Anehnya, Yesus justru menunggu dua hari sebelum berangkat ke Yudea. Ia berangkat justru ketika Ia mengatakan bahwa Lazarus sudah tiada. (Latar belakang lengkap ada di Yoh 11:1-44).

Pertama-tama perjalanan Yesus kembali ke Yudea, bukan perjalanan tanpa resiko. Para murid merasa cemas akan kemarahan orang Yahudi yang ingin menghakimi Yesus. Tetapi Yesus tetap pergi. Perjalanan itu memakan waktu dua hari lamanya sehingga Yesus baru tiba empat hari setelah Lazarus meninggal. Lazarus sudah berada di dalam kuburnya.

Ada beberapa hal menarik yang saya peroleh dari meditasi hari Jumat ini. Marta dan Maria kedua-duanya menyatakan hal yang sama ketika mereka bertemu dengan Yesus, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." Menarik sekali melihat pribadi Marta yang aktif, yang dari bacaan Lukas 10:38-42 seakan melupakan bagian terbaik dalam kehidupan yaitu sabda Allah, justru tampak lebih mantap dengan iman dan kepercayaannya pada Yesus. Hal yang manusiawi timbul dari perbedaan makna perkataan Marta, "Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepadaMu segala yang sesuatu yang Engkau minta kepadaNya." dengan pernyataannya setelah Yesus memastikan bahwa Lazarus akan bangkit, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Ketika ia percaya bahwa apapun yang Yesus minta akan dikabulkan Tuhan, tetap saja segi manusiawinya mendorong untuk lebih mempercayai hal yang masuk akal, kebangkitan pada akhir zaman. Suatu hal yang benar sesuai iman walaupun secara logika belum terjamah.

Ayat emas yang sangat kuat adalah perkataan Yesus, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Marta menjawab, "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."

Setelah sekali lagi menyatakan kepercayaannya pada Yesus, Marta pergi menemui Maria dan mengatakan bahwa Yesus memanggil Maria. Dari segi manusia, rasanya ini adalah salah satu caranya untuk meminta pada Yesus. Bagi Marta, ucapan Yesus yang mangatakan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil darinya, menunjukkan bahwa Yesus berkenan pada tindakan Maria. Bagi saya, ada perasaan bahwa Yesus lebih mengasihi Maria daripada Marta, sehingga ia meminta Maria menemui Yesus.

Tindakan Marta ini seakan menguatkan permintaanNya untuk berdoa dan meminta kepadaNya. "Mintalah maka akan engkau peroleh selama engkau percaya."

Sisi manusia Yesus juga tampil dalam kisah ini. Walaupun Ia dengan sengaja memperlambat kedatanganNya agar dapat membangunkan Lazarus dari "tidur"nya, tetapi ketika melihat Maria yang menangis masygullah hatiNya. Kemudian ketika ada dari orang Yahudi yang mencela karena Yesus tidak mampu menyembuhkan Lazarus sehingga ia tidak perlu meninggal, sekali lagi masygullah hatiNya. Padahal sebelumnya Ia menyatakan, "...syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya." Ia juga pernah mengatakan bahwa, "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." Ia sudah mengetahui tujuan dan akhir dari kisah ini, tetapi tetap saja hatiNya masygul karena manusia yang tidak percaya. Selama perjalanan bersama kelompok meditasi saya melihat bagaimana musibah seringkali merupakan jalanNya untuk membentuk manusia. Ketika masalah dan pergumulan hidup menempa dan membentuk kita menjadi lebih sabar, dan lebih pasrah kepadaNya.

Keberadaan kelompok doa yang juga mejadi sarana untuk saling menguatkan memang merupakan salah satu faktor pendorong kami untuk kembali datang dalam keheningan bersamaNya. Terkadang tidak mudah untuk menyediakan waktu untuk berkumpul bersama, tetapi bagaimanapun dalam persekutuan itu lebih mudah untuk diam dalam keheningan bersamaNya daripada dalam kesendirian.

Satu hal lain yang saya peroleh dari perjalanan kelompok meditasi kami, suatu pesan yang pernah disampaikan oleh seorang teman yang kini sudah bahagia di rumahNya, bahwa tidak ada pertemuan yang kebetulan. Tuhan ingin memakai kami menjadi alat bagiNya untuk memuliakan namaNya. Sama seperti Lazarus yang dalam kisah ini sangat pasif, hanya menjadi obyek yang tertidur dan kemudian dibangunkan, ada kalanya peran kita sangat kecil, ada kalanya sangat aktif seperti Marta. Mencari keseimbangan dalam kehidupan kita, menyeimbangkan antara tuntutan kehendak bebas dengan kepasrahan kepadaNya, antara keaktifan pelayanan dengan penyerahan diri dalam doa hening. Keseimbangan Marta yang melayani dan Maria yang diam mendengarkan sabdaNya merupakan tantangan dalam mencari kehendakNya.

Tuhan,
Terima kasih atas keluarga yang menjadi bagian kehidupan kami,
Terima kasih atas teman-teman yang Kau hadirkan dalam hidup kami,
Terima kasih atas pergumulan dalam keluarga yang menguatkan iman kami,
Terima kasih atas pergumulan dalam pertemanan yang menempa kesabaran dan kerendahan hati kami,
Terima kasih karena Engkau selalu perduli,
Engkau senantiasa hadir dan mengetahui keadaan kami,
Tetapi pertolonganMu akan datang pada waktuMu,
untuk menguatkan iman kami,
untuk menyatakan kemuliaan Allah.
Amin.

Friday, July 22, 2011

Arti Kerajaan Allah

Mulai hari Jumat ini saya tidak ingin dibuat bimbang oleh metode meditasi. Biarlah Roh Kudus yang membimbing perjalanan kelompok kami. Peringatan untuk ingat meminta pertolongan kepadaNya kembali menguat. Satu hal yang terbersit dalam keheninganku hari ini adalah kalimat "Kamulah sahabat-sahabatku, kamu bukanlah hamba lagi." Sebagai hambaNya saya senantiasa menantikan perintah dan petunjuk. Sebagai sahabatNya, saya diminta untuk berkehendak bebas tanpa merugikan Sahabat saya itu, dan senantiasa mencariNya dalam setiap kelemahan saya.

Selain bersitan perkataanNya yang kuat menyentuhku itu, ada juga sebuah pertanyaan yang diberikan oleh pemimpin meditator hari itu yang membuat kami menjelajah ke dasar hati kami. "Apakah arti kerajaan Allah bagimu?"

Ternyata semua peserta meditasi menyatakan hal yang hampir serupa. Menurut kami, kerajaan Allah adalah kedekatan dengan Tuhan yang memberikan rasa damai, tenang, dan bahagia. Saya pribadi pernah sekali merasakan kebahagiaan penuh yang mengalahkan derita dunia ketika hening berpasrah kepadaNya, justru ketika saya belum mengenal istilah meditasi. Hal ini juga yang menguatkan dalam perjalanan pencarianNya bersama meditasi kristiani walaupun kesegaran instan dari meditasi ini tidak langsung terasakan.

Sabtu pagi ini ketika membaca Matius 13:24-30 maka sekali lagi terbaca mengenai hal kerajaan sorga seumpama orang yang menabur benih yang baik di ladangnya, tetapi musuh-musuhnya datang menebarkan benih ilalang di sana. Benih ilalang bisa tumbuh bersama dengan benih yang baik, bisa juga mematikan benih yang baik. Kita yang ditanami benih yang baik, sepatutnya memperkuat akar dan mengambil air kehidupan dariNya untuk terus tumbuh dan berbuah banyak. Semoga akhirnya benih yang baik bertumbuh di dalam kita dan ilalang yang mengganggu itu tidak mempengaruhi kelimpahan buahnya. Semoga akhirnya ketika saat panenNya tiba, kita memperoleh lebih banyak tunaian daripada ilalang. Dengan tunaian berlimpah kita memasuki kerajaanNya dan duduk bersamaNya sebagai sahabatNya, sebagai putra dan putriNya.

Tuhan,
terima kasih telah menerima kami sebagai sahabatMu,
kami manusia lemah karena daging,
yang senantiasa membutuhkan dukungan kekuatan dariMu,
yang senantiasa membutuhkan curahan air hidupMu.
Berkati perjalanan kami ya Bapa,
Temani kami dalam kekhawatiran dan pergumulan di dunia,
Agar benih yang Kau tanam bisa terus bertumbuh dan berbuah.
Amin.

Thursday, July 21, 2011

Berbuah dari FirmanNya

Renungan harian hari ini dari Matius 13: 10-17 yang berkisah tentang perumpamaan seorang penabur. Saya terpikat dengan Matius 13:16 "Tetapi berbahagialah matamu karena melihat, dan telingamu karena mendengar." Mengikuti meditasi dengan merenungkan firmanNya membantu saya untuk melihat dan mendengar kebenaran sabdaNya. Satu hal yang saya sadari benar adalah perlunya menggali ke dalam diri. Hal ini yang sudah saya peroleh melalui meditasi dalam tuntunan firmanNya.

Kalau bacaan Injil di atas dilanjutkan, maka kita bisa membaca mengenai arti perumpaan tentang tanah tempat benih ditaburkan. Tanah yang berbatu-batu merupakan orang yang menerima firman dengan gembira tapi tidak membiarkan firman itu berakar di dalamnya, sehingga mudah mati. Tanah yang bersemak duri merupakan orang yang mendengar firman itu tapi dilumpuhkan oleh kekhawatiran dunia sehingga tidak mampu berbuah. Yang terakhir adalah orang yang menerima sang Firman dan berbuah di dalamNya. Meditasi ini membantuku untuk menyiangi tanah yang kusediakan untuk pertumbuhan buah-buah dari benih yang ditanamNya.

Baru saja, ketika ingin menuliskan renungan tadi pagi di atas, saya tidak sengaja membuka surat Yakobus 4: 13-17, "Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan." Itu adalah gambaran diriku dahulu yang membuat semua perencanaan kehidupanku. Menghadap kepadaNya untuk meminta restu, tetapi melupakan membaca kehendakNya. Mencoba mengetahui kehendakNya tapi tidak menyediakan cukup waktu hening untuk mendengar kehendakNya. Yakobus 4:14 mengatakan, "...sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap."

Begitulah waktu berlalu bagaikan berlari. Usia bertambah, dan kehidupan berputar terus. Anak bayi menjadi besar, lalu remaja, lalu dewasa, kemudian tua... Apa yang kita lakukan hari ini akankah berarti untuk masa depan? Terkadang rasa hati ingin mengisi kehidupan dengan kegiatan yang berguna, tetapi apakah itu sungguh berguna? Bagi siapa? Menghabiskan waktu semata untuk keluarga, apakah itu kehendakNya? Bukankah itu juga bisa menjadi egoisme semata? Melayani ke luar keluarga, apakah itu yang menjadi kehendakNya? Tidakkah kebanggaan diri untuk berguna bagi banyak orang juga merupakan batu sandungan egoisme?

Pohon hanya bisa bertumbuh dan berbuah bila dijaga dan diberi air. Air kehidupan sudah disediakanNya, tanah yang baik sudah dipersiapkanNya, bagaimana menjaga pohon agar mampu berbuah melimpah membutuhkan keaktifan dari kita untuk mendekati sumber air kehidupan dan memberi kesegaran bagi pertumbuhan itu.

Tuhan,
bagai rusa yang letih dan berbeban berat,
anakMu mencari air kehidupan yang menyegarkan,
yang menguatkan di kala terpuruk,
tatkala tak mengerti pilihan yang harus dibuat,
tatkala lelah bertubi mendera dalam pergumulan kehidupan.
Bapa,
yang penyayang dan pengampun,
terima kasih atas air kehidupan yang menyegarkan ini,
bantulah keluarga-keluarga yang membutuhkan air hidup ini
agar mampu berbuah melimpah-limpah.

Amin.

Tuesday, July 19, 2011

Yesus Sumber Air Hidup

Hari Senin kemarin kami berkumpul membaca Injil Yohanes 7: 37-39, Air sumber hidup. Hanya tiga ayat yang di"mamah biak", tapi intinya begitu dalam menyentuh kami. Kalimat yang banyak menyentuh peserta meditasi kami adalah "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum!" Rasa kekeringan dan kehausan akan cintaNya seringkali melanda kami terutama di saat-saat kami dipenuhi dengan kesibukan sehari-hari. Secara pribadi, saya merasa semakin sibuk melayani semakin kering terasa. Jadi, saya tersadarkan betapa Yesus sendiri yang memberikan kekuatan untuk melayani sesama. Ketika kita sibuk menjadi Marta yang melayani dan tidak ingat untuk menjadi Maria yang mendengarkan firmanNya, maka kekeringan itu bisa menghabiskan tenaga kita dalam melayani. Ada juga teman yang merasa haus ketika masalah menimpa. Biasanya memang ketika masalah menimpa, kita jauh lebih membutuhkan pegangan, dan saat itulah Air Hidup yang mengaliri relung-relung hati membawa kesegaran yang menguatkan. Beberapa teman merasakan bahwa semakin kita dekat denganNya, semakin banyak masalah yang menyapa. Mungkin memang iblis tidak senang kalau kita aman dan damai dalam kebersamaan denganNya. Tetapi bagaimanapun kita, yang mencari jalan keselamatan abadi, perlu selalu mendekatiNya dan bertumbuh di dalamNya.

Waktu adalah masalah yang paling penting dalam kehidupan manusia. Bagaimana kita menyediakan waktu bagiNya dalam segala kesibukan yang seakan tidak ada habisnya, merupakan kebutuhan utama bagi kami semua. Terkadang tugas dalam lingkungan yang harus merangkap sana sini membuat kami justru semakin jauh dariNya. Aneh bahwa tugas pelayananNya malah membuat kita kering dan jauh dariNya. Tapi itulah kenyataan, bahwa kita harus menyeimbangkan karya dan doa. Kami harus pandai memilah antara kepentingan rumah tangga dan kepentingan di luar rumah tangga tanpa menjadi korban egoisme pribadi. Doa menjadi sumber kekuatan kami. Sama seperti mata air yang menyegarkan, begitulah adalah kasihNya menyegarkan kami. Yesus menjadi sumber air hidup bagi kami.

Pencarian saya pada metoda meditasi yang paling cocok sedang dalam puncak kegalauan. Jumat yang lalu, sebelum meditasi kristiani, saya meminta pencerahanNya agar tahu harus berbuat apa. Selasa sampai Kamis dalam agenda saya sudah penuh karena harus mengajar. Karena sementara ini sulit untuk mendapatkan asisten rumah tangga, maka jadwal dengan asisten pulang hari juga harus dipikirkan. Karena itu jadwal meditasi di pagi hari pada saat lowong mengajar merupakan sebuah beban yang agak mengganggu. Gairah untuk datang mendengarkan firmanNya juga jauh lebih kuat ketika saya menjalani metoda meditasi lectio divina yang memamah biak firman itu daripada sekarang. Tapi di samping itu keinginan untuk belajar disiplin dan fokus membuat saya masih terus bertahan pada meditasi kristiani.

Tetapi, terus terang, kebutuhan akan hadirNya yang lebih terasa dalam kehadiran rekan-rekan ketika meditasi model lectio divina menjadi semacam kehausan yang membutuhkan air hidup. Berkumpul satu kali dalam sebulan untuk meditasi dengan metoda lectio divina terasa masih kurang menyegarkan. Karena itulah saya terpikir untuk memilih, dan memohon pencerahanNya. Tidak dinyana seorang peserta Meditasi Kristiani yang sudah senior memberikan perumpamaan tentang orang yang sibuk memindah-mindahkan pohon yang ingin ditanamnya karena ingin mencoba tanah yang lebih bagus, hasilnya tidak ada pertumbuhan yang signifikan yang terjadi. Saya merasa tercolek, karena sebelumnya saya sempat ingin mengikuti meditasi bersama Romo Sudri untuk mengetahui model meditasi tanpa obyek yang dipimpin Romo. Sebenarnya memang lebih baik kembali ke akar yang sudah menyegarkan dan menguatkanku selama ini.

Berdoa secara khusus untuk satu ujud tertentu memang merupakan hal yang seringkali aku abaikan. Kupikir Bapa selalu tahu kebutuhan anakNya, sehingga aku seringkali lalai untuk menyediakan waktu dan meminta secara khusus padaNya.

Suster yang membimbing kami jarak jauh (terima kasih suster), memberikan beberapa poin penting untuk kami renungkan:
* Yesus peduli pada kita - kita diberi tempat dalam hati-Nya
* Kita diterima apa adanya
* Kita dimengerti oleh-Nya
* Kristus mengerti kesulitan/ permasalahan hidup kita lebih daripada kita mengertinya.
* Kristus hadir ditengah keluarga kita, selama kita juga memberi tempat kepada-Nya, maka
AIR HIDUP itu pun akan mengalir dan mengairi hidup kita
AIR HIDUP itu adalah ROH KUDUS, ROH KRISTUS sendiri

Yang sangat menyentuh saya adalah perkataan bahwa Kristus hadir di tengah keluarga kita, selama kita juga memberi tempat kepadaNya. Bagaimana kita memberi tempat kepadaNya, dan bagaimana kita mengajarkan anak-anak untuk menyediakan tempat bagiNya, itulah yang paling penting saat ini.

KehadiranNya merupakan hal yang paling kami butuhkan, terutama di saat kami merasa letih, lelah dan berbeban berat. Setiap orang memiliki masalah yang berbeda, tapi Dia mengerti kelelahan kami semua, dan Dia menyediakan air kehidupan bagi kami semua.

Ya Tuhan Yesus,
Engkaulah Sumber hidupku,
aku mencari-Mu hari hari ini secara lebih mendalam.
Bersabdalah,
sentuhlah pribadiku agar sumber air hiodupMu tetap dan terus mengalir dalam hidupku
sehingga memancar lagi kepada sesamaku.
Terima kasih ya Tuhan atas kebaikanMu.
Amin.

(Suster Jeanne, terima kasih untuk panduan renungan dan doanya)

Saturday, June 04, 2011

Membaca talentaNya

Pada pembukaan Novena Roh Kudus kemarin saya mendapatkan pencerahan tentang talenta. Kebetulan pagi harinya ketika mengikuti Meditasi Kristiani, saya juga mendengarkan renungan awal yang membicarakan asas salah tempat. Para rasul yang secara profesional adalah nelayan tampaknya menjadi orang yang salah bila ditempatkan dalam pelayanan yang membutuhkan kothbah dan pelayanan rohani. Tetapi Tuhan memilih mereka untuk menjalankan tugas itu. Apakah Ia salah pilih? Yudas Iskariot mengkhianatinya, Petrus menyangkalnya, Thomas meragukan kebangkitanNya. Apakah mereka bukan orang yang tepat dalam pekerjaanNya? Tetapi Gereja sudah berkembang menjadi sedemikian besar melalui tangan-tangan nelayan yang sama sekali tidak mengerti rincian Kitab dan aturan-aturan Taurat selain pengajaran yang mereka peroleh melalui Yesus.

Masalah mengenai talenta sebenarnya sudah pernah saya bagikan di tulisan yang lain ini, tapi kali ini saya terhenyak karena memperoleh pengertian baru lagi mengenai talenta dariNya. Ketika Romo memberikan homilinya, tiba-tiba terbersit dalam pikiranku betapa salah saya memandang talenta itu. Selama ini saya merasa memiliki lima talenta yang tidak kukembangkan, yang tersimpan karena ketakutan tidak mampu menggandakannya. Ternyata saya disadarkan bahwa Ia menagih satu talenta yang diberikanNya padaku pada beberapa bidang tertentu. Ia tidak menagihkan lima talenta yang diberikanNya karena sama seperti para rasul bisa jadi aku akan menjalaninya secara profesional. Tetapi Ia menagih satu talenta yang diberikanNya padaku, dan tidak terlihat olehku karena kupandang sebelah mata.

Selama mengenal jurnalisme warga, saya belajar mengenali begitu banyak orang dengan berbagai latar belakang. Saya juga belajar mengenai profesionalisme dalam pekerjaan. Perdebatan antara pekerjaan amatir atau profesional dalam jurnalisme warga membuat saya lebih memperhatikan arti kata profesional. Hal ini membuat saya lebih tersentuh atas karya-karya yang sungguh-sungguh dihasilkan secara profesional. Bukan dari profesionalisme yang setara dengan bayaran yang diterimanya, tetapi profesionalisme yang menonjolkan hasil yang terbaik dari diri sang profesional. Pekerjaan yang dikerjakan secara profesional terlihat dari hasil yang dibuahkannya. Pekerjaan yang dilaksanakan dengan hati sungguh-sungguh akan terlihat bedanya dengan pekerjaan yang dikerjakan hanya sekedar memenuhi kewajiban.

Pekerjaan menjadi ibu rumah tangga terkadang membuatku merasa tertahan di rumah dan tidak mampu mengembangkan talenta yang diberikanNya. Ketakutan akan ketidak-mampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan di luar rumah dengan pekerjaan di dalam rumah membuat saya merasa menelantarkan talenta-talentaNya. Tetapi malam itu tiba-tiba saya tersadar bahwa bisa jadi talenta yang ditagihNya justru adalah talenta yang tidak pernah kuanggap sebagai talenta. Dalam kelemahankulah kuasaNya menjadi sempurna (baca 2 Kor 12: 1-10). Sama seperti para nelayan yang pasti merasa tidak memiliki talenta untuk mengajar dan berkothbah, tetapi ditempatkanNya di dalam tugas itu, aku juga ditempatkan dalam tugas yang semula sama sekali tidak terlihat sebagai bagian dari pengembangan talentaku.

Apakah pengembangan lima talenta itu hanya akan berbuah kesombongan pribadi? Bisa jadi... Dalam kelemahanku aku baru bisa tersadar betapa aku membutuhkanNya dan membutuhkan sesamaku manusia.

Terima kasih Bapa,
Engkau memberiku pencerahan
Engkau mengajariku makna akan talenta yang Dikau tagihkan,
Bapa,
betapa besar cintaMu,
betapa besar sabarMu,
sehingga kesombonganku akan lima talenta itu tidak membuatMu marah
justru Engkau memberikan aku pelajaran akan makna satu talenta,
Satu talenta yang tidak dipandang manusia,
yang terkadang membuat manusia menggugat bijaksanaMu,
atau meragukan keadilanMu.
Tuhan,
ampuni kami umatMu.
Amin.

Monday, May 09, 2011

Yesus Menyapa Thomas (Didimus)

Bacaan yang kami baca hari itu adalah Injil Yohanes 20: 19-31, sayang sekali tulisan panjang lebar yang sudah saya ketik ternyata tidak tersimpan oleh komputer. Ada beberapa hal menarik yang saya ingat dari pengalaman meditasi Kitab Suci hari itu.

Pertama, mengapa Yesus masuk melalui pintu yang tertutup. Yang amat menarik bagi saya adalah sebuah renungan bahwa Yesus bisa masuk tanpa melalui pintu, tanpa mendapat undangan dari tuan rumah. Betapa sering kita ingin memaksakan kehadiranNya kepada orang lain, dalam kasus saya mungkin terutama kepada suami, tetapi ternyata Ia akan hadir ketika orang membutuhkanNya. KehadiranNya tidak terduga, dan tidak melalui jalan yang masuk logika manusia. Itu sebabnya saya terkejut ketika seorang teman yang tadinya cukup aktif dalam kegiatan agamanya ternyata pindah masuk Katolik. Ketika saya menanyakan alasannya, jawabannya sederhana, "Saya merasakan panggilanNya." Tidak terduga, tidak terpikir sebelumnya, dan tidak masuk dalam hitungan logika.....urusan hati memang biarlah urusanNya.

Dari pengalaman pribadi saya juga sama, ketika saya berseru-seru memohon kehadiranNya tidak juga terasakan hadirNya. Tetapi ketika saya terpuruk, tidak sanggup lagi menggunakan logika dan rancangan pribadi, tiba-tiba terasakan dengan kuat hadirNya. Ia hadir menemani pergumulanku. Ia hadir dalam kehadiran teman-teman dan saudara-saudaraku. Ia hadir tidak dalam kemegahan yang kurindukan, tapi Ia hadir dengan rasa damai yang menutupi segala kekhawatiran.

Hal kedua yang menarik perhatian adalah ketidak percayaan Thomas akan kehadiran Yesus yang dijawabNya dengan hadir kembali dan menunjukkan luka di tangan dan di lambungNya. Ketika Yesus menyuruh Thomas memasukkan jarinya ke dalam luka Yesus, ia tidak melaksanakannya melainkan langsung berseru memanggil "Tuhan". Betapa sering kita tidak mempercayai kehadiranNya dan tetap berlaku bodoh meminta bukti akan hadirNya. Thomas langsung tersadar dan bertobat. Adakah kita juga bertobat? Pada masa kini, zaman segala teknologi instan ini, kehadiran Tuhan seringkali menjadi tanda tanya lagi. Perbedaan antara teori penciptaan dengan teori evolusi membuat orang juga mempertanyakan kehadiran Tuhan. "Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya." Kita sungguh tidak pernah melihat Yesus secara langsung. Pengalaman bersama Yesus yang pernah dialami murid-muridNya juga tidak kita jalani. Kalau murid-murid biasanya mengenali Yesus ketika Ia memecah roti untuk dimakan bersama (seperti pada kisah perjalanan ke Emaus), maka pengalaman kita adalah perkenalan dengan Yesus melalui Gereja. Orang tua merupakan jembatan pertama yang mengantarkan kita masuk ke dalam Gereja. Tetapi tidak jarang kita memutuskan untuk memotong jembatan itu. Semuanya itu juga kembali ke dalam hati dan panggilanNya.

Yesus datang ke pada murid-murid yang ketakutan dan menyendiri. Betapa seringnya kita mengalami perasaan yang sama, kesendirian dan ketakutan, tetapi ingatkah kita kepadaNya? Murid-murid mengingatNya, dan Ia hadir. Ia kemudian juga menjanjikan penghibur dan penguat yakni Roh Kudus. Adakah kita membiarkan Roh Kudus menghibur dan menguatkan diri kita? Ataukah kita mencari kekuatan lain yang bisa dengan segera memberi kepastian dan jalan keluar, walaupun semu dan sementara sifatnya?

Keraguan Thomas adalah keraguan manusia. Thomas atau Didimus yang juga berarti kembar, bagai menunjukkan sifat kembar manusia yang percaya namun juga peragu.

Thomas kemudian menjadi murid yang paling jauh perjalanannya dalam menyebarkan kabar gembira. Kekuatan dari keraguan yang terjawab membantunya untuk tetap tegar dan berjuang ke tempat-tempat yang baru. Terkadang pergumulan dalam kehidupan ini bagaikan kehadiranNya di hadapan Thomas. Ketika terjatuh dan menatap mataNya yang letih terjatuh saat memanggul salib, merupakan jawaban akan hadirNya yang senantiasa hadir menemani perjalanan kehidupan.

Tuhan,
Engkau memberikan nafas kehidupan kepada kami,
Engkau juga yang mengambilnya kembali pada akhir waktu kami,
Tolong kuatkan kami,
Bantu kami belajar dari pengalaman Thomas,
untuk tetap percaya walaupun tidak melihat,
untuk tetap setia karena Engkau akan hadir di saat yang tepat.
Terima kasih Tuhan,
Amin.

Saturday, May 07, 2011

"Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera."

Sengaja kutipan perkataan Yesus di atas kujadikan judul tulisan ini. Kutipan dari Injil Yohanes 13:27 sangat menarik perhatianku; Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera."

Hal yang pertama, Yudas sudah menerima roti. Bagi kita sekarang ini, menerima rotiNya berarti menerima roti kehidupan, lambang tubuhNya yang dikorbankan bagi manusia. Ekaristi suci merupakan sumber kekuatan iman bagi kita. Tetapi Yudas justru kerasukan iblis setelah menerima roti. Hal yang kedua, Yesus meminta Yudas untuk segera melakukan apa yang hendak diperbuatnya. Bila dilihat dari keMahatahuan Tuhan, maka hati Yudas bukan lagi rahasia bagi Yesus. Tetapi bila mengingat pemenuhan kehendak Allah, yaitu pengorbanan Yesus di salib, maka perbuatan Yudas merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari. Ayat di atas memang selalu menarik hati saya karena sedikit banyak juga berhubungan dengan takdir (baca juga tulisan yang ini dan yang ini.)

Di luar kisah ayat di atas, saya maupun beberapa orang di sekitar saya yang saya perhatikan seringkali merasakan dorongan yang kuat dari hati untuk berbuat sesuatu. Terkadang kesibukan harian membuat kami menundanya. Contohnya Ibu saya, seringkali ia merasakan keinginan yang kuat untuk menjenguk temannya yang sudah lama sakit. Karena kesibukannya terkadang ia tidak dapat segera menengoknya. Ada beberapa kali terjadi temannya berpulang sebelum dia sempat menjenguk. Karena itu perkataan di atas menjadi menyentuhku dari sisi positifnya, "Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera." Apa yang dikatakan oleh hati terkadang menjadi suatu tuntunan dari Tuhan. Bagaimana menjaga agar hati ini tetap bersih dan bebas dari kehendak pribadi yang bertentangan dengan kehendak Allah merupakan tantangan dalam kehidupan ini.

Terus terang dibandingkan dengan Meditasi Kristiani, maka Meditasi Kitab Suci Lectio Divina masih jauh lebih membantu kehidupan rohaniku. Bisa jadi hal ini karena aku belum mampu sungguh-sungguh masuk dalam keheningan itu, bisa juga karena aku belum mampu untuk disiplin dalam meditasi. Kerinduan akan Firman yang hidup masih menjadi sebuah panggilan yang memenuhi batinku saat ini. Semoga akan tiba saatnya aku mampu mengenali kehendakNya dan menjadikan hal itu sebagai bagian dari hal yang akan kulakukan.

Bapa,
terima kasih atas penyertaanMu selama ini,
semoga apa yang akan aku perbuat
adalah apa yang Dikau inginkan daku lakukan.
Semoga aku senantiasa bersegera melaksanakan kehendakMu,
dan tidak memberi waktu kepada iblis untuk memasuki hatiku.
Tuhan,
kasihanilah kami,
Tuhan,
datanglah,
kami menantimu.
Amin.

Monday, April 18, 2011

Di antara lambaian palma

Sebelum memulai Meditasi Kristiani bacaan yang kami baca adalah Matius 21:1-11, Yesus dielu-elukan di Yerusalem. Kali ini waktu yang diberikan untuk sharing sebelum meditasi cukup lama, tetapi seperti peserta meditasi lama yang berasal dari kelompok Lectio Divina, saya kesulitan untuk segera masuk ke dalam sharing tanpa melalui proses meditasi kitab suci. Dalam saat hening setelah membaca kitab suci itulah bersitan-bersitan pikiran muncul dan membimbing kami untuk melihat kembali ke pojok-pojok kotor di hati kami. Masalah yang mungkin ada timbul ke permukaan dan berelasi dengan FirmanNya. Karena itulah kami bisa merasakan betapa hidup Kitab Suci ini, betapa isinya tetap sesuai untuk masa kini, bahkan untuk permasalahan yang sedang kami hadapi. Jadi meniadakan meditasi Kitab Suci dan menggantikannya dengan meditasi hening yang berbasis mantra Maranatha membuat kami merasa tercabut dari Kitab Suci yang "hidup" itu.

Saat ini saya sendiri dalam proses perjalanan memahami meditasi. Yang menjadi panduan utama saya hanya satu; Tuhan adalah pusat dari Doa saya. Memahami meditasi dengan bermacam-macam metoda yang ada tampaknya akan membutuhkan waktu yang lebih panjang. Yang saat ini ingin saya lakukan hanya menuliskan proses yang berlangsung dalam perjalanan pencarian itu.

Saat hening dalam Meditasi Kristiani timbul sebersit pikiran mengenai ironi antara orang banyak yang ikut melambai-lambaikan daun palma dan orang yang bertanya, "Siapakah orang ini?" Keharusan untuk kembali ke pada mantra Maranatha membuat saya tidak bisa mengunyah pikiran ini. Tetapi setelah sesi meditasi berakhir tetap saja pikiran ini kembali lagi. Ketika melambaikan daun palma sambil menantikan air suci untuk memberkati daun palma yang tahun depan akan menjadi abu tanda pertobatan pada hari Rabu Abu, saya sekali lagi teringat akan pikiran itu. Juga kenyataan bahwa bisa jadi saya berada di antara orang-orang yang melambai-lambaikan daun palma mengelu-elukan Yesus, tetapi sesungguhnya saya hanyalah satu dari umat yang tidak berani jujur bertanya, "Siapakah orang ini?" Sungguh sudah kenalkah saya kepadaNya? Walau sejak bayi sudah menerima pembaptisan, sungguh tahukah saya apa yang saya ikuti dan elu-elukan?

Ketika Yesus memasuki pintu gerbang Yerusalem, orang banyak mengikuti dan mengelu-elukan Dia. Kota menjadi heboh karena kehadiran seorang sederhana yang menaiki keledai betina (yang diiringi oleh anak keledainya). Yesus tidak hadir sebagai Panglima atau Raja yang gagah perkasa dengan kuda yang tampak kuat dan kokoh, Ia tidak hadir dengan segala kemewahan. Ia hadir dalam langkah pelan sang keledai, di bawah lambaian daun palma orang-orang yang menyambut kehadiranNya.

Sebelum kehadiranNya melalui Tri hari Suci, umat Katolik menyiapkan tempat yang layak bagiNya dengan puasa secara Katolik dan membersihkan batin melalui Sakramen Tobat. Ketika menantikan giliran untuk masuk ke dalam kamar pengakuan, saya merasa kehilangan panduan refleksi batin yang seingat saya dulu ada di dalam buku Puji Syukur (mungkin waktu itu masih bernama Madah Bakti). Ketika menanti ini, kutipan Injil di atas juga teringat. Apakah saya menjadi seperti orang yang melambaikan daun palma tanpa benar-benar mempersiapkan hadirNya? Lambaian daun palma itu sekedar ikut meramaikan, sekedar memamerkan kepada publik bahwa saya menyambutNya? Saat itu terlontar satu hal; perlunya berhati-hati terhadap kesombongan rohani. Kesombongan rohani merupakan jebakan yang mengerikan dalam pelayanan. Sisi manusiawi kita menginginkan pujian, tetapi pujian yang tidak dikelola dengan rendah hati bisa mengubah kita menjadi sombong. Betapa menakutkannya bila pujian dan kebanggaan yang sudah kita terima menjadi upah final yang kita terima. Markus 10:31 mengingatkan, "Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." Menerima baptisan sejak bayi tidak menjadi jaminan bahwa masa pertemuan yang panjang itu akan berbuah kalau tidak dipupuk, sementara kesombongan pribadi boleh jadi hanya akan menampakkan penampilan yang kokoh dan kekar tanpa menghasilkan satu buahpun.

Tuhan yang Maha Baik dan Maha Rahim,
Terima kasih atas bimbinganMu,
sehingga kami diberi kesempatan untuk terus memperbaiki diri,
senantiasa Dikau didik untuk menjadi anakMu yang lebih pantas,
dan Kau pupuk agar berbuah bagi kemuliaanMu.
Amin.

Tuesday, April 12, 2011

Komunikasi

Kelompok kami kembali berkumpul untuk Lectio Divina. Renungan Injil yang kami pakai dari Injil harian adalah Yoh 8: 1-11, Perempuan yang berzinah. Dari buku Retret Agung Umat "Mari Berbagi" kami mendapatkan panduan akan perlunya keberadaan manajemen konflik. Yang dicuplik buku panduan ini dari bacaan Injil tersebut adalah ayat 11, "Akupun tidak menghukum engkau."

Seringkali kita melupakan betapa Tuhan tidak menghukum kita, melainkan kita sendiri yang menghukum sesama kita. Kita menjadi seperti orang Farisi yang merasa penuh dengan kebenaran dan meminta Tuhan menghukum orang dengan azab dan sengsara karena kesalahan mereka. Kita lupa bahwa balok di mata kita bisa menutupi pandangan jernih dalam permasalahan tersebut. Ketika kita menyerahkan semua permasalahan kita pada Tuhan, maka Ia akan berbicara dalam hati kecil kita mengingatkan kembali, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia orang pertama yang melemparkan batu kepada perempuan itu."

Ada beberapa ayat yang menarik perhatian peserta doa kami hari itu. Ada yang menggaris bawahi pesan terakhir Yesus, "Aku pun tidak akan menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Yesus memberikan pengampunan dan menawarkan hidup baru yang bersih dari dosa, tinggal bagaimana manusia menyikapi pengampunan yang diberikanNya. Apakah kita akan bertobat dan kembali ke rumah Bapa seperti si anak bungsu, atau kita akan meneruskan hidup dalam kelam dosa yang membenamkan kita ke dalam gerbang neraka.

Ada yang mengamati betapa Yesus memperhatikan ketidak adilan yang dilakukan masyarakat ke pada wanita. Betapa dalam Taurat itu hukuman hanya diberikan ke pada pihak perempuan sementara perselingkuhan senantiasa menjangkau dua belah pihak. Sebenarnya dalam hal ini Ulangan 22: 22-24 dan Im 20:10 lebih detail dalam merinci hukuman yang berlaku dalam perzinahan.

Memang seringkali wanita digambarkan sebagai makhluk yang lemah secara fisik, tetapi memiliki kekuatan yang tersembunyi. Tidak heran bila kitab Amsal 31:10-31 semuanya berisi puji-pujian untuk istri yang cakap. Sebenarnya bacaan dari kitab Amsal ini pernah membuat saya tercenung memikirkan betapa berat beban seorang istri, betapa timpang tanggung jawab jender yang ditampilkan dalam bacaan itu (atau bahkan dalam Kitab Suci). Tetapi memang dalam kenyataannya seorang istri yang kuat, terutama secara rohani, sangat berharga bagi sebuah keluarga. Seringkali tiang kehidupan sebuah rumah tangga bukan terutama dari kaum lelaki melainkan lebih kepada kemampuan pengelolaan konflik dan kesabaran dari pihak perempuan. Kalau kita mau berbicara tanpa memandang perbedaan jender, maka sebenarnya tanggung jawab tersebut berada pada kedua belah pihak. Tapi, seringkali, terutama di Asia, pihak wanita jauh lebih berat bebannya. Pola paternalistik yang ditanamkan sejak kecil membentuk keberpihakan jender yang kurang adil. Perempuan yang lebih sering bersinggungan dengan masalah pendidikan anak dalam pola ini sebenarnya bisa lebih berperan dalam membentuk budaya kesetaraan jender ataupun penghargaan terhadap kaum perempuan.

Ada pula seorang teman yang mengomentari betapa Yesus mengambil waktu untuk diam (dan menulis di tanah) sebelum menjawab pertanyaan orang-orang Farisi itu. Teman itu lalu menarik hubungan antara kondisi emosional seseorang ketika langsung menjawab sebuah konflik atau masalah yang dihadapinya. Mengambil waktu untuk tenang atau berdoa sejenak dalam hati akan memampukan kita untuk menghadirkanNya sebagai penahan ucapan yang sia-sia. Sebuah pandangan lain juga muncul dari pemikiran yang melihat kesabaran Tuhan dalam menghadapi umatNya yang terus menerus jatuh ke dalam kelamnya dosa. Perempuan itu tahu dirinya berdosa, tapi tidak berusaha keluar dari dosa itu. Alih-alih marah dan kesal karena perempuan itu melanggar perintah Allah yang terdapat di dalam hukum Taurat, Yesus justru memberi kesempatan kepada orang-orang Farisi untuk interospeksi diri, dan kepada perempuan itu untuk merasakan kebebasan dari belenggu akibat dosanya. Setelah itu Ia mengeluarkan perintah untuk meninggalkan dosa-dosa yang membenamkannya.

Bagaimana perempuan dan laki-laki memiliki pola pikir dan karakter berbeda memang sungguh unik. Bagaimana Tuhan menciptakan pasangan yang berbeda karakter juga sangat unik. Boleh dikatakan bahwa Tuhan memang memberikan manusia pasangan yang sangat berbeda dengan dirinya agar mereka saling melengkapi, saling mendidik satu sama lain sehingga terlaksanalah kehendakNya. Masalah komunikasi antara suami istri menjadi sebuah topik yang menarik hari itu. Banyak hal yang bisa menjadi batu sandungan sebuah pernikahan. Seorang ibu yang sudah pernah ditinggal suaminya kembali ke rumah Bapa di surga di saat usia masih cukup muda, dan anak-anak masih cukup kecil, berpesan kepada teman-teman lainnya agar menikmati waktu yang diberikan Tuhan dalam keluarga. Sekesal apapun kita pada pasangan, pada akhirnya ketika kita ditinggalkan maka rasa kehilangan akan menyadarkan betapa sepele masalah yang menjadi sumber kekisruhan dalam hubungan rumah tangga. Demikian pula memiliki pasangan pengganti tidak akan menuntaskan masalah, karena pada dasarnya setiap orang itu berbeda dengan keinginan yang berbeda-beda. Setiap pasangan itu unik dan mereka memiliki permasalahan masing-masing yang unik pula.

Teman yang lain memiliki masalah rumah tangga yang berbeda. Usia anaknya yang sudah memasuki masa remaja dan mulai terlibat dalam kisah percintaan remaja membawa dinamika lain lagi dari masalah komunikasi ini. Setiap orang memiliki pandangan berbeda untuk pendekatan komunikasi antara orang tua dan anak, atau antara orang tua dan pacar anak. Sebenarnya memang sulit untuk memberikan satu rumusan baku dalam manajemen komunikasi karena setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda, serta pola pikir yang berbeda. Orang tua, terutama ibu, sepatutnya lebih jeli mengenali pola pikir anaknya dan membantunya membangun komunikasi yang hidup dengan orang tuanya. Kehidupan zaman sekarang yang cukup memprihatinkan memang perlu diantisipasi. Bagi saya sendiri mencoba untuk tetap berkomunikasi dengan anak, dan menyerahkan semuanya ke padaNya merupakan jalan keluar yang terbaik. Saya membantu Tuhan menabur, semoga benihNya tumbuh dalam hati anak-anak saya dan akhirnya bisa berbuah bagiNya.

Yesus menyelesaikan masalah perzinahan tersebut dengan membuka komunikasi. Begitu jugalah yang perlu kami laksanakan dalam kehidupan rumah tangga, pekerjaan, lingkungan dan masyarakat kami. Tapi satu hal terpenting dalam menunjang komunikasi yang baik dengan sesama secara horisontal adalah komunikasi vertikal yang baik antara kita dan Allah, walaupun sesungguhnya kata "vertikal" ini tidak selalu berarti jauh ke atas, karena Ia ada di dalam hati kita. Bukalah pintu hatimu dan biarkan Ia bersemayam di sana, membantumu memilih kata dan komentar yang sesuai dengan kehendakNya.

Tuhan,
terima kasih atas kesadaran akan pentingNya hadirMu
dalam komunikasi dengan sesama,
Engkau memberikan ketenangan dan kesabaran,
menipiskan sikap emosional dan egoisme diri kami,
Biarkanlah komunikasi dalam hatiku denganMu tetap hidup senantiasa,
dan memberi penyejuk dalam komunikasiku dengan sesama,
memberi bahan untuk memulai komunikasi dengan sesama,
memberi kekuatan untuk mempertahankan komunikasi yang bermakna bagiMu,
dan memperbaiki semua kelemahan kami dalam menyampaikan diri kami,
karena Engkau Maha Tahu,
Engkau mengenal diri kami lebih dari kami mengetahui kedalaman hati kami,
Bimbing kami ya Tuhan,
Ajarilah kami untuk setia berkomunikasi denganMu,
agar kami dimampukan untuk berkomunikasi dengan baik kepada sesama kami.
Amin.

Wednesday, March 30, 2011

Pusat Roda Doa Adalah Tuhan

Ini adalah catatan pendek dari Program Pengajaran 6 minggu Meditasi Kristiani. Tidak semua yang kudapat dari acara ini bisa kutuliskan. Satu hal yang menarik bagiku dari belajar meditasi kristiani ini adalah kehilangan kemampuan untuk merangkai kata. Aku seperti ditarik dalam keheningan, terkadang kehilangan kata dalam berdoa lisan. Mungkin juga semua ini adalah bagian dari proses yang harus kulalui.

Ketika mendapatkan materi Roda Doa, maka satu hal yang menentramkan adalah kenyataan bahwa pusat roda doa itu adalah Tuhan Allah. Meditasi kristiani hanya salah satu dari cara berdoa yang juga berpusat kepada poros utama yaitu Allah. Jadi baik Lectio Divina, Meditasi Kristiani, maupun cara berdoa lainnya semuanya perlu berporos pada satu titik pusat: Tuhan. Cara doa seperti apa yang cocok bagi diri kita selama itu berpusat pada Tuhan, maka akan memberi kekuatan untuk bergulir dan berjalan.

Melepaskan ego merupakan satu hal yang tersulit bagi manusia. Terkadang ego begitu kuat mencengkeram diri manusia. Pengalaman indah bertemu denganNya dalam keheningan malam di kala aku terpuruk dalam kesedihan yang mendalam merupakan hiburan yang sangat menguatkan bahkan walaupun tahun-tahun sudah lama berlalu. Kerinduan untuk kembali bersamaNya yang membawa aku mencari komunitas doa yang menggunakan meditasi sebagai doa. Sekarang aku menyadari ada satu hal yang menjadi penghalang kuat untuk bertemu kembali denganNya, yaitu ego manusiaku. Ketika aku merasakan hadirNya, saat itu aku benar-benar terpuruk, tidak tahu bisa berbuat apa, tidak tahu harus berkata apa. Satu-satunya yang kutahu adalah lari kepada Bunda Maria dan memohon dikuatkan oleh Sang Putra. Pasrah dan tidak memiliki kehendak apa-apa lagi, hanya ingin beristirahat dalam damaiNya. Hanya membutuhkan air kehidupanNya untuk menyegarkan hati. Tidak mudah untuk bisa kembali ke dalam kondisi pasrah yang serupa. Kondisi yang terbentuk ketika terasa semua pintu telah tertutup, semua asa sudah menguap, dan kelelahan jiwa hanya menginginkan untuk bersandar padaNya. Semoga tanpa harus berada dalam situasi serupa kepasrahan dan imanku tetap hanya bersandar padaNya.

Kehadiran bersama komunitas doa Lectio Divina yang sudah bertahun-tahun kami jalani juga merupakan suatu wadah komunitas yang menjadi tempat berbagi. Kalau dalam materi pengajaran 6 minggu disebutkan kegunaan komunitas doa adalah untuk saling menguatkan dan untuk berbagi dalam jatuh bangun membangun doa melalui meditasi, maka hal itu sudah kurasakan selama ini. Kebutuhan untuk berkumpul bersama dan merenungkan kitab suci sudah bagaikan kebutuhan sebuah batere untuk diisi kembali sebelum mampu bekerja kembali dengan optimal.

Saat ini yang menjadi pertanyaan utama saya sebenarnya adalah kembali ke Lectio Divina atau meneruskan Meditasi Kristiani seperti yang diajarkan oleh Pater John Main OSB ini. Ada hal-hal menarik dari Meditasi Kristiani yang sebenarnya mungkin merupakan pelengkap dari hal-hal yang kuterima dari Lectio Divina, tetapi bila berpindah cara maka saya masih merasa gamang. Tatkala Lectio Divina malah mencari keheningan total, tetapi ketika mencoba Meditasi Kristiani malah kesulitan menghalau "monyet-monyet" pengganggu yang berkeliaran di pikiranku.

Lectio Divina membantu aku mengolah masalah kehidupan sehari-hari yang ada, sementara Meditasi Kristiani membantuku untuk melepaskan masalah itu dan meletakkannya ke dalam pangkuanNya. Sementara ini saya juga kebingungan dengan kemampuan multi tasking yang menipis, sepertinya saya dipaksa untuk mencoba fokus satu demi satu hal. Beberapa teman dari komunitas merasakan hal yang sama, tetapi kami sedang mencoba untuk menjalani proses ini terlebih dahulu dengan tetap berpusat pada Tuhan.

Tuhan,
Engkau adalah pusat dari kehidupan kami,
Pusat dari doa-doa kami,
Terima kasih atas semua berkat yang Kau berikan,
yang melalui Lectio Divina
memampukan kami untuk mengenali betapa hidup sabdaMu
dan melalui doa kontemplatif
mengajarkan kami untuk hening dan menghadirkan diri di hadapanMu.
Memampukan kami untuk mengerti betapa dekat keberadaanMu,
Dikau senantiasa menemani di dalam hati kami,
semoga kami mampu menjaga keputihan hati ini....
dan memusatkan roda doa kami pada diriMu saja.
Amin.

Tuesday, March 22, 2011

Pencobaan

Sebenarnya sejak mengikuti meditasi Kristiani (yang sekarang ini) saya agak kehilangan gairah menulis. Takut memanjakan kemalasan, saya memaksakan diri menulis apa yang bisa teringat. Ketika lebih teratur mengikuti Lectio Divina saya merasakan bagaimana kata-kata mengalir begitu saja setelah saya selesai dengan meditasi kitab suci itu. Tetapi saat itu juga ada ketakutan bahwa saya menjadi tidak disiplin dalam meditasi karena begitu merasa inspirasi memenuhi kepala dorongan untuk menulis menjadi sangat besar. Membiarkan semangat menulis itu mengambil alih waktu meditasi saya rasanya juga bukan sebuah solusi yang benar.

Dalam Seminar Meditasi Kristiani yang ke tiga, saya sangat tertarik pada lambang mereka yang menggunakan gambar dua ekor burung merpati. Dijelaskan bahwa kedua burung itu melambangkan sikap kontemplatif Maria dan sikap aktif Marta. Saya selalu tertarik pada karakter Maria dan Marta dalam Kitab Suci. Setidaknya tulisan "Membaca KehendakNya" dan "Kehadiran lebih penting daripada perbuatan" menggambarkan pergumulan saya dengan kedua karakter ini. Dalam penjelasan mengenai logo tersebut dikatakan bahwa kedua karakter itu hadir di dalam diri kita, dan kita perlu menjaga keseimbangan antara bersikap sebagai Maria dan bersikap sebagai Marta. Hal ini sebenarnya sudah juga saya peroleh sebelumnya dan saya tuliskan di sini.

Perasaan kehilangan Lectio Divina membuat kami kembali berkumpul secara khusus untuk memasuki meditasi yang diskursif walaupun hanya sebagai selingan dari Meditasi Kristiani yang sedang kami coba pahami ini.

Bacaan yang kami pakai sebagai pengantar adalah bacaan Hari Minggu Prapaskah I, Matius 4: 1-11, mengenai godaan. Ayat yang sangat berkesan pada hari itu bagi saya adalah ayat 7 yaitu: "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

Beberapa teman tertarik pada ketiga godaan yang ada. Memang pada dasarnya ketiga godaan itu masih hadir sampai saat ini juga. Demikian juga kenyataan bahwa Iblis menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk menyesatkan manusia. Yesus digoda dalam aspek kemanusiaannya. Godaan itu menunjukkan betapa Yesus sungguh tahu apa yang sesungguhnya dihadapi oleh manusia. Sebagai manusia Dia juga digoda, dan Ia menunjukkan bagaimana caranya menghadapi godaan itu. Baik Yesus maupun Iblis sama-sama menggunakan ayat-ayat Kitab Suci. Bagaimana mengenali yang benar tentunya tidak sukar, Yesus mendasarkan ucapanNya pada kemuliaan Allah, sesuai dengan kehendak Allah. Iblis memberikan saran menggunakan kalimat Kitab Suci tetapi untuk tujuan memuaskan diri, memuaskan ego. Inilah yang kiranya perlu kita cari dalam kehidupan ini untuk menemukan Firman Yang Hidup itu. Lakukanlah semua pelayanan untukNya, bukan untuk diri pribadi atau kelompok kita saja.

Kemungkinan saya sangat tertarik pada ayat 7 tersebut karena seringkali saya bersikap pasrah kepada Tuhan, tetapi ada kemungkinan dalam kepasrahan itu ada terselip keinginan untuk melihat kebesaranNya. Bukankah itu bukti dari lemahnya iman?

Baru-baru ini seorang teman melalui akun Facebooknya menyarankan untuk menyumbang dana bagi seorang penulis yang cukup punya nama. Penulis itu ingin membeli tanah guna memperbesar taman bacaan yang sudah dirintisnya sejak lama. Kebetulan himbauan itu dituliskan ketika akhir bulan sudah di depan mata. Tentunya kantong pribadi juga sudah sangat menipis. Saya tersentuh akan permintaan sumbangan melalui transfer sebesar Rp. 10.000,-. Sumbangan tersebut sangat kecil, kalau untuk jajan anak-anak saya yang tiga orang saja cuma dapat jajanan pinggir jalan yang satu kali makan sudah habis. Kalau untuk makan di warteg, cuma bisa untuk satu orang sekali makan (normal). Ketika mentransfer dana tersebut sebenarnya terbersit keinginan untuk melebihkan dari jumlah sepuluh ribu itu, tetapi saat itu juga terpikir betapa kantong sendiri sedang kacau, dan kewajiban lain yang masih harus dibayarkan. Jadilah transfer terlaksana sambil menantikan keajaiban dari Tuhan. Keajaiban, karena penulis itu sebenarnya masih membutuhkan dana yang besar sekali untuk uang muka yang hampir tujuh puluh lima juta rupiah, dan waktunya tinggal satu hari untuk mengumpulkan uang muka itu. KeajaibanNya, karena sepuluh ribu itu tidak ada apa-apanya di antara bilangan puluhan juta...Dan keesokan harinya di layar Facebook yang ada berita konfirmasi bahwa keajaiban itu terjadi, sumbangan yang mengalir memungkinkan jumlah uang muka itu terkumpul. Di satu pihak saya senang karena mukjizatNya terlaksana, di lain pihak saya tiba-tiba merasa menjadi Thomas Didimus yang meminta bukti kepada Yesus.

Perasaan yang muncul itu, ditambah ayat yang menghentakkan saya ini menjadi dasar refleksi diri dalam perjalananku dari sekarang. Saya berharap tidak akan mencobai Tuhan walaupun dengan tidak sengaja. Mencoba untuk percaya sepenuhnya dan tidak akan mencobaiNya dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Saya tahu Ia mencintai domba-dombaNya, dan tidak akan dibiarkan satu dombapun hilang. Tetapi cinta yang sejati harus senantiasa bersifat timbal balik, saya juga perlu mencintaiNya dengan sepenuh hati dan dengan segenap akal budi.

Tuhan,
Jauhkanlah kami dari yang jahat,
Bebaskanlah kami dari pencobaan,
karena lemahlah kami,
terkadang daging lebih kuat daripada roh,
dan kegelapan lebih membuai tidur daripada Sang Surya yang bersinar membangunkan,
godaan adalah bagian dari kehidupan manusia,
jadikanlah kami kuat dan bijaksana dalam menghadapi godaan,
karena hanya Engkau yang memampukan kami,
hanya Engkau yang menguatkan dan membimbing kami dalam kegelapan,
Engkaulah terang yang menyinari hati kami,
Air kehidupan yang menyegarkan hidup kami,
dan Gembala yang menatang kami ketika kami terluka dalam dosa.
Tuhan,
ampuni kami,
dampingi kami senantiasa,
Amin.

Saturday, March 12, 2011

Belajar melepaskan diri

Hari ini adalah minggu ke dua dari program pengajaran 6 minggu Meditasi Kristiani. Minggu pertama saya tidak bisa hadir, tetapi minggu ini saya memaksakan diri untuk hadir. Hari ini topik bahasannya adalah John Main, OSB.

Ada hal menarik yang saya peroleh hari ini dari Bapak Andreas yang membawakan materi pengajaran hari ini. Ketika menerangkan mengenai Pater John Main, OSB. dikatakan bahwa pada saat beliau memutuskan memasuki biara Benediktin, dan diketahui memiliki kebiasaan meditasi yang dipelajarinya dari Swami Satyananda, beliau diminta menghentikan kebiasaan itu. Sebagai biarawan beliau mengikuti perintah pembesar ordonya.

Ketika pertama kali mendengar kisah ini, sebenarnya hal itu tidak terlalu menarik perhatian saya. Tetapi ketika kami selesai dengan acara tanya jawab, baru terasa betapa pentingnya kisah tersebut.

Dalam sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Mulai dari sikap duduk ketika meditasi, hingga pengaturan nafas. Mengenai meditasi dan kontemplasi sebenarnya ada uraian yang cukup mendalam di blog yang satu ini. Saya sendiri akhirnya kembali menanyakan pergumulan saya antara lectio divina dan metoda meditasi kristiani pater John Main ini. Berdasarkan pengalaman saya, kalau saya baru menggunakan cara meditasi lectio divina yang lebih bersifat diskursif, maka keesokan harinya sulit bagi saya untuk memasuki keheningan meditasi kristiani. Sebaliknya, bila hari ini saya menggunakan metode meditasi kristiani, maka keesokan harinya ketika mencoba memasuki kontemplasi yang diskursif saya cenderung mengarah ke keheningan total.

Saya cukup paham bahwa Lectio Divina dan Meditasi Kristiani ini berbeda. Ketika berganti pimpinan doa dan berganti metode membuat saya sedikit terguncang. Lectio Divina yang sudah saya ikuti selama bertahun-tahun sudah menjadi kebutuhan hidup yang menyegarkan dahaga saya akan kehadiranNya. Saya juga bisa merasakan kesegaran lain yang ditawarkan Meditasi Kristiani, tetapi saya menjadi gamang karena kehilangan sabdaNya yang hidup.

Sebenarnya saya sudah pernah mendapatkan apa yang hari ini saya peroleh dari seminar ini, dan saya sudah pernah mengutip tulisan "Menemukan Sendiri Kebenarannya" oleh Romo J. Sudrijanta, SJ di tulisan yang ini.

Bermacam cara doa itu hanyalah kendaraan untuk menjalin kedekatan denganNya. Satu hal itu yang harus saya ingat benar. Sebenarnya kedatangan saya pertama kali ke kelompok doa lectio divina adalah karena mencari rasa bahagia yang pernah hadir dalam keheningan ketika saya menangis kepadaNya. Pada saat itu saya sama sekali tidak menggunakan metoda ajaran apapun. Tentunya saya pernah mendapat bekal meditasi dalam retret-retret di sekolah Katolik tempat saya belajar dulu, tetapi saat itu yang saya lakukan sebenarnya hanyalah menangis kepadaNya. Sebenarnya saya tidak terlalu ingat lagi detail peristiwa itu, yang saya ingat adalah saya mencoba menghadirkan keheningan tempat adorasi kepada Sakramen Mahakudus di Lourdes sana. Awalnya saya menangis kepada Bunda, tetapi terasa benar perasaan bahagia itu datang dari Sang Putra. Dia merengkuh putriNya yang bersedih, dan memberikan kebahagiaan yang tidak sanggup kulukiskan dengan kata-kata. Perasaan bahagia itu memabukkan, dan saya mencoba mencarinya lagi. Itulah yang membuat saya ikut dalam kelompok Lectio Divina.

Hadir dalam kelompok Lectio Divina awalnya terasa tidak sesuai dengan kebutuhanku. Saya mencari keheningan itu, pertemuan denganNya dalam keheningan seperti saat yang lalu itu. Tetapi kemudian saya menemukan betapa Kitab Suci terasa begitu hidup. Belum pernah dalam kehidupan rohaniku saya membaca Kitab Suci dan bisa merasakan betapa isinya tidak pernah lapuk dimakan zaman, betapa FirmanNya begitu hidup untuk keseharianku yang kini.

Kalau membaca uraian dari blog Katolisitas.org, terbaca betapa saya sudah dibimbingNya untuk memasuki Prayer of Recollection, dan sekarang saya sedang diarahkan untuk masuk ke dalam Prayer of Quiet.

Pelajaran paling berharga yang saya peroleh hari ini adalah belajar melepaskan diri dari ketergantungan pada suatu metode atau suatu zona kenyamanan. Sama seperti Pater John Main, OSB belajar untuk mengikuti perintah pembesarnya. Sama seperti Ibu Teresa yang juga harus mematuhi prosedur dalam biaranya sebelum akhirnya diperbolehkan memiliki kongregasinya sendiri. Yang penting bukan kendaraan yang kita gunakan, melainkan kehadiranNya yang menyertai kita, apapun kendaraan yang kita gunakan.

Kemarin saya baru saja mulai membaca buku "Di Dalam Keheningan Hati", renungan Ibu Teresa bersama kerabat kerjanya. Dan mungkin kutipan renungannya yang berasal dari I Korintus 10:31 merupakan panduan utama dalam setiap aktivitas mendatang "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." Pembuka renungannya berkata, "Kita tidak dapat mengerjakan pekerjaan besar-hanya pekerjaan kecil dengan cinta kasih yang besar."

Terima kasih Tuhan,
Saya ingin belajar melepaskan diri dari ketergantungan
terhadap rasa nyaman
terhadap rasa dibutuhkan
terhadap rasa berguna
terhadap kesuksesan
terhadap kegembiraan
biarlah saya belajar menggantungkan diri pada hadirMu saja,
hadirlah di dalam hatiku,
terangi sudut-sudut gelap di hatiku,
dan pancarkan sinarMu ke luar hatiku,
karena kehangatanMu menyejukkan,
dan kehadiranMu membahagiakan...
Amin.

Thursday, February 03, 2011

Nilai tradisi dalam Gereja

Sudah beberapa tahun ini saya mengikuti misa Tahun Baru Imlek di gereja St. Perawan Maria Ratu, gereja di dekat rumah orang tuaku. Setidaknya dua tahun terakhir ini seingat saya ada Barongsai yang masuk ke dalam gereja di awal (pembukaan) misa.

Sebenarnya, pada awalnya saya merasa semua itu berlebihan. Tapi sesungguhnya saya memang masih harus belajar menjadi orang Cina Indonesia. Terus terang saya lebih merasa sebagai orang Makassar daripada sebagai orang Cina. Jadi terkadang salah ucap seperti "chung-quo ren" bisa membuat salah pengertian. Bagi saya yang belum pernah menginjakkan kaki ke Tiongkok rasanya aneh bila disebut sebagai "Chung-quo ren" (orang Tiongkok). Orde Baru memang mengambil sebuah hak saya akan pembelajaran. Pembelajaran melalui proses menilai diri sebagai bagian yang memiliki darah keturunan Cina. Tetapi tradisi berkumpul di hari Tahun Baru Cina itu memang berlaku di dalam keluargaku, terutama karena dahulu nenekku (dari ibu) yang selalu merayakannya.

Kebetulan beberapa hari sebelum Imlek tahun ini saya berjalan di sekitar Petak Sembilan, Jakarta. Saya memasuki beberapa klenteng dan sebuah gereja Katolik di sana. Di dalam klenteng orang-orang sedang sibuk mempersiapkan hari tahun baru Imlek. Hampir semua sedang mempersiapkan doa kepada leluhur maupun pada dewa-dewa yang mereka percayai untuk memohon rahmat dan rezeki dalam menghadapi tahun yang baru nanti.

Kebetulan dalam misa konselebrasi yang di gereja kemarin, ada dua Romo yang asli Jawa dan satu Romo yang keturunan Cina. Romo Dismas, begitu nama Romo yang menjadi konselebran utama, mengenalkan arti abjad 福 (Fu). Yang di kiri katanya berhubungan dengan bintang, bulan dan matahari, alias unsur-unsur langit. Hal ini melambangkan unsur spiritual atau rohani. Sementara yang kanan melambangkan sawah berarti penghasilan atau unsur jasmani. Dalam penulisannya dituliskan bagian kiri terlebih dahulu baru bagian kanan, berarti manusia sepatutnya mendahulukan kehidupan rohani dahulu baru dipenuhkan kebutuhan jasmaninya.

Yang sangat menarik bagi saya pribadi adalah bacaan hari itu, terutama bacaan Injil. Bacaan pertama diambil dari Surat I Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 4: 17-24. Bacaan Injil diambil dari Injil Lukas 12: 22-34. Kalimat yang sangat berkesan bagiku pada saat itu adalah "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian." Kebanyakan dari kita datang ke pada Tuhan karena memiliki kekhawatiran di dalam hati. Tetapi bila kita sudah mempercayakan masalah kita kepadaNya, maka sepatutnya kita tidak lagi boleh khawatir. Carilah KerajaanNya maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. Kesulitan tidak serta merta menghilang dan menjauh, tetapi kekuatan untuk menjalaninya menjadi lebih besar.

Sebenarnya saya juga belajar dari suamiku, melihat bagaimana proses untuk mempercayai suatu agama sebagai bagian dari iman bukan hal yang mudah. Bagi yang sudah memiliki keterikatan tradisi seperti yang berasal dari keluarga keturunan Cina yang masih kental urusan tradisinya, akan sulit memperoleh doa yang khidmat dalam suatu kebiasaan yang mungkin terasa baru. Dalam misa hari itu ia tampak nyaman karena ia juga bisa merasakan antusiasme dari umat (non keturunan Cina) yang hadir dalam misa itu. Merasa diterima sebagai bagian dari komunitas merupakan hal yang penting bagi seorang individu.

Keluarga kami sendiri tidak terlalu mementingkan tradisi berbaju baru, dan sejak menikah saya baru mengetahui bahwa dalam tradisi Imlek yang sesungguhnya, makan besar terjadi pada malam Tahun Baru, artinya malam sebelum hari Imlek. Semua keluarga berkumpul dan makan malam bersama. Keesokan harinya adalah hari pantang daging, di mana mereka seharusnya hanya boleh makan sayuran saja. Ini agak berbeda dengan kebiasaan keluargaku yang memang sejak awal hanya menggunakan Imlek sebagai tradisi tahun baru penanggalan Cina.

Sebelum Imlek diakui sebagai hari libur nasional sebenarnya Gereja Katolik telah terlebih dahulu memberikan dispensasi bagi umat Katolik yang merayakan perayaan ini. Bila perayaan Imlek jatuh tepat pada hari Rabu Abu, di mana seharusnya umat Katolik berpantang dan berpuasa, maka pada hari itu yang merayakannya dibebaskan dari kewajiban pantang dan puasa, serta boleh digantikan keesokan harinya.

Menjaga keberagaman dalam kesatuan memang bukan hal yang mudah. Yang paling utama untuk dikembangkan adalah komunikasi yang baik. Selebihnya kita serahkan kepadaNya, bukankah Ia sudah berkata, "Janganlah khawatir akan hidupmu..." Carilah kerajaanNya, maka pintu yang tertutup akan dibukakan, mata yang tidak melihat akan diberiNya sinar pencerahan, hati yang suram akan diterangiNya...

Tuhan,
Terima kasih atas berkatMu,
Keberagaman kami yang mewarnai kehidupan ini,
sukacitamu yang berkobar dalam hati kami,
yang tersebar dalam uluran tangan sesama kami,
yang menguatkan derap langkah yang letih dan berbeban berat.
Tuhan,
terima kasih atas tuntunanMu,
dalam pencarian diri kami karena hidup lebih penting daripada makanan,
sebab hidup adalah hadiahMu yang indah,
dan tubuh lebih penting daripada pakaian,
sebab tiada pakaian yang bisa menyembunyikan keindahan hati.
Semoga tubuh kami menjadi tempat persemayamanMu,
sehingga hati kami bersinar membawa cahayaMu,
menerangi pojok-pojok gelap kehidupan,
membagi harapan kepada dunia.
Amin.

Thursday, January 20, 2011

Kehadiran lebih penting daripada perbuatan

Dalam salah satu pengantar meditasi Kristiani, saya mendengar pernyataan ini, "Kehadiran lebih penting daripada perbuatan." Kebetulan pernyataan ini merujuk kepada sikap Marta dan Maria yang memang sudah lama menarik perhatian saya.

Merasa lebih dekat kepada Marta daripada Maria, pernyataan ini membuat saya bertanya-tanya. Pertanyaan itu saya bawa ke dalam meditasi, tetapi pada akhir meditasi tetap saya tanyakan kepada suster pendamping kami. Jawaban suster menyentakkan saya, "KehadiranNya...kehadiran Yesus yang penting." Memalukan...itulah saya dengan ego manusiaku, yang melihat dari sudut pandang diriku sendiri! Berulang kali sudah menemukan hal ini melalui renungan dan meditasi, tapi tetap saja bebal! Saya tidak mampu melihat terangNya dalam pernyataan itu karena saya memandang pernyataan tersebut dengan berpusat pada diriku. Kehadiranku...perbuatanku...Padahal maksud buku itu memberikan pernyataan adalah kehadiranNya lebih penting daripada perbuatanNya. Bila Ia hadir di dalam diriku maka otomatis perbuatanku akan mencerminkan hadirNya. Bukan mukjizatNya yang paling penting, melainkan kehadiranNya yang menguatkan dan menuntunku ke dalam perbuatan yang menampilkan kasihNya.

Saya yang bebal awalnya berpikir, "Bukankah tidak cukup saya hanya hadir di gereja tapi tidak melakukan perbuatan apapun bagiNya?", dan, "Saya harus berbuat sesuatu bagi orang-orang di sekitarku...apapun itu...sebagai tanda perbuatanku bagiNya."

PencerahanNya memampukanku untuk melihat betapa tidak pentingnya perbuatan yang kurancang karena Ia yang akan menggunakan diriku untuk perbuatan-perbuatan baikNya selama saya mampu menghadirkan diriNya dalam hatiku.

Dari buku "Discernment, a Way of Life" yang disusun oleh Pater Rex A. Pai, SJ, saya belajar pentingnya untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada tangan Allah dan membiarkanNya bekerja melalui diriku. Dalam buku ini saya diingatkan akan karya yang berorientasi pada diri sendiri dan karya yang berorientasi pada orang lain. Seharusnya muridNya berpusat pada orang lain dan Allah (Yoh 15:5) karena di luarNya kita tidak mampu berbuat apa-apa.

Menjaga kehadiranNya dalam hatiku berarti juga terus berperang melawan godaan untuk mementingkan kepentingan diri sendiri. Dengan menghadirkanNya di dalam batin berarti kita belajar untuk mengerti kehendak Tuhan. HadirNya akan membawa kita melewati tingkat emosional, dan tingkat rasional, dan masuk ke dalam tataran hati.

Tuhan,
anakMu ini masih harus banyak belajar melihat dari mataMu,
belajar untuk merasakan dengan hatiMu,
sehingga mampu bertindak sesuai dengan kehendakMu.
Perbuatan yang paling utama adalah menghadirkanMu di dalam hatiku,
Karena itulah yang akan menyalakan terang di dalam hatiku,
Dan menerangi setiap langkahku bersamaMu.
Terima kasih Tuhan,
Roh KudusMu telah menerangi pikiranku,
Pikiran yang senantiasa sibuk dengan rancangan perbuatan,
tapi melupakan konsekuensinya yang melalaikanMu...
Tuhan,
bimbing kami anakMu
agar mampu memberi tempat yang layak bagi hadirMu.
Amin.

Saturday, December 04, 2010

Tersenyumlah Untuk Yesus

Bagi orang-orang yang mengenal tradisi Sinterklaas maka nanti malam seharusnya adalah malam kedatangan Sinterklaas dan Piet Hitam. Suasana perayaan Natal mulai terasa. Lagu-lagu Natal mulai dikumandangkan, acara Pendalaman Iman dalam rangka Adven mulai diadakan, dan sebentar lagi gereja juga dipenuhi antrian orang-orang yang akan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Yesus akan datang, bersihkanlah rumahmu, bersihkanlah hatimu untuk menyambutNya.

Satu hal yang menarik bagi saya selama mengikuti doa meditasi bersama suster adalah pengalaman berbagi dengan rekan-rekan komunitas. Betapa begitu banyak ragam masalah di dunia ini. Betapa begitu banyak ragam rahmat yang dicurahkanNya bagi kami masing-masing.

Dari buku Ibu Teresa "Come be My Light" saya menemukan satu hal yang sangat sulit untuk aku tiru. Ibu Teresa berusaha untuk terus tersenyum bagi Yesus, walaupun dia berada dalam kegelapan dan kehausan akan cintaNya yang sangat mendalam. Dia tidak pernah ingin mengeluh. Itulah satu hal yang sangat berbeda dengan diriku dan sangat sulit untuk kutirukan. Belajar untuk tidak mengeluh, belajar untuk menerima jalanNya dan tersenyum.

Seorang dari peserta meditasi kami membagikan pengalamannya Jumat pagi kemarin. Ketika meditasi ia merasa wajahnya diarahkan untuk tersenyum. Tentu saja saya langsung teringat pada contoh dari Bunda Teresa. Tersenyumlah untuk Yesus!

Natal sejak saya masih kecil merupakan hari yang khusus. Sebagai anak kecil saya dan adik-adik terutama sangat gembira dengan hadiah Natal yang diletakkan di bawah pohon Natal. Kami tidak terlalu mengenal Sinterklaas yang turun dari cerobong tapi kami mengenal hadiah-hadiah Natal. Ada cerita Sinterklaas dan Piet Hitam, tapi di rumah kami tidak ada cerobong. Yang ada tentunya pergi menemui Sinterklaas di luar rumah. Pernah suatu ketika saya langsung sakit panas ketika seorang teman ayahku yang kebetulan berkulit hitam legam datang ke rumah dan saya dipaksa untuk bersalaman dengannya.

Hadiah Natal kami dahulu mulai muncul di awal-awal Adven, setiap kali ada yang berbuat baik maka hadiahnya di bawah pohon itu bertambah. Sebaliknya, bila yang dilakukan adalah kenakalan, maka hadiahnya akan menghilang kembali. Sebenarnya hadiahnya tidak mahal, bisa sugus satu bungkus atau pensil dan penghapus. Masa kecilku kami tidak punya banyak tuntutan. Tanpa iklan televisi, tanpa kehidupan konsumtif, tanpa permainan elektronik yang mahal tidak banyak godaan bagi kami. Hadiah terindah buat saya tentunya adalah buku cerita atau album perangko.

Dalam masa remajaku ada kebiasaan baru yang muncul, yakni membersihkan kamarku menjelang Natal dan Paskah. Menata kamar pada hari Natal sangat menyenangkan karena banyaknya sahabat pena yang mengirimiku kartu Natal. Semua kartu-kartu itu akan kupajang di atas almari, menambah warna-warni ceria dalam kamarku. Ketika kamarku sudah bersih dan teratur maka tentunya giliran hatiku yang perlu dibersihkan...jadilah saya ikut dalam antrian umat yang akan menerima Sakramen pengakuan dosa. Sayang sekali kehadiran internet yang secara ekonomi lebih murah daripada berkirim surat, dan lebih efisien dari segi waktu membuat saya berhenti berkirim surat lewat pos. Jadi kartu-kartu Natal yang indah itu tidak lagi menghias rumahku, dan tidak lagi menjadi rutinitas menjelang Natal yang kuturunkan ke anak-anakku.

Ketika Maria menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel, seharusnya kabar itu bukanlah kabar gembira yang bisa membuat seorang perawan tersenyum. Bayangkan bagaimana rasanya seorang gadis yang belum menikah bila menerima kabar akan mengandung dan melahirkan seorang bayi? Seistimewa apapun bayi yang akan dikandungnya, rasanya pasti di hatinya ada guncangan yang hebat. Itu adalah pilihan yang diberikan kepada Perawan Maria, dan itu bukan suatu pilihan yang mudah. Hukuman untuk wanita yang hamil tanpa suami adalah hukum rajam. Bagaimana orang lain bisa mengetahui bahwa dirinya mengandung anak Allah? Tetapi Maria tetap tersenyum dan menjawab, "Terjadilah padaku menurut perkataanMu...."

Ketika saya menghadapi masalah dalam kehidupan, masalah dalam berkeluarga, maka reaksi pertama adalah keluarnya sebuah keluhan. Reaksi selanjutnya adalah mencari jalan keluar yang logis untuk memecahkan masalah tersebut. Dari sharing dalam Pendalaman Iman di lingkungan kami serta dari pengalaman seorang teman doa yang sedianya harus menjalani operasi jantung minggu ini, saya belajar betapa jalan keluarNya tidak selalu memiliki penjelasan yang masuk akal. Seringkali jalanNya tampak sangat tidak masuk akal. Kebetulan kedua contoh yang saya dengar berhubungan dengan penyakit jantung. Yang pertama di lingkungan adalah kisah anak kecil yang sudah siap di operasi di Singapura ketika tiba-tiba alat yang seharusnya akan digunakan ditarik oleh produsennya karena adanya kekurang sempurnaan pada produk. Yang kedua, dari teman doaku, adalah kisah penundaan operasi jantung karena secara mendadak terjadi perbaikan kondisi jantung setelah yang bersangkutan berserah diri dalam meditasi-meditasinya.

Mengeluh dalam menghadapi masalah seringkali berkaitan dengan tuntutan kepada Tuhan untuk memperhatikan kita, untuk memperbaiki nasib kita. Betapa Ibu Teresa merasa tersiksa karena merasa kering dan hampa, tetapi dia dengan tersenyum terus bekerja bagi Tuhan. Ia menjadikan dirinya mempelai Yesus. Dan menjadi mempelai Yesus tidak berarti senantiasa menerima dukungan dan siraman kasih yang besar dan nyata di dalam hatinya.

Sebuah kisah dari renungan Pater Anthony de Mello SJ saya temukan di portal Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Amsterdam. Walaupun sudah pernah membacanya sebelumnya, tapi kali ini kisah ini lebih menyentuh saya karena saya sekarang bisa merasakannya. Kisah ini bercerita tentang pemuda yang mencari suara seribu lonceng yang tenggelam ke dasar laut. Ia tidak mampu mendengar suara lonceng itu, suara gemuruh lautan memenuhi seluruh indera pendengarannya. Ketika ia menyerah dan menyangka bahwa ia tidak ditakdirkan untuk mengenal suara lonceng dalam legenda itu, tiba-tiba lonceng-lonceng itu berdenting dengan sangat jelas.
Pada hari itu ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia pun menemukan suara yang lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu tenggelam dalam suara itu, sehingga ia hampir tidak menyadari dirinya lagi. Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalam hatinya.

Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya ! Dentang bunyi satu lonceng disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi dan oleh yang lain lagi ...dan akhirnya seribu lonceng dari kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang agung berpadu. Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.

Jika engkau ingin mendengar lonceng-lonceng kuil, dengarkanlah suara laut.

Jika engkau ingin melihat Tuhan, pandanglah ciptaan dengan penuh perhatian. Jangan menolaknya, jangan memikirkannya. Pandanglah saja.


Dalam upaya mencari Yesus seringkali saya terlalu fokus kepada figur Yesus yang ada dalam benakku, atau menutup mata terhadap apa yang tersaji di hadapanku guna menemukan Ia yang bagiku tersembunyi. Ibu Teresa mencari kehangatan cintaNya tapi ia tidak membiarkan dirinya jatuh ke dalam kekosongan itu, ia membiarkan dirinya masuk dan lebur ke dalam karyaNya. Dan ia membiarkan dirinya selalu tersenyum sehingga orang luar hanya melihat kebesaranNya.

Yesus,
saya ingin tersenyum bagiMu
menerimaMu dalam penginapan di hatiku
lebur dalam kehangatan cintaMu
dan berbuah banyak karena sentuhan kasihMu.

Yesus,
betapa besar kasihMu
betapa besar kekuatanMu yang Engkau berikan untuk menopang kami,
Berikan kami kemampuan untuk mengenalMu
untuk mengenal jalanMu
untuk melangkah bersamaMu
untuk berpasrah tapi tidak pasif
untuk berusaha tapi tidak mengatur
karena Engkau begitu besar
seperti alam semesta yang tak terkira luasnya
begitu dalam
seperti dalamnya samudra yang tak terselami
dan logika tidak mampu menyentuhMu
tidak mampu mengenal kehendakMu
ketika jalanMu dan takdir bagai bersatu
ketika kehendak bebas menjadi batu sandunganku
ajari daku cinta kasihMu...
ajari daku untuk tersenyum bagiMu....