Tuesday, July 17, 2007

Tuhan Yang Membebaskan.

Kegiatan saya di portal citizen journalism banyak membawa pengalaman baru dan pengetahuan baru. Salah satu yang menyeruak dari berbagai topik hangat di portal wikimu.com adalah keinginan teman-teman dari Papua untuk memisahkan diri dari Indonesia. Secara pribadi saya lebih senang mereka tetap bersatu dengan Indonesia. Mereka adalah salah satu mutiara indah bangsa Indonesia yang kaya dalam berbagai hal, baik hasil bumi, adat kebudayaan, maupun ekosistem.

Hari ini bacaan Renungan Harian Mutiara Iman 2007 mengambil topik meditasi Kitab Keluaran 3:1-6, 9-12. “Bukankah Aku akan menyertai engkau?”. Di bawah ini akan saya kutip meditatio dari buku mutiara iman:
Bacaan pertama hari ini mengisahkan perutusan Musa oleh Tuhan untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir. Dengan kekuatan manusiawi tentu Musa tidak mungkin mampu melaksanakan tugas pembebasan bangsa Israel itu, apalagi yang dihadapi adalah bangsa dengan raja yang kejam. Maka Tuhan meneguhkan bahwa Tuhan akan menyertai. “Aku akan menyertai engkau”. Pernyataan Tuhan inilah yang membawa keberhasilan. Dan berkat tangan Tuhan, Israel kembali menjadi bangsa yang merdeka dan terbebas dari segala penindasan bangsa Mesir.

Pengalaman Musa ini bisa memberi inspirasi bagi para pemimpin bangsa kita. Untuk menjadi bangsa yang merdeka, bebas dari segala penderitaan dan ketertindasan, pemimpin bangsa harus bertindak bukan seperti raja Firaun, yang bertindak kejam dan menindas ribuan orang demi kejayaan pribadi. Pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan seperti Musa. Ia mempunyai komitmen terhadap tugas yang diembannya, yaitu membebaskan bangsanya dari segala penderitaan dan melindungi dari kuasa-kuasa apapun yang merusak. Tugas itu dia perjuangkan bukan dengan kekuatan senjata atau militer tetapi dengan kekuatan Allah. Karena ia percaya bahwa Allah turut campur tangan dalam perjuangan membangun bangsa yang merdeka lahir batin dan sejahtera dalam kehidupan.


Renungan saya pribadi tidak bisa tidak lari kepada pemikiran terhadap artikel teman-teman dari Papua. Tapi renungan saya bisa jadi bertolak dari dasar pemikiran saya yang memang pro NKRI.

Tuhan yang membebaskan manusia dari belenggu dosa, Tuhan pula yang menjamin kebebasan dan kemerdekaan kita lahir dan batin. Bahkan sebagai manusia yang dipenjara kita tetap bisa menjadi orang yang merdeka lahir dan batin selama kita tetap teguh berpegang pada Allah sang Pencipta.

Kemerdekaan harus diperjuangkan. Bahkan di dalam keluarga terkadang kita tidak merdeka. Entah sebagai anak, entah sebagai orang tua. Sebagai anak terkadang saya merasa terbelenggu oleh peraturan dan ketakutan orang tua saya terhadap saya sebagai anak perempuan satu-satunya. Sebagai orang tua terkadang saya merasa terbelenggu dengan kewajiban saya menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya, banyak kegiatan yang ingin saya jalani harus saya kesampingkan untuk memberi prioritas waktu bagi keluarga. Masih banyak belenggu lain yang bisa kita cari dari kehidupan berkeluarga. Mungkin bagi yang lajang belenggu itu akan berujud lain, entah kurangnya kepercayaan diri, atau hal-hal lainnya.

Bagi saya masalah rekan-rekan entah dari Papua, Ambon, ataupun Aceh (sama seperti dahulu saya memandang masalah Timor Timur) adalah masalah perjuangan untuk memerdekakan diri dari ketertinggalan. Berjuang di dalam NKRI dengan kesatuan tekad dan kebersamaan di bawah lindungan Allah pasti akan berbuah lebat. Pada intinya perjuangan itu sama, tapi dengan bersama-sama dan bersatu kita lebih kuat.

Timor Timur sudah merdeka dan berdiri sendiri, tapi perjuangan mereka masih panjang. Sanggupkah mereka melangkah terus? Sementara ini saya mendengar bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam daftar negara gagal. Daftar apa pula ini? Kita hanya bisa mendoakan mereka. Setidaknya sebagai tetangga terdekat Indonesia sangat bekepentingan dengan kemajuan dan kemandirian Timor Timur, tapi disamping itu stigma sebagai penjajah juga melekat pada diri bangsa kita.

Meditasi saya hari ini lebih banyak bermain dengan logika. Mungkin saya butuh waktu yang lebih tenang dan lama untuk sungguh-sungguh mendengar suaraNya. Tapi yang saya peroleh adalah satu penguatan bahwa pemimpin harus punya komitmen kuat terhadap tugas yang diembannya, yakni memerdekakan bangsanya dari penderitaan, melindunginya dan yang terpenting melaksanakan semua komitmen ini dalam persetujuan Allah. Selama pemimpin berjalan menjauhi Allah dengan segala tindakan yang hanya memikirkan diri sendiri atau keluarga sendiri, atau golongannya, maka mereka tidak akan bisa menjalankan komitmen yang diembannya dengan dukungan Allah. Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Wahai pemimpin bangsa (termasuk yang duduk di kursi DPR, MPR, atau kursi empuk lainnya), dengarkan suara rakyat maka kalian akan mendengar suara Allah.

Allah Bapa yang Maha Baik, tolonglah para pemimpin bangsa Indonesia agar sungguh dapat bijaksana membimbing bangsa kami dari keterpurukan dan perpecahan. Berkatilah pemimpin kami agar senantiasa mengingat komitmennya kepada rakyat dan Allah Yang Maha Esa. Bimbinglah mereka agar mampu memimpin kami keluar dari belenggu kebodohan, kemiskinan, keserakahan, dan kesombongan diri. Terima kasih atas kasihMu Tuhan, kami percaya hanya dengan lindunganMu kami mampu sungguh-sungguh merdeka. Amin.

1 comment:

  1. It's so nice for me to have found this blog of yours, it's so interesting. I sure hope and wish that you take courage enough to pay me a visit in my http://earnarticle.blogspot.com - ( | earn money articles | A Very Helpful Guide For You to Make Money on the Internet & Earn Cash Online. A Blog Full of Useful Information, Tips & Resources. Now, You Too Can Work at Home & Start Your Own Home Based Business. So, What Are You Waiting For?! Just Keep Reading, then Take Action!),

    and plus get some surprise. Don't think for a minute that my invitation is spam and I'm a spammer. I'm only searching for a public that may like or love what I write.

    Feel free off course to comment as you wish and remember: don't take it wrong, don't think that this visitation I make is a matter of more audiences for my own blog. No. It's a matter of making universal, realy universal, all this question of blogs, all the essential causes that bring us all together by visiting and loving one another.

    You must not feel obliged to come and visit me. An invitation is not an intimation. Also know that if you click on one of my ads : I would feel happy if you did click it, but once again you're totaly free to do what ever you want. That's the whole beauty of it all.

    I think it's to UNITE MANKIND that we became bloggers! Don't see language as an obstacle but as a challenge (though you can use the translater google at the top of my sidebar page!) and think for a minute if I and the rest of the world are not expecting something like a broad cumplicity. Open your heart and come along!!!!!

    Contact Widyanto Duta Nugroho:

    ** E-mail : nyantaidulu@yahoo.com
    widyanto@gmail.com
    ** Y!M : nyantaidulu
    ** Hotmail : nyantaidulu
    ** Google talk : widyanto
    ** Myspace : widyanto
    ** A O L : nyantaidulu
    ** ICQ : 299648948
    ** Skype.com : nyantaidulu
    ** Paltalk.com : nyantaidulu
    ** JabberPlanet : widyanto
    ** LJtalk : nyantaidulu@livejournal.com
    ** Blog : http://earnarticle.blogspot.com

    Your blog is awesome blog! can we do link exchange with my blog? thanks

    ReplyDelete