Kelompok kami kembali berkumpul untuk Lectio Divina. Renungan Injil yang kami pakai dari Injil harian adalah Yoh 8: 1-11, Perempuan yang berzinah. Dari buku Retret Agung Umat "Mari Berbagi" kami mendapatkan panduan akan perlunya keberadaan manajemen konflik. Yang dicuplik buku panduan ini dari bacaan Injil tersebut adalah ayat 11, "Akupun tidak menghukum engkau."
Seringkali kita melupakan betapa Tuhan tidak menghukum kita, melainkan kita sendiri yang menghukum sesama kita. Kita menjadi seperti orang Farisi yang merasa penuh dengan kebenaran dan meminta Tuhan menghukum orang dengan azab dan sengsara karena kesalahan mereka. Kita lupa bahwa balok di mata kita bisa menutupi pandangan jernih dalam permasalahan tersebut. Ketika kita menyerahkan semua permasalahan kita pada Tuhan, maka Ia akan berbicara dalam hati kecil kita mengingatkan kembali, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia orang pertama yang melemparkan batu kepada perempuan itu."
Ada beberapa ayat yang menarik perhatian peserta doa kami hari itu. Ada yang menggaris bawahi pesan terakhir Yesus, "Aku pun tidak akan menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Yesus memberikan pengampunan dan menawarkan hidup baru yang bersih dari dosa, tinggal bagaimana manusia menyikapi pengampunan yang diberikanNya. Apakah kita akan bertobat dan kembali ke rumah Bapa seperti si anak bungsu, atau kita akan meneruskan hidup dalam kelam dosa yang membenamkan kita ke dalam gerbang neraka.
Ada yang mengamati betapa Yesus memperhatikan ketidak adilan yang dilakukan masyarakat ke pada wanita. Betapa dalam Taurat itu hukuman hanya diberikan ke pada pihak perempuan sementara perselingkuhan senantiasa menjangkau dua belah pihak. Sebenarnya dalam hal ini Ulangan 22: 22-24 dan Im 20:10 lebih detail dalam merinci hukuman yang berlaku dalam perzinahan.
Memang seringkali wanita digambarkan sebagai makhluk yang lemah secara fisik, tetapi memiliki kekuatan yang tersembunyi. Tidak heran bila kitab Amsal 31:10-31 semuanya berisi puji-pujian untuk istri yang cakap. Sebenarnya bacaan dari kitab Amsal ini pernah membuat saya tercenung memikirkan betapa berat beban seorang istri, betapa timpang tanggung jawab jender yang ditampilkan dalam bacaan itu (atau bahkan dalam Kitab Suci). Tetapi memang dalam kenyataannya seorang istri yang kuat, terutama secara rohani, sangat berharga bagi sebuah keluarga. Seringkali tiang kehidupan sebuah rumah tangga bukan terutama dari kaum lelaki melainkan lebih kepada kemampuan pengelolaan konflik dan kesabaran dari pihak perempuan. Kalau kita mau berbicara tanpa memandang perbedaan jender, maka sebenarnya tanggung jawab tersebut berada pada kedua belah pihak. Tapi, seringkali, terutama di Asia, pihak wanita jauh lebih berat bebannya. Pola paternalistik yang ditanamkan sejak kecil membentuk keberpihakan jender yang kurang adil. Perempuan yang lebih sering bersinggungan dengan masalah pendidikan anak dalam pola ini sebenarnya bisa lebih berperan dalam membentuk budaya kesetaraan jender ataupun penghargaan terhadap kaum perempuan.
Ada pula seorang teman yang mengomentari betapa Yesus mengambil waktu untuk diam (dan menulis di tanah) sebelum menjawab pertanyaan orang-orang Farisi itu. Teman itu lalu menarik hubungan antara kondisi emosional seseorang ketika langsung menjawab sebuah konflik atau masalah yang dihadapinya. Mengambil waktu untuk tenang atau berdoa sejenak dalam hati akan memampukan kita untuk menghadirkanNya sebagai penahan ucapan yang sia-sia. Sebuah pandangan lain juga muncul dari pemikiran yang melihat kesabaran Tuhan dalam menghadapi umatNya yang terus menerus jatuh ke dalam kelamnya dosa. Perempuan itu tahu dirinya berdosa, tapi tidak berusaha keluar dari dosa itu. Alih-alih marah dan kesal karena perempuan itu melanggar perintah Allah yang terdapat di dalam hukum Taurat, Yesus justru memberi kesempatan kepada orang-orang Farisi untuk interospeksi diri, dan kepada perempuan itu untuk merasakan kebebasan dari belenggu akibat dosanya. Setelah itu Ia mengeluarkan perintah untuk meninggalkan dosa-dosa yang membenamkannya.
Bagaimana perempuan dan laki-laki memiliki pola pikir dan karakter berbeda memang sungguh unik. Bagaimana Tuhan menciptakan pasangan yang berbeda karakter juga sangat unik. Boleh dikatakan bahwa Tuhan memang memberikan manusia pasangan yang sangat berbeda dengan dirinya agar mereka saling melengkapi, saling mendidik satu sama lain sehingga terlaksanalah kehendakNya. Masalah komunikasi antara suami istri menjadi sebuah topik yang menarik hari itu. Banyak hal yang bisa menjadi batu sandungan sebuah pernikahan. Seorang ibu yang sudah pernah ditinggal suaminya kembali ke rumah Bapa di surga di saat usia masih cukup muda, dan anak-anak masih cukup kecil, berpesan kepada teman-teman lainnya agar menikmati waktu yang diberikan Tuhan dalam keluarga. Sekesal apapun kita pada pasangan, pada akhirnya ketika kita ditinggalkan maka rasa kehilangan akan menyadarkan betapa sepele masalah yang menjadi sumber kekisruhan dalam hubungan rumah tangga. Demikian pula memiliki pasangan pengganti tidak akan menuntaskan masalah, karena pada dasarnya setiap orang itu berbeda dengan keinginan yang berbeda-beda. Setiap pasangan itu unik dan mereka memiliki permasalahan masing-masing yang unik pula.
Teman yang lain memiliki masalah rumah tangga yang berbeda. Usia anaknya yang sudah memasuki masa remaja dan mulai terlibat dalam kisah percintaan remaja membawa dinamika lain lagi dari masalah komunikasi ini. Setiap orang memiliki pandangan berbeda untuk pendekatan komunikasi antara orang tua dan anak, atau antara orang tua dan pacar anak. Sebenarnya memang sulit untuk memberikan satu rumusan baku dalam manajemen komunikasi karena setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda, serta pola pikir yang berbeda. Orang tua, terutama ibu, sepatutnya lebih jeli mengenali pola pikir anaknya dan membantunya membangun komunikasi yang hidup dengan orang tuanya. Kehidupan zaman sekarang yang cukup memprihatinkan memang perlu diantisipasi. Bagi saya sendiri mencoba untuk tetap berkomunikasi dengan anak, dan menyerahkan semuanya ke padaNya merupakan jalan keluar yang terbaik. Saya membantu Tuhan menabur, semoga benihNya tumbuh dalam hati anak-anak saya dan akhirnya bisa berbuah bagiNya.
Yesus menyelesaikan masalah perzinahan tersebut dengan membuka komunikasi. Begitu jugalah yang perlu kami laksanakan dalam kehidupan rumah tangga, pekerjaan, lingkungan dan masyarakat kami. Tapi satu hal terpenting dalam menunjang komunikasi yang baik dengan sesama secara horisontal adalah komunikasi vertikal yang baik antara kita dan Allah, walaupun sesungguhnya kata "vertikal" ini tidak selalu berarti jauh ke atas, karena Ia ada di dalam hati kita. Bukalah pintu hatimu dan biarkan Ia bersemayam di sana, membantumu memilih kata dan komentar yang sesuai dengan kehendakNya.
Tuhan,
terima kasih atas kesadaran akan pentingNya hadirMu
dalam komunikasi dengan sesama,
Engkau memberikan ketenangan dan kesabaran,
menipiskan sikap emosional dan egoisme diri kami,
Biarkanlah komunikasi dalam hatiku denganMu tetap hidup senantiasa,
dan memberi penyejuk dalam komunikasiku dengan sesama,
memberi bahan untuk memulai komunikasi dengan sesama,
memberi kekuatan untuk mempertahankan komunikasi yang bermakna bagiMu,
dan memperbaiki semua kelemahan kami dalam menyampaikan diri kami,
karena Engkau Maha Tahu,
Engkau mengenal diri kami lebih dari kami mengetahui kedalaman hati kami,
Bimbing kami ya Tuhan,
Ajarilah kami untuk setia berkomunikasi denganMu,
agar kami dimampukan untuk berkomunikasi dengan baik kepada sesama kami.
Amin.
Blog ini semula adalah blog meditasi pribadi, sejak Paskah 2008 saya buka untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi. Sementara ini sesuai dengan namanya "Perjalanan menelusuri kata-kataNya" lebih mengarah ke pendalaman iman lewat meditasi kitab suci, tapi dengan masuknya kontributor lain terbuka kemungkinan bentuk posting yang berbeda.
Tuesday, April 12, 2011
Wednesday, March 30, 2011
Pusat Roda Doa Adalah Tuhan
Ini adalah catatan pendek dari Program Pengajaran 6 minggu Meditasi Kristiani. Tidak semua yang kudapat dari acara ini bisa kutuliskan. Satu hal yang menarik bagiku dari belajar meditasi kristiani ini adalah kehilangan kemampuan untuk merangkai kata. Aku seperti ditarik dalam keheningan, terkadang kehilangan kata dalam berdoa lisan. Mungkin juga semua ini adalah bagian dari proses yang harus kulalui.
Ketika mendapatkan materi Roda Doa, maka satu hal yang menentramkan adalah kenyataan bahwa pusat roda doa itu adalah Tuhan Allah. Meditasi kristiani hanya salah satu dari cara berdoa yang juga berpusat kepada poros utama yaitu Allah. Jadi baik Lectio Divina, Meditasi Kristiani, maupun cara berdoa lainnya semuanya perlu berporos pada satu titik pusat: Tuhan. Cara doa seperti apa yang cocok bagi diri kita selama itu berpusat pada Tuhan, maka akan memberi kekuatan untuk bergulir dan berjalan.
Melepaskan ego merupakan satu hal yang tersulit bagi manusia. Terkadang ego begitu kuat mencengkeram diri manusia. Pengalaman indah bertemu denganNya dalam keheningan malam di kala aku terpuruk dalam kesedihan yang mendalam merupakan hiburan yang sangat menguatkan bahkan walaupun tahun-tahun sudah lama berlalu. Kerinduan untuk kembali bersamaNya yang membawa aku mencari komunitas doa yang menggunakan meditasi sebagai doa. Sekarang aku menyadari ada satu hal yang menjadi penghalang kuat untuk bertemu kembali denganNya, yaitu ego manusiaku. Ketika aku merasakan hadirNya, saat itu aku benar-benar terpuruk, tidak tahu bisa berbuat apa, tidak tahu harus berkata apa. Satu-satunya yang kutahu adalah lari kepada Bunda Maria dan memohon dikuatkan oleh Sang Putra. Pasrah dan tidak memiliki kehendak apa-apa lagi, hanya ingin beristirahat dalam damaiNya. Hanya membutuhkan air kehidupanNya untuk menyegarkan hati. Tidak mudah untuk bisa kembali ke dalam kondisi pasrah yang serupa. Kondisi yang terbentuk ketika terasa semua pintu telah tertutup, semua asa sudah menguap, dan kelelahan jiwa hanya menginginkan untuk bersandar padaNya. Semoga tanpa harus berada dalam situasi serupa kepasrahan dan imanku tetap hanya bersandar padaNya.
Kehadiran bersama komunitas doa Lectio Divina yang sudah bertahun-tahun kami jalani juga merupakan suatu wadah komunitas yang menjadi tempat berbagi. Kalau dalam materi pengajaran 6 minggu disebutkan kegunaan komunitas doa adalah untuk saling menguatkan dan untuk berbagi dalam jatuh bangun membangun doa melalui meditasi, maka hal itu sudah kurasakan selama ini. Kebutuhan untuk berkumpul bersama dan merenungkan kitab suci sudah bagaikan kebutuhan sebuah batere untuk diisi kembali sebelum mampu bekerja kembali dengan optimal.
Saat ini yang menjadi pertanyaan utama saya sebenarnya adalah kembali ke Lectio Divina atau meneruskan Meditasi Kristiani seperti yang diajarkan oleh Pater John Main OSB ini. Ada hal-hal menarik dari Meditasi Kristiani yang sebenarnya mungkin merupakan pelengkap dari hal-hal yang kuterima dari Lectio Divina, tetapi bila berpindah cara maka saya masih merasa gamang. Tatkala Lectio Divina malah mencari keheningan total, tetapi ketika mencoba Meditasi Kristiani malah kesulitan menghalau "monyet-monyet" pengganggu yang berkeliaran di pikiranku.
Lectio Divina membantu aku mengolah masalah kehidupan sehari-hari yang ada, sementara Meditasi Kristiani membantuku untuk melepaskan masalah itu dan meletakkannya ke dalam pangkuanNya. Sementara ini saya juga kebingungan dengan kemampuan multi tasking yang menipis, sepertinya saya dipaksa untuk mencoba fokus satu demi satu hal. Beberapa teman dari komunitas merasakan hal yang sama, tetapi kami sedang mencoba untuk menjalani proses ini terlebih dahulu dengan tetap berpusat pada Tuhan.
Tuhan,
Engkau adalah pusat dari kehidupan kami,
Pusat dari doa-doa kami,
Terima kasih atas semua berkat yang Kau berikan,
yang melalui Lectio Divina
memampukan kami untuk mengenali betapa hidup sabdaMu
dan melalui doa kontemplatif
mengajarkan kami untuk hening dan menghadirkan diri di hadapanMu.
Memampukan kami untuk mengerti betapa dekat keberadaanMu,
Dikau senantiasa menemani di dalam hati kami,
semoga kami mampu menjaga keputihan hati ini....
dan memusatkan roda doa kami pada diriMu saja.
Amin.
Ketika mendapatkan materi Roda Doa, maka satu hal yang menentramkan adalah kenyataan bahwa pusat roda doa itu adalah Tuhan Allah. Meditasi kristiani hanya salah satu dari cara berdoa yang juga berpusat kepada poros utama yaitu Allah. Jadi baik Lectio Divina, Meditasi Kristiani, maupun cara berdoa lainnya semuanya perlu berporos pada satu titik pusat: Tuhan. Cara doa seperti apa yang cocok bagi diri kita selama itu berpusat pada Tuhan, maka akan memberi kekuatan untuk bergulir dan berjalan.
Melepaskan ego merupakan satu hal yang tersulit bagi manusia. Terkadang ego begitu kuat mencengkeram diri manusia. Pengalaman indah bertemu denganNya dalam keheningan malam di kala aku terpuruk dalam kesedihan yang mendalam merupakan hiburan yang sangat menguatkan bahkan walaupun tahun-tahun sudah lama berlalu. Kerinduan untuk kembali bersamaNya yang membawa aku mencari komunitas doa yang menggunakan meditasi sebagai doa. Sekarang aku menyadari ada satu hal yang menjadi penghalang kuat untuk bertemu kembali denganNya, yaitu ego manusiaku. Ketika aku merasakan hadirNya, saat itu aku benar-benar terpuruk, tidak tahu bisa berbuat apa, tidak tahu harus berkata apa. Satu-satunya yang kutahu adalah lari kepada Bunda Maria dan memohon dikuatkan oleh Sang Putra. Pasrah dan tidak memiliki kehendak apa-apa lagi, hanya ingin beristirahat dalam damaiNya. Hanya membutuhkan air kehidupanNya untuk menyegarkan hati. Tidak mudah untuk bisa kembali ke dalam kondisi pasrah yang serupa. Kondisi yang terbentuk ketika terasa semua pintu telah tertutup, semua asa sudah menguap, dan kelelahan jiwa hanya menginginkan untuk bersandar padaNya. Semoga tanpa harus berada dalam situasi serupa kepasrahan dan imanku tetap hanya bersandar padaNya.
Kehadiran bersama komunitas doa Lectio Divina yang sudah bertahun-tahun kami jalani juga merupakan suatu wadah komunitas yang menjadi tempat berbagi. Kalau dalam materi pengajaran 6 minggu disebutkan kegunaan komunitas doa adalah untuk saling menguatkan dan untuk berbagi dalam jatuh bangun membangun doa melalui meditasi, maka hal itu sudah kurasakan selama ini. Kebutuhan untuk berkumpul bersama dan merenungkan kitab suci sudah bagaikan kebutuhan sebuah batere untuk diisi kembali sebelum mampu bekerja kembali dengan optimal.
Saat ini yang menjadi pertanyaan utama saya sebenarnya adalah kembali ke Lectio Divina atau meneruskan Meditasi Kristiani seperti yang diajarkan oleh Pater John Main OSB ini. Ada hal-hal menarik dari Meditasi Kristiani yang sebenarnya mungkin merupakan pelengkap dari hal-hal yang kuterima dari Lectio Divina, tetapi bila berpindah cara maka saya masih merasa gamang. Tatkala Lectio Divina malah mencari keheningan total, tetapi ketika mencoba Meditasi Kristiani malah kesulitan menghalau "monyet-monyet" pengganggu yang berkeliaran di pikiranku.
Lectio Divina membantu aku mengolah masalah kehidupan sehari-hari yang ada, sementara Meditasi Kristiani membantuku untuk melepaskan masalah itu dan meletakkannya ke dalam pangkuanNya. Sementara ini saya juga kebingungan dengan kemampuan multi tasking yang menipis, sepertinya saya dipaksa untuk mencoba fokus satu demi satu hal. Beberapa teman dari komunitas merasakan hal yang sama, tetapi kami sedang mencoba untuk menjalani proses ini terlebih dahulu dengan tetap berpusat pada Tuhan.
Tuhan,
Engkau adalah pusat dari kehidupan kami,
Pusat dari doa-doa kami,
Terima kasih atas semua berkat yang Kau berikan,
yang melalui Lectio Divina
memampukan kami untuk mengenali betapa hidup sabdaMu
dan melalui doa kontemplatif
mengajarkan kami untuk hening dan menghadirkan diri di hadapanMu.
Memampukan kami untuk mengerti betapa dekat keberadaanMu,
Dikau senantiasa menemani di dalam hati kami,
semoga kami mampu menjaga keputihan hati ini....
dan memusatkan roda doa kami pada diriMu saja.
Amin.
Tuesday, March 22, 2011
Pencobaan
Sebenarnya sejak mengikuti meditasi Kristiani (yang sekarang ini) saya agak kehilangan gairah menulis. Takut memanjakan kemalasan, saya memaksakan diri menulis apa yang bisa teringat. Ketika lebih teratur mengikuti Lectio Divina saya merasakan bagaimana kata-kata mengalir begitu saja setelah saya selesai dengan meditasi kitab suci itu. Tetapi saat itu juga ada ketakutan bahwa saya menjadi tidak disiplin dalam meditasi karena begitu merasa inspirasi memenuhi kepala dorongan untuk menulis menjadi sangat besar. Membiarkan semangat menulis itu mengambil alih waktu meditasi saya rasanya juga bukan sebuah solusi yang benar.
Dalam Seminar Meditasi Kristiani yang ke tiga, saya sangat tertarik pada lambang mereka yang menggunakan gambar dua ekor burung merpati. Dijelaskan bahwa kedua burung itu melambangkan sikap kontemplatif Maria dan sikap aktif Marta. Saya selalu tertarik pada karakter Maria dan Marta dalam Kitab Suci. Setidaknya tulisan "Membaca KehendakNya" dan "Kehadiran lebih penting daripada perbuatan" menggambarkan pergumulan saya dengan kedua karakter ini. Dalam penjelasan mengenai logo tersebut dikatakan bahwa kedua karakter itu hadir di dalam diri kita, dan kita perlu menjaga keseimbangan antara bersikap sebagai Maria dan bersikap sebagai Marta. Hal ini sebenarnya sudah juga saya peroleh sebelumnya dan saya tuliskan di sini.
Perasaan kehilangan Lectio Divina membuat kami kembali berkumpul secara khusus untuk memasuki meditasi yang diskursif walaupun hanya sebagai selingan dari Meditasi Kristiani yang sedang kami coba pahami ini.
Bacaan yang kami pakai sebagai pengantar adalah bacaan Hari Minggu Prapaskah I, Matius 4: 1-11, mengenai godaan. Ayat yang sangat berkesan pada hari itu bagi saya adalah ayat 7 yaitu: "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
Beberapa teman tertarik pada ketiga godaan yang ada. Memang pada dasarnya ketiga godaan itu masih hadir sampai saat ini juga. Demikian juga kenyataan bahwa Iblis menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk menyesatkan manusia. Yesus digoda dalam aspek kemanusiaannya. Godaan itu menunjukkan betapa Yesus sungguh tahu apa yang sesungguhnya dihadapi oleh manusia. Sebagai manusia Dia juga digoda, dan Ia menunjukkan bagaimana caranya menghadapi godaan itu. Baik Yesus maupun Iblis sama-sama menggunakan ayat-ayat Kitab Suci. Bagaimana mengenali yang benar tentunya tidak sukar, Yesus mendasarkan ucapanNya pada kemuliaan Allah, sesuai dengan kehendak Allah. Iblis memberikan saran menggunakan kalimat Kitab Suci tetapi untuk tujuan memuaskan diri, memuaskan ego. Inilah yang kiranya perlu kita cari dalam kehidupan ini untuk menemukan Firman Yang Hidup itu. Lakukanlah semua pelayanan untukNya, bukan untuk diri pribadi atau kelompok kita saja.
Kemungkinan saya sangat tertarik pada ayat 7 tersebut karena seringkali saya bersikap pasrah kepada Tuhan, tetapi ada kemungkinan dalam kepasrahan itu ada terselip keinginan untuk melihat kebesaranNya. Bukankah itu bukti dari lemahnya iman?
Baru-baru ini seorang teman melalui akun Facebooknya menyarankan untuk menyumbang dana bagi seorang penulis yang cukup punya nama. Penulis itu ingin membeli tanah guna memperbesar taman bacaan yang sudah dirintisnya sejak lama. Kebetulan himbauan itu dituliskan ketika akhir bulan sudah di depan mata. Tentunya kantong pribadi juga sudah sangat menipis. Saya tersentuh akan permintaan sumbangan melalui transfer sebesar Rp. 10.000,-. Sumbangan tersebut sangat kecil, kalau untuk jajan anak-anak saya yang tiga orang saja cuma dapat jajanan pinggir jalan yang satu kali makan sudah habis. Kalau untuk makan di warteg, cuma bisa untuk satu orang sekali makan (normal). Ketika mentransfer dana tersebut sebenarnya terbersit keinginan untuk melebihkan dari jumlah sepuluh ribu itu, tetapi saat itu juga terpikir betapa kantong sendiri sedang kacau, dan kewajiban lain yang masih harus dibayarkan. Jadilah transfer terlaksana sambil menantikan keajaiban dari Tuhan. Keajaiban, karena penulis itu sebenarnya masih membutuhkan dana yang besar sekali untuk uang muka yang hampir tujuh puluh lima juta rupiah, dan waktunya tinggal satu hari untuk mengumpulkan uang muka itu. KeajaibanNya, karena sepuluh ribu itu tidak ada apa-apanya di antara bilangan puluhan juta...Dan keesokan harinya di layar Facebook yang ada berita konfirmasi bahwa keajaiban itu terjadi, sumbangan yang mengalir memungkinkan jumlah uang muka itu terkumpul. Di satu pihak saya senang karena mukjizatNya terlaksana, di lain pihak saya tiba-tiba merasa menjadi Thomas Didimus yang meminta bukti kepada Yesus.
Perasaan yang muncul itu, ditambah ayat yang menghentakkan saya ini menjadi dasar refleksi diri dalam perjalananku dari sekarang. Saya berharap tidak akan mencobai Tuhan walaupun dengan tidak sengaja. Mencoba untuk percaya sepenuhnya dan tidak akan mencobaiNya dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Saya tahu Ia mencintai domba-dombaNya, dan tidak akan dibiarkan satu dombapun hilang. Tetapi cinta yang sejati harus senantiasa bersifat timbal balik, saya juga perlu mencintaiNya dengan sepenuh hati dan dengan segenap akal budi.
Tuhan,
Jauhkanlah kami dari yang jahat,
Bebaskanlah kami dari pencobaan,
karena lemahlah kami,
terkadang daging lebih kuat daripada roh,
dan kegelapan lebih membuai tidur daripada Sang Surya yang bersinar membangunkan,
godaan adalah bagian dari kehidupan manusia,
jadikanlah kami kuat dan bijaksana dalam menghadapi godaan,
karena hanya Engkau yang memampukan kami,
hanya Engkau yang menguatkan dan membimbing kami dalam kegelapan,
Engkaulah terang yang menyinari hati kami,
Air kehidupan yang menyegarkan hidup kami,
dan Gembala yang menatang kami ketika kami terluka dalam dosa.
Tuhan,
ampuni kami,
dampingi kami senantiasa,
Amin.
Dalam Seminar Meditasi Kristiani yang ke tiga, saya sangat tertarik pada lambang mereka yang menggunakan gambar dua ekor burung merpati. Dijelaskan bahwa kedua burung itu melambangkan sikap kontemplatif Maria dan sikap aktif Marta. Saya selalu tertarik pada karakter Maria dan Marta dalam Kitab Suci. Setidaknya tulisan "Membaca KehendakNya" dan "Kehadiran lebih penting daripada perbuatan" menggambarkan pergumulan saya dengan kedua karakter ini. Dalam penjelasan mengenai logo tersebut dikatakan bahwa kedua karakter itu hadir di dalam diri kita, dan kita perlu menjaga keseimbangan antara bersikap sebagai Maria dan bersikap sebagai Marta. Hal ini sebenarnya sudah juga saya peroleh sebelumnya dan saya tuliskan di sini.Perasaan kehilangan Lectio Divina membuat kami kembali berkumpul secara khusus untuk memasuki meditasi yang diskursif walaupun hanya sebagai selingan dari Meditasi Kristiani yang sedang kami coba pahami ini.
Bacaan yang kami pakai sebagai pengantar adalah bacaan Hari Minggu Prapaskah I, Matius 4: 1-11, mengenai godaan. Ayat yang sangat berkesan pada hari itu bagi saya adalah ayat 7 yaitu: "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
Beberapa teman tertarik pada ketiga godaan yang ada. Memang pada dasarnya ketiga godaan itu masih hadir sampai saat ini juga. Demikian juga kenyataan bahwa Iblis menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk menyesatkan manusia. Yesus digoda dalam aspek kemanusiaannya. Godaan itu menunjukkan betapa Yesus sungguh tahu apa yang sesungguhnya dihadapi oleh manusia. Sebagai manusia Dia juga digoda, dan Ia menunjukkan bagaimana caranya menghadapi godaan itu. Baik Yesus maupun Iblis sama-sama menggunakan ayat-ayat Kitab Suci. Bagaimana mengenali yang benar tentunya tidak sukar, Yesus mendasarkan ucapanNya pada kemuliaan Allah, sesuai dengan kehendak Allah. Iblis memberikan saran menggunakan kalimat Kitab Suci tetapi untuk tujuan memuaskan diri, memuaskan ego. Inilah yang kiranya perlu kita cari dalam kehidupan ini untuk menemukan Firman Yang Hidup itu. Lakukanlah semua pelayanan untukNya, bukan untuk diri pribadi atau kelompok kita saja.
Kemungkinan saya sangat tertarik pada ayat 7 tersebut karena seringkali saya bersikap pasrah kepada Tuhan, tetapi ada kemungkinan dalam kepasrahan itu ada terselip keinginan untuk melihat kebesaranNya. Bukankah itu bukti dari lemahnya iman?
Baru-baru ini seorang teman melalui akun Facebooknya menyarankan untuk menyumbang dana bagi seorang penulis yang cukup punya nama. Penulis itu ingin membeli tanah guna memperbesar taman bacaan yang sudah dirintisnya sejak lama. Kebetulan himbauan itu dituliskan ketika akhir bulan sudah di depan mata. Tentunya kantong pribadi juga sudah sangat menipis. Saya tersentuh akan permintaan sumbangan melalui transfer sebesar Rp. 10.000,-. Sumbangan tersebut sangat kecil, kalau untuk jajan anak-anak saya yang tiga orang saja cuma dapat jajanan pinggir jalan yang satu kali makan sudah habis. Kalau untuk makan di warteg, cuma bisa untuk satu orang sekali makan (normal). Ketika mentransfer dana tersebut sebenarnya terbersit keinginan untuk melebihkan dari jumlah sepuluh ribu itu, tetapi saat itu juga terpikir betapa kantong sendiri sedang kacau, dan kewajiban lain yang masih harus dibayarkan. Jadilah transfer terlaksana sambil menantikan keajaiban dari Tuhan. Keajaiban, karena penulis itu sebenarnya masih membutuhkan dana yang besar sekali untuk uang muka yang hampir tujuh puluh lima juta rupiah, dan waktunya tinggal satu hari untuk mengumpulkan uang muka itu. KeajaibanNya, karena sepuluh ribu itu tidak ada apa-apanya di antara bilangan puluhan juta...Dan keesokan harinya di layar Facebook yang ada berita konfirmasi bahwa keajaiban itu terjadi, sumbangan yang mengalir memungkinkan jumlah uang muka itu terkumpul. Di satu pihak saya senang karena mukjizatNya terlaksana, di lain pihak saya tiba-tiba merasa menjadi Thomas Didimus yang meminta bukti kepada Yesus.
Perasaan yang muncul itu, ditambah ayat yang menghentakkan saya ini menjadi dasar refleksi diri dalam perjalananku dari sekarang. Saya berharap tidak akan mencobai Tuhan walaupun dengan tidak sengaja. Mencoba untuk percaya sepenuhnya dan tidak akan mencobaiNya dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Saya tahu Ia mencintai domba-dombaNya, dan tidak akan dibiarkan satu dombapun hilang. Tetapi cinta yang sejati harus senantiasa bersifat timbal balik, saya juga perlu mencintaiNya dengan sepenuh hati dan dengan segenap akal budi.
Tuhan,
Jauhkanlah kami dari yang jahat,
Bebaskanlah kami dari pencobaan,
karena lemahlah kami,
terkadang daging lebih kuat daripada roh,
dan kegelapan lebih membuai tidur daripada Sang Surya yang bersinar membangunkan,
godaan adalah bagian dari kehidupan manusia,
jadikanlah kami kuat dan bijaksana dalam menghadapi godaan,
karena hanya Engkau yang memampukan kami,
hanya Engkau yang menguatkan dan membimbing kami dalam kegelapan,
Engkaulah terang yang menyinari hati kami,
Air kehidupan yang menyegarkan hidup kami,
dan Gembala yang menatang kami ketika kami terluka dalam dosa.
Tuhan,
ampuni kami,
dampingi kami senantiasa,
Amin.
Saturday, March 12, 2011
Belajar melepaskan diri
Hari ini adalah minggu ke dua dari program pengajaran 6 minggu Meditasi Kristiani. Minggu pertama saya tidak bisa hadir, tetapi minggu ini saya memaksakan diri untuk hadir. Hari ini topik bahasannya adalah John Main, OSB.
Ada hal menarik yang saya peroleh hari ini dari Bapak Andreas yang membawakan materi pengajaran hari ini. Ketika menerangkan mengenai Pater John Main, OSB. dikatakan bahwa pada saat beliau memutuskan memasuki biara Benediktin, dan diketahui memiliki kebiasaan meditasi yang dipelajarinya dari Swami Satyananda, beliau diminta menghentikan kebiasaan itu. Sebagai biarawan beliau mengikuti perintah pembesar ordonya.
Ketika pertama kali mendengar kisah ini, sebenarnya hal itu tidak terlalu menarik perhatian saya. Tetapi ketika kami selesai dengan acara tanya jawab, baru terasa betapa pentingnya kisah tersebut.
Dalam sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Mulai dari sikap duduk ketika meditasi, hingga pengaturan nafas. Mengenai meditasi dan kontemplasi sebenarnya ada uraian yang cukup mendalam di blog yang satu ini. Saya sendiri akhirnya kembali menanyakan pergumulan saya antara lectio divina dan metoda meditasi kristiani pater John Main ini. Berdasarkan pengalaman saya, kalau saya baru menggunakan cara meditasi lectio divina yang lebih bersifat diskursif, maka keesokan harinya sulit bagi saya untuk memasuki keheningan meditasi kristiani. Sebaliknya, bila hari ini saya menggunakan metode meditasi kristiani, maka keesokan harinya ketika mencoba memasuki kontemplasi yang diskursif saya cenderung mengarah ke keheningan total.
Saya cukup paham bahwa Lectio Divina dan Meditasi Kristiani ini berbeda. Ketika berganti pimpinan doa dan berganti metode membuat saya sedikit terguncang. Lectio Divina yang sudah saya ikuti selama bertahun-tahun sudah menjadi kebutuhan hidup yang menyegarkan dahaga saya akan kehadiranNya. Saya juga bisa merasakan kesegaran lain yang ditawarkan Meditasi Kristiani, tetapi saya menjadi gamang karena kehilangan sabdaNya yang hidup.
Sebenarnya saya sudah pernah mendapatkan apa yang hari ini saya peroleh dari seminar ini, dan saya sudah pernah mengutip tulisan "Menemukan Sendiri Kebenarannya" oleh Romo J. Sudrijanta, SJ di tulisan yang ini.
Bermacam cara doa itu hanyalah kendaraan untuk menjalin kedekatan denganNya. Satu hal itu yang harus saya ingat benar. Sebenarnya kedatangan saya pertama kali ke kelompok doa lectio divina adalah karena mencari rasa bahagia yang pernah hadir dalam keheningan ketika saya menangis kepadaNya. Pada saat itu saya sama sekali tidak menggunakan metoda ajaran apapun. Tentunya saya pernah mendapat bekal meditasi dalam retret-retret di sekolah Katolik tempat saya belajar dulu, tetapi saat itu yang saya lakukan sebenarnya hanyalah menangis kepadaNya. Sebenarnya saya tidak terlalu ingat lagi detail peristiwa itu, yang saya ingat adalah saya mencoba menghadirkan keheningan tempat adorasi kepada Sakramen Mahakudus di Lourdes sana. Awalnya saya menangis kepada Bunda, tetapi terasa benar perasaan bahagia itu datang dari Sang Putra. Dia merengkuh putriNya yang bersedih, dan memberikan kebahagiaan yang tidak sanggup kulukiskan dengan kata-kata. Perasaan bahagia itu memabukkan, dan saya mencoba mencarinya lagi. Itulah yang membuat saya ikut dalam kelompok Lectio Divina.
Hadir dalam kelompok Lectio Divina awalnya terasa tidak sesuai dengan kebutuhanku. Saya mencari keheningan itu, pertemuan denganNya dalam keheningan seperti saat yang lalu itu. Tetapi kemudian saya menemukan betapa Kitab Suci terasa begitu hidup. Belum pernah dalam kehidupan rohaniku saya membaca Kitab Suci dan bisa merasakan betapa isinya tidak pernah lapuk dimakan zaman, betapa FirmanNya begitu hidup untuk keseharianku yang kini.
Kalau membaca uraian dari blog Katolisitas.org, terbaca betapa saya sudah dibimbingNya untuk memasuki Prayer of Recollection, dan sekarang saya sedang diarahkan untuk masuk ke dalam Prayer of Quiet.
Pelajaran paling berharga yang saya peroleh hari ini adalah belajar melepaskan diri dari ketergantungan pada suatu metode atau suatu zona kenyamanan. Sama seperti Pater John Main, OSB belajar untuk mengikuti perintah pembesarnya. Sama seperti Ibu Teresa yang juga harus mematuhi prosedur dalam biaranya sebelum akhirnya diperbolehkan memiliki kongregasinya sendiri. Yang penting bukan kendaraan yang kita gunakan, melainkan kehadiranNya yang menyertai kita, apapun kendaraan yang kita gunakan.
Kemarin saya baru saja mulai membaca buku "Di Dalam Keheningan Hati", renungan Ibu Teresa bersama kerabat kerjanya. Dan mungkin kutipan renungannya yang berasal dari I Korintus 10:31 merupakan panduan utama dalam setiap aktivitas mendatang "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." Pembuka renungannya berkata, "Kita tidak dapat mengerjakan pekerjaan besar-hanya pekerjaan kecil dengan cinta kasih yang besar."
Terima kasih Tuhan,
Saya ingin belajar melepaskan diri dari ketergantungan
terhadap rasa nyaman
terhadap rasa dibutuhkan
terhadap rasa berguna
terhadap kesuksesan
terhadap kegembiraan
biarlah saya belajar menggantungkan diri pada hadirMu saja,
hadirlah di dalam hatiku,
terangi sudut-sudut gelap di hatiku,
dan pancarkan sinarMu ke luar hatiku,
karena kehangatanMu menyejukkan,
dan kehadiranMu membahagiakan...
Amin.
Ada hal menarik yang saya peroleh hari ini dari Bapak Andreas yang membawakan materi pengajaran hari ini. Ketika menerangkan mengenai Pater John Main, OSB. dikatakan bahwa pada saat beliau memutuskan memasuki biara Benediktin, dan diketahui memiliki kebiasaan meditasi yang dipelajarinya dari Swami Satyananda, beliau diminta menghentikan kebiasaan itu. Sebagai biarawan beliau mengikuti perintah pembesar ordonya.
Ketika pertama kali mendengar kisah ini, sebenarnya hal itu tidak terlalu menarik perhatian saya. Tetapi ketika kami selesai dengan acara tanya jawab, baru terasa betapa pentingnya kisah tersebut.
Dalam sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Mulai dari sikap duduk ketika meditasi, hingga pengaturan nafas. Mengenai meditasi dan kontemplasi sebenarnya ada uraian yang cukup mendalam di blog yang satu ini. Saya sendiri akhirnya kembali menanyakan pergumulan saya antara lectio divina dan metoda meditasi kristiani pater John Main ini. Berdasarkan pengalaman saya, kalau saya baru menggunakan cara meditasi lectio divina yang lebih bersifat diskursif, maka keesokan harinya sulit bagi saya untuk memasuki keheningan meditasi kristiani. Sebaliknya, bila hari ini saya menggunakan metode meditasi kristiani, maka keesokan harinya ketika mencoba memasuki kontemplasi yang diskursif saya cenderung mengarah ke keheningan total.
Saya cukup paham bahwa Lectio Divina dan Meditasi Kristiani ini berbeda. Ketika berganti pimpinan doa dan berganti metode membuat saya sedikit terguncang. Lectio Divina yang sudah saya ikuti selama bertahun-tahun sudah menjadi kebutuhan hidup yang menyegarkan dahaga saya akan kehadiranNya. Saya juga bisa merasakan kesegaran lain yang ditawarkan Meditasi Kristiani, tetapi saya menjadi gamang karena kehilangan sabdaNya yang hidup.
Sebenarnya saya sudah pernah mendapatkan apa yang hari ini saya peroleh dari seminar ini, dan saya sudah pernah mengutip tulisan "Menemukan Sendiri Kebenarannya" oleh Romo J. Sudrijanta, SJ di tulisan yang ini.
Bermacam cara doa itu hanyalah kendaraan untuk menjalin kedekatan denganNya. Satu hal itu yang harus saya ingat benar. Sebenarnya kedatangan saya pertama kali ke kelompok doa lectio divina adalah karena mencari rasa bahagia yang pernah hadir dalam keheningan ketika saya menangis kepadaNya. Pada saat itu saya sama sekali tidak menggunakan metoda ajaran apapun. Tentunya saya pernah mendapat bekal meditasi dalam retret-retret di sekolah Katolik tempat saya belajar dulu, tetapi saat itu yang saya lakukan sebenarnya hanyalah menangis kepadaNya. Sebenarnya saya tidak terlalu ingat lagi detail peristiwa itu, yang saya ingat adalah saya mencoba menghadirkan keheningan tempat adorasi kepada Sakramen Mahakudus di Lourdes sana. Awalnya saya menangis kepada Bunda, tetapi terasa benar perasaan bahagia itu datang dari Sang Putra. Dia merengkuh putriNya yang bersedih, dan memberikan kebahagiaan yang tidak sanggup kulukiskan dengan kata-kata. Perasaan bahagia itu memabukkan, dan saya mencoba mencarinya lagi. Itulah yang membuat saya ikut dalam kelompok Lectio Divina.
Hadir dalam kelompok Lectio Divina awalnya terasa tidak sesuai dengan kebutuhanku. Saya mencari keheningan itu, pertemuan denganNya dalam keheningan seperti saat yang lalu itu. Tetapi kemudian saya menemukan betapa Kitab Suci terasa begitu hidup. Belum pernah dalam kehidupan rohaniku saya membaca Kitab Suci dan bisa merasakan betapa isinya tidak pernah lapuk dimakan zaman, betapa FirmanNya begitu hidup untuk keseharianku yang kini.
Kalau membaca uraian dari blog Katolisitas.org, terbaca betapa saya sudah dibimbingNya untuk memasuki Prayer of Recollection, dan sekarang saya sedang diarahkan untuk masuk ke dalam Prayer of Quiet.
Pelajaran paling berharga yang saya peroleh hari ini adalah belajar melepaskan diri dari ketergantungan pada suatu metode atau suatu zona kenyamanan. Sama seperti Pater John Main, OSB belajar untuk mengikuti perintah pembesarnya. Sama seperti Ibu Teresa yang juga harus mematuhi prosedur dalam biaranya sebelum akhirnya diperbolehkan memiliki kongregasinya sendiri. Yang penting bukan kendaraan yang kita gunakan, melainkan kehadiranNya yang menyertai kita, apapun kendaraan yang kita gunakan.
Kemarin saya baru saja mulai membaca buku "Di Dalam Keheningan Hati", renungan Ibu Teresa bersama kerabat kerjanya. Dan mungkin kutipan renungannya yang berasal dari I Korintus 10:31 merupakan panduan utama dalam setiap aktivitas mendatang "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." Pembuka renungannya berkata, "Kita tidak dapat mengerjakan pekerjaan besar-hanya pekerjaan kecil dengan cinta kasih yang besar."
Terima kasih Tuhan,
Saya ingin belajar melepaskan diri dari ketergantungan
terhadap rasa nyaman
terhadap rasa dibutuhkan
terhadap rasa berguna
terhadap kesuksesan
terhadap kegembiraan
biarlah saya belajar menggantungkan diri pada hadirMu saja,
hadirlah di dalam hatiku,
terangi sudut-sudut gelap di hatiku,
dan pancarkan sinarMu ke luar hatiku,
karena kehangatanMu menyejukkan,
dan kehadiranMu membahagiakan...
Amin.
Thursday, February 03, 2011
Nilai tradisi dalam Gereja
Sudah beberapa tahun ini saya mengikuti misa Tahun Baru Imlek di gereja St. Perawan Maria Ratu, gereja di dekat rumah orang tuaku. Setidaknya dua tahun terakhir ini seingat saya ada Barongsai yang masuk ke dalam gereja di awal (pembukaan) misa.
Sebenarnya, pada awalnya saya merasa semua itu berlebihan. Tapi sesungguhnya saya memang masih harus belajar menjadi orang Cina Indonesia. Terus terang saya lebih merasa sebagai orang Makassar daripada sebagai orang Cina. Jadi terkadang salah ucap seperti "chung-quo ren" bisa membuat salah pengertian. Bagi saya yang belum pernah menginjakkan kaki ke Tiongkok rasanya aneh bila disebut sebagai "Chung-quo ren" (orang Tiongkok). Orde Baru memang mengambil sebuah hak saya akan pembelajaran. Pembelajaran melalui proses menilai diri sebagai bagian yang memiliki darah keturunan Cina. Tetapi tradisi berkumpul di hari Tahun Baru Cina itu memang berlaku di dalam keluargaku, terutama karena dahulu nenekku (dari ibu) yang selalu merayakannya.
Kebetulan beberapa hari sebelum Imlek tahun ini saya berjalan di sekitar Petak Sembilan, Jakarta. Saya memasuki beberapa klenteng dan sebuah gereja Katolik di sana. Di dalam klenteng orang-orang sedang sibuk mempersiapkan hari tahun baru Imlek. Hampir semua sedang mempersiapkan doa kepada leluhur maupun pada dewa-dewa yang mereka percayai untuk memohon rahmat dan rezeki dalam menghadapi tahun yang baru nanti.
Kebetulan dalam misa konselebrasi yang di gereja kemarin, ada dua Romo yang asli Jawa dan satu Romo yang keturunan Cina. Romo Dismas, begitu nama Romo yang menjadi konselebran utama, mengenalkan arti abjad 福 (Fu). Yang di kiri katanya berhubungan dengan bintang, bulan dan matahari, alias unsur-unsur langit. Hal ini melambangkan unsur spiritual atau rohani. Sementara yang kanan melambangkan sawah berarti penghasilan atau unsur jasmani. Dalam penulisannya dituliskan bagian kiri terlebih dahulu baru bagian kanan, berarti manusia sepatutnya mendahulukan kehidupan rohani dahulu baru dipenuhkan kebutuhan jasmaninya.
Yang sangat menarik bagi saya pribadi adalah bacaan hari itu, terutama bacaan Injil. Bacaan pertama diambil dari Surat I Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 4: 17-24. Bacaan Injil diambil dari Injil Lukas 12: 22-34. Kalimat yang sangat berkesan bagiku pada saat itu adalah "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian." Kebanyakan dari kita datang ke pada Tuhan karena memiliki kekhawatiran di dalam hati. Tetapi bila kita sudah mempercayakan masalah kita kepadaNya, maka sepatutnya kita tidak lagi boleh khawatir. Carilah KerajaanNya maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. Kesulitan tidak serta merta menghilang dan menjauh, tetapi kekuatan untuk menjalaninya menjadi lebih besar.
Sebenarnya saya juga belajar dari suamiku, melihat bagaimana proses untuk mempercayai suatu agama sebagai bagian dari iman bukan hal yang mudah. Bagi yang sudah memiliki keterikatan tradisi seperti yang berasal dari keluarga keturunan Cina yang masih kental urusan tradisinya, akan sulit memperoleh doa yang khidmat dalam suatu kebiasaan yang mungkin terasa baru. Dalam misa hari itu ia tampak nyaman karena ia juga bisa merasakan antusiasme dari umat (non keturunan Cina) yang hadir dalam misa itu. Merasa diterima sebagai bagian dari komunitas merupakan hal yang penting bagi seorang individu.
Keluarga kami sendiri tidak terlalu mementingkan tradisi berbaju baru, dan sejak menikah saya baru mengetahui bahwa dalam tradisi Imlek yang sesungguhnya, makan besar terjadi pada malam Tahun Baru, artinya malam sebelum hari Imlek. Semua keluarga berkumpul dan makan malam bersama. Keesokan harinya adalah hari pantang daging, di mana mereka seharusnya hanya boleh makan sayuran saja. Ini agak berbeda dengan kebiasaan keluargaku yang memang sejak awal hanya menggunakan Imlek sebagai tradisi tahun baru penanggalan Cina.
Sebelum Imlek diakui sebagai hari libur nasional sebenarnya Gereja Katolik telah terlebih dahulu memberikan dispensasi bagi umat Katolik yang merayakan perayaan ini. Bila perayaan Imlek jatuh tepat pada hari Rabu Abu, di mana seharusnya umat Katolik berpantang dan berpuasa, maka pada hari itu yang merayakannya dibebaskan dari kewajiban pantang dan puasa, serta boleh digantikan keesokan harinya.
Menjaga keberagaman dalam kesatuan memang bukan hal yang mudah. Yang paling utama untuk dikembangkan adalah komunikasi yang baik. Selebihnya kita serahkan kepadaNya, bukankah Ia sudah berkata, "Janganlah khawatir akan hidupmu..." Carilah kerajaanNya, maka pintu yang tertutup akan dibukakan, mata yang tidak melihat akan diberiNya sinar pencerahan, hati yang suram akan diterangiNya...
Tuhan,
Terima kasih atas berkatMu,
Keberagaman kami yang mewarnai kehidupan ini,
sukacitamu yang berkobar dalam hati kami,
yang tersebar dalam uluran tangan sesama kami,
yang menguatkan derap langkah yang letih dan berbeban berat.
Tuhan,
terima kasih atas tuntunanMu,
dalam pencarian diri kami karena hidup lebih penting daripada makanan,
sebab hidup adalah hadiahMu yang indah,
dan tubuh lebih penting daripada pakaian,
sebab tiada pakaian yang bisa menyembunyikan keindahan hati.
Semoga tubuh kami menjadi tempat persemayamanMu,
sehingga hati kami bersinar membawa cahayaMu,
menerangi pojok-pojok gelap kehidupan,
membagi harapan kepada dunia.
Amin.
Sebenarnya, pada awalnya saya merasa semua itu berlebihan. Tapi sesungguhnya saya memang masih harus belajar menjadi orang Cina Indonesia. Terus terang saya lebih merasa sebagai orang Makassar daripada sebagai orang Cina. Jadi terkadang salah ucap seperti "chung-quo ren" bisa membuat salah pengertian. Bagi saya yang belum pernah menginjakkan kaki ke Tiongkok rasanya aneh bila disebut sebagai "Chung-quo ren" (orang Tiongkok). Orde Baru memang mengambil sebuah hak saya akan pembelajaran. Pembelajaran melalui proses menilai diri sebagai bagian yang memiliki darah keturunan Cina. Tetapi tradisi berkumpul di hari Tahun Baru Cina itu memang berlaku di dalam keluargaku, terutama karena dahulu nenekku (dari ibu) yang selalu merayakannya.
Kebetulan beberapa hari sebelum Imlek tahun ini saya berjalan di sekitar Petak Sembilan, Jakarta. Saya memasuki beberapa klenteng dan sebuah gereja Katolik di sana. Di dalam klenteng orang-orang sedang sibuk mempersiapkan hari tahun baru Imlek. Hampir semua sedang mempersiapkan doa kepada leluhur maupun pada dewa-dewa yang mereka percayai untuk memohon rahmat dan rezeki dalam menghadapi tahun yang baru nanti.
Kebetulan dalam misa konselebrasi yang di gereja kemarin, ada dua Romo yang asli Jawa dan satu Romo yang keturunan Cina. Romo Dismas, begitu nama Romo yang menjadi konselebran utama, mengenalkan arti abjad 福 (Fu). Yang di kiri katanya berhubungan dengan bintang, bulan dan matahari, alias unsur-unsur langit. Hal ini melambangkan unsur spiritual atau rohani. Sementara yang kanan melambangkan sawah berarti penghasilan atau unsur jasmani. Dalam penulisannya dituliskan bagian kiri terlebih dahulu baru bagian kanan, berarti manusia sepatutnya mendahulukan kehidupan rohani dahulu baru dipenuhkan kebutuhan jasmaninya.
Yang sangat menarik bagi saya pribadi adalah bacaan hari itu, terutama bacaan Injil. Bacaan pertama diambil dari Surat I Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 4: 17-24. Bacaan Injil diambil dari Injil Lukas 12: 22-34. Kalimat yang sangat berkesan bagiku pada saat itu adalah "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian." Kebanyakan dari kita datang ke pada Tuhan karena memiliki kekhawatiran di dalam hati. Tetapi bila kita sudah mempercayakan masalah kita kepadaNya, maka sepatutnya kita tidak lagi boleh khawatir. Carilah KerajaanNya maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. Kesulitan tidak serta merta menghilang dan menjauh, tetapi kekuatan untuk menjalaninya menjadi lebih besar.
Sebenarnya saya juga belajar dari suamiku, melihat bagaimana proses untuk mempercayai suatu agama sebagai bagian dari iman bukan hal yang mudah. Bagi yang sudah memiliki keterikatan tradisi seperti yang berasal dari keluarga keturunan Cina yang masih kental urusan tradisinya, akan sulit memperoleh doa yang khidmat dalam suatu kebiasaan yang mungkin terasa baru. Dalam misa hari itu ia tampak nyaman karena ia juga bisa merasakan antusiasme dari umat (non keturunan Cina) yang hadir dalam misa itu. Merasa diterima sebagai bagian dari komunitas merupakan hal yang penting bagi seorang individu.
Keluarga kami sendiri tidak terlalu mementingkan tradisi berbaju baru, dan sejak menikah saya baru mengetahui bahwa dalam tradisi Imlek yang sesungguhnya, makan besar terjadi pada malam Tahun Baru, artinya malam sebelum hari Imlek. Semua keluarga berkumpul dan makan malam bersama. Keesokan harinya adalah hari pantang daging, di mana mereka seharusnya hanya boleh makan sayuran saja. Ini agak berbeda dengan kebiasaan keluargaku yang memang sejak awal hanya menggunakan Imlek sebagai tradisi tahun baru penanggalan Cina.
Sebelum Imlek diakui sebagai hari libur nasional sebenarnya Gereja Katolik telah terlebih dahulu memberikan dispensasi bagi umat Katolik yang merayakan perayaan ini. Bila perayaan Imlek jatuh tepat pada hari Rabu Abu, di mana seharusnya umat Katolik berpantang dan berpuasa, maka pada hari itu yang merayakannya dibebaskan dari kewajiban pantang dan puasa, serta boleh digantikan keesokan harinya.
Menjaga keberagaman dalam kesatuan memang bukan hal yang mudah. Yang paling utama untuk dikembangkan adalah komunikasi yang baik. Selebihnya kita serahkan kepadaNya, bukankah Ia sudah berkata, "Janganlah khawatir akan hidupmu..." Carilah kerajaanNya, maka pintu yang tertutup akan dibukakan, mata yang tidak melihat akan diberiNya sinar pencerahan, hati yang suram akan diterangiNya...
Tuhan,
Terima kasih atas berkatMu,
Keberagaman kami yang mewarnai kehidupan ini,
sukacitamu yang berkobar dalam hati kami,
yang tersebar dalam uluran tangan sesama kami,
yang menguatkan derap langkah yang letih dan berbeban berat.
Tuhan,
terima kasih atas tuntunanMu,
dalam pencarian diri kami karena hidup lebih penting daripada makanan,
sebab hidup adalah hadiahMu yang indah,
dan tubuh lebih penting daripada pakaian,
sebab tiada pakaian yang bisa menyembunyikan keindahan hati.
Semoga tubuh kami menjadi tempat persemayamanMu,
sehingga hati kami bersinar membawa cahayaMu,
menerangi pojok-pojok gelap kehidupan,
membagi harapan kepada dunia.
Amin.
Thursday, January 20, 2011
Kehadiran lebih penting daripada perbuatan
Dalam salah satu pengantar meditasi Kristiani, saya mendengar pernyataan ini, "Kehadiran lebih penting daripada perbuatan." Kebetulan pernyataan ini merujuk kepada sikap Marta dan Maria yang memang sudah lama menarik perhatian saya.
Merasa lebih dekat kepada Marta daripada Maria, pernyataan ini membuat saya bertanya-tanya. Pertanyaan itu saya bawa ke dalam meditasi, tetapi pada akhir meditasi tetap saya tanyakan kepada suster pendamping kami. Jawaban suster menyentakkan saya, "KehadiranNya...kehadiran Yesus yang penting." Memalukan...itulah saya dengan ego manusiaku, yang melihat dari sudut pandang diriku sendiri! Berulang kali sudah menemukan hal ini melalui renungan dan meditasi, tapi tetap saja bebal! Saya tidak mampu melihat terangNya dalam pernyataan itu karena saya memandang pernyataan tersebut dengan berpusat pada diriku. Kehadiranku...perbuatanku...Padahal maksud buku itu memberikan pernyataan adalah kehadiranNya lebih penting daripada perbuatanNya. Bila Ia hadir di dalam diriku maka otomatis perbuatanku akan mencerminkan hadirNya. Bukan mukjizatNya yang paling penting, melainkan kehadiranNya yang menguatkan dan menuntunku ke dalam perbuatan yang menampilkan kasihNya.
Saya yang bebal awalnya berpikir, "Bukankah tidak cukup saya hanya hadir di gereja tapi tidak melakukan perbuatan apapun bagiNya?", dan, "Saya harus berbuat sesuatu bagi orang-orang di sekitarku...apapun itu...sebagai tanda perbuatanku bagiNya."
PencerahanNya memampukanku untuk melihat betapa tidak pentingnya perbuatan yang kurancang karena Ia yang akan menggunakan diriku untuk perbuatan-perbuatan baikNya selama saya mampu menghadirkan diriNya dalam hatiku.
Dari buku "Discernment, a Way of Life" yang disusun oleh Pater Rex A. Pai, SJ, saya belajar pentingnya untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada tangan Allah dan membiarkanNya bekerja melalui diriku. Dalam buku ini saya diingatkan akan karya yang berorientasi pada diri sendiri dan karya yang berorientasi pada orang lain. Seharusnya muridNya berpusat pada orang lain dan Allah (Yoh 15:5) karena di luarNya kita tidak mampu berbuat apa-apa.
Menjaga kehadiranNya dalam hatiku berarti juga terus berperang melawan godaan untuk mementingkan kepentingan diri sendiri. Dengan menghadirkanNya di dalam batin berarti kita belajar untuk mengerti kehendak Tuhan. HadirNya akan membawa kita melewati tingkat emosional, dan tingkat rasional, dan masuk ke dalam tataran hati.
Tuhan,
anakMu ini masih harus banyak belajar melihat dari mataMu,
belajar untuk merasakan dengan hatiMu,
sehingga mampu bertindak sesuai dengan kehendakMu.
Perbuatan yang paling utama adalah menghadirkanMu di dalam hatiku,
Karena itulah yang akan menyalakan terang di dalam hatiku,
Dan menerangi setiap langkahku bersamaMu.
Terima kasih Tuhan,
Roh KudusMu telah menerangi pikiranku,
Pikiran yang senantiasa sibuk dengan rancangan perbuatan,
tapi melupakan konsekuensinya yang melalaikanMu...
Tuhan,
bimbing kami anakMu
agar mampu memberi tempat yang layak bagi hadirMu.
Amin.
Merasa lebih dekat kepada Marta daripada Maria, pernyataan ini membuat saya bertanya-tanya. Pertanyaan itu saya bawa ke dalam meditasi, tetapi pada akhir meditasi tetap saya tanyakan kepada suster pendamping kami. Jawaban suster menyentakkan saya, "KehadiranNya...kehadiran Yesus yang penting." Memalukan...itulah saya dengan ego manusiaku, yang melihat dari sudut pandang diriku sendiri! Berulang kali sudah menemukan hal ini melalui renungan dan meditasi, tapi tetap saja bebal! Saya tidak mampu melihat terangNya dalam pernyataan itu karena saya memandang pernyataan tersebut dengan berpusat pada diriku. Kehadiranku...perbuatanku...Padahal maksud buku itu memberikan pernyataan adalah kehadiranNya lebih penting daripada perbuatanNya. Bila Ia hadir di dalam diriku maka otomatis perbuatanku akan mencerminkan hadirNya. Bukan mukjizatNya yang paling penting, melainkan kehadiranNya yang menguatkan dan menuntunku ke dalam perbuatan yang menampilkan kasihNya.
Saya yang bebal awalnya berpikir, "Bukankah tidak cukup saya hanya hadir di gereja tapi tidak melakukan perbuatan apapun bagiNya?", dan, "Saya harus berbuat sesuatu bagi orang-orang di sekitarku...apapun itu...sebagai tanda perbuatanku bagiNya."
PencerahanNya memampukanku untuk melihat betapa tidak pentingnya perbuatan yang kurancang karena Ia yang akan menggunakan diriku untuk perbuatan-perbuatan baikNya selama saya mampu menghadirkan diriNya dalam hatiku.
Dari buku "Discernment, a Way of Life" yang disusun oleh Pater Rex A. Pai, SJ, saya belajar pentingnya untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada tangan Allah dan membiarkanNya bekerja melalui diriku. Dalam buku ini saya diingatkan akan karya yang berorientasi pada diri sendiri dan karya yang berorientasi pada orang lain. Seharusnya muridNya berpusat pada orang lain dan Allah (Yoh 15:5) karena di luarNya kita tidak mampu berbuat apa-apa.
Menjaga kehadiranNya dalam hatiku berarti juga terus berperang melawan godaan untuk mementingkan kepentingan diri sendiri. Dengan menghadirkanNya di dalam batin berarti kita belajar untuk mengerti kehendak Tuhan. HadirNya akan membawa kita melewati tingkat emosional, dan tingkat rasional, dan masuk ke dalam tataran hati.
Tuhan,
anakMu ini masih harus banyak belajar melihat dari mataMu,
belajar untuk merasakan dengan hatiMu,
sehingga mampu bertindak sesuai dengan kehendakMu.
Perbuatan yang paling utama adalah menghadirkanMu di dalam hatiku,
Karena itulah yang akan menyalakan terang di dalam hatiku,
Dan menerangi setiap langkahku bersamaMu.
Terima kasih Tuhan,
Roh KudusMu telah menerangi pikiranku,
Pikiran yang senantiasa sibuk dengan rancangan perbuatan,
tapi melupakan konsekuensinya yang melalaikanMu...
Tuhan,
bimbing kami anakMu
agar mampu memberi tempat yang layak bagi hadirMu.
Amin.
Saturday, December 04, 2010
Tersenyumlah Untuk Yesus
Bagi orang-orang yang mengenal tradisi Sinterklaas maka nanti malam seharusnya adalah malam kedatangan Sinterklaas dan Piet Hitam. Suasana perayaan Natal mulai terasa. Lagu-lagu Natal mulai dikumandangkan, acara Pendalaman Iman dalam rangka Adven mulai diadakan, dan sebentar lagi gereja juga dipenuhi antrian orang-orang yang akan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Yesus akan datang, bersihkanlah rumahmu, bersihkanlah hatimu untuk menyambutNya.
Satu hal yang menarik bagi saya selama mengikuti doa meditasi bersama suster adalah pengalaman berbagi dengan rekan-rekan komunitas. Betapa begitu banyak ragam masalah di dunia ini. Betapa begitu banyak ragam rahmat yang dicurahkanNya bagi kami masing-masing.
Dari buku Ibu Teresa "Come be My Light" saya menemukan satu hal yang sangat sulit untuk aku tiru. Ibu Teresa berusaha untuk terus tersenyum bagi Yesus, walaupun dia berada dalam kegelapan dan kehausan akan cintaNya yang sangat mendalam. Dia tidak pernah ingin mengeluh. Itulah satu hal yang sangat berbeda dengan diriku dan sangat sulit untuk kutirukan. Belajar untuk tidak mengeluh, belajar untuk menerima jalanNya dan tersenyum.
Seorang dari peserta meditasi kami membagikan pengalamannya Jumat pagi kemarin. Ketika meditasi ia merasa wajahnya diarahkan untuk tersenyum. Tentu saja saya langsung teringat pada contoh dari Bunda Teresa. Tersenyumlah untuk Yesus!
Natal sejak saya masih kecil merupakan hari yang khusus. Sebagai anak kecil saya dan adik-adik terutama sangat gembira dengan hadiah Natal yang diletakkan di bawah pohon Natal. Kami tidak terlalu mengenal Sinterklaas yang turun dari cerobong tapi kami mengenal hadiah-hadiah Natal. Ada cerita Sinterklaas dan Piet Hitam, tapi di rumah kami tidak ada cerobong. Yang ada tentunya pergi menemui Sinterklaas di luar rumah. Pernah suatu ketika saya langsung sakit panas ketika seorang teman ayahku yang kebetulan berkulit hitam legam datang ke rumah dan saya dipaksa untuk bersalaman dengannya.
Hadiah Natal kami dahulu mulai muncul di awal-awal Adven, setiap kali ada yang berbuat baik maka hadiahnya di bawah pohon itu bertambah. Sebaliknya, bila yang dilakukan adalah kenakalan, maka hadiahnya akan menghilang kembali. Sebenarnya hadiahnya tidak mahal, bisa sugus satu bungkus atau pensil dan penghapus. Masa kecilku kami tidak punya banyak tuntutan. Tanpa iklan televisi, tanpa kehidupan konsumtif, tanpa permainan elektronik yang mahal tidak banyak godaan bagi kami. Hadiah terindah buat saya tentunya adalah buku cerita atau album perangko.
Dalam masa remajaku ada kebiasaan baru yang muncul, yakni membersihkan kamarku menjelang Natal dan Paskah. Menata kamar pada hari Natal sangat menyenangkan karena banyaknya sahabat pena yang mengirimiku kartu Natal. Semua kartu-kartu itu akan kupajang di atas almari, menambah warna-warni ceria dalam kamarku. Ketika kamarku sudah bersih dan teratur maka tentunya giliran hatiku yang perlu dibersihkan...jadilah saya ikut dalam antrian umat yang akan menerima Sakramen pengakuan dosa. Sayang sekali kehadiran internet yang secara ekonomi lebih murah daripada berkirim surat, dan lebih efisien dari segi waktu membuat saya berhenti berkirim surat lewat pos. Jadi kartu-kartu Natal yang indah itu tidak lagi menghias rumahku, dan tidak lagi menjadi rutinitas menjelang Natal yang kuturunkan ke anak-anakku.
Ketika Maria menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel, seharusnya kabar itu bukanlah kabar gembira yang bisa membuat seorang perawan tersenyum. Bayangkan bagaimana rasanya seorang gadis yang belum menikah bila menerima kabar akan mengandung dan melahirkan seorang bayi? Seistimewa apapun bayi yang akan dikandungnya, rasanya pasti di hatinya ada guncangan yang hebat. Itu adalah pilihan yang diberikan kepada Perawan Maria, dan itu bukan suatu pilihan yang mudah. Hukuman untuk wanita yang hamil tanpa suami adalah hukum rajam. Bagaimana orang lain bisa mengetahui bahwa dirinya mengandung anak Allah? Tetapi Maria tetap tersenyum dan menjawab, "Terjadilah padaku menurut perkataanMu...."
Ketika saya menghadapi masalah dalam kehidupan, masalah dalam berkeluarga, maka reaksi pertama adalah keluarnya sebuah keluhan. Reaksi selanjutnya adalah mencari jalan keluar yang logis untuk memecahkan masalah tersebut. Dari sharing dalam Pendalaman Iman di lingkungan kami serta dari pengalaman seorang teman doa yang sedianya harus menjalani operasi jantung minggu ini, saya belajar betapa jalan keluarNya tidak selalu memiliki penjelasan yang masuk akal. Seringkali jalanNya tampak sangat tidak masuk akal. Kebetulan kedua contoh yang saya dengar berhubungan dengan penyakit jantung. Yang pertama di lingkungan adalah kisah anak kecil yang sudah siap di operasi di Singapura ketika tiba-tiba alat yang seharusnya akan digunakan ditarik oleh produsennya karena adanya kekurang sempurnaan pada produk. Yang kedua, dari teman doaku, adalah kisah penundaan operasi jantung karena secara mendadak terjadi perbaikan kondisi jantung setelah yang bersangkutan berserah diri dalam meditasi-meditasinya.
Mengeluh dalam menghadapi masalah seringkali berkaitan dengan tuntutan kepada Tuhan untuk memperhatikan kita, untuk memperbaiki nasib kita. Betapa Ibu Teresa merasa tersiksa karena merasa kering dan hampa, tetapi dia dengan tersenyum terus bekerja bagi Tuhan. Ia menjadikan dirinya mempelai Yesus. Dan menjadi mempelai Yesus tidak berarti senantiasa menerima dukungan dan siraman kasih yang besar dan nyata di dalam hatinya.
Sebuah kisah dari renungan Pater Anthony de Mello SJ saya temukan di portal Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Amsterdam. Walaupun sudah pernah membacanya sebelumnya, tapi kali ini kisah ini lebih menyentuh saya karena saya sekarang bisa merasakannya. Kisah ini bercerita tentang pemuda yang mencari suara seribu lonceng yang tenggelam ke dasar laut. Ia tidak mampu mendengar suara lonceng itu, suara gemuruh lautan memenuhi seluruh indera pendengarannya. Ketika ia menyerah dan menyangka bahwa ia tidak ditakdirkan untuk mengenal suara lonceng dalam legenda itu, tiba-tiba lonceng-lonceng itu berdenting dengan sangat jelas.
Dalam upaya mencari Yesus seringkali saya terlalu fokus kepada figur Yesus yang ada dalam benakku, atau menutup mata terhadap apa yang tersaji di hadapanku guna menemukan Ia yang bagiku tersembunyi. Ibu Teresa mencari kehangatan cintaNya tapi ia tidak membiarkan dirinya jatuh ke dalam kekosongan itu, ia membiarkan dirinya masuk dan lebur ke dalam karyaNya. Dan ia membiarkan dirinya selalu tersenyum sehingga orang luar hanya melihat kebesaranNya.
Yesus,
saya ingin tersenyum bagiMu
menerimaMu dalam penginapan di hatiku
lebur dalam kehangatan cintaMu
dan berbuah banyak karena sentuhan kasihMu.
Yesus,
betapa besar kasihMu
betapa besar kekuatanMu yang Engkau berikan untuk menopang kami,
Berikan kami kemampuan untuk mengenalMu
untuk mengenal jalanMu
untuk melangkah bersamaMu
untuk berpasrah tapi tidak pasif
untuk berusaha tapi tidak mengatur
karena Engkau begitu besar
seperti alam semesta yang tak terkira luasnya
begitu dalam
seperti dalamnya samudra yang tak terselami
dan logika tidak mampu menyentuhMu
tidak mampu mengenal kehendakMu
ketika jalanMu dan takdir bagai bersatu
ketika kehendak bebas menjadi batu sandunganku
ajari daku cinta kasihMu...
ajari daku untuk tersenyum bagiMu....
Satu hal yang menarik bagi saya selama mengikuti doa meditasi bersama suster adalah pengalaman berbagi dengan rekan-rekan komunitas. Betapa begitu banyak ragam masalah di dunia ini. Betapa begitu banyak ragam rahmat yang dicurahkanNya bagi kami masing-masing.
Dari buku Ibu Teresa "Come be My Light" saya menemukan satu hal yang sangat sulit untuk aku tiru. Ibu Teresa berusaha untuk terus tersenyum bagi Yesus, walaupun dia berada dalam kegelapan dan kehausan akan cintaNya yang sangat mendalam. Dia tidak pernah ingin mengeluh. Itulah satu hal yang sangat berbeda dengan diriku dan sangat sulit untuk kutirukan. Belajar untuk tidak mengeluh, belajar untuk menerima jalanNya dan tersenyum.
Seorang dari peserta meditasi kami membagikan pengalamannya Jumat pagi kemarin. Ketika meditasi ia merasa wajahnya diarahkan untuk tersenyum. Tentu saja saya langsung teringat pada contoh dari Bunda Teresa. Tersenyumlah untuk Yesus!
Natal sejak saya masih kecil merupakan hari yang khusus. Sebagai anak kecil saya dan adik-adik terutama sangat gembira dengan hadiah Natal yang diletakkan di bawah pohon Natal. Kami tidak terlalu mengenal Sinterklaas yang turun dari cerobong tapi kami mengenal hadiah-hadiah Natal. Ada cerita Sinterklaas dan Piet Hitam, tapi di rumah kami tidak ada cerobong. Yang ada tentunya pergi menemui Sinterklaas di luar rumah. Pernah suatu ketika saya langsung sakit panas ketika seorang teman ayahku yang kebetulan berkulit hitam legam datang ke rumah dan saya dipaksa untuk bersalaman dengannya.
Hadiah Natal kami dahulu mulai muncul di awal-awal Adven, setiap kali ada yang berbuat baik maka hadiahnya di bawah pohon itu bertambah. Sebaliknya, bila yang dilakukan adalah kenakalan, maka hadiahnya akan menghilang kembali. Sebenarnya hadiahnya tidak mahal, bisa sugus satu bungkus atau pensil dan penghapus. Masa kecilku kami tidak punya banyak tuntutan. Tanpa iklan televisi, tanpa kehidupan konsumtif, tanpa permainan elektronik yang mahal tidak banyak godaan bagi kami. Hadiah terindah buat saya tentunya adalah buku cerita atau album perangko.
Dalam masa remajaku ada kebiasaan baru yang muncul, yakni membersihkan kamarku menjelang Natal dan Paskah. Menata kamar pada hari Natal sangat menyenangkan karena banyaknya sahabat pena yang mengirimiku kartu Natal. Semua kartu-kartu itu akan kupajang di atas almari, menambah warna-warni ceria dalam kamarku. Ketika kamarku sudah bersih dan teratur maka tentunya giliran hatiku yang perlu dibersihkan...jadilah saya ikut dalam antrian umat yang akan menerima Sakramen pengakuan dosa. Sayang sekali kehadiran internet yang secara ekonomi lebih murah daripada berkirim surat, dan lebih efisien dari segi waktu membuat saya berhenti berkirim surat lewat pos. Jadi kartu-kartu Natal yang indah itu tidak lagi menghias rumahku, dan tidak lagi menjadi rutinitas menjelang Natal yang kuturunkan ke anak-anakku.
Ketika Maria menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel, seharusnya kabar itu bukanlah kabar gembira yang bisa membuat seorang perawan tersenyum. Bayangkan bagaimana rasanya seorang gadis yang belum menikah bila menerima kabar akan mengandung dan melahirkan seorang bayi? Seistimewa apapun bayi yang akan dikandungnya, rasanya pasti di hatinya ada guncangan yang hebat. Itu adalah pilihan yang diberikan kepada Perawan Maria, dan itu bukan suatu pilihan yang mudah. Hukuman untuk wanita yang hamil tanpa suami adalah hukum rajam. Bagaimana orang lain bisa mengetahui bahwa dirinya mengandung anak Allah? Tetapi Maria tetap tersenyum dan menjawab, "Terjadilah padaku menurut perkataanMu...."
Ketika saya menghadapi masalah dalam kehidupan, masalah dalam berkeluarga, maka reaksi pertama adalah keluarnya sebuah keluhan. Reaksi selanjutnya adalah mencari jalan keluar yang logis untuk memecahkan masalah tersebut. Dari sharing dalam Pendalaman Iman di lingkungan kami serta dari pengalaman seorang teman doa yang sedianya harus menjalani operasi jantung minggu ini, saya belajar betapa jalan keluarNya tidak selalu memiliki penjelasan yang masuk akal. Seringkali jalanNya tampak sangat tidak masuk akal. Kebetulan kedua contoh yang saya dengar berhubungan dengan penyakit jantung. Yang pertama di lingkungan adalah kisah anak kecil yang sudah siap di operasi di Singapura ketika tiba-tiba alat yang seharusnya akan digunakan ditarik oleh produsennya karena adanya kekurang sempurnaan pada produk. Yang kedua, dari teman doaku, adalah kisah penundaan operasi jantung karena secara mendadak terjadi perbaikan kondisi jantung setelah yang bersangkutan berserah diri dalam meditasi-meditasinya.
Mengeluh dalam menghadapi masalah seringkali berkaitan dengan tuntutan kepada Tuhan untuk memperhatikan kita, untuk memperbaiki nasib kita. Betapa Ibu Teresa merasa tersiksa karena merasa kering dan hampa, tetapi dia dengan tersenyum terus bekerja bagi Tuhan. Ia menjadikan dirinya mempelai Yesus. Dan menjadi mempelai Yesus tidak berarti senantiasa menerima dukungan dan siraman kasih yang besar dan nyata di dalam hatinya.
Sebuah kisah dari renungan Pater Anthony de Mello SJ saya temukan di portal Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Amsterdam. Walaupun sudah pernah membacanya sebelumnya, tapi kali ini kisah ini lebih menyentuh saya karena saya sekarang bisa merasakannya. Kisah ini bercerita tentang pemuda yang mencari suara seribu lonceng yang tenggelam ke dasar laut. Ia tidak mampu mendengar suara lonceng itu, suara gemuruh lautan memenuhi seluruh indera pendengarannya. Ketika ia menyerah dan menyangka bahwa ia tidak ditakdirkan untuk mengenal suara lonceng dalam legenda itu, tiba-tiba lonceng-lonceng itu berdenting dengan sangat jelas.
Pada hari itu ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia pun menemukan suara yang lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu tenggelam dalam suara itu, sehingga ia hampir tidak menyadari dirinya lagi. Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalam hatinya.
Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya ! Dentang bunyi satu lonceng disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi dan oleh yang lain lagi ...dan akhirnya seribu lonceng dari kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang agung berpadu. Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.
Jika engkau ingin mendengar lonceng-lonceng kuil, dengarkanlah suara laut.
Jika engkau ingin melihat Tuhan, pandanglah ciptaan dengan penuh perhatian. Jangan menolaknya, jangan memikirkannya. Pandanglah saja.
Dalam upaya mencari Yesus seringkali saya terlalu fokus kepada figur Yesus yang ada dalam benakku, atau menutup mata terhadap apa yang tersaji di hadapanku guna menemukan Ia yang bagiku tersembunyi. Ibu Teresa mencari kehangatan cintaNya tapi ia tidak membiarkan dirinya jatuh ke dalam kekosongan itu, ia membiarkan dirinya masuk dan lebur ke dalam karyaNya. Dan ia membiarkan dirinya selalu tersenyum sehingga orang luar hanya melihat kebesaranNya.
Yesus,
saya ingin tersenyum bagiMu
menerimaMu dalam penginapan di hatiku
lebur dalam kehangatan cintaMu
dan berbuah banyak karena sentuhan kasihMu.
Yesus,
betapa besar kasihMu
betapa besar kekuatanMu yang Engkau berikan untuk menopang kami,
Berikan kami kemampuan untuk mengenalMu
untuk mengenal jalanMu
untuk melangkah bersamaMu
untuk berpasrah tapi tidak pasif
untuk berusaha tapi tidak mengatur
karena Engkau begitu besar
seperti alam semesta yang tak terkira luasnya
begitu dalam
seperti dalamnya samudra yang tak terselami
dan logika tidak mampu menyentuhMu
tidak mampu mengenal kehendakMu
ketika jalanMu dan takdir bagai bersatu
ketika kehendak bebas menjadi batu sandunganku
ajari daku cinta kasihMu...
ajari daku untuk tersenyum bagiMu....
Saturday, November 20, 2010
Hanya debulah aku
Tuhan,
ku bersimpuh di hadiratMu,
Sungguh hanya debulah aku,
tak pantas mencoba menyelami dalam samudraMu,
Otakku terlalu kecil untuk mengertiMu,
mengerti adaMu,
mengerti rencanaMu.
Hanya debulah aku,
yang Kau kumpulkan dan Kau bentuk,
yang Kau beri hembusan nafasMu,
yang Kau anugerahi hati dan kehendak bebas,
yang Kau biarkan berjalan di padang rumputMu.
Sungguh, hanya debulah aku...
yang terkadang tak berdaya menerima godaan iblis,
yang mencariMu tapi tak mampu melekat kuat padaMu,
yang terbang tak tentu arah mengharapkan dekapan hangatMu,
yang terhentak membentur bukit batuMu.
Hanya debulah aku,
Yang Kau ciptakan menjadi hidup,
Karena jiwaMu yang Kau titipkan ke dalam ragaku,
Dari dalam kandungan ibuku Engkau menenunku,
SuaraMu senantiasa menenangkan aku di dalam kegelapan rahimnya,
suaraMu juga yang menegur diriku ketika kutertatih belajar melangkah,
tetapi seringkali kulalaikan suaraMu,
yang bergema melintasi dada dan rongga telingaku,
membiarkanNya terbenam bersama keriuhan dunia.
Bapa,
jangan biarkan aku tersapu hilang,
jagalah biar setitik debu ini memiliki harga bagiMu,
agar mampu menempel pada salib yang dibawa Putra ke Kalvari.
Setitik debu yang tidak bermakna,
Setitik debu yang terkadang dikibas manusia,
yang berkesempatan menemani langkahNya ke Puncak Golgota.
Setitik debu yang dihidupi oleh Tubuh dan DarahNya.
Tuhan,
sungguh ajaib semua karyaMu,
sungguh besar kuasa kasihMu,
sungguh agung kebesaranMu,
sungguh menakjubkan rencana-rencanaMu,
tak kuasa kumengerti...
tak berdaya kujalani...
hanya cintaMu yang mampu membuatku berarti
walau tidak mengerti tapi berguna bagiMu,
pakailah aku sebagai alatMu,
bentuklah aku dengan cintaMu,
karena Dikau semata yang menghidupiku.
(Inspirasi dari Mazmur 139)
ku bersimpuh di hadiratMu,
Sungguh hanya debulah aku,
tak pantas mencoba menyelami dalam samudraMu,
Otakku terlalu kecil untuk mengertiMu,
mengerti adaMu,
mengerti rencanaMu.
Hanya debulah aku,
yang Kau kumpulkan dan Kau bentuk,
yang Kau beri hembusan nafasMu,
yang Kau anugerahi hati dan kehendak bebas,
yang Kau biarkan berjalan di padang rumputMu.
Sungguh, hanya debulah aku...
yang terkadang tak berdaya menerima godaan iblis,
yang mencariMu tapi tak mampu melekat kuat padaMu,
yang terbang tak tentu arah mengharapkan dekapan hangatMu,
yang terhentak membentur bukit batuMu.
Hanya debulah aku,
Yang Kau ciptakan menjadi hidup,
Karena jiwaMu yang Kau titipkan ke dalam ragaku,
Dari dalam kandungan ibuku Engkau menenunku,
SuaraMu senantiasa menenangkan aku di dalam kegelapan rahimnya,
suaraMu juga yang menegur diriku ketika kutertatih belajar melangkah,
tetapi seringkali kulalaikan suaraMu,
yang bergema melintasi dada dan rongga telingaku,
membiarkanNya terbenam bersama keriuhan dunia.
Bapa,
jangan biarkan aku tersapu hilang,
jagalah biar setitik debu ini memiliki harga bagiMu,
agar mampu menempel pada salib yang dibawa Putra ke Kalvari.
Setitik debu yang tidak bermakna,
Setitik debu yang terkadang dikibas manusia,
yang berkesempatan menemani langkahNya ke Puncak Golgota.
Setitik debu yang dihidupi oleh Tubuh dan DarahNya.
Tuhan,
sungguh ajaib semua karyaMu,
sungguh besar kuasa kasihMu,
sungguh agung kebesaranMu,
sungguh menakjubkan rencana-rencanaMu,
tak kuasa kumengerti...
tak berdaya kujalani...
hanya cintaMu yang mampu membuatku berarti
walau tidak mengerti tapi berguna bagiMu,
pakailah aku sebagai alatMu,
bentuklah aku dengan cintaMu,
karena Dikau semata yang menghidupiku.
(Inspirasi dari Mazmur 139)
Tuesday, November 16, 2010
Doa dan kehadiranNya
Model meditasi baru kami membuat saya secara fisik lebih segar. Mungkin karena meninggalkan semua masalah sejenak memang membuat saya lebih nyaman. Tetapi di satu pihak saya merasa kehilangan "suaraNya". HadirNya dalam meditasi seringkali tidak sama dengan "suaraNya" yang kuperoleh lewat kontemplasi Kitab Suci dahulu. Yang paling merasakan akibatnya mungkin adalah blog ini. Selain karena masalah komputer dan perangkat pendukungnya yang tidak menunjang kehidupan daringku, maka rasa nyaman yang tidak disertai loncatan inspirasi membuat blog ini cukup terbengkalai.
Minggu lalu kami mencoba kontemplasi sendiri. Bacaan hari itu yang kami baca adalah 2 Yoh 4-9. Bacaan ini sangat menyentuh karena ditujukan kepada seorang ibu. Sungguh terasa bahwa surat itu ditujukan kepada kami sendiri, kaum ibu. Yang paling berkesan adalah perkataan dari ayat 6: "...Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih,..."
Saling mengasihi terkadang sangat mudah untuk diucap, tetapi terasa sukar ketika harus dilaksanakan. Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Perintah ini akan bertambah sukar bila kita sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengasihi diri kita sendiri. Tetapi sesungguhnya kasih akan Allah menutupi semua ketidak-tahuan itu. Bila kita membiarkan iman kita membawa kita untuk meletakkan semua kekurangan kita ke dalam kelimpahan kasihNya, maka niscaya kasihNya akan mengisi kekurangan yang kita miliki. Setelah beberapa saat yang lalu saya diingatkan kembali akan pentingnya memiliki sikap sabar, lemah lembut, dan rendah hati, maka minggu ini saya diingatkan untuk mencariNya agar Ia membentuk kekurangan kita.
Satu cara untuk menemuiNya adalah dalam doa. Kami mencoba meditasi doa agar dapat menghadirkanNya dalam keheningan jiwa kami, dan memampukan kami mendengar suaraNya. Maranatha...
Bapa yang maha baik,
PutraMu datang menderita bagi segala dosa kami,
dan tak henti kami terjatuh ke dalam cobaan,
Tetapi Roh KudusMu ikut menyertai kami,
agar kami dikuatkan dan dijaga,
agar tak hilang kami dalam kelam dosa.
Bapa,
Ampuni kami orang berdosa,
Hadirlah membentuk diri kami,
agar kami layak menghadap hadiratMu,
Amin.
Minggu lalu kami mencoba kontemplasi sendiri. Bacaan hari itu yang kami baca adalah 2 Yoh 4-9. Bacaan ini sangat menyentuh karena ditujukan kepada seorang ibu. Sungguh terasa bahwa surat itu ditujukan kepada kami sendiri, kaum ibu. Yang paling berkesan adalah perkataan dari ayat 6: "...Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih,..."
Saling mengasihi terkadang sangat mudah untuk diucap, tetapi terasa sukar ketika harus dilaksanakan. Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Perintah ini akan bertambah sukar bila kita sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengasihi diri kita sendiri. Tetapi sesungguhnya kasih akan Allah menutupi semua ketidak-tahuan itu. Bila kita membiarkan iman kita membawa kita untuk meletakkan semua kekurangan kita ke dalam kelimpahan kasihNya, maka niscaya kasihNya akan mengisi kekurangan yang kita miliki. Setelah beberapa saat yang lalu saya diingatkan kembali akan pentingnya memiliki sikap sabar, lemah lembut, dan rendah hati, maka minggu ini saya diingatkan untuk mencariNya agar Ia membentuk kekurangan kita.
Satu cara untuk menemuiNya adalah dalam doa. Kami mencoba meditasi doa agar dapat menghadirkanNya dalam keheningan jiwa kami, dan memampukan kami mendengar suaraNya. Maranatha...
Bapa yang maha baik,
PutraMu datang menderita bagi segala dosa kami,
dan tak henti kami terjatuh ke dalam cobaan,
Tetapi Roh KudusMu ikut menyertai kami,
agar kami dikuatkan dan dijaga,
agar tak hilang kami dalam kelam dosa.
Bapa,
Ampuni kami orang berdosa,
Hadirlah membentuk diri kami,
agar kami layak menghadap hadiratMu,
Amin.
Sunday, November 07, 2010
Melepaskan kekhawatiran
Ada satu hal penting yang terasa sejak rajin mengikuti doa meditasi; hadirNya tidak lagi diam. Dalam setiap bacaan, dalam setiap pengalaman hidup Dia hadir memberikan masukanNya.
Dalam meditasi terakhir, saya sudah mampu berkonsentrasi penuh selama 15 sampai 20 menit, kemudian mulailah suara-suara dari luar yang seharusnya menjadi pendukung meditasi menjadi pengganggu konsentrasi. Suara anak-anak sekolah yang bermain di seberang rumah suster mengingatkan saya pada celetukan seorang teman semalam sebelumnya yang mengatakan bahwa saya terlalu banyak khawatir(dalam hal anak).
Sebenarnya kekhawatiran saya yang terbesar adalah mengambil langkah yang tidak sesuai dengan keinginanNya. Saya selalu takut salah pilih langkah. Dalam hal anak, saya takut terlalu memaksakan kehendak saya kepada anak, tapi juga takut terlalu memudahkan anak sehingga nantinya ia tidak mampu hidup mandiri.
Kebetulan seminggu yang lalu seorang teman memberikan buku hasil suntingannya. Dalam buku rohani yang berjudul "The Right Choice" karangan Kendra Smiley itu ada satu bab yang khusus membahas contoh orang yang menempatkan kekhawatirannya ke tangan Yesus.
Buku terjemahan yang diterbitkan oleh Gloria Gaffa ini cukup bagus kualitas teremahannya sehingga alur membaca kisah-kisahnya juga enak.
Dalam buku ini dikutipkan beberapa ayat untuk menghilangkan kekhawatiran, yang paling menarik saya adalah 1 Petrus 5:7 "Serahkan segala kekhawatiranmu kepadaNya, sebab Ia memelihara kamu." Kekhawatiran adalah batu sandungan bagi manusia, terutama bagi orang seperti saya yang mengharapkan semua hal dipersiapkan dan ditentukan terlebih dahulu. Ketika Ia terasa tidak menjawab, saya kelimpungan. Padahal sebenarnya kedekatanku kepadaNya yang mungkin masih kurang. Kalau saya sungguh dekat denganNya maka tidak perlu lagi menantikan jawaban, karena Ia senantiasa mengatur langkah hidupku.
Pilihlah pilihan yang membawa perasaan damai di hati. Itu pesan utama yang kudapat dari suster-suster pembimbing doa. Untuk dua pilihan yang sama-sama tingkat kesulitannya maka kedekatan kita melalui doa yang menjadi faktor pencerahan yang dibutuhkan.
Dalam Filipi 4: 6-7 dikatakan: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Kemudian di dalam Filipi 4:9 dikatakan pula untuk melakukan semua hal baik yang sudah diterima, didengar dan dipelajari, karena dengan demikian Allah, sumber damai sejahtera, akan menyertai langkah kita.
Sebagai manusia sesungguhnya sulit untuk lepas dari kekhawatiran. Walaupun dikatakan bahwa hari ini cukuplah untuk hari ini saja, tetapi kita memiliki kecenderungan untuk mempersiapkan segala sesuatu di masa mendatang. Padahal, masa mendatang itu belum tentu ada. Semua yang ada adalah pemberian Tuhan. Ia yang memberikan hari demi hari kepada kita. Segala kekhawatiran menjadi percuma bila Ia tidak lagi membagikan nafasNya kepada kita untuk melanjutkan hari. Jadi nikmatilah hari ini, dan tersenyumlah menyongsong masa depan karena hari ini adalah hadiahNya dan masa depan adalah hadiah-hadiah yang menantikan kita setiap hari dalam rengkuhan kasihNya.
Letusan gunung Merapi dan bencana-bencana lain seperti tsunami di Mentawai, ataupun bencana Wasior yang lebih dahulu terasakan membawa kekhawatiran bagi kita yang hidup di negara kepulauan yang terletak di daerah "ring of fire"...cincin gunung berapi. Ketika gunung Anak Krakatau mulai aktif, lalu gunung-gunung berapi lainnya yang berjumlah lebih dari 100 buah gunung, satu per satu mulai menunjukkan gejala aktivitas yang meningkat maka kita mulai cemas. Ketika kecemasan yang melanda berhubungan dengan alam, maka mau tidak mau kita hanya bisa kembali kepada Sang Pencipta.
Tuhan, hanya Dikau yang berkuasa menghentikan segala bencana yang menimpa bangsa kami. Hati Yesus yang Maha Kudus, kasihanilah kami, Amin.
Dalam meditasi terakhir, saya sudah mampu berkonsentrasi penuh selama 15 sampai 20 menit, kemudian mulailah suara-suara dari luar yang seharusnya menjadi pendukung meditasi menjadi pengganggu konsentrasi. Suara anak-anak sekolah yang bermain di seberang rumah suster mengingatkan saya pada celetukan seorang teman semalam sebelumnya yang mengatakan bahwa saya terlalu banyak khawatir(dalam hal anak).
Sebenarnya kekhawatiran saya yang terbesar adalah mengambil langkah yang tidak sesuai dengan keinginanNya. Saya selalu takut salah pilih langkah. Dalam hal anak, saya takut terlalu memaksakan kehendak saya kepada anak, tapi juga takut terlalu memudahkan anak sehingga nantinya ia tidak mampu hidup mandiri.
Kebetulan seminggu yang lalu seorang teman memberikan buku hasil suntingannya. Dalam buku rohani yang berjudul "The Right Choice" karangan Kendra Smiley itu ada satu bab yang khusus membahas contoh orang yang menempatkan kekhawatirannya ke tangan Yesus.
Buku terjemahan yang diterbitkan oleh Gloria Gaffa ini cukup bagus kualitas teremahannya sehingga alur membaca kisah-kisahnya juga enak.
Dalam buku ini dikutipkan beberapa ayat untuk menghilangkan kekhawatiran, yang paling menarik saya adalah 1 Petrus 5:7 "Serahkan segala kekhawatiranmu kepadaNya, sebab Ia memelihara kamu." Kekhawatiran adalah batu sandungan bagi manusia, terutama bagi orang seperti saya yang mengharapkan semua hal dipersiapkan dan ditentukan terlebih dahulu. Ketika Ia terasa tidak menjawab, saya kelimpungan. Padahal sebenarnya kedekatanku kepadaNya yang mungkin masih kurang. Kalau saya sungguh dekat denganNya maka tidak perlu lagi menantikan jawaban, karena Ia senantiasa mengatur langkah hidupku.
Pilihlah pilihan yang membawa perasaan damai di hati. Itu pesan utama yang kudapat dari suster-suster pembimbing doa. Untuk dua pilihan yang sama-sama tingkat kesulitannya maka kedekatan kita melalui doa yang menjadi faktor pencerahan yang dibutuhkan.
Dalam Filipi 4: 6-7 dikatakan: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Kemudian di dalam Filipi 4:9 dikatakan pula untuk melakukan semua hal baik yang sudah diterima, didengar dan dipelajari, karena dengan demikian Allah, sumber damai sejahtera, akan menyertai langkah kita.
Sebagai manusia sesungguhnya sulit untuk lepas dari kekhawatiran. Walaupun dikatakan bahwa hari ini cukuplah untuk hari ini saja, tetapi kita memiliki kecenderungan untuk mempersiapkan segala sesuatu di masa mendatang. Padahal, masa mendatang itu belum tentu ada. Semua yang ada adalah pemberian Tuhan. Ia yang memberikan hari demi hari kepada kita. Segala kekhawatiran menjadi percuma bila Ia tidak lagi membagikan nafasNya kepada kita untuk melanjutkan hari. Jadi nikmatilah hari ini, dan tersenyumlah menyongsong masa depan karena hari ini adalah hadiahNya dan masa depan adalah hadiah-hadiah yang menantikan kita setiap hari dalam rengkuhan kasihNya.
Letusan gunung Merapi dan bencana-bencana lain seperti tsunami di Mentawai, ataupun bencana Wasior yang lebih dahulu terasakan membawa kekhawatiran bagi kita yang hidup di negara kepulauan yang terletak di daerah "ring of fire"...cincin gunung berapi. Ketika gunung Anak Krakatau mulai aktif, lalu gunung-gunung berapi lainnya yang berjumlah lebih dari 100 buah gunung, satu per satu mulai menunjukkan gejala aktivitas yang meningkat maka kita mulai cemas. Ketika kecemasan yang melanda berhubungan dengan alam, maka mau tidak mau kita hanya bisa kembali kepada Sang Pencipta.
Tuhan, hanya Dikau yang berkuasa menghentikan segala bencana yang menimpa bangsa kami. Hati Yesus yang Maha Kudus, kasihanilah kami, Amin.
Friday, October 08, 2010
Melihat Wajah Yesus
Ini bukan kisah wajah Yesus yang ajaib seperti yang kisahnya sering bertebaran di internet, ini adalah ilusi optis yang menghasilkan proyeksi wajah Yesus di dinding. Minggu lalu, sebelum memulai meditasi, kami mendapatkan sebuah gambar untuk selingan. Gambar ini bisa juga diakses di sini. Teman-temanku langsung berhasil menampak wajah Yesus di dinding, tetapi aku tidak. Tentunya aku penasaran sekali.
Saya kemudian mengikuti sesi meditasi dan mencoba fokus ke dalam meditasi itu sendiri. Mungkin kegalauan pikiran, mungkin ketidak-mampuan untuk berkonsentrasi yang membuat saya tidak mampu menangkap wajah Yesus. Saya bisa menangkap wajah Yesus di gambar tersebut, tetapi tidak berhasil memproyeksikan gambar itu ke dinding.
Biarkanlah anak-anak datang kepadaku...
Marilah kalian yang letih, lelah, dan berbeban berat...
Karena kalian bukanlah hamba melainkan sahabat-sahabatKu...
Akhirnya setelah sesi meditasi berakhir saya berhasil juga melihat wajah Yesus di dinding. Sebenarnya saya masih penasaran kenapa sebelumnya tidak bisa langsung menampaknya, tetapi saya bersyukur bahwa akhirnya saya bisa melihatnya. Rasanya frustrasi menjadi satu-satunya orang yang tidak berhasil berkonsentrasi dalam melihat ilusi optis tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada kebiasaan ingin langsung mencapai tujuan, dan tidak menghargai proses. Hari itu Tuhan memberikan pelajaran untuk menikmati sebuah proses pencarian. Teman-temanku langsung melihat gambaran tersebut, saya yang tidak bisa berkonsentrasi jadi semakin gelisah. Mengapa hanya saya yang tidak bisa melihatnya? Apakah saya terlalu berpikir pada gelasnya atau pada isinya? Semakin saya berpikir semakin tidak mampu saya menampak gambar tersebut. Ketika saya melepaskannya dan memasuki keheningan bersamaNya, saya lalu dimampukanNya untuk menampak gambar itu. Bersabar menantikan hasil, itulah pelajaran berharga dari hari itu.
Bapa yang baik,
Terima kasih atas cintaMu,
yang dengan sabar menantikan diriku,
sabar mengajarkan aku untuk menghargai sebuah proses,
bahkan jika hasil dari proses itu tidak mampu kulihat sejak awal,
belajar menghargai harapan akan iman dalam kehidupan,
Tuhan kasihanilah kami...
Amin.
Saya kemudian mengikuti sesi meditasi dan mencoba fokus ke dalam meditasi itu sendiri. Mungkin kegalauan pikiran, mungkin ketidak-mampuan untuk berkonsentrasi yang membuat saya tidak mampu menangkap wajah Yesus. Saya bisa menangkap wajah Yesus di gambar tersebut, tetapi tidak berhasil memproyeksikan gambar itu ke dinding.
Biarkanlah anak-anak datang kepadaku...
Marilah kalian yang letih, lelah, dan berbeban berat...
Karena kalian bukanlah hamba melainkan sahabat-sahabatKu...
Akhirnya setelah sesi meditasi berakhir saya berhasil juga melihat wajah Yesus di dinding. Sebenarnya saya masih penasaran kenapa sebelumnya tidak bisa langsung menampaknya, tetapi saya bersyukur bahwa akhirnya saya bisa melihatnya. Rasanya frustrasi menjadi satu-satunya orang yang tidak berhasil berkonsentrasi dalam melihat ilusi optis tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada kebiasaan ingin langsung mencapai tujuan, dan tidak menghargai proses. Hari itu Tuhan memberikan pelajaran untuk menikmati sebuah proses pencarian. Teman-temanku langsung melihat gambaran tersebut, saya yang tidak bisa berkonsentrasi jadi semakin gelisah. Mengapa hanya saya yang tidak bisa melihatnya? Apakah saya terlalu berpikir pada gelasnya atau pada isinya? Semakin saya berpikir semakin tidak mampu saya menampak gambar tersebut. Ketika saya melepaskannya dan memasuki keheningan bersamaNya, saya lalu dimampukanNya untuk menampak gambar itu. Bersabar menantikan hasil, itulah pelajaran berharga dari hari itu.
Bapa yang baik,
Terima kasih atas cintaMu,
yang dengan sabar menantikan diriku,
sabar mengajarkan aku untuk menghargai sebuah proses,
bahkan jika hasil dari proses itu tidak mampu kulihat sejak awal,
belajar menghargai harapan akan iman dalam kehidupan,
Tuhan kasihanilah kami...
Amin.
Friday, August 06, 2010
Mencari wajahNya dalam meditasi
Setelah suster yang biasa membimbing kami dalam doa meditasi pindah tugas, kami sempat beberapa saat tidak berkumpul. Tetapi sudah tiga hari ini kami berkumpul kembali di bawah bimbingan seorang suster lain yang datang menggantikan suster kami dahulu.
Kali ini kami dibimbing untuk lebih mengenal meditasi itu sendiri. Diam dan hening dan hanya berfokus kepada wajahNya. Sebagian dari kami pernah mengikuti metode ini bersama suster terdahulu, tapi sebagian lagi lebih mengenal metode kontemplasi Kitab Suci.
Hari pertama meditasi, walaupun suster pembimbing bersuara memberi panduan untuk meditasi, fokus utama saya masih terpecah. Antara doa dan raga saya pribadi. Rasanya entah bagaimana saya tiba-tiba menyadari benar kehadiran tubuh dan kaki saya. Tubuh dan kaki ini belum menemukan posis yang tepat untuk ikut larut dalam keheningan itu, sehingga senantiasa mengganggu konsentrasiku. Lucunya pada hari kedua, seorang teman yang baru datang mengikuti sesi meditasi ini mengalami hal yang serupa dengan pengalaman hari pertamaku. Pada hari pertama, ketika di satu sisi saya menyadari kehadiran ragaku, di lain pihak pikiranku berkelebat menyuruhku membaca kitab Ayub. Tentu saja dalam meditasi kali ini aku tidak bisa langsung membuka Kitab tersebut.
Pada hari kedua, saya sudah lebih mampu berkonsentrasi. Apalagi ketika harus fokus pada perjumpaan yang paling membahagiakan dalam hidup ini. Perjumpaan terindah itu adalah perjumpaan denganNya. Ketika Ia hadir dalam diamNya merengkuh aku yang terpuruk dalam kesedihan dan membagikan kedamaian yang hangat mengisi hatiku di antara diginnya derai air mataku. HadirNya yang tidak bisa terlukis dengan kata-kata ataupun terlukis dengan pena. HadirNya yang hanya bisa terasa kerena kehangatan cintaNya yang menyelimuti dan memadamkan seluruh kemarahan dan kebencian dari dalam hatiku. HadirNya yang mampu membuat aku memandang diri sendiri dan kekurangan diriku. Betapa tidak ada manusia yang sempurna. Hanya Sang Pencipta Yang Maha Besar yang patut menjadi hakim teradil di dalam kehidupan ini. Perjumpaan itu sungguh mewarnai seluruh kehidupan saya. Kerinduanku akan perjumpaan seperti itu membuat aku kini sungguh-sungguh mengerti makna dari lagu, "Bagaikan rusa yang mendamba air, jiwaku rindukan Dikau Tuhan." Aku haus akan hadirNya...
Pada minggu ke tiga kami berkumpul, kami diajak untuk mencari wajah Yesus. Bunda Theresa melihat wajah Yesus pada orang-orang yang terpinggirkan di Kalkuta. Dari Markus 9 ayat 2-13, aku teringat pada meditasi minggu sebelumnya. Kerinduanku akan hadirNya, keinginanku untuk terus merasakan kedamaian hati dan cintaNya yang hangat menyelimuti. Aku ingin seperti Petrus yang ingin membuatkan tenda bagi Yesus, Nabi Elia, dan Nabi Musa. Kami ingin menghadirkan kemuliaanNya terus di hadapan kami. Tetapi kami tidak mengerti kehendak Allah. KehadiranNya tidak selalu dalam kemuliaan yang bermandi cahaya dan kehangatan cinta, terkadang Ia hadir dalam ketakutan seperti ketika menghadap Bapa di taman Getsemani, terkadang Ia hadir dalam bilur-bilur kesakitan dan derita yang ditempuhNya dalam perjalanan ke bukit Golgota.
Dari Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus 2: 1-10, saya tersentuh terutama pada ayat 8 dan 9 "Sebab karena kasih dan karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri." Kalimat ini membawa saya kembali ke masa-masa kering dalam pelayanan saya ketika saya menjadi Marta yang meminta Yesus untuk menegur Maria yang hanya duduk diam mendengarkanNya. Ketika saya bergiat untuk pelayanan di kegiatan kerohanian mahasiswa, atau kemudian bergiat di dalam lingkup pelayanan lingkungan, atau bahkan dalam menjadi relawan bagi museum, terkadang terasa jenuh dan lelah. Mengapa orang lain tidak membantu agar pekerjaan ini menjadi lebih mudah? Rohani saya menjadi kering dan doa menjadi sulit untuk saya. Seorang pastur pernah mengatakan bahwa saya terlalu terfokus pada kegiatan organisasi itu sendiri. Kini saya tahu jawaban yang sebenarnya, saya terlalu mengandalkan kemampuan diri saya sendiri. Saya lupa bahwa Ia bekerja dalam diri setiap orang dengan cara yang berbeda-beda.
Profil Marta paling lekat dengan diri saya. Rasanya saya selalu menjadi orang di belakang layar yang sibuk kesana kemari dan terkadang saya bertanya-tanya, "apakah semua itu perlu?" Apakah tidak lebih baik saya menjadi Maria yang cukup duduk manis mendengarkanNya? Keseimbangan antara pelayanan Marta dan kepasrahan Maria menjadi suatu pekerjaan rumah bagi saya.
Ayat tadi juga membawa saya kembali kepada kisah yang paling mengganggu nuraniku, yaitu perumpamaan orang dengan lima telenta (Matius 25: 16-30). Lima telenta yang kumiliki terasa menjadi beban yang memecah konsentrasiku. Aku tidak mampu memikirkan talenta yang mana yang harus kukembangkan terlebih dahulu. Aku tidak mampu memprioritaskan cara mengembangkan seperti apa yang Tuhan inginkan aku lakukan. Dia tidak meninggalkan perintah sebagai petunjuk. Dia memberi lima talenta seperti Tuan itu membagi talenta bagi hamba-hambanya dan pergi tanpa petunjuk. Dalam perumpamaan Yesus justru orang yang memperoleh lima talenta dan dua talenta yang pergi menggandakan talenta mereka. Sebenarnya realita terbanyak adalah orang merasa Tuhan memberinya terlalu sedikit untuk dikembangkan, itulah lambang dari hamba yang hanya menerima satu talenta dan menanamnya. Ironisnya saya lebih merasa sebagai hamba yang memiliki lima talenta dan bingung hendak diapakan talenta itu agar bisa berkembang dan tidak hilang. Hasilnya tidak lebih baik dari hamba yang hanya beroleh satu telenta itu. "Semua itu bukan hasil pekerjaanmu," sabdaNya. Seharusnya aku tidak perlu banyak berpikir, cukup pergi, bekerja dan biarkan Ia yang menggandakan semua hasil dari talenta itu.
Sebenarnya semua yang kuperoleh selama tiga kali meditasi terakhir ini juga merupakan kondensasi dari doa meditasi (kontemplasi) selama bertahun-tahun kujalani bersama komunitas kecilku sebelumnya. Kalau sebelumnya pikiranku tetap bebas mengembara ke sana ke mari, melenggang ke Perjanjian Lama ataupun bagian lain dari Perjanjian Baru, maka sekarang aku juga belajar mengosongkan pikiran selama meditasi. Sungguh-sungguh kosong dari semua kebiasaan melompat-lompat dari sel-sel abu-abu pemberianNya, dan membiarkan Dia mencoba memasuki pikiranku.
Tuhan Yesus,
Terkadang kehadiran Bapa, Putra dan Roh Kudus membuatku tidak ingin mencari rupa,
CahayaMu terasa sudah cukup menjadi wajah Tritunggal yang Maha Kasih.
WajahMu terkadang hadir di hampir semua wajah yang kutemui,
Membuat aku terkadang tidak tahu yang mana yang harus kudahulukan,
Terima kasih karena Engkau mau hadir dalam hidupku,
Tolonglah aku mengerti jalan yang harus kupilih agar sesuai dengan yang digariskan Bapa bagiku.
Temani aku dan kuatkan daku melalui Roh KudusMu,
Agar mampu mengembangkan lima talenta itu sesuai dengan kehendak Allah.
Amin.
Kali ini kami dibimbing untuk lebih mengenal meditasi itu sendiri. Diam dan hening dan hanya berfokus kepada wajahNya. Sebagian dari kami pernah mengikuti metode ini bersama suster terdahulu, tapi sebagian lagi lebih mengenal metode kontemplasi Kitab Suci.
Hari pertama meditasi, walaupun suster pembimbing bersuara memberi panduan untuk meditasi, fokus utama saya masih terpecah. Antara doa dan raga saya pribadi. Rasanya entah bagaimana saya tiba-tiba menyadari benar kehadiran tubuh dan kaki saya. Tubuh dan kaki ini belum menemukan posis yang tepat untuk ikut larut dalam keheningan itu, sehingga senantiasa mengganggu konsentrasiku. Lucunya pada hari kedua, seorang teman yang baru datang mengikuti sesi meditasi ini mengalami hal yang serupa dengan pengalaman hari pertamaku. Pada hari pertama, ketika di satu sisi saya menyadari kehadiran ragaku, di lain pihak pikiranku berkelebat menyuruhku membaca kitab Ayub. Tentu saja dalam meditasi kali ini aku tidak bisa langsung membuka Kitab tersebut.
Pada hari kedua, saya sudah lebih mampu berkonsentrasi. Apalagi ketika harus fokus pada perjumpaan yang paling membahagiakan dalam hidup ini. Perjumpaan terindah itu adalah perjumpaan denganNya. Ketika Ia hadir dalam diamNya merengkuh aku yang terpuruk dalam kesedihan dan membagikan kedamaian yang hangat mengisi hatiku di antara diginnya derai air mataku. HadirNya yang tidak bisa terlukis dengan kata-kata ataupun terlukis dengan pena. HadirNya yang hanya bisa terasa kerena kehangatan cintaNya yang menyelimuti dan memadamkan seluruh kemarahan dan kebencian dari dalam hatiku. HadirNya yang mampu membuat aku memandang diri sendiri dan kekurangan diriku. Betapa tidak ada manusia yang sempurna. Hanya Sang Pencipta Yang Maha Besar yang patut menjadi hakim teradil di dalam kehidupan ini. Perjumpaan itu sungguh mewarnai seluruh kehidupan saya. Kerinduanku akan perjumpaan seperti itu membuat aku kini sungguh-sungguh mengerti makna dari lagu, "Bagaikan rusa yang mendamba air, jiwaku rindukan Dikau Tuhan." Aku haus akan hadirNya...
Pada minggu ke tiga kami berkumpul, kami diajak untuk mencari wajah Yesus. Bunda Theresa melihat wajah Yesus pada orang-orang yang terpinggirkan di Kalkuta. Dari Markus 9 ayat 2-13, aku teringat pada meditasi minggu sebelumnya. Kerinduanku akan hadirNya, keinginanku untuk terus merasakan kedamaian hati dan cintaNya yang hangat menyelimuti. Aku ingin seperti Petrus yang ingin membuatkan tenda bagi Yesus, Nabi Elia, dan Nabi Musa. Kami ingin menghadirkan kemuliaanNya terus di hadapan kami. Tetapi kami tidak mengerti kehendak Allah. KehadiranNya tidak selalu dalam kemuliaan yang bermandi cahaya dan kehangatan cinta, terkadang Ia hadir dalam ketakutan seperti ketika menghadap Bapa di taman Getsemani, terkadang Ia hadir dalam bilur-bilur kesakitan dan derita yang ditempuhNya dalam perjalanan ke bukit Golgota.
Dari Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus 2: 1-10, saya tersentuh terutama pada ayat 8 dan 9 "Sebab karena kasih dan karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri." Kalimat ini membawa saya kembali ke masa-masa kering dalam pelayanan saya ketika saya menjadi Marta yang meminta Yesus untuk menegur Maria yang hanya duduk diam mendengarkanNya. Ketika saya bergiat untuk pelayanan di kegiatan kerohanian mahasiswa, atau kemudian bergiat di dalam lingkup pelayanan lingkungan, atau bahkan dalam menjadi relawan bagi museum, terkadang terasa jenuh dan lelah. Mengapa orang lain tidak membantu agar pekerjaan ini menjadi lebih mudah? Rohani saya menjadi kering dan doa menjadi sulit untuk saya. Seorang pastur pernah mengatakan bahwa saya terlalu terfokus pada kegiatan organisasi itu sendiri. Kini saya tahu jawaban yang sebenarnya, saya terlalu mengandalkan kemampuan diri saya sendiri. Saya lupa bahwa Ia bekerja dalam diri setiap orang dengan cara yang berbeda-beda.
Profil Marta paling lekat dengan diri saya. Rasanya saya selalu menjadi orang di belakang layar yang sibuk kesana kemari dan terkadang saya bertanya-tanya, "apakah semua itu perlu?" Apakah tidak lebih baik saya menjadi Maria yang cukup duduk manis mendengarkanNya? Keseimbangan antara pelayanan Marta dan kepasrahan Maria menjadi suatu pekerjaan rumah bagi saya.
Ayat tadi juga membawa saya kembali kepada kisah yang paling mengganggu nuraniku, yaitu perumpamaan orang dengan lima telenta (Matius 25: 16-30). Lima telenta yang kumiliki terasa menjadi beban yang memecah konsentrasiku. Aku tidak mampu memikirkan talenta yang mana yang harus kukembangkan terlebih dahulu. Aku tidak mampu memprioritaskan cara mengembangkan seperti apa yang Tuhan inginkan aku lakukan. Dia tidak meninggalkan perintah sebagai petunjuk. Dia memberi lima talenta seperti Tuan itu membagi talenta bagi hamba-hambanya dan pergi tanpa petunjuk. Dalam perumpamaan Yesus justru orang yang memperoleh lima talenta dan dua talenta yang pergi menggandakan talenta mereka. Sebenarnya realita terbanyak adalah orang merasa Tuhan memberinya terlalu sedikit untuk dikembangkan, itulah lambang dari hamba yang hanya menerima satu talenta dan menanamnya. Ironisnya saya lebih merasa sebagai hamba yang memiliki lima talenta dan bingung hendak diapakan talenta itu agar bisa berkembang dan tidak hilang. Hasilnya tidak lebih baik dari hamba yang hanya beroleh satu telenta itu. "Semua itu bukan hasil pekerjaanmu," sabdaNya. Seharusnya aku tidak perlu banyak berpikir, cukup pergi, bekerja dan biarkan Ia yang menggandakan semua hasil dari talenta itu.
Sebenarnya semua yang kuperoleh selama tiga kali meditasi terakhir ini juga merupakan kondensasi dari doa meditasi (kontemplasi) selama bertahun-tahun kujalani bersama komunitas kecilku sebelumnya. Kalau sebelumnya pikiranku tetap bebas mengembara ke sana ke mari, melenggang ke Perjanjian Lama ataupun bagian lain dari Perjanjian Baru, maka sekarang aku juga belajar mengosongkan pikiran selama meditasi. Sungguh-sungguh kosong dari semua kebiasaan melompat-lompat dari sel-sel abu-abu pemberianNya, dan membiarkan Dia mencoba memasuki pikiranku.
Tuhan Yesus,
Terkadang kehadiran Bapa, Putra dan Roh Kudus membuatku tidak ingin mencari rupa,
CahayaMu terasa sudah cukup menjadi wajah Tritunggal yang Maha Kasih.
WajahMu terkadang hadir di hampir semua wajah yang kutemui,
Membuat aku terkadang tidak tahu yang mana yang harus kudahulukan,
Terima kasih karena Engkau mau hadir dalam hidupku,
Tolonglah aku mengerti jalan yang harus kupilih agar sesuai dengan yang digariskan Bapa bagiku.
Temani aku dan kuatkan daku melalui Roh KudusMu,
Agar mampu mengembangkan lima talenta itu sesuai dengan kehendak Allah.
Amin.
Monday, June 14, 2010
Waktu adalah karunia
Beberapa waktu belakangan ini, terasa sekali betapa waktu adalah karunia terbesar yang diberikanNya kepada kita. Apakah kita bisa mengisinya dengan sesuatu yang berguna, atau sekedar menghabiskannya sangat tergantung pada kemauan dan usaha kita. Betapa banyak hal yang ingin kutulis tetapi akhirnya terlewat begitu saja. Penting atau tidak menuliskannya, memang akhirnya tergantung dari makna yang bisa diperoleh oleh pembacanya. Bagi saya sendiri, menuliskan untaian kata yang mengalir keluar dari otak sehabis merenung atau membaca Kitab Suci merupakan catatan yang sangat berharga. Ketika berkilas balik terkadang saya sendiri merasa membaca sesuatu yang baru. Mungkin juga pada saat itu posisi pandang saya sudah bergeser lagi, situasi yang kuhadapi sudah berbeda, sehingga tulisan itu tiba-tiba membukakan makna lain yang tiba-tiba terbersit.
Waktu adalah karunia yang terkadang tidak kita nikmati. Kita dikejar waktu ingin menyelesaikan banyak hal sekaligus. Padahal Tuhan sudah memberikan contoh betapa Ia mengerjakan penciptaan secara bertahap, satu demi satu. Kemudian Ia juga membutuhkan menyisihkan satu hari untuk beristirahat.
Memang seringkali waktu terasa terbang begitu saja. Anak-anak yang tadinya bayi mungil tiba-tiba sudah mulai besar. Kemudian masa remaja menghilang, dan tuntutan dunia dewasa mulai menghampiri. Begitulah lingkaran kehidupan. Kita berpacu dengan waktu. Ada hal yang berubah, ada hal yang tidak berubah. Kedegilan manusia mungkin merupakan satu hal yang sulit berubah. Tetapi Ia selalu memaafkan, selalu mencari dombaNya yang hilang. Karena akan ada sukacita di surga karena satu orang yang bertobat, melebihi sukacita karena 99 orang yang tidak perlu bertobat.
Terkadang kita merasa tidak perlu bertobat, karena merasa masih berada dalam kawanan dombanya. Tetapi waktu juga yang menyadarkan betapa seringkali kita melenceng ke luar dari kawanan domba yang digembalakanNya.
Tuhan,
kuingin menghargai waktu yang Kau berikan,
kuingin memanfaatkan waktuku untuk kemuliaanMu,
terkadang godaan besar bagi sukacitaku pribadi terasa besar,
tetapi Dikau mengingatkan betapa sukacita itu menjadi lebih penuh
saat berjalan dalam bimbinganMu.
Tuhan, Gembalaku....
Sumber kekuatan dan ceriaku,
Penuntun jalan kehidupanku,
Jangan tinggalkan diriku tersesat,
Bawalah daku ke padang rumputMu.
Amin.
Waktu adalah karunia yang terkadang tidak kita nikmati. Kita dikejar waktu ingin menyelesaikan banyak hal sekaligus. Padahal Tuhan sudah memberikan contoh betapa Ia mengerjakan penciptaan secara bertahap, satu demi satu. Kemudian Ia juga membutuhkan menyisihkan satu hari untuk beristirahat.
Memang seringkali waktu terasa terbang begitu saja. Anak-anak yang tadinya bayi mungil tiba-tiba sudah mulai besar. Kemudian masa remaja menghilang, dan tuntutan dunia dewasa mulai menghampiri. Begitulah lingkaran kehidupan. Kita berpacu dengan waktu. Ada hal yang berubah, ada hal yang tidak berubah. Kedegilan manusia mungkin merupakan satu hal yang sulit berubah. Tetapi Ia selalu memaafkan, selalu mencari dombaNya yang hilang. Karena akan ada sukacita di surga karena satu orang yang bertobat, melebihi sukacita karena 99 orang yang tidak perlu bertobat.
Terkadang kita merasa tidak perlu bertobat, karena merasa masih berada dalam kawanan dombanya. Tetapi waktu juga yang menyadarkan betapa seringkali kita melenceng ke luar dari kawanan domba yang digembalakanNya.
Tuhan,
kuingin menghargai waktu yang Kau berikan,
kuingin memanfaatkan waktuku untuk kemuliaanMu,
terkadang godaan besar bagi sukacitaku pribadi terasa besar,
tetapi Dikau mengingatkan betapa sukacita itu menjadi lebih penuh
saat berjalan dalam bimbinganMu.
Tuhan, Gembalaku....
Sumber kekuatan dan ceriaku,
Penuntun jalan kehidupanku,
Jangan tinggalkan diriku tersesat,
Bawalah daku ke padang rumputMu.
Amin.
Tuesday, May 04, 2010
Bagaimana mengenali kehadiranNya?
Bacaan meditasi hari Jumaat kemarin diambil dari Injil Lukas 24: 13-35. Dari bacaan itu, yang sangat berkesan pada saya adalah ayat 30-31. "Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucapkan berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka."
Pertama kali saya tersentuh pada kehadiran sebuah kebiasaan baik yang membuat murid-murid itu mengenali kehadiran Yesus. Yang teringat pada saat itu adalah perlunya memberikan kebiasaan baik yang sama kepada anak-anakku agar mereka juga bisa merasakan kehadiran Yesus. Kemudian teringat juga betapa seringkali dalam saat konsekrasi saya harus berjuang antara keinginan untuk menasehati anak-anak (yang sibuk bermain atau bercanda) atau tetap berusaha mendekatkan diri dalam diam kepada kehadiranNya.
Seorang penulis, Reda Gaudiamo pernah juga menyentilku melalui tulisannya "Minggu Pagi" di dalam buku kumpulan cerpennya "Bisik-bisik". Saya kutipkan sebagian di bawah ini.
Ketika mendengar Reda membacakan cerpen ini saya juga teringat pada konsekrasi di gereja. "Tutup matamu," saya memerintahkan kepada anak-anak, tetapi bagaimana saya bisa tahu bahwa mereka tidak menutup mata mereka? Bukankah itu berarti saya membuka mata saya? "Diamlah dan berdoa," begitu perintah saya pada anakku, tetapi bukankah saat itu saya bersuara dan tidak sedang berdoa? Sesekali mereka masih tergelak dan tidak terasa sebuah cubitan mendarat di paha mereka. "Apakah engkau muridKu?" sebuah suara mendadak terdengar dari balik kalbuku.
Kebiasaan dan contoh merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya bagi anak-anak. Bagaimana mengenali kehadiranNya melalui sebuah kebiasaan baik bila kita tidak menanamkannya di dalam rumah? "Berilah contoh, lakukanlah dengan segenap hatimu maka mereka akan mengenalinya," begitu kata hatiku. Hal yang terasa berat tetapi menjadi lebih ringan ketika saya yakin bahwa Ia senantiasa menjadi Guru yang membimbing langkahku. Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, tidak ada kursus yang bisa membuat kita mengenal secara rinci anak-anak itu. Mereka adalah makhluk Tuhan yang unik, setiap anak dititipkan dengan karakter mereka masing-masing. Mengenali mereka tidak akan terlalu rumit bila Yang Maha Tahu ada bersama kita.
Satu hal lain yang terasa kemudian adalah betapa sering saya menjadi seperti murid-murid itu yang menginginkan kehadiran Yesus secara nyata, dengan pertanda yang jelas dalam kehidupanku. Tetapi dalam kenyataannya Ia lenyap, dan kita harus berusaha mencariNya di dalam kebaikan hati sesama, di dalam kebiasaan baik yang senantiasa diajarkanNya kepada kita.
Tuhan,
Terima kasih karena senantiasa mengingatkan kami,
perjalanan ke Emaus terasa singkat bersamaMu,
semoga demikian juga perjalanan kami di bumi ini,
senantiasa diisi dengan suasana hati yang berkobar-kobar dalam kedamaian,
karena Engkau hadir bersama kami.
Kami percaya,
dalam saat yang tepat Engkau menyadarkan kami akan kehadiranMu,
semoga kami selalu berbahagia menjadi orang yang percaya walaupun tidak melihat.
Amin.
Pertama kali saya tersentuh pada kehadiran sebuah kebiasaan baik yang membuat murid-murid itu mengenali kehadiran Yesus. Yang teringat pada saat itu adalah perlunya memberikan kebiasaan baik yang sama kepada anak-anakku agar mereka juga bisa merasakan kehadiran Yesus. Kemudian teringat juga betapa seringkali dalam saat konsekrasi saya harus berjuang antara keinginan untuk menasehati anak-anak (yang sibuk bermain atau bercanda) atau tetap berusaha mendekatkan diri dalam diam kepada kehadiranNya.
Seorang penulis, Reda Gaudiamo pernah juga menyentilku melalui tulisannya "Minggu Pagi" di dalam buku kumpulan cerpennya "Bisik-bisik". Saya kutipkan sebagian di bawah ini.
"Bapa Kami yang ada di Surga, dimuliakanlah namaMu. Datanglah kerajaanMu, Jadilah kehendakMu, di bumi seperti juga di dalam surga..."
"Ssst..."
"Hah, kenapa?"
"Kok begitu?"
"Apanya?"
"Matamu itu. Kalau berdoa, ditutup. Rapat."
"Ah."
"Kalau diberi tahu selalu ah, ah, ah."
"Berilah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya..."
"Tutup matamu."
"Kenapa, Ma?"
"Karena memang begitu aturannya."
"(A)turan di mana?"
"Di mana-mana."
"Di gambar-gambar, orang berdoa dengan mata terbuka. Malah menengadah ke langit."
"Itu gambar. Kalau di gereja lain. Mau menengadah ke mana? Langitnya tertutup genteng. Ayo tutup mata!"
"..."
"Dan ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami..."
"Eh, tutup mata!"
"Tidak bisa."
"Harus bisa. Apa susahnya menutup mata?"
"Tidak mau."
"Harus mau."
"Ah."
"Ah, ah terus. Ini doanya sudah setengah jalan, hampir amin, kamu masih terus melotot. Tutup mata!"
"Ah."
"Memangnya kenapa kalau matamu di tutup? Semua orang tidak punya masalah dengan menutup mata waktu berdoa?"
"..."
"Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat..."
"Kenapa?"
"Jadi mengantuk, Ma. Nanti aku malah ketiduran."
"Mengantuk? Ketiduran? Wah, bahaya itu."
"Memangnya kenapa?"
"Karena Engkaulah yang empunya kerajaan, dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanua..."
"Itu artinya kamu kurang iman."
"..."
Ketika mendengar Reda membacakan cerpen ini saya juga teringat pada konsekrasi di gereja. "Tutup matamu," saya memerintahkan kepada anak-anak, tetapi bagaimana saya bisa tahu bahwa mereka tidak menutup mata mereka? Bukankah itu berarti saya membuka mata saya? "Diamlah dan berdoa," begitu perintah saya pada anakku, tetapi bukankah saat itu saya bersuara dan tidak sedang berdoa? Sesekali mereka masih tergelak dan tidak terasa sebuah cubitan mendarat di paha mereka. "Apakah engkau muridKu?" sebuah suara mendadak terdengar dari balik kalbuku.
Kebiasaan dan contoh merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya bagi anak-anak. Bagaimana mengenali kehadiranNya melalui sebuah kebiasaan baik bila kita tidak menanamkannya di dalam rumah? "Berilah contoh, lakukanlah dengan segenap hatimu maka mereka akan mengenalinya," begitu kata hatiku. Hal yang terasa berat tetapi menjadi lebih ringan ketika saya yakin bahwa Ia senantiasa menjadi Guru yang membimbing langkahku. Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, tidak ada kursus yang bisa membuat kita mengenal secara rinci anak-anak itu. Mereka adalah makhluk Tuhan yang unik, setiap anak dititipkan dengan karakter mereka masing-masing. Mengenali mereka tidak akan terlalu rumit bila Yang Maha Tahu ada bersama kita.
Satu hal lain yang terasa kemudian adalah betapa sering saya menjadi seperti murid-murid itu yang menginginkan kehadiran Yesus secara nyata, dengan pertanda yang jelas dalam kehidupanku. Tetapi dalam kenyataannya Ia lenyap, dan kita harus berusaha mencariNya di dalam kebaikan hati sesama, di dalam kebiasaan baik yang senantiasa diajarkanNya kepada kita.
Tuhan,
Terima kasih karena senantiasa mengingatkan kami,
perjalanan ke Emaus terasa singkat bersamaMu,
semoga demikian juga perjalanan kami di bumi ini,
senantiasa diisi dengan suasana hati yang berkobar-kobar dalam kedamaian,
karena Engkau hadir bersama kami.
Kami percaya,
dalam saat yang tepat Engkau menyadarkan kami akan kehadiranMu,
semoga kami selalu berbahagia menjadi orang yang percaya walaupun tidak melihat.
Amin.
Monday, April 19, 2010
Pekerjaan yang dikehendaki Allah
Sebuah bacaan menarik dari Injil Yohanes 6:22-31 mengajak saya untuk merenungkan mengapa saya mencari Allah. Apakah saya mencariNya karena roti yang diberikanNya untuk kenyamanan hidup kedagingan saya, atau karena Roti Hidup (Yoh 6:30-35) yang dijanjikanNya?
Yang paling menyentuhku adalah perkataan Yesus,"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meteraiNya."
Sebenarnya sepanjang kehidupan ini, saya merasa bekerja untuk Roti yang Hidup itu. Karena terfokus pada pencapaian rohani, terkadang tidak teringat pada kebutuhan fisik yang juga nyata. Ketika masih sendiri (maupun berdua suami) tidak terasa betapa besar kebutuhan materi itu, tetapi ketika anak-anak hadir dalam kehidupan kami maka keberadaan materi menjadi lebih penting.
Rasanya keseimbangan hidup itulah yang perlu dicari. Suamiku terlalu fokus pada hal materi, sementara saya terlalu fokus pada hal rohani. Keduanya tidak menghasilkan buah yang baik. Keseimbangan dalam hidup dan kepasrahan untuk meletakkannya dalam bingkai kehendak Tuhan merupakan jalan yang diperlihatkanNya kepadaku.
Pertanyaan yang paling sering kumiliki adalah "Pekerjaan apa yang dikehendaki Allah untuk aku lakukan?" Maka jawabNya kepadaku,"Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang diutus Allah."
Sepanjang masa Prapaskah kemarin saya diingatkan untuk mengerjakan perintah hatiku, sekecil apapun kontribusinya terhadap keluarga dan masyarakat. Tuhan yang akan melengkapi pekerjaanku. Seperti salju kecil yang bergulir di padang saljuNya, maka Ia akan menambahkan volume bola salju itu menjadi besar dan tidak terkira pengaruhnya.
Kepercayaan dan iman adalah hal yang senantiasa ditekankan oleh Yesus dalam pemberian mukjizat-mukjizatNya. "Pergilah, imanmu sudah menyelamatkanmu," itulah perkataanNya yang paling sering terucap. Bahkan kalau hanya punya iman sebesar biji sesawi, dijanjikanNya bahwa kita bisa melakukan hal yang tampak mustahil di mata manusia.
Antara mengucapkan "Aku percaya" dari mulut dengan mengucapkan "Aku percaya" dari hati tidak sama. Terkadang mulut mengucapkannya dan menyatakan kepasrahan kepada Tuhan, tetapi hati dan pikiran terus berkutat dengan segala kemungkinan untuk keluar dari masalah yang dihadapi, tanpa memberikan waktu kepadaNya untuk bekerja. Waktu yang perlu kita pakai adalah waktu Tuhan, dan Ia menjanjikan bahwa semua akan indah pada waktuNya.
Tuhan,
anugerahi kami dengan iman yang cukup
agar kami mampu percaya dan pasrah seutuhnya
kepada kerahimanMu.
Berkati kami dengan Roh KudusMu,
agar senantiasa kuat menjalani pergumulan hidup ini.
Amin.
Yang paling menyentuhku adalah perkataan Yesus,"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meteraiNya."
Sebenarnya sepanjang kehidupan ini, saya merasa bekerja untuk Roti yang Hidup itu. Karena terfokus pada pencapaian rohani, terkadang tidak teringat pada kebutuhan fisik yang juga nyata. Ketika masih sendiri (maupun berdua suami) tidak terasa betapa besar kebutuhan materi itu, tetapi ketika anak-anak hadir dalam kehidupan kami maka keberadaan materi menjadi lebih penting.
Rasanya keseimbangan hidup itulah yang perlu dicari. Suamiku terlalu fokus pada hal materi, sementara saya terlalu fokus pada hal rohani. Keduanya tidak menghasilkan buah yang baik. Keseimbangan dalam hidup dan kepasrahan untuk meletakkannya dalam bingkai kehendak Tuhan merupakan jalan yang diperlihatkanNya kepadaku.
Pertanyaan yang paling sering kumiliki adalah "Pekerjaan apa yang dikehendaki Allah untuk aku lakukan?" Maka jawabNya kepadaku,"Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang diutus Allah."
Sepanjang masa Prapaskah kemarin saya diingatkan untuk mengerjakan perintah hatiku, sekecil apapun kontribusinya terhadap keluarga dan masyarakat. Tuhan yang akan melengkapi pekerjaanku. Seperti salju kecil yang bergulir di padang saljuNya, maka Ia akan menambahkan volume bola salju itu menjadi besar dan tidak terkira pengaruhnya.
Kepercayaan dan iman adalah hal yang senantiasa ditekankan oleh Yesus dalam pemberian mukjizat-mukjizatNya. "Pergilah, imanmu sudah menyelamatkanmu," itulah perkataanNya yang paling sering terucap. Bahkan kalau hanya punya iman sebesar biji sesawi, dijanjikanNya bahwa kita bisa melakukan hal yang tampak mustahil di mata manusia.
Antara mengucapkan "Aku percaya" dari mulut dengan mengucapkan "Aku percaya" dari hati tidak sama. Terkadang mulut mengucapkannya dan menyatakan kepasrahan kepada Tuhan, tetapi hati dan pikiran terus berkutat dengan segala kemungkinan untuk keluar dari masalah yang dihadapi, tanpa memberikan waktu kepadaNya untuk bekerja. Waktu yang perlu kita pakai adalah waktu Tuhan, dan Ia menjanjikan bahwa semua akan indah pada waktuNya.
Tuhan,
anugerahi kami dengan iman yang cukup
agar kami mampu percaya dan pasrah seutuhnya
kepada kerahimanMu.
Berkati kami dengan Roh KudusMu,
agar senantiasa kuat menjalani pergumulan hidup ini.
Amin.
Friday, April 16, 2010
Menjadi Bagian dari KaryaNya
Bacaan hari Jumat ini (Yohanes 6:1-15) membuat saya menggaris bawahi beberapa hal. Pertama, betapa pentingnya melihat hal positif dari sebuah masalah. Kedua, betapa Tuhan membutuhkan kerelaan kita untuk berbagi agar kuasaNya bisa berkarya di dalam diri manusia. Yang ketiga adalah sebuah pertanyaan pribadi, "Mampukah saya mendatangi Yesus tanpa tarikan mukjizatNya? Mampukah saya bertahan bersamaNya dalam jalan salibNya?" Orang-orang itu datang berbondong-bondong ke tempat Yesus karena melihat mukjizat-mukjizat besar yang dilakukanNya. Apakah mereka masih tetap ada dan menginginkan Yesus menjadi raja ketika Ia didera dalam cambukan, ditelanjangi dan dihina dalam proses perjalanannya ke Puncak Golgota? Apakah mereka masih mau memandangNya yang tergantung di kayu salib? Bagaimana dengan diriku, di posisi manakah aku barada?
Yesus menyaksikan orang banyak mengikutinya, dan mengetahui kebutuhan manusiawi mereka akan pangan. Ketika Ia bertanya kepada murid-muridNya, maka ada tiga tipe reaksi. Reaksi pertama dari Filipus yang melihat dari kacamata negatif, "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini..." Reaksi kedua adalah reaksi Andreas yang menunjukkan keberadaan seorang anak dengan lima roti dan dua buah ikan, walaupun ia juga bersikap pesimis mempertanyakan apa artinya jumlah itu bila ingin dibagikan bagi jumlah lima ribu laki-laki yang hadir. Yang ketiga adalah reaksi murid-murid lain yang diam saja, menantikan apa yang akan terjadi. Andreas mampu melihat peluang yang ada, walaupun tidak mampu melihat cara pemecahan masalahnya. Tuhanlah yang kemudian menyempurnakan pemecahan masalah itu. Saya merasa seringkali bertindak seperti Filipus, alangkah indahnya bila sanggup melihat dari kacamata Andreas yang lebih positif dan meminta Tuhan untuk menyempurnakan jalan keluar permasalahan kita. Terkadang juga saya hanya diam seperti murid-murid yang masuk dalam kategori ketiga, menantikan tindakan Tuhan tanpa ikut serta berpikir atau berusaha. Tuhan menghendaki kita menjadi bagian dari karyaNya.
Kerelaan untuk berbagi dari anak kecil itu juga menyentuh saya. Sebagai anak kecil tentunya bekal yang disediakan ibunya sangat terbatas, dan itu bisa jadi merupakan bekal makan malam itu dan keesokan harinya. Tetapi ia mau memperlihatkan bekalnya kepada orang dewasa yang menanyakan bekal yang dibawa. Kerelaannya berbagi kembali mengingatkan saya kepada kisah kakek pengemis dari Korea Selatan yang karya kecilnya menggelinding menjadi sebuah perkampungan yang begitu nyata pertolongannya bagi orang banyak. Hal kecil yang sederhana menggelinding menjadi besar. Begitu juga dengan kisah koin Prita, dari sekedar uang receh bagi perorangan menjadi bagian dari aksi solidaritas warga yang mampu menembus angka miliar rupiah. Tetapi terus terang ketika menuliskan tulisan ini saya juga jadi teringat pada Koin untuk Bilqis. Bilqis akhirnya sudah mendapatkan tempat di sisiNya. Usaha manusia dan kehendak Allah tidak selalu sejalan, tetapi apa yang terjadi dan pembelajaran apa yang ada di sepanjang kejadian itu merupakan kuasa Allah. WaktuNya tidak selalu merupakan waktu kita, rencanaNya tidak selalu dapat langsung kita maknai. Menjadi bagian dari karyaNya berarti kita bukan saja rela untuk berbagi bagi sesama, melainkan juga rela untuk menerima penderitaan yang mungkin memang harus kita jalani.
Allah Bapa Yang Maha Kuasa,
terima kasih atas semua berkat dariMu,
karuniakanlah Roh Kudus di atas kami,
dan mampukan kami untuk menjadi bagian dari Karya besarMu.
Amin.
Yesus menyaksikan orang banyak mengikutinya, dan mengetahui kebutuhan manusiawi mereka akan pangan. Ketika Ia bertanya kepada murid-muridNya, maka ada tiga tipe reaksi. Reaksi pertama dari Filipus yang melihat dari kacamata negatif, "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini..." Reaksi kedua adalah reaksi Andreas yang menunjukkan keberadaan seorang anak dengan lima roti dan dua buah ikan, walaupun ia juga bersikap pesimis mempertanyakan apa artinya jumlah itu bila ingin dibagikan bagi jumlah lima ribu laki-laki yang hadir. Yang ketiga adalah reaksi murid-murid lain yang diam saja, menantikan apa yang akan terjadi. Andreas mampu melihat peluang yang ada, walaupun tidak mampu melihat cara pemecahan masalahnya. Tuhanlah yang kemudian menyempurnakan pemecahan masalah itu. Saya merasa seringkali bertindak seperti Filipus, alangkah indahnya bila sanggup melihat dari kacamata Andreas yang lebih positif dan meminta Tuhan untuk menyempurnakan jalan keluar permasalahan kita. Terkadang juga saya hanya diam seperti murid-murid yang masuk dalam kategori ketiga, menantikan tindakan Tuhan tanpa ikut serta berpikir atau berusaha. Tuhan menghendaki kita menjadi bagian dari karyaNya.
Kerelaan untuk berbagi dari anak kecil itu juga menyentuh saya. Sebagai anak kecil tentunya bekal yang disediakan ibunya sangat terbatas, dan itu bisa jadi merupakan bekal makan malam itu dan keesokan harinya. Tetapi ia mau memperlihatkan bekalnya kepada orang dewasa yang menanyakan bekal yang dibawa. Kerelaannya berbagi kembali mengingatkan saya kepada kisah kakek pengemis dari Korea Selatan yang karya kecilnya menggelinding menjadi sebuah perkampungan yang begitu nyata pertolongannya bagi orang banyak. Hal kecil yang sederhana menggelinding menjadi besar. Begitu juga dengan kisah koin Prita, dari sekedar uang receh bagi perorangan menjadi bagian dari aksi solidaritas warga yang mampu menembus angka miliar rupiah. Tetapi terus terang ketika menuliskan tulisan ini saya juga jadi teringat pada Koin untuk Bilqis. Bilqis akhirnya sudah mendapatkan tempat di sisiNya. Usaha manusia dan kehendak Allah tidak selalu sejalan, tetapi apa yang terjadi dan pembelajaran apa yang ada di sepanjang kejadian itu merupakan kuasa Allah. WaktuNya tidak selalu merupakan waktu kita, rencanaNya tidak selalu dapat langsung kita maknai. Menjadi bagian dari karyaNya berarti kita bukan saja rela untuk berbagi bagi sesama, melainkan juga rela untuk menerima penderitaan yang mungkin memang harus kita jalani.
Allah Bapa Yang Maha Kuasa,
terima kasih atas semua berkat dariMu,
karuniakanlah Roh Kudus di atas kami,
dan mampukan kami untuk menjadi bagian dari Karya besarMu.
Amin.
Saturday, April 10, 2010
Ia memantau kita
Dalam bacaan Injil hari Jumat yang lalu, yaitu Injil Yohanes 21:1- 14, terlihat betapa Yesus senantiasa ada mengamati umatNya walaupun terkadang yang diamati tidak mampu melihatNya.
Seorang teman memperhatikan betapa kebutuhan pokok manusia akan makanan juga sangat diperhatikan Yesus. Yoh 21:5 Yesus bertanya kepada murid-muridNya (yang tidak mengenalinya): "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?"
Terkadang kita melupakan kehadiran Yesus bersama kita dalam perjalanan kita di dunia ini. Ketika kesengsaraan datang mendera maka kita tidak teringat akan jalan salib Yesus yang begitu sulit dan penuh kesengsaraan. Beban yang kita pikul tidak ada artinya dibandingkan dengan beban yang dipikulNya. Sebagai manusia aku tidak bisa membayangkan betapa memalukan dan menderitanya perjalanan ke bukit Golgota itu. Terus terang kecenderunganku yang lebih besar adalah menolak cawan pahit penderitaan itu. Siapa yang ingin hidup menderita? Siapa yang ingin dihina dan dipermalukan di depan orang banyak? Siapa yang ingin disiksa untuk hal-hal yang tidak pernah dilakukannya? Yesus secara manusiawi merasakan ketakutan itu, tapi Ia berani menjawab Allah Bapa dengan kepatuhan yang penuh "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagiMu, ambillah cawan ini daripadaKu, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." (Markus 14:36)
Yesus meminta murid-murid itu menebarkan jala mereka ke sebelah kanan perahu, dan mereka berhasil mendapatkan banyak ikan. Yohanes segera teringat pada Tuhan Yesus yang ketika pertama kali memanggil mereka untuk menjala manusia juga melakukan hal yang sama (Luk 5:6). Petrus mendengar hal itu segera berpakaian dan terjun ke dalam danau untuk mendatangi Yesus.
Seorang peserta doa kami terkesan pada ayat 7 Injil ini dimana Petrus yang tidak berpakaian segera mengenakan pakaiannya untuk menemui Yesus. Memang secara logika, jika ingin terjun ke danau tentunya lebih enak tidak berpakaian (apalagi yang model jubah) dan nanti setelah naik ke darat barulah berpakaian yang kering, dan terasa nyaman. Teman kami itu merasakannya sebagai ajakan untuk lebih memperhatikan pakaian kita ketika ingin menghadap kepada Tuhan. Betapa sering kepatutan berpakaian tidak lagi terlihat di gereja. Memang kepatutan yang paling utama adalah kesiapan dan kebersihan hati, tetapi sikap menghormati Tuan rumah biasanya juga terpantul dari cara berpakaian.
Mengapa Petrus yang dipilih oleh Yesus sebagai Paus pertama? Mengapa bukan Yohanes, murid yang dikasihiNya? Tampaknya Petrus senantiasa secara spontan siap mendekati Yesus. Ia yang berani menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16), ia pula yang (walaupun sambil menyamarkan diri) setia mencari jalan untuk melihat Yesus yang ditangkap...hal yang akhirnya membuatnya menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Petrus sedih karena kesalahan itu sebenarnya sudah diberitahukan sebelumnya oleh Yesus kepadanya (Matius 26:75). Ia kemudian mengingatkan kita untuk menjadikan penderitaan Kristus sebagai teladan (1 Petrus 2:18-25). Ia meminta kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran kepada Tuhan karena Ia yang memelihara kita (1 Petrus 5:7). Iblis berjalan mencari orang yang dapat ditelannya, dan Petrus mengajak kita untuk "Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya...." (1 Petrus 5:9-10). Ia juga mengingatkan untuk mengabdikan diri bukan karena mencari keuntungan pribadi, tetapi semata karena ingin turut serta mewujudkan kehendak Allah. Peringatan ini bisa untuk rohaniwan, tetapi tidak tertutup juga untuk kita umat biasa yang mendapat panggilan untuk mengabdikan diri melalui sesama dan lingkungan.
Tuhan memantau kita, Ia akan bertindak ketika kita sungguh-sungguh membutuhkan bantuan. Jangan pernah berpikir kita sendirian, karena Ia senantiasa memantau kebutuhan kita.
Tuhan,
Ampuni kami yang sering tidak mengenaliMu,
yang lebih sering menuntut dan menggerutu
daripada berusaha lebih keras lagi.
Terima kasih atas kasih karuniaMu,
Atas pendampinganMu dan pantauanMu,
Karena kami sungguh membutuhkanMu
walau terkadang kami lupa dan terlalu bersandar pada kekuatan manusia...
Tuhan, berkatilah kami...
Amin.
Seorang teman memperhatikan betapa kebutuhan pokok manusia akan makanan juga sangat diperhatikan Yesus. Yoh 21:5 Yesus bertanya kepada murid-muridNya (yang tidak mengenalinya): "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?"
Terkadang kita melupakan kehadiran Yesus bersama kita dalam perjalanan kita di dunia ini. Ketika kesengsaraan datang mendera maka kita tidak teringat akan jalan salib Yesus yang begitu sulit dan penuh kesengsaraan. Beban yang kita pikul tidak ada artinya dibandingkan dengan beban yang dipikulNya. Sebagai manusia aku tidak bisa membayangkan betapa memalukan dan menderitanya perjalanan ke bukit Golgota itu. Terus terang kecenderunganku yang lebih besar adalah menolak cawan pahit penderitaan itu. Siapa yang ingin hidup menderita? Siapa yang ingin dihina dan dipermalukan di depan orang banyak? Siapa yang ingin disiksa untuk hal-hal yang tidak pernah dilakukannya? Yesus secara manusiawi merasakan ketakutan itu, tapi Ia berani menjawab Allah Bapa dengan kepatuhan yang penuh "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagiMu, ambillah cawan ini daripadaKu, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." (Markus 14:36)
Yesus meminta murid-murid itu menebarkan jala mereka ke sebelah kanan perahu, dan mereka berhasil mendapatkan banyak ikan. Yohanes segera teringat pada Tuhan Yesus yang ketika pertama kali memanggil mereka untuk menjala manusia juga melakukan hal yang sama (Luk 5:6). Petrus mendengar hal itu segera berpakaian dan terjun ke dalam danau untuk mendatangi Yesus.
Seorang peserta doa kami terkesan pada ayat 7 Injil ini dimana Petrus yang tidak berpakaian segera mengenakan pakaiannya untuk menemui Yesus. Memang secara logika, jika ingin terjun ke danau tentunya lebih enak tidak berpakaian (apalagi yang model jubah) dan nanti setelah naik ke darat barulah berpakaian yang kering, dan terasa nyaman. Teman kami itu merasakannya sebagai ajakan untuk lebih memperhatikan pakaian kita ketika ingin menghadap kepada Tuhan. Betapa sering kepatutan berpakaian tidak lagi terlihat di gereja. Memang kepatutan yang paling utama adalah kesiapan dan kebersihan hati, tetapi sikap menghormati Tuan rumah biasanya juga terpantul dari cara berpakaian.
Mengapa Petrus yang dipilih oleh Yesus sebagai Paus pertama? Mengapa bukan Yohanes, murid yang dikasihiNya? Tampaknya Petrus senantiasa secara spontan siap mendekati Yesus. Ia yang berani menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16), ia pula yang (walaupun sambil menyamarkan diri) setia mencari jalan untuk melihat Yesus yang ditangkap...hal yang akhirnya membuatnya menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Petrus sedih karena kesalahan itu sebenarnya sudah diberitahukan sebelumnya oleh Yesus kepadanya (Matius 26:75). Ia kemudian mengingatkan kita untuk menjadikan penderitaan Kristus sebagai teladan (1 Petrus 2:18-25). Ia meminta kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran kepada Tuhan karena Ia yang memelihara kita (1 Petrus 5:7). Iblis berjalan mencari orang yang dapat ditelannya, dan Petrus mengajak kita untuk "Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya...." (1 Petrus 5:9-10). Ia juga mengingatkan untuk mengabdikan diri bukan karena mencari keuntungan pribadi, tetapi semata karena ingin turut serta mewujudkan kehendak Allah. Peringatan ini bisa untuk rohaniwan, tetapi tidak tertutup juga untuk kita umat biasa yang mendapat panggilan untuk mengabdikan diri melalui sesama dan lingkungan.
Tuhan memantau kita, Ia akan bertindak ketika kita sungguh-sungguh membutuhkan bantuan. Jangan pernah berpikir kita sendirian, karena Ia senantiasa memantau kebutuhan kita.
Tuhan,
Ampuni kami yang sering tidak mengenaliMu,
yang lebih sering menuntut dan menggerutu
daripada berusaha lebih keras lagi.
Terima kasih atas kasih karuniaMu,
Atas pendampinganMu dan pantauanMu,
Karena kami sungguh membutuhkanMu
walau terkadang kami lupa dan terlalu bersandar pada kekuatan manusia...
Tuhan, berkatilah kami...
Amin.
Friday, March 19, 2010
Memberi Dalam Ketiadaan
Rasanya susah benar memikirkan bagaimana caranya memberi kepada sesama yang miskin dan tertindas bila kita sendiri masih diliputi kecemasan akan urusan kehidupan pribadi. Ketika urusan keuangan masih berkutat di dalam masalah urusan rumah tangga sendiri, agak sulit memikirkan urusan orang lain. Karena itu saya sendiri lebih banyak membagikan waktu kepada orang lain dibandingkan memberikan bantuan materi. Tetapi sebuah lampiran kisah yang terdapat di dalam bahan Pendalaman Iman Lingkungan Masa Pra Paskah 2010 "Kkottongnae" sangat menyentuh. Kisah yang berasal dari Korea itu memperlihatkan betapa orang tidak perlu menjadi orang kaya untuk berbagi materi. Kakek Choi Gwi Dong yang dilahirkan dari keluarga kaya, kemudian harus melalui kepahitan perang dan kehilangan semua keluarga dan harta bendanya. Dia tidak meratapi nasibnya, melainkan dia justru mengangkat martabatnya sebagai pengemis dengan membagikan rezeki yang diperolehnya kepada pengemis lainnya.
Kisah itu sungguh menyentuh aku. Terpuruk dalam kehidupan di bawah kolong jembatan sudah cukup parah, tetapi dia pasrah dan malah melakukan kegiatan berbagi yang kemudian menggelinding menjadi besar, menjadi Kkottongnae atau Flower Village. Dia tidak perlu kaya, tidak perlu menjadi selebriti, tetapi ketika dia bekerja bagi Tuhan maka Tuhan yang menggelindingkan dan menggelembungkan hasil pekerjaannya.
Saya pernah melihat kehidupan para tuna wisma di Seoul, jadi terbayangkan betapa tegar kakek Choi ini. Seoul di malam hari, ketika itu dekat dengan stasiun kereta api Seoul, merupakan tempat orang-orang mencari kehangatan di balik kardus-kardus mereka. Ada yang minum minuman yang menghangatkan badan, tetapi bisa jadi kadar alkoholnya cukup tinggi. Ketika itu ada seorang kakek tua yang dengan marah berteriak-teriak kepadaku yang sedang memotret stasiun. Mungkin disangkanya aku memotret kehidupan mereka. Sebenarnya aku sudah terlebih dahulu memotret orang-orang yang tidur di lorong-lorong kereta bawah tanah. Banyak orang tua yang sendirian, entah dimana keluarganya...Jadi kisah kakek Choi ini langsung membuka kembali memoriku mengenai para tuna wisma di Seoul.
Memberi dalam ketiadaan, begitulah keadaan yang digambarkan kisah kakek Choi itu. Karena ia berani memberi dari ketiadaannya (ingatanku melayang kepada janda dengan dua dinarnya) maka Pastur Oh Woong Jin mendapatkan keberanian untuk memulai "House of Love" yang kemudian berkembang dan dikenal sebagai Flower Village.
2 Kor 9:16-12 menggambarkan betapa Paulus mengajak orang-orang di Korintus untuk mau berbagi. Terkadang ketika melihat pengemis di lampu merah kita sudah terlebih dahulu berpikir negatif karena memang dalam kenyataannya ada organisasi-organisasi yang menyalah-gunakan keberadaan pengemis ini. Kisah kakek Choi membuat saya berpikir betapa yang paling penting adalah membiarkan suara hati kita memimpin. Tuhan bekerja dengan tidak kita sangka-sangka. Kakek Choi bekerja tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari karyanya akan mampu menyelamatkan orang banyak. Terkadang berpikir dalam skala yang terlalu besar membuat orang takut melangkah. Kisah ini memperlihatkan betapa Tuhan hanya membutuhkan dua ekor ikan untuk dilipat gandakan menjadi bakul-bakul ikan yang tersisa.
Dalam rangkaian Pendalaman Iman masa Pra Paskah 2010 ini yang sangat berkesan bagi diri saya adalah ajakan untuk berpikir positif. Sebagai orang yang senang memulai hari dengan mempertimbangkan segala keraguan, semula berpikir positif bagi saya adalah jalan yang beronak duri. Saya dahulu merasa bila kita tidak pernah melihat sisi negatif suatu masalah maka kita tidak akan siap menghadapi kenyataan buruk yang menghadang. Ternyata, memulai segala sesuatu dengan berpikir positif bisa jadi akan lebih menguatkan ketika hal-hal negatif itu terjadi, karena kita senantiasa mampu melihat hal positif lain yang ada di belakangnya.
Tuhan,
Terima kasih atas semua berkatMu,
bantulah kami untuk lebih mampu lagi bersyukur,
lebih mampu berbagi kasih kepada sesama,
lebih mampu melihat hal-hal positif dalam kehidupan kami,
agar karyaMu bisa terlaksana
dan berkatMu senantiasa memperkaya kami dengan kekayaan hati yang kekal.
Amin.
Kisah itu sungguh menyentuh aku. Terpuruk dalam kehidupan di bawah kolong jembatan sudah cukup parah, tetapi dia pasrah dan malah melakukan kegiatan berbagi yang kemudian menggelinding menjadi besar, menjadi Kkottongnae atau Flower Village. Dia tidak perlu kaya, tidak perlu menjadi selebriti, tetapi ketika dia bekerja bagi Tuhan maka Tuhan yang menggelindingkan dan menggelembungkan hasil pekerjaannya.
Saya pernah melihat kehidupan para tuna wisma di Seoul, jadi terbayangkan betapa tegar kakek Choi ini. Seoul di malam hari, ketika itu dekat dengan stasiun kereta api Seoul, merupakan tempat orang-orang mencari kehangatan di balik kardus-kardus mereka. Ada yang minum minuman yang menghangatkan badan, tetapi bisa jadi kadar alkoholnya cukup tinggi. Ketika itu ada seorang kakek tua yang dengan marah berteriak-teriak kepadaku yang sedang memotret stasiun. Mungkin disangkanya aku memotret kehidupan mereka. Sebenarnya aku sudah terlebih dahulu memotret orang-orang yang tidur di lorong-lorong kereta bawah tanah. Banyak orang tua yang sendirian, entah dimana keluarganya...Jadi kisah kakek Choi ini langsung membuka kembali memoriku mengenai para tuna wisma di Seoul.
Memberi dalam ketiadaan, begitulah keadaan yang digambarkan kisah kakek Choi itu. Karena ia berani memberi dari ketiadaannya (ingatanku melayang kepada janda dengan dua dinarnya) maka Pastur Oh Woong Jin mendapatkan keberanian untuk memulai "House of Love" yang kemudian berkembang dan dikenal sebagai Flower Village.
2 Kor 9:16-12 menggambarkan betapa Paulus mengajak orang-orang di Korintus untuk mau berbagi. Terkadang ketika melihat pengemis di lampu merah kita sudah terlebih dahulu berpikir negatif karena memang dalam kenyataannya ada organisasi-organisasi yang menyalah-gunakan keberadaan pengemis ini. Kisah kakek Choi membuat saya berpikir betapa yang paling penting adalah membiarkan suara hati kita memimpin. Tuhan bekerja dengan tidak kita sangka-sangka. Kakek Choi bekerja tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari karyanya akan mampu menyelamatkan orang banyak. Terkadang berpikir dalam skala yang terlalu besar membuat orang takut melangkah. Kisah ini memperlihatkan betapa Tuhan hanya membutuhkan dua ekor ikan untuk dilipat gandakan menjadi bakul-bakul ikan yang tersisa.
Dalam rangkaian Pendalaman Iman masa Pra Paskah 2010 ini yang sangat berkesan bagi diri saya adalah ajakan untuk berpikir positif. Sebagai orang yang senang memulai hari dengan mempertimbangkan segala keraguan, semula berpikir positif bagi saya adalah jalan yang beronak duri. Saya dahulu merasa bila kita tidak pernah melihat sisi negatif suatu masalah maka kita tidak akan siap menghadapi kenyataan buruk yang menghadang. Ternyata, memulai segala sesuatu dengan berpikir positif bisa jadi akan lebih menguatkan ketika hal-hal negatif itu terjadi, karena kita senantiasa mampu melihat hal positif lain yang ada di belakangnya.
Tuhan,
Terima kasih atas semua berkatMu,
bantulah kami untuk lebih mampu lagi bersyukur,
lebih mampu berbagi kasih kepada sesama,
lebih mampu melihat hal-hal positif dalam kehidupan kami,
agar karyaMu bisa terlaksana
dan berkatMu senantiasa memperkaya kami dengan kekayaan hati yang kekal.
Amin.
Mencintai Tuhan Dengan Segenap Kekuatanku
Dari bacaan hari Jumat minggu yang lalu, yaitu dari Markus 12:28b-34, saya sangat terkesan pada kalimat "Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan yang esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini."
Hal yang menarik dari pertemuan kelompok doa saya adalah betapa manusia berbeda. Yang sangat menarik bagi saya adalah perintah pertama. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap kekuatanmu. Saya merasa begitu lemah, begitu banyak kekurangan, dan Tuhan tahu itu sehingga meminta untuk mengasihiNya dengan segenap kekuatanku. Kekuatan manusia yang terbatas, tapi menjadi tidak terbatas ketika Roh Kudus bekerja di dalam kita. Tuhan Yang Esa...Dialah sumber Roh Kudus yang menguatkan itu, kepadaNya kita memohon tambahan kekuatan.
Bagi saya mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri terasa lebih mudah. Seorang peserta doa juga mengamini hal yang sama, menurutnya mengasihi Allah yang tidak terlihat menjadi lebih sulit daripada mengasihi manusia yang bisa berinteraksi secara langsung dengan kita.
Tetapi teman yang lain lebih tertarik kepada mengasihi sesama manusia. Menurutnya lebih sulit mengasihi sesama manusia. Ia memakai perumpamaan pekerjaan sebagai ilustrasi. Mengasihi Allah diumpamakannya sebagai pekerjaan pembukuan, yang ada hanya pekerja pembukuan itu dengan angka-angka di hadapannya. Jadi mengasihi Allah hanya urusan pribadi antara manusia dan Allah. Mengasihi sesama manusia diumpamakannya sebagai pekerjaan personalia, petugas personalia harus berhubungan dengan banyak orang, banyak karakter dan temperamen. Jadi mengasihi sesama manusia memiliki aspek yang lebih kompleks karena banyak perbedaan pandangan ataupun sikap antara manusia yang satu dengan manusia lainnya.
Renungannya membuat saya kembali berpikir betapa memang mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri sendiri mungkin belum terlalu tepat. Ada orang yang mampu menerapkan disiplin hidup yang keras terhadap dirinya sendiri, mampu menempatkan tuntutan yang besar untuk dirinya. Kalau kemudian ia menerapkannya untuk orang lain yang berbeda dari dirinya, maka tentunya keributan yang akan terjadi.
Memang menurut suster, ungkapan mengasihi sesama manusia ini disempurnakan dalam Injil Yohanes 15:12 "Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya..." Jalan salib Yesus, penderitaan dan hinaan yang dilaluiNya dalam perjalanan ke Golgota merupakan kerelaan menanggung aib dan sengsara yang seharusnya menjadi milik manusia. Ia rela malakukan hal itu untuk menebus umat manusia. Bila dia mengasihi kita sedemikian rupa, mengapa pula kita masih sering menggunakan hukum "mata ganti mata"? Mengapa terkadang pengampunan begitu sukar kita berikan dengan tulus? Padahal semua kemarahan, semua kebencian itu Ia yang harus menanggungnya.
Tahun berganti abad, tetapi tetap saja manusia bebal terhadap perintah Allah. Ketika menuliskan tulisan ini tiba-tiba saya tersentuh pada kalimat "hai orang Isreal". Sampai hari ini Israel masih terus berperang untuk penguasaan atas tanah. Padahal jelas-jelas ucapan tersebut sangat ditekankan bahwa Allah itu Esa, kasihilah Ia dan kasihilah sesamamu manusia. Perang berarti memutuskan hak hidup orang lain, menghilangkan hak hidup normal bagi banyak orang, menanamkan kebencian dalam sanubari muda yang baru tumbuh...Ketika perang, siapakah sesamamu manusia? Saya jadi teringat pada pertikaian di pulau Kalimantan antara orang Dayak dan Madura. Saya pernah membaca betapa di tengah-tengah pertikaian itu terjadi kepiluan karena di antara mereka sebenarnya sudah ada terjadi perkawinan antar suku. Ketika pertikaian terjadi, siapa yang dibela; suku atau istri/suami/anak? Perang menihilkan arti manusia sebagai sesama kita, dan perang juga menihilkan arti kebaikan Tuhan yang dilimpahkanNya melalui penebusan dosa manusia.
Tuhan,
saya berterima kasih karena pencerahanMu,
betapa manusia begitu beragam,
baik bentuk, pikiran, dan tata cara kehidupannya.
Kami begitu lemah,
seringkali terjatuh dalam kemarahan dan kebencian,
seringkali menuntut hak dan melupakan kewajiban kami,
tolong kami dengan Roh KudusMu ya Bapa,
agar kami mampu mencintaiMu dengan segenap hati,
segenap jiwa dan pikiran, serta segenap kekuatan kami,
karena dengan mencintaiMu kami mencintai sesama kami,
dengan mencintai sesama kami,
cinta kami kepadaMu menjadi nyata...
Amin.
Hal yang menarik dari pertemuan kelompok doa saya adalah betapa manusia berbeda. Yang sangat menarik bagi saya adalah perintah pertama. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap kekuatanmu. Saya merasa begitu lemah, begitu banyak kekurangan, dan Tuhan tahu itu sehingga meminta untuk mengasihiNya dengan segenap kekuatanku. Kekuatan manusia yang terbatas, tapi menjadi tidak terbatas ketika Roh Kudus bekerja di dalam kita. Tuhan Yang Esa...Dialah sumber Roh Kudus yang menguatkan itu, kepadaNya kita memohon tambahan kekuatan.
Bagi saya mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri terasa lebih mudah. Seorang peserta doa juga mengamini hal yang sama, menurutnya mengasihi Allah yang tidak terlihat menjadi lebih sulit daripada mengasihi manusia yang bisa berinteraksi secara langsung dengan kita.
Tetapi teman yang lain lebih tertarik kepada mengasihi sesama manusia. Menurutnya lebih sulit mengasihi sesama manusia. Ia memakai perumpamaan pekerjaan sebagai ilustrasi. Mengasihi Allah diumpamakannya sebagai pekerjaan pembukuan, yang ada hanya pekerja pembukuan itu dengan angka-angka di hadapannya. Jadi mengasihi Allah hanya urusan pribadi antara manusia dan Allah. Mengasihi sesama manusia diumpamakannya sebagai pekerjaan personalia, petugas personalia harus berhubungan dengan banyak orang, banyak karakter dan temperamen. Jadi mengasihi sesama manusia memiliki aspek yang lebih kompleks karena banyak perbedaan pandangan ataupun sikap antara manusia yang satu dengan manusia lainnya.
Renungannya membuat saya kembali berpikir betapa memang mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri sendiri mungkin belum terlalu tepat. Ada orang yang mampu menerapkan disiplin hidup yang keras terhadap dirinya sendiri, mampu menempatkan tuntutan yang besar untuk dirinya. Kalau kemudian ia menerapkannya untuk orang lain yang berbeda dari dirinya, maka tentunya keributan yang akan terjadi.
Memang menurut suster, ungkapan mengasihi sesama manusia ini disempurnakan dalam Injil Yohanes 15:12 "Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya..." Jalan salib Yesus, penderitaan dan hinaan yang dilaluiNya dalam perjalanan ke Golgota merupakan kerelaan menanggung aib dan sengsara yang seharusnya menjadi milik manusia. Ia rela malakukan hal itu untuk menebus umat manusia. Bila dia mengasihi kita sedemikian rupa, mengapa pula kita masih sering menggunakan hukum "mata ganti mata"? Mengapa terkadang pengampunan begitu sukar kita berikan dengan tulus? Padahal semua kemarahan, semua kebencian itu Ia yang harus menanggungnya.
Tahun berganti abad, tetapi tetap saja manusia bebal terhadap perintah Allah. Ketika menuliskan tulisan ini tiba-tiba saya tersentuh pada kalimat "hai orang Isreal". Sampai hari ini Israel masih terus berperang untuk penguasaan atas tanah. Padahal jelas-jelas ucapan tersebut sangat ditekankan bahwa Allah itu Esa, kasihilah Ia dan kasihilah sesamamu manusia. Perang berarti memutuskan hak hidup orang lain, menghilangkan hak hidup normal bagi banyak orang, menanamkan kebencian dalam sanubari muda yang baru tumbuh...Ketika perang, siapakah sesamamu manusia? Saya jadi teringat pada pertikaian di pulau Kalimantan antara orang Dayak dan Madura. Saya pernah membaca betapa di tengah-tengah pertikaian itu terjadi kepiluan karena di antara mereka sebenarnya sudah ada terjadi perkawinan antar suku. Ketika pertikaian terjadi, siapa yang dibela; suku atau istri/suami/anak? Perang menihilkan arti manusia sebagai sesama kita, dan perang juga menihilkan arti kebaikan Tuhan yang dilimpahkanNya melalui penebusan dosa manusia.
Tuhan,
saya berterima kasih karena pencerahanMu,
betapa manusia begitu beragam,
baik bentuk, pikiran, dan tata cara kehidupannya.
Kami begitu lemah,
seringkali terjatuh dalam kemarahan dan kebencian,
seringkali menuntut hak dan melupakan kewajiban kami,
tolong kami dengan Roh KudusMu ya Bapa,
agar kami mampu mencintaiMu dengan segenap hati,
segenap jiwa dan pikiran, serta segenap kekuatan kami,
karena dengan mencintaiMu kami mencintai sesama kami,
dengan mencintai sesama kami,
cinta kami kepadaMu menjadi nyata...
Amin.
Saturday, March 06, 2010
Jangan Ragu Menjawab "Ya..."
Karena hari Jumat mengikuti sesi doa Lectio Divina bersama kelompok doa, dan hari Sabtu mengikuti Pendalaman Iman Lingkungan Masa Prapaskah 2010, maka ada beberapa catatan yang saling menguatkan yang muncul dari pertemuan-pertemuan tersebut.
Bacaan hari Jumat adalah Injil Matius 21: 33-43, 45-46. Ada dua pola pandang yang muncul dari bacaan ini. Pola pandang negatif adalah melihat keserakahan. Para pekerja di ladang berubah menjadi serakah, menginginkan ladang yang mereka kerjakan menjadi milik mereka sendiri. Semua utusan pemilik tanah untuk meminta hasil dari tanahnya dipukuli, di dilempari batu, bahkan dibunuh. Ketika pemilik tanah mengirimkan anaknya, justru keinginan untuk menguasai tanah itu semakin besar. Mereka yakin dengan meniadakan ahli waris dari tanah tersebut maka tanah itu menjadi lebih mudah mereka kuasai.
Cara pandang yang berbeda saya dapatkan dari buku renungan Cafe Rohani. Yang digaris-bawahi di dalam buku renungan ini adalah kesanggupan menerima utusan Allah yang diberikan untuk membimbing, menasehati, dan menegur kita. Sama seperti para pekerja di ladang yang merasa kenyamanan mereka terganggu karena didatangi oleh utusan tuan tanah, seringkali kita juga merasa terganggu ketika nurani kita diusik oleh perkataan yang bersifat kritik atau nasehat dari orang lain. Dari cara pandang ini yang ditekankan adalah kesanggupan untuk membuka diri, untuk melihat niat baik yang ditawarkan Tuhan melalui orang-orang yang dikirimkanNya dalam kehidupan kita.
Terus terang, hari Jumat kemarin saya teringat pada seorang teman doa kami yang sudah almarhum. Perkataannya yang senantiasa terngiang di telinga adalah bahwa tidak ada hal yang kebetulan bagi Allah. Setiap perjumpaan, setiap kejadian, merupakan alat bagiNya untuk mendekatkan manusia kepadaNya. Sebenarnya kami terkenang akan kehadiran dan kata-kata almarhum teman kami itu, kesediaannya menerima penderitaan dalam penyakitnya. Kenangan indah yang diberikannya karena ia hanya membagikan bagian kehidupannya yang indah kepada kami. Penderitaan adalah tantangan, keputusan untuk suatu langkah di masa depan adalah tantangan. Apakah kita berani menjawab tantanganNya dengan menjawab "Ya, aku bersedia..."? Dan sanggupkah kita konsisten dalam menanggapi tantangan itu?
Terus terang bagi saya terkadang pertanyaan "Kemana Tuhan memanggilku?"
masih merupakan suatu pertanyaan yang belum tuntas terjawab. Saya merasa sedang dalam proses untuk mengetahuinya. Dalam pertemuan lingkungan kami, dengan bacaan Injil Lukas 4:16-21, ada dua hal utama yang muncul. Pertama, jangan ragu untuk menjawab panggilan pelayanan. Tidak ada kata belum siap, belum ada waktu, belum punya dana, untuk mengikuti panggilan pelayananNya. Katakan saja "Ya, aku bersedia..." maka jalanNya akan terbukakan bagimu.
Yang kedua, adalah catatan pribadi saya sendiri. Kita dipanggil untuk ambil bagian bagian dalam misi Yesus mewartakan kabar gembira kepada "orang-orang miskin". Kita dipanggil sebagai dan di dalam komunitas, meskipun setiap pribadi juga punya misinya sendiri.
Saya tahu benar misi ini, mengabarkan kabar suka-cita kepada "orang-orang miskin", bukan sekedar kepada orang yang miskin secara materi, tapi juga kepada mereka yang miskin secara rohani. Kata-kata yang sangat menyentuh saya kemarin adalah kata "miskin". Sudahkah saya sungguh-sungguh peduli pada mereka yang miskin? Ataukah saya malah terjerembab merasa diri "miskin" sehingga tidak mampu menolong?
Dalam kehidupan, saya senantiasa merasa "kaya" sampai kenyataan hidup yang bertubi-tubi menyadarkan betapa materi ikut berperan dalam memberikan posisi "kaya" agar senantiasa mampu menjadi mereka yang memiliki tangan di atas. Tanpa materi saya masih kaya dengan waktu. Tetapi setelah memiliki keluarga, maka waktu menjadi sesuatu yang sangat mahal nilainya. Pilihan antara menggunakan waktu untuk mencari materi atau untuk memberikan pelayanan, merupakan keadaan yang sedikit banyak sedang memenuhi benakku.
Sebenarnya beberapa waktu yang lalu, ketika saya kembali mengajar ke sekolah, saya merasa diberi nasehat oleh Tuhan untuk tidak sombong. Ketika saya berhenti mengajar dahulu, saya berpikir lebih baik memberikan pelayanan yang murni tanpa perlu menerima imbalan. Tetapi ketika kenyataan prioritas waktu untuk anak dan waktu untuk pelayanan total tidak bisa bertemu (ditambah dengan kekuatan fisik yang juga terbatas), maka saya kembali ke pelayanan dimana saya masih menerima upah walaupun dalam hitungan pertukaran waktu merupakan upah yang kecil nilainya.
Renungan singkat dalam buku "Mari Bekerja Sama Melawan Kemiskinan" mengatakan bahwa setiap orang dilahirkan ke dunia dengan suatu misi. Manusia mesti menemukan misiNya. Misi itu ternyata bukan untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan diri sendiri, tetapi demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain.
Rasanya perkataan inilah yang paling penting untuk kuingat, "demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain." Lingkaran pertama dalam orang lain di luar diriku adalah keluargaku, kemudian membesar ke lingkungan dan masyarakat, lalu ke lingkungan bernegara. Lingkaran terkecil harus penuh terisi sambil mengisi ke lingkaran yang lebih besar di luarnya. Aku percaya Tuhan akan menunjukkan jalanNya.
Tuhan,
Terima kasih atas pengertian yang Dikau berikan pada kami hari ini,
Siramilah kami dengan rahmat dan kasih karuniaMu
agar senantiasa kuat menempuh jalan berbatu yang sedang kita tempuh bersama.
Engkau yang mengangkat salib itu, dan aku membantu dengan tenagaku yang terbatas
dengan ketegaran yang mudah tergores.
BagiMu tiada hal yang mustahil,
ingatkan aku senantiasa ya Tuhan...
karena aku sudah menjawab "Ya..."
tapi seringkali terjatuh dan enggan bangkit kembali...
Jadilah tongkat ketegaran dan kekuatanku,
Jadilah pelita penerang jalanku,
jadilah air penyegar dahagaku,
jadilah manna hidup yang memberiku kehidupan di dalam Engkau...
Amin.
Bacaan hari Jumat adalah Injil Matius 21: 33-43, 45-46. Ada dua pola pandang yang muncul dari bacaan ini. Pola pandang negatif adalah melihat keserakahan. Para pekerja di ladang berubah menjadi serakah, menginginkan ladang yang mereka kerjakan menjadi milik mereka sendiri. Semua utusan pemilik tanah untuk meminta hasil dari tanahnya dipukuli, di dilempari batu, bahkan dibunuh. Ketika pemilik tanah mengirimkan anaknya, justru keinginan untuk menguasai tanah itu semakin besar. Mereka yakin dengan meniadakan ahli waris dari tanah tersebut maka tanah itu menjadi lebih mudah mereka kuasai.
Cara pandang yang berbeda saya dapatkan dari buku renungan Cafe Rohani. Yang digaris-bawahi di dalam buku renungan ini adalah kesanggupan menerima utusan Allah yang diberikan untuk membimbing, menasehati, dan menegur kita. Sama seperti para pekerja di ladang yang merasa kenyamanan mereka terganggu karena didatangi oleh utusan tuan tanah, seringkali kita juga merasa terganggu ketika nurani kita diusik oleh perkataan yang bersifat kritik atau nasehat dari orang lain. Dari cara pandang ini yang ditekankan adalah kesanggupan untuk membuka diri, untuk melihat niat baik yang ditawarkan Tuhan melalui orang-orang yang dikirimkanNya dalam kehidupan kita.
Terus terang, hari Jumat kemarin saya teringat pada seorang teman doa kami yang sudah almarhum. Perkataannya yang senantiasa terngiang di telinga adalah bahwa tidak ada hal yang kebetulan bagi Allah. Setiap perjumpaan, setiap kejadian, merupakan alat bagiNya untuk mendekatkan manusia kepadaNya. Sebenarnya kami terkenang akan kehadiran dan kata-kata almarhum teman kami itu, kesediaannya menerima penderitaan dalam penyakitnya. Kenangan indah yang diberikannya karena ia hanya membagikan bagian kehidupannya yang indah kepada kami. Penderitaan adalah tantangan, keputusan untuk suatu langkah di masa depan adalah tantangan. Apakah kita berani menjawab tantanganNya dengan menjawab "Ya, aku bersedia..."? Dan sanggupkah kita konsisten dalam menanggapi tantangan itu?
Terus terang bagi saya terkadang pertanyaan "Kemana Tuhan memanggilku?"
masih merupakan suatu pertanyaan yang belum tuntas terjawab. Saya merasa sedang dalam proses untuk mengetahuinya. Dalam pertemuan lingkungan kami, dengan bacaan Injil Lukas 4:16-21, ada dua hal utama yang muncul. Pertama, jangan ragu untuk menjawab panggilan pelayanan. Tidak ada kata belum siap, belum ada waktu, belum punya dana, untuk mengikuti panggilan pelayananNya. Katakan saja "Ya, aku bersedia..." maka jalanNya akan terbukakan bagimu.
Yang kedua, adalah catatan pribadi saya sendiri. Kita dipanggil untuk ambil bagian bagian dalam misi Yesus mewartakan kabar gembira kepada "orang-orang miskin". Kita dipanggil sebagai dan di dalam komunitas, meskipun setiap pribadi juga punya misinya sendiri.
Saya tahu benar misi ini, mengabarkan kabar suka-cita kepada "orang-orang miskin", bukan sekedar kepada orang yang miskin secara materi, tapi juga kepada mereka yang miskin secara rohani. Kata-kata yang sangat menyentuh saya kemarin adalah kata "miskin". Sudahkah saya sungguh-sungguh peduli pada mereka yang miskin? Ataukah saya malah terjerembab merasa diri "miskin" sehingga tidak mampu menolong?
Dalam kehidupan, saya senantiasa merasa "kaya" sampai kenyataan hidup yang bertubi-tubi menyadarkan betapa materi ikut berperan dalam memberikan posisi "kaya" agar senantiasa mampu menjadi mereka yang memiliki tangan di atas. Tanpa materi saya masih kaya dengan waktu. Tetapi setelah memiliki keluarga, maka waktu menjadi sesuatu yang sangat mahal nilainya. Pilihan antara menggunakan waktu untuk mencari materi atau untuk memberikan pelayanan, merupakan keadaan yang sedikit banyak sedang memenuhi benakku.
Sebenarnya beberapa waktu yang lalu, ketika saya kembali mengajar ke sekolah, saya merasa diberi nasehat oleh Tuhan untuk tidak sombong. Ketika saya berhenti mengajar dahulu, saya berpikir lebih baik memberikan pelayanan yang murni tanpa perlu menerima imbalan. Tetapi ketika kenyataan prioritas waktu untuk anak dan waktu untuk pelayanan total tidak bisa bertemu (ditambah dengan kekuatan fisik yang juga terbatas), maka saya kembali ke pelayanan dimana saya masih menerima upah walaupun dalam hitungan pertukaran waktu merupakan upah yang kecil nilainya.
Renungan singkat dalam buku "Mari Bekerja Sama Melawan Kemiskinan" mengatakan bahwa setiap orang dilahirkan ke dunia dengan suatu misi. Manusia mesti menemukan misiNya. Misi itu ternyata bukan untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan diri sendiri, tetapi demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain.
Rasanya perkataan inilah yang paling penting untuk kuingat, "demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain." Lingkaran pertama dalam orang lain di luar diriku adalah keluargaku, kemudian membesar ke lingkungan dan masyarakat, lalu ke lingkungan bernegara. Lingkaran terkecil harus penuh terisi sambil mengisi ke lingkaran yang lebih besar di luarnya. Aku percaya Tuhan akan menunjukkan jalanNya.
Tuhan,
Terima kasih atas pengertian yang Dikau berikan pada kami hari ini,
Siramilah kami dengan rahmat dan kasih karuniaMu
agar senantiasa kuat menempuh jalan berbatu yang sedang kita tempuh bersama.
Engkau yang mengangkat salib itu, dan aku membantu dengan tenagaku yang terbatas
dengan ketegaran yang mudah tergores.
BagiMu tiada hal yang mustahil,
ingatkan aku senantiasa ya Tuhan...
karena aku sudah menjawab "Ya..."
tapi seringkali terjatuh dan enggan bangkit kembali...
Jadilah tongkat ketegaran dan kekuatanku,
Jadilah pelita penerang jalanku,
jadilah air penyegar dahagaku,
jadilah manna hidup yang memberiku kehidupan di dalam Engkau...
Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)