Bila dilihat dari bahasa Indonesia maka judul di atas sedikit aneh. Memberi tentunya bukan menjual. Orang yang menjual barang atau jasa yang mengharapkan upah. Tapi bacaan Injil hari Minggu, Matius 25:31-46 dan bacaan hari Senin, Lukas 21: 1-4 membawa saya pada refleksi ini. Seringkali kita manusia memberi karena menginginkan upah di balik pemberian itu. Ketika kita memberi kepada orang yang membutuhkan, tidak jarang kita meminta upah atau imbalan dari mereka, bisa berupa penghormatan, bisa berupa jasa, atau bisa juga berupa imbalan dari Tuhan berupa lahan masa depan di surga.
Dari Injil Matius 25:31-46 kedua macam orang yang berbeda itu sama-sama tidak mengerti kapan Tuhan datang pada mereka sebagai orang yang sakit, susah, maupun lapar. Bila orang yang pertama membantu dengan tulus, maka tipe orang yang kedua tidak membantu karena tidak mengenali Tuhan. Apakah saya sudah bisa masuk ke dalam tipe orang yang pertama? Yang membantu walaupun tidak tahu bahwa bantuan itu adalah untuk Tuhan? Atau saya masih terkungkung dalam tipe nomor dua? Yang hanya membantu karena mengetahui keberadaan Tuhan di balik sesama saya? Ketulusan itu yang penting, dan itu hanya datang dari hati yang penuh kasih.
Bacaan ini juga kembali mengingatkan kepada janda yang memberikan 2 talenta yang dimilikinya, seluruh uang yang dimilikinya, tanpa memikirkan resiko masa depannya. Ia juga tidak memberikan dua talenta itu untuk meminta lebih banyak lagi talenta dari Tuhan. Tidak, dua talenta itu semata-mata tanda terima kasihnya atas semua kemurahan Tuhan yang telah dirasakannya.
Tuhan,
Terima kasih sudah begitu mencintai kami,
Berikan kami hati yang mampu bersyukur,
Hati yang memiliki iman walaupun hanya sebesar biji sesawi
Tetapi mampu menguatkan hati kami agar tetap tulus dalam pelayanan kami.
Tuhan,
Terima kasih karena mau bersabar mengingatkan daku,
Betapa rapuh dan tak berartinya pelayanan yang menantikan upah,
Betapa indahnya penyertaanMu dalam kehidupan kami ya Bapa,
Semoga semuanya menjadi indah pada waktuMu.
Amin.
Blog ini semula adalah blog meditasi pribadi, sejak Paskah 2008 saya buka untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi. Sementara ini sesuai dengan namanya "Perjalanan menelusuri kata-kataNya" lebih mengarah ke pendalaman iman lewat meditasi kitab suci, tapi dengan masuknya kontributor lain terbuka kemungkinan bentuk posting yang berbeda.
Tuesday, November 22, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
About Me
- Retty N. Hakim
- A mother of three boys, who is trying to grab the essence of life through blogging. Citizen journalism firing me to write. The internet has broken the limitation of my house walls and my hectic time schedule. It has opened my eyes to all those wonderful persons with all their own opinions. Sharing ideas and comments are the wonderful aspect of the internet that attract me. I hope that we are going to build a better world with better communication...
0 comments:
Post a Comment